Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Halaman jurnal di https://journal. id/skenoo Manajemen Konflik secara Alkitabiah dan Aplikasinya bagi Pelayanan Pastoral di Jemaat GBI House of Grace Jagir Surabaya Reynold Aristokrat Sinaga Sekolah Tinggi Teologi Kharisma Bandung email: reynold0807@gmail. INFO ARTIKEL Sejarah artikel: Dikirim 23 Mei 2024 Direvisi 06 Juni 2025 Diterima 18 Juni 2025 Terbit 30 Juni 2025 Kata kunci: Manajemen Konflik Alkitab Pastoral GBI House of Grace Keywords: Conflict Management Bible Pastoral GBI House of Grace ABSTRAK Konfik dalam kehidupan bergereja merupakan tantangan serius pada zaman modern ini. Kelalaian para hamba Tuhan dalam mengetahui realitas konflik di jemaat, telah mengakibatkan perselisihan, pertengkaran, kepahitan, kehilangan antusias beribadah, mundur dari pelayanan bahkan keluar atau berpindah gereja. Demikian juga halnya yang terjadi pada beberapa jemaat GBI House of Grace Jagir Ae Surabaya. Artikel ini bertujuan untuk merespons dan menyelesaikan konflik tersebut dengan pendekatan seimbang dalam memahami realitas konflik melalui kebenaran Firman Tuhan. Oleh sebab itu pada penelitian ini, menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan deskriptif. Setelah melakukan penelitian dengan metode yang ada, pada penelitian ini menyungguhkan bahwa konflik merupakan suatu realitas dalam kehidupan yang diakibatkan oleh perbedaan personalitas atau temperamen dan komunikasi yang tidak berjalan semestinya. Temuan ini tentunya bermanfaat bagi semua pelayan Tuhan dan lebih spesifik bagi pelayanan pastoral di jemaat GBI House of Grace Jagir Ae Surabaya. ABSTRACT Conflict in church is a serious challenge in modern times. The negligence of God's servants in knowing the reality of conflict in the congregation has resulted in disputes, quarrels, bitterness, loss of enthusiasm for worship, withdrawal from service and even leaving or changing churches. This is also what happened to congregations of GBI House of Grace Jagir - Surabaya. This article aims to respond to and resolve the conflict with a balanced approach in understanding the reality of conflict through the truth of God's Word. Therefore, this study uses a qualitative research method through a descriptive This study proves that conflict is a reality in life caused by differences in personality or temperament and communication that does not run properly. This finding is certainly useful for all servants of God and more specifically for pastoral care in the congregation of GBI House of Grace Jagir - Surabaya. PENDAHULUAN Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk ciptaan yang paling mulia dan unik. Disebut mulia karena manusia diberikan perasaan yang tidak dimiliki oleh ciptaan yang lain. Sementara unik karena setiap pribadi diciptakan dengan perbedaan watak, latar belakang, kepribadiaan dan temperamen. Hal ini menghasilkan keberagaman sikap dan tingkah laku Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 67 dalam menjalani hubungan dengan orang lain. Dalam kodratnya sebagai mahluk sosial, manusia seharusnya hidup berdampingan dengan orang lain sekalipun masing-masing memiliki latar belakang beragam. Namun demikian, konflik secara personal maupun komunitas dapat terjadi karena perbedaan pandangan dan pemahaman manusia. 1 Hal lainnya, dikarenakan adanya perbedaan latar belakang sosial, pendidikan dan kepentingan juga, dapat menyebabkan begitu seringnya konflik terjadi di tengah orang Kristen. Konflik pada dasarnya dapat diatasi oleh manusia, namun banyak timbul konflik besar yang tidak teratasi karena manusia tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. 2 Dari uraian tersebut diatas, dapat dipahami bahwa apapun latar belakang seseorang, hal itu tidak otomatis membuat ia terlepas dari konflik. Baik-buruknya atau bijaksana atau tidak seseorang, hal itu juga tidak membuat dirinya terlepas atau bebas dari sebuah pertengkaran, yang mungkin ia tidak inginkan. Tidak seorangpun bebas dari dinamika hubungan yang mengarah kepada Konflik hal yang umum terjadi terhadap setiap orang dan ada ada kemungkinan dapat menimbulkan kepahitan, pertengkaran, serangan, bahkan hubungan yang akan menjadi retak. Hal tersebut dapat terjadi pada siapa saja tanpa peduli keterampilan apa yang 3 Seperti halnya yang dialami di gereja GBI House of Grace Jagir Surabaya. Secara umum konflik selalu mengindikasikan pertentangan, perselisihan, percekcokan dan pertengkaran antara dua pihak yang berbeda, baik dalam perbedaan prinsip maupun Lawson dalam bukunya menuliskan bahwa konflik dapat terjadi dimana saja, baik dalam sebuah keluarga, pada tingkat penguasa dan kursi pemerintahan. 4 Konflik itu sendiri adalah sesuatu yang alamiah dan tidak dapat dihindari. 5 Permasalahan yang harus dihadapi adalah bagaimana respon orang Kristen terhadap konflik. Karena apabila konflik tidak diselesaikan akan dapat menyebabkan rusaknya hubungan yang sudah terbangun. Terlebih akan mempengaruhi persekutuan dengan Tuhan. Konflik yang tidak diselesaikan dapat menjadi dosa yang dapat merusak relasi antar sesama bahkan dengan Allah. 6 Injil Matius menuliskan bahwa jika ada konflik dengan orang lain yang belum dibereskan, maka 1 Kevin Samuel Kamagi & Iman Setia Telaumbanua. AuManajemen Konflik Berdasarkan Kisah Para Rasul 15:35-41 Dan Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini,Ay DAAoAT: Jurnal Teologi Kristen 3. No. 2 Agus Suryo Jarot Yudhono. AuPelayanan Konseling Kristen Kepada Pasangan Suami Isteri Dalam Menyelesaikan Konflik Keluarga,Ay MISSIO ECCLESIAE 8, no. : 116Ae36. 3 Michael Lawson. Conflik. Mencabut Akar & Menyelesaikan Konflik (Yogjakarta: ANDI, 2. , 3Ae 4 Lawson. Conflik. Mencabut Akar & Menyelesaikan Konflik. 5 Verry Alexander Maoe. Desak Ketut Sintaasih, and I Gede Adnyana Sudibya. AuPengaruh Konflik Peran Terhadap Kepuasan Kerja Dan Kinerja Pendeta Gereja Kristen Protestan Di Bali,Ay E-Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana 5, no. : 1279Ae1308. 6 Edi Sugianto. AuFrom Temptation to Sin: A Theological Study of Human Moral Struggles,Ay Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 9, no. 1 (March 27, 2. : 63Ae81, https://journal. id/index. php/EJTI/article/view/850. 68 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. harus menyelesaikannya terlebih dahulu dengan orang yang terlibat konflik dengan berdamai, kemudian kembali bersekutu dengan Tuhan (Lih. Mat. 5:23-. Dikarenakan konflik muncul sebagai hasil dari interaksi yang kompleks antara individu- individu yang memiliki kepentingan, nilai- nilai, dan tujuan yang berbeda maka adalah sebuah keharusan agar setiap orang Kristen perlu menyikapi dengan benar bagaimana langkah-langkah menyelesaikan konflik dengan baik,8 sebagaimana mempraktekkan hukum kasih dari Yesus (Lih. Mat. 9 Karena dalam kenyataan demikian, banyak orang Kristen termasuk sebagian dari GBI House of Grace Janggir Surabaya salah merespon ketika konflik terjadi, dan berakibat pada kerusakan hubungan, seperti tidak lagi bertegur sapa, pindah ke gereja yang lain, tidak aktif lagi di gereja dan akibat-akibat lainnya. Beberapa penelitian terdahulu yang memberikan respon mengenal hal tersebutseperti yang dilakukan oleh Siregar, berfokus untuk meneliti penyelesaian konflik berdasarkan kisah para rasul. 10 Sementara Pattinaja dkk. , berfokus untuk meneliti manajemen konflik terhadap 11 Bahkan Gulo dan Raisa melihat konflik dari sisi psikologi. 