JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehata. Volume 6. No. Agustus 2022. Page 9-15 ISSN: 2579-7913 HUBUNGAN KEPATUHAN PERAWAT DALAM PELAKSANAAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO) PEMASANGAN INFUS DENGAN TANDA-TANDA PHLEBITIS Beti Kusumawati *. Rahmawati Maulidia . Risna Yekti Mumpuni . 1 Mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan STIKES Maharani Malang 2,3 Dosen Program Studi S1 Keperawatan STIKES Maharani Malang email : bettikusumanadira@gmail. Abstrak Risiko terjadinya phlebitis akan meningkat seiring dengan tindakan pemasangan infus yang kurang baik atau tidak mengacu pada SPO rumah sakit. Penelitian bertujuan menganalisis hubungan kepatuhan perawat dalam pemasangan infus sesuai SPO dengan tandatanda phlebitis di Ruang 19 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Desain analitik korelasional dengan desain cohort. Responden sejumlah 44 pasien yang dipilih menggunakan nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling. Responden perawat sejumlah 23 perawat di Ruang 19 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Data dikumpulkan dengan lembar observasi pemasangan infus dan visual infusion phlebitis score. Analisa data menggunakan uji Spearman Rho dengan = 0,05. HasilXpenelitianXmenunjukan sejumlah 38 pasien . ,4%) dilakukan pemasangan infus sesuai SPO. Sejumlah 37 pasien . ,1%) tidak mengalami tandatanda phlebitis. Hasil uji statistik Spearman Rho menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara kepatuhan perawat dalam melakukan pemasangan infus sesuai SPO dengan tanda-tanda kejadian phlebitis di Ruang 19 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang dengan nilai nilai p = 0,013 atau p < 0,05. Kesimpulan, kepatuhan perawat dalam melakukan pemasangan infus sesuai SPO berhubungan dengan tanda-tanda kejadian phlebitis. Disarankan bagi perawat untuk meningkatkan kepatuhan pemasangan infus sesuai SPO yang telah ditetapkan oleh rumah sakit untuk meminimalkan terjadinya phlebitis pada pasien selama rawat inap. Kata kunci: phlebitis, pemasangan infus, kepatuhan Abstract High rates of phlebitis point to poor service quality, a rise in improper intravenous catheter placement, or a deviation from accepted practices. The purpose of the study was to examine the connection between phlebitis and nurse compliance with standard technique for inserting an intravenous catheter in Room 19 of Dr. Saiful Anwar Hospital Malang. Cohort design was used in the correlational analytic study design. 44 patients were the respondents, chosen by a procedure known as purposive sampling In this study, 23 nurses served as Instruments utilized include the Visual Infusion Phlebitis Score sheet and the observation sheet for inserting the intravenous catheter. The data was analyzed using Spearman Rho test with = 0. The study showed most of respondents amount 38 patients . Infusion was carried out in accordance with SOP. Most of respondent amount 37 patients . 1%) did not experience any signs of phlebitis. Results of spearman rho statistical test showed a significant relationship between nurse compliance in standard operational procedures (SOP) implementation on intravenous catheter insertion with phlebitis signs . value = 0. 