Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit. Daging Buah Dan Biji Terong Belanda (Solanum Betaceum Cav. ) Dengan Metode Dpph . ,2- Difenil-1-Pikrilhidrazi. | Herdini et al. UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL KULIT, DAGING BUAH DAN BIJI TERONG BELANDA (Solanum betaceum Cav. ) DENGAN METODE DPPH . ,2- DIFENIL-1PIKRILHIDRAZIL) Herdini1*. Tiah Rachmatiah1. Temmy Khairunissa1 Institut Sains dan Teknologi Nasional. Jl. Moch. Kahfi II No. Jagakarsa. DKI Jakarta 12630 E-mail : herdinias69@istn. ABSTRAK Paparan radikal bebas akibat pola hidup modern dapat memicu kerusakan sel dan berbagai penyakit degeneratif, sehingga diperlukan sumber antioksidan alami yang aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kandungan senyawa metabolit sekunder dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol kulit, daging buah, dan biji terong belanda (Solanum betaceum Cav. Ekstrak dibuat secara maserasi dalam etanol 96% dan dilakukan skrining fitokimia. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH secara spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Hasil penelitian menunjukkan adanya flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid, dan steroid pada ekstrak dan serbuk kulit, daging buah dan biji terong Aktivitas antioksidan ekstrak kulit terong belanda termasuk dalam kategori sedang dengan nilai IC 50 sebesar 197,78 ppm, sementara itu ekstrak daging buah dan biji menunjukkan aktivitas antioksidan dalam kategori lemah dengan nilai ICCICA sebesar 267,17 ppm dan biji dengan nilai ICCICA sebesar 315,27 ppm. Kata Kunci: Antioksidan. DPPH. IC50. Terong belanda Antioxidant Activity Test of Ethanol Extracts from the Peel. Pulp, and Seeds of Tamarillo (Solanum betaceum Cav. ) Using the DPPH . ,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazy. Method ABSTRACT Exposure to free radicals resulting from modern lifestyles can trigger cellular damage and various degenerative diseases, thereby necessitating safe natural antioxidant sources. This study aimed to examine the secondary metabolite content and antioxidant activity of ethanol extracts from the peel, pulp, and seeds of tamarillo (Solanum betaceum Cav. The extracts were prepared by maceration in 96% ethanol followed by phytochemical screening. Antioxidant activity was evaluated using the DPPH method with UV-Vis spectrophotometry at a wavelength of 517 nm. The results revealed the presence of flavonoids, saponins, tannins, triterpenoids, and steroids in both the extracts and powders of tamarillo peel, pulp, and The antioxidant activity of the peel extract was classified as moderate with an ICCICA value of 197. 78 ppm, while the pulp and seed extracts exhibited weak activity with ICCICA values of 267. 17 ppm and 315. 27 ppm, respectively. Keywords: Antioxidant. DPPH. ICCICA. Tamarillo Saintech Farma Vol. 19 No. Januari 2026 | 59 Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit. Daging Buah Dan Biji Terong Belanda (Solanum Betaceum Cav. ) Dengan Metode Dpph . ,2- Difenil-1-Pikrilhidrazi. | Herdini et al. PENDAHULUAN Perubahan pola hidup masyarakat, pola konsumsi yang kurang tepat, serta faktor pertambahan usia turut berperan dalam meningkatkan pembentukan radikal bebas di dalam tubuh. Aktivitas kerja yang padat cenderung mendorong individu untuk mengonsumsi makanan instan dan menerapkan pola makan yang kurang sehat. Pola makan yang tidak seimbang ini dapat menyebabkan akumulasi radikal bebas secara bertahap dalam tubuh. Selain itu, paparan lingkungan yang tercemar serta gaya hidup yang tidak sehat juga berkontribusi dalam merangsang produksi radikal bebas yang berpotensi merusak sel dan jaringan tubuh (Handayani et al. , 2. Radikal bebas adalah suatu atom yang memiliki satu elektron tidak berpasangan dan bersifat reaktif. Radikal bebas sangat berbahaya bagi tubuh manusia karena dapat merusak komponenkomponen sel tubuh seperti lipid, protein, dan DNA. Bila kadar radikal bebas terlalu tinggi karena pengaruh dari luar tubuh seperti polusi udara, asap rokok, dan, aktivitas fisik berat, maka antioksidan dalam tubuh tidak