Vol. No. November 2025, hal, 188-195 https://doi. org/10. 54214/efada. Vol2. Iss02. Revitalisasi Nilai Sosial Masyarakat melalui Penguatan Pembelajaran Ubudiyah di Dusun Kutukan. Kecamatan Ngancar. Kabupaten Kediri Nila Ainu Ningrum. Ari Susetiyo. Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri. Indonesia E-mail: . nila@uit_lirboyo. id, . arisusetiyotribakti@gmail. Info Artikel Kata kunci : nilai sosial Penulis Koresponden : Ari Susetiyo E-mail : arisusetiyotribakti@gmail. ABSTRAK Kehidupan sosial masyarakat di era modern mengalami pergeseran nilai, terutama dalam hal adab, akhlak, dan kedisiplinan beribadah. Fenomena ini juga dirasakan di Dusun Kutukan. Kecamatan Ngancar. Kabupaten Kediri, di mana sebagian anak-anak mulai kurang memperhatikan etika pergaulan dan ketepatan waktu dalam melaksanakan ibadah. Berdasarkan kondisi tersebut, tim PKM-PM melaksanakan program AuRevitalisasi Nilai Sosial Masyarakat melalui Penguatan Pembelajaran Ubudiyah di Dusun Kutukan. Ngancar. Kabupaten KediriAy dengan tujuan menumbuhkan kembali kesadaran nilai-nilai sosial dan religius melalui kegiatan keagamaan yang terarah dan aplikatif. Kegiatan ini dilaksanakan melalui tiga bentuk pendampingan utama: . Kajian Keislaman Tematik bagi anak-anak yang mencakup materi adab pergaulan, pentingnya shalat tepat waktu, dan pembentukan akhlak di era digital. Penguatan pembelajaran ubudiyah di TPQ melalui pengajaran membaca dan memahami Al-QurAoan, tajwid, doa harian, serta kisah teladan para nabi. Pendalaman kajian ubudiyah tentang najis, yang bertujuan meningkatkan pemahaman anak-anak terhadap kebersihan dan kesucian dalam ibadah. Metode pelaksanaan meliputi pendekatan edukatif-partisipatif melalui ceramah interaktif, praktik langsung, permainan edukatif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman anakanak terhadap adab dan ubudiyah, kedisiplinan dalam beribadah, serta perilaku sosial yang lebih sopan dan saling Selain itu, masyarakat dan pengajar TPQ merasakan adanya sinergi baru dalam membina karakter religius anak-anak. Dengan demikian, program ini berhasil menjadi upaya nyata dalam merevitalisasi nilai-nilai sosial dan spiritual masyarakat melalui penguatan aspek ubudiyah, serta berpotensi dikembangkan sebagai model pendampingan keagamaan berbasis masyarakat di wilayah pedesaan. PENDAHULUAN Kehidupan sosial masyarakat modern pada era globalisasi mengalami tantangan yang semakin kompleks. Kemajuan teknologi, industrialisasi, serta perubahan pola hidup masyarakat telah menggeser orientasi sosial ke arah yang lebih individualistik. Budaya digital yang serba cepat sering kali membuat masyarakat menjauh dari interaksi sosial yang harmoni, sementara rutinitas Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Nila Ainu Ningrum. Ari Susetiyo ekonomi dan gaya hidup urban menjadikan nilai-nilai kebersamaan semakin terpinggirkan. Kondisi ini memunculkan gejala degradasi nilai sosial seperti melemahnya solidaritas, menurunnya kepedulian antarwarga, serta berkurangnya semangat gotong royong yang selama ini menjadi identitas sosial bangsa Indonesia. Dalam tradisi keilmuan Islam, nilai sosial tidak dapat dipisahkan dari dimensi ubudiyah. Konsep ubudiyah tidak hanya mengandung aspek ritual yang menegaskan hubungan hamba dengan Allah SWT, tetapi juga mengandung implikasi sosial yang sangat kuat. Ibadah-ibadah seperti shalat berjamaah, zakat, infak, dan sedekah merupakan instrumen yang membentuk karakter sosial masyarakat (Haryani, 2. Shalat berjamaah menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetaraan. zakat dan sedekah memperkuat mekanisme keadilan sosial dan pengentasan kesenjangan. ritual keagamaan lainnya mengarahkan individu untuk menjadi bagian dari komunitas yang harmonis dan saling peduli. Dengan demikian, revitalisasi ubudiyah bukan hanya upaya penguatan spiritual, melainkan juga strategi sosial untuk membangun masyarakat yang solid,(Chotijah dkk. inklusif, dan berkeadaban. Dusun Kutukan merupakan salah satu wilayah pedesaan yang memiliki kekayaan sosialbudaya serta keragaman keyakinan. Masyarakatnya hidup dalam dinamika sosial yang dipengaruhi oleh perubahan zaman, mobilitas penduduk, serta perkembangan teknologi informasi. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai fenomena seperti menurunnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosial, melemahnya interaksi antarwarga, dan munculnya segregasi sosial menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan sosial di dusun ini. Namun demikian. Dusun Kutukan tetap memiliki potensi besar untuk membangun harmoni sosial melalui pendekatan agama yang inklusif, kolaboratif (Tanjudan & Farid, 2. serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan Pengabdian ini menitikberatkan pada penguatan nilai-nilai ubudiyah sebagai landasan revitalisasi sosial. Melalui kegiatan berbasis keagamaan seperti pembinaan shalat berjamaah, pelatihan baca Al-QurAoan, penguatan kegiatan keagamaan rutin, serta edukasi tentang zakat dan sedekah, program ini berupaya memberikan kontribusi nyata bagi penguatan kohesi sosial masyarakat Dusun Kutukan. Pengabdian ini tidak hanya menekankan aspek ritual, tetapi juga mendorong internalisasi nilai-nilai sosial ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga tercipta hubungan yang lebih harmonis, saling mendukung, dan produktif. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan secara rinci upaya revitalisasi nilai sosial melalui praktik ubudiyah. Selain itu, artikel ini juga menganalisis sejauh mana kegiatan tersebut berdampak terhadap peningkatan solidaritas, harmoni, dan kohesi sosial masyarakat Dusun Kutukan. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi model penguatan nilai sosial berbasis keagamaan di lingkungan masyarakat pedesaan yang tengah beradaptasi dengan perubahan zaman. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Revitalisasi Nilai Sosial Masyarakat melalui Penguatana METODE PENGABDIAN Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini menggunakan metode Participatory Action Research (PAR) (Afandi dkk, 2. Metode ini dipilih karena menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam seluruh proses kegiatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi bersama. Pendekatan PAR memungkinkan masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan sebagai pelaku utama dalam merancang dan melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Pelaksanaan kegiatan difokuskan di Masjid Al-Hikmah Dusun Kutukan. Kecamatan Ngancar. Kabupaten Kediri, yang merupakan pusat aktivitas keagamaan masyarakat. Subjek kegiatan mencakup masyarakat Muslim setempat, pengurus masjid, tokoh agama, serta pemuda dan ibu-ibu jamaah pengajian. Keterlibatan berbagai unsur masyarakat ini bertujuan untuk menciptakan sinergi dalam upaya penguatan pembelajaran ubudiyah dan revitalisasi nilai-nilai sosial keagamaan di lingkungan sekitar masjid. Tahapan pelaksanaan metode PAR dalam kegiatan ini diawali dengan tahap perencanaan, di mana tim PKM bersama masyarakat melakukan identifikasi kebutuhan dan potensi yang dimiliki oleh Dusun Kutukan. Proses ini dilakukan dengan observasi langsung terhadap kegiatan keagamaan di Masjid Al-Hikmah, serta diskusi informal dengan pengurus masjid dan tokoh masyarakat untuk memahami kondisi aktual pembelajaran ubudiyah, terutama di kalangan anak-anak dan pemuda. Dari hasil perencanaan ini disepakati bahwa kegiatan PKM akan berfokus pada penguatan pembelajaran ubudiyah, peningkatan pemahaman keagamaan dasar, serta pembinaan karakter islami di era digital. Tahap berikutnya adalah tindakan atau pelaksanaan kegiatan. Pada tahap ini, tim PKM bersama masyarakat melaksanakan serangkaian kegiatan pembelajaran keagamaan yang terintegrasi dengan aktivitas masjid. Kegiatan yang dilakukan meliputi kajian keislaman tematik bagi anak-anak yang berfokus pada adab pergaulan, pentingnya shalat tepat waktu, dan pembentukan akhlak mulia di era digital. Selain itu, dilakukan pula penguatan pembelajaran ubudiyah di TPQ Masjid AlHikmah melalui pengajaran membaca dan memahami Al-QurAoan, tajwid, doa-doa harian, serta kisah-kisah teladan para