013 or p <0. Conclusion, the insertion of an intravenous catheter in Room 19 of the Dr. Saiful Anwar Hospital in Malang is significantly correlated with nurse compliance with standard operational procedures (SOP) implementation. To reduce the likelihood of phlebitis during hospitalization, nurses should introduce intravenous catheters with greater compliance with SOP. Keywords: phlebitis. IV catheter insertion, compliance -9- Beti Kusumawati et. Hubungan Kepatuhan Perawat dalam Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional (SPO) Pemasangan Infus dengan Tanda-Tanda Phlebitis PENDAHULUAN Terapi intravena berupa infus merupakan tindakan pemberian obat secara invasif yang sering diberikan pada pasien rawat inap di rumah sakit (Gorski, 2. Pasien yang mendapatkan terapi infus secara intermiten meningkatkan prosentase komplikasi infeksi phlebitis (Watung, 2. Phlebitis ditandai dengan pembengkakan, kemerahan, dan rasa nyeri sepanjang vena (Hakam, 2. Insiden phlebitis terjadi karena infeksi mikroorganisme yang dialami oleh pasien yang diperoleh selama dirawat di rumah sakit diikuti dengan manifestasi klinis pada area insersi kateter intravena (Kusumawati et al. , 2. Risiko terjadinya phlebitis akan meningkat seiring dengan tindakan pemasangan infus yang kurang baik. Tindakan pemasangan infus yang baik atau berkualitas dalam pelaksanaannya apabila mengacu pada prosedur tetap atau (SPO) pemasangan infus (Kusumawati et al. , 2. Fenomena yang ditemui di Ruang 19 RSUD Dr. Saiful Anwar masih ditemukan perawat yang kurang patuh dalam melakukan pemasangan infus sesuai SPO, dilain pihak insiden phlebitis pada pasien rawat inap masih kerap terjadi. Keterkaitan antara kepatuhan SPO pemasangan infus dengan kejadian phlebitis di Ruang 19 masih belum dapat dijelaskan. Prevalensi phlebitis di berbagai negara cukup tinggi. Menurut data surveilans World Health Organization (WHO) tahun 2012, kejadian phlebitis cukup tinggi yakni 5% per Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2016 insiden phlebitis 16% dari populasi penelitian yang penyebab terbesarnya adalah Pada dilakukan di Iran pada tahun 2013, 26% terjadi phlebitis dan meningkat menjadi 41,2% pada Di Turki prevalensi phlebitis diperkirakan sejumlah 79% pasien (Jamal et al. Dari penelitian tersebut sebanyak 170 pasien yang terpasang infus, 91 pasien tanda-tanda terutama terjadi pada pasien yang menderita Kejadian phlebitis di Indonesia belum terdata dengan akurat. Insiden phlebitis di Indonesia yang dilaporkan berdasarkan publikasi Distribusi Penyakit Sistem Sirkulasi Darah Pasien Rawat Inap di Indonesia tahun 2012 hanya sejumlah 744 pasien. Sedangkan hasil publikasi lain mengacu pada publikasi Kemeterian Kesehatan tahun 2013 angka kejadian phlebitis di Indonesia mencapai prosentase 50,11% untuk rumah sakit milik pemerintah (Rizky dan Supriyatiningsih, 2. Angka tersebut masih sangat tinggi jika dibandingkan dengan standar kejadian phlebitis minimum pasien yang terpasang venflon yang masih menjadi batas toleransi indikator mutu pelayanan yakni 95% (Kemenkes RI, 2. Keberhasilan terapi infus ditentukan dari tiga komponen. Komponen tersebut yakni teknologi kateter intravena yang digunakan, respon tubuh pasien terhadap kateter intravena, serta yang terpenting adalah teknik petugas atau perawat yang memasang kateter intravena (Helm et al. , 2. Hasil penelitian Watung . terdapat hubungan antara teknik aseptik dengan kejadian phlebitis pada pasien yang terpasang infus. Phlebitis dapat dicegah dengan melakukan teknik aseptik yang baik dan benar selama pemasangan infus . esuai SPO), menggunakan kateter intravena sesuai ukuran, berdasarkan jenis cairan yang diberikan serta pemindahan lokasi insersi setiap 72 jam. Pedoman INS (Infusion Nurses Societ. mengungkapkan bahwa penggantian kateter intra vena pada pasien dewasa dilakukan jika terjadi