Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 4 No 1 Januari 2024. E-ISSN: 2774-5244 Indonesian Journal of Health and Medical ISSN: 2774-5244 (Onlin. Journal Homepage: http://ijohm. org/index. php/ijohm HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE DAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT KULIT DI UPTD PUSKESMAS SEKAR JAYA KABUPATEN OKU Sonia 1*. Eko Heryanto2. Lina Oktavia 3. Eva Yustati4 S1 Kesehatan Masyarakat. STIKes Al MaAoarif Baturaja Corresponding Author: * soniak@gmail. ABSTRAK Higiene dan sanitasi yang buruk masih merupakan masalah kesehatan terbesar di negara Pada dasarnya penyakit kulit di Indonesia ini biasanya lebih banyak disebabkan oleh berbagai infeksi bakteri jamur, parasit serta penyakit dasar alergi. Kasus penyakit kulit di UPTD Puskesmas Sekar Jaya terdiri dari penyakit kulit akibat, jamur, bakteri, scabies dan dermatitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan personal hygiene dan sanitasi lingkungan dengan kejadian penyakit kulit. Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan pasien yang datang berobat ke Puskesmas Sekar Jaya dengan rata-rata kunjungan perbulan adalah 100 pasien. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square. Berdasarkan analisis univariat diperoleh hasil sebanyak 36 responden . %) menderita penyakit kulit, sebanyak 43 responden . %) dengan kebersihan tangan dan kuku tidak baik, sebanyak 44 responden . %) dengan kebersihan kulit tidak baik, sebanyak 37 responden . %) dengan sumber air bersih kurang baik dan sebanyak 54 responden . %) dengan sarana pembuangan sampah tidak memenuhi syarat . Hasil analisis bivariat diperoleh hasil variabel kebersihan tangan dan kuku dengan p value 0,000, kebersihan kulit dengan p value 0,000, sumber air bersih dengan p value 0,000 dan sarana pembuangan sampah dengan p value 0,000 Kesimpulan: Ada hubungan yang bermakna antara kebersihan tangan dan kuku, kebersihan kulit, sumber air bersih dan sarana pembuangan sampah dengan kejadian penyakit kulit di Puskesmas Sekar Jaya Kabupaten OKU tahun Kata Kunci: penyakit kulit, personal hygiene dan sanitasi lingkungan PENDAHULUAN Masalah kesehatan masyarakat merupakan faktor-faktor utama seperti sosial, ekonomi serta kondisi lingkungan. Namun banyak yang tidak sadar bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi penentu timbulnya permasalahan kesehatan, permasalahan yang sering dianggap sepele seperti higiene dan sanitasi ternyata membawa masalah yang paling besar. lingkungan yang bersih minimal dapat Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 4 No 1 Januari 2024. E-ISSN: 2774-5244 memperkecil angka penyebaran bakteri, sehingga mencegah timbulnya penyakit. Kesehatan lingkungan merupakan kesehatan yang sering berhubungan dengan kualitas hidup manusia, apabila kualitas lingkungan hidup yang tidak baik maka kesehatan lingkungan juga menjadi tidak baik sebaliknya apabila kualitas lingkungan hidup baik maka kesehatan juga akan menjadi baik. Apabila kualitas lingkungan hidup tidak baik maka akan menimbulkan penyakit, salah satunya seperti penyakit kulit (Mundiatun & Daryanto, 2. Di negara berkembang pada umumnya sanitasi kesehatan berupa fasilitas yaitu kulaitas air bersih, metode pembuangan kotoran manusia yang baik dan pendidikan Di Indonesia masih banyak ditemukan masyarakat sosial ekonomi menengah ke bawah, yang dikarenakan perilaku hidup bersih yang kuranHigiene dan sanitasi yang buruk masih merupakan masalah kesehatan terbesar di negara Menurut WHO air yang tidak bersih, sanitasi yang buruk,dan higiene yang tidak baik adalah penyebab kematian utama dan penyebab penyakit kulit terbanyak kedua di negara berkembang. Meningkatkan higiene dan sanitasi adalah Langkah penting untuk meningkatkan kesehatan anak dan prioritas utama dalam promosi kesehatan untuk negara berkembang (Purnama, 2. Indonesia di tahun 2015 menunjukan yaitu penyakit kulit dengan jaringan subkutan menjadi peringkat ketiga dari sepuluh penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan pada rumah sakit se-Indonesia berdasarkan jumlah kunjungan yaitu sebesar 192,414 kunjungan. Pada dasarnya penyakit kulit di Indonesia ini biasanya lebih banyak disebabkan oleh berbagai infeksi bakteri jamur, parasit serta penyakit dasar alergi (Kemenkes RI, 2. Di UPTD Puskesmas Sekar Jaya, kasus penyakit kulit selalu masuk dalam 10 penyakit terbanyak. Pada tahun 2020 proporsi kasus penyakit kulit sebesar 106 kasus . ,4%) dari 1962 kasus penyakit, kemudian data pada tahun 2021 menjadi 132 kasus . ,9%) dari 1913 kasus penyakit dan pada tahun 2022 menjadi 