Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika e-ISSN: 2621-8135 Terakreditasi No: 79/E/KPT/2023 (Sinta . http://w. stt-tawangmangu. id/e-journal/index. php/fidei p-ISSN: 2621-8151 Vol. 8 No. 2 (Des. hlm: 277-296 DOI: https://doi. org/ 10. 34081/fidei. Diterbitkan Oleh: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu Tradisi Hopong Ngae: Solidaritas Sosial dan Implikasi Teologi Kontekstual Eritrika Adriana Nulik,. * Welfrid Fini Ruku2 1,. Artha Wacana Christian University. Indonesia *) Email: nulik. eritrika82@gmail. Diterima: 27 Februari 2025 Direvisi: 22 Agustus 2025 Disetujui: 23 Agustus 2025 Abstract The Hopong Ngae tradition in the GMIT Sonaf Neka-Huilelot congregation on Semau Island plays a crucial role in strengthening the congregation's social and spiritual solidarity. This study examines the meaning of solidarity, the continuity of tradition amidst modernization, and its relationship to the actualization of Christian faith in local culture. The method used is a descriptive qualitative approach with in-depth interviews and congregation surveys, combined with simple quantitative analysis. The results show that Hopong Ngae strengthens relationships among congregation members, serves as an expression of gratitude for God's blessings before the harvest, and is also a means of cultural preservation. From Durkheim's perspective, this tradition represents mechanical solidarity that binds congregation members through shared values and goals. Theological reflection confirms that Hopong Ngae can be a medium for contextualizing Christian faith in the congregation's agrarian life. However, challenges arise from the lack of involvement of the younger generation and the influence of One solution is to empower youth through the use of digital technology to produce creative content on social media. This effort is expected to encourage the participation of the younger generation in maintaining the sustainability of the tradition in the future. Keywords: Contextual Theology. GMIT Sonaf Neka-Huilelot. Hopong Ngae. Local Helong Tradition. Social Cohesion. Social Solidarity. Abstrak Tradisi Hopong Ngae di Jemaat GMIT Sonaf Neka-Huilelot. Pulau Semau, berperan penting dalam memperkuat solidaritas sosial dan spiritual jemaat. CopyrightA2025. Eritrika Adriana Nulik. Welfrid Fini Ruku. Lisensi karya ini di bawah: Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. | 277 Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Penelitian ini menelaah makna solidaritas, keberlangsungan tradisi di tengah modernisasi, serta kaitannya dengan aktualisasi iman Kristen dalam budaya lokal. Metode yang digunakan ialah pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam dan survei jemaat, dipadukan dengan analisis kuantitatif sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hopong Ngae mempererat relasi warga jemaat, menjadi ungkapan syukur atas berkat Tuhan menjelang panen, sekaligus sarana pelestarian budaya. Dalam perspektif Durkheim, tradisi ini merepresentasikan solidaritas mekanik yang mengikat anggota jemaat melalui nilai dan tujuan bersama. Refleksi teologis menegaskan bahwa Hopong Ngae dapat menjadi medium kontekstualisasi iman Kristen dalam kehidupan agraris jemaat. Namun, tantangan muncul berupa minimnya keterlibatan generasi muda dan pengaruh globalisasi. Salah satu solusi ialah memberdayakan kaum muda melalui pemanfaatan teknologi digital untuk menghasilkan konten kreatif di media sosial. Upaya ini diharapkan mendorong partisipasi generasi muda dalam menjaga keberlanjutan tradisi di masa depan. Kata Kunci: GMIT Sonaf Neka-Huilelot. Hopong Ngae. Kohesi Sosial. Solidaritas Sosial. Teologi Kontekstual. Tradisi Lokal Helong. Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman agama, budaya, dan tradisi yang berperan penting dalam memperkuat solidaritas sosial di Tradisi yang berkembang di Indonesia, terutama yang berhubungan dengan ritual budaya dan agama, tidak hanya berfungsi sebagai pewarisan budaya, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun dan memperkuat ikatan sosial dalam 1 Salah satu contoh tradisi yang mencerminkan hal ini adalah tradisi Hopong Ngae yang dilaksanakan oleh masyarakat Suku Helong di Pulau Semau. Nusa Tenggara Timur (NTT). Tradisi Hopong Ngae merupakan ungkapan syukur atas hasil panen dengan makan jagung bersama yang melibatkan seluruh anggota keluarga dan komunitas. Hal ini bertujuan sebagai tanda persekutuan di dalam keluarga dan mempererat hubungan sosial antar individu. Menurut Ningsih dkk. , tradisi semacam ini berfungsi sebagai alat untuk membangun solidaritas sosial, karena mengharuskan setiap anggota komunitas berpartisipasi dalam kegiatan bersama yang saling Ira Siti Rohimah. Achmad Hufad, dan Wilodati Wilodati. AuAnalisa penyebab hilangnya tradisi Rarangkyn (Studi Fenomenologi pada Masyarakat Kampung Cikantrieun Desa Wangunjay. ,Ay Indonesian Journal of Sociology. Education, and Development 1, no. Juni 2. : 17Ae26, doi:10. 52483/ijsed. Tradisi Hopong Ngae, . (Eritrika A. Nulik. Welfrid F. Ruk. A(Petrus2 Yuniant. Dalam hal ini, solidaritas yang terkandung dalam Hopong Ngae lebih ( Santy Sahartia. konsep solidaritas mekanik, seperti yang dikemukakan oleh yOmile Durkheim dalam The Division of Labour in Society . , yaitu solidaritas yang muncul dari kesamaan nilai dan keyakinan di masyarakat tradisional. Durkheim membagi solidaritas sosial menjadi solidaritas mekanik dan solidaritas organik, sebagai dasar kohesi masyarakat . alam Umanailo, 2. 