phlebitis namun sebaliknya pada pasien anak-anak penggantian kateter intra vena dianjurkan hanya bila ada indikasi klinis (Alloubani, et al. , 2. Teknik steril juga harus dipertahankan karena klien berisiko terhadap infeksi pada saat jarum suntik yang menusuk kulit saat pemasangan infus (Watung, 2. Terapi atau cairan intravena jika diberikan secara terus menerus dan dalam jangka waktu >3 hari akan komplikasi dari pemasangan infus (Salma, et , 2. Sehingga diperlukan ketepatan perawat dalam melakukan pemasangan infus yang sesuai dengan standar prosedur operasional untuk mencegah terjadinya Pemasangan infus harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang profesional, terlatih, dan yang memiliki ketrampilan tehnis dan manual yang baik (Spina et al. , 2. Phlebitis dapat mengakibatkan komplikasi yang berakibat fatal seperti Deep Vein Thrombosis (DVT), emboli paru, selulitis, nodul kulit sehingga menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan pasien dan dibutuhkan penggantian kateter baru. Hal ini menimbulkan memanjangnya hari perawatan dan peningkatan biaya perawatan (Jamal et al. , 2. Menurut Kemenkes RI . kejadian phlebitis -10- Beti Kusumawati et. Hubungan Kepatuhan Perawat dalam Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional (SPO) Pemasangan Infus dengan Tanda-Tanda Phlebitis keperawatan pada sub indikator keselamatan pasien, sehingga dapat disimpulkan tingginya kejadian phlebitis dapat mengindikasikan mutu pelayanan yang buruk baik dari rumah sakit maupun layanan keperawatan. Tingginya angka kejadian infeksi nosokomial atau HAIs (Hospital Acquired Infection. pemasangan infus yang berupa phlebitis kemungkinan disebabkan oleh kurangnya ketepatan perawat dengan Standar Prosedur Operasional (SPO) pemasangan infus yang ditetapkan oleh rumah sakit (Kusumawati et al. Dari hasil studi pendahuluan berupa data laporan tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI, 2. , di Instalasi Rawat Inap II RS. Dr. Saiful Anwar Malang angka tanda tanda phlebitis di Instalasi Rawat Inap II RSUD. Dr. Saiful Anwar Malang rentangan Januari--Desember 2018 sebesar 37,19%. Angka tanda- tanda phlebitis di Ruang 19 pada bulan Januari 2018 sampai Desember 2018 sebesar 27%. Dari hasil pengamatan peneliti yang dilakukan mulai tanggal 10 November 2019 sampai dengan 12 November 2019, 6 orang dari 10 perawat yang melakukan tindakan pemasangan infus tidak melakukan tindakan sesuai SPO. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari hubungan antara kepatuhan perawat dalam pemasangan infus sesuai standar prosdur operasional (SPO) dengan tanda-tanda kejadian phlebitis di Ruang 19 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. METODE PENELITIAN Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analitik korelasional dengan desain studi cohort. Pada penelitian ini populasi yang digunakan dibagi menjadi dua, yaitu populasi pasien dan perawat. Populasi pasien adalah seluruh pasien yang menjalani rawat inap di Ruang 19 yang terpasang infus. Jumlah pasien yang rawat inap di Ruang 19 dalam kurun waktu tiga bulan terakhir yakni November 2019 sejumlah 245 pasien. Desember 2019 sejumlah 255 pasien, dan Januari 2020 sejumlah 250 pasien. Berdasarkan rentangan data tersebut diperoleh perkiraan rata-rata jumlah pasien di Ruang 19 setiap bulan sebesar 250 pasien. Sedangkan jumlah pasien yang dilakukan pemasangan infus di Ruang 19 diperkirakan hanya sebesari 40% dari jumlah pasien atau sekitar 100 pasien dalam satu bulan. Berdasarkan rencana penelitian yang dilakukan dalam