275 kasus . ,3%) dari 4345 kasus penyakit. Kasus penyakit kulit di UPTD Puskesmas Sekar Jaya terdiri dari penyakit kulit akibat, jamur, bakteri, scabies dan dermatitis. (UPTD Puskesmas Sekar Jaya, 2020-2. Prilaku masyarakat menjadi penentu gaya hidup untuk mewujudkan lingkungan yang diinginkan dan mengurangi resiko terjadinya penyakit. Kualitas lingkungan berpengaruh pada status kesehatan seperti perilaku kebersihan kulit, pelayanan kesehatan, dan kulaitas air bersih (Rafiqi, 2. Berdasarkan uraian diatas maka saya tertarik melakukan penelitian tentang hubungan personal hygiene dan sanitasi lingkungan dengan kejadian penyakit kulit Di UPTD Puskesmas Sekar Jaya Kabupaten OKU Tahun 2023 METODE Penelitian ini merupakan kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional . Dalam penelitian cross-sectional peneliti akan mencari apakah ada hubungan antara variabel bebas . aktor risik. dengan variabel terikat dengan melakukan pengukuran sesaat. Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 4 No 1 Januari 2024. E-ISSN: 2774-5244 Pengukuran sesaat yang dimaksud ialah pengukuran atau pengamatan yang dilakukan dalam sekali waktu saja dan secara bersamaan tanpa perlu melakukan follow up (Dahlan, 2. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan pasien yang datang berobat ke Puskesmas Sekar Jaya dengan rata-rata kunjungan perbulan adalah 100 pasien. Dalam penelitian ini sampel yang akan diambil sebesar 100 Sedangkan Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Accidental Sampling. Teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja pasien yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Responden dalam penelitian ini adalah pasien yang berkunjung dan berobat ke puskesmas sekarjaya dengan rata-rata kunjungan perbulan adalah 100 pasien. ini juga mudah dan dijangkau karena lokasinya yang terletak di UPTD Puskesmas Sekarjaya yang memudahkan pasien untuk berobat. Hasil Pengumpulan Data dan Analisis Data Hasil pengumpulan data dan analisis data berdasarkan hasil pengisian kuisioner pada tanggal 23 juni 2023 didapatkan jawaban responden yang disajikan dalam bentuk tabel, maka diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 1 Hubungan Kebersihan tangan dan kuku dengan Kejadian penyakitkulit di UPTD Puskesmas Sekar Jaya Kabupaten OKU Kebersihan tangan Kejadian penyakit kulit Sakit Tidak Total Tidak baik 74,4% 25,6% Baik 7,0% 93,0% Total P value 0,000 Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa proporsi responden dengan kebersihan tangan dan kuku tidak baik dan menderita penyakit kulit sebanyak 32 responden . ,4%), lebih besar dibandingkan dengan proporsi responden dengan kebersihan tangan dan kukunya baik dan menderita penyakit kulit yaitu sebanyak 4 responden . %). Hasil uji chi square diperoleh p value 0,000. Hal ini berarti bahwa ada hubungan yang bermakna antara kebersihan tangan dan kuku dengan kejadian penyakit kulit di UPTD Puskesmas Sekar Jaya Kabupaten OKU Tahun 2023. Berdasarkan hasil analisa diketahui bahwa dari 100 responden sebanyak 43 responden . %) dengan kebersihan tangan dan kuku tidak baik lebih sedikit dari Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 4 No 1 Januari 2024. E-ISSN: 2774-5244 responden yang kebersihan tangan dan kukunya baik yaitu sebanyak 57 responden . %). Hasil uji chi square diperoleh p value 0,000. Hal ini berarti bahwa ada hubungan yang bermakna antara kebersihan tangan dan kuku dengan kejadian penyakit kulit. Dalam penelitian ini didapatkan responden dengan kebersihan tangan dan kuku tidak baik dan menderita penyakit kulit sebanyak 32 responden . ,4%). Menurut asumsi peneliti hal ini karena responden kurang memahami pentingnya kebersihan tangan dan kuku dalam mencegah penyakit kulit dan penyebaran infeksi. Kurangnya kesadaran tentang dampak negatif dari kebersihan yang buruk dapat menyebabkan mereka mengabaikan praktik-praktik kebersihan. Selain itu responden memiliki keterbatasan terhadap air bersih, sabun, atau peralatan yang diperlukan untuk merawat tangan dan kuku sehingga kesulitan untuk melakukan praktik kebersihan tangan dan kuku. Untuk mengatasi hal tersebut Puskesmas dapat melaksanakan penyuluhan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kebersihan tangan dan kuku. Penyuluhan ini dapat menggunakan berbagai media seperti poster, brosur, pamflet, ceramah, dan pertemuan kelompok. Tabel 2 Hubungan Kebersihan kulit dengan Kejadian penyakit kulit di UPTDPuskesmas Sekar Jaya Kabupaten OKU Kejadian penyakit kulit Sakit Tidak Total Tidak baik 70,5% 29,5% Baik 8,9% 91,1% Kebersihan kulit Total P value 