3 Dalam masyarakat yang masih homogen, seperti masyarakat Helong, solidaritas sering kali terwujud dalam bentuk kebersamaan yang diikat oleh nilai-nilai bersama yang dipraktikkan dalam tradisi. Meskipun sudah berakar lama. Hopong Ngae menghadapi tantangan perubahan sosial dan modernisasi yang mempengaruhi cara-cara pelaksanaannya, seperti perubahan tempat pelaksanaan tradisi ini. Pada masa lalu, tradisi makan jagung bersama dilakukan di kebun, sebagai tanda relasi yang dekat dengan tanah dan hasil panen, kini karena pertimbangan praktis dan tingkat kesibukan masyarakat, sekarang dipindahkan ke rumah-rumah. Pada beberapa tahun ke depan, ketika jumlah petani semakin berkurang dan kecenderungan generasi muda melihat petani bukan sebagai pekerjaan yang diminati, maka tradisi ini akan kehilangan makna dan nalainya. Zuhriyah dkk. menjelaskan bahwa perubahan ini menunjukkan adanya proses adaptasi budaya dalam menghadapi perkembangan sosial yang semakin kompleks. 4 Meski ada perubahan teknis dalam ritual, seperti dalam perpindahan tempat dan doa yang diucapkan. Dahulu doa yang dilakukan lebih spontan, tetapi sekarang menjadi lebih formal dan liturgis. Namun, nilai-nilai solidaritas yang terkandung dalam tradisi ini tetap menjadi elemen penting dalam menjaga kohesi sosial masyarakat. Di Jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot, yang terletak di Klasis Semau, masyarakat tetap mempertahankan tradisi Hopong Ngae sebagai wujud solidaritas sosial, yang tercermin dalam kebersamaan selama pelaksanaan ritual tersebut. Sebagai bagian dari komunitas yang memiliki beragam latar belakang pekerjaan dan pendidikan, anggota jemaat tetap menunjukkan semangat gotong royong dalam melaksanakan tradisi ini, meskipun dengan beberapa penyesuaian sesuai dengan Sri Mulia Ningsih dkk. AuTradisi Nunas Neda Sebagai Sarana Memperkuat Solidaritas Sosial di Desa Kesik Kecamatan Masbagik,Ay Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan 9, no. Juli 2. : 1597Ae1603, doi:10. 29303/jipp. Muhamad Chairul Basrun Umanailo. AuSekelumit Cerita Untuk Mengenal AoEmile Durkheim,AoAy Emile Durkheim, 2023. Risyart Alberth Far Far dan Samuel Frederik Tuhumury. AuStrategi Adaptasi Masyarakat Pesisir Terhadap Dampak Perubahan Iklim di Kepulauan Kei Besar Maluku Tenggara,Ay Jurnal Akuatiklestari 6, no. November 2. : 53Ae61, doi:10. 31629/akuatiklestari. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. kebutuhan dan keadaan. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun terdapat pergeseran dalam cara pelaksanaan, semangat kebersamaan dan solidaritas tetap Beberapa penelitian terdahulu menekankan bagaimana tradisi lokal berfungsi sebagai alat penguat solidaritas sosial dan identitas kolektif, misalnya penelitian oleh Marselia Elisabet Lika yang meneliti Tradisi Tahul pada Jemaat GMIT Foimahen Anainfar-Alor, yang menunjukkan bagaimana praktik agama dalam konteks budaya setempat dapat memperkuat nilai-nilai solidaritas antar warga. Lika menekankan pentingnya kehadiran Allah dalam setiap upacara sebagai simbol dari kebersamaan dan saling mendukung. Selain itu. Eikel Ginting dalam kajiannya mengenai kesadaran kontingensi dalam budaya solidaritas di tradisi Aron, menunjukkan bagaimana identitas manusia yang terbatas dan saling bergantung satu sama lain memperkuat solidaritas dalam tradisi ini. 6 Penelitian ini relevan dalam konteks Hopong Ngae di mana semua orang menyumbang tenaga dan makanan dalam perayaan tersebut sebagai solidaritas sosial-ekonomi. Bahkan, mereka bersolidaritas dalam spiritual dan emosional di dalam doa bersama dan duduk bersama makan jagung baik orang tua dan orang muda, orang kaya dan Pada dasarnya, solidaritas yang dibangun dalam tradisi ini juga mencerminkan saling ketergantungan antar anggota masyarakat yang bekerja bersama dalam merayakan hasil panen. Di sisi lain, penelitian oleh Lamunde tentang Tarian Li Ngae mengungkapkan bagaimana tradisi ini menjadi ungkapan syukur yang tidak hanya memperkuat identitas kolektif masyarakat Suku Helong, tetapi juga menjadi bagian dari upaya untuk memelihara hubungan sosial yang harmonis dalam komunitas mereka. Meskipun fokus utama dalam penelitian ini adalah perayaan syukur, dimensi sosial yang terkandung dalam tradisi Hopong Ngae sangat relevan untuk menganalisis bagaimana solidaritas terjalin dalam proses kolektif tersebut. Namun, kajian khusus mengenai Hopong Ngae, terutama yang menghubungkan antara solidaritas sosial dalam konteks teologi kontekstual masih Kajian ini dimaksudkan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan Marselia Elisabet Lika. AuTinjauan Etika Solidaritas terhadap Praktik dan Makna Tradisi Tahul bagi Jemaat GMIT Foimahen Anainfar-Alor,Ay t. Eikel Ginting. AuAoAku Kap Kam. Kam Kap AkuAo Kesadaran Kontingensi Richard Rorty dan Relevansinya dalam Budaya Solidaritas AoAron,AoAy Studia Philosophica et Theologica 23, no. Oktober 2. : 255Ae76, doi:10. 35312/spet. AuLi Ngae Tarian Tradisional Pulau Semau | PDF,Ay diakses 10 September 2025, https://w. com/document/813777179/LI-NGAE-TARIAN-TRADISIONAL-PULAUSEMAU. Tradisi Hopong Ngae, . (Eritrika A. Nulik. Welfrid F. Ruk. A(Petrus Yuniant. bagaimana nilai solidaritas dalam Hopong Ngae membangun kohesi ( Santy Sahartia. memberikan relevansi teologis, sehingga praktik budaya lokal dapat menjadi model solidaritas yang kontekstual dan bermakna bagi jemaat. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan informan kunci dan survei terhadap jemaat. 