ISSN: 2597-3851 DOI: https://doi. org/10. 35747/hmj Homepage: https://journal. id/index. php/healthy PENGALAMAN KELUARGA DALAM MENGHADAPI STIGMA KLIEN GANGGUAN JIWA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JATISAWIT KABUPATEN INDRAMAYU Lina Rahmawati1* 1Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan AKSARI. Indramayu. Jawa Barat. Indonesia *email:linarahmawati2409@gmail. ABSTRACT Pengalaman keluarga menghadapi stigma klien gangguan jiwa merupakan cara keluarga menjalani hidup dengan harapan akan kuat menghadapi stigma social dan terlepas dari penyakit gangguan jiwa. Prevalensi kasus gangguan jiwa di Indramayu menurut Dinas Kesehatan Indramayu dengan skizofrenia sebanyak 1. 173 orang dengan psikosa akut 78 orang, gangguan cemas 265 orang, depresi 254 orang dan ODGJ dipasung 25 orang sehingga menjadi perhatian bagi pelayanan kesehatan untuk membantu keluarga dalam menghadapi stigma. Penelitian ini bertujuan mengungkap secara mendalam pengalaman keluarga dalam mengjadapi stigma klien gangguan jiwa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data didapatkan dengan wawancara mendalam terhadap 5 informan Informan merupakan keluarga yang memiliki pasien dengan gangguan jiwa. Hasil penelitian ini mendapatkan sebanyak 5 tema yaitu: sikap neragtif tetangga terkait stigma : membicarakan hal negative mengenai pasien di belakang dan merasa ketakutan, upaya caregiver dalam mengatasi stigma : minta maaf, sabar, membahagiakan diri sendiri, serta tidak menghiraukan omongan orang lain, perasaan ketika merawat klien : kesal dan lelah, sikap positif tetangga terhadap klien terkait stigma : pengertian, sudah terbiasa dengan keberadaan. Tantangan bagi petugas kesehatan memahami pengalaman keluarga dalam menghadapi stigma masyarakat agar dapat mendukung dan menjadi gambara yang dapat diterapkan pada keluarga lain yang juga mengalami gangguan jiwa. Keyword : Pengalaman. Upaya Menghadapi Stigma. Gangguan Jiwa Received: September 2025. Accepted: November 2025. Published: Desember 2025 A2025. Published by Institute for Research and Innovation Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). LATAR BELAKANG Riskesdas Menurut World Health Organization (WHO), terdapat sekitar 35 juta orang mengalami depresi, 60 juta bipolar, 21 juta skizofrenia, dan 47,5 juta demensia . Pada tahun berikutnya. WHO melaporkan bahwa sekitar 450 juta penduduk dunia mengalami gangguan jiwa . Secara global, gangguan mental merupakan kontributor utama Years Lived with Disability (YLD. 13,5%, tertinggi masih didominasi penyakit kardiovaskular . Pelayanan kesehatan jiwa serta pemenuhan hak Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) belum optimal. skizofrenia/psikosis sebesar 6,7 per 1. 000 rumah tangga, dengan estimasi sekitar 450. 000 ODGJ berat di Indonesia . Di Jawa Barat. ODGJ ringan tercatat 221 orang dan ODGJ berat 74. 395 orang, 638 kasus pasung . Di Kabupaten Indramayu, tercatat 1. 