Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 2 Oktober 2025. Hal. BPPM STAK Terpadu Pesat Pemuridan melalui Program Menjadi Seperti Kristus (MSK) 1 GBI untuk Mempersiapkan Baptisan Generasi Z bagi Pertumbuhan Gereja Wennar 1*. Lenny2. Ana Ariesanita 3. Ferry Simanjuntak 4 Sekolah Tinggi Teologi Kharisma . ,2,3,. fx@gmail. Article History Abstract Submitted: 22 Maret 2025 Accepted: 16 Oktober 2025 Published: Oktober 2025 Generation Z faces challenges in growing their faith due to their low spiritual Many Junior Church-age teenagers do not yet understand the doctrine of salvation and the importance of immersion baptism. The discipleship program based on the "Becoming Like Christ" (MSK) Module 1 was implemented to guide them in understanding the Christian faith systematically. The method used included ten online learning sessions via Zoom and Google Meet, with daily mentoring by mentors. As a result, four out of five participants decided to be baptized by immersion. This success shows the effectiveness of the program in building theological understanding and spiritual commitment of teenagers. However, challenges such as limited number of participants and online interactions need to be overcome through the development of hybrid methods. The implementation of MSK 1 in more local churches can strengthen the regeneration of Christian faith and sustainable congregation growth. Keywords: baptism by immersion, generation z, church growth. MSK 1 Kata-kata kunci: baptisan selam, generasi z, pemuridan, pertumbuhan gereja. MSK 1 Abstrak Generasi Z menghadapi tantangan dalam pertumbuhan iman akibat rendahnya indeks spiritual mereka. Banyak remaja usia Junior Church belum memahami doktrin keselamatan dan pentingnya baptisan selam. Program pemuridan berbasis Modul "Menjadi Seperti Kristus" (MSK) 1 diterapkan untuk membimbing mereka dalam memahami iman Kristen secara sistematis. Metode yang digunakan mencakup sepuluh sesi pembelajaran daring melalui Zoom dan Google Meet, dengan pendampingan harian oleh mentor. Hasilnya, empat dari lima peserta memutuskan untuk dibaptis selam. Keberhasilan ini menunjukkan efektivitas program dalam membangun pemahaman teologis dan komitmen rohani remaja. Namun, tantangan seperti keterbatasan jumlah peserta dan interaksi daring perlu diatasi melalui pengembangan metode hybrid. Implementasi MSK 1 di lebih banyak gereja lokal dapat memperkuat regenerasi iman Kristen dan pertumbuhan jemaat secara berkelanjutan. Copyright: @2025. Authors. 161 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga PENDAHULUAN Regenerasi dalam gereja merupakan aspek fundamental dalam menjaga kesinambungan iman dan pertumbuhan jemaat. Gereja memiliki tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai kekristenan kepada generasi muda agar dapat memahami dan menghidupi ajaran Kristus secara utuh (Silalahi & Nainggolan, 2. Namun, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah rendahnya indeks spiritual di kalangan Generasi Z, yakni yang lahir dalam rentang tahun 1998Ae Hal ini dikemukakan dalam hasil penelitian Kinnaman, yang menunjukkan tren yang meresahkan dimana lebih dari 60% jemaat Generasi Z meninggalkan iman Kristen setelah lulus SMA (David Kinnaman & Hawkins, 2. Survei Barna Research, juga menunjukkan kecenderungan Generasi Z untuk menjauh dari praktik keagamaan tradisional dan lebih tertarik pada pluralisme kepercayaan. Penelitian lain dari Bilangan Research Center pada 255 responden Generasi Z, juga menemukan bahwa salah satu penyebab rendahnya spiritualitas adalah minimnya praktik ibadah pribadi dan kurangnya keterlibatan dalam pemuridan dan penginjilan (Irawan D. