Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Original Article Parental Smoking Habits and the Incidence of Acute Respiratory Tract Infections in Toddlers Kebiasaan Merokok Orang Tua Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita Nesa Ayu Murthisari Putri1. Elis Desmawati2 1Politeknik Negeri Jember 2Akademi Kebidanan Rangga Husada *Corresponding Author: Nesa Ayu Murthisari Putri Politeknik Negeri Jember Email: nesa_ayu. mp@polije. Keyword: Acute Respiratory Infection. Toddler. Smoking habit Kata Kunci: ISPA. Balita. Kebiasaan Merokok A The Author. 2025 Abstract Acute Respiratory Tract Infection (ARI) remains a major cause of morbidity and mortality in toddlers in developing countries, including Indonesia. Toddlers are particularly vulnerable to ARI because their immune systems and respiratory tracts are not yet fully developed. One significant yet often overlooked environmental factor is parental smoking at home. Based on these conditions, this study was conducted to determine the relationship between parental smoking habits and the incidence of ARI in This research is a quantitative analytical study with a cross-sectional approach involving 30 parents with toddlers in RT 03 RW 02. Sukaraya Village, within the working area of the Sukaraya Community Health Center (UPTD). A total sampling technique was used to obtain a comprehensive sample. Data were collected through interviews using a structured checklist instrument, then analyzed using the Chi-Square The results of the analysis showed that of the 17 parents who smoked, 47. 1% of toddlers experienced ARI. In contrast, of the 13 parents who did not smoke, only 7. 7% of toddlers experienced ARI. Statistical testing showed a p-value of 0. <0. indicating a significant association between parental smoking habits and the incidence of ARI in toddlers. This finding underscores the importance of family health education and interventions, particularly in reducing exposure to cigarette smoke at home, as an effort to prevent ARI and continuously protect toddler health. Abstrak Article Info: Received : July 17, 2025 Revised : August 22, 2025 Accepted : September 3, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada balita di negara berkembang, termasuk Indonesia. Kelompok Balita sangat rentan terhadap ISPA karena sistem imun dan saluran pernapasannya belum berkembang sempurna. Salah satu faktor lingkungan yang signifikan namun kerap diabaikan adalah kebiasaan merokok orang tua di dalam Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada balita. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional dengan melibatkan 30 orang tua yang memiliki Balita di RT 03 RW 02 Kelurahan Sukaraya, wilayah kerja UPTD Puskesmas Sukaraya. Teknik total sampling digunakan untuk memperoleh sampel secara menyeluruh. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan instrumen checklist terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 17 orang tua yang merokok, 47,1% balita mengalami ISPA. Sebaliknya, dari 13 orang tua yang tidak merokok, hanya 7,7% balita mengalami ISPA. Uji statistik menunjukkan nilai p = 0,042 . < 0,. , yang menandakan adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok orang tua dan kejadian ISPA pada balita. Temuan ini menegaskan pentingnya edukasi dan intervensi kesehatan keluarga, terutama dalam mengurangi paparan asap rokok di rumah sebagai upaya pencegahan ISPA dan perlindungan kesehatan balita secara berkelanjutan. PENDAHULUAN Penyakit saluran pernafasan yaitu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi penyebab utama tingginya angka kesakitan dan angka kematian pada anak Balita yang terjadi di negaranegara Indonesia. Anak Balita adalah kelompok yang paling berisiko terinfeksi ISPA https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 dikarenakan oleh daya tahan tubuh mereka belum berkembang secara Menurut laporan World Health Organization (WHO) tahun 2022, penyakit ISPA menyumbang sekitar 15% dari seluruh kematian anak Balita secara global sehingga menjadikannya sebagai masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di dunia . Balita yang terkena asap rokok yang berada di dalam rumah berisiko penting yang dapat memperparah kejadian ISPA. Asap dari rokok mengandung berbagai zat beracun, di antaranya nikotin, tar, dan berpotensi merusak fungsi paru-paru serta mengganggu sistem pernapasan terutama pada anak-anak dimana masih dalam masa pertumbuhan. Paparan asap rokok di lingkungan rumah tangga diketahui menjadi salah satu faktor signifikan dalam peningkatan risiko ISPA pada anak Balita karena sistem pernapasan mereka yang masih rentan terhadap iritan dan polutan udara. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi hubungan sebab akibat secara lebih mendalam guna mendukung kebijakan pencegahan ISPA berbasis keluarga dan lingkungan. Di Indonesia, prevalensi perokok aktif juga masih sangat tinggi. Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2021 sebanyak 62,9% pria dewasa dan 4,8% wanita dewasa adalah perokok Lebih dari 75% perokok merokok di dalam rumah yang menyebabkan tingginya angka paparan asap rokok di kalangan anak-anak . Hal ini diperkuat oleh laporan Kementerian Kesehatan RI . yang menyebutkan bahwa sekitar 56,4% anak-anak Indonesia terpapar asap rokok di rumah. Tidak kesehatan balita juga sangat bergantung pada perilaku sehari-hari anggota keluarga di rumah. Salah satu perilaku yang berpengaruh adalah kebiasaan merokok, yang terbukti memiliki hubungan kuat dengan meningkatnya risiko balita menderita ISPA . Penelitian yang dilakukan oleh Harisa, dkk . bahwa kasus ISPA lebih tinggi terjadi di rumah tangga dengan kebiasaan merokok. Balita yang terpapar asap rokok sejak dalam kandungan . maupun setelah lahir . penurunan fungsi paru-paru. Kondisi ini pada akhirnya dapat meningkatkan kerentanan mereka terhadap penyakit pernapasan, termasuk asma dan infeksi saluran pernafasan. Kasus ISPA pada Balita di Kabupaten Ogan Komering Ulu Provinsi Sumatera Selatan, menunjukkan tren fluktuatif namun tetap signifikan. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ulu . , jumlah kasus ISPA meningkat 322 kasus pada tahun 2023 222 kasus pada tahun 2024 yang mencerminkan adanya peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Khusus di wilayah kerja UPTD Puskesmas Sukaraya, jumlah kasus ISPA pada Balita pada tahun 2020 mencapai 140 anak, sementara pada periode JanuariAeMaret 2025 tercatat sebanyak 68 kasus . Hasil observasi awal oleh peneliti di RT 03 RW 02 Kelurahan Sukaraya terdapat sebagian besar balita yang menderita ISPA tinggal dalam keluarga yang memiliki setidaknya satu anggota Selain paparan asap rokok, terdapat pula faktor lain yang dapat memperburuk kondisi kesehatan anak, seperti tidak diberikan ASI eksklusif, kurangnya ventilasi rumah dengan perputaran udara yang baik, serta kepadatan tempat hunian yang tinggi. Melihat kondisi tersebut, penting untuk meneliti lebih mendalam hubungan antara kebiasaan merokok orang tua https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 dengan kejadian ISPA pada balita. Hasil penyusunan strategi promotif dan preventif dalam menekan angka kejadian ISPA pada balita, khususnya di wilayah kerja UPTD Puskesmas Sukaraya. METODE Penelitian ini merupakan kategori survei analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Tujuan utama penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan antara kebiasaan merokok orang tua Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita di RT 03 RW 02 Kelurahan Sukaraya. Desain memungkinkan peneliti mempelajari keterkaitan antara faktor risiko yaitu kebiasaan merokok orang tua dengan dampak kesehatannya yaitu kejadian ISPA melalui pengumpulan data pada satu periode waktu tertentu . oint time Pendekatan ini dinilai efisien masalah kesehatan masyarakat sekaligus menilai potensi hubungan antar variabel pada saat yang bersamaan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2025 di RT 03 RW 02 Kelurahan Sukaraya, yang termasuk dalam wilayah kerja UPTD Puskesmas Sukaraya. Populasi penelitian adalah seluruh orang tua yang memiliki Balita dengan rentang usia 0Ae59 bulan dan berdomisili tetap di RT 03 