mampu lagi menetralisir sehingga dibutuhkan antioksidan dari luar tubuh (Dewi et al. , 2. Guna melindungi tubuh dari serangan radikal bebas serta juga meredam akibat negatif dari senyawa ini, tubuh membutuhkan Antioksidan adalah senyawa yang dapat melindungi sel dari kerusakan yang disebabkan radikal Antioksidan akan berinteraksi dengan cara menstabilkan radikal bebas sehingga dapat mencegah kerusakan karena radikal bebas yang mungkin dapat terjadi (Hamid et al. , 2. Antioksidan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu antioksidan alami dan antioksidan sintetis. Antioksidan sintetik berasal dari bahan kimia seperti BHA . eta hydroxy aci. , dan TBHQ . ertiary butyl hydroquinon. secara efektif dapat menghambat oksidasi. Antioksidan sintetis bersifat karsinogenik dalam jangka tertentu dapat menyebabkan racun dalam tubuh, sehingga dibutuhkan antioksidan alami yang lebih aman. Antioksidan alami berupa senyawa flavonoid yang merupakan senyawa polifenol yang berasal dari tanaman seperti teh, buahbuahan dan sayuran yang mengandung fitokimia, seperti flavonoid, isoflavin, flavon, vitamin C dan antosianin. (Handito et al. , 2. Antioksidan ini berfungsi melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas. Mekanisme kerja antioksidan secara umum adalah menghambat oksidasi lemak. Mekanisme oksidasi lemak terdiri dari tiga tahap utama, yaitu inisiasi, propagasi, dan Tahap inisiasi terjadi pembentukan radikal asam lemak. Radikal asam lemak pada tahap propagasi, akan bereaksi dengan oksigen membentuk radikal Radikal peroksil lebih lanjut akan menyerang asam lemak menghasilkan hidroperoksida dan radikal asam lemak baru (Mappa et al. , 2. Keberadaan antioksidan alami sangat penting untuk menghambat kerusakan sel akibat radikal bebas, dan salah satu sumber antioksidan alami dapat diperoleh dari sayuran maupun buah-buahan berwarna merah keunguan, seperti terong belanda (Solanum betaceum Cav. Terong belanda memiliki pigmen berwarna merah yang termasuk kelompok flavonoid, yaitu antosianin, yang diketahui bersifat sebagai antioksidan sehingga mampu menangkal radikal bebas dalam tubuh (Tahir et , 2. Buah terong belanda banyak dikonsumsi masyarakat karena bermanfaat bagi kesehatan, seperti meningkatkan metabolisme, imunitas, dan kesegaran Kandungan vitamin, karotenoid, flavonoid, dan seratnya juga berperan penting dalam aktivitas antioksidan (Dewi et al. , 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah terong belanda segar dari Desa Kintamani mengandung senyawa bioaktif berupa flavonoid, terpenoid, steroid, saponin, alkaloid, dan Senyawa flavonoid memiliki potensi besar sebagai antioksidan karena gugus hidroksil yang terikat pada cincin aromatik mampu menangkap radikal bebas hasil peroksidasi lemak (Dewi et al. , 2. Terong belanda (Solanum betaceum Cav. umumnya dikonsumsi dalam bentuk jus, dimana hanya bagian daging buahnya saja yang dimanfaatkan, sedangkan kulit dan bijinya seringkali dibuang sebagai padahal, bagian kulit dan biji tersebut berpotensi mengandung senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas aktivitas antioksidan penting untuk menangkal radikal bebas yang dapat merusak sel tubuh. metode 2,2-difenil-1 pikrilhidrazil (DPPH) dipilih dalam penelitian ini karena menurut Maesaroh et al. , . metode DPPH terbukti paling efektif dan efisien dibandingkan metode Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP) maupun Ferrous Ion Chelating (FIC). ini disebabkan DPPH memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap senyawa antioksidan, proses analisisnya sederhana dan cepat, serta dapat mendeteksi kemampuan senyawa antioksidan dalam mendonorkan atom hidrogen untuk menetralkan radikal bebas. selain itu, nilai IC50 yang dihasilkan dengan metode DPPH lebih akurat dibandingkan metode lain, sementara metode FIC cenderung kurang sensitif dan FRAP dipengaruhi oleh kondisi asam yang dapat menurunkan aktivitas senyawa berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini menggunakan metode DPPH dengan pelarut etanol 96% untuk mengkaji aktivitas antioksidan dari ekstrak kulit, daging