12 Untuk itu novelty pada penelitian ini adalah fokus melihat manajemen konflik secara Alkitabiah bagi GBI House of Grace Jagir. Dengan demikian, pernyataan masalah penelitian ini ialah bagaimana manajemen konflik secara Alkitabiah dan aplikasinya bagi GBI House of Grace Jagir Surabaya? Peneliti melakukan hal ini, untuk membantu para hamba Tuhan khususnya di GBI House of Grace Jagir untuk menyelesaikan tugas isu-isu penggembalaan sehingga setiap orang dapat mempraktekkan kasih persaudaraan dalam Tuhan. METODE Metode penelitian dalam artikel ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan literatur dan deskriptif. Seperti disampaikan oleh Sugiyono, metode penelitian kualitatif memiliki ciri-ciri penelitian yang dilakukan secara alamiah dan deskriptif, serta melibatkan keaktifan peneliti. 13 Lebih lanjut disampaikan oleh Gulo bahwa dalam penelitian study Alkitabiah, peneliti berfokus untuk melihat hubungan logis secara biblika sementara sumber 7 Alkitab Terjemahan Baru (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2. 8 Y Waruwu and G Julio. AuManajemen Konflik Terhadap Kinerja Guru Pendidikan Agama Kristen,Ay Jurnal A 4, no. 9 Ibid. 10 J. M Siregar. AuPenyelesaian Konflik Yang Sehat Di Dalam Gereja Berdasarkan Eksposisi Kisah Para Rasul,Ay SAINT PAULAoS REVIEW 5, no. 11 Aska Aprilano Pattinaja et al. AuManajemen Konflik Terhadap Emosional Dan Implikasinya:Studi Eksegesis Berdasarkan Mazmur 37:8,Ay SAINT PAULAoS REVIEW 4, no. : 16Ae 12 Fenius Gulo and Raisa Fransisca Maria Fransisca. AuTheological and Psychological Studies: The Final Destination of Dead Babies and The Inlications for the Nias Islands Lutheran Congregation,Ay MannaRafflesia 11, no. : 358Ae377. 13 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 69 lain sebagai pendukung. 14 Peneliti mengambil sumber-sumber buku pustaka berupa buku dan artikel jurnal terkini sesuai dengan topik pembahasan untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana manajemen konflik secara Alkitabiah sehingga dapat diinterpretasikan untuk pelayanan di GBI House of Grace Jagir-Surabaya. Hal ini dilakukan untuk menolong pelayan Tuhan dan jemaat dalam merespons konflik dengan benar sehingga dalam hal ini dapat meningkatkan pertumbuhan rohani jemaat. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebagai gembala sidang atau pelayan Tuhan yang sudah terbiasa pelayanan bagi umat Allah, tentunya dapat memahami jemaat dari berbagai dinamika yang terjadi. Terkadang ada jemaat pasif dan mundur dari berbagai kegiatan gereja diakibatkan karena kepahitan atau progres pertumbuhan rohani yang lambat. Bahkan tidak jarang jemaat yang mengalami masalah dalam bergereja, memilih untuk pindah dari gereja lokal dikarenakan respon yang salah dalam menghadapi atau menyelesaikan konflik. Pengertian Konflik Ada banyak pengertian atau definisi mengenai konflik, namun berikut beberapa pengertian yang peneliti anggap tepat untuk memberi pengertian yang mendukung penulisan artikel ini. ) Webster sebagaimana dikutip oleh Pickering menyatakan bahwa konflik merupakan persaingan atau pertentangan antara pihak-pihak yang berbeda, seperti perbedaan pendapat ataupun kepentingan antar individu, juga perselisihan oleh karena perbedaan motivasi, serta masalah perseteruan. ) Menurut Deutsch, konflik ialah pergumulan powet atas informasi yang berbeda maupun iman, kepentingan, keinginan dan nilai yang berbeda, sera kemampuan dalam memperoleh apa yang diharapkan. ) Menurut Soeryo, konflik diartikan sebagai tindakan yang kontra mengenai kepentingan, tujuan, opini, mental, serta benturan dalam kelompok, ataupun pribadi. ) Konflik menurut Endarmoko adalah bentrokan, friksi, percekcokan, pergesekan, perpecahan, pertikaian, sengketa, rivalitas, 18 Dari konsep yang sudah diuraikan diatas, maka disimpulkan jika konflik ialah suatu kondisi atau perilaku yang bertentangan sebagai akibat perbedaan yang ada . erbedaan kepentingan, keinginan, keyakinan atau nilai-nilai dan kemampua. sehingga mengakibatkan perselisihan, perseteruan, pertentangan atau pertarungan yang terjadi antar individu. Dalam bukunya. Pickering19 menyatakan jika konflik terjadi karena terdapat pendapat yang lebih dari satu dan dapat dipertimbangkan. Konflik seharusya tidak membuat 14 Fenius Gulo. AuSilsilah Dalam Matius 1:1-17 Meneguhkan Yesus Sebagai Mesias,Ay SAINT PAULAoS REVIEW 1, no. : 48. 15 Peg Pickering. How to Manage Conflict (Jakarta: Erlangga, 2. , 1. 16 Hugh F. Halverstad. Mengelola Konflik Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 5. 17 Susul Tetra Buana Soeryo and MM S. Kom. Manajemen Konflik Sosial (Jakarta: Restu Agung, 18 Eko Endarmoko. Tesaurus Bahasa Indonesia (Jakarta: Gramedia, 2. , 3. 19 Pickering. How to Manage Conflict. 70 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. perseteruan walaupun ada situasi konflik berupa pilihan-pilijan yang tidak selaras. Hal tersebut menunjukkan jika konflik adalah suatu hal yang alami dan tidak dapat dihindari bahkan menyehatkan jika diresponi dengan baik. Karena menurut Ezra konflik sebenarnya memiliki implikasi positif dalam kehidupan seseorang, seperti membantu pertumbuhan mentalitas diri kearah kedewasaan pribadi, melatih dan mempertajam pikiran dalam memandang segala sesuatu, mengembangkan sikap tahan uji dalah hidup seseorang. Sebaliknya, hal yang tidak sehat jika konflik tersebut tidak diselesaikan dan dibiarkan berkepankangan, sehingga berkembang dan berpengaruh pada produktivitas kerja maupun Semua bentuk pertentangan dan hal-hal negatif lainnya yang disebutkan diatas akan mewarnai konflik itu sendiri. Atas dasar uraian tersebut maka konflik harus dapat dilihat dari dua sisi pandang yang seimbang supaya menghasilkan suatu perspektif yang benar dan utuh tentang konflik sehingga akan mempengaruhi bagaimana cara menyikapinya. Jadi, konflik di satu sisi memiliki aspek negatif, namun di sisi lain memberikan nilai yang lebih bagi manusia yang menghadapinya, ketika direspon dengan baik. Realitas Konflik Pemahaman tentang realitas konflik akan membawa hamba Tuhan memahami sebab dan akibatnya suatu konflik. Sehingga setiap orang Kristen tahu kenapa konflik harus diresponi dengan benar. Banyak hubungan yang rusak terjadi akibat suatau realitas konflik yang terjadi. Itu sebabnya pengertian akan realitas konflik akan menolong untuk menentukan sikap apa yang seharusnya dilakukan sebagai orang Kristen untuk meresponinya. Lawson dalam bukunya menuliskan bahwa konflik tidak terjadi begitu saja, ada proses Karena konflik adalah sebuah proses dinamis. sifat penghancur dan pengaruh jangka panjangnya tergantung pada sejumlah faktor, paling tidak terletak dalam diri orang Kristen. Di balik terjadinya konflik dapat dipastikan ada orang yang jadi 22 Itu sebabnya perlu mengetahui realitas konflik itu sendiri dengan baik supaya dapat menyikapi setiap konflik yang terjadi dengan baik. Untuk memahami lebih jauh tentang realitas konflik, maka perlu diketahui beberapa jenis konflik itu sendiri dan pada umumnya, jenis konflik dibagi dalam dua golongan:23 Yang pertama, adalah Konflik Diri, yaitu beban berupa gangguan emosi yang terjadi dalam diri seseorang, yang disebabkan oleh tuntutan penyelesaian terhadap pekerjaan atau harapan, namun tidak mampu sebab keterbatasan maupun pertentangan pengalaman, minat, tujuan serta nilai. Konflik diri mencerminkan perbedaan antara apa yang dikatakan, inginkan, dan apa yang dilakukan untuk mewujudkan keinginan itu. Konflik ini berdampat pada penghambatan akan kehidupan sehari-hari bahkan kebingungan oleh orang yang memilikinya, sehingga tidak dapat berbuat apa-apa. 20 Jakoep Ezra. Manajemen Konflik (Makalah Kulia. (Jakarta: STT LETS, 2. 