RW 02 pada periode Januari hingga Mei 2025. Kriteria inklusi meliputi: orang tua yang memiliki Balita . Ae59 bula. , tinggal serumah dengan balita minimal selama 3 bulan terakhir (JanuariAeMei 2. , terdaftar secara resmi melalui ketua RT atau tercantum dalam Kartu Keluarga setempat, hadir dan dapat ditemui saat proses pengumpulan data (Juni 2. , bersedia menjadi responden dengan menandatangani informed consent, serta mampu berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa daerah setempat dengan kondisi kognitif yang memadai untuk diwawancarai. Sementara mencakup: bukan penduduk tetap atau telah pindah domisili sebelum maupun saat pengumpulan data, menolak atau kuesioner atau instrumen data tidak terisi lengkap . isalnya >20% item kunci koson. , serta balita yang memiliki kondisi medis kronis atau kelainan paru berat yang dapat memengaruhi penilaian kejadian ISPA . isalnya penyakit jantung bawaan dengan komplikasi paru, fibrosis kistik, atau tuberkulosis aktif yang sudah terdiagnosis sebelumny. Berdasarkan penerapan kriteria tersebut, diperoleh total responden sebanyak 30 Balita yang diambil dengan Teknik total sampling. Pengumpulan data melalui wawancara langsung dengan orang tua balita terstruktur dalam bentuk checklist. Instrumen penelitian disusun dan dikembangkan dengan mengacu pada berbagai sumber data serta informasi dari pihak terkait, antara lain Kantor Lurah Sukaraya. UPTD Puskesmas Sukaraya. Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Analisis univariat bertujuan untuk memberikan gambaran awal mengenai karakteristik responden, pola kebiasaan merokok orang tua, serta kejadian ISPA pada balita. Selanjutnya, dilakukan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel independen . ebiasaan merokok orang tu. dengan variabel dependen . ejadian ISPA pada Balit. Analisis bivariat dilakukan melalui tabulasi silang, kemudian diuji menggunakan statistik Chi-Square (NA) dengan tingkat kepercayaan 95% dan derajat signifikansi 5% . -value O 0,. https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Hasil analisis dikatakan bermakna secara statistik apabila diperoleh p-value O0,05, sedangkan nilai p>0,05 menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan. Pemilihan uji Chi-Square dinilai sesuai karena variabel penelitian bersifat kategorik, sehingga relevan digunakan dalam studi epidemiologi masyarakat yang meneliti hubungan dua variabel kategorikal . HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di RT 03 RW 02 Kelurahan Sukaraya Variabel Frekuensi . Persentase Kejadian ISPA Tidak Kebiasaan merokok Merokok Tidak merokok 56,7% 43,3% Berdasarkan Tabel 1, sebanyak 9 responden . ,0%) balita mengalami gejala ISPA, sedangkan 21 responden . ,0%) balita tidak mengalami ISPA. Selain itu, terdapat 17 responden . ,7%) orang tua dengan kebiasaan merokok, sementara 13 responden . ,3%) orang tua tidak memiliki kebiasaan merokok. Tabel 2. Hubungan Kebiasaan merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada Balita Kejadian ISPA Kebiasaan Tidak Total Persentase p Value Merokok Tidak merokok Total Hasil Analisis diatas menunjukkan bahwa dari 17 responden yang memiliki kebiasaan merokok, terdapat 47,1% balita yang mengalami ISPA dan 52,9% tidak mengalami ISPA. Sebaliknya, dari 13 responden yang tidak merokok, hanya 7,7% balita yang mengalami ISPA, sedangkan 92,3% tidak mengalami ISPA. Hasil uji statistic, nilai p=0,042, yang lebih kecil dari tingkat signifikansi (=0,. yang artinya adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada Balita. Dengan demikian, dapat disimpulkan Balita yang tinggal bersama orang tua perokok memiliki risiko lebih tinggi terkena ISPA dibandingkan dengan Balita yang tinggal bersama orang tua yang bukan perokok. Hasil penelitian ini membuktikan secara signifikan bagaimana hubungan antara kebiasaan merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada Balita. Penelitian ini sebelumnya, salah satunya penelitian oleh Wahyu dan Siswanto . , yang menunjukkan bahwa kasus ISPA lebih banyak ditemukan pada balita yang terpapar asap rokok. Paparan asap rokok