8 Data kuantitatif sederhana juga dianalisis untuk memperkuat pemahaman tematik terkait solidaritas dan tradisi Hopong Ngae. Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka yang mencakup jurnal, buku, dan artikel terkait teori solidaritas dan praktik budaya tradisional. Hasil analisis disajikan dalam bentuk naratif deskriptif yang menggambarkan makna dan peran solidaritas dalam tradisi tersebut. Hasil dan Pembahasan Makna Tradisi Hopong Ngae dalam Kehidupan Jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot Hopong Ngae adalah sebuah tradisi yang sangat penting bagi masyarakat Helong di Pulau Semau, karena berdasarkan sejarahnya tradisi ini berfungsi sebagai sarana untuk mempererat hubungan antar keluarga. Secara harafiah. Hopong berarti bakar, dan Ngae berarti jagung, yang jika digabungkan berarti upacara atau musim panen jagung. 9 Di bawah pengaruh kekristenan, "Hopong Ngae" sering kali diawali dengan ibadah bersama dan biasanya partisipan dalam tradisi "Hopong Ngae" mencakup seluruh keluarga pemilik kebun. Kaka Ama . ebutan untuk kakak laki-laki tertua dalam keluarg. , serta anggota marga dari pihak laki-laki dan pihak perempuan, termasuk saudara laki-laki dari istri pemilik kebun. Tradisi Hopong Ngae memiliki makna yang mendalam bagi kehidupan jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot. Berdasarkan hasil survei, tradisi ini diidentifikasi dengan beberapa makna utama, antara lain sebagai sarana mempererat hubungan antarwarga jemaat . ,8%) dan ungkapan syukur atas berkat yang diterima . ,6%), lihat tabel 1 di bawah ini. Hengky Wijaya. Strategi Menulis Jurnal Untuk Ilmu Teologi, ed. oleh Sonny Eli Zaluchu (Semarang: Golden Gate Publishing, 2. , 23Ae42. Piter Pong. Pelaksanaan Tradisi Hopong Ngae, 2024. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Respons Jemaat Jawaban Persentase Sarana mempererat hubungan 95,8% Ungkapan Syukur 91,6 % Pemeliharan budaya 66,6% Mengingat keluarga yang meninggal (Susung Hadan. Menjaga stabilitas pangan Tabel 1. Makna Utama Tradisi Hopong Ngae Tradisi ini juga menjadi bagian integral dalam proses pembentukan identitas komunitas, di mana seluruh anggota jemaat, tanpa terkecuali, terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Hopong Ngae lebih dari sekadar upacara, melainkan suatu peneguhan hubungan sosial dan spiritual yang mendalam bagi seluruh jemaat. Melalui partisipasi kolektif dalam kegiatan ini memperkuat ikatan sosial antar individu melalui praktik makan bersama, yang merupakan simbol solidaritas material. Selain itu, tradisi ini juga dipahami sebagai pemeliharaan budaya . ,6%) yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat. Hal ini menunjukkan bahwa Hopong Ngae bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga sarana untuk mempertahankan nilai budaya yang telah ada. Berdasarkan data, tradisi ini dikenal dan dijalankan oleh seluruh anggota jemaat . %), menunjukkan pentingnya peran tradisi ini dalam membangun hubungan sosial yang harmonis. Aspek solidaritas ekonomi tercermin dalam praktik makan bersama, yang melibatkan kontribusi bahan makanan dari seluruh jemaat. Ini menjadi simbol solidaritas material di mana individu dengan latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda berperan aktif dalam memperkuat ikatan sosial. Oleh karena itu, tradisi Hopong Ngae di Jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot mencerminkan nilai solidaritas yang kuat dalam masyarakat setempat, yang terbangun melalui kebersamaan, gotong royong, dan doa bersama, sejalan dengan teori solidaritas mekanik menurut Durkheim. Dari deskripsi hasil penelitian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa tradisi Hopong Ngae ini memiliki 3 makna yang mengemuka yaitu sebagai suatu aktivitas sosial, spiritual, dan budaya. Sebagai aktivitas sosial, kebersamaan dalam praktik sosial menjadi fokus utama. Hopong Ngae memperkuat ikatan sosial antar individu melalui praktik makan bersama, yang merupakan simbol solidaritas Tradisi ini akan berlangsung sekitar bulan Maret atau April saat menjelang musim panen, dan biasanya akan berlangsung pada malam hari. Tempat Tradisi Hopong Ngae, . (Eritrika A. Nulik. Welfrid F. Ruk. A(Petrus Yuniant. adalah di rumah orang yang sudah lanjut usia atau di rumah duka Santy Sahartia. yang meninggal pada saat itu. Makan bersama bukan sekadar kegiatan berbagi makanan, tetapi juga memiliki makna sosial yang mendalam, karena ia mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dengan latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda. Pesertanya adalah semua masyarakat yang ada di dalam kampung Ae tua dan muda, terutama adalah keluarga seperti kakak, adik, ipar, dan mantu-mertua. Penyelenggaranya adalah Kaka Ama atau Bapak - orang yang dituakan. Proses pelaksanaan dilakukan melalui empat tahap, yaitu: pemberitahuan, persiapan, pelaksanaan dan pasca pelaksanaan. Pada tahap pemberitahuan, semua orang akan mendapat undangan untuk hadir dalam acara makan tersebut. Sedangkan pada tahap persiapan, setiap peserta akan mempersiapkan segala sesuatu untuk tahap pelaksanaan dengan kesepakatan seperti: setiap keluarga membawa jagung, beras, dan mengumpulkan uang. Saat pelaksanaan, semua peserta akan duduk bersama di kiri dan kanan meja, sedangkan Kaka Ama atau pemimpin tradisi akan duduk di meja bagian atas dan di bagian bawah dan menyapa seluruh peserta sebelum berdoa dan makan bersama. Tetapi, ada sedikit perbedaan ketika Hopong Ngae dilaksanakan saat ada yang meninggal, karena