buah, dan biji terong belanda, sehingga potensi antioksidan dari seluruh bagian buah dapat dieksplorasi secara optimal. METODOLOGI PENELITIAN Alat Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah timbangan(Ohau. , rak tabung reaksi dan tabung reaksi (Pyre. , pipet tetes, pipet volume, spatel(Labtec. , gelas ukur(Pyre. , beaker glass(Pyre. , labu ukur(Iwak. , serbet, tisu, erlenmeyer(Pyre. , cawan penguap(Pyre. Saintech Farma Vol. 19 No. Januari 2026 | 60 Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit. Daging Buah Dan Biji Terong Belanda (Solanum Betaceum Cav. ) Dengan Metode Dpph . ,2- Difenil-1-Pikrilhidrazi. | Herdini et al. corong(Pyre. , kertas saring, blender(Philip. , botol berwarna hitam. Spektrofotometri UV-Vis(Shimadzu UV-1. Aluminum foil. Rotary evaporator(Buchi R. dan kuvet(Hellma Quart. Bahan Bahan yang digunakan digunakan untuk proses penelitian ini adalah buah terong belanda, etanol 96%, reagen untuk skrining fitokimia diantaranya NH3 25% (Amonia 25%). CHCl3 Klorofom (Triklorometan. HCI (Asam klorid. , n heksan. FeCl3 (Ferrik klorid. NaNO2 (Natrium nitri. AlCl3(Aluminium Klorid. NaOH (Natrium hidroksid. H2SO4(Asam sulfa. CHCECOCCO (Anhidra Aseta. , pereaksi Dragendroff. Mayer. Bouchardat. Bahan uji DPPH yaitu serbuk DPPH (CCACOHCACCNCIOCI), asam askorbat/Vitamin C (CCIHCOOCI) dan etanol p. a (Etanol Pro Analysi. Metode dan Tahapan penelitian Buah terong belanda segar dikumpulkan dipisahkan antara kulit, daging buah dan biji dengan buahnya kemudian dikeringkan lalu dibuat menjadi serbuk. Serbuk kemudian diekstraksi menggunakan metode maserasi selama 5x24 jam dalam pelarut etanol 96% dengan beberapa kali pengadukan. Setelah itu ekstrak disaring dan dipisahkan filtrat dan ampasnya. Kemudian filtrat diuap-pekatkan menggunakan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental. Ekstrak kental kulit, daging buah dan biji terong belanda dilakukan identifikasi metabolit sekunder meliputi uji alkaloid, tanin, saponin, flavonoid dan steroid serta dilakukan uji aktivitas antioksidan metode DPPH dengan pembanding vitamin C. Pembuatan ekstrak Sebanyak A200 g serbuk kulit, daging buah, dan biji dimasukan ke dalam bejana kaca maserasi, lalu ditambahkan pelarut etanol 96% sampai serbuk terendam, ditutup bejana maserasi dengan rapat menggunakan alumunium foil pada bagian tutupnya dan didiamkan selama 3 hari sambil sekali-kali diaduk. Proses ini dilakukan sebanyak 3 x 24 jam, kemudian disaring untuk memisahkan filtrat dan ampasnya. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dalam botol. Setelah proses pertama dilakukan kemudian ampas 1 diremaserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96% selama 2 hari, kemudian disaring dan didapatkan filtrat 2. Dan terakhir dilakukan kembali remaserasi dengan pelarut etanol 96% selama 2 hari. Filtrat yang didapat dikumpulkan selanjutnya dilakukan proses pemekatan dengan rotary evaporator pada suhu 50AC hingga diperoleh ekstrak Ekstrak kental kemudian dihitung persen rendemen, yaitu : Rendemen = ycayceycycayc yceycoycycycycayco ycycaycuyci yccycnycyyceycycuycoyceEa ycayceycycayc ycyceycycaycyco ycycnycoycyycoycnycycnyca x 100% Uji skrining fitokimia Uji Alkaloid Sebanyak 2 g serbuk dan ekstrak ditambahkan 5 mL amoniak 25% di dalam Erlenmeyer lalu ditambahkan 20 mL kloroform hingga masa terendam lalu diaduk. Setelah itu, dipanaskan di atas penangas air lalu disaring. Filtrat diuapkan sampai setengahnya. Sisa penguapan dituang ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 1 mL asam klorida 2N, kemudian dikocok dan dibiarkan hingga membentuk 2 lapisan. Lapisan jernih yang terbentuk dimasukkan ke dalam 3 tabung reaksi . abung I. II, . dengan jumlah yang sama, kemudian ditambahkan pereaksi Mayer pada tabung I, pereaksi Dragendorff pada tabung II, dan pereaksi Bouchardat pada tabung i. Adanya alkaloid ditandai dengan terbentuknya endapan putih pada pereaksi Mayer, endapan merah pada pereaksi Dragendorff, dan endapan coklat hitam pada pereaksi Bouchardat (Rachmatiah & Octaviani, 2. Uji Tanin Sebanyak 1 g serbuk dan ekstrak, dididihkan selama 3 