E-ISSN : 3110-4665 Jurnal Ilmiah Citra Kebidanan Vol. 1 No. 1 Juli 2025 Hal : 20-25 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN KEPUTIHAN Diah Ayu Lestari Akademi Kebidanan Rangga Husada *Email : septianayu12@gmail. ABSTRAK Latar belakang : Kesehatan reproduksi perempuan sudah menjadi persoalan kesehatan yang harus diperhatikan, terutama yang terjadi pada usia remaja. Salah satu masalah kesehatan reproduksi remaja khususnya wanita adalah keputihan . Gangguan ini adalah masalah kedua dari gangguan haid. Sering kali keputihan dapat mengganggu hingga menyebabkan ketidak nyamanan dalam beraktivitas. Tujuan : untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja putri dengan perilaku pencegahan keputihan di SMK Pelita Insani. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif menggunakan uji chisquare. Populasi dari penelitian ini adalah siswi di SMK Pelita Insani 2025 yang berjumlah 75 orang, dengan Teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Hasil Penelitian : Berdasarkan hasil penelitian didapatkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan keputihan dengan nilai p value = 0,001. Kemudian ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan perilaku pencegahan keputihan dengan nilai p value = 0,000 ( p < 0,05 ). Kesimpulan : Terdapat hubungan bermakana antara pengetahuan dan sikap remaja putri dengan perilaku pencegahan keputihan di SMK Pelita Insan. Kata Kunci : keputihan , pengetahuan, sikap ABSTRACT Background: Women's reproductive health has become a health issue that must be addressed, especially among adolescents. One of the reproductive health problems among adolescents, particularly women, is vaginal discharge. This disorder is the second most common menstrual disorder. Vaginal discharge can often cause discomfort and interfere with daily activities. Objective: To determine the relationship between adolescents' knowledge and attitudes toward vaginal discharge and their preventive behaviors at SMK Pelita Insani. Research Method: This study employed a cross-sectional approach. The data analysis technique used was quantitative descriptive analysis using the chi-square test. The population of this study was 75 female students at SMK Pelita Insani 2025, with a total sampling technique. Research Results: Based on the research results, there was a significant relationship between knowledge and preventive behavior regarding vaginal discharge with a p-value of 0. Additionally, there is a significant relationship between attitude and behavior toward preventing vaginal discharge, with a pvalue of 0. < 0. Conclusion: There is a significant relationship between knowledge and attitude among female adolescents and behavior toward preventing vaginal discharge at SMK Pelita Insani. Keywords: vaginal discharge, knowledge, attitude PENDAHULUAN Permasalahan kesehatan reproduksi wanita telah berkembang menjadi isu kesehatan yang memerlukan perhatian khusus, terutama pada kelompok usia remaja. Berbagai problematika kesehatan reproduksi dapat muncul pada masa remaja, salah satunya dipicu oleh minimnya perhatian dan wawasan terkait kesehatan reproduksi. Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan reproduksi merupakan kondisi sejahtera secara fisik, mental, dan sosial yang komprehensif, bebas dari penyakit atau kecacatan dalam aspek yang berkaitan dengan sistem reproduksi, baik fungi Vol. 1 No. 1 Juli 2025 Jurnal Ilmiah Citra Kebidanan Vol. 1 No. 1 Juli 2025 maupun prosesnya yang dimulai pada masa remaja (WHO, 2. Salah satu problematika kesehatan reproduksi remaja, khususnya perempuan, adalah fluor albus. Kondisi ini merupakan keluhan kedua tersering setelah gangguan Seringkali keputihan dapat menimbulkan gangguan hingga menyebabkan ketidaknyamanan dalam melakukan aktivitas. Keputihan sering tidak mendapat penanganan serius dari para wanita, padahal kondisi ini dapat menjadi indikator adanya penyakit (Muhamad et al. , 2. Berdasarkan World Health Organization (WHO), prevalensi infeksi saluran reproduksi tertinggi secara global terjadi pada kelompok remaja . %-42%) dan dewasa muda . %-33%), dengan angka prevalensi kandidiasis mencapai 25-50%, vaginosis bakterial 20-40%, dan trikomoniasis 5-15%. Data riset kesehatan reproduksi menunjukkan bahwa sebanyak 75% wanita di seluruh dunia pernah mengalami keputihan minimal sekali, dan 45% diantaranya mengalami kondisi ini lebih dari dua kali (Laswini, 2. Menurut World Health Organization (WHO), problematika kesehatan reproduksi wanita yang buruk telah berkontribusi 33% dari total beban penyakit yang dialami wanita secara global, dengan salah satunya adalah fluor albus. Lebih dari 70% wanita di Indonesia mengalami keputihan akibat fungi dan parasit seperti cacing kremi atau Trichomonas vaginalis, terutama disebabkan oleh kelembaban iklim yang memicu infeksi candida albicans. Data statistik Indonesia tahun 2020 menunjukkan perilaku tidak sehat pada sebagian besar dari 43,3 juta remaja usia 15-24 tahun, dimana 83,3% hubungan seksual, yang berkontribusi terhadap kasus keputihan (BPS, 2. Faktor yang menghambat implementasi perilaku hidup sehat dan bersih dalam upaya mencegah terjadinya keputihan pada remaja yaitu karena minimnya wawasan remaja tentang praktik preventif fluor albus. Penting bagi remaja untuk memahami tentang fluor albus, sehingga remaja dapat melakukan pencegahan atau penanganan segera dan bahkan dapat melakukan pemeriksaan kesehatan organ reproduksi apabila ditemukan tanda dan gejala keputihan yang tidak normal. (Mokodongan et al. , 2. Pengetahuan dianggap sangat penting dan berpengaruh dalam implementasi perilaku hidup sehat. Keterbatasan pengetahuan dan informasi kesehatan reproduksi menjadi pemicu utama perilaku tidak sehat pada remaja putri terhadap kebersihan organ reproduksi. Keputihan pada remaja dapat disebabkan karena praktik personal hygiene yang kurang Pemahaman merupakan salah satu faktor pembentuk perilaku pada remaja. Remaja dengan wawasan yang memadai tentang keputihan cenderung memiliki perilaku yang lebih baik dalam pencegahan keputihan (Lubis, 2. Sikap siswi juga memainkan peran penting dalam praktik preventif fluor albus. Persepsi positif terhadap kesehatan reproduksi akan mendorong remaja untuk melakukan praktik personal hygiene yang tepat dan mencari informasi yang akurat tentang kesehatan reproduksi. Sebaliknya, persepsi negatif atau sikap acuh tak acuh dapat menyebabkan remaja mengabaikan praktik preventif yang penting. Perilaku pencegahan keputihan meliputi berbagai aspek personal hygiene, seperti teknik membersihkan organ reproduksi yang benar, pemilihan produk kebersihan yang tepat, penggunaan pakaian dalam yang sesuai, dan menjaga kebersihan selama menstruasi. Riset terbaru menunjukkan bahwa remaja yang memiliki pemahaman dan persepsi baik terhadap personal hygiene cenderung memiliki praktik preventif keputihan yang lebih optimal (Dewi & Ningsih, 2. Dampak keputihan patologis apabila tidak segera ditangani akan mengakibatkan masalah kesehatan reproduksi. Problematika kesehatan reproduksi antara lain gangguan fertilitas, kehamilan ektopik, obstruksi saluran tuba dan penyakit menular seksual seperti Banyaknya wanita yang mengalami keputihan disebabkan karena beberapa hal, salah satunya adalah kurangnya menjaga kebersihan