665 ODGJ yang terdaftar untuk mengikuti Pemilu 2024 . Data Dinas Kesehatan Indramayu menunjukkan kasus skizofrenia sebanyak 173 orang, psikosa akut 78 orang, gangguan cemas 265 orang, depresi 254 orang, dan ODGJ dipasung 25 Stigma masyarakat terhadap ODGJ masih tinggi dan sering dikaitkan dengan mitos seperti sihir atau gunaguna. Kondisi ini menyebabkan pelabelan negatif dan Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Desember 2025. Page 232Ae 239 e-ISSN: 2598-2095 pengabaian hak sosial maupun hak pengobatan . Puskesmas Jatisawit. Kabupaten Indramayu. Data Penelitian pasien diperoleh dari pemegang program kesehatan gangguan jiwa cenderung tinggi, terutama pada aspek otoriterisme . Studi di 14 negara Eropa juga pengawasan tenaga kesehatan, rutin berobat, dan melaporkan tingkat stigma yang signifikan . Penelitian lain menemukan bahwa 52,6% responden meliputi: sehat fisik dan mental, bersedia menjadi menunjukkan stigma tinggi terhadap keluarga dengan anggota ODGJ . , sementara rendahnya pendidikan gangguan jiwa, serta berdomisili di wilayah kerja dan pengetahuan berkontribusi pada prasangka dan Puskesmas Jatisawit. Untuk Stigma berdampak luas, termasuk isolasi sosial dan menggunakan teknik triangulasi teori dan metode. risiko bunuh diri . , penolakan mencari pengobatan. Triangulasi teori dilakukan dengan membandingkan penurunan kualitas hidup, kesempatan kerja, serta hasil penelitian sebelumnya yang relevan, sedangkan harga diri . Selain itu, masyarakat sekitar juga triangulasi metode dilakukan melalui wawancara tidak mengalami ketakutan berlebihan terhadap ODGJ . hanya kepada keluarga . , tetapi juga pasien. Oleh perawat pemegang program jiwa, dan tetangga pelayanan kesehatan jiwa berbasis pelayanan primer Validitas data diperkuat melalui member check dan program edukasi masyarakat untuk menekan dengan mengonfirmasi kembali hasil wawancara Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan Analisis data menghasilkan 5 verbatim untuk mengetahui gambaran stigma masyarakat per responden, significant statements, dan emergent themes yang digunakan untuk menentukan tema ODGJ UPT Puskesmas. Karakteristik responden pengetahuan dan kepedulian masyarakat. Kriteria Puskesmas Jatisawit Kabupaten Indramayu sebagai Tabel 1. Karakteristik responden No. Inisial Usia (THN) Jenis Kelamin Hubungan Tn. Tn. Laki-laki Laki-laki Ny. Perempuan memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa . Ny. Perempuan Pendekatan Perempuan menginterpretasikan dan mendeskripsikan secara Ny. Caregiver 1 Ayah tiri Anak Ibu Kandung Adik Keponakan mendalam esensi pengalaman partisipan. Partisipan Caregiver 1 merupakan ayah tiri klien, ayah tiri baru dipilih menggunakan teknik purposive sampling, menikah sekitar 1 tahun, sebelum ayah tiri menikah dengan jumlah 5 keluarga yang memiliki anggota dengan ibu klien, klien sudah mengalami gangguan keluarga dengan gangguan jiwa di wilayah kerja Ibu klien memiliki anak 3 yaitu 1 sudah bekerja METODE Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Desember 2025. Page 232Ae 239 e-ISSN: 2598-2095 tinggal jauh, akan kedua klien dan anak bungsu wawat, minta maaf. Tetangga tahu kalau ngomong ga tinggal satu rumah. Anak bungsu putus sekolah bener oh berarti wawat lagi kumat , yang penting karena malas dan hanya main di sekitar rumah dan ditangani atau ngomong saya yang bilangAy Kebutuhan sehari-hari yang memenuhi ayah tiri dari berjualan di pasaran setiap hari keliling Caregiver 2 Di dalam rumah ada 4 orang yaitu ayah Pasien 2 merupakan laki-laki berusia 70 tahun memiliki tiri, ibu, klien dan adiknya. 