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih sistematis dan terstruktur dalam membina generasi muda di gereja. Regenerasi gereja bukan hanya tanggung jawab pemimpin rohani, tetapi juga setiap jemaat yang telah mengalami pertumbuhan iman. Widiatna menekankan bahwa warisan iman Kristen kepada generasi muda harus dilakukan secara terstruktur, mengingat tantangan zaman yang semakin kompleks (Widiatna, 2. Regenerasi yang berhasil akan memastikan bahwa nilai-nilai rohani tetap terjaga dan tidak tergerus oleh arus globalisasi yang membawa banyak pengaruh Dalam konteks pemuridan, regenerasi tidak hanya sebatas pewarisan ajaran, tetapi juga membangun kedekatan relasional yang memungkinkan kaum muda mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Oleh karena itu, gereja harus berperan aktif dalam menciptakan strategi pembinaan yang mampu menjawab kebutuhan rohani Generasi Z, baik dalam aspek pemahaman teologis maupun keterlibatan dalam kehidupan komunitas gerejawi. Salah satu aspek penting dalam perjalanan rohani seseorang adalah pemahaman mengenai doktrin keselamatan dan baptisan air. Baptisan bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan sebuah langkah iman yang meneguhkan pertobatan dan komitmen seseorang kepada Kristus. Dalam Kisah Para Rasul 2:38. Rasul Petrus menegaskan bahwa pertobatan dan baptisan adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan seorang percaya. Penelitian Harefa menekankan bahwa meskipun beberapa denominasi gereja mencoba mengecualikan baptisan air dari keselamatan. Alkitab secara jelas menunjukkan hubungan erat antara baptisan dan pengampunan dosa (Harefa, 2. Namun, dalam praktiknya, masih banyak remaja di gereja lokal yang belum memahami pentingnya baptisan selam serta makna keselamatan dalam Kristus. Dalam doktrin Gereja Bethel Indonesia (GBI), baptisan selam bukan sekadar makna simbolis, tetapi merupakan perintah langsung dari Yesus Kristus yang menandai komitmen seorang percaya kepada Tuhan (Pengajaran Dasar Gereja Bethel Indonesia, 2. GBI mengajarkan bahwa setiap orang yang telah bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya harus dibaptis dengan cara diselamkan dalam nama Bapa. Putra, dan Roh Kudus, sebagaimana tertulis dalam Matius 28:19 dan Markus 16:16. 162 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Baptisan air memiliki makna rohani yang mendalam, yaitu sebagai tanda pertobatan dan lahir baru dalam Kristus. Pengajaran Dasar GBI juga menjelaskan bahwa baptisan bukan hanya sekadar tindakan simbolis, tetapi memiliki dampak transformatif dalam kehidupan orang percaya. Mereka yang dibaptis dipanggil untuk hidup dalam kesetiaan kepada Kristus dan mengalami perubahan karakter yang mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Allah (Pengajaran Dasar Gereja Bethel Indonesia, 2. Oleh karena itu, pemahaman yang benar tentang baptisan perlu diberikan sejak dini, terutama kepada Generasi Z yang masih dalam tahap mencari identitas spiritual. Berdasarkan hasil observasi lapangan, masih ditemukan bahwa remaja usia Junior Church . Ae17 tahu. di lingkup GBI belum memperoleh pengajaran pemuridan yang sistematis. Hal ini menyebabkan kurangnya kesadaran akan pentingnya baptisan dan pertumbuhan rohani. Gereja sering kali hanya menekankan ibadah mingguan tanpa memberikan bimbingan yang intensif dalam membentuk karakter dan iman remaja. Studi yang dilakukan oleh Kristyowati menyatakan bahwa Generasi Z membutuhkan