di lingkungan rumah tangga terbukti https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 meningkatkan kejadian ISPA pada anak usia di bawah lima tahun, mengingat sistem pernapasan mereka masih rentan terhadap zat-zat berbahaya yang terkandung dalam asap rokok. Rokok merupakan zat adiktif yang dapat memberikan dampak serius bagi kesehatan, tidak hanya bagi perokok itu sendiri tetapi juga bagi orang-orang di Hasil menunjukkan sebagian besar responden masih merokok di dalam rumah, bahkan di dekat Balita. Situasi ini menimbulkan risiko tinggi karena anak-anak, meskipun tidak merokok, tetap dapat menghirup asap rokok dan menjadi perokok pasif. Asap rokok sendiri mengandung ribuan zat kimia berbahaya, termasuk nikotin, karbon monoksida, serta partikel halus yang dapat mengiritasi dan merusak sistem pernapasan, terutama pada anakanak yang saluran pernapasannya masih dalam tahap perkembangan. Penelitian yang dilakukan oleh Rahayu . di Magelang menunjukkan bahwa prevalensi ISPA lebih tinggi pada Balita yang terpapar asap rokok. Hasil penelitian tersebut terbukti signifikan sehingga memperkuat bukti adanya hubungan yang erat antara paparan asap rokok dengan kejadian ISPA pada Balita. Temuan dilaporkan dalam penelitian Widyastuti dan Amin . di Ogan Ilir bahwa asap yang berasal dari rokok yang berada di dalam rumah dapat meningkatkan risiko ISPA pada Balita. Penelitian oleh Lubis et al. di wilayah Medan Denai juga memperkuat temuan tersebut. Balita yang tinggal dengan anggota keluarga perokok berisiko 7,83 kali lebih tinggi terkena penyakit ISPA dibandingkan dengan Balita yang tidak terpapar asap . Penelitian yang dilakukan oleh Fitriani . di Palembang menunjukkan bahwa Balita yang terkena asap rokok dari orang tua berisiko lebih tinggi mengalami ISPA. Balita yang tinggal di rumah dengan anggota keluarga perokok aktif memiliki risiko 2,335 kali lebih ISPA. Berdasarkan hasil analisis Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2025 yang dilakukan oleh Kusumawati . Kebiasaan khususnya jika orangtua merokok di dalam rumah merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya kasus ISPA pada Balita. Oleh karena itu, diperlukan upaya preventif yang berkesinambungan melalui edukasi kesehatan kepada keluarga, penerapan kebijakan rumah bebas asap rokok, serta peningkatan bagaimana bahaya serta risiko yang dialami anak jika terpapar asap rokok karena Balita yang tinggal bersama orang tua yang perokok berisiko tinggi untuk mengalami ISPA dibandingkan dengan Balita yang tinggal di lingkungan bebas asap rokok. Dengan adanya penelitian ini, memahami pentingnya menghindari kebiasaan merokok, terutama ketika berada di dekat anak, agar Balita terhindar dari risiko ISPA dan kualitas hidup mereka dapat meningkat secara Kasus ISPA paling banyak dialami oleh bayi berusia di bawah satu tahun. Seiring dengan bertambahnya usia, angka kejadian ISPA cenderung menurun. Kondisi ini dapat dipahami karena pada masa awal kehidupan, terutama dalam pernapasan anak masih berada dalam tahap perkembangan menuju fungsi yang Salah satu bagian penting dari proses ini adalah pematangan alveoli, yaitu struktur kecil di paru-paru yang berperan penting dalam pertukaran oksigen dan karbondioksida. Paparan asap rokok pada Balita paling banyak terjadi di dalam rumah. Hal ini umumnya dipicu oleh kebiasaan anggota https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 keluarga yang merokok ketika sedang bersantai, misalnya saat menonton televisi atau berbincang bersama. Dalam kondisi tersebut. Balita yang berada di ruangan yang sama berisiko tinggi menghirup asap rokok, meskipun mereka sendiri tidak merokok. Balita yang terpapar asap rokok, baik sejak dalam kandungan . maupun setelah dilahirkan . , memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan perkembangan fungsi paruparu. Kondisi ini membuat mereka lebih mudah terserang penyakit pernapasan, seperti asma maupun infeksi saluran pernapasan berulang. Yang perlu diwaspadai, dampak paparan asap rokok tidak hanya dirasakan pada masa kanakkanak, tetapi juga dapat berlanjut hingga usia