Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 Wacana Kekerasan terhadap Anak di Lingkungan Pendidikan pada Laporan Khas Redaksi Sore TRANS7 Episode 17 Februari 2020 Eva Saulina Simannungkalit . Dyah Kusumawati . Ilmu Komunikasi. Fakultas Industri Kreatif. Institut Teknologi dan Bisnis Kalbis Jalan Pulomas Selatan Kav. Jakarta 132101 Email: evasaulinas@gmail. Email: dyah. kusumawati@kalbis. Abstract: The phenomenon of violence in the school environment is not a new case for Indonesian On February 17, 2020. Laporan Redaksi Sore raised the topic of violence against children in two cases that occurred in close proximity and had not even reached a week. The aim of this research is to dismantle the discourse of violence against children in the educational environment on Laporan Khas Redaksi Sore Trans7. Researchers used the Hierarchy of Influences Model with a qualitative approach and the Norman Fairclough critical discourse analysis method with three dimensions of analysis, namely texts, discourse practices, and sociocultural practices. This research found that editors carry out the practice of selecting diction and metaphors, and carrying the humanism of the news. Beside that. Laporan Khas is not only as a talkative media for just promoting news, but merely wants to build a discourse of the struggle for humanity in the public eye. Moreover, socially. TRANS7 represents the ideology of humanist capitalism in its reporting. Keywords: critical discourse analysis, television, violence against children Abstrak: Fenomena kekerasan di lingkungan sekolah bukanlah suatu perkara yang baru bagi masyarakat Indonesia. Pada 17 Februari 2020. Laporan Khas Redaksi Sore mengangkat topik kekerasan terhadap anak atas dua kasus yang terjadi dalam waktu berdekatan dan belum genap Tujuan penelitian ini adalah untuk membongkar wacana kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan pada Laporan Khas Redaksi Sore TRANS7. Peneliti menggunakan Teori Hierarchy of Influences dengan pendekatan kualitatif dan metode analisis wacana kritis Norman Fairclough dengan tiga dimensi analisis, yaitu teks, praktik wacana, dan praktik sosiokultural. Dari analisis yang telah dilakukan, peneliti dapat menarik beberapa kesimpulan. Pertama, teks yang dipakai oleh Laporan Khas menunjukkan bahwa redaksi melakukan praktik pemilihan diksi dan metafora, serta mengusung humanisme pemberitaan. Kedua. Laporan Khas tidak hanya sebagai media yang latah untuk sekadar menginformasikan berita, melainkan semata-mata ingin membangun sebuah wacana perjuangan kemanusiaan di mata publik. Ketiga, secara sosial. TRANS7 merepresentasikan ideologi kapitalisme humanis dalam pemberitaannya. Kata kunci: analisis wacana kritis, kekerasan terhadap anak, televisi PENDAHULUAN Fenomena kekerasan di lingkungan pendidikan bukanlah suatu perkara yang baru bagi masyarakat Indonesia. Menurut data yang diperoleh dari bankdata. id, setiap tahunnya, kasus kekerasan anak di lingkungan pendidikan Indonesia mencapai angka ratusan kasus. Kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan masih menjadi isu sosial dan perhatian tidak hanya bagi pemerintah, melainkan bagi semua masyarakat Indonesia, tak terkecuali media massa. Melalui media massa, berita dengan tema kekerasan tidak hanya sekadar disampaikan sebagai suatu informasi, tetapi kini ada wacana yang mereka gulirkan, yaitu wacana perjuangan kemanusiaan untuk anak melalui penggunaan kosakata dan Dengan masih adanya kekerasan di lingkungan pendidikan, hal ini menunjukkan bahwa kekerasan merupakan masalah yang sampai saat ini tidak ada akhirnya. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak Pasal 13 dijelaskan bahwa kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk diskriminasi, eksploitasi, baik fisik maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan, ketidakadilan, dan perlakuan salah lainnya. Berdasarkan data yang terkumpul dari KPAI, oknum guru atau kepala sekolah dan siswa termasuk pelaku kekerasan yang mendominasi di lingkungan sekolah. Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 Isu kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah memiliki nilai layak berita bagi media Fachruddin . 7: . memaparkan bahwa nilai berita adalah seperangkat kriteria untuk menilai apakah sebuah kejadian cukup penting untuk Total ada 9 . faktor yang membuat sebuah kejadian memiliki nilai berita, antara lain: , kedekatan . , sesuatu yang populer . , akibat atau berdampak besar . onsequences/magnitud. , konflik . , bencana . , kejahatan . , keunikan/luar biasa . , sisi kemanusiaan . uman interes. Berita tentang adanya bentrok baik secara fisik maupun nonfisik, selalu menarik dan mengundang perhatian banyak kalangan. Dalam hal ini, isu kekerasan terhadap anak memenuhi nilai berita kategori aktualitas, kedekatan, dan konflik, kejahatan, serta berdampak besar bagi banyak kalangan. TRANS7 adalah salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia yang berada di bawah payung Trans Media yang dimiliki Chairul Tanjung. TRANS7 sebagai media massa elektronik, memiliki produk media massa salah satunya program Redaksi Sore. Redaksi Sore merupakan laporan redaksional yang didapatkan dari peliputan langsung di lapangan, laporan dari analisis pakar, dan laporan dari analisis data, kelengkapan grafis, kelengkapan opini, serta kelengkapan angka. Redaksi Sore memiliki 1 . sajian unggulan, yakni Laporan Khas Redaksi (Lapkhas Redaks. Redaksi Sore melaporkan suatu paket berita lengkap dengan tidak sekadar mengungkap fakta berimbang, melainkan menyertakan pandangan dan kritik dari segi dan ideologi redaksinya, serta sebagai