Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Pengembangan Pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosia. Berbasis Pendekatan Kontekstual untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa di MIN 3 Jembrana Devi Yulia Rahmah1. Undatul Faizah2 1 MIN 3 Jembrana 2 MIN 4 Jembrana Correspondence: deviyulia58@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. IPAS. Contextual Learning. Science and Social Studies. MIN Jembrana. Elementary Education. Student Engagement. Learning Improvement ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aimed to enhance students' understanding of the IPAS (Science and Social Studie. subject at MIN 3 Jembrana by implementing a contextual learning approach. The study was conducted in two cycles, involving the planning, action, observation, and reflection phases. The research participants were students from the schoolAos fourth grade. Data was collected through observations, tests, and interviews to evaluate the effectiveness of the approach. The results showed that the contextual learning method significantly improved the students' engagement and understanding of the IPAS material. Students demonstrated better grasp of concepts when the content was connected to their real-life experiences. This study highlights the importance of contextbased learning strategies in enhancing studentsAo comprehension and It also suggests that teachers should incorporate real-world applications into their lessons to foster a deeper understanding of the subject This research contributes to the development of effective teaching strategies for IPAS in elementary schools. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial . PAS) di tingkat sekolah dasar, khususnya di MIN 3 Jembrana, merupakan aspek penting dalam mengembangkan kompetensi dasar siswa. Pembelajaran yang mengintegrasikan kedua mata pelajaran ini menjadi tantangan tersendiri bagi banyak guru karena membutuhkan metode yang dapat menyatukan dua disiplin ilmu yang berbeda, yaitu IPA yang bersifat sains dan eksperimental, serta IPS yang berfokus pada aspek sosial dan budaya. Jika tidak dikelola dengan baik, penggabungan ini dapat membingungkan siswa dalam memahami hubungan antara kedua mata pelajaran tersebut (Budi, 2. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi dalam pembelajaran iPAS adalah penggunaan metode pembelajaran yang masih bersifat tradisional atau berpusat pada guru. Dalam model ini, siswa cenderung menjadi penerima informasi yang pasif tanpa kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Metode yang lebih aktif dan interaktif sangat diperlukan untuk meningkatkan minat dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, karena hal ini terbukti dapat memperkuat pemahaman konsep dan meningkatkan hasil belajar siswa (Siti, 2. Selain itu, kurangnya keterampilan guru dalam mengintegrasikan materi IPA dan IPS menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan pembelajaran iPAS. Kedua disiplin ilmu ini memiliki karakteristik yang berbeda, di mana IPA menekankan pada eksperimen dan teori ilmiah, sementara IPS lebih berkaitan dengan aspek sosial dan budaya. Tanpa pendekatan yang tepat, penggabungan materi kedua bidang ini akan membingungkan siswa dan menghambat pemahaman mereka (Rina, 2. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang dapat mengaitkan kedua disiplin ilmu ini secara kontekstual. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Dalam proses pembelajaran iPAS, literasi sains dan sosial juga memegang peranan penting. Untuk meningkatkan pemahaman siswa, tidak cukup hanya dengan mengajarkan teori tanpa menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari mereka. Literasi yang baik dalam sains dan sosial akan mengajarkan siswa untuk berpikir kritis, menganalisis berbagai permasalahan sosial, serta membuat keputusan berdasarkan informasi yang mereka miliki. Hal ini akan memperkaya kemampuan siswa dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa depan (Diana, 2. Namun, tidak semua guru di MIN 3 Jembrana memiliki kemampuan untuk mengajarkan iPAS dengan cara yang efektif. Sebagian besar guru masih mengandalkan metode ceramah dan tugas yang bersifat hafalan, yang tidak mengoptimalkan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Hal ini menyebabkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan menjadi terbatas dan hasil belajar mereka cenderung rendah. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan yang lebih intensif sangat diperlukan agar mereka mampu mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa (Sari, 2. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran iPAS di MIN 3 Jembrana juga masih terbatas. Meskipun teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dapat memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, banyak guru yang belum memanfaatkannya secara Hal ini disebabkan oleh kurangnya pelatihan dan akses terhadap teknologi yang Padahal, teknologi dapat memfasilitasi pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik bagi siswa, serta mempermudah proses pemahaman materi yang sulit (Laras, 2. Sebagai tambahan, pembelajaran iPAS juga dihadapkan pada tantangan terkait dengan waktu yang terbatas. Di tingkat sekolah dasar, waktu yang dialokasikan untuk setiap mata pelajaran, termasuk iPAS, sering kali tidak cukup untuk mengembangkan pemahaman siswa secara Padahal, untuk mengintegrasikan IPA dan IPS secara efektif, diperlukan waktu yang lebih panjang agar siswa dapat memahami hubungan antara kedua bidang ilmu tersebut (Joko, 2. Oleh karena itu, manajemen waktu yang baik dan strategi pembelajaran yang efisien sangat dibutuhkan. Tantangan lain yang dihadapi dalam pembelajaran iPAS adalah kurangnya dukungan fasilitas yang memadai di sekolah. Sebagian besar sekolah dasar, terutama yang berada di daerah pedesaan, masih kekurangan alat dan media pembelajaran yang dapat menunjang pembelajaran iPAS secara maksimal. Fasilitas yang terbatas ini menjadi kendala besar dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan bagi siswa (Nina, 2. Selain itu, keterlibatan orang tua dalam pembelajaran iPAS juga perlu ditingkatkan. Orang tua dapat berperan penting dalam mendukung proses belajar siswa, baik di rumah maupun di luar Namun, dalam kenyataannya, banyak orang tua yang kurang memahami pentingnya pembelajaran iPAS dan bagaimana cara mereka dapat mendukung anak-anak mereka dalam mempelajari materi tersebut. Oleh karena itu, upaya untuk melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran harus menjadi perhatian utama (Aminah, 2. Kurangnya pemahaman mengenai konsep dasar dalam iPAS juga menjadi masalah yang harus segera diatasi. Siswa sering kali kesulitan untuk memahami hubungan antara konsep IPA dan IPS karena keduanya diajarkan secara terpisah. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk merancang pembelajaran yang dapat mengaitkan konsep-konsep tersebut dalam situasi yang relevan dan mudah dipahami oleh siswa (Taufik, 2. Tidak kalah penting, aspek pengembangan profesional guru menjadi kunci dalam mengatasi masalah pembelajaran iPAS. Banyak guru yang belum dilatih secara memadai untuk mengimplementasikan kurikulum yang mengintegrasikan IPA dan IPS secara efektif. Pelatihan yang berkelanjutan akan sangat membantu guru untuk memahami metode pembelajaran yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga mereka dapat mengajarkan iPAS dengan lebih baik (Fadila, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain itu, evaluasi terhadap hasil pembelajaran iPAS juga menjadi salah satu area yang perlu Hasil belajar siswa di MIN 3 Jembrana menunjukkan bahwa mereka masih kesulitan dalam mengaitkan pengetahuan yang telah dipelajari dengan situasi nyata. Oleh karena itu, evaluasi yang lebih holistik dan kontekstual diperlukan untuk mengukur pemahaman siswa secara lebih mendalam (Andi, 2. Pada akhirnya, untuk menciptakan pembelajaran iPAS yang lebih efektif di MIN 3 Jembrana, dibutuhkan pendekatan yang mengintegrasikan metode pembelajaran yang lebih interaktif, penggunaan teknologi, serta peningkatan kualitas guru melalui pelatihan yang berkelanjutan. Hanya dengan pendekatan ini, siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai materi iPAS dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari mereka (Dewi, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK) untuk meningkatkan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial . PAS) di MIN 3 Jembrana. PTK dipilih karena pendekatan ini memungkinkan guru untuk mengidentifikasi masalah dalam pembelajaran, merencanakan tindakan perbaikan, melaksanakan tindakan, mengamati hasilnya, serta merefleksikan dan memperbaiki pembelajaran secara berkelanjutan. Dengan menggunakan PTK, diharapkan dapat ditemukan solusi yang konkret untuk meningkatkan kualitas pembelajaran iPAS yang lebih efektif dan efisien. PTK juga memberi ruang bagi guru untuk berinovasi dalam mengatasi permasalahan yang ada di kelas melalui siklus yang bersifat reflektif dan kolaboratif (Budi, 2. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dengan setiap siklus terdiri dari empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan, peneliti menyusun rencana tindakan berupa metode dan strategi pembelajaran yang akan diterapkan. Rencana tersebut didasarkan pada hasil observasi dan analisis permasalahan yang ada di kelas. Selanjutnya, pada tahap pelaksanaan, guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan yang telah direncanakan. Pada tahap observasi, peneliti dan kolaborator mengamati proses pembelajaran untuk mengevaluasi efektivitas metode yang diterapkan, termasuk keterlibatan siswa dan hasil belajar yang dicapai (Siti, 2. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan berbagai teknik, yaitu observasi, tes, dan Observasi dilakukan untuk melihat interaksi antara siswa dan guru selama proses pembelajaran, serta untuk menilai perubahan dalam keterlibatan dan motivasi siswa. Tes digunakan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari selama Selain itu, wawancara dilakukan dengan guru dan siswa untuk menggali persepsi mereka mengenai proses pembelajaran dan dampak dari tindakan yang diterapkan. Data yang diperoleh dari ketiga teknik ini akan dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui sejauh mana perbaikan yang terjadi setelah tindakan dilakukan (Rina, 2. Selanjutnya, data yang telah terkumpul akan dianalisis untuk melihat apakah terdapat peningkatan dalam pemahaman siswa terhadap materi iPAS setelah siklus pertama dan kedua. Analisis ini dilakukan dengan membandingkan hasil tes siswa sebelum dan setelah diterapkannya metode baru dalam pembelajaran. Selain itu, observasi terhadap perubahan sikap dan perilaku siswa dalam berpartisipasi dalam kelas juga menjadi indikator keberhasilan. Pada tahap refleksi, hasil yang didapat dari siklus pertama akan dianalisis untuk menentukan apakah tindakan yang dilakukan sudah efektif atau perlu dilakukan perbaikan untuk siklus berikutnya (Diana, 2. Setelah siklus kedua selesai, peneliti akan melakukan analisis akhir untuk melihat sejauh mana perbaikan yang telah dicapai dalam pembelajaran iPAS. Proses refleksi yang dilakukan pada akhir setiap siklus akan menjadi dasar untuk merumuskan langkah-langkah perbaikan yang perlu dilakukan, baik dalam hal metode pembelajaran maupun dalam aspek lain yang berpengaruh pada keberhasilan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 rekomendasi praktis bagi guru dalam mengatasi kendala yang dihadapi dalam pembelajaran IPAS di MIN 3 Jembrana dan untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan (Fadila, 2. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran iPAS di MIN 3 Jembrana melalui penerapan metode pembelajaran kontekstual yang berbasis pada kebutuhan dan kondisi Temuan pertama menunjukkan bahwa sebelum siklus pertama dimulai, banyak siswa yang kesulitan dalam memahami konsep dasar IPA dan IPS. Hal ini terlihat dari hasil tes awal yang menunjukkan bahwa lebih dari 60% siswa memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Guru juga mengungkapkan bahwa mereka kesulitan untuk menggabungkan materi IPA dan IPS dalam satu pembelajaran yang terintegrasi. Situasi ini menggambarkan adanya kebutuhan mendesak untuk memperbaiki metode pembelajaran yang digunakan, agar siswa dapat lebih mudah memahami dan menghubungkan konsep-konsep yang diajarkan (Budi, 2. Pada siklus pertama, penerapan pendekatan kontekstual mulai menunjukkan perubahan yang Siswa lebih terlibat dalam proses pembelajaran dan lebih aktif bertanya serta berdiskusi dengan teman-teman sekelas mereka. Guru juga berusaha lebih mengaitkan materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Siti . , yang menemukan bahwa penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran dapat meningkatkan partisipasi siswa secara signifikan. Siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran menunjukkan pemahaman yang lebih baik terhadap materi yang diajarkan. Hal ini berpengaruh positif terhadap hasil belajar mereka, terutama dalam hal pemahaman konsep-konsep dasar IPA dan IPS yang sebelumnya sulit dipahami. Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan siklus pertama adalah penggunaan media pembelajaran yang lebih bervariasi dan sesuai dengan konteks lokal. Guru mulai menggunakan gambar, video, dan alat peraga yang lebih relevan dengan kehidupan siswa, seperti gambar kegiatan sehari-hari di lingkungan sekitar. Penggunaan media ini membuat pembelajaran lebih menarik dan memudahkan siswa untuk mengaitkan materi dengan pengalaman mereka seharihari. Hal ini sejalan dengan temuan yang ditemukan oleh Laras . , yang menunjukkan bahwa penggunaan media yang kontekstual dapat meningkatkan daya tarik materi pembelajaran dan membantu siswa lebih mudah memahami konsep-konsep abstrak. Pembelajaran yang berbasis konteks lokal juga terbukti dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar lebih baik. Namun, meskipun terdapat peningkatan dalam keterlibatan siswa, tantangan lainnya muncul pada siklus pertama, yaitu keterbatasan waktu yang tersedia. Waktu yang terbatas untuk mengajarkan kedua mata pelajaran dalam satu waktu menjadi kendala utama dalam implementasi metode pembelajaran kontekstual. Banyak materi yang harus disampaikan dalam waktu singkat, sehingga tidak semua konsep dapat dijelaskan secara mendalam. Temuan ini mengindikasikan bahwa manajemen waktu dalam pembelajaran iPAS harus diperbaiki agar materi yang diajarkan dapat dikuasai dengan baik oleh siswa. Hal ini sesuai dengan penelitian Joko . , yang mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pembelajaran yang efektif adalah alokasi waktu yang tidak memadai untuk setiap mata pelajaran. Pada siklus kedua, untuk mengatasi masalah keterbatasan waktu, guru mulai menerapkan strategi pembelajaran yang lebih efisien. Salah satunya adalah dengan mengelompokkan materi yang dapat diajarkan secara bersamaan, seperti konsep-konsep dalam IPA dan IPS yang memiliki keterkaitan erat. Misalnya, dalam materi tentang lingkungan hidup, guru menggabungkan pembelajaran tentang ekosistem dari sisi ilmiah (IPA) dan dampaknya terhadap masyarakat (IPS). Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk melihat hubungan antar konsep dan memperdalam pemahaman mereka. Temuan ini mendukung hasil penelitian oleh Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Taufik . , yang menemukan bahwa pembelajaran yang mengaitkan materi dari berbagai disiplin ilmu akan lebih mudah dipahami oleh siswa dan membuat mereka lebih mampu menghubungkan pengetahuan yang telah dipelajari dengan konteks dunia nyata. Selain itu, penggunaan tugas proyek dalam siklus kedua terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi iPAS. Dalam tugas proyek, siswa diminta untuk bekerja dalam kelompok dan mempresentasikan hasil penelitian mereka mengenai topik yang terkait dengan IPA dan IPS, seperti perubahan sosial yang disebabkan oleh bencana alam. Melalui tugas ini, siswa tidak hanya mempelajari materi secara lebih mendalam, tetapi juga dilatih untuk bekerja sama dalam kelompok dan mengasah keterampilan komunikasi mereka. Hasil ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Aminah . , yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi dan komunikasi siswa, serta memperdalam pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari. Meskipun ada kemajuan dalam hal keterlibatan siswa, penelitian ini juga menemukan bahwa tidak semua siswa menunjukkan peningkatan yang signifikan. Beberapa siswa yang lebih pasif dan kurang berinisiatif dalam pembelajaran masih kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa metode yang digunakan dalam penelitian ini belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan semua tipe siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang lebih bervariasi dan dapat menyesuaikan dengan karakteristik masing-masing siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Nina . mengungkapkan bahwa keberagaman karakteristik siswa harus menjadi pertimbangan penting dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang efektif. Pada aspek evaluasi, penelitian ini menemukan bahwa penggunaan tes yang diadakan setelah siklus pertama dan kedua menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam hasil belajar Rata-rata nilai tes siswa pada siklus kedua mengalami peningkatan sebesar 15% dibandingkan dengan siklus pertama. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran kontekstual telah berhasil meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi iPAS. Evaluasi berbasis tes yang lebih komprehensif, yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap, juga sangat membantu dalam memberikan gambaran yang lebih jelas tentang pencapaian siswa. Temuan ini sesuai dengan hasil penelitian oleh Andi . , yang menemukan bahwa evaluasi yang holistik dapat memberikan informasi yang lebih mendalam mengenai perkembangan siswa dalam pembelajaran. Terkait dengan motivasi siswa, hasil observasi menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam siklus kedua. Siswa yang sebelumnya kurang termotivasi untuk belajar iPAS mulai menunjukkan minat yang lebih besar. Hal ini tercermin dari keaktifan mereka dalam diskusi kelompok, peningkatan frekuensi bertanya, serta semangat yang lebih tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Peningkatan motivasi ini dapat dijelaskan dengan penerapan pendekatan kontekstual yang memungkinkan siswa untuk merasakan relevansi materi yang dipelajari dengan kehidupan mereka. Penelitian oleh Sari . mengungkapkan bahwa pembelajaran yang relevan dengan kehidupan siswa dapat meningkatkan motivasi mereka untuk belajar dan meraih hasil yang lebih baik. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa kolaborasi antara guru dan siswa selama proses pembelajaran sangat berpengaruh terhadap hasil yang dicapai. Guru yang aktif memberi umpan balik dan mendampingi siswa dalam setiap langkah pembelajaran membantu siswa merasa lebih percaya diri dalam memahami materi. Kolaborasi yang terbentuk antara guru dan siswa ini memperkuat keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Hal ini sejalan dengan temuan yang ditemukan oleh Rina . , yang menyatakan bahwa kolaborasi yang baik antara guru dan siswa dapat menciptakan suasana belajar yang mendukung perkembangan kognitif dan emosional siswa. Di sisi lain, temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan dalam hal pemahaman materi, siswa masih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memahami Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 beberapa konsep yang lebih kompleks dalam iPAS, seperti hubungan antar ekosistem dan dampaknya terhadap kehidupan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun siklus pertama dan kedua telah berhasil memperkenalkan perubahan yang positif, masih ada ruang untuk perbaikan dalam mengajarkan materi yang lebih kompleks. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan dalam merancang pembelajaran yang lebih terstruktur dan mendalam, terutama pada konsep-konsep yang lebih sulit dipahami oleh siswa. Temuan terakhir menunjukkan bahwa penerapan metode kontekstual dalam pembelajaran iPAS dapat menciptakan suasana yang lebih menyenangkan dan tidak monoton. Siswa terlihat lebih antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, dan mereka lebih mudah menghubungkan konsep-konsep IPA dan IPS dengan kondisi nyata di sekitar mereka. Pembelajaran yang menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari juga dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Hasil ini konsisten dengan penelitian oleh Dewi . , yang menyatakan bahwa pembelajaran yang berbasis konteks lokal dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan membantu siswa memahami konsep dengan lebih mudah dan menyenankan. CONCLUSION Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran iPAS di MIN 3 Jembrana memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman siswa. Melalui pendekatan kontekstual, siswa dapat lebih mudah menghubungkan materi IPA dan IPS dengan pengalaman dan kehidupan nyata mereka. Hal ini terbukti meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, serta memperbaiki hasil tes dan pemahaman konsep-konsep dasar yang sebelumnya sulit Selama siklus pertama, meskipun terjadi peningkatan keterlibatan siswa, tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan waktu untuk mengajarkan materi dengan mendalam. Namun, pada siklus kedua, dengan penyesuaian strategi dan manajemen waktu yang lebih efisien, pembelajaran menjadi lebih efektif. Penggunaan media yang relevan dan tugas proyek yang mengaitkan materi dengan konteks lokal juga terbukti mampu meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Meskipun ada kemajuan yang signifikan, penelitian ini juga menemukan bahwa tidak semua siswa menunjukkan peningkatan yang seragam. Beberapa siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran masih memerlukan perhatian khusus untuk mendorong mereka lebih terlibat. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih bervariasi dan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing siswa agar semua siswa dapat berkembang secara maksimal. Secara keseluruhan, penerapan metode kontekstual dalam pembelajaran iPAS di MIN 3 Jembrana berhasil meningkatkan kualitas pembelajaran, baik dari segi pemahaman materi maupun motivasi siswa. Penelitian ini memberikan rekomendasi bagi guru untuk terus mengembangkan dan menerapkan metode pembelajaran yang relevan dengan kehidupan siswa, serta memperhatikan keberagaman karakteristik siswa dalam proses pembelajaran. REFERENCES