menit dalam 100 mL air suling lalu didinginkan dan Filtrat sebanyak 2 mL di dalam tabung reaksi ditambahkan 1-2 tetes pereaksi besi . klorida 1%. Jika terjadi warna biru kehitaman atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tannin (Rachmatiah & Octaviani. Uji Saponin Sebanyak 0,5g serbuk dan ekstrak dimasukkan ke dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan 10 mL air panas, lalu diaduk dan disaring. Filtrat dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Jika terbentuk busa setinggi 1-10 cm yang stabil dan tidak hilang setelah penambahan HCL 2N berarti positif mengandung saponin (Rachmatiah & Octaviani, 2. Uji Flavonoid Sebanyak 1 g serbuk dan ekstrak dimasukkan ke dalam erlenmeyer lalu ditambahkan air panas 100 mL, diaduk dan disaring,kemudian ke dalam tabung reaksi dimasukkan 5 mL filtrat setelah itu ditambahkan 1 ml larutan natrium nitrit 5% dan 1 ml alumunium klorida 10%, dikocok kemudian ditambahkan 2 ml natrium hidroksida 1 N. Jika positif mengandung flavonoid warna akan berubah menjadi merah atau jingga (Rachmatiah & Octaviani, 2. Uji Steroid dan Terpenoid Sebanyak 2 g serbuk dan ekstrak ditambahkan 20 mL n heksana selama 2 jam, kemudian disaring dan diuapkan dalam cawan penguap hingga kering, lalu ditambahkan 2 tetes anhidrida asetat dan 2 mL kloroform, kemudian dipindahkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan perlahan-lahan 1 mL asam sulfat pekat (Liebermann Burchar. melalui dinding tabung. Adanya steroid atau triterpenoid ditunjukkan jika pada batas kedua larutan terbentuk cincin merah kecoklatan atau ungu, sedangkan Saintech Farma Vol. 19 No. Januari 2026 | 61 Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit. Daging Buah Dan Biji Terong Belanda (Solanum Betaceum Cav. ) Dengan Metode Dpph . ,2- Difenil-1-Pikrilhidrazi. | Herdini et al. larutan bagian atas menjadi hijau atau ungu (Rachmatiah & Octaviani, 2. Uji Aktivitas Antioksidan Metode DPPH Pembuatan Larutan Induk Ekstrak 1000 ppm Ekstrak etanol kulit, daging dan biji ditimbang sebanyak 0,1 gram dan dilarutkan dalam etanol p. a sampai 100 ml. Kemudian di encerkan pada konsentrasi 100 ppm. Pembuatan Larutan Seri Ekstrak Larutan seri ekstrak dibuat dalam konsentrasi 40, 60, 80, 100, 120 ppm. larutan ekstrak 40 ppm dibuat dengan mengecerkan dari larutan induk 100 ppm dengan cara dipipet 0,4 ml kemudian masukan ke dalam labu ukur 10 ml, tambahkan etanol, pa sampai tanda batas kemudian pembuatan larutann konsentrasi 60, 80, 100, 120 ppm dilakukan cara yang sama dengan volume larutan induk masing-masing 0,6 ml, 0,8 ml, 1 ml dan 1,2 Pembuatan Larutan Induk DPPH 100 ppm Larutan baku DPPH 100 ppm dibuat dengan cara menimbang 0,01 gram serbuk dpph kemudian dilarutkan dalam etanol p. a 100 ml, cukupkan sampai tanda batas dan homogenkan. Pembuatan Larutan Baku DPPH Larutan DPPH 30 ppm dibuat dengan cara dipipet sebnayak 15 ml larutan DPPH 100 ppm masukan ke dalm labu ukur 50 ml larutkan dalam etanol p. a sampai tanda batas dan homogenkan. Pembuatan Kurva Kalibrasi Larutan DPPH dengan konsentrasi 15, 20. 25, 30, dan 35 ppm diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum yang telah ditentukan dan hitung koefisien korelasi kuadrat atau R2 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Larutan DPPH 25 ppm dipipet lalu dimasukkan ke dalam kuvet kemudian diukur dengan spektrofotometri UV-Vis dan diamati absorbansinya pada panjang gelombang 400800 nm, kemudian tentukan panjang gelombang Pembuatan Larutan Induk Vitamin C 100 ppm Larutan induk vitamin C pada konsentrasi 100 ppm dibuat dengan cara menimang 10 mg vitamin C lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml kemudian ditambahkan etanol p. a sampai tanda batas dan dikocok hingga homogen. Pembuatan Larutan Seri Vitamin C Larutan seri vitamin C dibuat dalam konsentrasi 2. 