para Kaka Ama akan menuturkan syair berbalas-balasan yang isinya sebagai sapaan terakhir kepada yang meninggal. Hal ini sebagai ungkapan syukur bahwa meski orang yang sudah meninggal itu pergi, tetapi ia meninggalkan bibit untuk suami atau istri atau anaknya. Pasca pelaksanaan makan bersama, semua orang dalam suasana yang ceria dan gembira akan makan sirih pinang bersama untuk melepas lelah, dan juga sebagai tanda berakhirnya acara tersebut. Dengan demikian, makan bersama mengandung nilai saling memberi dan menerima, yang memperkaya pengalaman hidup sosial jemaat. Selain itu, kebersamaan yang terjalin dalam praktik makan bersama ini turut mempererat hubungan antar warga jemaat. Aktivitas ini juga memberi kesempatan untuk saling mengenal dan berbagi kisah hidup, yang memperkuat ikatan sosial antar individu dalam jemaat. Hal ini sejalan dengan pandangan Giddens yang menyatakan bahwa interaksi sosial yang terjalin dalam kegiatan kolektif, seperti makan bersama, dapat memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat yang cenderung semakin terfragmentasi. 10 Praktik makan bersama dalam tradisi Muhammad Faris Fauzan dan Muhammad Zikry Zikrulloh. AuPengaruh Teori Strukturisasi Dalam Kehidupan Sosial,Ay 2024. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Hopong Ngae mengandung dimensi pertemuan sosial yang tidak hanya fisik, tetapi juga menghubungkan individu secara emosional dan psikologis. Selain sebagai bentuk solidaritas sosial, doa bersama . ,1%) yang menjadi bagian integral dari Hopong Ngae memberikan dimensi spiritual yang mendalam dalam tradisi ini. Doa bersama menjadi sarana bagi jemaat untuk mengungkapkan syukur atas berkat Tuhan dan memohon berkah-Nya untuk kehidupan mereka ke depan. Melalui doa bersama, jemaat tidak hanya menyatukan tujuan spiritual, tetapi juga meneguhkan kesatuan iman yang menghubungkan mereka dalam konteks komunitas gereja. Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya dimensi spiritual dalam kehidupan berjemaat, yang tidak hanya terbatas pada rutinitas ibadah, tetapi juga diterjemahkan dalam tindakan-tindakan sosial yang memperkuat hubungan antar Sebagaimana dikatakan oleh Khoiruddin dan Khulwah, doa bersama dalam suatu komunitas beragama berfungsi untuk memperbaharui hubungan tidak hanya dengan Tuhan tetapi juga dengan sesama anggota komunitas. 11 Dalam konteks Hopong Ngae, doa dan makan bersama berfungsi sebagai pembaharuan hubungan spiritual dan sosial yang memberi arti lebih dalam pada kebersamaan mereka sebagai satu tubuh Kristus, di mana semua anggota tubuh bersama-sama saling membutuhkan, mendukung dan bergantung. Salah satu makna penting yang terkandung dalam tradisi Hopong Ngae adalah pemeliharaan lokal . ,6%), penjaga identitas budaya masyarakat setempat. Bagi jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot, tradisi ini bukan hanya tentang ritual keagamaan, tetapi juga merupakan upaya untuk melestarikan nilai-nilai budaya yang telah diteruskan oleh generasi 12 Oleh karena itu, tradisi ini tidak hanya mencerminkan keberagaman agama, tetapi juga keberagaman budaya lokal yang sangat kaya. Menurut Geertz tradisi-tradisi seperti Hopong Ngae berfungsi sebagai simbol kebudayaan yang memperkuat jati diri masyarakat, sehingga mereka tidak hanya terikat pada agama mereka, tetapi juga pada kehidupan sosial budaya mereka. 13 Dengan demikian, tradisi Hopong Ngae adalah identitas kolektif bagi jemaat dan masyarakat dalam memelihara kohesi sosial. Khoiruddin Khoiruddin. AuModerasi Beragama Dalam Kearifan Lokal Pada Masyarakat Pesisir Barat Provinsi Lampung,Ay MODERATIO: Jurnal Moderasi Beragama 3, no. Agustus 2. : 76, doi:10. 32332/moderatio. Pdt. Aris Tameno. Pelaksanaan Tradisi Hopong Ngae, 2024. Clifford Geertz, ed. Myth. Symbol, and Culture (New York: Norton, 1. Tradisi Hopong Ngae, . (Eritrika A. Nulik. Welfrid F. Ruk. A(Petrus Melalui Yuniant. partisipasi penuh dalam tradisi ini, seluruh anggota jemaat secara ( langsung Santy Sahartia. berperan dalam menjaga agar nilai-nilai budaya lokal tetap hidup. Dalam hal ini, meskipun banyak perubahan sosial terjadi akibat modernisasi, jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot tetap berusaha mempertahankan dan memperbaharui tradisi mereka, serta mengajarkan kepada generasi muda betapa pentingnya memahami dan menghargai nilai-nilai budaya yang telah diwariskan. Sebagai bagian dari aspek solidaritas sosial, makan bersama dalam tradisi Hopong Ngae mencerminkan solidaritas ekonomi dalam bentuk kontribusi bahan makanan yang dikumpulkan dari seluruh jemaat sesuai kesepakatan bersama dengan seluruh peserta. Praktik ini tidak hanya berbicara tentang berbagi makanan, tetapi juga mencerminkan keadilan sosial, di mana setiap individu, meskipun berasal dari latar belakang ekonomi yang berbeda, berpartisipasi dalam menciptakan kebersamaan yang merata. Di sinilah solidaritas ekonomi terjadi, yang mengurangi jarak antara individu yang lebih kaya dan yang kurang mampu, karena semua orang memiliki peran yang sama dalam keberhasilan acara tersebut. Ada yang bertugas pada tahap pemberitahuan untuk menyampaikan undangan atau pada tahap persiapan untuk memasak dan menyiapkan masakan sehingga bukan hanya kontribusi dalam bentuk ekonomi, tetapi semua turut menyumbang tenaga, waktu, dan peran sosial. Hal ini menunjukkan bahwa praktik sosial dalam tradisi ini berfungsi sebagai alat pemersatu, mengatasi perbedaan sosial dan ekonomi dalam Ini tidak hanya menjadi cara untuk menjaga hubungan antar