tempat menyalurkan aspirasi rakyat. Pada Senin, 17 Februari 2020. Lapkhas mengangkat sebuah topik tentang kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan. Tayangan tersebut berjudul. AuKasus Kekerasan Anak Kian MarakAy dengan memberitakan 2 . kasus sekaligus yang terjadi berturut-turut dalam kurun 1 . minggu dengan dikaitkan dengan cyber bullying . erundungan Kasus pertama tentang rekaman video yang viral di media massa ketika oknum guru di salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Bekasi melakukan pemukulan beberapa kali kepada seorang siswa. Pemukulan ini disebabkan karena mayoritas murid SMA tersebut terlambat karena akses parkir sekolah ditutup tiba-tiba pada Selasa, 11 Februari 2020 silam. Adapun kasus kedua yang dibahas adalah tentang video aksi tidak terpuji dari 3 . siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Purworejo melakukan kekerasan ke adik kelasnya yang berkebutuhan khusus lantaran sakit hati karena tidak diberi uang. Salah satu upaya Redaksi Sore terkait hal tersebut adalah keberpihakan media kepada masyarakat yang terwujud dalam penggunaan kalimat kritik secara tidak langsung kepada pemerintah dan termuat dalam piece to camera (PTC) Bram Herlambang selaku reporter Redaksi Sore yang menyatakan: AuMaraknya kekerasan pada anak di lingkungan sekolah seakan semakin melegitimasi, adanya anggapan miring bahwa gagalnya pendidikan di Indonesia. Kekerasan yang terjadi bukan hanya kasat mata dan bisa diamati saja, namun juga dalam bentuk laten yang terjadi berdampak buruk dengan jangka yang panjang, ini masih terus terjadiAy (PTC Bram Herlambang. Reporter Redaksi Sore TRANS7, 17 Februari 2. Memperkuat pernyataan sebelumnya, kalimat kritik lainnya yang juga disampaikan tim Redaksi Sore dalam bentuk voice over (VO) yang berbunyi: AuDi balik ini semua, ada hal rumit yang menyebabkan murid melakukan kekerasan, mulai dari faktor keluarga yang tidak memiliki pengetahuan mendidik anak hingga acuhnya lingkungan. Di sisi lain, pemerintah hanya berpegangan pada undang-undang yang melindungi hak anak tanpa mempertimbangkan bibit kriminalitas ketika sudah tumbuhAy (VO Redaksi Sore TRANS7, 17 Februari 2. Sebagai salah satu produk media massa, melalui fungsi kritik sosial dan dalam menjalankan hak kebebasan pers bermedia. Redaksi Sore berwenang dan berkuasa dalam mengontrol wacana dengan menyertakan kalimat kritik seperti yang telah tersiarkan dalam PTC Bram Herlambang yaitu: AuFenomena ini ibarat duri dalam daging dalam sistem pendidikan kita. Alih-alih dirasa sepele, masalah perundungan dan sejumlah kekerasan lain ini terus menggerogoti kualitas pendidikan kita dan seharusnya sudah dapat dihentikan secara serius. Harus ada komitmen bersama untuk dapat memutus mata rantai segala bentuk kekerasan dalam dunia pendidikan dan juga penanaman pemahaman akan budaya asli bangsa ini yang ramah, guyub, dan toleran sejak diniAy (PTC Bram Herlambang. Reporter Redaksi Sore TRANS7, 17 Februari 2. Penggunaan diksi dan metafora dalam kalimat kritik juga dipertimbangkan dalam VO maupun PTC. Sebagai contoh, penggunaan kata seperti AomarakAo. AomengemukaAo. AomengerikanAo, cyberbully. AomelegitimasiAo. AomemukulAo, menganiayaAo. AobibitAo. Aoduri dalam dagingAo, dan AomenggerogotiAo dapat menimbulkan anggapan negatif dari khalayak tentang kebenaran gagalnya sistem pendidikan di Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 Indonesia. Berangkat dari konsep tersebut, analisis yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana. Menurut Eriyanto, analisis wacana bertujuann untuk mengungkap maksud dan maknamakna tertentu yang tersembunyi dari subjek yang mengemukakan suatu pernyataan (Eriyanto, 2017: . Analisis wacana yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana kritis (AWK) model Norman Fairclough. Fairclough . alam Eriyanto, 2017: . melihat teks . memiliki konteks . dan melihat bahasa sebagai praktik sosial. Dalam hal ini, analisis wacana Fairclough merupakan upaya untuk merepresentasikan dan melihat motif ideologis dan kepentingan kekuasaan yang terjadi dalam tatanan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar wacana kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan pada Laporan Khas Redaksi Sore TRANS7 Episode 17 Februari 2020. Sehingga melalui penelitian ini akan terungkap kepentingan dan terbongkar ideologi yang dijadikan landasan pemberitaan dalam suatu media, serta mengetahui faktor yang memengaruhi wacana pada pemberitaan kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan pada Laporan Khas Redaksi Sore TRANS7. II. METODE PENELITIAN Paradigma yang digunakan dalampenelitian ini adalah paradigma kritis. Paradigma kritis merupakan aliran yang menolak pandangan positivis dan memperbaiki kelemahan pada kontruktivis. Paradigma kritis menolak kaum positivistik yang berpandangan bahwa realitas itu bebas nilai. Dalam pandangan kritis. Mulyadi. Basuki, dan Prabowo . 8: . menekankan bahwa realitas adalah bias dan tidak bebas nilai. Bias dalam pandangan kritis memandang bahwa media bukanlah suatu entitas yang netral, melainkan dapat dikendalikan oleh kekuasaan kelompok dominan (Eriyanto, 2017: . Tidak bebas nilai berkaitan dengan nilai yang diyakini oleh suatu subjek dapat memengaruhi kebenaran dan realitas Adapun paradigma kritis dikatakan dapat memperbaiki konstruktivis karena pandangan kritis tidak hanya mengamati realitas dunia, tetapi juga mengkritik kekuasaan dan mencari perubahan sosial dengan cara mengungkap sumber dan hubungan kekuasaan, serta ketidaksetaraan. Kemudian, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Bogdan dan Talor . alam Sujarweni, 2014: . menambahkan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deksriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang Peneliti memilih pendekatan kualitatif atas pertimbangan bahwa peneliti ingin mendeskripsikan dan menginterpretasikan secara kritis realitas kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan pada Lapkhas Redaksi Sore TRANS edisi 17 Februari 2020 termasuk di dalamnya penggunaan nilai dan ideologi sebagai landasan pemberitaannya. Selain itu, data-data yang dihasilkan pada penelitian ini adalah data berupa tulisan, yaitu teks berita, transkrip wawancara, dan data tulisan lainnya dari studi kepustakaan. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis model Norman Fairclough sebagai metode penelitiannya. Analisis wacana kritis merupakan jenis penelitian analisis wacana yang tidak hanya melihat wacana tidak semata-mata sebagai suatu studi bahasa, tetapi juga menghubungkannya dengan konteks. Konteks dalam hal ini adalah produsen teks menggunakan bahasa untuk tujuan dan praktik tertentu, termasuk di dalamnya praktik kekuasaan dan membawa pesan ideologi tertentu. Metode ini dipilih karena Fairclough memusatkan bahasa sebagai praktik Bahasa sebagai praktik sosial dapat dimengerti bahwa wacana dapat mempengaruhi tatanan sosial, demikian juga tatanan sosial mempengaruhi wacana. Dengan demikian, melalui metode ini, peneliti ingin melihat bagaimana wacana kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan yang dibentuk oleh tim redaksi, mengungkap kepentingan di balik produksi berita, dan membongkar dominasi ideologi yang dijadikan landasan dalam pemberitaan Laporan Khas Redaksi Sore TRANS7. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah primer dan sekunder. Data primer didapatkan dari pengamatan teks berita Lapkhas Redaksi Sore TRANS7 pada tanggal 17 Februari 2020 yang berjudul. AuKasus Kekerasan Anak Kian MarakAy dan data hasil wawancara dengan produser Lapkhas Redaksi Sore, yakni Yolinda Puspita Rini dan reporter yang terlibat dalam tayangan tersebut, yakni Bram Herlambang yang sudah ditranskrip. Adapun untuk data sekunder merupakan studi literatur . rtikel, buku, jurnal, dan rujukan elektroni. yang relevan dengan bahasan penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis wacana kritis model Norman Fairclough. Fairclough merupakan seorang tokoh linguis yang membagi analisis wacana ke dalam 3 . dimensi, yaitu: teks, praktik wacana . iscourse practic. Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 praktik sosiokultural . ociokultural practic. Pertama, pada dimensi teks. Fairclough melihat bagaimana penggunaan bahasa dapat mencerminkan ideologi pemberitaan suatu media. Kedua, dimensi praktik wacana memusatkan bagaimana faktor internal . nidvidu pekerja media, rutinitas media, dan organisasi medi. menentukan teks diproduksi dan wacana yang muncul. Ketiga, dimensi praktik sosiokultural yang melihat bahwa redaksi tidak datang dari ruang hampa yang netral, melainkan juga dipengaruhi fakor luar meda seperti faktor sosial dan budaya (Eriyanto, 2017: 289-. Gambar 1 Tiga Dimensi Analisis Wacana Kritis Model Fairclough (Eriyanto, 2017: . HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan bahan penelitian teks berita Lapkhas Redaksi Sore TRANS7 yang berjudul. AuKasus Kekerasan Anak Kian MarakAy. Peneliti akan membahas beberapa subbahasan dari 3 . dimensi analisis wacana kritis Fairclough sebagai berikut: Teks Representasi Representasi dalam Anak Kalimat Lead berita: Au. , yang lebih mengerikanAy Kosakata Kosakata dalam KBBI daring merupakan kata kerja yang berarti menimbulkan rasa ngeri . eram yang menyebabkan berdiri bulu rom. Imbuhan AumeAy pada kata dasar AomukaAo membentuk AomengerikanAo, menjadikan kalimat aktif dan berfungsi menampilkan sebuah tindakan . Tata Bahasa Kosakata AomengerikanAo umumnya digunakan untuk mengekspresikan rasa takut yang berhubungan dengan kejadian horor atau berhantu dengan ditandai perasaan takut atau ngeri yang amat sangat. Dalam pemberitaan kriminal, kosakata ini sering digunakan dalam kasus-kasus kekerasan yang berhubungan dengan kasus yang menghilangkan nyawa seseorang secara sadis seperti pembantaian Misalnya pada pemberitaan peristiwa G30S/ PKI pada tahun 1965, istilah mengerikan atau menakutkan digunakan salah satunya oleh majalah berita mingguan Tempo yang terbit pada 6 Oktober 1984 . alam Pusat Data dan Analisa Tempo, 2018: dengan menempatkan kosakata AomenakutkanAo pada headline berita. Au. , tiap hari-hari sekitar 30 September 1965 yang menakutkan itu mungkin punya peran dalam Aomenyemai benihAo, yang kelak bertumbuh jadi majalah iniAy. Kedua, seperti yang tertulis pada portal berita com yang terbit pada 30 September 2015 dengan menyebut. Au. , peristiwa mengerikan tersebut masih menghantui masyarakat Indonesia sampai sekarang, dengan jutaan keluarga mengalami trauma dari pembunuhan massal dan pemenjaraan yang membabi buta, atau karena bersalah telah ikut sertaAy. Penggunaan kosakata AomengerikanAo sengaja dipilih Lapkhas untuk membangun ketakutan dalam diri masyarakat bahwa kekerasan sudah menjadi hal biasa yang dipertontonkan tidak hanya di kehidupan nyata, melainkan di dunia maya dan menjadi viral. Epilog reporter: AuFenomena ini ibarat duri dalam daging dalam sistem pendidikan kitaAy Kosakata Kiasan berupa peribahasa Aoduri dalam dagingAo pada Kamus Peribahasa Indonesia karangan Susanto . 