organ reproduksi (Paneo, 2. Vol. 1 No. 1 Juli 2025 Jurnal Ilmiah Citra Kebidanan Vol. 1 No. 1 Juli 2025 Hasil riset yang dilakukan oleh Munthe. P . yang berjudul "Hubungan Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri dengan Pencegahan Keputihan di SMAN 2 Tondano" menyatakan bahwa terdapat korelasi signifikan antara wawasan siswi SMAN 2 Tondano dengan pencegahan keputihan dengan nilai p = 042 (Munthe, 2. Penelitian Tatirah Chodijah menunjukkan hasil bahwa ada korelasi signifikan antara tingkat wawasan remaja putri tentang personal hygiene dengan kejadian fluor albus, sehingga tingkat pemahaman remaja putri tentang personal hygiene menjadi faktor risiko kejadian keputihan pada remaja putri (Citrawati et al. , 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul "Hubungan Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri dengan Perilaku Pencegahan Keputihan " untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap remaja putri terhadap perilaku pencegahan keputihan di SMK Pelita Insani. masing-masing 10 pertanyaan yang diadopsi dari riset sebelumnya dan telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas (Cantika, 2. METODE Riset ini menggunakan pendekatan cross Pendekatan merupakan suatu studi yang menekankan saat pengukuran dan observasi data variabel dependen dan independen (Nursalam, 2. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif menggunakan uji chi-square Penelitian dilaksanakan di SMK Pelita Insani pada bulan Mei 2025 selama 2 minggu. Metode pengambilan data menggunakan data primer dan sekunder, data primer diperoleh dengan wawancara, dan data sekunder diperoleh dari data siswa di SMK Pelita Insani. Populasi dari riset ini adalah siswi di SMK Pelita Insani 2025 yang berjumlah 75 orang, dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling artinya seluruh anggota populasi dijadikan sampel pada riset ini. Instrumen riset ini menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan informasi mengenai pemahaman, persepsi dan perilaku siswi dalam pencegahan fluor albus, dengan Sikap Frekuensi Positif Netral Negatif Jumlah Sumber: Data primer, 2025 HASIL Analisis Univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pengetahuan Baik Cukup Frekuensi Kurang Jumlah Sumber: Data primer, 2025 Dari tabel 1 di atas diketahui bahwa dari 75 responden didapatkan yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 44 responden . ,7%) sedangkan responden yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 31responden . ,3%). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Sikap Remaja Dari tabel 2 di atas diketahui bahwa dari 75 responden didapatkan yang memiliki sikap positif sebanyak 52 responden . ,3%) sedangkan yang memiliki sikap netral sebanyak 23 responden . ,7%). Tabel 3. Distribusi Berdasarkan Perilaku Pencegahan Keputihan Pada Remaja Perilaku Pencegahan Baik Frekuensi Buruk Jumlah Sumber: Data primer, 2025 Vol. 1 No. 1 Juli 2025 Jurnal Ilmiah Citra Kebidanan Vol. 1 No. 1 Juli 2025 Dari tabel 3 di atas diketahui bahwa dari 75 responden didapatkan yang memiliki perilaku pencegahan baik sebanyak 35 responden . ,7%) sedangkan yang memiliki perilaku buruk . ,3%). sebanyak 40 responden Analisa Bivariat Tabel 4. Hubungan antara Pengetahuan dengan Perilaku Pencegahan Keputihan Pada Remaja P-Value Perilaku Pencegahan Pengetahuan Baik Baik Cukup Sumber: Data primer, 2025 Jumlah Buruk 0,001 Berdasarkan tabel 4 di atas didapatkan dari 75 responden yang mempunyai pemahaman optimal dan mempunyai praktik preventif keputihan yang optimal sebanyak 28 responden . ,3%) dan responden yang mempunyai pemahaman cukup memiliki praktik