warga, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetaraan, yang menjadi prinsip dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, tradisi Hopong Ngae lebih dari sekadar sebuah kegiatan sosial, tetapi juga menjadi alat untuk meneguhkan nilai-nilai solidaritas dalam kehidupan sehari-hari jemaat. Tradisi Hopong Ngae dalam Memperkuat Solidaritas Berdasarkan Teori Solidaritas Mekanik Emile Durkheim Data penelitian menunjukkan bahwa hampir 83,3% responden menganggap kebersamaan, seperti makan bersama dan gotong royong, sebagai elemen penting dalam memperkuat hubungan antar anggota jemaat. Tabel berikut memberikan gambaran mengenai peran kegiatan ini dalam membangun solidaritas jemaat. Aggri Sundari dan Salahuddin Harahap. AuTradisi Makan Bersama Berhadap-Hadapan pada Masyarakat Melayu Batubara (Analisis Kearifan Lokal dalam Kehidupan Sosial Etnik Melay. ,Ay Jurnal Sosial Ekonomi dan Humaniora 10, no. Juni 2. : 298Ae309, doi:10. 29303/jseh. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Respons Jemaat Jawaban Persentase Kebersamaan dalam kegiatan 83,3% Gotong royong antaranggota Doa bersama 79,1% Memperkuat hubungan antara jemaat dalam gereja Ibadah kelompok Empati terkait kondisi yang terjadi dalam jemaat Menyapa satu dengan yang lain Makan bersama dari yang dikumpulkan jemaat Tabel 2. Aspek-aspek Sosial yang Diperkuat oleh Tradisi Hopong Ngae Pelaksanaan tradisi Hopong Ngae di Jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot sangat mencerminkan solidaritas mekanik, sesuai dengan konsep yang diajukan oleh Emile Durkheim. Semua peserta tua dan muda, orang kaya dan miskin Ae duduk di meja yang sama untuk berdoa dan makan bersama dalam ungkapan syukur atas masa panen yang akan mereka jalani. Dalam solidaritas mekanik, anggota masyarakat terikat oleh kesamaan nilai, norma, dan peran sosial yang diterima bersama, serta melalui partisipasi kolektif dalam berbagai aktivitas 15 Dalam konteks tradisi Hopong Ngae, ini terwujud dalam tiga bentuk aktivitas utama: gotong royong, doa bersama, dan makan bersama. Gotong Royong: Kerjasama Untuk Tujuan Bersama Gotong royong merupakan inti dari solidaritas dalam tradisi Hopong Ngae. Aktivitas seperti pengumpulan bahan pangan, persiapan tempat, dan pembagian tugas tidak hanya melibatkan anggota jemaat dari berbagai kelompok sosial, tetapi juga melibatkan semua individu dalam jemaat tanpa memandang status sosial, usia, atau jabatan. Hal ini memperlihatkan bagaimana kesamaan tujuan dan tindakan kolektif mempererat hubungan sosial antar individu. Menurut Durkheim, solidaritas mekanik terjadi ketika masyarakat memiliki struktur sosial yang sederhana, di mana semua anggota masyarakat memiliki peran yang serupa dan terikat oleh aktivitas kolektif. 16 Sehingga, gotong royong tidak hanya dipandang Yohanes Bahari. Alhafizah, dan Fatmawati. AuAnalisis Solidaritas Mekanik Pada Organisasi Bapakat Etnis Dayak Kanayatn Desa Pancaroba Kecamatan Sungai Ambawang,Ay Jurnal Ilmiah Universitas Tanjungpura, 2019. AuKontribusi Solidaritas Sosial dan Konsep Emile Durkheim dalam Masyarakat Modern Halaman Kompasiana. com,Ay September https://w. com/ekoto1398/6801b2e0ed641528bd5ffc92/kontribusi-solidaritas-sosialdan-konsep-emile-durkheim-dalam-masyarakat-modern. Tradisi Hopong Ngae, . (Eritrika A. Nulik. Welfrid F. Ruk. A(Petrus kerja Yuniant. bersama-sama, tetapi sebuah solidaritas mekanik yang memberikan ( Santy kepadaSahartia. semua orang untuk mengambil dan menerima peran. Dalam tradisi Hopong Ngae, gotong royong tidak hanya mencerminkan kerjasama dalam aspek materi, seperti pengumpulan bahan makanan, tetapi juga menciptakan kesatuan iman sebagai tubuh Kristus di antara para jemaat. Seperti yang dijelaskan oleh Azhari, partisipasi dalam aktivitas bersama seperti ini memunculkan rasa kebersamaan yang mendalam, di mana sebelumnya setiap individu ini sibuk dengan urusan dan kehidupan mereka masing-masing, tetapi kemudian mereka yang berbeda latar belakang sosial dan ekonomi dapat berkolaborasi untuk tujuan bersama, yaitu menyukseskan tradisi yang telah 17 Dalam kerangka solidaritas mekanik, gotong royong ini mempertegas prinsip bahwa masyarakat diikat oleh kesamaan tujuan dan nilai-nilai yang berbagi. Doa Bersama: Kekuatan Kolektif dalam Ibadah Doa bersama dalam tradisi Hopong Ngae bukan sekadar upacara ritual, tetapi menjadi sarana untuk mempererat ikatan spiritual antar anggota jemaat. Durkheim menegaskan bahwa dalam solidaritas mekanik, kesamaan keyakinan dan nilai bersama merupakan dasar penting dalam membentuk keterikatan sosial yang kuat. Dalam konteks ini, doa bersama di Jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot berfungsi sebagai sarana untuk menyatukan jemaat dalam satu tujuan spiritual yang sama, yaitu bersyukur atas berkat yang diterima sepanjang tahun dan memohon berkat untuk masa depan. Solidaritas spiritual ini menciptakan ruang untuk semua anggota jemaat, baik yang muda maupun yang tua, yang kaya maupun yang miskin, untuk merasakan pengalaman kolektif yang memupuk rasa kebersamaan dan keterikatan yang lebih Sebagaimana dicatat oleh Suharto, doa bersama dalam komunitas agama meningkatkan keterikatan sosial antar anggota jemaat, menciptakan rasa tanggung jawab bersama terhadap keberlanjutan kehidupan spiritual mereka. 