21 J. Robert Clinton. Pembentukan Pemimpin Sejati (Jakarta: Metanoia, 2. 22 Lawson. Conflik. Mencabut Akar & Menyelesaikan Konflik. 23 Pickering. How to Manage Conflict. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 71 Cara seseorang mengatasi konflik pada dirinya sendiri akan berpengaruh pada penyelesaian konflik orang lain, sebab tidak mungkin seseorang dapat menyelesaikan konflik orang lain, jika kepunyaannya tidak dapat di atasi dengan baik. Konflik diri inilah yang dewasa ini menyebabkan begitu banyaknya orang mengalami depresi dan gejala kesehatan mental atau memberi pengaruh pada kondisi kejiwaan seseorang bila tidak ditangani dengan Fidya menjelaskan bahwa seseorang dapat menyesuaikan diri dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya jika memiliki kesehatan mental yang baik. 24 Jadi bila seseorang tidak bisa nenangani konflik diri maka akan sangat sulit menangani konflik orang lain karena diri sendiri perlu ditangani karena kesehatan mental yang terganggu akibat konflik diri yang belum ditangani dengan baik. Yang kedua. Konflik antar individu, yaitu konflik yang terjadi antar dua individu. Konflik jenis inilah yang menjadi pembahasan penulis dalam keseluruhan artikel ini. Dalam hal ini menyoroti konflik antara orang Kristen dan sesamanya. Faktor-faktor yang Memicu Konflik Perlu diketahui bahwa konflik terjadi dalam hubungan dikarenakan adanya faktorfaktor tertentu sebagai penyebab. Tanpa mengerti apa penyebab suatu konflik, tidak akan pernah menghasilkan respon yang benar terhadap konflik tersebut. Tomkinson dalam bukunya, menuliskan beberapa penyebab konflik dalam hubungan seperti yang disebut dibawah ini25 . Gaya Berbeda, gaya perilaku sangat kuat mempengaruhi reaksi kita terhadap suatu situasi. Bagaimana melihat dari perspektif Allah merancang manusiaa, dan bagaimana Tuhan merancang orang lain? Yang dibutuhkan adalah bagaimana merencanakan cara-cara untuk mengatasi perbedaan-perbedaan yang ada. Nilai yang Berbeda, banyak orang membawa pengalaman-pengalamannya pada masa lampau, dan ketika ia terapkan di masa sekarang dimana kesadaran bahwa waktu dan keadaan yang bergerak dinamis membutuhkan perubahan dan relevansinya pada zaman sekarang, sehingga progresivitas dalam membangun hubungan tetap terjaga. Kurangnya Pengetahuan. Kitab Hosea menuliskan bahwa umat Allah binasa karena mereka tidak memiliki pengetahuan akan Allah (Hos. 4:6. Jadi setiap orang Kristen harus sadar kurangnya pengetahuan akan realitas konflik, kurangnya pemahaman tentang pribadi sendiri atau orang lain, temperamen dan latar belakang orang lain ada kemungkinan dapat menyebabkan konflik yang menghancurkan hubungan kita dengan sesama. Kurangnya Komitmen, ketidakpedulian dengan keadaan dan masalah orang lain akan menimbulkan konflik. Jadi dibutuhkan komitmen untuk selalu memberi kepedulian dengan orang lain sebagai mahluk ciptaan Tuhan juga yang memiliki Perspektif yang Salah tentang Konflik 24 Diana Fidya Fakhriani. AuKesehatan Mental,Ay Early Childhood Education Journal, . 25 Tomkinson, 91-93. 72 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Salah satu definisi perspektif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pandangan atau sudut pandang. 26 Kata perspektif berasal dari bahasa Latin AuperspicereAy yang artinya Augambar, melihat, pandanganAy. Oleh sebab itu perspektif merupakan sudut pandang yang digunakan untuk memahami atau memaknai permasalahan tertentu dan manusia sebagai makhluk sosial acap kali mempunyai perspektif yang berbeda yang memiliki makna sesuai dengan tujuannya masing-masing. 27 Perspektif dijadikan sebagai dasar untuk mengambil keputusan dalam menyelesaikan suatu masalah. Untuk menyelesaikan konflik juga seseorang harus terlebih dahulu memiliki sudut pandang yang benar terhadap konflik. Karena cara pandang terhadap konflik akan sangat menentukan cara seseorang bersikap terhadap konflik dan bagaimana cara untuk menyelesaikannya dengan respon yang benar. Ketika pandangan seseorang salah mengenai konflik maka cara menyikapinya juga akan salah terhadap konflik yang terjadi. Demikian juga seseorang perlu juga mendiagnosa konflik untuk membuat langkah-langkah yang benar untuk menyelesaikannya. Itu sebabnya ketidakmengertian tentang realitas konflik pada masyarakat umumnya, mengakibatkan adanya banyak pandangan keliru tentang makna konflik. Pandangan yang salah tentang konflik akan mengakibatkan respon yang salah, strategi penanganan yang salah. Beberapa pandangan yang salah mengenai konflik serta pandangan yang keliru mengenai konflik dapat dilihat dalam uraian dibawah ini:28 1. ) Konflik akan selesai dengan sendirinya jika dibiarkan, namun demikian jika didiamkan terlalu lama akan semakin sulit diatasi. Hal ini disebabkan suatu konflik memiliki intensitas meninggi sehingga tidak terkendali, oleh sebab itu tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Kebenarannya, selalu ada konflik yang akan hilang dengan sendirinya, namun di sisi lain itu berarti memperbesar kecendrungan untuk tidak terbuka dan menunjukan sikap takut menghadapi konflik yang sedang terjadi ataupun konflik berikutnya. ) Konfrontasi dengan sebuah persoalan atau dengan seseorang adalah hal yang tidak menyenangkan. Konfrontasi ada semata-mata: menghadapi . erutama Konfrontasi semata-mata berarti meletakkan persoalan di atas meja untuk diselesaikan tanpa penanganan seperti itu, konflik tidak akan dapat diselesaikan. Akan tetapi, sekali suatu masalah berhasil diidentifikasi dengan jelas, maka berarti konflik sudah 50 % berhasil diatasi. Perilaku tidak akan berubah jika tidak dikonfrontasi. Jika seseorang melakukan sesuatu dengan cara yang tidak dapat kita terima atau tingkah lakunya tidak berkenan bagi kita, kita harus membicarakan hal itu dengan orang yang bersangkutan. Itu sebabnya persoalan dalam hal ini yang menjadi konflik itu sendiri harus dikonfrontasi tetapi dengan sikap yang benar. ) Konflik menandakan mereka tidak peduli dengan sesamanya. Seseorang biasanya menjadi emosional bila suatu hal penting baginya. Oleh karena itu, hal tersebut bisa jadi petunjuk bahwa ada kepedulian yang besar. Konflik dapat mengangkat emosi ke permukaan dan hal itu dapat digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi nilai seseorang. Justru konflik 26 KBBI. AuArti Kata AoPerspektifAo Menurut KBBI. Ay 27 Rahma Fiska. AuPengertian Perspektif: Teknik. Jenis-Jenis. Dan Macamnya,Ay Gramedia Blog. 28 Pickering. How to Manage Conflict. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 73 seringkali muncul karena kesalapahaman mendeskripsikan kepedulian seseorang pada ) Amarah selalu bersifat negatif dan merusak, bila dilepaskan pada awal konflik, amarah dapat melegakan perasaan, membantu pihak-pihak yang terlibat melihat dengan lebih jernih persoalan dan tata nilai setiap pihak. Namun, pada konflik tahap yang lebih tinggi, amarah itu meledak-ledak dapat memberikan hasil yang sebaliknya dari yang diharapkan. Amarah itu sendiri tidak bersifat negatif atau positif sejauh mana seseorang dapat menentukan kapan akan marah atau tidak, dan itu sangat menentukan keberhasilan dalam menangani konflik. Dengan memahami realitas konflik seperti yang sudah diuraikan diatas, penulis mengajak untuk kita memahaminya dengan baik sehingga kita dapat meresponi konflik dengan perspektif yang benar, seperti yang penulis akan jabarkan dalam uraian selanjutnya. Karena penulis menyadari bahwa kesadaran akan realitas konfliklah yang akan membedakan seseorang dengan yang lain dalam meresponi konflik dengan benar atau tidak. Karena tanpa kedaran akan realitas konflik dan pengertian yang benar akan konflik akan membuat kita tidak siap menghadapi konflik. Dan hal inilah yang banyak membuat rusaknya hubungan seseorang dengan sesamanya. Pendekatan Antisipatif terhadap Konflik Untuk dapat memberi respon yang benar terhadap konflik maka artikel ini menguraikannya dalam berbagai perspektif pendekatan antisipatif supaya setiap orang bila mengalami konflik, bisa melihat bahwa ada banyak sisi dalam meresponi konflik yang terjadi. Disatu sisi seseorang memang harus bersikap meresponi konflik dengan pendekatan Alkitabiah tetapi tidak ada salahnya kita memperkaya cakrawala berpikir atau wawasan dan juga agar membuat seseorang bisa memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam menghadapi konflik yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat dengan beberapa pendekatan respon yang sudah banyak digunakan dewasa ini oleh masyarakat umum. Pendekatan sikap mental positif. Covey mengatakan, "10% dari hidup adalah apa yang terjadi dan 90% lainnya adalah bagaimana seseorang meresponinya. " Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar hidup seseorang ditentukan oleh cara kita merespons terhadap situasi yang terjadi. Manusia tidak memiliki kendali atas suatu kejadian namun memiliki kendali atas bagaimana meresponinya. Hal tersebut merupakan reaksi impulsif terhadap situasi yang tidak terduga yang dapat memicu serangkaian peristiwa negatif. Jika manusia merespons secara negatif dan impulsif, maka hal tersebut akan memicu rangkaian peristiwa yang tidak diinginkan dan membuat hari menjadi buruk. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya untuk tetap tenang dan memiliki sikap mental yang positif dalam menghadapi situasi yang sulit atau tidak terduga. Dengan merespons secara positif dan tenang, maka manusia dapat menghindari terjadinya konflik dan kesialan yang tidak perlu, serta menjaga keseimbangan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Swindoll juga mengungkapkan hal yang senada tentang pentingnya sikap mental yang positif yaitu bahwa manusia perlu menyadari kehidupannya perlu memutuskan pilihan sikap yang 29Anggriawan Sugianto. AuPrinsip 90/10,Ay Creative Commons License. 74 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. berdampak pada fakta masa kini dan masa depan, sebab manusia bertanggung jawab atas Jadi setiap langkah seseorang perlu sikap mental positif seseorang dalam bertindak dan perlu aplikasi yang nyata dalam menghadapi setiap kondisi konflik. Dimana langkahlangkah solusi konflik ini tidak terpisah tetapi saling melengkapi dan terkait antar satu dengan yang lain. Dengan demikian penulis menganjurkan setiap pembaca untuk memahami semua, menerapkan semua langkah sebagai satu kesatuan utuh dalam penyelesaian solusi konflik dalam hubungan. Adapun langkah-langkah solusi konflik tersebut adalah sebagai berikut: Yang pertama, seperti yang disebutkan Pasaribu bahwa secara alami manusia memang sudah memiliki perbedaan, baik secara fisik dan harkatnya maupun keberadaanya. Dengan memahami sejak awal perbedaan yang sudah ada, sebenarnya manusia sudah dapat menerima perbedaan sebagai hal yang lumrah. Apabila perbedaan sejak awalnya sudah dan diterima dengan sebaik-baiknya maka akan semakin tipis kemungkinan terjadinya konflik. Karena begitu banyaknya faktor yang menjadi perbedaan manusia secara alami, maka wajar jika diantara banyak orang akan terjadi perbedaan pandangan. Prihandono menuliskan bahwa seringkali dalam kehidupan sehari-hari seseorang bertemu dan berhadapan dengan berbagai macam karakter dan tabiat orang yang berbeda-beda. Tanpa sadar mereka sering mengeluh atau bahkan dipersepsikan AosulitAo oleh orang lain. Ada apa sebenarnya?32 Tetapi hal baiknya adalah memahami dan mengelola perbedaan manusia tidaklah terlalu sulit apabila kita memahami seni memimpin komunikasi yang tepat. Dalam penelitian yang dilakukan oleh OsAogood sebagimana dikutip oleh Prihandon33 mengungkapkan bahwa manusia cenderung lebih banyak bicara bahasa judgemental dari pada bahasa deskriptif, yaitu memandang orang lain baik atau buruk dari kacamata dirinya, dan bukan secara apa adanya atau konkret diskriptif. Bahasa judgemental dapat menggiring seseorang menjadi AoprejudiceAo . terhadap orang lain jika tidak mampu mengendalikan diri sendiri. Hal inilah yang yang sering kali menyebabkan konflik dalam interaksi sosial. Aspek lain dalam mengelola perbedaan manusia adalah mengetahui arsitektur walaupun seseorang tidak perlu harus menjadi ahli psikologi untuk memahaminya. Yang kedua, pendekatan apresiasi, yaitu suatu energi dinamis yang melibatkan pikiran seseorang, oleh karena seseorang memilih apa yang dia pikirkan maka seseorang tersebut dapat memilih pikiran yang memberi apresiasi terhadap seseorang dan bukan pikiran yang merendahkan. 34 Tindakan mengapresiasi secara proaktif akan mengubah rasa syukur dari ungkapan perasaan setelah sesuatu dilakukan menjadi penggunaan energi secara sengaja sebelum sesuatu dilakukan. Inilah energi penghargaan35 yakni: . Kekuatan 30 Ibid. 31 Kepemimpinan Kristiani, 3rd ed. (Jakarta: Sekolah Tinggi Theologia Jakarta, 2. , 180. 32 Doni Prihandono. On Becoming Effective Leader (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2. , 55Ae 33 Prihandono. On Becoming Effective Leader. 34 Noele and Jeannine. The Power of Appreciation (Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2. , 3Ae4. 35 Noele and Jeannine. The Power of Appreciation. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 75 penghargaan yang digunakan untuk mengubah respons tubuh terhadap stress, dan untuk mendorong kesehatan yang baik, sistem kekebalan meningkat, energi yang lebih baik dan penyembuhan yang lebih cepat. Memperbaiki hubungan dan meningkatkan cinta kasih serta untuk mengurangi konflik dan mendorong kerja sama. Mengembangkan harga diri dan keyakinan diri untuk menghadapi perubahan atau krisis sehingga menjadi lebih baik. Menarik hubungan-hubungan baru kedalam hidup kita. Penghargaan yang digunakan secara sengaja, bertujuan dan proaktif dapat mengubah hampir setiap pengalaman tak peduli betapa sulitnya . alam hal ini termasuk konfli. menjadi pengalaman bernilai dan patut disyukuri. Apresisasi akan mendorong seseorang untuk mengalahkan tindakan mengkritik kekurangan orang lain. Karena kritiklah yang banyak memicu konflik dalam hubungan ketika kritik menyoroti kekurangan orang lain secara personal dengan mengabaikan kelebihannya dengan pandangan yang seimbang. Yang ketiga, pendekatan ekspresi persuasif, istilah persuasif berasal dari kata dalam bahasa Latin AuPersuasioAy yang berarti membujuk, mengajak dan merayu. Persuasif adalah kegiatan psikologis yang bertujuan untuk menumbuhkan nilai kesadaran, kerelaan disertai perasaan senang. 36 Persuasif adalah proses komunikasi yang mengajak atau membujuk orang lain dengan tujuan mengubah sikap, keyakinan dan pendapat sesuai keinginan komunikator tanpa unsur ancaman/ paksaan. Tetapi hal yang sederhana yang bisa dimengerti adalah persuasi yang sejati dapat membawa orang lain ke tempat yang mereka inginkan. 