0,000 Berdasarkan tabel2 menunjukkan bahwa proporsi responden yang sumber air bersihnya kurang baik dan menderita penyakit kulit sebanyak 29 responden . ,4%), lebih besar bila dibandingkan dengan proporsi responden yang sumber air bersihnya baik dan menderita penyakit kulit yaitu 7 responden . ,1%). Hasil uji chi square diperoleh p value 0,000. Hal ini berarti bahwa ada hubungan yang bermakna antara sumber air bersih dengan kejadian penyakit kulit di UPTD Puskesmas Sekar Jaya Kabupaten OKU Tahun 2023. Berdasarkan hasil analisa data diketahui bahwa dari 100 responden sebanyak 44 responden . %) dengan kebersihan kulit tidak baik lebih sedikit dari responden dengan kebersihan kulitnya baik yaitu sebanyak 56 responden . %). Hasil uji chi square diperoleh p value 0,002. Hal ini berarti bahwa ada hubungan yang bermakna antara kebersihan kulit dengan kejadian penyakit kulit. Dalam penelitian ini didapatkan responden dengan kebersihan kulit tidak baik Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 4 No 1 Januari 2024. E-ISSN: 2774-5244 dan menderita penyakit kulit sebanyak 31 responden . ,5%). Menurut asumsi peneliti hal ini dikarenakan kebiasaan keluarga atau budaya yang tidak mementingkan kebersihan kulit dapat mempengaruhi perilaku individu. Jika responden tumbuh dalam lingkungan di mana praktik-praktik kebersihan tidak diutamakan, mereka akan mengikuti kebiasaan yang sama. Selain itu kurangnya fasilitas untuk mandi seperti sabun dan handuk yang memadai dapat mempengaruhi kebiasaan kebersihan kulit. Puskesmas dapat bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam mengadvokasi dan merencanakan program-program kebersihan kulit. Ini melibatkan alokasi anggaran dan sumber daya untuk pengembangan infrastruktur kebersihan, penyuluhan, dan fasilitas umum. Tabel 3 Hubungan Sarana pembuangan sampah dengan Kejadian penyakit kulit di UPTD Puskesmas Sekar Jaya Kabupaten OKU Sarana pembuangan Kejadian penyakit P value Sakit Tidak Total Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat 4,3% 95,7% Total 0,000 Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa proporsi responden yang sarana pembuangan sampahnya tidak memenuhi syarat dan menderita penyakit kulit sebanyak 34 responden . %), lebih besar bila dibandingkan dengan proporsi responden yang sarana pembuangan sampahnya memenuhi syarat dan menderita penyakit kulit yaitu 2 responden . ,3%). Hasil uji chi square diperoleh p value 0,000. Hal ini berarti bahwa ada hubungan yang bermakna antara sarana pembuangan sampah dengan kejadian penyakit kulit di UPTD Puskesmas Sekar Jaya Kabupaten OKU Tahun 2023. Berdasarkan hasil analisa data diketahui bahwa dari 100 responden sebanyak 54 responden . %) dengan sarana pembuangan sampah tidak memenuhi syarat lebih besar dari responden yang sarana pembuangan sampahnya memenuhi syarat yaitu sebesar 45 responden . %). Hasil Hasil uji chi square diperoleh p value 0,000. Hal ini berarti bahwa ada hubungan yang bermakna antara sarana pembuangan sampah dengan kejadian penyakit kulit. Dalam penelitian ini didapatkan responden yang sarana pembuangan sampahnya tidak memenuhi syarat dan menderita penyakit kulit sebanyak 34 responden . %). Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 4 No 1 Januari 2024. E-ISSN: 2774-5244 Menurut asumsi peneliti, rendahnya tingkat kesadaran masyarakat tentang pentingnya pembuangan sampah yang benar dan higienis dapat mengakibatkan praktik pembuangan sampah sembarangan, yang pada akhirnya dapat menyebabkan sarana pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat. Selain tiu tempat pembuangan sampah yang memenuhi syarat memerlukan biaya untuk pembangunan, pengumpulan, pemilahan, pengangkutan, dan pembuangan akhir yang higienis. Masyarakat tidak mampu membiayai semua tahapan ini. Sarana pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan penumpukan sampah di sekitar lingkungan tempat tinggal. Penumpukan sampah ini dapat menjadi tempat berkembang biak bagi serangga, tikus, atau hewan lain yang dapat membawa mikroorganisme penyebab penyakit. Paparan terhadap serangga atau hewan ini dapatmeningkatkan risiko infeksi kulit. Puskesmas dapat bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam mengidentifikasi wilayah-wilayah yang membutuhkan tempat sampah baru atau perlu diperbaiki. Pemerintah daerah dapat memberikan dukungan dana dan sumber daya untuk memastikan tempat sampah yang memenuhi syarat. KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan bermakna antara kebersihan tangan dan kuku, kebersihan kulit, sumber air bersih dan sarana pembuangan DAFTAR PUSTAKA