metode pembinaan yang lebih kreatif dan interaktif, karena lebih tertarik pada kegiatan berbasis komunitas dibandingkan pembelajaran dogmatis yang bersifat satu arah (Kristyowati, 2. Oleh karena itu, diperlukan strategi pemuridan yang relevan dengan kebutuhan generasi ini agar tidak hanya menjadi peserta pasif dalam ibadah, tetapi juga mengalami transformasi iman yang nyata. Pemuridan merupakan bagian esensial dari Amanat Agung Yesus Kristus (Mat. 28:19-. yang menuntut setiap orang percaya untuk menjadikan bangsa-bangsa murid-Nya. Adrian menyoroti bahwa pemuridan bukan hanya sebuah program gereja, tetapi merupakan gaya hidup yang harus diinternalisasi oleh setiap jemaat (Adrian, 2. Pemuridan yang berhasil akan melahirkan individu yang tidak hanya memahami ajaran Kristen secara akademis, tetapi juga menghidupi nilai-nilai Kristus dalam hidup sehari-hari. Hal ini sejalan dengan konsep pemuridan dalam Kerajaan Allah, di mana setiap orang percaya dipanggil untuk bertumbuh menjadi murid Kristus yang sejati. Pendekatan pemuridan yang efektif harus mempertimbangkan faktor sosial dan budaya yang memengaruhi pola pikir Generasi Z. Generasi ini hidup di era digital yang penuh dengan informasi, tetapi sering kali mengalami kebingungan dalam membangun identitas rohani. Oleh karena itu, metode pemuridan yang diterapkan harus adaptif dan relevan dengan konteks Adrian juga menekankan bahwa pemuridan dalam masyarakat majemuk harus memerhatikan dinamika keberagaman dan tantangan yang dihadapi generasi muda (Adrian, 2. Dengan pendekatan yang lebih interaktif dan berbasis komunitas, pemuridan dapat menjadi lebih menarik dan efektif dalam membentuk generasi muda yang berakar kuat dalam iman Kristen. Dalam rangka menjawab kebutuhan tersebut. Modul "Menjadi Seperti Kristus" (MSK) yang diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Gereja Bethel Indonesia (BPP GBI) hadir sebagai panduan pemuridan yang komprehensif. Modul ini bertujuan untuk membangun kedewasaan rohani jemaat melalui pembelajaran yang sistematis dan berbasis Alkitab. Simanjuntak dkk. menjelaskan bahwa MSK 1 berfokus pada pengenalan akan kasih Allah, kuasa salib, serta pentingnya baptisan air sebagai bagian dari kehidupan orang percaya (Simanjuntak dkk. , 2022: Dalam modul ini, peserta diberikan bimbingan secara bertahap agar memahami doktrin 163 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga keselamatan, menjalani kehidupan rohani yang lebih dalam, serta akhirnya memutuskan untuk dibaptis dengan kesadaran penuh akan iman Kristen. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemuridan yang efektif bukan hanya sekadar mengajarkan doktrin, tetapi juga menciptakan lingkungan pembinaan yang suportif. Sondopen mengungkapkan bahwa pertumbuhan gereja yang sehat memerlukan kombinasi antara penginjilan dan pemuridan, di mana jemaat tidak hanya menerima pengajaran secara pasif, tetapi juga didorong untuk berperan aktif dalam kehidupan iman (Sondopen, 2. Selain itu. Hasibuan menekankan bahwa pemuridan yang efektif harus menekankan kedekatan relasional, di mana mentor dan peserta dapat membangun hubungan yang saling mendukung (Hasibuan, 2. Gultom juga menyoroti pentingnya menyediakan ruang bagi Generasi Z untuk mengajukan pertanyaan dan mengekspresikan iman tanpa takut dihakimi (Gultom, 2. Dengan demikian, pendekatan pemuridan yang lebih partisipatif dan berbasis komunitas menjadi solusi yang lebih relevan bagi pembinaan rohani generasi muda. Dalam konteks gereja lokal, implementasi MSK 1 sebagai program pemuridan untuk Generasi