dewasa dan memengaruhi kualitas kesehatan dalam jangka panjang. Kebiasaan merokok anggota keluarga terbukti memiliki kaitan yang kuat dengan kasus kejadian ISPA pada Balita. Menariknya, kepadatan hunian, jenis atap, dinding, lantai, jendela, ventilasi, maupun pencahayaan rumah tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap munculnya ISPA. Sehingga, asap rokok yang berada di dalam rumah menjadi faktor risiko yang paling dominan. Balita kemungkinan lebih besar untuk terkena ISPA, terlebih jika pengasuh utama mereka adalah perokok aktif. Temuan ini menggambarkan betapa besar dampak kebiasaan merokok terhadap kesehatan anak, bahkan lebih berpengaruh dibandingkan kondisi fisik rumah itu sendiri. Menjadi membawa berisiko lebih besar terkena dengan perokok aktif. Hal ini terjadi karena perokok pasif menghirup campuran asap rokok yang mengandung konsentrasi tertentu. Paparan asap rokok selama 30 menit dapat memicu peningkatan jumlah sel pada dinding pembuluh darah, menambah beban oksidatif, dan merusak sel endotel, hingga menyebabkan penggumpalan sel pembeku darah. Dampak tersebut berujung pada penyempitan dan kekakuan pembuluh darah yang berbahaya bagi kesehatan jangka Paparan dari asap rokok tersebut dapat menyebabkan produksi lendir di saluran pernapasan meningkat, sehingga saluran menjadi lebih sempit dan mengganggu kerja sel pelindung alami tubuh yang berfungsi melawan bakteri. Kondisi ini membuat anak yang terpapar asap rokok tersebut lebih rentan terkena infeksi saluran pernapasan. Kebiasaan anggota keluarga yang merokok di dalam rumah semakin memperbesar risiko bagi Balita untuk menghirup asap rokok tersebut yang mengandung ratusan zat beracun dan bahan kimia berbahaya. Balita yang sering menghirup asap rokok pun memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami berbagai masalah kesehatan salah satunya adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) . , . KESIMPULAN Adanya hubungan signifikan antara kebiasaan merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada Balita. Balita yang tinggal serumah dengan orang tua perokok terbukti memiliki risiko lebih besar mengalami ISPA dibandingkan balita yang hidup di lingkungan bebas asap rokok. Paparan asap rokok dalam rumah tangga merupakan salah satu faktor risiko yang utama yang berkontribusi terhadap tingginya kasus kejadian ISPA pada Balita. SARAN Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan sekaligus acuan https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 variabel lainnya yang mungkin berperan dalam kejadian ISPA. Selain itu, temuan ini juga diharapkan dapat menjadi khususnya yang bertugas di UPTD Puskesmas Sukaraya, untuk segera melakukan langkah promotif dan Upaya tersebut dapat berupa mengenai bahaya rokok terhadap anak, serta pembentukan kawasan bebas asap rokok di lingkungan tempat tinggal. Langkah-langkah ini penting dilakukan guna menekan angka kejadian ISPA kesehatan anak di masyarakat. Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ulu. Laporan Tahunan Kasus ISPA. Laporan Tahunan Kasus ISPA. Laporan Kasus ISPA Triwulan I. Pourhoseingholi. Baghestani, , & Vahedi M. A practical guide for calculation and interpretation of sample size and power in medical studies. Gastroenterology and Hepatology From Bed to Bench. :15Ae23. Rahmat. , & Lestari D. Analisis Statistik Chi-Square Penelitian Kesehatan Masyarakat. :45Ae52. Available from: https://doi. org/10. 5455/jrki. Astuti WT. Siswanto S. Kebiasaan Merokok Anggota Keluarga dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita Usia 1-5 Tahun. Keperawatan Karya Bhakti. :57Ae63. Rahayu. Putri. , & Nurjanah S. Hubungan Kebiasaan Merokok Orang Tua dengan Kejadian ISPA pada Balita di Desa Banyusidi. J Kesehat Kel dan Bina Lingkung [Interne. :40Ae5. Available from: https://journal. com/ind php/jkkb/article/view/104 Widyastuti. , & Amin M. FaktorFaktor Mempengaruhi Kejadian ISPA pada Balita di Kabupaten Ogan Ilir. Prepotif J Kesehat [Interne. :10Ae Available https://journal. id/index. php/prepotif/articl e/view/37571 Lubis. Sari. , & Harahap S. DAFTAR PUSTAKA