kurun waktu 2 minggu maka dikerucutkan populasi pasien yang dilakukan pemasangan infus di Ruang 19 dalam interval dua minggu sebesar 50 pasien. Populasi perawat adalah seluruh perawat yang bertugas di Ruang 19 dan melakukan pemasangan infus ke pasien. Jumlah perawat Ruang 19 sebesar 23 perawat. Jumlah sampel yang terlibat dalam penelitian sebesar 44 responden. Sedangkan untuk sampel perawat ditetapkan berdasarkan pemasangan infus, sehingga perawat yang dijadikan sampel penelitian adalah semua perawat pelaksana di ruang 19 yakni 23 Penentuan sampel pasien pada penelitian ini menggunakan non probability Teknik sampling menggunakan purposive sampling Dalam penelitian ini menggunakan dua instrumen yakni lembar observasi tindakan pemasangan infus dan lembar observasi Visual Infusion Phlebitis (VIP Scor. Analisis data menggunakan uji spearman rho dengan nilai signifikansi = 0,05. Penelitian ini telah dinyatakan laik etik berdasarkan surat keterangan kelaikan etik . thical clearanc. nomer 400/128/K. 302/2020 yang diterbitkan oleh komisi etik penelitian kesehatan RSUD Dr. Saiful Anwar Malang pada tanggal 14 Mei HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut disajikan hasil penelitian distribusi frekuensi kepatuhan perawat dalam melakukan SPO pemasangan infus dan tanda-tanda Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kepatuhan Perawat dalam Melakukan SPO Pemasangan Infus Kepatuhan SPO Pemasangan Infus Kurang Patuh Patuh Total Frekuensi Persentase (%) Berdasarkan tabel 1 diperoleh informasi bahwa sebagian besar perawat . ,4%) patuh terhadap SPO pemasangan infus. -11- Beti Kusumawati et. Hubungan Kepatuhan Perawat dalam Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional (SPO) Pemasangan Infus dengan Tanda-Tanda Phlebitis Tabel 2. Distribusi Phlebitis Tanda-Tanda Phlebitis Tidak Phlebitis Phlebitis Ringan Total Frekuensi Frekuensi Tanda-Tanda Persentase (%) Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa dari 44 responden, sebagian besar yakni 37 responden atau 84,1% tidak mengalami tandatanda terjadinya phlebitis selama rawat inap. Tabel 3. Tabulasi Silang Kepatuhan SPO Pemasangan Infus dengan TandaTanda Phlebitis Variabel Kepatuhan Tidak Ringan Total Kurang 3 . ,8%) 3 . ,8%) Patuh ,6%) Patuh Total Tanda Phlebitis 4 . ,1%) . ,3%) . ,4%) -0,37 . ,1%) . ,9%) . %) Berdasarkan tabel 3 diperoleh informasi bahwa ada kecenderungan perawat yang mematuhi SPO pemasangan infus, tidak ditemukan tanda-tanda phlebitis. Hasil uji statistik Spearman Rho didapatkan nilai p = 0,013 atau p < 0,05 yang artinya H1 diterima dan H0 ditolak, sehingga dapat diartikan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepatuhan perawat dalam melakukan pemasangan infus sesuai SPO dengan tanda-tanda kejadian Nilai kekuatan hubungan . sebesar 0,370 atau bernilai negatif yang artinya kepatuhan pemasangan infus berbanding terbalik dengan tanda-tanda kejadian phlebitis. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden yakni 38 responden atau 86,4% dilakukan pemasangan infus sesuai standar prosedur operasional (SPO) RSUD. Dr. Saiful Anwar Malang. Sedangkan sejumlah 6 responden atau 13,6% dilakukan pemasangan infus yang masih kurang sesuai dengan standar prosedur operasional (SPO) di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Banyaknya responden yang patuh atau sesuai dengan SPO pemasangan infus dikarenakan bentuk dari profesionalitas. Peneliti berpendapat kepatuhan pemasangan infus sesuai standar prosedur operasional merupakan kewajiban kompetensi profesi. Pemasangan infus merupakan