5: . memiliki arti sesuatu yang selalu menyakitkan hati atau mengganggu pikiran. Tata Bahasa Kiasan Aoduri dalam dagingAo umumnya dipakai untuk merepresentasikan sesuatu yang tidak menyenangkan hati, mengganjal maupun tidak sesuai dengan keinginan. Sama seperti susunan katanya, duri di dalam daging memberi arti bahwa duri dapat mengurangi kenikmatan saat sedang menyantap daging tersebut sehingga dapat mengganggu kenikmatan saat Kiasan menggambarkan sistem pendidikan Indonesia yang terlihat nampak baik-baik saja seperti halnya sedang menikmati sebuah daging yang enak, namun jika ditelisik lebih dalam ada sesuatu yang tidak menyenangkan dan berpotensi menjadi gangguan di kemudian hari. Duri dalam pernyataan reporter sama halnya dengan gangguan yang tidak menyenangkan. Gangguan yang dimaksud dalam hal ini adalah Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 kekerasan terhadap anak yang masih saja terjadi baik dalam bentuk kasat mata maupun tidak kasat mata . di lingkungan pendidikan dan harus segera dicegah dan diatasi. Epilog reporter: Au. , ini terus menggerogoti kualitas pendidikan kitaAy Kosakata Kosakata AogerogotAo dalam KBBI daring merupakan kata kerja yang berarti mengambil . sedikit demi sedikit. merusakkan demi Kosakata AogerogotAo ditambah awalan AumeAy dan akhiran AuiAy menandai adanya tindakan . dengan menjelaskan bahwa dengan masih adanya kekerasan yang terjadi, jika dibiarkan dapat merusak sedikit demi sedikit kualitas pendidikan di Indonesia. Tata Bahasa Kosakata AomenggerogotiAo umumnya digunakan untuk menyebut hama ataupun penyakit yang dianggap sebagai parasit karena menjadi benalu, menempel, dan menimbulkan kerugian atau kerusakan pada apa yang ditumpanginya. Lapkhas Redaksi Sore menampilkan tata bahasa dalam bentuk proses berupa tindakan. Dalam hal ini, sama seperti hama maupun penyakit, anak kalimat menggambarkan bahwa kekerasan jika dibiarkan dapat menyebabkan penurunan kualitas pendidikan Indonesia secara sedikit demi sedikit atau bahkan bisa jadi merusak tatanan pendidikan di Indonesia. Representasi dalam Kombinasi Anak Kalimat Lead berita: AuDalam sepekan terakhir, kasus kekerasan yang menimpa anak di sekolah mengemuka, yang lebih mengerikan, fakta ini bersamaan dengan cyberbullyAy Bentuk Koherensi Elaborasi: kata sambung AoyangAo Analisis Penggabungan ketiga anak kalimat di atas membentuk sebuah asosiasi kepada penonton bahwa kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah menjadi peristiwa ataupun keadaan yang wajar terjadi di dunia maya dan ingin menimbulkan ketakutan masyarakat bahwa kekerasan sudah menjadi hal yang biasa untuk dipertontonkan baik di dunia nyata maupun maya Prolog reporter: AuKekerasan yang terjadi bukan hanya kasat mata dan bisa diamati saja, namun juga dalam bentuk latenAy Bentuk Kohesi Perpanjangan: penanda hubungan perlawanan AonamunAo Analisis Terdapat 2 . fakta yang ditampilkan secara berlawanan atau kontras. Fakta pertama termuat pada anak kalimat pertama AuKekerasan yang terjadi bukan hanya kasat mata dan bisa diamati sajaAy dihubungkan dengan fakta kedua pada anak kalimat kedua Aunamun juga dalam bentuk latenAy. Reporter menggabungkan keduanya dalam satu set waktu yang sama dan memberi penjelasan kepada masyarakat bahwa kekerasan tidak hanya secara kasat mata . erlihat bentukny. , tetapi fakta mengatakan sebaliknya bahwa kekerasan laten atau tidak kasat mata seperti kekerasan simbolik bisa juga terjadi, namun belum disadari banyak orang bahwa mempunyai dampak yang lebih besar daripada kekerasan fisik. Representasi dalam Rangkaian Antarkalimat SOT Irnatiqoh AeWakil Bidang Humas SMA Negeri 12 Bekasi: AuIni bukan cara yang baik dan kami sangat menyayangkan dengan kejadian ini, tapi dari pihak siswa juga sudah kami sampaikan permohonan maaf, kepada orang tuanya juga, pihak sekolah sudah melakukan penonaktifan jabatan sebagai waka-kesiswaanAy Aspek Ditampilkan di awal Analisis Pernyataan atau klarifikasi Inartiqoh selaku Wakil Bidang Humas SMA Negeri 12 Bekasi ditampilkan pertama setelah narasi pada bagian tubuh berita dibacakan karena memiliki unsur kepentingan sesuai yang termuat di badan berita pada struktur piramida (Mappatoto, 1999: . Pernyataan Inartiqoh dianggap penting kesatu dan sah/utama . karena pertama, pihak yang bersangkutan, yakni SMA Negeri 12 Bekasi merupakan tempat kejadian perkara saat kekerasan tengah berlangsung. Kedua, terdapat salah seorang oknum guru dalam sekolah tersebut yang menjadi aktor atau pelaku kekerasan kepada salah satu Keduanya mewajibkan perwakilan sekolah menyampaikan klarifikasi resmi dan serangkaian upaya pertanggung jawaban yang akan ditempuh dari pihak sekolah kepada pihak korban. SOT Darmaningtyas-Pengamat Pendidikan: AuBagi saya ini agak kontradiktif ya karena saat ini, pagi sebelum memulai kegiatan pasti diadakan keagamaan dulu tetapi justru ketika kegiatan pendalaman keagamaan itu dilakukan setiap hari, kekerasan di lingkungan sekolah terus mencuatAy Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 Aspek Ditampilkan di akhir Analisis Pernyataan Darmaningtyas ditampilkan di akhir karena merupakan partisipan publik yang mandiri dan dianggap pernyataan penting keempat. Partisipan publik menurut Fairclough . alam Eriyanto, 2017: . merupakan partisipan yang terdiri dari lingkungan publik atau sosial seperti politisi, pengusaha, tokoh masyarakat, artis, ulama, ilmuwan, pengamat atau para ahli pada bidang tertentu yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan suatu peristiwa. Dalam hal ini. Darmaningtyas selaku pengamat pendidikan menyampaikan argumentasinya bahwa terdapat kontradiksi pengalaman belajar di lingkungan Kontradiksi tersebut terdapat dalam intensitas pendalaman kegiatan kegamaan, ternyata hasilnya tidak selaras dengan pola-pola pendidikan yang sudah ditransformasikan sebelumnya. Relasi Narasi berita: AuBerbagai kasus yang mengemuka, seolah menjadi bukti lemahnya pengawasan sosial di lingkungan sekolah yang seakan menyembunyikan Dalam konteks ini, sekolah berhak disalahkan atas perbuatan murid maupun guru yang melakukan kekerasanAy Hubungan Relasional Hubungan relasional redaktur dan reporter lebih tinggi daripada korban dan masyarakat, serta berfungsi sebagai penyalur aspirasi publik . oice to the voiceles. Analisis Menurut Keeble . 