Z menjadi salah satu langkah strategis dalam mempersiapkan remaja untuk menerima baptisan selam. Dengan metode pengajaran yang sistematis, penggunaan media digital seperti Zoom dan Google Meet, serta bimbingan langsung dari mentor, program ini diharapkan dapat menjembatani kebutuhan rohani generasi muda. Pemuridan yang dilakukan tidak hanya bertujuan untuk memberikan pemahaman doktrinal, tetapi juga untuk membentuk karakter dan kedewasaan rohani peserta. Berdasarkan evaluasi awal, program ini berhasil membawa beberapa peserta untuk menerima baptisan selam, yang menunjukkan efektivitasnya dalam membantu remaja memahami dan menjalani iman dengan lebih serius. Oleh karena itu, program pemuridan berbasis MSK 1 perlu terus dikembangkan dan diterapkan di berbagai gereja lokal agar regenerasi iman Kristen dapat berlangsung secara berkelanjutan. METODE PENELITIAN Waktu pelaksanaan mulai 9 April 2022 sampai dengan 12 Juni 2022 setiap Minggu pukul 18:00iA19:00 selama sepuluh kali pertemuan secara online dengan platform ZOOM dan Google Meet. Presentasi menggunakan power point yang tersedia pada Modul MSK 1 dari Departemen Pemuridan BPP GBI. Bahan renungan harian dipergunakan dalam proses mentoring yang berlangsung setiap Senin sampai dengan Sabtu. Untuk mempermudah maka, peserta dibagi menjadi tiga kelompok seperti dalam tabel berikut: Nama Peserta David Christian Dhios Joy Mareko Kent Jovan Christian Tabel 1. Pembagian Kelompok Mentoring MSK 1 Kelompok Mentor Wennar Ana Ariesanita 164 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Steven Jonathan Jeslyn Nathania Kosasih i Gambar 1. PPT Pelajaran 1 Ae Kasih Allah Bapa Lenny Gambar 2. PPT Pelajaran Baptisan Air HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pembinaan dilaksanakan oleh tiga mahasiswa program studi Teologi jenjang strata satu semester delapan, yang berasal dari Sekolah Tinggi Teologi Kharisma Bandung sebagai perwujudan pengabdian kepada masyarakat khususnya generasi muda di lingkup sinode Gereja Bethel Indonesia. Peserta program MSK 1 terdiri atas empat remaja putra dan seorang remaja putri dari dua kota (Bandung dan Palemban. , dan berasal dari lima gereja lokaliAcabang yang berbeda di lingkup GBI. Data peserta seperti dalam tabel di bawah ini: Tabel 2. Data Peserta MSK 1 No. Nama Usia Asal Gereja David Christian 14 th GBI Aruna 4. Bandung Dhios Joy Mareko 13 th GBI Soekarno Hatta 1. Bandung Kent Jovan Christian 12 th GBI Yelo. Bandung Steven Jonathan 12 th GBI Musi Palem Indah. Palembang Jeslyn Nathania Kosasih 13 th GBI Piset. Bandung Modul MSK 1 terdiri atas dua belas pelajaran dan satu suplemen, masing-masing disampaikan pada satu kali pertemuan. Sedangkan empat pelajaran yang merupakan sesi pemulihan dalam RAISE (Revival Anointing Sessio. , yakni pelajaran: Mengenal Allah sebagai Bapa. Hati yang pulih. Manusia baru dan Baptisan Roh Kudus yang seharusnya diadakan dalam satu pertemuan tersendiri secara onsite. pada pembinaan kali ini dilaksanakan dalam dua kali 165 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga pertemuan secara online dikarenakan keterbatasan lokasi peserta yang berdomisili di dua kota yang berbeda yaitu Bandung dan Palembang. Gambar 3. Modul MSK 1-2-3 BPP GBI Tabel 3. Modul 1 Mengalami Kristus Ae Menjadi Seperti Kristus (MSK) Pembelajaran Tema Bahasan Kasih Allah Bapa Kuasa Salib i Gaya Hidup Bersekutu dengan Allah Mengenal Allah sebagai Bapa Hati yang Pulih Manusia Baru VII Baptisan Roh Kudus Tertanam dalam Jemaat Lokal Rancangan Allah yang penuh kasih Kerusakan Rancangan Allah