tindakan dasar yang menjadi kompetensi wajib seorang Selain itu tindakan pemasangan infus merupakan tindakan yang sering dilakukan oleh perawat sehingga SPO pemasangan infus sudah sangat dihafal secara teliti oleh perawat. Pendapat peneliti sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ridhani, et al. bahwa tingginya derajat pendidikan dan pemasangan infus serta adanya kebijakan dan prosedur dari rumah sakit memiliki kontribusi positif dalam meningkatkan kepatuhan dan ketepatan perawat dalam pemasangan infus. Hasil penelitian juga menyebutkan sebesar 74% pemasangan infus sesuai prosedur. Tingginya kepatuhan dalam SPO pemasangan infus dilatarbelakangi oleh berbagai faktor yaitu pendidikan, keyakinan, sikap dan kepribadian serta dukungan sosial (Gorski, 2. Berdasarkan hasil penelitian masih ada beberapa responden yang kurang patuh atau kurang sesuai dalam menjalankan SPO pemasangan infus. Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan SPO pemasangan infus yang dilakukan peneliti mulai tanggal 05 Juni 2020 sampai dengan tanggal 30 Juni 2020, dari 36 tahap SPO pemasangan infus yang terdiri dari persiapan alat dan persiapan pasien, tahap pelaksanaan tindakan yang terkadang masih terlewati oleh perawat adalah mencuci tangan sebelum dan sesudah pemasangan infus, desinfeksi area pemasangan dengan gerakan melingkar keluar diameter 6-8 cm. Adanya beberapa responden yang tidak patuh atau kurang sesuai dengan SPO, secara teori Nurhadi . menjelaskan perawat yang bekerja di rumah sakit memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga mempengaruhi penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional perawat dalam melakukan Gorski . membagi prosedur pemasangan infus menjadi tiga tahap, yaitu prekanulasi, kanulasi, dan postkanulasi. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap prekanulasi adalah: mengecek order dokter, mencuci tangan, mempersiapkan peralatan, pengkajian dan persiapan pasien, memilih vena dan lokasi insersi. Tahap kanulasi: pemilihan kateter, sarung tangan, persiapan kulit termpat insersi, venapunsi, stabilisasi kateter dan Sedangkan postkanulasi terdiri dari: labeling, membuang peralatan yang disposibel, edukasi pasien, -12- Beti Kusumawati et. Hubungan Kepatuhan Perawat dalam Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional (SPO) Pemasangan Infus dengan Tanda-Tanda Phlebitis Peneliti berpendapat adanya perawat yang patuh maupun tidak patuh dalam melakukan pemasangan infus sesuai SPO juga dipengaruhi oleh motivasi. Motivasi perawat dalam melakukan pemasangan infus berbeda-beda, perawat yang memiliki motivasi akanterdodong untuk selalu patuh sesuai SPO, sebaliknya perawat yang kurang termotivasi cenderung melupakan atau kurang mencermati tindakan pemasangan infus berdasarkan SPO rumah Motivasi secara internal diri perawat akan Menurut penelitian Galletta et al. , . , komitmen atau konsistensi muncul ketika seseorang telah mengikatkan diri pada suatu posisi atau tindakan, seseorang tersebut akan lebih mudah memenuhi permintaan akan suatu hal yang konsisten dengan posisi atau tindakan sebelumnya dalam hal ini adalah kepatuhan terhadap SPO pemasangan infus (Chambers. Komitmen erat kaitannya dengan tanggung jawab. Tanggung jawab merupakan sesuatu yang harus atau wajib dilakukan dan Dengan adanya rasa tanggung jawab maka akan dapat meningkatkan kinerja terutama dalam hal ini tindakan pemasangan Sebagian perawat mengambil tanggung jawab penuh untuk melaksanakan pemasangan infus dengan baik meskipun sebagian tanggung jawab tersebut