JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. September 2025 Page 1410-1421 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah PERBEDAAN KUALITAS TIDUR PADA SATPAM DI KOTA PADANG DITINJAU DARI SHIFT KERJA Putri Velicya1. Rinaldi Rinaldi2 1,2 Universitas Negeri Padang. Indonesia Email: velicyaputri2@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 23 June 2025 Final Revised: 11 July 2025 Accepted: 16 August 2025 Published: 30 September 2025 Keywords: Shift Work Sleep Quality Security Guards Circadian Rhythm ABSTRACT This study aims to determine the differences in sleep quality among security guards . in Padang City based on their work shift system. The background of this research is rooted in the phenomenon that shift work, particularly night shifts, often disrupts biological rhythms and decreases workersAo sleep quality. Security guards, as a profession requiring high alertness, are especially vulnerable to sleep disturbances due to irregular working hours. This research employed a quantitative approach with a comparative-correlational design. The research subjects consisted of 130 security guards in Padang City selected through purposive sampling. The results revealed a significant difference in sleep quality between day-shift and night-shift security guards, with t = 4. 423, df = 128, and p < 0. The average sleep quality score of day-shift guards (M = 54. SD = 6. was higher than that of night-shift guards (M = 60. SD = . Overall, respondentsAo sleep quality was categorized as moderate, with the most common issues related to daytime dysfunction and difficulty initiating sleep. This study provides new insights in the field of occupational psychology and industrial health by examining the impact of shift work systems on sleep quality among security guardsAia topic that has received limited attention. The findings broaden understanding of circadian rhythm disruption in the context of security work and serve as a foundation for developing work management policies that prioritize the well-being of night-shift employees. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas tidur pada satpam di Kota Padang ditinjau dari sistem kerja shift. Latar belakang penelitian ini didasari oleh fenomena bahwa pekerjaan dengan sistem kerja bergilir, khususnya shift malam, sering kali berdampak terhadap ritme biologis dan menurunkan kualitas tidur pekerja. Satpam merupakan profesi dengan tuntutan kesiapsiagaan tinggi yang rentan mengalami gangguan tidur akibat perubahan jam kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif-korelasional. Subjek penelitian berjumlah 130 satpam di Kota Padang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kualitas tidur satpam shift pagi dan malam dengan nilai t = -4,423, df = 128, dan p < 0,001. Rata-rata kualitas tidur satpam shift pagi (M = 54. SD = 6,. lebih baik dibandingkan dengan satpam shift malam (M = 60. SD = . Secara umum, kualitas tidur responden berada pada kategori sedang, dengan masalah utama pada aspek disfungsi siang hari dan kesulitan tidur. Penelitian ini memberikan kontribusi baru dalam bidang psikologi kerja dan kesehatan industri dengan mengkaji dampak sistem kerja shift terhadap kualitas tidur pada profesi satpam, yang sebelumnya jarang diteliti. Hasil penelitian ini memperluas pemahaman tentang pengaruh ritme sirkadian dalam konteks pekerjaan keamanan serta menjadi dasar untuk pengembangan kebijakan manajemen kerja yang berorientasi pada kesejahteraan pekerja shift malam. Kata kunci: Shift Kerja. Kualitas Tidur. Satpam. Ritme Sirkadian Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Perbedaan Kualitas Tidur Pada Satpam Di Kota Padang Ditinjau Dari Shift Kerja PENDAHULUAN Perkembangan teknologi dan tuntutan pelayanan 24 jam pada berbagai sektor pekerjaan telah mendorong banyak perusahaan menerapkan sistem kerja shift. Sistem ini memungkinkan kegiatan operasional berlangsung tanpa henti, terutama pada bidang industri, transportasi, dan jasa seperti rumah sakit, kepolisian, serta keamanan (Adnan, 2002. Juliawati. Namun, penerapan sistem kerja shift, terutama pada malam hari, sering