18 Dalam hal ini, doa bersama mengingatkan jemaat bahwa mereka adalah bagian dari komunitas yang lebih besar, yaitu tubuh Kristus, yang tidak terpisahkan oleh perbedaan status sosial, tetapi di satukan dalam iman dan doa. Oleh karena itu, tradisi tersebut masih terus dilakukan sampai hari ini karena jemaat memiliki pandangan yang sama Muhammad Zul Azhari. AuEksistensi Tradisi Maballa Sebagai Identitas Kebersamaan Masyarakat Di Desa Tokkonan Kecamatan Enrekang Kabupaten EnrekangAy (IAIN Parepare, 2. Amriansyah Pohan dkk. AuPeran Agama dalam Penanganan Trauma Kolektif Pasca Bencana Alam di Indonesia,Ay Indo-MathEdu Intellectuals Journal 6, no. Januari 2. : 430Ae 41, doi:10. 54373/imeij. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. bahwa Hopong Ngae memiliki nilai persekutuan, kebersamaan, persaudaraan, kasih, solidaritas, penghormatan, dan kekerabatan. Semua peserta harus memiliki sikap saling menghargai, mengasihi, saling memiliki dan berbagi rasa dalam Selain itu, doa bersama juga berfungsi sebagai pelaksanaan norma-norma keagamaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari jemaat. Kehadiran setiap anggota dalam doa bersama menegaskan kembali prinsip kesatuan dalam keberagaman, sejalan dengan solidaritas mekanik yang terbangun karena adanya kesamaan norma dan nilai spiritual dalam masyarakat. Makan Bersama: Mewujudkan Kebersamaan dalam Praktik Sosial Makan bersama dalam tradisi Hopong Ngae adalah simbol dari solidaritas sosial yang terjalin di antara jemaat. Praktik ini tidak hanya menunjukkan kebersamaan dalam aspek fisik, tetapi juga dalam tindakan sosial kolektif yang menyatukan semua anggota jemaat dalam satu meja makan. Durkheim mengemukakan bahwa dalam solidaritas mekanik, masyarakat diikat oleh aktivitas bersama yang mencerminkan kesamaan nilai dan tujuan. Makan bersama dalam Hopong Ngae adalah salah satu contoh praktik sosial kolektif yang memperkuat ikatan antar anggota jemaat. Makan bersama ini tidak hanya sekadar berbagi makanan, tetapi lebih dari itu, ia menjadi ruang di mana perbedaan sosial, ekonomi, dan budaya bisa diredam, bahkan dilupakan untuk sementara. Setiap anggota jemaat, dari yang lebih kaya hingga yang kurang mampu, berperan aktif dalam menyumbangkan makanan, dan kemudian menikmatinya bersama. Hal ini menciptakan kesetaraan sosial, yang mengurangi sekat-sekat antara anggota jemaat yang memiliki latar belakang sosial yang berbeda. Runturambi mencatat bahwa makan bersama dalam masyarakat tradisional berfungsi sebagai peneguhan kembali nilai kebersamaan yang sangat penting dalam membangun kohesi sosial. 19 Lebih lanjut, makan bersama memperlihatkan nilai solidaritas yang mengikat setiap individu dalam kegiatan yang sangat sederhana namun penuh makna. Dalam hal ini, solidaritas mekanik terwujud dalam tindakan kolektif yang dilakukan oleh anggota jemaat untuk mencapai tujuan bersama, yakni mempererat hubungan sosial dan memperkuat komunitas gereja. Rivenhard Runturambi. AuBudaya Makan Bersama dalam Perayaan Pengucapan Syukur Sebagai Tindakan Simbolik Integrasi Sosial di Minahasa Tenggara. ,Ay Journal of Education. Humaniora and Social Sciences (JEHSS) 4, no. Januari 2. : 1466Ae76, doi:10. 34007/jehss. Tradisi Hopong Ngae, . (Eritrika A. Nulik. Welfrid F. Ruk. A(Petrusbagi Yuniant. Tantangan Keberlanjutan Tradisi Hopong Ngae ke Depan ( Meskipun Santy Sahartia. tradisi Hopong Ngae dilaksanakan setiap tahun . %), terdapat beberapa kendala yang dapat mempengaruhi keberlanjutannya di masa depan. Berdasarkan data, sebagian besar responden . ,6%) tidak melihat adanya kendala besar, namun tantangan yang ada termasuk kurangnya keterlibatan anak muda . ,6%), pengaruh dunia modern . ,16%), dan masalah teknis dalam pelaksanaan . isalnya, jemaat yang meninggalkan acara sebelum selesai maka. Selain itu, sebagian jemaat tidak hadir pada acara karena alasan tertentu . ,33%). Tabel berikut menunjukkan kendala yang dihadapi oleh jemaat dalam melaksanakan tradisi ini. Respons Jemaat Jawaban Persentase Tidak ada 66,6% Kurangnya keterlibatan anak muda 16,6% Tidak menerima ritual turun temurun 4,16% Teknis pelaksanaan (Ada yang beranjak sebelum kepala meja selesai maka. 8,33% Terdapat sejumlah kecil jemaat yang tidak hadir . arena tidak punya lahan ) 8,33% Masa menanam yang tidak teratur 4,16% Pengaruh dunia modern 4,16% Tabel 3. Kendala Pelaksanaan Hopong Ngae Tantangan pertama yang perlu diperhatikan adalah kurangnya keterlibatan anak muda. Generasi muda cenderung lebih sibuk dengan kegiatan pribadi atau menghadapi pengaruh budaya global yang lebih mendominasi, seperti media sosial dan gaya hidup modern. Hal ini menyebabkan mereka kurang tertarik atau tidak merasa terhubung dengan tradisi yang dilakukan oleh jemaat yang lebih tua. Semakin hari minat generasi muda terhadap kegiatan yang bersifat kolektif semakin menurun, dan lebih memilih aktivitas yang lebih individualistis atau berbasis teknologi. 21 Seiring berjalannya waktu, tradisi ini bisa kehilangan fungsi kohesi sosialnya, karena kaum muda menganggapnya kurang relevan dengan kehidupan modern. Namun, tantangan ini juga membuka peluang untuk adaptasi dan inovasi dalam mempertahankan tradisi. Wigit Triyatno dan Yuli Ifana Sari. AuKajian Geografi Manusia: Dinamika Kebudayaan Dan Identitas Sosial Dalam Konteks Globalisasi,Ay 2024. Lanny Nurhasanah. Bintang Panduraja Siburian, dan Jihan Alfira Fitriana. AuPengaruh Globalisasi Terhadap Minat Generasi Muda Dalam Melestarikan Kesenian Tradisional Indonesia,Ay Jurnal Global Citizen : Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan Kewarganegaraan 10, no. Desember 2. : 31Ae39, doi:10. 33061/jgz. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Salah satu solusi yang muncul dari hasil penelitian adalah penggunaan teknologi untuk menarik perhatian anak muda dan memperkenalkan tradisi ini melalui platform digital. Dengan memanfaatkan media sosial, video, dan aplikasi komunikasi, tradisi Hopong Ngae bisa diperkenalkan dan dipromosikan kepada generasi muda, sehingga mereka bisa lebih mudah mengakses informasi tentang nilai dan pentingnya tradisi ini. 22 Cara lainnya adalah menambahkan elemen kreatif yang melibatkan anak muda untuk mengelolanya. Kemampuan kreatif dan kemahiran anak muda dalam menggunakan berbagai perangkat dapat dimanfaatkan untuk memproduksi video atau desain kreatif di berbagai platform media sosial. Dengan demikian, memanfaatkan kemampuan generasi muda serta media digital, tradisi ini bisa tetap bertahan dalam arus modernisasi hari ini. Di samping itu, faktor kerja sama antara gereja, pemerintah, dan komunitas adat juga menjadi faktor penting dalam menjaga relevansi tradisi ini di masa 23 Dengan adanya sinergi antara lembaga-lembaga tersebut, dapat ditemukan cara-cara untuk menyelaraskan pelaksanaan tradisi Hopong Ngae dengan dinamika sosial dan ekonomi yang berkembang. Misalnya, kolaborasi untuk menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan masyarakat yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada jemaat gereja, tetapi juga masyarakat sekitar. Dalam perspektif teori solidaritas organik Emile Durkheim, perubahan ini dapat dilihat sebagai bagian dari evolusi sosial yang wajar. Masyarakat yang sebelumnya didominasi oleh solidaritas mekanik, yang terbangun melalui kesamaan aktivitas dan nilai bersama, kini beralih menuju solidaritas organik. Dalam solidaritas organik, perbedaan individu dan keahlian dihargai, tetapi keterikatan sosial tetap terjaga melalui saling ketergantungan antar anggota jemaat atau masyarakat. 24 Oleh karena itu, meskipun tradisi Hopong Ngae berakar pada solidaritas mekanik yang dibangun melalui kesamaan nilai dan tujuan bersama, adaptasi untuk melibatkan berbagai elemen dalam masyarakat yang lebih beragam dan modern menjadi sangat penting. Untuk itu, meskipun tantangan yang dihadapi cukup besar, tradisi Hopong Ngae masih memiliki potensi untuk berkembang dan bertahan melalui penyesuaian dengan konteks sosial yang lebih luas, serta dengan Ryan Aldi Nugraha. AuInovasi Teknologi Madya pada Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptagelar,Ay Empower: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam 6, no. Juni 2. : 14, doi:10. 24235/empower. Rezeki Putra Gulo. AuTeologi dan Keadilan Sosial: Peran Gereja dalam Merespons Ketimpangan Global,Ay Jurnal Tumou Tou 12, no. : 41Ae51. Dadan Saeful R. Yani Achdiani, dan Mirna Nur Alia A. AuBentuk Solidaritas Masyarakat Nelayan Di Kelurahan Kesenden,Ay SOSIETAS 7, no. Maret 2. , doi:10. 17509/sosietas. Tradisi Hopong Ngae, . (Eritrika A. Nulik. Welfrid F. Ruk. A(Petrus Yuniant. teknologi dan membangun keterlibatan lebih banyak pihak, ( Santy Sahartia. Implikasi Teologi Kontekstual dalam Tradisi Hopong Ngae Teologi Kontekstual berfokus pada penghayatan ajaran iman Kristen dalam konteks sosial dan budaya yang spesifik, di mana ajaran tersebut diterjemahkan ke dalam praktik yang relevan dengan realitas lokal tanpa mengabaikan kebenaran Alkitab. Dalam hal ini, tradisi Hopong Ngae di Jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot memberikan contoh yang konkret tentang bagaimana ajaran Kristiani dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, mengedepankan solidaritas sosial dalam bentuk kebersamaan, gotong royong, dan doa bersama. Pertama, dari sudut pandang teologi kontekstual, tradisi Hopong Ngae dapat dipahami sebagai penerapan prinsip kasih dan solidaritas yang diajarkan oleh Yesus dalam Alkitab. Dalam Matius 25:35-40. Yesus mengajarkan bahwa memberikan makanan, minuman, serta perhatian terhadap orang lain adalah bagian dari pelayanan kepada-Nya. Kasih bukanlah sebuah konsep yang abstrak, tetapi sebuah spiritualitas sehari-hari. Oleh karena itu, tradisi makan bersama dalam Hopong Ngae, yang melibatkan kontribusi bahan makanan dari seluruh jemaat tanpa membedakan status sosial, adalah salah satu bentuk nyata dari kasih kepada Makan bersama bukan hanya bertujuan memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menjadi sarana spiritual di mana jemaat memperlihatkan kasih Kristus dalam tindakan nyata. Semua orang duduk bersama tanpa hierarki, saling berbagi jagung, bahkan dalam tahap persiapannya semua orang mengambil peran untuk saling memberi dan menerima. Kasih Kristus menjadi nyata dan bukan hanya sebuah konsep abstrak. Kasih tanpa pamrih yang menjadi inti dari ajaran Yesus menyatukan anggota jemaat, tak peduli status sosial mereka. Kedua, dalam praktik gotong royong, anggota jemaat saling membantu dan bekerja bersama-sama dalam mempersiapkan acara, mengumpulkan bahan pangan, dan melaksanakan kegiatan lainnya. Dalam konteks teologi kontekstual, gotong royong dalam Hopong Ngae adalah pengamalan prinsip pelayanan yang diajarkan oleh Yesus, khususnya dalam Markus 9:35, di mana Yesus mengajarkan bahwa siapa yang ingin menjadi terbesar harus menjadi pelayan bagi yang lain. Gotong royong ini menciptakan rasa kebersamaan yang melampaui perbedaan status Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. sosial25 dan memperlihatkan pemahaman tentang pelayanan yang bersifat inklusif26 dan melibatkan semua orang27 termasuk seluruh anggota jemaat. Ketiga, doa bersama dalam Hopong Ngae menandai esensi persekutuan