37 Dengan pendekatan persuasi, wajah kita akan mengekspresikan bahwa kita peduli, dan mau tahu tentang orang lain. Seringkali konflik terjadi ketika orang lain berbicara, melakukan sesuatu dan mengekspresikan sesuatu, namun wajah dan mimik lawa bicaranya tidak mewakili Ekspresi yang persuasi akan membuat orang merasa dihargai lewat mimik wajah dan bahasa tubuh. Terkadang tanpa bicara tetapi dengan bahasa tubuh saja sudah bisa menunjukkan rasa peduli dengan orang lain, atau bisa juga lewat senyuman, dengan tepukan, pelukan atau dengan tatapan mata. Sebaliknya seseorang juga bisa memprovokasi konflik dengan bahasa tubuh tanpa kata-kata sekalipun. Yang keempat, pendekatan pikiran positif. Seligman mengungkapkan bahwa berpikir positif adalah kecenderungan menafsirkan konflik sebagai hal yang sementara, terkendali, dan hanya khusus untuk satu situasi, sebaliknya orang yang berpikir negatif meyakini jika permasalahannya berlangsung selamanya, menghancurkan segala yang mereka lakukan dan tidak terkendali. Dengan berpikir positif, individu akan mudah menyelesaikan beragam masalah dan tugas yang dihadapi, serta memberikan sugesti positif pada diri ketika mengalami kegagalan dan dapat membangkitkan motivasi. Mc. Ginnis38 menuliskan bahwa jika seseorang memikirkan yang terbaik dari orang lain maka mereka akan melakukan segala sesuatu untuk memenuhi pengharapan itu. Pemikiran bahwa mereka bukan orang jahat tetapi 36 Fatma Laili Khoirun Nida. AuPersuasi Dalam Media Komunikasi Massa,Ay Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam AoAT-TABSYIR 2, no. : 77Ae95. 37 William. AuSharpening Your People SkillAy . ): 154. 38 Alan Loy McGinnis. Bersikap Positif Terhadap Orang Lain (Jakarta: Metanoia, 1. , 171. 76 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. penyebabnya hanya karena situasi yang buruk, dapat melakukan keajaiban dalam hubungan seseorang dengan orang lain. Jadi setiap kali berurusan dengan orang yang mengajak konflik maka dengan pendekatan pikiran positif, akan dapat memperhatikan sisi baik dari orang tersebut sehingga dalam situasi yang meledak-ledak tidak akan cenderung dipengaruhi oleh sikap emosional. Ketika seseorang gagal menguasai pikirannya dalam menggunakan visualisasi, maka dalam proses analisis orang tersebut akan cenderung berpikir negatif dari pada positif. 39 Jadi ketika menguasai pikiran dengan pikiran positif dan memvisualisakan dengan benar maka setiap kali seseorang tersebut akan memiliki pikiran yang positif dalam meresponi segala sesuatu termasuk konflik dan mengambil tindakan yang positif juga dalam menjaga hubungan dengan orang lain. Berpikir positif juga dapat dideskripsikan sebagai suatu cara berpikir yang lebih menekankan perspektif dan emosi yang positif, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun situasi yang dihadapi. Respon Positif terhadap Konflik Memiliki perspektif respon positif terhadap konflik adalah hal yang sulit sebab membutuhkan kesadaran akan pentingnya sikap dan respon yang positif. Tetapi dalam menerapkan sikap dan respon positif dalam kehidupan sehari-hari dapat dimulai dengan menguatkan diri dengan mempercayai bahwa dengan iman selalu ada perubahan kearah yang lebih baik. Selain itu, juga memberi ruang kepada diri sendiri agar siap menerima kritik, siap menghadapi konflik akibat perbedaan yang ada, bersedia menerima saran dan berani menghadapi tantangan yang muncul dari berbagai sisi dan memiliki keyakinan untuk mengubahnya menjadi semangat positif. Selanjutnya individu juga dapat belajar dari pengalaman dan fokus ke masa depan, dan bersyukur kepada Tuhan terhadap segala sesuatu yang telah dimiliki. Jadi respon positif atas konflik sangat dibutuhkan ketika konflik terjadi. Hal ini untuk menolong tetap terjaganya hubungan yang ada. Responlah yang akan menentukan kekuatan untuk membangun hubungan yang tetap terjaga dengan baik dengan orang lain. Itu sebabnya perlu belajar dari pedoman dalam berespon yang mungkin membantu selama terjadi konflik dan pertengkaran seperti yang ditulis Lawson dalam bukunya tentang konflik,40 yakni: . Jika sedang terlibat pertengkaran, jernihkan pikiran agar tenang dalam segala situasi. Jangan sampai merespons dengan ejekan dan tuduhan. Jangan terburu-buru memberi respons. Bersabarlah, dengarkan pembicaraan orang sampai selesai, dan fokus pada topiknya. Selama konflik, akan lebih penting memperlihatakan kesan didengarkan. Berikan perhatian khusus pada semua yang sedang diucapkan. Berbicaralah perlahan, dan berusahalah ajukan pertanyaan yang akan membawa respon yang rasional. Ingatlah bahwa perasaan tidak hanya bisa naik, tetapi juga bisa berbahaya. Setidaknya perasaan sama pentingnya dengan masalah itu sendiri dimana perasaan yang benar-benar dihargai, diakui dan diterima. Jadi, ajukan pertanyaan mengenai perasaan pada saat yang tepat. Berusahalah untuk mengerti 39 Napoleon Hill. Keys to Positive Thinking (Jakarta: Bhuana Ilmu Populer, 2. , 67. 40 Lawson. Conflik. Mencabut Akar & Menyelesaikan Konflik. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 77 sudut pandang orang lain. Jangan berusaha untuk memperberat masalah, usahakan mengurangi tekanan yang menyebabkan pihak lain tambah marah dengan cara menawarkan penjelasan yang masuk akal bagi kedua belah pihak. Ketahuilah apa yang membuat seseorang marah dan lakukan cara-cara untuk meredam kemarahan itu. Haruskah respon kemarahan dipicu tiba-tiba oleh pertengkaran yang terjadi. Dalam perkelahian, bulu-bulu kucing berdiri dan cakarnya terpancang. Seseorang mungkin memanas-manasi, tetapi manusia adalah mahluk rasional, yang perlu menenangkan diri dan berdoa kepada Allah serta mengingat siapa diri sendiri dan Allah. Perspektif Alkitabiah terhadap Konflik Sebagai orang Kristen adalah hal yang wajar bersikap benar dalam meresponi konflik. Karena Alkitab dengan jelas mengajar setiap umat-Nya untuk menghadapi konflik dan persoalan dengan memandangnya sebagai jalan untuk mendewasakan pertumbuhan rohani untuk menjadi serupa dengan Yesus. Dalam Alkitab sudah dituliskan dengan sangat jelas dari Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru bagaimana para tokoh-tokoh Alkitab begitu sarat dengan konflik dalam zaman dimana mereka hidup. Dan konflik itu seperti menjadi bagian yang tak pernah lepas dari sejarah perjalanan hidup mereka. Ada beberapa kisah yang menunjukkan kisah konflik dalam Alkitab sebagai wacana singkat untuk dapat menerima konflik sebagai bagian dari proses kehidupan manusia dari sepanjang sejarah manusia dalam Alkitab. Berikut beberapa fakta tentang konflik yang ditulis dalam Alkitab sebagai contoh bahwa tidak ada kekebalan terhadap konflik itu sendiri. Konflik akan dialami oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. Persoalan terpenting adalah bagaimana respon seseorang menghadapi konflik tersebut. Berikut beberapa fakta tentang konflik dalam Perjanjian Lama: . Kejadian 4:6-8. Konflik Kain dengan Habel yang mengakibatkan terjadinya peristiwa pembunuhan pertama kali di muka bumi dikarenakan kecemburuan rohani akan sikap ibadah atau penyembahan yang tidak diterima atau dikenan oleh Allah. Suatu konflik bahkan bisa terjadi dalam lingkup paling rohani sekalipun seperti peristiwa ini ketika seseorang sedang beribadah, melayani di gereja atau sedang menyembah Allah. Kejadian 26:20. Pertengkaran antara gembala Ishak dengan gembala Gerar karena memperebutkan Sumur. Ini menunjukkan perihal konflik dengan sesama. Kejadian 31:36. Yakub bertengkar dengan pamannya Laban dikarenakan adanya intervensi Laban yang terus menerus dalam kehidupan Yakub. Hal ini juga menunjukkan perihal konflik dengan keluarga hal yang umum terjadi bahkan sampai keluarga yang hidup di masa sekarang. Bilangan 20:3. Bangsa Israel bertengkar dengan Musa perihal air untuk di minum. Hal ini menunjukkan kita perihal konflik dengan otoritas juga umum bisa terjadi dimanapun atau pada sekarang. 