Education Achievment: Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Journal Homepage: http://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr Relevansi Pemikiran Sjech Ahmad Khatib Minangkabawi dalam Perkembangan Pendidikan di Pesantren Febri Janatul Yuda1. Wedra Aprison2 1,2 Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Indonesia Corresponding Author: febryjannatulyuda@gmail. ABSTRACT Key Word Artikel ini membahas relevansi pemikiran Sjech Ahmad Khatib Minangkabawi, seorang ulama besar asal Minangkabau, dalam perkembangan pendidikan pesantren di Indonesia. Sebagai tokoh pembaru pemikiran Islam pada masanya, kontribusi Ahmad Khatib tidak hanya pada aspek teologi, tetapi juga dalam pembentukan tradisi keilmuan yang menjadi fondasi bagi pendidikan di pesantren. Artikel ini menganalisis konsep keilmuan dan metodologi pembelajaran Ahmad Khatib serta pengaruhnya terhadap sistem pendidikan Artikel ini juga menganalisis bagaimana konsep-konsep tersebut diterapkan dalam sistem pendidikan pesantren masa kini, termasuk dalam pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan ilmu keislaman dan pengetahuan umum, pendidikan karakter berbasis akhlak, serta penerapan metode pembelajaran berbasis pemikiran Dengan pendekatan kajian literatur, artikel ini menunjukkan bahwa relevansi pemikiran Ahmad Khatib masih terasa hingga saat ini, terutama dalam upaya pesantren untuk beradaptasi dengan tantangan modernitas tanpa meninggalkan tradisi keislaman. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar penguatan sistem pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan insan yang unggul secara spiritual dan intelektual di era global. Relevansi. Pendidikan Islam. Pemikiran. How to cite https://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr ARTICLE INFO Article history: Received 05 August 2024 Revised 15 August 2024 Accepted 07 September 2024 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Pesantren merupakan institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia yang berperan besar dalam pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai keislaman, dan pengembangan intelektual umat (Adelia Putri et al. , 2. Dalam dinamika sejarahnya, pesantren telah beradaptasi dengan berbagai perubahan sosial, politik, dan budaya, namun tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional Islam. Salah satu tokoh penting yang pemikirannya berkontribusi terhadap perkembangan sistem pendidikan pesantren adalah Sjech Ahmad Khatib Minangkabawi, ulama besar asal Minangkabau yang pernah menjabat sebagai Imam Masjidil Haram. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 1-9 Ahmad Khatib dikenal sebagai seorang pemikir Islam yang kritis terhadap praktik keagamaan yang dianggap menyimpang, seperti takhayul dan bidAoah. Ia menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis serta memperkuat dasar-dasar keilmuan Islam. Selain itu, ia juga mengintegrasikan metode pendidikan tradisional dengan pendekatan intelektual yang logis dan sistematis. Pemikirannya tidak hanya memengaruhi murid-muridnya yang kelak menjadi tokoh penting di Indonesia, seperti Hasyim AsyAoari dan Ahmad Dahlan, tetapi juga memberikan arah bagi perkembangan pendidikan pesantren di masa kini (Yusuf, 2. Di era modern, pesantren dihadapkan pada tantangan globalisasi, digitalisasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan (Pratama et al. , 2. Pemikiran Ahmad Khatib yang menekankan adaptasi terhadap konteks zaman tanpa meninggalkan prinsip keislaman menjadi relevan dalam membantu pesantren menghadapi tantangan ini (Muzdalipah & Mahmudi, 2. Dengan pendekatan yang berbasis pada penguatan akhlak, integrasi ilmu agama dan pengetahuan umum, serta pengembangan metode pembelajaran yang efektif, pemikiran Ahmad Khatib memberikan kontribusi signifikan bagi pembaruan sistem pendidikan pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi relevansi pemikiran Ahmad Khatib Minangkabawi dalam mendukung perkembangan pendidikan pesantren di era Dengan mengkaji pemikiran dan pengaruhnya, artikel ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru dalam penguatan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang relevan, adaptif, dan berdaya saing di tengah perubahan global. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan pustaka . ibrary researc. yang berupaya mengumpulkan informasi dari berbagai sumber bacaan yang relevan (Sugiyono, 2. Pendekatan ini dilakukan dengan menelaah berbagai literatur, termasuk buku, jurnal, artikel, dan dokumen lain yang memuat kajian tentang diskursus pemikiran Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi mengenai Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara sistematis untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam terkait pemikiran tokoh ini dalam konteks pendidikan Islam. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah literatur yang berfokus pada karya-karya Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi serta penelitian-penelitian terdahulu yang membahas pandangan dan kontribusi beliau dalam bidang pendidikan. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, penelitian ini berupaya menggali esensi pemikiran Syekh Ahmad Khatib, khususnya terkait konsep-konsep pendidikan yang beliau usung, serta relevansi gagasan-gagasannya dengan tantangan pendidikan Islam di era modern. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 1-9 baru mengenai kontribusi pemikiran tokoh ulama nusantara pengembangan pendidikan Islam secara historis maupun kontemporer. HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Nama lengkap Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi ialah Ahmad Khatib bin Abdul Lathif bin Abdullah al-Minankabawi. Ia dilahirkan di kota Bukit Tinggi. Sumatra Barat. Terdapat dua pendapat mengenai tahun kelahirannya. Menurut Prof. Dr. Hamka. Ahmad Khatib lahir tahun 1276 H/1860 M, sedangkan menurut Deliar Noer. Syekh Ahmad Khatib lahir tahun 1855. Ayahnya bernama Abdul Latif. Dari pihak ayah Ahmad Khatib bersepupu dengan KH. Agus Salim, seorang cendikiawan dan pemimpin Islam yang berpengaruh. Ibu Ahmad Khatib adalah Limbak Urai, anak tuanku Nan Renceh, seorang ulama Padri terkemuka. Dari pihak ibu. Ahmad Khatib adalah saudara sepupu Syekh Tahir Jalaluddin, seorang ulama Minangkabau. Syekh ahmad Khatib wafat tahun 1916 dalam usia sekitar 60 tahun (Steenbrink & Rasjidi. Dilihat dari keturunan ayah dan ibu. Ahmad Khatib terhitung datang dari keluarga terpandang di Minangkabau pada zamannya, dan nyatalah bahwa dalam dirinya mengalir darah-darah pejuang agama. Menurut Azyumardi Azra. Ahmad Khatib adalah keturunan seorang Qadi Padri dan penduduk asli Kotagedang, sebuah desa terkenal karena banyak memiliki intelektual dan ulama terkemuka, dekat Bukittinggi yang juga terkemuka karena beberapa suraunya yang penting. Setelah menyelesaikan sekolah rendah. Ahmad Khatib diduga sempat belajar di sekolah Raja di Bukittinggi. Kemudian pada usia yang masih sangat muda sekali, yaitu pada umur 11 tahun. Ahmad Khatib dibawa ayahnya ke Mekkah dan kemudian bermukim di sana. Di Mekah beliau mendapat pendidikan agama yang mendalam dari ulama Mekkah terutama Sayid Bakri Syatha. Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan. Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki. Syekh Saleh Kurdi, dan lain-lain (Azra, 2. Berkat kecerdasan dan ketekunannya dalam mendalami ilmu agama, ia berhasil mencapai kedudukan sebagai Imam Besar Masjidil Haram dalam mazhab SyafiAoi. Ahmad Khatib adalah murid kesayangan Syekh Saleh Kurdi, seorang hartawan keturunan Kurdi. Setelah sepuluh tahun bermukim di Mekah. Ahmad Khatib menikah dengan putri Saleh Kurdi yang bernama Khadijah. Sepanjang hayatnya dihabiskannya di Mekah sebagai guru. Walaupun demikian hubungan Ahmad Khatib dengan daerah asalnya tetap berjalan dengan baik melalui orang-orang yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah dan yang belajar padanya, dan yang kemudian menjadi guru di daerah-daerah asal mereka masing-masing (Noer. Hubungan itu tetap terjaga dan bahkan semakin kokoh manakala beliau mempublikasikan tulisan-tulisannya yang berisi kritikan dan sanggahan terhadap Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 1-9 Tarekat Naqsyabandiyah dan sistem pewarisan yang menurutnya tidak dibenarkan oleh agama. Pemikiran Sjech Ahmad Khatib Minangkabawi Dalam Konteks Pendidikan Syekh Ahmad Khatib adalah seorang ulama besar yang memiliki pemikiran yang cemerlang yang peduli