nabi. Pendalaman materi ubudiyah seperti kajian najis dan thaharah juga diberikan secara aplikatif agar peserta mampu mengamalkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh kegiatan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan tokoh agama dan pengurus masjid sebagai pembimbing, serta mahasiswa sebagai fasilitator kegiatan. Tahap terakhir dalam pelaksanaan PAR adalah evaluasi partisipatif, yaitu proses meninjau kembali kegiatan yang telah dilaksanakan bersama masyarakat. Evaluasi dilakukan melalui diskusi bersama pengurus masjid dan peserta kegiatan untuk menilai tingkat keaktifan, pemahaman, dan Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Nila Ainu Ningrum. Ari Susetiyo dampak kegiatan terhadap peningkatan praktik ubudiyah di lingkungan Masjid Al-Hikmah. Dari hasil evaluasi diperoleh bahwa kegiatan PKM ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan minat anak-anak dalam mengikuti kegiatan keagamaan, serta meningkatnya partisipasi pemuda dalam kegiatan masjid (Rozi dkk. , 2. Secara keseluruhan, penerapan metode Participatory Action Research (PAR) dalam PKM ini menempatkan masyarakat sebagai bagian integral dari proses pengembangan diri dan lingkungan. Melalui keterlibatan aktif dalam setiap tahapan kegiatan, masyarakat Dusun Kutukan tidak hanya memperoleh pengetahuan keagamaan, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong dalam membangun kehidupan religius yang harmonis di sekitar Masjid Al-Hikmah. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berupaya menghadirkan kontribusi edukatif bagi anak-anak TPQ dan lingkungan masjid melalui penguatan pemahaman keagamaan dasar yang sehari-hari. Pendekatan mengintegrasikan pembelajaran ubudiyah, literasi keislaman, dan pengembangan karakter yang sesuai dengan tantangan era digital. (Iqbal & Astutik, 2. Seluruh aktivitas dirancang dalam kerangka pembinaan berkelanjutan yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, namun juga mendorong internalisasi nilai serta praktik spiritual yang benar. Pembahasan ini menguraikan tiga bentuk aktivitas inti yang dijalankan, mencakup kajian ubudiyah tentang najis, pengajaran materi ubudiyah kepada santri TPQ, serta penyampaian materi keislaman tematik bagi anak-anak. Ketiganya dilaksanakan melalui pendekatan pedagogis yang adaptif, komunikatif, dan berbasis pada kebutuhan peserta didik, sehingga kegiatan ini mampu memberikan manfaat nyata di tataran pengetahuan, sikap, maupun keterampilan keagamaan Kegiatan Kajian Ubudiyah Pengajaran TPQ Kajian Keislaman Anak Materi yang Disampaikan Pengertian najis, macam-macam najis, serta tata cara penyucian najis sesuai Bacaan Al-QurAoan, tajwid dasar, doa-doa harian, serta kisah keteladanan Nabi Adab pergaulan, pentingnya shalat tepat waktu, dan akhlak di era digital Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Revitalisasi Nilai Sosial Masyarakat melalui Penguatana Pendalaman Kajian Ubudiyah tentang Najis Kegiatan pertama berfokus pada pemberian materi ubudiyah yang membahas secara mendalam konsep najis, klasifikasinya, serta tata cara penyuciannya berdasarkan literatur fikih klasik dan kontemporer. Tema ini dipilih karena pemahaman tentang najis merupakan prasyarat utama sahnya ibadah, terutama shalat, yang menjadi kewajiban harian seorang Muslim. Pada level pendidikan dasar nonformal seperti TPQ, aspek ini sering kali belum dijelaskan secara sistematis, sehingga anak-anak hanya mengingat secara parsial atau sekadar mengikuti praktik yang mereka lihat tanpa mengetahui landasan hukumnya. Pembahasan dimulai dengan pengenalan konsep thaharah sebagai fondasi ibadah. Penjelasan ini dikaitkan dengan pendapat ulama dalam karya seperti Fiqh Sunnah dan al-Fiqh al-Manhaji, sehingga anak-anak memahami bahwa kebersihan bukan hanya aspek higienis, tetapi memiliki dimensi spiritual. Pembedaan antara najis ringan, sedang, dan berat dijelaskan menggunakan contoh konkret dan media visual agar mudah dipahami. Misalnya, penjelasan tentang najis mughalazhah dikaitkan dengan interaksi sehari-hari dengan hewan peliharaan, sementara