Kristen yang mendalam. Ketika Paulus menulis surat kepada jemaat di Korintus yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, ia kemudian mengajarkan mereka harus hidup sebagai satu tubuh Kristus . Kor. 12:12-. Dalam teologi kontekstual, doa bersama menjadi sarana untuk menguatkan ikatan spiritual antar Setiap anggota, meskipun memiliki latar belakang dan kondisi yang berbeda, bersatu dalam satu iman dan tujuan. Ini menciptakan solidaritas yang lebih dalam, di mana setiap individu dipandang sebagai bagian integral dari tubuh Kristus yang saling mendukung dan menguatkan di dalam doa. Keempat, meskipun tradisi ini berakar pada nilai-nilai lokal dan budaya yang telah ada, tantangan modernisasi tetap dihadapi oleh gereja, termasuk Jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot. Teologi kontekstual menawarkan solusi adaptasi dalam menghadapi tantangan ini, seperti penggunaan teknologi untuk memperkenalkan dan melibatkan generasi muda dalam tradisi ini. 28 Matius 5:1416 menekankan bahwa umat Kristen harus menjadi terang bagi dunia, dan salah satu cara untuk menjadi terang di tengah dunia yang semakin modern adalah dengan menggunakan sarana teknologi untuk tetap relevan dan menjangkau lebih banyak orang. Dengan pemanfaatan platform digital, seperti media sosial, aplikasi gereja, atau streaming acara, tradisi Hopong Ngae dapat terus dilaksanakan dengan cara yang lebih modern namun tetap mempertahankan nilai-nilai dasarnya. Kelima, konteks sosial yang semakin beragam menuntut adanya inklusivitas dalam penerapan ajaran iman Kristen. Dalam tradisi Hopong Ngae, setiap individu, tanpa memandang latar belakang sosial, etnis, atau status ekonomi, dilibatkan dalam kegiatan ini. Hal ini mengingatkan kita pada ajaran Yesus dalam Lukas Fransiskus Seda dan Maria Dominika Niron. AuWuat WaAoi: Model Gotong-Royong Masyarakat Manggarai Dalam Pembiayaan Pendidikan Di Perguruan Tinggi,Ay Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 7, no. Juni 2. : 25Ae38, doi:10. 24832/jpnk. Roro Sri Rejeki Waluyajati dan Lia Ulfah Farida. AuPola Interaksi Sosial Keagamaan Antara Penganut Agama Islam Dan Kristen Advent (Studi Kasus di Desa Cihanjuang Rahayu Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Bara. ,Ay Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya 2, no. Agustus 2. : 84Ae91, doi:10. 15575/rjsalb. Palisa Aulia Dewanti. Usman Alhudawi, dan Hodriani. AuGotong Royong Dalam Memperkuat Partisipasi Warga Negara (Civic Participatio. ,Ay Pancasila and Civic Education Journal 2, no. 1 (Maret 2. : 15Ae22, doi:https://doi. org/10. 30596/pcej. Agnesia Friskila dkk. AuRekonseptualisasi Teologi Kristen Dalam Konteks Postmodernisasi Dan Era Kontemporer: Tinjauan Terhadap Tantangan Dan Peluang,Ay Humanitis 1, 4 . Tradisi Hopong Ngae, . (Eritrika A. Nulik. Welfrid F. Ruk. A(Petrus Yuniant. 14:12-14, di mana Dia mengajarkan untuk mengundang orang-orang yang miskin, ( Santy Sahartia. atau yang tidak mampu membalas sebagai bentuk kasih yang murni. Dalam teologi kontekstual, pengamalan kasih dan solidaritas yang mengedepankan kesetaraan ini menjadi sangat relevan di tengah masyarakat yang semakin plural dan terfragmentasi. 29 Dengan demikian, tradisi Hopong Ngae menunjukkan bagaimana kasih Kristus diimplementasikan dalam kehidupan jemaat dan dunia hari ini yang majemuk. Keenam, tradisi Hopong Ngae juga menjadi ruang bagi gereja untuk menghidupi panggilan misi Kristiani dalam dunia yang terus berubah. Dalam Kisah Para Rasul 1:8. Yesus mengutus para murid untuk menjadi saksi-Nya di segala penjuru dunia, dan ini mencakup konteks lokal mereka. Gereja di GMIT Sonaf Neka Huilelot, melalui tradisi Hopong Ngae, melaksanakan misi lokal dengan mengedepankan nilai-nilai sosial yang sejalan dengan ajaran Kristus. Dengan merayakan kebersamaan melalui gotong royong dan doa, gereja menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa iman Kristen tidak hanya berbicara tentang hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga horizontal dengan sesama. Dalam hal ini, tradisi Hopong Ngae berfungsi sebagai sarana penguatan iman sekaligus misi sosial yang memperlihatkan kasih Kristus kepada dunia. Simpulan Tradisi Hopong Ngae di Jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot berperan penting dalam mempererat hubungan sosial antarwarga jemaat dan memperkuat solidaritas sosial dalam konteks budaya lokal. Tradisi ini mencerminkan semangat gotong royong, kebersamaan, dan solidaritas yang mendalam, yang tidak hanya mengikat jemaat secara sosial tetapi juga secara spiritual. Praktik doa bersama dan makan bersama dalam Hopong Ngae memperkuat kesatuan iman dan memberikan makna lebih dalam bagi kehidupan berjemaat. Selain itu, tradisi ini menjadi wadah bagi pemeliharaan budaya lokal yang sejalan dengan ajaran Kristen, yang dihadirkan dalam konteks sosial dan budaya masyarakat setempat. Untuk memastikan keberlanjutan tradisi ini di masa depan, tantangan seperti keterlibatan generasi muda dan pengaruh modernisasi perlu diatasi dengan adaptasi, termasuk memanfaatkan teknologi guna mempertahankan relevansi tradisi ini. Gereja perlu terus mengembangkan kapasitasnya untuk menjembatani antara nilai-nilai tradisional dan dinamika sosial yang berkembang. Yustus Leonard Buan dan Huwae Wiesye Elena. AuPeran Gereja dalam Membangun Kesejahteraan Masyarakat: Respons terhadap Disrupsi Sosial Masyarakat Kristen,Ay Jurnal Yada 1, 1 (September 2. : 1Ae18. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Daftar Pustaka