Journal for Quality in Women's Health Vol. 5 No. 1 March 2022 | pp. p-ISSN: 2615-6660 | e-ISSN: 2615-6644 DOI: https://doi. org/10. 30994/jqwh. Analisis Ibu menyusui terhadap Gizi Bayi Usia 0-6 Bulan Riza Tsalatsatul Mufida*. Miftakhur Rohmah. Paulina Wungo Fakultas Keperawatan dan Kebidanan. Institut Ilmu Kesehatan STRADA Indonesia. Indonesia * Corresponding author: Riza Tsalatsatul Mufida . izamufida89@iik-strada. Received: Februari 26 2022. Accepted: Maret 22 2022. Published: Maret 29 2022 ABSTRAK Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada ibu menyusui dimana kurangnya pengetahuan ibu tentang proses menyusui bayi. Masalah yang sering dialami ibu seperti putting lecet, bendungan ASI, nyeri pada payudara sehingga menyebabkan ibu tidak menyusui Masalah lainnya seperti masih banyak suami yang berpendapat salah, menganggap sepele dan cukup menjadi pengamat yang pasif saja pada perilaku menyusui ibu dan bayi. Literatur bersumber dari database google cendekia, google scholar dan PubMed yang diterbitkan dari tahun 2015 hingga 2020, dan secara manual memilih artikel yang relevan dengan pertanyaan penelitian. Terdapat hubungan ibu menyusui terhadap gizi bayi usia 0-6 Disarankan agar Bidan dapat memberikan penyuluhan kesehatan kepada ibu nifas tentang pentingnya gizi pada bayi dimana dengan perilaku pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan. Kata kunci: bayi usia 0-6 bulan, gizi, ibu menyusui This is an open-acces article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. PENDAHULUAN Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada ibu menyusui dimana kurangnya pengetahuan ibu tentang proses menyusui bayi. Masalah yang sering dialami ibu seperti putting lecet, bendungan ASI, nyeri pada payudara sehingga menyebabkan ibu tidak menyusui Masalah lainnya seperti masih banyak suami yang berpendapat salah, menganggap sepele dan cukup menjadi pengamat yang pasif saja pada perilaku menyusui ibu dan bayi (Notoatmodjo, 2. World Health Organization (WHO) pada tahun 2018 mengeluarkan program Millennium Development Goals (MDGAo. yang terdiri dari delapan pokok bahasan, salah satunya adalah menurunkan angka kematian bayi (AKB). Cakupan ASI eksklusif di Negara ASEAN seperti India sudah mencapai 46%, di Philipina 34%, di Vietnam 27% dan di Myanmar 24%, sedangkan di Indonesia sudah mencapai 54,3%. Pada tahun 2018 Millennium Development Goals (MDGAo. Indonesia menargetkan penurunan sebesar 23 untuk angka kematian bayi dan balita dalam kurun waktu 2018-2019 (WHO, 2. DepKes . , masalah gizi masih terjadi di 77,3% kabupaten dan 56% kota di Indonesia. Data tersebut juga menyebutkan bahwa pada 2003 sebanyak 5 juta anak balita . ,5%) kurang gizi dimana 3,5 juta anak . ,2%) di antaranya berada pada tingkat gizi kurang dan 1,5 juta anak . ,3%) sisanya mengalami gizi buruk (DepKes, 2. Data yang diperoleh dari Provinsi Jawa Timur diketahui pada tahun 2016 cakupan pemberian ASI eksklusif sebesar 45,86%, tahun 2017 sebesar 25,06%, dan tahun 2018 sebesar 57,67% (DepKes, 2. Data Dinas Kesehatan Kota Website: http://jqwh. org | Email: publikasistrada@gmail. Analisis Ibu Menyusui terhadap Gizi Bayi Kediri . , menunjukan bahwa cakupan keberhasilan menyusui pada bayi sebesar 54,60% (Dinas Kesehatan Kota Kediri, 2. Cakupan keberhasilan menyusui pada ibu bayi di Posyandu Nusa Indah Tirtoudan Raya Kota Kediri pada tahun 2019 sebesar 37,03%, tahun 2018 sebesar 39,87% dan tahun 