terhadap berbagai persoalan yang dihadapi ummat, khususnya di Nusantara. Berbagai persoalan yang timbul di masyarakat, khususnya di Minangkabau, yang menurutnya tidak sesuai dengan ajaran Islam, beliau tidak segansegan untuk meluruskannya. Beberapa persoalan tersebut, sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, adalah berkenaan dengan tauhid, hukum Islam, dan ilmu Beberapa pemikiran Ahmad Khatib tentang berbagai persoalan tersebut selengkapnya akan dibahas berikut ini. Pendidikan Tauhid Tauhid merupakan salah satu prinsip dalam beragama. Ia merupakan pondasi yang harus ditanam secara kokoh dalam diri seseorang. Karena tauhid akan mendasari konsep, paradigma, dan perilaku seseorang secara menyeluruh. Jika tauhidnya lemah, maka akan lemah pula paradigma, konsep dan perilakunya. Sebaliknya jika tauhidnya kokoh, maka akan kokoh pula paradigma, konsep dan prilakunya. Inilah agaknya yang mendasari pemikiran Ahmad Khatib, mengapa ia gusar dan menolak Tarekat Naqsyabandiyah. Jika diamati dan ditelaah secara seksama, pembicaraan mengenai keberadaan tarekat, khususnya tarekat Naqsyabandiyah, yang ditulis oleh cendikiawan Barat semisal Snouck Hurgronje. Martin. Karel Steenbrink atau yang lainnya, lebih dilihat dari sisi politisnya. Apakah ia mengganngu poisisi pemerintah Belanda atau tidak, tarikat-tarikat tersebut, adalah sangat menguntungkan bagi Belanda, oleh karenanya ketika Ahmad Khatib mempersoalkannya, pihak Belanda melalui corongcorongnya membelanya. Snouck dalam hal ini menuduh Ahmad Khatib sebagai iri terhadap Syekh Jabal Kubis atau Sulaiman Efendi (Steenbrink & Rasjidi, 1. Kata tarekat, secara harfiah berarti jalan, mengacu baik kepada sistem latihan meditasi maupun amalan . uraqabah, dzikir, wirid, dan sebagainy. yang dihubungkan dengan sederet guru sufi. Pada masa permulaan, setiap guru sufi dikelilingi oleh lingkaran murid mereka, dan beberapa dari murid ini kelak akan menjadi guru pula. Boleh dikatakan tarekat itu mensistematiskan ajaram metode-metode tasawuf. Seorang pengikut tarekat akan beroleh kemajuan dengan melalui sederetan ijazah berdasarkan tingkatnya, yang diakui oleh semua pengikut tarekat yang sama. dari pengikut biasa . hingga murid, selanjutnya hingga pembantu syekh atau khalifahnya, dan akhirnya Ae dalam beberapa kasus Ae hingga menjadi guru yang mandiri . (Bruinessen, 1. Persoalannya mengapa Syekh Ahmad Khatib gusar dan menolak Tarekat Naqsyabandiyah? Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa terdapat penyimpangan ajaran Islam yang ada pada Naqsyabandiyah. Ahmad Khatib mengutuk Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 1-9 ajaran-ajaran dan amalan-amalan yang utama dari tarekat Naqsyabandiyah sebagai bidAoah dan syirik. Untuk hal ini Ahmad Khatib menulis sebuah buku yang berjudul Izhar Zaghli al-Kadzibin fi Tasyabuhihim bi as-Shadiqin (Membongkar kepalsuan para penipu yang berkedok kebenara. Buku tersebut berisi antara lain 5 pertanyaan yang terdiri dari . apakah Tarekat Naksyabandiah mempunyai dasar dalam syariat Islam. apakah Tarekat Naqsyabandiah mempunyai silsilah kepada Rasulullah SAW. apakah ada dasar hukum dalam syaraAo . ukum Isla. untuk meninggalkan makan daging. apakah suluk 40 hari, 20 hari, 10 hari mempunyai dasar dalam syariat. apakah rabitah tempat perguruan kaum suf. itu ada dasarnya dalam syariat Islam (Ambary & Redaksi, 1. Selain itu Ahmad Khatib juga menulis buku yang berjudul Al-Ayat alBayyinah li al-Munsifin fi Izalah Khurafat baAoda al-MutaAoassibin (Bukti-bukti nyata untuk orang saleh demi membasmi katakhayulan orangorang fanatik terten. Dengan demikian jelaslah bahwa Ahmad Khatib sangat councent dalam menegakkan tauhid dan membasmi ajaran-ajaran yang menyimpang dari Islam. Pendidikan Hukum Hal lain yang menjadi perhatian dan pemikiran Ahmad Khatib adalah tentang masalah hukum. Meskipun tidak secara ekplisit berkaitan dengan pendidikan, akan tetapi pemikirannya tentang hukum memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kesadaran masyarakat untuk berpegang teguh dan melaksanakan hukum sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ini berarti Ahmad Khatib telah melakukan secara tidak langsung, pendidikan kepada masyarakat agar taat dan patuh terhadap hukum agama. Pemikirannya