10 ppm. Larutan vitamin C konsentrasi 2 ppm dibuat dengan cara dipipet 0,2 mL larutan induk vitamin C lalu dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 mL dan ditambakan etanol p. a sampai tanda batas. Pembuatan larutan vitamin C konsentrasi 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm dan 10 ppm digunakan cara yang sama dengan volume larutan induk yang diambil masing-masing 0,4 mL, 0,6 mL, 0,8 mL dan 10 mL. Pengukuran Absorbansi Larutan Seri Ekstrak Masing-masing larutan ekstrak konsentrasi . dipipet sebanyak 1 mL ke dalam tabung falcon, ditambahkan 2 mL larutan DPPH 30 ppm. Selanjutnya absorbansi diukur dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang sesuai hasil penentuan panjang gelombang maksimum yang diperoleh. Pengukuran Absorbansi Larutan Seri Vitamin C Masing-masing larutan seri vitamin C konsentrasi . 10 pp. dipipet sebanyak 1 mL, lalu ditambahkan 2 mL larutan DPPH 30 ppm, diamati absorbansi pada masing-masing konsentrasi. Analisis Data Aktivitas antioksidan dari masing-masing sampel dan antioksidan perbandingan Vitamin C dinyatakan dengan (Molyneux. Aktivitas penangkapan radikal bebas . ersen inhibis. dihitung sebagai presentasi berkurangnya warna DPPH dengan menggunakan rumus: ycaycaycycuycycaycaycuycycn ycoycuycuycycycuycoOeycaycaycycuycycaycaycuycycn ycycaycoycyyceyco %Inhibisi = x 100% ycaycaycycuycycaycaycuycycn ycoycuycuycycycuyco Keterangan : Absorbansi kontrol : Serapan larutan radikal DPPH Adsorben sampel : Serapan larutan sampel dalam larutan DPPH Persamaan Regesi Linear y=a bx Dimana: Y= 50 dan x = IC50 Perhitungan nilai IC50 diperoleh dengan cara membuat persamaan garis regesi linier yang menghubungkan antara %inhibisi terhadap konsentrasi larutan uji tiap sampel sehingga didapatkan persamaan y=a bx. Nilai y diganti dengan angka 50, sehingga didapatkan nilai x yang menunjukkan nilai IC50. Nilai IC50 menggambarkan konsentrasi ekstrak yang mampu menghambat 50% oksidasi. Tabel 1 Klasifikasi Antioksidan Berdasarkan Nilai yaya50 (Itam et al. , 2. Nilai IC 50 <50 50-100 ppm 100-250 ppm 250-500 ppm >500 ppm Aktivitas Antioksidan Sangat Kuat Kuat Sedang Lemah Sangat Lemah HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Determinasi Tanaman Determinasi tanaman dilakukan untuk mengetahui dan memastikan kebenaran identitas tanaman yang akan Saintech Farma Vol. 19 No. Januari 2026 | 62 Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit. Daging Buah Dan Biji Terong Belanda (Solanum Betaceum Cav. ) Dengan Metode Dpph . ,2- Difenil-1-Pikrilhidrazi. | Herdini et al. digunakan dalam penelitian. Determinasi tanaman kulit buah terong belanda dilakukan di Departemen Biologi FMIPA UI Herbarium Depokensis (UIDEP). Ruang Koleksi Biota Universitas Indonesia Depok. Berdasarkan hasil determinasi menunjukkan bahwa tanaman buah terong belanda yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari tanaman Solanum betaceum Cav. Solanaceae yang disahkan dengan Kode Spesimen [JI25P-. Hasil Pembuatan Serbuk dan Pemeriksaan Organoleptis Terong Belanda (Solanum betaceum Cav. Hasil pengeringan 3 kg terong belanda segar diperoleh serbuk simplisia sebanyak A200 g. Hasil pemeriksaan organoleptis terhadap serbuk kulit, daging, dan biji buah terong belanda (Solanum betaceum Cav. ) menunjukkan perbedaan karakteristik fisik yang cukup jelas. Serbuk kulit buah memiliki warna coklat kekuningan dengan tekstur yang halus, bau khas herbal yang cukup tajam, serta rasa pahit dan sepat. Serbuk daging buah berwarna coklat tua, bertekstur sedikit lebih kasar, memiliki bau khas buah yang sedikit asam, dan rasa asam manis yang Sementara itu, serbuk biji menunjukkan warna coklat kemerahan tua dengan tekstur agak kasar, bau khas biji yang sedikit tajam, serta rasa pahit dan sedikit sepat. Perbedaan karakteristik fisik ini mencerminkan komposisi kimia yang berbeda antara kulit dan daging buah, yang selanjutnya dapat berpengaruh terhadap kandungan metabolit sekundernya. Metode pengeringan oven suhu 50AC dipilih karena mampu memberikan suhu yang stabil dan terkontrol, sehingga proses pengeringan berlangsung secara merata dan efisien tanpa merusak senyawa bioaktif. Berdasarkan penelitian Wahyuni et al. , pengeringan menggunakan oven paling optimal dibandingkan metode lainnya. Hasil Rendemen Ekstrak Etanol Terong Belanda (Solanum betaceum Cav. Rendemen ekstrak merupakan indikator