2 anak, saat ini tinggal bersama anak laki-lakinya. Klien sekolah sampai SMA, termasuk anak yang rajin Istrinya sudah meninggal. Ruma aslinya di bongas, dan menurut ibunya merupakan anak kebanggan akan tetapi saat ini tinggal dengan anak laki-lakinya karena bisa sekolah sampai sekolah menengah tidak agar mydah di pantau. Pertama mengalami gangguan seperti adiknya. Semasa sekolah klien sering di bully, jiwa sejak tanah karang di jual karena kebutuhan diejek, sehingga sering tidak masuk sekolah dan mendesak sebesar 100 juta, kemudian tak berselang akhirnya putus sekolah ketika SMA. Pulang sekolah lama ponakannya juga menjual tanah warisan dengan sering menangis dan mengurung diri di kamar, ketika jumlah sama , akan tetapi karena tidak butuh dan ditanya alasan mengurung di kamar dan memangis digunakan untuk Yayasan maka dijual dengan harga tidak menjawab. Pernah suatu hari hilang 2 hari dari 120 juta, perbedaan harga tersebut memicu pasien rumah lagi main di tanggul dekat rumah, kemudian sehingga marah-marah membanting barang-barang, ada yang ada ornag tidak dikenal mengajak entah dan memukul tetangga. Semenjak kejadian tersebut kemana, kemudian dicari ada yang bilang kea rah pasien sering memecahkan kaca rumah tetangga, patrol, ketemu di sekitaran losarang di pinggir jalan pernah berhenti, dan ketemu di patrol, di sekap oleh menganggap motor itu miliknya, memanen padi yang orang tidak dikenal. Ketika ditanya oleh siapa dan padahal belum dibawa kemana, klien tidak menjawab Namanya juga sehingga semua kerusakan tersebut diganti oleh anak- seperti itu jadi enggak ngerti dibawa orang jahat. Selain itu sikap klien berubah semenjak Sehari-hari klien minta jajan , kadang dikasih makanan istrinya meninggal sering mengurung diri dikamar sama tetangga. Tetangga klien menerima klien apa berbicara sendiri dan tidak bergaul dengan warga Keluarga membawa pasien ke RSJ di bandung mengucilkan bahkan kasihan dan jika ada makanan kemudian sembuh dan jika mengamuk keluarga juga lebih suka di kasih. Dulu sebelum seperti ini suka membawaklien ke rsud indramayu, jd beberapa kali dijenguk temennya temen sekolah main ke rumah dan dirawat jika kambuh sering mengamuk. setelah tidak ada teman yang menjenguk klien Caregiver mengatakan : Aupengalaman priwe ya, sendirian di rumah da ada temen yang mau kodikit, pengalamane ya kudu sabar lah, kudu tanya- tanya sama orang yang pernah di rawat disini-disini. Ayah klien mengatakan : Auga tau ya ibunya yang tahu, kalau tanya kesana kemari pengen sembuh, pernah ga ada kalau lagi kumat suka ada omonganAy . Lebih dirawat di bandung, dibandung 20 hari,di Indramayu lanjut ayah klien mengatakan : Aukeluarga minta maaf masuk 2 x dirawat di rsud indramayu, ya alhamdulillah ke tetangga kalau wawat ngomong ga enak . sekarang mending, dulu mah orang orang, kesana ngomong saya minta maaf , kalau ngomong ga enak di panen, merugikan Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Desember 2025. Page 232Ae 239 e-ISSN: 2598-2095 menghadapinya harus sabar lahAy. Lebih lanjut mengatakan : Aualhamdulillah tetangga sodara pada kebutuhannya saja misal baju, makanan dll. Keluarga mengatakan : Aumenangis, sedih buAy. Lebih Keluarga juga mengatakan : Auwajar Namanya juga lanjut lagi mengatakan : Ausedihnya kalau saya sedang kenyataan, di gosopin wajar, udha pada ngerti udah sakit, kaki sakit, kepala juga, sedihnya itu ,kalau saya pada tahu, ngegosip soal itu wajar lah, alhamdulillah sehat sih gapapa, mungkin ini cobaan dari allah, saya pada ngerti, kesel mah kesel tapi bagaimana