9: i. dalam bukunya yang berjudul Ethics for Journalist, jurnalis atau pers memiliki peran dasar dalam mewujudkan perdamaian dan saling pengertian, bekerja atas dasar kejujuran, senantiasa jernih, penuh kasih sayang, serta menjadi penyambung lidah bagi mereka . yang tidak memiliki kesempatan atau kekuatan untuk bersuara. Melalui narasi berita di samping. Lapkhas di satu sisi ingin menampilkan diri menjadi voice to the voiceless bagi korban dan mewakili aspirasi rakyat bahwa terdapat kesenjangan antara pengalaman belajar yang diharapkan dengan realitanya. Namun, di sisi lain, narasi berita Lapkhas justru menimbulkan pertentangan karena menganggap lembaga pendidikan sebagai pihak yang patut Dalam hal ini, pemberitaan Lapkhas justru semakin membentuk sentimen negatif pada khalayak dalam melihat kinerja pemerintah. Untuk dapat menjalankan prinsip voice to the voiceless. Lapkhas seharusnya lebih jernih lagi dalam melihat peristiwa maupun menggunakan kosakata-kosakata dalam narasinya sehingga tidak membuat konflik baru dan bukan perdamaian yang dibuat antara masyarakat dengan lembaga pendidikan dalam hal kepercayaan tanggung jawab. Identitas Narasi berita: AuBerbagai kasus yang mengemuka, seolah menjadi bukti lemahnya pengawasan sosial di lingkungan sekolah yang seakan menyembunyikan Dalam konteks ini, sekolah berhak disalahkan atas perbuatan murid maupun guru yang melakukan kekerasanAy Bentuk Identifikasi Identifikasi dengan korban tindak kekerasan Analisis Dalam penggalan narasi berita di samping. Lapkhas mengidentifikasi diri sebagai pihak korban dan keluarga korban dari tindak kekerasan dan merasa kecewa karena terdapat pengalaman belajar yang tidak menyenangkan di sekolah yang telah menimpa korban. Sekolah merupakan tempat belajar antara guru dengan murid sekaligus tempat untuk pembentukkan karakter bagi para murid, namun jika terjadi kekerasan oleh oknum murid maupun guru maupun murid, baik dari segi korban dan masyarakat menyalahkan dan mempertanyakan kembali esensi keberadaan sekolah sebagai tempat proses pendidikan Praktik Wacana Level Individu Pekerja Media Jalur pribadi Dilihat dari jalur pribadi dalam segi latar belakang, baik produser maupun reporter memiliki latar belakang yang berbeda dan sama sekali bukan dari dunia jurnalisme maupun penyiaran. Yolinda dengan latar belakang ekonomi akan lebih menguasai liputan-liputan dalam bidang ekonomi ketimbang lainnya dan memiliki orientasi liputan dalam segi bisnis . ersoalan untung dan apa yang disukai Berbeda dengan Bram yang memiliki latar belakang ilmu politik. Bram melihat fenomena kekerasan dari kacamata politik dengan menyertakan kritik sosial sehingga terbukti dari Lapkhas yang telah mereka buat dan sajikan kepada khalayak. Lapkhas tidak hanya sekadar menyebarkan informasi Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 saja, melainkan ada wacana yang mereka gulirkan, yaitu wacana perjuangan kemanusian melalui penggunaan kosakata dan metaforanya. Dari segi nilai dan keyakinan, baik produser maupun reporter sama-sama berasal dari suku Jawa. Keduanya menggunakan nilai tatanan sosial dalam suku Jawa berupa mengutamakan cinta kasih sebagai landasan hubungan antarmanusia dan kecenderungan pada gotong-royong, guyub, rukun, dan damai ke dalam pemberitaan. Jalur Profesional Baik produser maupun reporter sangat memperhatikan betul penyajian beritanya sesuai dengan yang diatur dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dengan ditandai tidak adanya teguran dari Dewan Pers Indonesia. Tim redaksi dikatakan relatif kurang profesional karena mampu memberitakan suatu kejadian secara faktual dan kredibel dengan mengikuti KEJ, namun kurang berimbang karena tidak menyertakan porsi yang sama antara pihak pelaku maupun korban, bahkan pihak yang diserang, yakni pemerintah. Level Rutinitas Media Organisasi Media Lapkhas termasuk salah satu desain berita khusus dan merupakan sajian unggulan milik Redaksi Sore, selain WABI dan VIZRT yang sebelumnya telah didiskusikan dan di-brainstorming oleh tim inti meliputi wapemred, produser eksekutif bersama para produser. Dalam brainstorming tersebut, tim inti mendiskusikan secara bersama-sama tentang isu terbesar beserta angle apa yang akan diproduksi esok harinya. Saat diskusi, tim inti menilai bahwa kekerasan layak disuarakan karena termasuk problem dasar, menggejala dan masuk salah satu faktor penghambat kemajuan pendidikan di Indonesia. Namun, dalam praktiknya, berita-berita aktual yang memenuhi nilai berita dianggap oleh produser menjadi suatu yang bisa dimainkan isunya, hal ini secara tidak langsung mengisyaratkan isi berita yang diangkat Lapkhas hanya sebagai hiburan dan melakukan suatu kesenangan, serta tidak ada keseriusan dalam memperjuangkan hak dan kedudukan manusia khususnya anak. Masih dalam organisasi media, dari segi peliputan dan pemproduksian berita. Lapkhas memiliki tim khusus yang sudah paham kaidahkaidah membuat berita, kaidah-kaidah memproduksi Lapkhas dan sudah mempunyai jaringan yang cukup luas untuk menjalin koneksi dengan partisipanpartisipan berita yang diperlukan. Sumber Berita Lapkhas mengangkat suatu isu berdasarkan temuan kasus di lapangan secara mandiri maupun temuan orang lain