efisiensi proses ekstraksi yang menunjukkan jumlah ekstrak yang diperoleh dari bahan baku. Tabel 2 Rendemen Ekstrak Terong Belanda Sampel Kulit Daging Biji Berat Pelarut Etanol L) Berat Rendemen (%) 20,90 13,85 24,15 Berdasarkan hasil ekstraksi A 200 g serbuk simplisia kulit, daging buah, dan biji terong belanda (Solanum betaceum Cav. ) diperoleh rendemen ekstrak yang Ekstrak daging buah menghasilkan rendemen tertinggi yaitu sebesar 24,15% . ,3 . , diikuti biji sebesar 20,90% . ,8 . , sedangkan kulit memberikan rendemen terendah yaitu 13,85% . ,7 . Perbedaan rendemen ini dapat disebabkan oleh variasi kandungan senyawa metabolit sekunder dan komponen kimia lain pada tiap bagian buah. Daging buah memiliki kandungan air, gula, dan senyawa larut etanol yang lebih tinggi sehingga menghasilkan rendemen lebih besar. Biji juga memberikan rendemen cukup tinggi karena mengandung minyak, protein, serta senyawa bioaktif larut etanol. Sementara itu, kulit menghasilkan rendemen lebih rendah kemungkinan karena komposisi senyawa aktifnya lebih sedikit atau sebagian bersifat kurang larut dalam Nilai rendemen merupakan hasil banyaknya metabolit yang didapatkan setelah proses ekstraksi (Kusuma, 2. Rendemen suatu ekstrak dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi dan jenis pelarut yang Syarat rendemen ekstrak kental yaitu nilainya tidak kurang dari 10% (Badriyah & Farihah, 2. Berdasarkan hasil pengamatan organoleptis terhadap ekstrak etanol dari bagian biji, daging, dan kulit buah terong belanda. Ekstrak etanol dari kulit terong belanda memiliki warna cokelat kehitaman, dengan bentuk cair kental. Aroma khas tajam dan pahit. Ekstrak dari daging buah terong belanda menunjukkan warna cokelat kemerahan hingga oranye tua, dengan tekstur yang lengket dan kental. Aroma dari ekstrak daging buah lebih ringan dan rasa asam manis khas buah. Sementara itu, ekstrak dari biji terong belanda memiliki warna merah keunguan gelap, dengan tekstur yang sangat kental, aroma dari ekstrak biji tajam dan asam. Hasil Skrining Fitokimia Terong Belanda (Solanum betaceum Cav. Skrining fitokimia dilakukan terhadap ekstrak kulit, daging buah dan biji terong belanda (Solanum betaceum Cav. ) untuk mengetahui metabolit sekunder yang terdapat pada terong belanda. Tabel 3 Hasil Uji Skrining Fitokimia Golonga Alkaloid Tanin Saponin Flavono Triterpe Steroid Kulit Ekstra Serbu Hasil Uji Daging Buah Ekstra Serbu Biji Ekstra Serbu Uji skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa yang terkandung pada kulit, daging buah dan biji terong belanda (Solanum betaceum Cav. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa golongan senyawa fitokimia yang terkandung didalam kulit, daging buah dan biji terong belanda (Solanum betaceum Cav. ) terdapat tanin, saponin, flavonoid, steroid dan triterpenoid. Saintech Farma Vol. 19 No. Januari 2026 | 63 Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit. Daging Buah Dan Biji Terong Belanda (Solanum Betaceum Cav. ) Dengan Metode Dpph . ,2- Difenil-1-Pikrilhidrazi. | Herdini et al. Uji keberadaan senyawa alkaloid pada serbuk dan ekstrak kulit, daging, dan biji buah terong belanda (Solanum betaceum Cav. ) menunjukkan hasil negatif karena tidak terbentuknya endapan saat ditambahkan pereaksi Dragendroff. Bouchardat, dan Mayer. Hasil ini berbeda dengan penelitian Dewi et al. yang menyatakan adanya kandungan alkaloid pada ekstrak terong belanda. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh faktor lingkungan tumbuh, perbedaan varietas, serta metode ekstraksi yang Uji kandungan tanin menunjukkan bahwa ekstrak kulit dan daging terong belanda (Solanum betaceum Cav. positif mengandung senyawa tanin, ditandai dengan terbentuknya warna hijau/biru kehitaman. Perubahan warna terjadi saat penambahan FeCl3 yang akan bereaksi dengan salah satu gugus hidroksil yang ada pada senyawa Sedangkan untuk hasil ekstrak biji terong belanda hasilnya negatif warna larutan terlihat coklat kemerahan tidak tampak perubahan warna khas uji tanin positif seperti biru tua atau hijau kehitaman. Uji kualitatif saponin dilakukan melalui pengocokan