lagiAy hanya ingin ditemani kalau anak saya sedang sakit . , jerit-jerit, minta baju, dikasih baju ada Caregiver 3 merah-merah nya ada putih-putihnya dia ga mau, di Pasien merupakan anak bungsu, pasien berusia 23 kasih lagi ga mau lagi, jadi saya menghindar saja, tahun, belum menikah tinggal bersama ayah dan jalan ke depan , datang lagi. Perasaan kalau di tinggal Ibu dan ayah pasien lansia tinggal ber 3 di bagaimana dihadapi ya bagaimana, nangis ya ga bisa, rumah, kakak-kakak pasien sudah memiliki keluarga saya bisa nangis ini ( menghela nafa. sendiri-sendiri dan tinggal di rumah masing-masing. Dalam mengatasi stigma keluarga mengatakan : Klien mengalami gangguan jiwa semenjak remaja. Aujalan-jalan kesana keluar ke tanggul, menghindari mengamuk membanting barang-barang dan kalua di saja, dulu ada mas dedi sekarang ga ada bicara sama luar memukul tetangga. Karena ibu klien lansia, ibu Sekarang nyaut tapi engga nyamperinAy. klien eksulitan merawat klien, ingin jajak memaksa meminta uang, atau kalau ingin memakai baju yang Caregiver 4 tidak sesuai keinginan misalnya klien ingin baju polos Klien merupakan seorang perempuan berusia 35 dan baju yang diambilkan ibunya bercorak, klien tahun, mengalami gangguan jiwa semenjak pulang dari luar negeri beberapa tahun lalu. Klien sudah melalukan hal berulang-ulang tanpa tujuan yaitu pernah menikah dan memiliki 1 anak. Saat ini anaknya mandi, walaupun baru saja mandi klien mengganti tinggal bersama mantan suaminya yang berprofesi baju dan mandi Kembali. Ibu klien berangapan tukang bangunan. Klien saat ini tinggal bersama karena sering mandi jadi tidak sembuh karena obat adiknya di rumah peninggalan orang tua. Orang tua yang diminum tidak keluar melalui keringat. Saat dikaji klien sudah meninggal. Klien awalnya tidak gangguan mata klien melotot, wajah tegang, badan dingin dan jiwa, akan tetapi setelah pulang dari hongkong pucat seperti habis mandi, klien ketika diajak menjadi sering mengurung diri di kamar, tidak berkenalan dengan perawat mau mendekat dan Memperkenalkan diri, nama dan hobi. kemudian bercerai dan karena anaknya ketakutan dan Klien kadang-kadang tenang dan kadang-kadang demi keamanan anaknya dibawa oleh suaminya. Saat kambuh, jika kambuh klien mengamuk membanting ini anak klien tidak pernah menjenguk ibunya, barang-barang, kondisi rumah kaca pecah dan pintu anaknya sudah SMA. Rumah yang ditempatin karena Klien diberikan bel oleh ibu klien missal jika warisan orang tua dubagi 2 bagian belakang untuk klien membutuhkan sesuatu atau memanggil ibu klien dan bagian depan oleh adik. Sehari-hari membunyikan bel, ibu klien takut jika berdekatan kebutuhan klien dipenuhi adik, karena adik klien tidak berteriak-teriak. Klien Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Desember 2025. Page 232Ae 239 e-ISSN: 2598-2095 bekerja, maka kebutuhan dari suami adiknya, makan bak, sayamah Cuma ngasi makan sabun untuk mandi, sabun dan lain-lain. jarang mandi mah, dikasih sabun mah cuma ya begitu Keluarga mengatakan : Autetangga menerima saja. Namanya juga kaya gituAy. Lebih lanjut mengatakan : mau dia duduk disitu saja menerima saja tidak Autetangga mengerti memaklumi namanya orang menganggu, tiduran disitu , kadang dikasih makanan. kurangAy. Kemudian keluarga mengatakan : Au Lebih lanjut mengatakan : Autetangga udah terbiasa, orang pada datang dia