atas isu besar apa yang akan atau sudah menjadi perhatian publik dan dapat berpotensi Unsur Khalayak Lapkhas tidak sekadar sebagai untuk memenuhi kebutuhan khalayak dalam hal informasi, namun hanya sekadar mengisi item dalam paket berita harian. Dalam hal ini. Lapkhas menggunakan kemampuan news judgement dengan meminimalkan 3 . nilai berita, yaitu faktual dan aktual, berdampak luas . , dan kedekatan . Level Organisasi Media Struktur Organisasi Pada struktur manajemen organisasi. Lapkhas memiliki manajemen tingkat atas yang terdiri dari Titin Rosmasari selaku pemimpin redaksi atau kepala pemberitaan. Sukarya Wiguna selaku wakil pemimpin redaksi atau kepala departemen berita, dan Manyus Pagar Alam selaku produser eksekutif. Pada tingkat ini, manajemen tingkat atas bertugas menetapkan kebijakan organisasi dan anggaran, melindungi kepentingan komersial dan politik perusahaan hingga mempertahankan karyawan dari tekanan luar. Pada tingkat manajemen tingkat menengah atau jabatan editorial terdiri atas produser, associate produser dan editor berita. Pada Redaksi Sore terdapat 3 . produser yang bertanggung jawab atas program Redaksi Sore mulai dari praproduksi, produksi sampai pascaproduksi sesuai kaidah jurnalistik dan televisi. Ketiga produser tersebut adalah Gogor Pambudi. Yolinda Puspita Rini, dan Benyamin Frans. Adapun untuk manajemen tingkat bawah di Redaksi Sore diisi oleh reporter, camera person, koordinator daerah, production assistant (PA), dan editor. Tugas seorang reporter atau wartawan adalah orang yang secara teratur melakukan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, mengumpulkan, dan melaporkan peristiwa kepada khalayak. Kebijakan Organisasi Lapkhas Redaksi Sore memiliki kebijakan redaksional terkait gaya pengemasan maupun pelaporan berita. Dilihat dari gaya pengemasan berita, selain selain spot news maupun soft news, berita dengan kasus-kasus tertentu yang ingin dibahas lebih mendalam ditampilkan dengan desain berita dalam paket berupa WABI. VIZRT, dan Lapkhas Redaksi Sore. Ketiganya merupakan dari isu paling Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 besar yang akan diangkat untuk esok hari dari hasil rapat redaksi. Jika dilihat dari gaya pelaporannya. Redaksi Sore mengusung keep it short and simple (KISS). Gaya pelaporan ini meliputi penyampaian berita yang harus sekilas, selintas, singkat, dan padat. Selain itu. Lapkhas tidak hanya sekadar sebagai media yang menginformasi saja, melainkan juga membangun sebuah wacana, yaitu wacana perjuangan kemanusian melalui penggunaan kosakata dan Tujuan Organisasi Lapkhas sesuai misi dan tujuan programnya menghibur, dan yang menjadikan Lapkhas berbeda adalah ciri khasnya dalam mem-provoke masyarakat menjadi lebih baik setiap harinya. Praktik Sosiokultural Tingkat Situasional Pemberitaan Lapkhas pada 17 Februari 2020 dengan judul AuKasus Kekerasan terhadap anak Kian MarakAy merupakan tayangan berita kedua tentang kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan setelah sebelumnya pernah ditayangkan pada 14 Februari 2020. Melanjutkan Lapkhas sebelumnya, tayangan Lapkhas pada 17 Februari 2020 tidak hadir sebagai media yang latah dalam menginformasi. Lapkhas semata-mata ingin membangun wacana perjuangan kemanusiaan di mata publik atas 2 . kasus kekerasan yang terjadi berdekatan belum genap Upayanya dengan melalui kritik sosial dan kelengkapan analisis dari pakar yang telah Lapkhas tanggal 14 maupun 17 Februari sama-sama menyoroti pemerintah yang belum maksimal dalam melakukan pencegahan terhadap kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan dan mem-provoke masyarakat, serta pihak-pihak yang berkaitan menjadi lebih baik. Tingkat Institusional Lapkhas 17 Februari 2020 melibatkan narasumber dari pihak-pihak yang terkait meliputi Wakil Bidang Humas SMA Negeri 12 Bekasi. Komisioner KPAI Pusat, dan Kasubag Humas Polres Metro Bekasi Kota. Tujuan dari pemilihan narasumber ini adalah sebagai pelengkap kasus untuk memenuhi kelengkapan laporan redaksional dan meyakinkan pemirsa terhadap wacana bertema kekerasan yang telah diproduksi. Pada tingkat sosial TRANS7 kapitalisme humanis, ideologi yang diterapkan oleh pelaku kapitalis yang berwajah humanis. Hal ini ditandai dengan adanya teks berita Lapkhas mengedepankan kedudukan manusia . eadilan, kesetaraan harkat, dan martabat manusi. yang semata-mata kepentingan ekonominya, yaitu tetap aman pada performa rating dan share tertentu. Penelitian ini menggunakan teori hierarchy of Teori ini diperkenalkan oleh Shoemaker dan Reese sebagai teori hierarchy of influences dengan asumsi dasar bahwa konten dalam media merupakan hasil dari pengaruh internal maupun eksternal media. Shomemaker dan Reese . 4: . mengklasifikasikan faktor-faktor yang memengaruhi isi pemberitaan media ke dalam beberapa level, yaitu level individu pekerja media . ndividual leve. , rutinitas media . outine practices leve. , organisasi media . edia organizations leve. , luar media . xtramedia leve. , dan ideologi . deological leve. Dari kelima level tersebut, ketiga level pertama telah dibahas pada dimensi praktik wacana Fairclough yang didasarkan pada teori hierarchy of influences. Level luar media pada Lapkhas edisi 17 Februari 2020 dipengaruhi oleh sumber berita, khalayak, dan pangsa pasar. Pada Lapkhas edisi tersebut tidak didapati sama sekali adanya kontrol pemerintah . Dilihat dari sumber beritanya. Lapkhas mengangkat suatu isu berdasarkan temuan kasus di lapangan secara mandiri maupun temuan orang lain atas isu besar apa yang akan atau sudah menjadi perhatian publik dan dapat berpotensi besar. Pada edisi 17 Februari 2020. Lapkhas