2017 sebesar 54,75% dimana cakupan tersebut belum memenuhi target nasional yaitu 95% (Data RSUD Kudungga Sangata, 2. Salah satu faktor pemicu rendahnya status gizi bayi 0-6 bulan yaitu rendahnya pemberian ASI eksklusif dan berkualitas di keluarga. ASI berkualitas sangat penting untuk untuk tumbuh kembang bayi. Salah satu keberhasilan ibu menyusui sangat ditentukan oleh pola makan, baik di masa hamil maupun setelah melahirkan . Pola makan ibu menyusui yang baik akan menjamin kualitas maupun kuantitas ASI yang keluar. Hal tersebut akan berpengaruh pada status gizi khususnya bayi umur 0-6 bulan. Kebutuhan gizi bayi yang tercukupi dengan baik dimanifestasikan dengan pertambahan berat badan dan tinggi badan yang sesuai dengan umurnya. Konsumsi gizi yang tidak cukup baik jumlah dan mutunya akan mengganggu/menghambat pertumbuhan bayi dan defisiensi berbagai zat gizi seperti zink dan besi (Notoatmodjo, 2. Keberhasilan pemberian ASI eksklusif dapat pula dipengaruhi oleh faktor ibu, bayi dan keluarga terutama peran dan dukungan suami. Karakteristik ibu yang dapat mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif tersebut berupa usia, jumlah jam bekerja, tingkat pendidikan, pendapatan dan paritas. Perilaku menyusui sangat penting karena dapat bermanfaat bagi bayi dan ibunya. Bagi bayi yang menyusu dimana akan mendapat ASI eksklusif yang merupakan makanan dengan kandungan gizi yang paling sesuai untuk kebutuhan bayi, melindungi dari berbagai infeksi dan memberikan hubungan kasih sayang yang mendukung semua aspek perkembangan bayi termasuk kesehatan dan kecerdasan bayi. Bagi ibu, perilaku menyusui dapat mengurangi perdarahan saat persalinan, menunda kesuburan (Kristiyanasari, 2. Dampak yang akan terjadi apabila bayi tidak menyusu diantaranya bayi akan mudah menderita penyakit seperti diare dan infeksi saluran pernafasan akut. Disamping itu juga bayi akan mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan sebab didalam ASI tersebut terdapat kandungan antibody alami yang dapat membantu dalam mencegah infeksi dan gangguan kesehatan pada bayi (Manuaba, 2. Oleh karena itu dukungan suami sangat penting untuk dapat meningkatkan motivasi ibu untuk menyusui dimana dukungan suami adalah dukungan yang paling berarti bagi ibu. Dukungan yang diberikan suami kepada ibu nifas dalam hal ini suami mengambil bayi ketika bayi menangis dan diberikan kepada ibu untuk menyusui, suami membangunkan ibu ketika bayi menangis sehingga dengan demikian akan tercapainya keberhasilan menyusui pada ibu maupun bayi. Disamping itu juga perilaku ibu dalam menyusui sebaiknya tanpa dijadwal sesuai dengan kebutuhan bayi. Agar sukses dalam proses menyusui, suami harus ikut berpartisipasi aktif dalam mengambil keputusan, mempunyai sikap yang positif, dan mempunyai pengetahuan yang luas tentang keuntungan Tujuan dari penyusunan literature ini adalah untuk mengetahui hubungan Ibu Menyusui Terhadap Gizi Bayi Usia 0-6 Bulan. METODE Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh bukan dari pengamatan langsung, akan tetapi dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti Sumber data sekunder yang didapat berupa artikel atau jurnal yang relevan dengan topik dilakukan menggunakan database melalui Google Scholar. Google Cendekia, dan Pubmed Central (PMC). Pencarian literatur dilakukan dengan menampilkan 3 kata kunci berdasarkan Medical Subject Heading (MeSH) dan dikombinasikan dengan Boolean operators