malu, beraninya sama saya aja. PEMBAHASAN kalau didatengin banyak orang dia malu, sembunyiAy Sikap Neragtif Tetangga Terkait Stigma : lebih lanjut mengatakan : rumahnya di Tengah-tengah Membicarakan Hal Negative Mengenai Pasien Kalau disini bodo amat Di Belakang Dan Merasa Ketakutan Tadinya mau diserahin. Cuma bagaimana lagiAy. Penderita gangguan jiwa sering mendapatkan stigma dan diskriminasi yang lebih besar dari masyarakat Caregiver 5 disekitarnya dibandingkan individu yang menderita Klien merupakan laki-laki berusia 50 tahun mengalami penyakit medis lainnya. Tidak hanya menimbulkan gangguan jiwa semenjak 20 tahun lalu akitan di tolak konsekuensi negatif terhadap penderitanya tetapi juga oleh pacar nya, semenjak itu klien menajdi depresi bagi anggota keluarga, meliputi dikatakan orang gila, . enuturan ponaka. Klien belum pernah sama sekali sikap-sikap penolakan, penyangkalan, dan disisihkan maupun pandangan negatif. di rumah ponakannya, alasan ponakan merawat karena amanat Pandangan masyarakat kepada orang gangguan jiwa ibu ponakan yang juga kakak klien, padahal klien berdampak pada orang dengan gangguan jiwa memiliki 2 kakak, akan tetapi kadnag-kadang memberi makan saja tidak merawat langsung alasan tidak ada pandangan negatif maupun positif. Penelitian bahwa rumah atau tempat untuk klien. Selama 20 tahun klien stigma gangguan jiwa negatif dengan sikap buruk tinggal dibekalang rumah ponakannya, kamar kecil terdapat hubungan signifikan. Pengetahuan yang disediakan toilet akan tetapi di rumah dan tidak buruk menimbulkan sikap yang buruk pula terhadap terpakai dan klien tidak mau mandi, bab juga tidak ODGJ. tahu Dimana karena toilet di rusak, kalau mandi di menghiraukan penderita gangguan jiwa, bersikap sumur pekarangan, akan tetapi klien jarang mandi acuh tak acuh karena kesibukan masing-masing, badannya kotor dan tidak pakai baju atasan, hanya memandang negatif, mengancam, mengatakan takut baju bawahan. dan tidak mau ikut campur dalam urusan tetangga Menurut keponakannya klien kadang sembuh kadnag yang mengalami gangguan jiwa . kambuh, kalau lagi sembuh tahu nama orang-orang Upaya Caregiver dalam Mengatasi Stigma : sekitar rumah, terkadang disapa menjawab, dan suka Minta diberi makanan oleh tetangga. Jika sedang mengamuk Sendiri. Serta Tidak Menghiraukan Omongan teriak-teriak dikamar dan berbicara sendiri. Orang Lain. Masyarakat Maaf. Sabar. Membahagiakan Diri Keluarga mengatakan : Auenggak karena sudah Dalam web vikasi. id bahwa cara terbiasa , sudah biasa lagi mau bagaimana lagi, caregiver dalam mengatasi emosi dan mental adalah bareng-bareng saja udah, mandi sendiri, ada wc ada Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Desember 2025. Page 232Ae 239 melatih manajemen stress e-ISSN: 2598-2095 keluarga dalam merawat pasien gangguan jiwa mengalami masalah psikologis yaitu kesal dan lelah . tekanan, baik secara fisik maupun emosional. Untuk Kelelahan dan stres adalah dua kondisi yang seringkali itu, kemampuan mengelola stres sangat penting. Stres Teknik seperti pernapasan dalam, meditasi, serta memiliki waktu untuk diri sendiri dapat membantu Keduanya menjaga keseimbangan mental. Selain itu, menerima kesehatan fisik dan mental jika tidak ditangani dengan dukungan dari rekan atau komunitas juga bisa Rasa kesal dan stres adalah dua emosi yang menjadi cara efektif untuk mengurangi