menggunakan temuan kasus yang diperoleh dari jejaring sosial Twitter karena menjadi viral dan trending dengan hashtag #stopbullying hampir selama sepekan Dilihat dari unsur khalayaknya. Lapkhas mempertimbangkan dan memperhatikan masyarakat tentang apa yang masyarakat perlu, butuh, dan suka. Dalam hal ini. Lapkhas menggunakan kemampuan news judgement dengan meminimalkan 3 . nilai berita, yaitu yaitu faktual dan aktual, berdampak luas . , dan kedekatan . Pengaruh luar lainnya pada Lapkhas Redaksi Sore adalah unsur pangsa pasar meliputi rating dan Lapkhas sebagai produk jurnalistik bermain aman pada share dengan harus meraih minimal 10% untuk peforma share-nya. Redaksi Sore menjadikan Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 kepentingan ekonomi yang terselubung dalam kepentingan politiknya, yakni memperjuangkan hak dan kedudukan manusia khususnya anak dengan hanya bermain aman di share dan rating, tanpa menggunakan iklan televisi yang muncul di sepanjang berita berlangsung, selain iklan commercial break yang diputar di akhir setiap segmennya. Dalam hal penggunaan teknologi, khusus untuk desain berita berupa VIZRT dikemas dengan grafis 3D real time yang muncul ataupun bergerak immersive saat presenter membawakan berita secara live. Pada level ideologi. Redaksi Sore khususnya Lapkhas mencerminkan diri sebagai produk jurnalistik pasca era reformasi yang dijamin kebebasan dan kemerdekaan menyatakan pikiran maupun pendapat sebagaimana yang tercantum dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Salah satu peranan pers yang tercantum dalam pasal 6 UU Pers tersebut adalah melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan Namun, dalam praktiknya media massa tidak semua bebas nilai sehingga secara sosial. TRANS7 merepresentasikan ideologi kapitalisme humanis dalam pemberitaannya. Ideologi pemberitaan Lapkhas dapat dilihat secara eksplisit maupun implisit praktiknya. Secara eksplisit bisa dilihat dari bahasa yang digunakan, demikian juga jika dibahas dari segi sifat humanisnya. Berdasarkan sifatnya yang pertama, yaitu kultural. Lapkhas setiap harinya menjadi produk jurnalistik yang aktif menyuarakan kemanusiaan melalui penggunaan kosakata dan metafora yang tersusun dalam wacana suatu berita. Penggunaan kosakata dan metafora seperti AomarakAo. AomengemukaAo. AomengerikanAo, cyberbully. AomelegitimasiAo. AomemukulAo. AomenganiayaAo. AobibitAo. Aoduri dalam dagingAo, dan AomenggerogotiAo merepresentasikan ideologi humanisme sosial. Penggunaan baik kosakata maupun metafora memberi makna bahwa terdapat masalah serius yang mengancam keberlangsungan pendidikan Indonesia, dapat berdampak besar, dan berbahaya untuk generasi di masa yang akan datang seperti pada mengarah pada menurunnya tingkat kepercayaan diri pada anak, memengaruhi gaya kepemimpinan mereka di masa depan, membuat depresi bahkan sampai bunuh diri. Selain itu, kata dan metafora tersebut mengusung humanisme pemberitaan dengan tanpa harus menjelaskan secara detail penganiayaannya dan menggunakan inisial untuk pelaku maupun korban untuk melindungi hak anak yang masih di bawah umur. Dalam hal ini. Lapkhas memenuhi nilai humanisme dalam pemberitaan berupa solidaritas. Adapun dari sifat materialnya. Lapkhas menjalankan fungsi persnya, yaitu mengawasi, mengkritik, mengoreksi, dan memberi saran terhadap hal-hal yang menyangkut kepentingan umum yang dalam hal ini adalah kepentingan anak . Melalui analisa, kontrol, dan kritik sosial, namun tidak bebas nilai, redaktur dan reporter ingin memperjuangkan kemanusiaan melalui penggunaan beberapa kosakata seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sengaja dipilih tim redaksi untuk membuat sebuah wacana perjuangan kemanusiaan pada anak. Secara implisit, teks berita yang ditampilkan tidak sekadar sebagai untuk memenuhi kebutuhan khalayak dalam hal informasi, namun hanya sekadar mengisi item dalam paket berita harian. Hal ini menandai adanya kepentingan ekonomi dari Lapkhas untuk memenuhi batas performa rating dan Hal ini menandai bahwa Lapkhas sebagai poduk jurnalistik juga mementingkan cara tentang bagaimana mendapatkan keuntungan. Lapkhas sebenarnya adalah pelaku kapitalis yang berwajah humanis dalam menciptakan sistem ekonomi yang efektif bagi dirinya . alam hal ini bermain aman di performa rating-share dan mendapat untun. atas respek humanitas dan kebutuhan, serta apa yang disukai khalayaknya. Dengan demikian, ideologi kapitalisme humanis menginternalisasi nilai sosial pada para jurnalis dalam pembuatan berita Lapkhas Redaksi Sore. Pemilihan diksi dan metafora, penempatan identitas, serta relasi diri dalam kritik sosial produk jurnalistik seperti Lapkhas Redaksi Sore telah lama mengubah pandangan masyarakat kepada pemerintah menjadi negatif tentang kasus kekerasan anak yang terjadi di lingkungan pendidikan. Hal tersebut terjadi melalui upaya pengguliran wacana perjuangan kemanusiaan untuk anak sehingga penyebab kekerasan yang ditampilkan adalah semata-mata salah pemerintah yang tidak serius dalam melakukan pencegahan dan hanya berfokus pada penanganan tanpa melihat secara jernih berbagai faktor dan aspek yang mempengaruhinya. Dalam hal ini. Lapkhas justru membuat konflik baru dan bukan perdamaian yang dibuat antara masyarakat dengan lembaga pendidikan dalam hal kepercayaan tanggung jawab. Melalui penelitian ini, peneliti jelas berharap bahwa pandangan masyarakat perlu diperbaiki dengan mengkritisi lebih jauh media massa khususnya produk jurnalistik dalam pembuatan wacana kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 yang adalah tidak semata-mata murni dan serius dalam mengusung tema-tema