ada pada atasan. Hal ini sesuai dengan teori Milgram . yakni aoutomous state dimana seseorang mengambil tanggung jawab penuh atas apa yang dilakukannya (Ridhani et al. , 2. Hanya sebagian kecil responden yang mengalami kejadian phlebitis ringan dengan jumlah 7 responden atau 15,9%. Sejumlah 5 dari 7 responden . ,4%) tampak tanda tanda munculnya phlebitis ringan yang ditemukan pada hari perawatan ke-3. Tanda-tanda yang banyak ditemui muncul pada responden dengan phlebitis ringan diantaranya rasa nyeri di area insersi dan tampak adanya kemerahan pada kulit sekitar area insersi. Data hasil penelitian menunjukan diagnosa pasien yang mengalami phlebitis ringan dua diantaranya terdiagnosa cidera kepala ringan (CKR), dua pasien abses abdomen, satu pasien hernia inguinalis externa (HIL), satu pasien ca buli, dan satu pasien fraktur cruris. Sebagian besar responden sejumlah lima pasien berusia lansia akhir . 5 tahu. dan dua pasien berusia lansia awal . -55 tahu. Seluruh pasien berjenis kelamin laki laki, karena memang ruang 19 khusus untuk pasien bedah laki-laki. Satu pasien tampak tanda-tanda phlebitis setelah terpasang infus hari pertama, satu pasien setelah terpasang pada hari kedua, dan lima pasien setelah terpasang pada hari ketiga. Peneliti berpendapat tanda-tanda kejadian phlebitis dapat muncul lebih dominan pada penyakit tertentu, berdasarkan pengalaman peneliti pada pasien dengan kondisi penyakit akibat infeksi memiliki potensi yang lebih besar terjadinya phlebitis. Penyakit dengan kadar bakteri yang tinggi pada darah memudahkan terjadinya reaksi inflamasi pada area insersi Hasil ini sesuai dengan Theresia & Wardanib . yang menyatakan bahwa manifestasi klinis phlebitis muncul sekurangkurangnya 3x24 jam. Kejadian phlebitis pada responden penelitian terbanyak muncul pada hari perawatan ketiga. Berdasarkan standar prosedur rumah sakit penggantian insersi infus adalah pada hari ketiga perawatan atau ketika terjadi Hal ini sesuai dengan penelitian Alloubani et. bahwa penggantian kateter intravena yaitu 72 jam setelah Meski demikian masih perlu pengamatan lanjutan untuk mengetahui penggantian dengan rentangan 72-96 jam untuk pertimbangan minimalisasi nyeri pasien saat dilakukan penusukan, beban biaya operasional, dan beban kerja perawat. Peneliti tanda-tanda phlebitis lebih banyak ditemui pada hari perawatan ketiga karena berbagai penyebab. Berdasarkan pengalaman peneliti, ditinjau dari faktor mekanis phlebitis bisa saja muncul akibat pergerakan pasien. Aktivitas seperti makan, pergi ke toilet, pergantian baju, beribadah . dan sebagainya melibatkan peran ekstremitas pasien yang terpasang infus. Akumulasi gerakan-gerakan tersebut memungkinkan munculnya jejas-jejas yang secara tidak sengaja memunculkan kerusakan titik insersi. Selain faktor tersebut, peneliti berpendapat agen biologis mikroba muncul setelah insersi Semakin lama agen mikroba akan semakin banyak dan berkoloni hingga puncaknya pada hari ketiga terjadi phlebitis. Hal ini akan diperparah jika tidak dilakukan perawat secara adekuat pada area insersi. Berdasarkan hasil penelitian bahwa ada hubungan antara kepatuhan SPO pemasangan infus dengan tanda-tanda phlebitis di Ruang 19 -13- Beti Kusumawati et. Hubungan Kepatuhan Perawat dalam Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional (SPO) Pemasangan Infus dengan Tanda-Tanda Phlebitis RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Hasil uji statistik Spearman Rho didapatkan nilai p value = 0,013 dan nilai r value = - 0,370 atau bernilai negatif yang artinya kepatuhan