tekanan dan seringkali saling terkait. Kesal bisa menjadi salah satu menghindari burnout. gejala stres, dan stres yang berkepanjangan dapat Caregiver harus mampu berkomunikasi dengan baik, memicu rasa kesal yang berlebihan. Penting untuk Pekerjaan Kemampuan berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik. Sikap Positif Tetangga Terhadap Klien Terkait memahami bahasa tubuh sangat diperlukan. Selain Stigma : Pengertian. Sudah Terbiasa Dengan itu, keterampilan sosial juga membantu caregiver Keberadaan baik, menciptakan Tania Fransiska dkk ( 2. mengungkapkan bahwa lingkungan yang nyaman, serta meningkatkan kualitas dalam jurnalnya yang berjudul Gambaran Stigma perawatan yang diberikan. Masyarakat Terhadap Penderita Skizofrenia Di Kota Dalam penelitian ini klien melakukan manajemen Pontianak bahwa Sikap paling umum digunakan oleh stress dan emosi dengan cara sabar. Sabar dan masyarakat adalah baik, simpatik, serta humanistik terhadap penderita skizofrenia. Lingkungan sekitar adalah dua kemampuan menahan diri dari reaksi emosional yang pengertian dan mereka sudah terbiasa dengan berlebihan, terutama dalam situasi sulit atau membuat keberadaan klien. Sikap tersebut merupakan sikap Manajemen baik, simpatik dan humanistic sama seperti hasil mengidentifikasi, memahami, dan mengelola emosi, penelitian diatas. Stigma tidak hanya mengenai hal baik emosi positif maupun negatif, agar tidak negative saja, akan tetapi stigma Masyarakat juga bisa berdampak buruk pada diri sendiri dan orang lain. menjadi positif dan dukungan bagi klien dan keluarga Sabar, dalam konteks ini, merujuk pada Perasaan Ketika Merawat Klien : Kesal Dan Lelah Kekurangan Penelitian Rinawati Fajar & Sucipto . Pengaruh Beban Kekurangan Terhadap Stres Yang Dialami Keluarga Dalam Merawat caregiver pasien gangguan jiwa sulit terkait stigma. Pasien Gangguan Jiwa hasil penelitian tersebut mereka merasa malu untuk diwawancarai dan bahkan menunjukan bahwa ada pengaruh yang signifikan menolak karena merupakan aib, tantangan peneliti pada beban terhadap stres yang dirasakan keluarga untuk membina hubungan saling percaya dengan dalam merawat pasien gangguan jiwa. Hal tersebut caregiver dan pasien. Peneliti melakukan wawancara sejalan dengan penelitian yang dilakukan bahwa Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Desember 2025. Page 232Ae 239 e-ISSN: 2598-2095 terhadap 5 responden dan hasil nya sudah jenuh, akan Penelitian selanjutnya menindaklanjuti penelitian ini tetapi perlu dilakukan wawancara dengan lebih banyak responden agar penelitian lebih jenuh dan pemegang program jiwa dalam merawat pasien menggunakan metode lain atau mix method agar hasil gangguan jiwa dan pengaruh terapi psikoedukasi penelitian lebih kompleks. berbasis digital terhadap kepatuhan minum obat dan kesembuhan pasien gangguan jiwa. KESIMPULAN Recovery bagi survivor skizofrenia merupakan sebuah Hampir semua caregiver mengungkapkan bahwa mereka merawat pasien jiwa dengan bersungguh- sungguh, memperhatikan serta mengawasi serta memenuhi kebutuhan sehari-hari. 3 caregiver mampu Tantangan merawat dengan baik karena pasien sudah berada di meningkatkan kembali kreatifitas survivor dalam fase survivor tidak kambuh dan sembuh walaupun upaya kesembuhannya. dalam keterbatasan, sementara 1 caregiver merasa kesulitan merawat pasien karena kondisi pasien DAFTAR PUSTAKA