preventif keputihan yang optimal sebanyak 7 responden . ,6%) sedangkan responden yang mempunyai pemahaman optimal akan tetapi memiliki praktik preventif keputihan kurang optimal sebanyak 16 responden . ,4%) dan responden yang memiliki pemahaman cukup dan memiliki praktik preventif kurang optimal sebanyak 24 responden . ,4%). Berdasarkan hasil analisa bivariat dengan uji statistik menggunakan ChiSquare didapatkan hasil p value = 0,001 . < 0,. berarti hipotesis menyatakan bahwa ada korelasi yang bermakna antara pemahaman dengan praktik preventif fluor albus. Tabel 5. Hubungan antara Sikap dengan Perilaku Pencegahan Keputihan Pada Remaja Sikap Positif Netral Sumber: Data primer, 2025 Perilaku Pencegahan Baik Buruk 20 38,5 20 87,0 Jumlah P-Value 0,000 Berdasarkan tabel 5 di atas didapatkan dari 75 responden yang mempunyai persepsi positif memiliki praktik preventif keputihan yang optimal sebanyak 32 responden . ,5%) dan responden yang mempunyai persepsi netral dan memiliki praktik preventif keputihan yang optimal sebanyak 3 responden . ,0%) sedangkan responden yang mempunyai persepsi positif akan tetapi memiliki praktik preventif keputihan kurang optimal sebanyak 20 responden . ,5%) dan responden yang memiliki persepsi netral dan memiliki praktik preventif keputihan kurang optimal sebanyak 20 responden . ,0%). Berdasarkan hasil analisa bivariat dengan uji statistik menggunakan Chi-Square Vol. 1 No. 1 Juli 2025 Jurnal Ilmiah Citra Kebidanan Vol. 1 No. 1 Juli 2025 didapatkan hasil p value = 0,000 . < 0,. berarti hipotesis menyatakan bahwa ada korelasi yang bermakna antara persepsi dengan praktik preventif fluor albus. PEMBAHASAN Hubungan antara Pengetahuan dengan Perilaku Pencegahan Keputihan Berdasarkan hasil riset didapatkan dari 75 responden yang mempunyai pemahaman optimal dan mempunyai praktik preventif keputihan yang optimal sebanyak 28 responden . ,3%) dan responden yang memiliki pemahaman cukup dan memiliki praktik preventif kurang optimal sebanyak 24 responden . ,4%). Berdasarkan hasil analisa bivariat dengan uji statistik menggunakan ChiSquare didapatkan hasil p value = 0,001 . < 0,. berarti hipotesis menyatakan bahwa ada korelasi yang bermakna antara pemahaman dengan praktik preventif fluor albus. Hasil riset ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh (Notoatmodjo, 2. , bahwa wawasan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan Wawasan seseorang tentang suatu objek juga mengandung dua aspek yaitu aspek negatif dan positif. Kedua aspek inilah yang akhirnya menentukan persepsi seseorang terhadap objek tertentu. Pemahaman mungkin diperlukan sebelum terlaksananya suatu perilaku, akan tetapi perilaku yang diinginkan belum tentu terjadi kecuali orang tersebut memiliki motivasi yang kuat untuk bertindak sesuai dengan wawasan yang mereka miliki (Romlah et al. , 2. Riset ini menunjukkan bahwa sebagian siswi memiliki pemahaman cukup dan kurang walaupun letak sekolah tersebut berada pada daerah perkotaan dimana informasi tentang keputihan mudah untuk diakses atau didapatkan melalui media khususnya media elektronik. Media mempunyai peranan sangat penting dalam penyampaian informasi baru mengenai suatu hal yang memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya perilaku terhadap hal tersebut (Romlah et al. , 2. Hal ini juga sejalan dengan riset sebelumnya yang dilakukan oleh (Romlah et , 2. yang menyatakan hasil uji chi square didapatkan ada korelasi antara tingkat wawasan tentang keputihan dengan praktik preventif keputihan pada siswi kelas XI SMAN 2 Kabupaten Tangerang . -value 0,013 < 0,. Hubungan antara Sikap dengan Perilaku Pencegahan