kali berdampak terhadap kesehatan pekerja, salah satunya pada kualitas tidur. Gangguan pola tidur dapat memengaruhi kinerja, konsentrasi, serta kondisi fisik dan psikologis pekerja (Saraswati & Paskarini, 2018. Khusna et al. , 2. Petugas keamanan atau satpam merupakan profesi yang bekerja dengan tanggung jawab tinggi dan jam kerja bergilir, termasuk malam hari. Pekerjaan ini menuntut kewaspadaan, kesiapsiagaan, serta tanggung jawab yang besar. Namun, kondisi kerja shift malam berpotensi menurunkan kualitas tidur akibat kelelahan dan stres (Masari, 2. Penurunan kualitas tidur tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat menurunkan produktivitas, konsentrasi, dan kesejahteraan emosional (Budyawati et al. , 2019. Adlina Afifah, 2. Fenomena ini menunjukkan perlunya kajian ilmiah terhadap dampak shift kerja terhadap kualitas tidur satpam, khususnya di lingkungan kerja yang menuntut kesiagaan penuh seperti kampus atau instansi publik. Penelitian sebelumnya lebih banyak menyoroti hubungan antara shift kerja dan kualitas tidur pada tenaga medis seperti perawat, namun kajian terhadap petugas keamanan masih Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memperluas pemahaman tentang pengaruh sistem kerja shift terhadap kualitas tidur pada profesi satpam, serta memperkuat teori mengenai hubungan antara pola kerja bergilir dan kesejahteraan pekerja. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kebijakan manajemen waktu kerja dan peningkatan kesehatan kerja di masa kini maupun mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas tidur pada satpam di Kota Padang ditinjau dari sistem kerja shift yang dijalankan. Variabel Kualitas Tidur Tabel 1. Deskripsi Data Shift Pagi dan Shift Malam Pagi Malam Min Max Mean Sd Min Max Mean METODE PENELITIAN Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain komparatif-korelasional. Metode kuantitatif digunakan karena penelitian ini melibatkan pengukuran data numerik yang dianalisis secara statistik untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono. Desain komparatif digunakan untuk melihat perbedaan kualitas tidur antara satpam shift pagi dan malam, sedangkan desain korelasional digunakan untuk melihat hubungan antara shift kerja dengan kualitas tidur (Yusuf, 2. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Perbedaan Kualitas Tidur Pada Satpam Di Kota Padang Ditinjau Dari Shift Kerja Subjek dan Lokasi Penelitian Subjek penelitian adalah satpam di Kota Padang yang telah bekerja minimal satu tahun. Pemilihan subjek dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian (Sugiyono, 2. Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Lemeshow, sehingga diperoleh minimal 96 responden, namun untuk mengantisipasi data outlier digunakan 130 responden sebagai sampel penelitian. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Penelitian ini memiliki dua variabel, yaitu shift kerja sebagai variabel bebas (X) dan kualitas tidur sebagai variabel terikat (Y). Shift Kerja diartikan sebagai sistem pengaturan waktu kerja yang terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu shift pagi dan shift malam. Kualitas Tidur adalah tingkat kepuasan seseorang terhadap tidurnya yang ditandai dengan kondisi tubuh yang segar, bugar, dan siap beraktivitas. Aspek yang diukur meliputi gejala siang hari, pemulihan setelah tidur, kesulitan tidur, kesulitan bangun, kepuasan tidur, dan kesulitan mempertahankan tidur (Yi et al. , 2. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian berupa angket atau kuesioner yang menggunakan skala Likert dengan empat alternatif jawaban: Hampir Selalu (HS). Sering (S). Kadang-kadang (KK), dan Jarang (J). Skala kualitas tidur yang digunakan merupakan adaptasi dari skala yang dikembangkan oleh Adri . berdasarkan teori Yi et al. , terdiri dari 25 item yang mencakup enam aspek utama. Tabel 2. Sebaran Item Aspek dalam Instrumen Aspek Item Jumlah Disfungsi di siang 4,10,11,14,15,1 6,17, 19,21,22,23,24 Pemulihan setelah 8,18 Kesulian tidur Kesulian bangun Kepuasan tidur Kesulitan menjaga kondisi tidur 1,6,7 9,12,25 2,13,20 Total Validitas dan Reliabilitas Instrumen Uji validitas digunakan untuk menilai sejauh mana instrumen dapat mengukur variabel secara tepat. Skala kualitas tidur menunjukkan 25 item valid . = 0,. dengan tingkat Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Perbedaan Kualitas Tidur Pada Satpam Di Kota Padang Ditinjau Dari Shift Kerja validitas sebesar 89,3% (Adri, 2. Uji reliabilitas dilakukan menggunakan CronbachAos Alpha, dan diperoleh nilai = 0,916, yang menunjukkan reliabilitas tinggi dan konsistensi instrumen (Sugiyono, 2. Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui penyebaran angket secara langsung kepada satpam di berbagai pos keamanan di Kota Padang pada tanggal 24Ae29 Juli 2025. Peneliti melakukan pendekatan personal untuk memastikan setiap responden memahami isi kuesioner dan mengisinya dengan benar. Tabel 3. Empat Alternatif Pilihan Skala Kualitas Tidur Alernaif Jawaban Kode Favorable Unfavorable Hampir Selalu Sering Kadang-kadang Jarang Prosedur Penelitian Tahap Persiapan: Peneliti menyiapkan alat ukur dan memperoleh izin penggunaan skala kualitas tidur versi terjemahan Indonesia (Adri, 2. Tahap Pelaksanaan: Pengumpulan data dilakukan secara langsung di lapangan kepada responden yang memenuhi kriteria. Tahap Pengolahan: Data yang terkumpul diinput, dianalisis, dan diinterpretasikan menggunakan perangkat statistik. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik Independent Sample t-Test untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan signifikan antara kualitas tidur satpam pada shift pagi dan malam. Sebelum uji hipotesis dilakukan, terlebih dahulu dilakukan: Uji Normalitas, untuk memastikan data berdistribusi normal . > 0,. Uji Homogenitas, untuk memastikan varians antar kelompok homogen. Uji Independent Sample t-Test, untuk melihat perbedaan kualitas tidur antar kelompok shift kerja. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Data penelitian deskriptif bertujuan untuk menafsirkan berbagai jenis data yang telah dikumpulkan dari hasil penelitian dan selanjutnya digunakan untuk mendeskripsikan data, rata-rata empiris dan rata-rata hipotesis digunakan untuk mendeskripsikan data dalam Dalam penelitian ini, hipotesis penelitian serta rata-rata empiris diperoleh dari pengukuran menggunakan skala kualitas tidur yang penjelasannya dapat dilihat pada tabel Variabel Kualitas Tidur Tabel 4. Deskripsi Data Berdasarkan Aspek Kualitas Tidur Skor Empirik Skor Hipotetik Min Max Mean Sd Min Max Mean Sd Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Perbedaan Kualitas Tidur Pada Satpam Di Kota Padang Ditinjau Dari Shift Kerja Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa mean skor empiris pada skala kualitas tidur adalah 57, standar deviasi sebesar 8 menunjukkan bahwa skor responden memiliki nilai yang cukup kecil diantara nilai rata-rata. Pada skor hipotetik memiliki mean 62,5 dengan standar deviasi sebesar 12,5. Variabel Kualitas Tidur Tabel 5. Deskripsi Data Shift Pagi dan Shift Malam Pagi Malam Min Max Mean Sd Min Max Mean Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa mean pada shift pagi adalah 54, standar seviasi 6,5. Pada shift malam memiliki mean 60 dengan standar deviasi sebesar 8. Standar deviasi di shift malam . lebih besar daripada di shift pagi . Ini menunjukkan bahwa beberapa satpam di malam hari tidur sangat baik sementara yang lain tidur kurang baik. Tabel 6. Rerata Hipotetik dan Empirik Skala Kualitas Tidur Aspek Skor Empirik Skor Hipotetik Min Max Mean Min Max Mean Sd Disfungsi Siang Hari Pemulihan 2 Setelah Tidur Kesulitas Tidur Kesulitan Bangun Kepuasan 3 Tidur Kesulitan Menjaga Kondisi Tidur Berdasarkan hasil statistik deskriptif, diketahui bahwa rata-rata skor empirik kualitas tidur responden adalah 57, lebih rendah dari skor hipotetik sebesar 62,5. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas tidur responden secara umum belum optimal. Beberapa aspek yang masih menunjukkan masalah adalah disfungsi siang hari dan kesulitan tidur, sementara aspek seperti pemulihan setelah tidur dan kepuasan tidur berada pada kategori baik. Hasil ini sejalan dengan teori kualitas tidur dari Buysse et al. yang menyatakan bahwa kualitas tidur mencakup durasi, efisiensi, dan kepuasan tidur. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Perbedaan Kualitas Tidur Pada Satpam Di Kota Padang Ditinjau Dari Shift Kerja Selain itu, sesuai dengan teori sleep hygiene, kualitas tidur yang buruk dapat disebabkan oleh stres, gaya hidup, dan lingkungan. Dengan demikian, responden dalam penelitian ini menunjukkan adanya gangguan tidur ringan hingga sedang yang perlu mendapat perhatian. Kategori Data Penilaian Proses klasifikasi data dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi Microsoft Excel untuk menentukan kriteria evaluasi dan frekuensi kemunculan data. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan aplikasi IBM SPSS versi 20. Variabel yang digunakan yaitu kualitas tdiur yang telah dikategorisasikan berdasarkan kriteria tertentu, sebagaimana ditampilkan pada tabel berikut. Tabel 7. Kategorisasi Variabel Kualitas Tidur Rumus Skor Kategorisasi X81 Sangat Tinggi Total Presentasi Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa mayoritas dalam penelitian ini termasuk kategori Sedang dengan jumlah responden sebanyak 59 atau dalam persentasi . %) yang berada pada kategori ini. Pada kategori Sangat Rendah terdapat 3 responden atau dalam persentasi . %), selanjutnya pada kategori Rendah sebanyak 56 responden atau dalam persentasi . %), selanjutnya pada kategorisasi Tinggi sebanyak 12 responden atau dalam persentasi . %), dan pada kategori Sangat Tinggi terdapat 0 responden dengan persentasi . %). Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa secara umum skala kualitas tidur berada pada kategori Sedang. Tabel 8. Kategorisasi Aspek Kualitas Tidur Aspek Skor Kategorisasi Disfungsi di Siang Sangat Rendah Hari XO17 1735 Sangat Tinggi Total Pemulihan Setelah XO2,5 Sangat Rendah Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Presentasi Perbedaan Kualitas Tidur Pada Satpam Di Kota Padang Ditinjau Dari Shift Kerja Tidur Total Kesulitan Tidur Total Kesulitan Bangun Total Kepuasan Tidur Total Kesulitan Menjaga Kondisi Tidur 2,57 Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi XO4,75 4,759,25 Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi XO5,5 5,59,5 Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi XO4,75 4,759,25 Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Sangat Rendah XO2,25 2,256,75 Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Total Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat, mayoritas subjek pada aspek Audisfungsi di siang hariAy berada pada kategori Sedang dengan jumlah 50 responden atau dalam persentasi . %). Selanjutnya pada aspek kedua yaitu Aupemulihan setelah tidurAy mayoritas subjek berada pada kategori Sedang dengan jumlah 69 responden atau dalam persentasi . %). Selanjutnya pada aspek ketiga yaitu Aukesulitan tidurAy mayoritas subjek berada pada kategori Rendah dengan jumlah 44 responden atau dalam persentasi . %). Selanjutnya pada aspek keempat yaitu Aukesulitan bangunAy mayoritas subjek berada pada kategori Tinngi dengan jumlah 53 responden atau dalam persentasi . %). Selanjutnya pada aspek kelima yaitu Aukepuasan tidurAy mayoritas subjek berada pada kategori Tinggi dengan jumlah 49 responden atau dalam persentasi . %). Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Perbedaan Kualitas Tidur Pada Satpam Di Kota Padang Ditinjau Dari Shift Kerja Selanjutnya pada aspek keenam yaitu Aukesulitan menjaga kondisi tidurAy mayoritas subjek berada pada kategori Sedang dengan jumlah 59 responden atau dalam persentasi . %). Analiisis Data Uji Normalitas Uji normalitas adalah uji yang dilakukan untuk menilai apakah data yang digunakan terditribusi mengikuti pola kurva normal atau tidak. Untuk pengujian ini, peneliti melakukan uji Kolmorov Smirnov menggunakan IBM SPSS 20 dan memperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 9. Normalitas Kolmogorov-smirnov Variabel Asymp. Sig Keterangan Kualitas Tidur Signifikan Berdasarkan hasil uji normalitas data terdistribusi normal dengan nilai signifikansi > 0,05 yaitu . 