DAN. ATAU and TIDAK. Strategi pencarian ditetapkan sebagai (Ibu Menyusu. DAN (Gizi Bayi Usia 0-6 Bula. Hasil pencarian dibatasi tahun 2015 sampai tahun 2020 serta secara manual memilih artikel yang relevan sesuai dengan pertanyaan penelitian. Kriteria inklusi Journal for Quality in Women's Health Analisis Ibu Menyusui terhadap Gizi Bayi artikel yaitu : . ibu yang mempunyai bayi 0-6 bulan. Intervensi yang digunakan adalah perlunya informasi yang sedetail mungkin sehingga ibu nifas dapat berperan aktif dalam menjaga dan mengatur asupan gizi bayi 0-6 bulan. HASIL Berdasarkan hasil penelitian Iis Maria . , dalam jurnal penelitiannya menunjukan bahwa sebagian besar ibu memiliki bayi dengan status gizi BB normal, yaitu sebanyak 24 ibu . ,6%). sebagian besar ibu memberikan ASI eksklusif pada bayinya dengan BB normal yaitu 18 ibu . ,9%). Sedangkan ibu yang memberikan ASI eksklusif, tak satupun bayinya mengalami BB sangat kurang ataupun BB kurang. Hasil uji terdapat hubungan pemberian ASI eksklusif dengan status gizi bayi usia 6-12 bulan di Polindes Patranrejo Kecamatan Berbek Kabupaten Nganjuk, hal ini ditunjukkan dari hasil uji Spearman Rank diperoleh p-value 0,000 O 0,05 maka Ho ditolak atau H1 diterima. Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian Tiara . , dalam jurnal penelitiannya menunjukan bahwa persentase balita dengan status gizi kurang paling banyak pada balita dengan pola asuh makan rendah sebanyak 56,0% dibandingkan dengan balita dengan status gizi normal paling banyak dengan kategori pola asuh makan sedang sebanyak 42,0%. Hasil uji statistic chi-square didapatkan nilai p=0,014. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh makan dengan status gizi balita di wilayah kerja puskesmas Belimbing. Terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan status gizi . =0,014. p=0,. Pola asuh psikososial tidak terdapat adanya hubungan signifikan dengan status gizi . =0,. Hasil penelitian juga selaras dengan penelitian Ni Kadek . , dalam jurnal penelitiannya menunjukan bahwa lebih banyak responden yang pemenuhan kebutuhan gizinya terpenuhi yakni berjumlah 77 responden dengan presentase 81,1% dibandingkan dengan responden yang pemenuhan kebutuhan gizinya tidak terpenuhi yakni berjumlah 18 responden dengan presentase 18,9 %. Lebih banyak responden yang air susu ibunya lancar yakni berjumlah 78 responden dengan presentase 82,1 % dibandingan dengan responden yang air susu ibunya kurang lancar yakni berjumlah 17 responden dengan presentase 17,9 %. Hasil uji statistik menggunakan Chi-Square, diperoleh nilai p value = 0,003. Nilai p ini lebih kecil dari nilai ( = 0,. maka Ho ditolak. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan antara Pemenuhan Kebutuhan Gizi Ibu dengan Kelancaran Air Susu Ibu (ASI) Pada Ibu Menyusui di Puskesmas Bahu Kota Manado. Pahala . , dalam jurnal penelitiannya menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan status gizi pada balita dimana dari 29 responden pengetahuan ibu baik berstatus gizi baik sebanyak 29 responden . ,5%). Ada hubungan berdasarkan sikap ibu dengan status gizi dari 30 responden sikap positif responden berstatus gizi baik sebanyak 30 orang . ,0%). Ada hubungan berdasarkan pendidikan ibu dengan status gizi,dari 6 responden pendidikan dasar responden berstatus gizi kurang sebanyak 4 orang . ,0%), dan berpendidikan dasarberstatus gizi buruk sebanyak 2 orang . ,0%). Dari 30 responden pendapatan