Keputihan Berdasarkan hasil riset didapatkan dari 75 responden yang mempunyai persepsi positif memiliki praktik preventif keputihan yang optimal sebanyak 32 responden . ,5%) dan responden yang mempunyai persepsi netral dan memiliki praktik preventif keputihan yang optimal sebanyak 3 responden . ,0%) sedangkan responden yang mempunyai persepsi positif akan tetapi memiliki praktik preventif keputihan kurang optimal sebanyak 20 responden . ,5%) dan responden yang memiliki persepsi netral dan memiliki praktik preventif keputihan kurang optimal sebanyak 20 responden . ,0%). Berdasarkan hasil menggunakan Chi-Square didapatkan hasil p value = 0,000 . < 0,. berarti hipotesis menyatakan bahwa ada korelasi yang bermakna antara persepsi dengan praktik preventif fluor Persepsi adalah perasaan atau reaksi individu pada suatu objek, baik mendukung atau tidak mendukung (Putri & Setianingsih. Menurut Dita dan Fitri . , persepsi menjadi salah satu faktor bagi individu untuk melakukan suatu perilaku. Persepsi negatif merupakan dampak dari wawasan yang kurang Persepsi negatif mempengaruhi persepsi yang keliru tentang fluor albus. Persepsi yang keliru akan menurunkan motivasi dalam diri seseorang untuk berperilaku sehat dalam pencegahan keputihan sehingga menghasilkan praktik preventif keputihan yang kurang optimal. Persepsi merupakan reaksi atau respon tertutup seseorang terhadap objek atau stimulus yang diberikan. Persepsi bukan merupakan tindakan atau perilaku karena persepsi adalah suatu bentuk kesiapan atau kesediaan untuk melakukan suatu tindakan atau disebut juga predisposisi tindakan suatu perilaku (Munthe. Vol. 1 No. 1 Juli 2025 Jurnal Ilmiah Citra Kebidanan Vol. 1 No. 1 Juli 2025 Persepsi yang kurang optimal dapat dipengaruhi oleh kurangnya informasi dan kesadaran dalam diri remaja dalam berperilaku sehat khususnya pencegahan fluor albus. Pemahaman yang kurang akan keputihan dan pencegahannya juga dapat menyebabkan remaja berperilaku kurang sehat yang dapat menimbulkan keputihan sehingga diperlukan pemberian informasi yang benar dan tepat dalam penyampaian tentang keputihan dan pencegahan keputihan agar remaja dapat memahami dan menerima dengan baik sehingga diharapkan dapat meningkatkan wawasan remaja dan mengubah persepsi yang kurang optimal menjadi optimal dan diharapkan remaja dapat berperilaku sehat dan KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan AuHubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Putri Dengan Perilaku Pencegahan Keputihan Di SMK Pelita InsaniAy yaitu ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan keputihan di SMK Pelita Insani. Kemudian ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan perilaku pencegahan keputihan di SMK Pelita Insani. Indonesia, 2. , 228Ae236. Https://Doi. Org/10. 53801/Sjki. V2i1. Lubis. Pelaksanaan Standar Nasional Dalam Dunia Pendidikan. Rineka Cipta. Mokodongan. , & Wagey. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Keputihan Dengan Perilaku Pencegahan Keputihan Pada Remaja Putri. Jurnal EClinic (Ec. , 3Ae1. Muhamad. Hadi. , & Yani. Keputihan Di Mts Negeri Telaga Biru Kabupaten Gorontalo. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9. , 9Ae19. Munthe. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Putri Dengan Pencegahan Keputihan Di Sman 2 Tondano. Afiasi : Jurnal Kesehatan Masyarakat, 6. , 142Ae150. Https://Doi. Org/10. 31943/Afiasi. V6i3. Nursalam. Manajemen Keperawatan. Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional. Salemba Medika. Paneo. Putri Tentang Keputihan Dengan Perilaku Personal Hygiene Putri Tentang Keputihan Dengan. WHO. Kesehatan Reproduksi. DAFTAR PUSTAKA