yang kuat hingga menghasilkan busa setinggi 1-10 cm yang stabil hingga 10 menit dan tidak hilang. merupakan senyawa aktif yang larut dalam air dan membentuk busa seperti busa sabun karena saponin memiliki struktur lipofilik dan hidrofilik. Ikatan glikosida dalam saponin dapat diputus karena penambahan asam kuat dalam air, fungsi menambahkan asam klorida (HC. yaitu untuk membedakan senyawa protein dan koloid yang terkandung dalam ekstrak, dimana protein juga bisa menyebabkan busa pada saat Protein akan didenaturasi saat ditambahkan asam klorida sehingga dapat membedakan buih dari saponin atau protein (Mentari et al. , 2. Hal ini sesuai dengan penelitian Dewi et al. yang juga mengidentifikasi saponin pada kulit maupun biji . aik tanpa lendir maupun berlendi. Uji flavonoid menunjukkan hasil positif yang dibuktikan dengan adanya perubahan warna merah atau jingga pada ekstrak yang diuji. Hasil ini konsisten dengan penelitian Dewi et al. yang juga menemukan flavonoid pada kulit dan biji. Senyawa flavonoid akan membentuk asetofenon yang berwarna merah hingga coklat bila direaksikan dengan NaOH (Zirconia et al. , 2. Pada pengujian triterpenoid dan steroid menunjukkan hasil positif pada kulit, daging buah, dan biji, sejalan dengan penelitian Dewi et al. yang menyebutkan bahwa kulit dan biji mengandung triterpenoid dengan pengujian Liebermann-Burchard. Pada uji LiebermannBurchard jika terbentuk warna merah atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid, sedangkan jika terbentuk warna hijau menunjukkan adanya steroid. Hal ini didasari oleh kemampuan senyawa triterpenoid dan steroid membentuk warna oleh H2 SO4 dalam pelarut asam asetat anhidrid. Perbedaan warna yang dihasilkan oleh disebabkan perbedaan gugus pada atom C-4 (Fransiska et al. , 2. Reaksi positif menunjukkan adanya steroid dan triterpenoid. Hasil Pengujian Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Terong Belanda Uji spektrofotometri UV-Vis menggunakan metode pengikatan radikal DPPH. Prinsipnya mengukur terjadinya pemudaran warna yang disebabkan oleh radikal DPPH akibat adanya antioksidan yang mampu menetralisir molekul radikal bebas. Tabel 4 Aktivitas Antioksidan Vitamin C dan Ekstrak Kulit. Daging Dan Biji Terong Belanda Sampe l Uji Vitami Ekstra k Kulit Teron Beland Ekstra Dagin Teron Beland Ekstra k Biji Teron Beland Konsentra si (Pp. Absorb 0,449 0,398 0,382 0,340 0,301 0,534 0,521 0,506 0,488 0,474 0,493 0,485 0,479 0,467 0,455 0,506 0,497 0,489 0,481 0,470 Absorba Blanko 0,621 0,829 0,776 0,770 Inhibi (%) 27,69 35,90 38,48 45,24 51,52 35,58 37,15 38,96 41,13 42,82 36,46 37,50 38,27 39,81 41,36 34,28 35,45 36,49 37,53 38,96 IC50 (Ppm 9,59 Hasil dari % inhibisi yang diperoleh dalam Tabel 4 selanjutnya digunakan untuk menentukan persamaan regresi linear terhadap konsentrasi ekstrak kulit, daging buah dan biji terong belanda dalam hasil ploting pada Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3 dan Gambar 4 pada pengujian vitamin C diperoleh nilai persamaan regresi linear y = 2,85x 22,666 dengan nilai koefisien korelasi RA = 0. 9829 dan ekstrak kulit y = 0,0923x 31,744 nilai koefisien korelasi RA = 0,9973, ekstrak daging buah y = 0,0605x 33,836 nilai koefisien korelasi RA = 0,9811, ekstrak biji y = 0,0572x 31, 966 nilai koefisien korelasi RA = 0,9964 Saintech Farma Vol. 19 No. Januari 2026 | 64 %Inhibisi Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit. Daging Buah Dan Biji Terong Belanda (Solanum Betaceum Cav. ) Dengan Metode Dpph . ,2- Difenil-1-Pikrilhidrazi. | Herdini et al. y = 2,85x 22,666 RA = 0,9829 Konsentrasi . g/mL) Gambar 1 Kurva Aktivitas Antioksidan Vitamin C %Inhibisi y = 0,0923x 31,744 RA = 0,9973 Konsentrasi . g/mL) Gambar 2 Kurva Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Terong Belanda y = 0,0605x 33,836 RA = 0,9811 %Inhibisi Konsentrasi . g/mL) Gambar 3 Kurva Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daging Terong Belanda %Inhibisi y = 0,0572x 31,966 RA = 0,9964 dengan memasukkan angka 50 pada variabel Y sehingga diketahui nilai X. Nilai X adalah nilai IC50. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan nilai IC50 dari ekstrak kulit terong belanda sebesar 197,78 ppm, ekstrak daging terong belanda sebesar 267,17 ppm, ekstrak biji terong belanda sebesar 315,27 ppm dan Vitamin C 9,59 ppm. Nilai IC50 menunjukkan konsentrasi suatu ekstrak yang dibutuhkan untuk menghambat 50% radikal bebas semakin kecil nilainya, maka semakin kuat aktivitas antioksidannya. Hal ini didasarkan oleh klasifikasi antioksidan IC50 dibagi menjadi 500 ppm . angat lema. (Itam et al. , 2. Dengan demikian, ekstrak kulit terong belanda tergolong memiliki aktivitas antioksidan sedang, sedangkan daging dan bijinya masuk dalam kategori lemah. Vitamin C sebagai kontrol positif menunjukkan aktivitas yang sangat kuat. hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya. Penelitian oleh Widayanti et al. , . yang menggunakan fraksi n-butanol dari kulit terong belanda menunjukkan nilai ICCICA sebesar 69,9 ppm yang berarti aktivitas antioksidan cukup kuat. Untuk bagian daging buah, penelitian oleh (Asih et al. , 2. menunjukkan bahwa ekstrak etanol kasar memiliki nilai ICCICA sebesar 1. 302,08 ppm, sedangkan fraksi n-butanol-nya memiliki nilai ICCICA sebesar 606,06 ppm dalam penelitian ini sebesar 267,17 ppm lebih baik dibandingkan penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa ada kemungkinan teknik ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini lebih efektif atau bahwa kondisi sampel lebih kaya senyawa bioaktif. Sementara itu, ekstrak biji terong belanda yang diuji oleh Dewi et al. , . menunjukkan nilai ICCICA sangat tinggi, 162 ppm, jauh lebih lemah dibanding hasil ekstrak biji dalam penelitian ini 315,27 ppm, meskipun masih dalam kategori lemah. Rendahnya aktivitas antioksidan pada daging dan biji kemungkinan karena kandungan senyawa fenolik dan flavonoidnya lebih sedikit dibandingkan kulit. Secara keseluruhan, ekstrak kulit terong belanda menunjukkan potensi antioksidan yang lebih baik dibandingkan bagian lain dari buah, meskipun masih lemah dibandingkan Vitamin C. Hal ini disebabkan vitamin C merupakan senyawa murni dengan aktivitas antioksidan yang sangat kuat, namun ekstrak masih berupa campuran senyawa yang mungkin mempunyai khasiat yang beragam (Arista & Siregar, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Konsentrasi . g/mL) Gambar 4 Kurva Aktivitas Antioksidan Ekstrak Biji Terong Belanda Nilai IC50 dihitung berdasarkan rumus persamaan linear yang didapat. Berdasarkan kurva perbandingan konsentrasi larutan uji dan larutan pembanding serta laju penghambatan radikal DPPH. Nilai IC50 ditentukan Kesimpulan Berdasarkan hasil skrining fitokimia terhadap serbuk dan kstrak bagian kulit, daging, dan biji buah terong Belanda (Solanum betaceum Cav. ), diketahui bahwa ketiga bagian tersebut mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, steroid dan triterpenoid, meskipun intensitas keberadaannya bervariasi antar Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa seluruh bagian buah terong belanda (Solanum betaceum Cav. ) memiliki kemampuan sebagai antioksidan, tetapi dengan tingkat yang berbeda. Ekstrak Saintech Farma Vol. 19 No. Januari 2026 | 65 Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit. Daging Buah Dan Biji Terong Belanda (Solanum Betaceum Cav. ) Dengan Metode Dpph . ,2- Difenil-1-Pikrilhidrazi. | Herdini et al. kulit memiliki aktivitas tertinggi dengan nilai IC50 sebesar 197,78 ppm dan termasuk kategori sedang. Ekstrak daging memiliki aktivitas lebih rendah dengan nilai IC50 sebesar 267,17 ppm, sedangkan ekstrak biji menunjukkan aktivitas paling rendah dengan nilai IC50 sebesar 315,27 ppm, keduanya termasuk kategori lemah. Dengan demikian, bagian kulit terong belanda berpotensi lebih besar sebagai sumber antioksidan alami dibandingkan daging buah maupun bijinya. Penelitian selanjutnya disarankan melakukan fraksinasi ekstrak etanol kulit, daging buah, dan biji terong belanda (Solanum betaceum Cav. ) untuk memisahkan senyawa berdasarkan kepolaran, sehingga dapat diketahui fraksi dengan aktivitas antioksidan tertinggi dan potensinya sebagai sumber antioksidan alami. DAFTAR PUSTAKA