najis mukhaffafah dihubungkan dengan peristiwa yang sering terjadi pada anak kecil. Metode penyucian najis disampaikan dengan pendekatan demonstratif. Anak-anak diperlihatkan bagaimana membersihkan najis secara benar melalui simulasi menggunakan alat peraga seperti air, media kain, dan benda-benda yang relevan. Strategi ini membantu mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya secara praktis. Pendekatan praktis tersebut juga diperkuat dengan pemberian contoh kasus, seperti bagaimana membersihkan lantai mushola yang terkena najis atau bagaimana memastikan kebersihan pakaian sebelum shalat. Penekanan juga diberikan pada pentingnya menjaga lingkungan ibadah agar tetap suci. Anak-anak diajak melakukan observasi langsung untuk menilai kebersihan karpet, tempat wudhu, dan perlengkapan mushola. Pendekatan ini membantu menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif dan kesadaran bahwa kebersihan adalah bagian dari amal ibadah. Melalui pembelajaran yang komprehensif ini, peserta kegiatan tidak hanya memperoleh pemahaman normatif tentang najis, tetapi juga kemampuan reflektif dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa kajian ubudiyah mampu menjadi instrumen efektif dalam membentuk karakter religius dan perilaku bersih sejak usia dini. Penguatan Pembelajaran Ubudiyah di TPQ Melalui Pengajaran Al-QurAoan. Tajwid. Doa Harian, dan Kisah Teladan Nabi Aktivitas kedua diarahkan untuk membantu proses pembelajaran di TPQ Mushola Hidayatus Sholihin, khususnya dalam aspek bacaan Al-QurAoan, ilmu tajwid dasar, doa-doa harian, serta penguatan karakter melalui kisah-kisah teladan Nabi. Pembelajaran ini dirancang dengan Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Nila Ainu Ningrum. Ari Susetiyo pendekatan yang disesuaikan dengan level perkembangan kognitif dan tingkat literasi keagamaan Pada aspek pembelajaran Al-QurAoan, metode yang digunakan berorientasi pada peningkatan ketepatan makhraj dan kesadaran tartil. Santri dibimbing secara individual dan kelompok kecil dengan memperhatikan perbedaan kemampuan membaca. Pendekatan personalisasi ini penting mengingat kemampuan membaca Al-QurAoan pada anak usia dini sering kali sangat variatif. Setiap sesi dimulai dengan murojaAoah untuk memperkuat hafalan sekaligus memastikan kontinuitas proses Dalam pengajaran tajwid, prinsip penyederhanaan konsep menjadi strategi utama. Kaidahkaidah dasar seperti mad, idgham, ikhfaAo, dan qalqalah diperkenalkan menggunakan teknik mnemonik dan visual. Misalnya, huruf-huruf ikhfaAo ditampilkan dalam bentuk kartu warna dan anak-anak diminta mengelompokkan contoh ayat. Pendekatan ini memudahkan mereka memahami aturan yang secara teori abstrak. Pembelajaran doa sehari-hari diberikan melalui pendekatan habituasi. Anak-anak diajak mempraktikkan doa ketika masuk dan keluar mushola, doa belajar, serta doa sebelum tidur. Kegiatan ini dipadukan dengan pemaknaan sederhana mengenai alasan membaca doa, sehingga mereka tidak sekadar menghafal, tetapi memahami konteks penggunaannya. Penguatan melalui nyanyian islami dan permainan edukatif juga menambah minat mereka. Bagian yang sangat signifikan adalah penyampaian kisah teladan Nabi. Narasi-narasi moral seperti kejujuran Nabi Muhammad, kesabaran Nabi Ayyub, atau kepemimpinan Nabi Musa disajikan menggunakan pendekatan storytelling interaktif. Teknik bertanya . uestioning techniqu. diterapkan untuk merangsang kemampuan berpikir kritis anak. Mereka diminta menghubungkan nilai-nilai kisah dengan perilaku sehari-hari, seperti kejujuran dalam bermain atau kedisiplinan dalam beribadah. Kegiatan pengajaran di TPQ ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik. Strategi pembelajaran yang dipadukan antara instruksi langsung, permainan edukatif, dan dialog moral membuat suasana belajar menjadi Dengan demikian, penguatan pembelajaran ubudiyah di TPQ benar-benar berfungsi sebagai ruang pembentukan karakter spiritual yang menyenangkan dan efektif. Kajian Keislaman Tematik bagi Anak-anak: Adab Pergaulan. Shalat Tepat Waktu, dan Akhlak di Era Digital Aktivitas