2 Samuel 15. Konflik Daud dengan anaknya Absalom berakhir dengan perebutan kekuasaan yang mengakibatkan terbunuhnya Absalom. Konflik ini menunjukkan kepada kita tentang konflik anak dengan bapak dan juga konflik kekuasaan. Beberapa konflik yang ditulis dalam kitab Perjanjian Baru: . Markus 9:34. Pertengkaran sesama murid Yesus. Ini menunjukkan adanya konflik bisa disebabkan karena 78 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. adanya sikap kesombongan dan ambisi untuk menjadi terbesar atau terkenal dalam diri 1 Korintus 1:11. Perselisihan di tengah jemaat Korintus yang terjadi karena perbedaan figur kepemimpinan yang diidolakan atau dikagumi. 1 Korintus 8:8,9 . 10:23. Perselisihan karena perbedaan paham akan makanan haram atau halal. Hal ini bisa dikorelasikan dengan konflik dikarenakan konflik etis dan spiritualitas. Galatia 2:11. Perselisihan rasul Paulus dengan rasul Petrus mengenai kompromi terhadap budaya makan dengan orang kafir. Kitab Filemon. Konflik mengenai Filemon dengan hambanya Onesimus, dimana hambanya filemon akhirnya melarikan diri dari rumah majikannya yaitu filemon, tetapi kemudian ditangkap dan dipenjarakan. Beberapa fakta yang dituliskan dalam Alkitab seperti diatas, yang penulis angkat adalah suatu gambaran bahwa konflik bisa datang kapan saja tanpa melihat jabatan, status sosial, kedudukan atau situasi, atau apakah seseorang siap atau tidak siap menerimanya. Dengan demikian adalah penting untuk belajar selalu siap berespon benar dalam menghadapi Oleh karena itu adalah perlu bagi setiap orang Kristen belajar dari pendekatan Alkitab agar bisa dan siap meresponi konflik dengan pendekatan yang benar dan baik. Respon menghadapi Konflik dengan Pendekatan Alkitabiah Pendekatan ini akan mengajar orang percaya untuk mengerti bahwa apa yang dituliskan dalam Alkitab sangat penting untuk dilakukan agar setiap orang Kristen bersikap benar meresponi konflik sesuai dengan pendekatan yang dituliskan dalam Alkitab. Pendekatan-pendekatan apa saja yang Alkitab sudah tuliskan supaya setiap orang Kristen melakukannya? Berikut adalah beberapa bentuk dan sikap menghadapi konflik dengan pendekatan Alkitabiah: Prinsip Pendekatan Kasih Dalam tulisannya Pasaribu41 menuliskan bahwa bagi orang Kristen, banyak petunjuk dan pedoman dalam Firman untuk membendung perbedaan yang berakibat pada konflik. Salah satu senjata ampuh warga Kristen agar tidak terjatuh dalam konflik adalah memanfaatkan kasih dalam setiap perjalanan hidupnya. Kitab 2 Korintus 13:4-7 mengatakan. AoKasih itu sabar. kasih itu murah hati. ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalah orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidak adilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menaggung segala sesuatu. Ay Secara nyata disebutkan, kasih itu memiliki banyak unsur kuat untuk meredam konflik. Penyebab konflik yang paling awal dapat dicegah dengan meresponinya dengan senjata kasih. Karena dinyatakan dengan tegas betapa kasih mampu menjalin hubungan sesama umat Tuhan sebagai jalinan yang sangat kuat asalkan mereka saling menghargai diantara sesamanya. Faktor-faktor peredam konflik sebenarnya bisa ditumbuh kembangkan 41 Kepemimpinan Kristiani. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 79 oleh manusia Kristen secara berkelanjutan dengan hasil luar biasa apabila keakuan mereka dibelakangkan dan nuansa kebersamaan didahulukan. Pemberlakukan kasih sebagaimana mestinya harus dicontohkan dalam perbagai pertemuan dalam setiap persekutuan orang Kirsten. Karena pada dasarnya, kasih itu selalu mampu memenangkan persaingan antara berbuat baik dan berbuat tidak baik. Kasih dengan implementasi iman kepada Yesus Kristus adalah pemenang serta pelaku setia, sehingga setiap orang beriman kepada Kristus selalu diajak dan didorong agar tetap setia pada Kasih Kristus. Kebenaran yang harus dipahami adalah setiap langkah seseorang yang berlandaskan kasih akan membawa sukacita bagi dirinya dan juga bagi orang lain. Hal itulah paling sesuai untuk peredam konflik. Memang bagi umat Kristen langkah pencegahan konflik selalu utama dan lebih bermakna daripada Pencegahan konflik atau untuk meredam gejala konflik umat Kristen harus mendahulukan kasih dalam segala tindakan dan perbuatan. Mengasihi sesama seperti diri sendiri (Mat. 42 Itu berarti ketika di setiap kesempatan bila terjadi konflik maka orang percaya harus mengasihi mereka seperti diri sendiri. Dengan arti adalah benar bila seseorang memiliki kesadaran bahwa dia tidak akan melukai dirinya sendiri maka orang tersebut juga akan bisa meresponi orang lain dengan benar. Bahkan kita juga diajarkan untuk hidup dalam pendekatan kasih persaudaraan (Band. Ibr. 43 Artinya kita akan menjaga hubungan kita tetap tidak terputus sekalipun ada konflik karena kita bersaudara dalam Tuhan. Itu merupakan tindakan kasih yang telah diteladan Yesus Kristus. Prinsip Pengampunan secara Totalitas Alkitab mengajarkan untuk tidak membalas, tetapi mengampuni Ae tidak membalas menampar pipi. Prinsip ini mengajar setiap orang percaya untuk rendah hati dan mau mengalah (Mat. 45 Prinsip ini akan selalu membuat seseorang akan sadar bahwa konflik bisa terjadi kapanpun tetapi orang itu akan memilih untuk tidak membalas tetapi dengan rendah hati mau mengalah dan mengampuni sama seperti teladan Kristus yang mengampuni orang-orang yang menyalibkan Dia. Hal yang bisa dilakukan dengan benar adalah menyadari sebuah prinsip bahwa mustahil bisa mengatur respon orang lain atau bisa melarang orang lain untuk kecewa dan marah, tetapi yang bisa dilakukan adalah menjaga perasaan untuk tidak kecewa dan marah juga kepada mereka. Karena berbicara pengampunan adalah berbicara pilihan dan keputusan masing-masing orang. Jadi masing-masing orang bisa memilih dan memutuskan untuk mengampuni orang lain atau sebaliknya. Paulus mengajarkan orang percaya untuk mencari perdamaian (Roma 12:. 46 Jadi semua berpulang kepada diri orang percaya apakah mau mengampuni atau tidak. Jika orang percaya tidak mengampuni maka mereka sedang menganggap sepi kemurahan Allah yang telah 42 Alkitab Terjemahan Baru. 43 Ibid. 44 Edi Sugianto. AuKajian Eksegesis Terhadap Kata AoMengosongkan Diri (Ekenose. Ao Dalam Filipi 2:7 Dan Aplikasinya Bagi Orang PercayaAy (STT Tabernakel Indonesia. Surabaya, 2. 45 Alkitab Terjemahan Baru. 46 Ibid. 80 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Itu artinya juga tidak akan menrima pengampunan dari Allah (Mat. 18:2. 47 Dalam kisah Filemon dengan Onesimus, pembantunya bisa dilihat bagaimana pengampunan dinyatakan sebagai tindakan solusi konflik. Dalam suratnya. Paulus menasihati Filemon agar mengurus persoalan khusus tentang hambanya Onesimus yang melarikan diri . ungkin dengan membawa harta milik tuanny. dengan kasih. 48 Menurut hukum Roma, hamba yang melarikan diri dari tuannya bisa menerima hukuman mati. Sejarah Alkitab menunjukkan bahwa Filemon melepaskan pengampunan kepada hambanya Onesimus dan menerima dia kembali dengan kasih. Prinsip tidak Menghakimi Konflik seringkali muncul ketika ada penghakiman yang tidak beralasan. Setiap orang perlu belajar untuk menganalisa keadaan dan menggunakan kata-kata yang tepat sehingga tidak mengakibatkan konflik yang berujung pada keterlukaan atau bahkan perpecahan dalam Tuhan Yesus pernah menyampaikan dalam firman-Nya bahwa orang seringkali bisa melihat selumbar dimata saudaranya tetapi balok di matanya sendiri tidak bisa dilihat (Mat. 7:1-. 