karena dosa Yesus adalah wujud kasih Allah Bapa kepada Salib adalah wujud kasih Yesus kepada manusia Percaya kepada Yesus adalah wujud respon manusia menerima kasih Allah Berdoa Merenungkan dan melakukan firman Allah Memuji dan menyembah Tuhan Daya tarik dunia Persepsi yang salah tentang Allah sebagai Bapa Hati adalah pusat hidup manusia Hati bisa tercemar Mengalami hati yang dipulihkan Mengenali tabiat manusia lama Menerima kemerdekaan Kristus Mengenakan manusia baru Makna baptisan Roh Kudus Pentingnya baptisan Roh Kudus Langkah-langkah untuk menerima baptisan Roh Kudus Menjadi murid Krsitus Mengalami pertumbuhan rohani Berfungsi bagi jemaat lokal 166 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Bersaksi bagi Tuhan Panggilan untuk Melayani Memberi dengan Sikap yang Benar XII Rencana Allah bagi Keluarga Kristen Suplemen Baptisan Selam Menyadari bahwa bersaksi adalah perintah Tuhan Menerapkan langkah bersaksi yang praktis Memiliki kepribadian saksi Kristus Melayani adalah panggilan Allah Prioritas yang benar dalam melayani Tujuan yang utama dalam melayani Sikap hati yang benar Memberi di tempat yang tepat Memberi dengan iman Takut akan Allah Memiliki hubungan yang baik antar anggota Menjadi berkat bagi masyarakat sekitar Mengapa orang percaya harus dibaptis Apa arti dan makna baptisan Syarat dan tanggung jawab orang yang memberi diri dibaptis Proses mentoring pada peserta dilaksanakan melalui pendampingan renungan harian setiap hari (SeniniASabt. oleh masing-masing mentor sesuai dengan pembagian kelompok dengan waktu sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. Diskusi tidak hanya terbatas pada materi renungan, tetapi juga kehidupan sehari-hari dalam keluarga dan sekolah serta gereja. Peserta mengikuti kegiatan MSK 1 secara penuh, yang dilaksanakan dari awal hingga akhir dengan tingkat presensi 100%. Interaksi yang terjalin selama presentasi berlangsung dengan baik, dengan melibatkan peserta untuk aktif dalam pembacaan ayat firman Tuhan. Selain itu peserta diminta tanggapan dan respon atas materi yang disampaikan pada setiap sesi pembelajaran. Pada akhir setiap sesi ada waktu diskusi untuk menjawab dua pertanyaan yang sudah tersedia dalam setiap akhir pembelajaran. Gambar 4. Mentor dan Peserta Pembinaan MSK 1 Gambar 5. Pelaksanaan Pembinaan MSK 1 167 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Kegiatan MSK 1 terus berlanjut dengan monitoring dan follow up peserta sampai menyerahkan diri untuk menerima baptisan selam di gereja lokal masing-masing. Selanjutnya untuk pembinaan lanjutan diserahkan pada pembina Junior Church, sehingga kerohaniaan peserta tetap mengalami pertumbuhan dan menjadi teladan bagi teman-teman sebayanya. Tabel 4. Peserta yang Telah Melaksanakan Baptisan Air No. Nama Tanggal Baptis Dibaptis oleh Tempat Baptis Kent Jovan Christian 17-09-2022 Pdm. Rudy Herjanto GBI Aruna Dhios Joy Mareko 5-11-2022 Pdm. Harry Gunawan GBI Aruna David Christian 13-11-2022 Pdp. Gideon S. Muljono GBI Aruna Jeslyn Nathania Kosasih 6-10-2024 Pdp. Timotius Shandery GBI Aruna KESIMPULAN Berdasarkan hasil kegiatan pemuridan melalui Modul MSK 1, terdapat beberapa poin utama yang dapat disimpulkan: Hasil-hasil yang diperoleh: Keikutsertaan penuh peserta, seluruh peserta mengikuti kegiatan pemuridan hingga akhir dengan tingkat kehadiran 100% dalam setiap sesi pembelajaran. Keberhasilan dalam pemuridan, dari lima peserta yang mengikuti program, empat orang telah mengambil keputusan untuk dibaptis selam sebagai langkah iman. Pemahaman yang meningkat, peserta menunjukkan