200 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa nilai residual terdistribusi normal. Dengan asumsi normalitas terpenuhi Uji Homogenitas Pengujian homogenitas dilaksanakan guna meninjau apakah data yang diraih mempunyai sifat yang homogen atau yang cenderung sejenis, dimana perbedaan yang didapatkan tidak disebabkan karena tidak homogen. Dalam melaksanakan pengujian homogenitas pada penelitian ini peneliti memakai LeveneAos statistics yang dibantu melalui penggunaan SPSS for windows. Data dinyatakan homogen ketika angka dari probabilitas . melampaui angka alpha 0,05. Tabel 10. Hasil Uji Homogenitas Skala Kualitas Tidur Levene Statistics DF1 Df2 Sig 3,664 Dari tabel diatas, diraih temuan dari pengujian homogenitas yang dilaksanakan pada penelitian ini diperoleh probabilitas . pada angka 0,058 bisa dinyatakan p>0,05 maka varian data untuk penelitian ini mempunyai sifat yang homogen. Uji Hipotesis Uji Independent Sample t-Test Uji independent sample t Test digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rata-rata dua sampel yang tidak berpasangan. Persyaratan pokok dalam uji independen sample t test adalah data terdistribusi normal dan homogen . idak Dari hasil analisi uji normalitas dan uji homogenitas maka kesimpulan yang diperoleh adalah data berdistribusi normal dan homogen. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Perbedaan Kualitas Tidur Pada Satpam Di Kota Padang Ditinjau Dari Shift Kerja Tabel 11. Independent Sample Test Sig. -taile. Mean Difference 95% CI (Loweruppe. -4,423 <0,001 -5,722 -8,282 -3,162 Independent Sample Test Berdasarkan hasil uji Independent Sample t-test, diperoleh nilai LeveneAos Test for Equality of Variances sebesar sig = 0,100 (> 0,. , sehingga varians antar kelompok dianggap homogen dan analisis menggunakan asumsi equal variances assumed. Hasil uji t menunjukkan nilai t = -4,423, df sebesar 128, dengan nilai signifikansi p < 0,001 (< 0,. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara shift kerja terhadap kualitas tidur satpam. Nilai Mean Difference -5,722 dengan interval kepercayaan 95% (Oe8,282 s. Oe3,. , yang menunjukkan bahwa satpam dengan shift malam memiliki kualitas tidur yang lebih rendah dibandingkan karyawan shift pagi. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas tidur pada satpam di Kota Padang ditinjau dari shift kerja. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji Independent Sample t-Test, diperoleh nilai t = -4,423 dengan df = 128 dan nilai signifikansi p < 0,001 (< 0,. Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara shift kerja terhadap kualitas tidur, di mana satpam yang bekerja pada shift malam memiliki kualitas tidur yang lebih rendah dibandingkan dengan satpam yang bekerja pada shift pagi. Perbedaan ini dapat dijelaskan melalui teori ritme sirkadian . ircadian rhyth. , yaitu jam biologis tubuh manusia yang mengatur siklus tidur dan bangun dalam periode 24 jam. Ritme ini sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti cahaya dan kegelapan. Saat seseorang bekerja pada malam hari, ia harus tetap aktif ketika tubuhnya secara alami dirancang untuk beristirahat. Akibatnya, produksi hormon melatonin, yang berperan penting dalam memfasilitasi tidur, menjadi terganggu (Walker, 2. Gangguan terhadap ritme sirkadian inilah yang menjelaskan mengapa satpam shift malam cenderung mengalami kesulitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, serta kurang merasa segar saat bangun. Hal ini juga didukung oleh temuan Khusna et al. yang menyebutkan bahwa pekerja shift malam rata-rata hanya tidur 3Ae5 jam per hari, jauh di bawah rekomendasi 7Ae8 jam tidur ideal. Kekurangan waktu tidur tersebut berimplikasi pada meningkatnya rasa mengantuk di siang hari, sulit berkonsentrasi, penurunan produktivitas, serta munculnya gejala disfungsi kognitif. Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan Saraswati & Paskarini . yang menyatakan bahwa pekerja shift malam lebih banyak mengalami gangguan tidur dibandingkan pekerja shift pagi. Hal serupa juga ditemukan dalam penelitian Nabila Azzahra . bahwa pekerja shift malam cenderung memiliki tingkat kepuasan tidur yang rendah dan waktu pemulihan tubuh yang tidak optimal. Penurunan kualitas tidur pada pekerja malam ini merupakan konsekuensi langsung dari perubahan pola tidur yang tidak sejalan dengan ritme biologis alami tubuh. Temuan ini juga mendukung pendapat Yi et al. yang menegaskan bahwa kualitas Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Perbedaan Kualitas Tidur Pada Satpam Di Kota Padang Ditinjau Dari Shift Kerja tidur tidak hanya ditentukan oleh durasi tidur, tetapi juga oleh efisiensi, kepuasan, dan kemudahan dalam memulai serta mempertahankan tidur. Satpam malam sering kali tidak dapat tidur nyenyak di siang hari karena gangguan lingkungan seperti kebisingan, aktivitas keluarga, atau pencahayaan yang berlebih. Kualitas tidur yang buruk berdampak tidak hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Menurut Costa . , shift kerja malam berpengaruh negatif terhadap kesehatan fisik dan mental, mengurangi kemampuan kerja, serta meningkatkan risiko kesalahan dan kecelakaan kerja. Satpam yang kurang tidur cenderung mudah lelah, sulit berkonsentrasi, mudah marah, dan kurang waspada, kondisi yang tentu berbahaya dalam profesi yang menuntut kewaspadaan tinggi. Selain itu, hasil deskriptif penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori sedang dalam kualitas tidur. Namun, aspek Audisfungsi di siang hariAy dan Aukesulitan tidurAy dominan dialami oleh kelompok shift malam. Hal ini mengindikasikan bahwa walaupun sebagian responden masih dapat berfungsi, mereka mengalami dampak nyata berupa rasa mengantuk dan kesulitan memulai tidur. Kondisi ini sejalan dengan konsep sleep hygiene yang menekankan pentingnya pola tidur teratur, lingkungan tidur yang nyaman, dan gaya hidup sehat untuk mencapai kualitas tidur yang optimal (Buysse et al. Berdasarkan hasil dan temuan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pengaturan shift kerja memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas tidur satpam. Oleh karena itu, instansi atau perusahaan yang mempekerjakan satpam perlu memberikan perhatian khusus terhadap pengaturan jadwal kerja agar tidak mengganggu ritme biologis mereka. Upaya yang dapat dilakukan meliputi pengaturan rotasi shift yang seimbang agar satpam tidak terusmenerus bekerja pada malam hari, pemberian waktu istirahat yang cukup di antara pergantian shift, serta penyediaan fasilitas istirahat yang nyaman dan kondusif bagi satpam shift malam. Selain itu, penting pula bagi instansi untuk memberikan edukasi dan pelatihan mengenai pentingnya menjaga pola tidur yang sehat, manajemen stres, serta cara mempertahankan gaya hidup yang mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan kesehatan. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas tidur dan kinerja satpam secara Penelitian ini memberikan gambaran awal mengenai hubungan antara shift kerja dan kualitas tidur pada satpam di Kota Padang. Namun, penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan desain longitudinal agar dapat menilai perubahan kualitas tidur dalam jangka waktu yang lebih panjang. Selain itu, penelitian di masa mendatang dapat menambahkan variabel lain seperti tingkat stres kerja, beban kerja, dan dukungan sosial sebagai faktor yang mungkin memediasi hubungan antara shift kerja dan kualitas tidur. Penggunaan alat ukur objektif, seperti actigraphy atau polysomnography, juga sangat direkomendasikan untuk melengkapi data subjektif dari kuesioner. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian kualitas tidur pada satpam di Kota Padang ditinjau dari shift kerja berada pada kategori sedang dengan beberapa masalah signifikan pada aspek kesulitan bangun dan kepuasan tidur. Berdasarkan hasil penelitian terdapat perbedaan yang signifikan antara kualitas tidur pada satpam yang bekerja pada shift pagi dan malam. Satpam yang bekerja pada shift malam menunjukkan kualitas tidur yang lebih rendah dibandingkan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Perbedaan Kualitas Tidur Pada Satpam Di Kota Padang Ditinjau Dari Shift Kerja dengan satpam yang bekerja pada shift pagi, hal ini didukung oleh hasil uji Independent Sample t-Test yang menunjukkan nilai signifikansi p < 0,001. REFERENSI