ketiga merupakan kajian keislaman tematik yang ditujukan untuk memperluas pemahaman anak-anak terkait adab pergaulan, urgensi menjaga shalat tepat waktu, serta tuntunan akhlak dalam menghadapi dunia digital. Tema ini dipilih sebagai respons terhadap tantangan sosial Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Revitalisasi Nilai Sosial Masyarakat melalui Penguatana dan moral yang dihadapi generasi anak masa kini, terutama yang hidup dalam lingkungan yang sarat teknologi. Kajian tentang adab pergaulan dimulai dengan membahas konsep dasar akhlak dalam perspektif Islam. Anak-anak diajak memahami nilai salam, senyum, sopan santun, dan menghormati orang tua sebagai bagian dari ibadah. Metode simulasi sosial digunakan untuk melatih mereka menghadapi situasi nyata, seperti cara meminta maaf, berbagi mainan, atau berbicara dengan teman. Pendekatan ini penting untuk membentuk kecerdasan sosial sejak dini. Sesi mengenai pentingnya shalat tepat waktu diawali dengan penjelasan sederhana tentang fungsi shalat sebagai tiang agama. Praktik pembiasaan dilakukan melalui simulasi adzan, iqamah, dan gerakan shalat secara benar. Anak-anak diberi kesempatan memimpin doa atau adzan sebagai bentuk latihan kepemimpinan spiritual. Diskusi ringan mengenai konsekuensi meninggalkan shalat dilakukan dengan bahasa yang edukatif, tidak menakut-nakuti. Pembahasan tentang akhlak di era digital menjadi bagian paling relevan dengan kondisi anak masa kini. Anak pada usia sekolah dasar sudah banyak terpapar gawai, permainan daring, dan konten digital. Oleh karena itu materi difokuskan pada literasi digital dasar berbasis etika Islam. Anak-anak diajak memahami batas penggunaan gawai, pentingnya meminta izin orang tua, serta bahaya cyberbullying. Semua dijelaskan secara sederhana dengan contoh kasus yang dekat dengan kehidupan mereka. Nilai ihsan, amanah, dan hifdz al-lisan dikaitkan dengan perilaku online, seperti tidak menyebarkan hoaks, menjaga kata-kata di media digital, dan menghindari konten yang tidak Pembelajaran tematik keislaman ini dirancang bukan sekadar transfer wawasan, tetapi juga penguatan kesadaran moral yang dapat diwujudkan dalam tindakan nyata. Integrasi antara diskusi, permainan edukatif, dan role-play berhasil membuat materi yang sebenarnya kompleks menjadi lebih mudah dicerna oleh anak-anak. Dengan demikian, program ini berkontribusi pada pembentukan pemahaman keagamaan yang adaptif terhadap tantangan sosial kontemporer. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kegiatan PKM di Dusun Kutukan. Ngancar Kabupaten Kediri berfokus pada revitalisasi nilai-nilai sosial masyarakat melalui penguatan pembelajaran ubudiyah. Meliputi kajian keislaman tematik bagi anak-anak, penguatan ubudiyah di TPQ, serta pendalaman tentang materi najis. Meningkatan bacaan dan pemahaman Al-QurAoan, membangun karkater dan akhlak di era digital, serta meningkatkan peran aktif pemuda dalam kegiatan keagamaan. Pembentukan Kelompok Pembinaan Ubudiyah Berkelanjutan, yang melibatkan ustadz, pengurus masjid, dan pemuda sebagai tim penggerak kegiatan keagamaan rutin di Masjid Al-Hikmah. Kelompok ini dapat menjadi wadah untuk melanjutkan kegiatan kajian dan pembelajaran Al-QurAoan bagi anak-anak maupun remaja. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Nila Ainu Ningrum. Ari Susetiyo Pengembangan Program TPQ Mandiri, dengan menyusun kurikulum sederhana yang menekankan pada pemahaman ubudiyah, akhlak, dan adab pergaulan di era digital. Program ini dapat dijalankan secara terjadwal agar anak-anak memiliki pembelajaran yang berkesinambungan. Pelatihan untuk Kader Pemuda Masjid, guna menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Pelatihan dapat berupa manajemen kegiatan masjid, keterampilan mengajar TPQ, serta pembinaan dakwah remaja. Melalui kegiatan PKM ini terwujud masyarakat yang religius, berakhlak mulia, dan memiliki solidaritas sosial yang kuat, sekaligus menjadi wadah pembelajaran nyata bagi mahasiswa dalam menerapkan ilmu dan berkontribusi pada pembangunan moral-spiritual masyarakat. DAFTAR PUSTAKA