tentang pendidikan hukum yang dimaksud dalam hal ini adalah, berkaitan dengan penolakannya tentang penentuan hukum waris berdasarkan hukum adat materilinialis yang menurutnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hal ini Ahmad Khatib menyatakan bahwa, seluruh harta pusaka yang diwarisi kemenakan adalah sama dengan harta rampasan. Perbuatan itu sendiri merupakan dosa besar, karena bebrarti merampas harta benda anak yatim piatu. Oleh karena itu mereka harus segera bertaubat. Pendidikan Politik Syekh Ahmad Khatib adalah orang yang sangat anti terhadap Belanda dan benarbenar sangat anti terhadap Belanda (Ambary & Redaksi, 1. Syarekat Islam oleh orang-orang Belanda dan sekutunya, dianggap organisasi yang membahayakan. Oleh karenya mereka membuat berbagai manuver, antara lain dengan menerbitkan brosur yang ditulis oleh Sayid Usman yang diirayu Belanda untuk menulisnya. Dalam brosur itu mereka menuduh bahwa Syarekat Islam sebagai kelompok yang tidak Islam sama sekali, dan bahwa HOS Tjokroaminoto tidaklah hidup sesuai dengan norma-norma Islam. Brosur ini oleh pemerintah dikirimkan kepada guru-guru agama di pulau Jawa dan di pulau lain di Indonesia (Ambary & Redaksi, 1. Ahmad Khatib . usuh lama Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 1-9 Sayid Usma. menolak keras pendapat Sayid usman dan membela pendirian Sarekat Islam, dari Mekkah. Pemikiran Ahmad Khatib dalam hal ini sangat jelas, yaitu membela kebenaran dan memperjuang-kan Islam. Tidak tergiur, seperti halnya Sayid Usman yang mudah diperdaya oleh pemerintah Belanda, bahkan untuk memusuhi bangsanya sendiri sekalipun. Rasa nasionalisme Ahmad Khatib sebagai bagian dari pemikirannya dalam membela bangsanya, merupakan bagian dari ajaran yang diyakininya. Ini sungguh luarbiasa, karena meskipun beliau tidak ada di negerinya sendiri, melainkan hidup di negeri asing, tetapi masih memiliki rasa nasionalisme, disaat bangsanya dikuasai oleh bangsa lain. Relevansi Pemikiran Ahmad Khatib Terhadap Pesantren Masa Kini Syeikh Ahmad Khatib Minangkabawi . 0Ae1. adalah salah satu ulama besar yang memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan pendidikan Islam, khususnya dalam dunia pesantren. Pemikiran-pemikiran beliau tentang pendidikan Islam, baik dalam aspek keilmuan maupun moralitas, memiliki relevansi yang sangat besar dalam konteks pesantren masa kini. Sebagai seorang ulama yang hidup di era kolonial, beliau memiliki visi yang luas mengenai pentingnya pembaruan pendidikan untuk menjawab tantangan zaman. Berikut adalah beberapa relevansi pemikiran beliau yang masih berlaku dan dapat diterapkan dalam pesantren masa kini. Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Pengetahuan Umum Salah satu pemikiran penting yang diajukan oleh Syeikh Ahmad Khatib adalah pentingnya mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan Pada masa beliau, pengajaran di pesantren lebih terfokus pada ilmu agama, seperti tafsir, fiqh, dan hadis. Namun. Syeikh Ahmad Khatib berpendapat bahwa untuk memajukan umat Islam, pendidikan harus mencakup ilmu-ilmu umum yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari dan untuk menghadapi tantangan dunia modern (Bali & Susilowati, 2019. Fathurrahman, 2. Pemikiran ini sangat relevan dengan perkembangan pesantren saat ini, di mana banyak pesantren yang mulai mengembangkan kurikulum yang menggabungkan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum seperti matematika, sains, bahasa, dan teknologi. Pesantren masa kini tidak hanya bertujuan mencetak ulama atau ahli agama, tetapi juga mencetak generasi yang cerdas dan kompeten di berbagai bidang. Seiring dengan kemajuan teknologi dan globalisasi, pesantren diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memahami agama dengan baik, tetapi juga memiliki pengetahuan luas tentang dunia modern (Ismail, 2. Pendidikan Karakter Selain pengajaran ilmu agama dan umum. Syeikh Ahmad Khatib juga menekankan pentingnya pendidikan yang berfokus pada pembentukan karakter dan akhlak. Dalam pemikiran beliau, ilmu harus diiringi dengan penerapan nilai- Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 1-9 nilai moral dan etika yang baik. Seorang santri tidak hanya harus menjadi ahli dalam bidang ilmu, tetapi juga harus memiliki akhlak yang mulia, sehingga dapat memberi manfaat bagi masyarakat (Alfian, 2. Pemikiran ini sangat relevan dengan tujuan pendidikan pesantren masa kini, yang sering kali dijadikan sebagai lembaga yang mengutamakan pembentukan Pendidikan pesantren tidak hanya menyiapkan santri dalam hal keilmuan, tetapi juga dalam hal moralitas. Pesantren mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan toleransi. Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, pesantren masa kini perlu lebih fokus lagi pada pembentukan karakter generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak baik (Zuhdi, 2. Pengajaran Bahasa Arab untuk Pemahaman Teks-Teks Islam Syeikh Ahmad Khatib juga sangat mengutamakan pengajaran bahasa Arab, yang menurutnya adalah kunci untuk memahami teks-teks Islam yang asli, seperti Al-Qur'an, hadis, serta kitab-kitab fiqh dan tafsir. Pemahaman terhadap bahasa Arab memungkinkan santri untuk mendalami ilmu agama secara langsung tanpa bergantung pada terjemahan yang kadang-kadang kurang tepat atau terbatas (Pratama, 2. Pemikiran ini masih sangat relevan untuk pesantren masa kini. Pengajaran bahasa Arab tetap menjadi salah satu mata pelajaran utama dalam kurikulum pesantren, mengingat bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam kitabkitab klasik yang menjadi rujukan utama dalam studi agama. Bahkan, dalam dunia globalisasi yang semakin terhubung ini, penguasaan bahasa Arab juga membuka peluang bagi santri untuk berkontribusi dalam bidang internasional, terutama dalam dialog antaragama dan kerjasama internasional dalam isu-isu Islam (Yusuf, 2. Pembaruan dalam Sistem Pendidikan Pesantren Syeikh Ahmad Khatib dikenal sebagai seorang pembaharu dalam sistem pendidikan Islam, khususnya di pesantren. Ia berpendapat bahwa pendidikan Islam harus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman dan tantangan yang dihadapi umat. Pembaruan ini mencakup perubahan dalam kurikulum, metode pengajaran, dan pembentukan lembaga pendidikan yang lebih inklusif (Masykuri. Pesantren masa kini telah banyak mengalami transformasi, baik dalam hal kurikulum yang lebih fleksibel dan komprehensif, maupun dalam penggunaan teknologi untuk mendukung proses belajar mengajar. Selain itu, pesantren juga mulai membuka diri terhadap pendidikan formal dan non-formal, yang semakin memudahkan akses pendidikan bagi masyarakat. Dengan menerapkan prinsip pembaruan yang diajarkan oleh Syeikh Ahmad Khatib, pesantren masa kini bisa Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 1-9 menjadi lembaga yang tidak hanya relevan di masyarakat, tetapi juga mampu menghadapi tantangan global (Masykuri, 2. KESIMPULAN Pemikiran Syeikh Ahmad Khatib Minangkabawi sangat relevan dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia, terutama dalam pengembangan pendidikan pesantren. Pemikirannya yang mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu umum, menekankan pendidikan karakter, serta memperkenalkan pembaruan dalam kurikulum pendidikan, memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan pendidikan Islam. Hingga saat ini, pesantren masih terus mengimplementasikan banyak prinsip yang diajarkan oleh Syeikh Ahmad Khatib, yang menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Pemikiran Syeikh Ahmad Khatib Minangkabawi tetap memberikan inspirasi bagi dunia pendidikan Islam, khususnya pesantren, untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan tantangan zaman tanpa mengorbankan nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar utama pendidikan tersebut. Jadi, pemikiran Syeikh Ahmad Khatib Minangkabawi memiliki relevansi yang sangat besar terhadap perkembangan pesantren masa kini. Prinsip integrasi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, pendidikan karakter dan etika, pengajaran bahasa Arab, serta pentingnya pembaruan dalam sistem pendidikan pesantren, tetap menjadi fondasi yang kokoh untuk pengembangan pesantren di Indonesia. Oleh karena itu, pesantren masa kini diharapkan dapat mengadaptasi dan mengimplementasikan pemikiran-pemikiran Syeikh Ahmad Khatib untuk menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas dalam ilmu agama, tetapi juga kompeten dalam ilmu pengetahuan dan memiliki karakter yang baik. DAFTAR PUSTAKA