peningkatan pemahaman terhadap doktrin keselamatan, baptisan air, dan pentingnya menjadi murid Kristus. Penerapan metode digital, pelaksanaan pemuridan secara online melalui Zoom dan Google Meet berhasil meningkatkan keterjangkauan program bagi peserta dari berbagai lokasi. Follow-up yang berkelanjutan, setelah program MSK 1 selesai, peserta tetap mendapatkan pendampingan dari mentor dan gereja lokal untuk memastikan pertumbuhan rohani Kelebihan program: Struktur materi yang sistematis. Modul MSK 1 telah dirancang secara terstruktur sehingga mudah dipahami oleh generasi muda. Fleksibilitas pelaksanaan, penggunaan media digital memungkinkan peserta dari berbagai daerah untuk mengikuti program tanpa kendala geografis. Pendekatan interaktif, diskusi kelompok dan sesi tanya jawab meningkatkan keterlibatan peserta dalam memahami materi pemuridan. Dampak nyata terhadap peserta, terbukti melalui keputusan peserta untuk dibaptis, menunjukkan efektivitas program dalam membangun komitmen iman. Kekurangan dan tantangan: Keterbatasan jumlah peserta, program ini hanya dapat menjangkau lima peserta, sehingga belum dapat diterapkan secara lebih luas dalam skala gereja yang lebih besar. 168 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga b. Kurangnya interaksi langsung, metode daring mengurangi kesempatan untuk pembinaan karakter yang lebih mendalam dibandingkan dengan sesi tatap muka. Tingkat kesiapan peserta yang beragam, tidak semua peserta berada dalam level pemahaman rohani yang sama, sehingga beberapa memerlukan pendampingan tambahan sebelum mengambil keputusan untuk dibaptis. Hambatan teknis, beberapa peserta mengalami kendala koneksi internet yang tidak stabil, yang memengaruhi kualitas pembelajaran secara daring. Kemungkinan pengembangan selanjutnya: Ekspansi program ke lebih banyak gereja lokal. Modul MSK 1 dapat diperkenalkan ke lebih banyak gereja untuk menjangkau lebih banyak remaja. Integrasi metode daring dan tatap muka, menggabungkan sesi daring dengan retreat pemuridan secara langsung dapat meningkatkan kedalaman pembinaan karakter. Peningkatan jumlah peserta, dengan dukungan gereja, program ini dapat diperluas agar dapat mencakup lebih banyak remaja di berbagai daerah. Pengembangan materi lanjutan, selain pemahaman dasar tentang baptisan, program lanjutan seperti MSK 2 dan MSK 3 dapat diterapkan untuk membimbing peserta dalam tahap pertumbuhan rohani yang lebih lanjut. Pelibatan mentor tambahan, merekrut lebih banyak mentor untuk memastikan pendampingan yang lebih personal bagi peserta dengan berbagai tingkat kesiapan rohani. Secara keseluruhan, program pemuridan melalui Modul MSK 1 terbukti efektif dalam membimbing Generasi Z menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang keselamatan dalam Kristus serta keputusan untuk menerima baptisan selam. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa metode pemuridan yang terstruktur dan berbasis komunitas sangat diperlukan dalam gereja lokal. Dengan pengembangan lebih lanjut, program ini berpotensi menjadi strategi utama dalam memastikan regenerasi iman Kristen dan pertumbuhan gereja yang berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menghaturkan terima kasih kepada Bapak Ferry Simanjuntak selaku supervisi pada proyek pengabdian masyarakat ini dan Bapak . ) Togi Simanjuntak yang telah memfasilitasi materi modul MSK 1 dari Badan Pengurus Pusat Gereja Bethel Indonesia. Juga pada kelima peserta program MSK 1 yang telah berkomitmen dan bekerja sama selama proses pemuridan dan Tuhan memberkati. DAFTAR PUSTAKA