pemasangan infus berbanding terbalik dengan tanda-tanda kejadian phlebitis dengan demikian dapat diartikan bahwa kepatuhan SPO pemasangan infus semakin ditingkatkan maka tanda-tanda menurun/tidak Penelitian Ridhani et al. , . didapatkan hubungan antara ketepatan perawat IGD dalam pemasangan infus sesuai SPO dengan phlebitis. Sejalan juga dengan Watung, . bahwa ada pengaruh ketepatan perawat dalam melakukan cuci tangan terhadap kejadian Mayoritas responden yang dilakukan SPO menunjukan tanda-tanda phlebitis, sedangkan responden yang dilakukan pemasangan kurang sesuai dengan SPO mengalami tanda phlebitis Adanya hubungan antara kepatuhan pemasangan infus terhadap tanda-tanda phlebitis dalam penelitian ini diduga juga diperkuat adanya faktor karakteristik responden yakni faktor usia responden. Peneliti berpendapat responden yang mengalami tanda phlebitis ringan mayoritas adalah lansia awal dan lansia akhir. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Ridhani et al. bahwa usia memiliki pengaruh terhadap terjadinya phlebitis berkaitan dengan elastisitas pembuluh darah akibat faktor degeneratif. Meski demikian ada juga penelitian yang tidak sejalan seperti yang dilakukan Pradini . bahwa variabel umur pasien tidak berpengaruh dengan kejadian phlebitis pada pasien rawat inap. Hasil penelitian Rizky . menyebutkan bahwa penyebab phlebitis yang sering terjadi pada pasien sering dipengaruhi oleh adanya faktor karakteristik pasien yaitu faktor usia serta adanya komorbid . eperti diabetes, hipertensi, kanker, dan gagal Hasil tabulasi silang juga menunjukan meskipun pasien dilakukan pemasangan infus sesuai SPO masih ditemukan sejumlah 4 responden . ,1%) yang mengalami tanda phlebitis ringan. Selain itu, ada juga responden yang dilakukan pemasangan infus tidak sesuai SPO tidak mengalami phlebitis yakni sejumlah 3 responden . ,8%). Peneliti berpendapat adanya hasil penelitian yang tidak sesuai dengan hipotesis dimungkinkan karena faktor Peneliti menduga selain faktor ketepatan SPO pemasangan infus, perawatan rutin area insersi oleh perawat di ruang rawat inap sangat penting untuk mengurangi terjadinya phlebitis. Hasil penelitian Alloubani et al. , 2. didapatkan bahwa kejadian phlebitis ditemukan pada 20% responden pada hari perawatan ketiga prevalensinya meningkat hingga lebih dari 50% responden pada hari perawatan kelima setelah Kurangnya perawatan pada area insersi intravena diketahui meningkatkan insiden phlebitis hingga 4%. Meningkatkan perhatian pada perawatan kateter intravena setelah insersi dan mendapatkan medikasi di rumah sakit berhubungan dengan penurunan kejadian phlebitis secara bermakna KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara kepatuhan perawat dalam pemasangan infus sesuai SPO dengan tanda Ae tanda phlebitis dengan nilai p = 0,013 ( p < 0,. Nilai kekuatan hubungan . sebesar -0,370. Disarankan kepada perawat untuk meningkatkan kepatuhan pemasangan infus sesuai SPO yang telah ditetapkan oleh rumah sakit untuk meminimalkan terjadinya phlebitis pada pasien selama rawat inap. Selain itu, perawat juga perlu untuk melakukan pengkajian/assesment risiko terjadinya phlebitis secara berkala selama proses perawatan untuk pencegahan terjadinya phlebitis. Melakukan observasi kepada perawat secara rutin untuk meningkatkan dan mempertahankan kepatuhan dalam pelaksanaan prosedur tindakan pemasangan infus terutama saat cuci tangan sebelum dan setelah tindakan, pemakaian handscoen saat pelaksanaan tindakan dan desinfeksi area insersi infus dengan tehnik yang sesuai SPO. REFERENSI