tentang kemanusiaan. Melainkan, di balik itu semua ada kepentingan ekonomi yang terselubung, yaitu mencari keuntungan dan agar bermain aman pada batas performa rating dan share di balik pemberitaannya. Sedangkan untuk kepentingan politiknya, produk jurnalistik membuat sebuah wacana perjuangan kemanusiaan untuk sekadar memainkan isu dan mengisi paket berita harian, serta agar dipandang sebagai media yang aktif memperjuangkan hak dan kedudukan manusia. IV. SIMPULAN Berdasarkan data yang diperoleh dan setelah melakukan wawancara mendalam, serta menganalisis menggunakan 3 . dimensi dari Norman Fairclough yang meliputi teks, praktik wacana, dan sosiokultural pada teks berita AuKasus Kekerasan anak Kian MarakAy, peneliti dapat menarik beberapabeberapa kesimpulan. Pertama, analisis teks berita Lapkhas ditemukan beberapa kosakata seperti. AomarakAo. AomengemukaAo. AomengerikanAo, cyberbully. AomelegitimasiAo. AomemukulAo. AomenganiayaAo, dan AomenggerogotiAo, serta metafora seperti. AobibitAo dan Aoduri dalam dagingAo. Dalam hal ini, penggunaan baik kosakata maupun metafora menandai bahwa Lapkhas ingin menempatkan diri sebagai media yang memperjuangkan kemanusiaan . umanisme pemberitaa. Kedua, dilihat dari segi praktik wacana. Lapkhas dipengaruhi oleh faktor internal: pertama, individual jurnalis meliputi latar belakang pendidikan, budaya, nilai, dan keyakinan, serta profesionalisme. Kedua, rutinitas media, yakni praktik produksi berita. Melalui analisa, kontrol, dan kritik sosial, namun tidak bebas nilai, redaktur dan reporter ingin memperjuangkan kemanusiaan melalui penggunaan beberapa kosakata seperti yang termuat pada pembahasan sebelumnya, sengaja dipilih tim redaksi untuk membuat sebuah wacana perjuangan kemanusiaan untuk anak. Selain itu. Lapkhas ingin memengaruhi realitas dengan menuding pemerintah sebagai sasaran wacana yang bisa disalahkan. Ketiga, secara praktik sosiokultural. Lapkhas dipengaruhi oleh 3 . level: pertama, tingkat situasional. Lapkhas edisi 17 Februari 2020 tidak hadir sebagai media yang latah dalam menginformasi. Lapkhas semata-mata ingin membangun wacana perjuangan kemanusiaan di mata publik atas 2 . kasus kekerasan yang terjadi berdekatan. Upayanya dengan melalui kritik sosial dan kelengkapan analisis dari pakar yang telah ditampilkan. Kedua, secara institusional. Lapkhas melibatkan narasumber dari pihak-pihak yang terkait meliputi Wakil Bidang Humas SMA Negeri 12 Bekasi. Komisioner KPAI Pusat, dan Kasubag Humas Polres Metro Bekasi Kota. Ketiga, pada level sosial. TRANS7 merepresentasikan ideologi kapitalisme humanis. Melalui teori hierarchy of influences, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Lapkhas memiliki kepentingan yang terselubung, yaitu kepentingan ekonomi dan politik dibalik perhatian dan upayanya mengedepankan hak dan kedudukan manusia termasuk di dalamnya kesetaraan harkat dan martabat manusia . erjuangan humani. Isu kekerasan sengaja dipilih tim redaksi untuk memenuhi kepentingan politik dan ekonominya, yaitu membuat sebuah wacana perjuangan kemanusiaan pada anak dan sekadar mengisi item paket berita harian, serta tetap bermain aman pada rating dan share. Secara sosial. TRANS7 merepresentasikan ideologi kapitalisme humanis dalam pemberitaannya. Lapkhas sebenarnya adalah pelaku kapitalis yang berwajah humanis dalam menciptakan sistem ekonomi yang efektif bagi dirinya . alam hal ini bermain aman di performa rating-share dan pengejaran keuntunga. atas respek humanitas dan kebutuhan, serta apa yang disukai Dengan demikian, ideologi kapitalisme humanis menginternalisasi nilai sosial pada para jurnalis dalam pembuatan berita Lapkhas pada Redaksi Sore. DAFTAR RUJUKAN Data Kasus Berdasarkan Klaster Perlindungan Anak, 2011-2016. [Onlin. Diakses pada 2 Agustus 2020 dari https://bankdata. id/tabulasi-data/data-kasus-per-tahun/data-kasusberdasarkan-klaster-perlindungan-anak-2011-2016. Berburu dengan Waktu Mengungkap G30S. [Onlin. Diakses pada 18 Juni 2020 dari https://w. com/indonesia/berita_indonesia/2015/09/150930_ indonesia_waktu_g30s Eriyanto. Analisis Wacana (Pengantar Analisis Teks Medi. Yogyakarta: LKiS Group. Fachruddin. Dasar-Dasar Produksi Televisi: Produksi Berita. Feature. Laporan Investigasi. Dokumenter, dan Teknik Editing. Jakarta: Kencana. Fauzan. Analisis Wacana Kritis dari Model Fairclough hingga Mills. Jurnal Pendidik, 6, 1-15. KBBI Daring. [Onlin. Diakses pada 1 Ae 18 Juni 2020 dari https://kbbi. Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 Keeble. Ethics for Journalist. Kode Etik JurnalistikDewan Pers London: Routledge. Krisdinanto. Anomali dan Teori Hirarki Pengaruh terhadap Isi Media. Jurnal Ilmiah Komunikasi, 3, 1-18. Kriyantono. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana. Lekachman. , & Loon. Kapitalisme: Teori dan Sujarweni. Metode Penelitian: Lengkap. Praktis, dan Mudah Dipahami. Yogyakarta: Pustaka Baru Press. Susanto. Kamus Peribahasa Indonesia. Bandung: Dunia Pustaka Jaya. Tempo. Kisah Malam 30 September 1965 dan Perjalanan KPI. Jakarta: Tempo Publishing. Profile Trans7. [Onlin. Diakses pada 9 Sejarah Perkembangannya. Yogyakarta: Resist Book. Maret 2020 dari https://w. id/about#profile Mappatoto. Teknik Penulisan Feature (Karangan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1999 Kha. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Mulyadi. Prabowo. , & Basuki. Metode Penelitian Kualitatif dan Mixed Method. Depok: Raja tentang Pers Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak Grafindo Persada. Shoemaker. , & Reese. Mediating the Message in the 21st Century: A Media Sociology Perspective . New York: Routledge.