50 Itu sebabnya Tuhan mau setiap orang Kristen terlebih dahulu untuk mengeluarkan balok di matanya sendiri sebelum mengeluarkan selumbar dimata saudaranya. Ini artinya bahwa penghakiman seringkali membuat seseorang lupa bahwa dirinya sendiri juga memiliki begitu banyak kekurangan dan kelemahan. Bila semua orang mengerti dan sadar hal ini maka ada kemungkinan semua orang tidak akan mudah menghakimi orang lain. Karena hanya Tuhanlah yang mempunyai hak untuk menghakimi setiap orang. Siapakah manusia, karena semua orang juga hanya debu tanah seperti saudara seiman lainnya. Dialah Allah pencipta yang berhak untuk menghakimi setiap orang. Prinsip Penyerahan Hak Tuhan Yesus memberi teladan penting tentang jiwa kehambaan. Ia mengajak semua umatNya untuk belajar bagaimana menjadi lemah lembut dan rendah hati (Mat. 11:28-. Dengan pengertian bahwa dalam kitab Matius ini Yesus mengajak orang percaya untuk mau dibentuk oleh situasi, tekanan, keadaan dan orang lain dengan respon kehambaan sama seperti Yesus yang mau menanggalkan status keAllahan dan rela menjadi manusia (Fil. ,52 dengan tidak mempertahankan hak-Nya dan taat sampai mati di kayu salib untuk kita. Teladan kehambaan Kristus inilah yang seharusnya ada dalam diri setiap orang Kristen yang mengatakan mereka adalah pengikut Kristus. 53 Karena hamba dalam pengertian sebenarnya 47 Ibid. 48 Alkitab Penuntun Hidup Berkelimphan (Malang: Gandum Mas, 2. , 2048Ae2050. 49 Alkitab Penuntun Hidup Berkelimphan. 50 Alkitab Terjemahan Baru. 51 Ibid. 52 Ibid. 53 Sugianto. AuKajian Eksegesis Terhadap Kata AoMengosongkan Diri (Ekenose. Ao Dalam Filipi 2:7 Dan Aplikasinya Bagi Orang Percaya. Ay Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 81 adalah keset54 artinya bersedia diinjak-injak orang lain. Diinjak secara harga diri, perasaan dan Dengan memahami prinsip ini maka setiap orang harus sadar bahwa dirinya tidak punya hak apapun untuk membalas, hak untuk marah dan kecewa, karena kebenaran Tuhan dalam firman-Nya mengatakan bahwa seorang hamba tidak mempunyai hak sama sekali dalam menjalani kehidupannya. Dalam peristiwa konflik Paulus dengan Petrus dapat ditemukan bahwa sekalipun Petrus ditegur oleh Paulus karena kompromi terhadap adat kafir. Karena menurut adatnya, orang Kristen Yahudi tidak boleh makan dengan orang Kristen yang bukan Yahudi dan juga tidak bisa mengikuti kebiasaan dan peraturan makannya secara etika adat yang ada. Walaupun Petrus tahu bahwa Allah menerima orang Percaya yang bukan Yahudi tanpa sikap memihak (Kisah Rasul 10:35-. Petrus sendiri menyangkal keyakinan tersebut sendiri karena adanya rasa takut akan kecaman dan kemungkinan kehilangan kekuasaan di gereja Yerusaem. Alkitab menunjukkan bahwa Petrus menyadari kesalahannya dan tidak berbalik menyerang Paulus. 55 Ia memilih respon yang benar sebagai hamba dan tidak membalas. Ia menerima teguran Paulus dengan rendah hati dan sikap menyesal. Kemudian hari ia menyebut Paulus sebagai Aosaudara yang kekasih. Ao . Ptr. Prinsip Menjadi Pendengar Setia Dalam Alkitab (Baca Yak. 1:19-. 56 dengan jelas mengajarkan kita untuk lambat berkata-kata tetapi cepat mendengar. Karena cara kita mendengar sangat menentukan respon Respon untuk marah sangat dipengaruhi dari kekuatan kita untuk mendengar. Semakin cepat seseorang berkata-kata akan membuatnya seringkali kurang bijak mengambil sikap dalam keadaan terdesak. Manurung dan Panjaitan menyatakan bahwa sebagai pemimpin perlu mau mendengar agar dapat melayani dengan baik. 57 Kitab Amsal juga dengan bijak mengajari orang Kristen bahwa dalam banyak perkataan terdapat banyak pelanggaran. Diehm menuliskan bahwa banyak kesulitan atau konflik berasal dari mereka yang tidak mau 58 Mereka tidak mendengarkan dan karena itu mereka harus menaggung Mendengar secara efektif merupakan suatu ketrampilan yang menkjubkan dan dapat mengubah kehidupan setiap orang yang mendengarkan ataupun orang yang cukup beruntung untuk didengar. Demikian juga seringkali orang percaya ingin tahu mengapa Allah tidak mau berkata-kata lebih banyak mengenai kehidupan dan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan umatNya. Barangkali Allah sendiri ingin tahu mengapa orang Kristen saja tidak mendengarkan begitu banyak pesan yang disampaikan-Nya padahal hal tersebut untuk 54 Buku Excellent Servant Camp (Jakarta: Bless Indonesia Partnership, n. 55 Alkitab Penuntun Hidup Yang Berkelimpahan (Malang: Gandum Mas, 2. , 1946. 56 Alkitab Terjemahan Baru. 57 Pandir Manurung and Yuni Karlina Panjaitan. AuPemimpin Yang Melayani Dalam Konteks Pastoral,Ay Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 1, no. : 104Ae115, https://journal. id/skenoo/article/view/10/10. 58 William J. Diehm. Sharpening Your People Skills (Jakarta: Metanoia, 2. , 129Ae130. 82 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. kebaikannya sendiri. Allah berkata,AyMempunyai telinga untuk mendengar, tetapi tidak Ay (Yehz. Umumnya rata-rata orang mendengarkan dengan menyela. Hal tersebut disebabkan karena ia memiliki gagasan sewaktu orang lain sedang berbicara. Begitu ia menemukan kesempatan saat orang lain menarik nafas, ia segera menyela dengan gagasannya, itu adalah ciri orang egois. 60 Hal inilah yang banyak menciptakan konflik dalam hubungan dengan orang William menuliskan adanya beberapa keuntungan dari mendengarkan dengan baik, sebab akan menjaga tetap selamat karena terhindar dari kejatuhan dalam bencana, dapat menghindari kesalahan-kesalahan di masa lampau, dan seabgai terapi yang baik untuk menyelasikan masalah dan konflik karena hanya berbicara tidaklah cukup, serta meningkatkan pembelajaran karena pendengar yang baik belajar lebih banyak dan karenanya melakukan lebih cepat daripada pendengar yang buruk. Menurut riset di Amerika Serikat, dalam berbagai situasi kerja, dimana seharusnya ada komitmen yang tinggi untuk mendengar, rata-rata kemampuan mendengar hanya 25% dari yang seharusnya. Hal ini menyatakan secara tak langsung bahwa A apa yang didengar, atau kita rasa kita dengar, diabaikan, dilupakan, diputarbalikkan, atau benar-benar disalah 61 Tak heran kekuatan seseorang mendengar akan sangat mempengaruhi terjadi tidaknya konflik antar dirinya dengan orang lain. Prinsip AoJangan Tunggu sampai Matahari TerbenamAo Firman Tuhan juga mengajarkan orang Kristen untuk segera membereskan konflik yang terjadi tanpa menunggu lama-lama. Ketika ada konflik maka adalah tanggung jawab setiap orang untuk menyelesaikannya dengan segera. Karena dalam kitab Matius dituliskan jika konflik ini tidak segera dibereskan akan sangat mempengaruhi persekutuan dengan Tuhan dan perkenanan Tuhan atas ibadahnya. 62 Dan hal itu juga bisa memberi kesempatan kepada iblis untuk bekerja dalam hidup kita. 63 Itu sebabnya sebagai orang Kristen, menyimpan konflik dan menyembunyikannya tanpa menyelesaikannya bukanlah kehendak Allah. Agar supaya kasih Allah tetap dinyatakan kepada kita dan kita juga tetap bisa jadi kesaksian bagi banyak orang. Pendekatan Teladan Respon Yesus Menghadapi Konflik Yesus sebagai Allah yang mengambil rupa manusia juga tak luput dari konflik selama ia hidup di dunia pada masa Alkitab. Tetapi kita dapat menemukan bahwa Yesus memiliki respon yang benar sekalipun ia berada dalam situasi konflik. Itu sebabnya sebagai orang 59 Alkitab Terjemahan Baru. 60 Diehm. Sharpening Your People Skills. 61 Lawson. Conflik. Mencabut Akar & Menyelesaikan Konflik. 62 Lembaga Alkitab Indoensia. AuMatius 5:23-24,Ay in Alkitab. Terjemahan. (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, n. Matius 5:23-24. 63 Lembaga Alkitab Indonesia. AuEfesus 4:27,Ay in Alkitab. Terjemahan. (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, n. Efesus 4:27. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 83 Kristen adalah sewajarnya kita belajar melalui respon Yesus dalam situasi konflik yang dihadapi-Nya. 64 Michael dalam bukunya menuliskan beberapa respon Yesus dalam situasi konflik,65 seperti yang tertulis dibawah ini: . Yesus adalah pendengar yang hebat yang tidak hanya memahami kata-kata, tetapi juga pikiran yang sedang diekspresikan dalam kata-kata Pertemuannya dengan Nikodemus (Yoh. 3:1-. adalah contoh yang bagus tentang membaca yang tersirat dan melihat pertanyaan yang akan diajukan. Yesus tidak takut dengan kemarahan, tetapi kemarahan-Nya selalu terkendali dan seimbang dengan masalah yang dihadapi. Yesus marah, tetapi tidak pernah menggerutu, meledak dengan tiba-tiba atau marah yang meluap-luap. Yesus tidak mundur dari situasi konflik. Dia menyambut konflik sebagai suatu kesempatan untuk mengajarkan kebenaran. Yesus memperluas keadilan yang tercantum dalam hukum (Aomata ganti mata, gigi ganti gig. dengan perintahnya untuk memberikan pipi yang lain (Mat. 5:38-. Prinsip keadilan banyak disalahartikan sebagai hukum balas dendam. Yesus melarang balas dendam. Prioritas dan kehendak Tuhan adalah Pengampunan. Yesus mendapati dirinya marah beberapa kali kepada murid-muridnya, karena kelambatan mereka untuk belajar dan memiliki Aoiman yang kecilAo. Tetapi Dia selalu sabar terhadap mereka. Dia belajar untuk menerima kelemahan Dan menerima ketidaksabaran Petrus dan murid lainnya. Saat seseorang memutuskan menerima orang lain dan tidak marah dengan kegagalannya, maka ia mempunyai waktu untuk melihat dan menghargai nilai kepribadian dan kekuatan mereka. Yesus menarik diri dari keramaian ketika konflik berkembang. Ini dapat disimpulkan bahwa Dia sensitif terhadap mereka yang menjadi marah dan tidak bisa diajak berdiskusi secara . Yesus Aodihina dan dihindariAo (Yes. , tetapi pukulan spiritual, emosional, dan fisik yang Dia terima tidak pernah mengelakkan-Nya dari seluruh tugasnya dan semua konflik yang melibatkan-Nya. Ketika tiba saatnya Yesus menderita. Dia tidak menghindari rasa sakit itu. Yesus seperti anak domba yang berdiam diri ketika dibawa ke pembantaian (Yes. Tidak ada seorangpun dalam sejarah manusia pernah menghadapi masa yang penuh konflik terus menerus selain Yesus Kristus. Hal yang begitu mengesankan adalah kualitas kedamaian dan kestabilan yang muncul dan bersinar melalui lembaran Alkitab sambil kita memperhatikan Yesus bergerak dari satu situasi konflik ke situasi konflik lainnya. Yesus mendengar dengan tekun dan serius pada seorang wanita di sumur. Dia tidak gentar menghadapi penilaian dan ajaran yang salah dari orang Farisi. Dia dengan sabar menghadapi kelemahan para murid-muridNya, menerima dengan kasih. Dan bahkan dengan Yudas. Yesus mengontrol responNya, menerima dengan tenang apa yang harus dilakukan. Paulus menggunakan Yesus sebagai model dari contoh sikap manusia, dan menuntut perubahan yang mereflesikan kualitas Yesus yang kita percayai. Perubahan-perubahan itu sangat 64 Sugianto. AuKajian Eksegesis Terhadap Kata AoMengosongkan Diri (Ekenose. Ao Dalam Filipi 2:7 Dan Aplikasinya Bagi Orang Percaya. Ay 65 Lawson. Conflik. Mencabut Akar & Menyelesaikan Konflik. 84 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. berhubungan dengan cara Paulus menasihati banyak orang dalam pelayanannya untuk mengatasi konflik (Fil. 2:1-. Aplikasi Bagi GBI House of Grace Dengan semua uraian penelitian diatas, ada harapan besar yang bertumbuh komitmen di GBI House of Grace untuk terus mengikuti teladan Yesus dalam menyelesaikan dan menangani konflik yang ada. Prinsip-prinsip diatas sangat menolong dalam pelayanan dan kepemimpinan yang ada di gereja GBI House of Grace. Karena di masa lalu akibat kurangnya pemahaman akan penanganan konflik yang alkitabiah telah mengakibatkan cara dan respon yang salah dalam menyikapi atau menangani konflik ada sehingga mengakibatkan beberapa jemaat dan pelayan Tuhan kepahitan dan kecewa sehingga pindah gereja, mundur dari pelayanan atau tidak aktif lagi melayani. Konflik terbesar yang ada didapati juga terjadi diantara hamba Tuhan dan pelayan Tuhan dalam dinamika pelayanan antar departemen dan juga internal departemen pelayanan. Konflik pelayanan antar pelayan Tuhan antar departemen tidak luput terjadi, dimana ada ada 5 Departemen yang ada : 1. Departemen Pastoral, 2. Departemen Ibadah, 3. Departemen Profetik, 4. Departemen Edukasi dan 5. Departemen Misi. Sebagai hamba Tuhan perlu memiliki prinsip pemikiran yang berdasar pada Alkitab. Hal penting dan baik yang dipelajari dari penelitian ini maka semua pemimpin gereja dalam bidang pelayanan yang ada, akan memiliki pemahaman dan implementasi yang berlandaskan firman bila menangani konflik yang ada, termasuk bila terjadi di tengah jemaat yang ada. Dengan adanya penelitian ini maka beban dan tanggung jawab untuk mengantisipasi konflik atau menangani konflik tidak lagi hanya bisa dilayani atau ditangani oleh gembala, pemimpin departemen atau kordinator bidang tetapi semua pelayan bahkan jemaat yang mempelajari prinsip ini akan bisa tertolong untuk mengalami pemulihan dalam hubungan yang rusak akibat konflik. Harapan besar bila aplikasi ini dilaksanakan dengan maksimal dan konsisten maka jemaat yang pindah karena konflik, keluarga yang berkonflik bisa didamaikan, pelayan Tuhan yang pindah akibat konflik dengan pelayan atau pemimpin akan berkurang atau tidak ada sama sekali. KESIMPULAN Dari semua uraian tulisan di atas maka kesimpulan yang dapat penulis angkat adalah: Pertama. Konflik adalah suatu realitas dalam kehidupan, hal yang wajar dan merupakan situasi yang tidak dapat dihindari oleh siapapun termasuk orang Kristen. Kedua. Konflik pada umumnya dipicu oleh beberapa faktor tetapi dalam realitas konflik, faktor yang paling dominan adalah perbedaan personalita atau temperamen dan komunikasi yang tidak berjalan Ketiga. Konflik tidak dapat terselesaikan jika tidak memiliki kemampuan untuk 66 Sugianto. AuKajian Eksegesis Terhadap Kata AoMengosongkan Diri (Ekenose. Ao Dalam Filipi 2:7 Dan Aplikasinya Bagi Orang Percaya. Ay 67 Areyne Christi et al. AuPrinsip Sola Scriptura Dalam Berpikir Sebagai Leader,Ay Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. : 103Ae116. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 85 bersikap dalam menghadapi konflik. Keempat, dalam menyelesaikan konflik, perspektif yang perlu dimiliki sebagai pendekatan solusi adalah dengan Pendekatan Alkitabiah. Dengan demikian, penelitian ini dapat diaplikasikan untuk pelayanan di GBI House of Grace Jagir Surabaya dengan memiliki respon secara Alkitabiah dalam menghadapi konflik. Sebagai orang Kristen, harus bijaksana dan memiliki perspektif yang benar tentang konflik sehingga dapat menyelesaikan konflik dengan baik. Selain itu, para hamba Tuhan di GBI House of Grace Jagir Surabaya diharapkan untuk tidak takut terhadap konflik yang ada di tengahtengah jemaat karena hal itu merupakan alamiah. Hal yang harus dipersiapkan adalah bagaimana menghadapi konflik dengan respon yang bijak berdasarkan Alkitabiah. Daftar Pustaka