e-ISSN : x-x HUBUNGAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI UPTD PUSKESMAS MARGA II TAHUN 2024 I Kadek Edy Gunawan1. Ni Luh Seri Astuti2. Minnatun Khasha3. Cucuk Suwandi4 1Program Studi Keperawatan Ners, 2Stikes Advaita Medika Tabanan Korespondensi Penulis: dekedy69@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Lansia adalah tahap akhir dalam proses kehidupan yang akan menimbulkan banyak penurunan dan perubahan fisik, psikologi, sosial, yang saling berhubungan satu sama lain sehingga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan fisik maupun jiwa pada lansia. Tekanan darah Hipertensi pada lansia adalah suatu keadaan dimana tekanan darah melewati batas normal sistolik Ou150 mmHg dan diastolik Ou90 mmHg, pada 2 kali pengukuran dalam waktu selang 2 menit. Pola makan merupakan suatu usaha untuk mengatur jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi tubuh dalam mempertahankan kesehatan, status nutrisi dan mencegah dan membantu kesembuhan suatu penyakit. Tujuan: untuk mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian hipertensi pada lansia di UPTD Puskesmas Marga II. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan observasional analitik dengan pendekatan yang digunakan yaitu cross sectional dimana peneliti hanya sekali melakukan pengukuran terhadap subjek penelitian, pada 73 orang yang dipilih menggunakan Probability Sampling dengan teknik Simple Random Sampling, dikumpulkan data dengan kuesioner pola makan kemudian peneliti menggunakan komputerisasi SPSS dengan uji berupa chi-square. Hasil: hasil pengukuran pola makan dengan kejadian hipertensi dari responden lansia umur 45 Ae 54 tahun yang terdiri dari 73 responden, dapat diketahui bahwa dari 13 lansia dengan pola makan yang baik 7 . ,8%) orang yang hipertensi dan 6 . ,2%) orang yang tidak hipertensi. Selanjutnya dari 60 lansia dengan pola makan tidak baik 55 . ,7%) orang yang hipertensi, dan 5 . ,3%) orang yang tidak hipertensi. Hasil uji statistik didapatkan nilai p-value sebesar 0,001 yang berarti kurang dari nilai = 0,05 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Simpulan: Ada hubungan antara pola makan dengan kejadia hipertensi pada lansia di UPTD Puskesmas Marga II. Kata kunci: Hipertensi. Lansia. Pola makan. Puskesmas PENDAHULUAN Menurut World Health Organisation (WHO), lanjut usia (Lansi. adalah seorang yang berusia lebih dari 60 tahun. Kelompok lansia sudah melalui proses perubahan-perubahan fisik dan psikososial yang menurun yang menimbulkan beberapa permasalahan, (Yanti et al. , 2. Masalah yang dihadapi lansia umumnya adalah gangguan sistem pencernaan dan degeneratif seperti hipertensi, rematik. Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 stroke, kardiovaskuler dan diabetes melitus, (Diyana, 2. Penduduk berusia 60 tahun ke atas akan meningkat dari 1 miliar pada tahun 2020 menjadi 1,4 miliar, populasi penduduk berusia 60 tahun ke atas di dunia akan berlipat ganda . ,1 milia. pada tahun 2050, (WHO, 2. Badan Pusat Statistik . , menyatakan bahwa populasi jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2021 telah mencapai 10,82% atau 29,3 juta jiwa dari total penduduk Indonesia sebesar 270,2 juta Jiwa. Selain e-ISSN : x-x itu, lansia Indonesia diisi dengan kelompok umur 45-54 tahun . ra lansi. yang 5,65% Indonesia, dan sisanya diisi oleh kelompok umur 55-69 tahun . ansia mud. , usia 70-79 tahun . ansia mady. , dan 80 tahun ke atas . ansia tu. , (Afriansyah & Santoso, 2. Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Bali jumlah lansia tahun 2023 sebanyak 1191 ribu jiwa, (BPS, 2. Menurut data dari World Health Organization (WHO, 2. , lansia penderita hipertensi sekitar 1,13 miliar di dunia, hipertensi merupakan faktor utama Prevalensi lansia hipertensi secara global yaitu 22% dari total penduduk didunia. Sementara itu, di Asia Tenggara dengan prevalensi 25% dari total keseluruhan penduduk, (Purwono. Sari. Ratnasari & Budianto, 2. Menurut Riskesdas (Kemenkes RI, 2. , prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1%, mengalami hipertensi pada Riskesdas Tahun 2013 sebesar 25,8%. Menurut National basic health survei prevalensi hipertensi di indonesia pada lansia usia 65 - 74 tahun 57,6% sedangkan lebih dari 75 tahun adalah 63,8%. Menurut (Profil Kesehatan Provinsi Bali, 2. , terdapat sebanyak 123 pada usia Ou 45 tahun yang mengalami hipertensi terdapat di masingmasing 8 kabupaten 1 kota. Menurut Dinas Kesehatan Kota Tabanan menyatakan di kota Tabanan sendiri lansia yang menderita hipertensi mulai dari 45-60 tahun ke atas terdapat 757 orang. Hipertensi pada lansia merupakan peningkatan tekanan dimana tekanan darah tinggi sistolik Ou150 mmHg dan tekanan darah diastolik >90 mmHg. Lansia dengan tekanan darah tinggi memiliki risiko mengalami komplikasi gangguan kesehatan seperti stroke, penyakit ginjal dan serangan jantung, (Rajput. Sharma, & Acharya. Menurut (Ratih Puspita Febrinasari, 2. , penyebab hipertensi Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 pada lansia yaitu faktor usia, kelebihan berat badan, kurang aktivitas fisik, kelelahan, stres, dan juga pola makan. Menurut (Fandinata. Emawati, 2. , pola makan adalah suatu usaha mengatur jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi oleh tubuh dalam upaya mempertahankan kondisi kesehatan, status Pola makan yang bagus untuk lansia hendaknya mempunyai proporsi yang seimbang karbohidrat . -65%), protein . % protein ikan, 100% protein hewani dan 75% protein nabat. , dan lemak . -25% dari total kal/har. , (Meryana Bambang, 2. Sebaliknya pola makan lansia yang kurang bagus merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan hipertensi, seperti pola makan dengan garam tinggi, makanan cepat saji, dan makanan yang mengandung kolesterol tinggi, (Rikawati, 2. Berdasarkan data Studi Pendahuluan yang dilakukan peneliti pada bulan Maret 2024 di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Marga II dengan jumlah 90 orang penderita hipertensi pada umur 45-54 Telah dilakukan wawancara dengan 10 orang lansia hipertensi ditemukan 8 lansia penderita hipertensi mempunyai kebiasaan pola makan yang tidak teratur dan tidak terkontrol, dari 8 orang lansia tersebut rata-rata mengatakan sering mengonsumsi sayur santan, minum kopi, alkohol, makanan yang asin, babi guling, gorengan, makanan cepat saji, dan jarang mengonsumsi buah dan sayur. Sedangkan 2 orang lansia penderita kebiasaan pola makan yang baik dan teratur dengan membatasi penggunaan garam, jarang mengonsumsi makanan cepat saji, dan menyukai buah dan sayur-sayuran. Berdasar hasil Studi Pendahuluan tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia di UPTD Puskesmas Marga II. e-ISSN : x-x METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan observasional analitik yang bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan dan sejauh mana hubungan antara dua variabel dalam penelitian. Pendekatan yang digunakan yaitu cross sectional dimana peneliti hanya sekali melakukan pengukuran terhadap subjek penelitian, pada 73 orang yang dipilih menggunakan Probability Sampling dengan teknik Simple Random Sampling, dikumpulkan data dengan kuesioner pola makan komputerisasi SPSS dengan uji berupa chi-square. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Puskesmas Marga terletak di Desa Kukuh. Kecamatan Marga. Kabupaten Tabanan. Wilayah kerja Puskesmas Marga II terdiri dari 6 Desa Desa Kukuh. Desa Tegaljadi. Desa Peken Belayu. Desa Beringkit Belayu. Desa Selan Bawak. Desa Cau Belayu, dan terdapat 29 banjar. Mata pencaharian penduduk di Wilayah kerja Puskesmas Marga II yaitu hampir kebanyakan masyarakat bekerja di bidang pertanian, salain itu juga masyarakat ada yang bekerja sebagai pedagang, jasa buruh bangunan, pengerajin, pegawai negeri dan ABRI. Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia di UPTD Puskesmas Marga II Usia Frekuensi . Persentase (%) 45 Ae 49 Tahun 50 Ae 54 Tahun Total Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di UPTD Puskesmas Marga II Jenis Kelamin Frekuensi . Persentase (%) Laki-Laki Perempuan Total Tabel 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan di UPTD Puskesmas Marga II Pekerjaan Frekuensi . Persentase (%) PNS Swasta Wiraswasta IRT Petani Total Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 e-ISSN : x-x Tabel 4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pola Makan Pada Lansia di UPTD Puskesmas Marga II Pola Makan Frekuensi . Persentase (%) Baik Tidak Baik Total Tabel 5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kejadian Hipertensi Pada Lansia di UPTD Puskesmas Marga II Kejadian Hipertensi Frekuensi . Persentase (%) Hipertensi Tidak Hipertensi Total Tabel 6 Distribusi Frekuensi Silang Hubungaan Pola Makan dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia di UPTD Puskesmas Marga II Pola Makan Total Baik Tidak Baik Kejadian Hipertensi Hipertensi Tidak Hipertensi ,8%) ,2%) ,7% ,3%) ,9%) ,1%) Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 73 responden didapatkan bahwa responden yang memiliki usia terbanyak yaitu usia 50 - 54 tahun sebanyak 45 responden . ,6%), dan usia 45 - 49 tahun sebanyak 28 responden . ,4%). Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan pada lansia umur 45 Ae 54 tahun yang terdiri dari 73 responden, frekuensi responden paling besar berjenis kelamin Perempuan yaitu sebanyak 43 orang dengan persentase . ,9%). Berdasarkan Tabel menunjukkan pada lansia umur 45 Ae 54 tahun yang terdiri dari 73 responden, dapat berdasarkan pekerjaan yaitu yang paling banyak adalah bekerja sebagai petani dengan frekuensi sebesar 24 responden dengan persentase 38,4%, sedangkan Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 Total p-value 13 . %) 60 . %) 73 . %) 0,001 responden yang bekerja wiraswasta sebanyak 16 responden . ,9%), sebagai IRT 14 responden . ,2%), selanjutnya yang bekerja sebagai PNS 9 responden, dan pekerja swasta sebanyak 6 responden . ,2%). Berdasarkan distribusi Tabel 4 di atas dapat diketahui bahwa responden lansia umur 45 Ae 54 tahun yang terdiri dari 73 responden, dapat diketahui bahwa Sebagian besar responden memiliki pola makan yang tidak baik yaitu sebanyak 60 responden dengan persentase 82,2%. Berdasarkan distribusi Tabel 4. 5 di atas dari responden lansia umur 45 Ae 54 tahun yang terdiri dari 73 responden, dapat mengalami Hipertensi yaitu sebanyak 62 responden dengan persentase 84%. Berdasarkan distribusi tabel 6 diatas dari e-ISSN : x-x responden lansia umu 45-54 tahun yang terdiri dari 73 responden, dapat diketahui bahwa dari 13 lansia dengan pola makan yang baik 7 . ,8%) orang yang hipertensi dan 6 . ,2%) orang yang tidak hipertensi. Selanjutnya dari 60 lansia dengan pola makan tidak baik 55 . ,7%) orang yang hipertensi, dan 5 . ,3%) orang yang tidak Hasil pengukuran pola makan dari responden lansia umur 45 Ae 54 tahun yang terdiri dari 73 responden, dapat diketahui bahwa responden memiliki pola makan yang tidak baik yaitu sebanyak 60 responden dengan persentase 82,2%, sedangkan responden yang memiliki pola makan yang baik sebanyak 13 responden dengan persentase 17,8%. Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh ejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh Inggriyati Djerol . yang menunjukan bahwa dari 31 responden . ,0%) yang konsumsi jenis makanan yang tidak beresiko memiliki tekanan darah normal, 227 responden . ,2%) yang konsumsi jenis makanan yang beresiko memiliki tekanan darah tinggi . Dari hasil uji ChiSquare didapatkan nilai p= 0,000 . <0,. yang artinya ada hubungan yang bermakna antara jenis makanan pada lansia di puskesmas siwalima dengan kejadian penyakit Hipertensi. Pola makan responden pada sampel penelitian tersebut yang di lakukan di di Puskesmas siwalima memiliki pola makan yang tidak baik. Pola makan tersebut menyebabkan tekanan darah tinggi meningkat karena sering mengkonsumsi makanan yang tinggi natrium, tinggi lemak dan tinggi Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fausiyah Annisa dan Irmawati tahun 2023 dengan judul Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Desa Karampang PaAoja Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto Tahun Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 2023, pola makan baik sebanyak 24 responden . %) sedangkan pola makan kurang sebanyak 26 responden . %). Pola makan lansia yang baik sebanyak 24 responden hal ini dikarenakan responden memiliki frekuensi dan jenis makanan yang baik yang tidak mengandung lemak lebih dan kandungan garam yang kurang, sedangkan responden dengan pola makan kurang sebanyak responden hal ini dikarenakan frekuensi makan responden yang tidak teratur dan kandungan garam makanan yang dikomsumsi lebih sehingga tekanan darah tinggi. Berdasarkan hasil pengukuran kejadian hipertensi dari responden lansia umur 45 Ae 54 tahun yang terdiri dari 73 responden, dapat diketahui bahwa responden yang mengalami Hipertensi yaitu sebanyak 62 responden dengan persentase 84,9%, sedangkan responden yang tidak hipertensi sebanyak 11 responden dengan persentase 15,1%. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fausiyah Annisa dan Irmawati tahun 2023, kejadian hipertensi sebanyak 28 responden . %) sedangkan normal sebanyak 22 responden . %). Dari hasil penelitian ditemukan 28 responden dengan hipertensi hal ini dikarenakan tekanan darah responden melebihi batas normal dimana tekanan sistolik >150 mmHg, sedangkan responden lainnya sebanyak 22 yang tekanan darah normal dengan tekanan darah sistolok < 130 mmHg. Hasil penelitian sejalan dengan penelitian Simamora tahun 2023, di Kelurahan Mangga Dua Week VII Simalingkar peningkatan tekanan darah pada lansia disebabkan oleh usia, riwayat keluarga, jenis kelamin, pendidikan, dan suku. setengah dari responden yang berusia >60 ke atas memiliki riwayat karena keluarga dari responden tersebut memiliki riwayat penyakit hipertensi Begitu pendidikan, pendidikan responden yang e-ISSN : x-x cukup banyak yaitu SLTA hampir semua responden yang saya wawancara tidak mengetahui apa saja penyebab dari Hasil penelitian tesebut menjelskan menjelaskan bahwa dari 40 orang lansia menunjukkan bahwa 21 orang responden dengan pola makan baik sebanyak 14 orang . 7%) dengan hipertensi stage I dan 7 orang . hipertensi stage II sedangkan pola makan yang tidak baik 5 orang . 3%) dengan hipertensi stage I dan14 orang responden . 7%) dengan hipertensi stage II. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p=0,05 sedangkan nilai p-value=0,011 yang berarti bahwa ada hubungan yang signifikan antara Pola Dengan Tekanan Darah Pada Lansia Di Kelurahan Mangga Dua Simalingka Penelitian ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Yundina . bahwa semaking tinggi tingkat komsumsi lemak khususnya lemak jenuh maka resiko untuk menderita hipertensi semakin besar dan berdasarkan anjuran kecukupan komsumsi lemak dalam sehari sekitar 10% setara dengan 25 mg lemak tidak lebih dari 20% , paling banyak, 45 mg. komsumsi lemak yang tinggi khususnya lemak jenuh yaitu lemak yang berasal dari lemak hewani cenderung akan menyebabkan hipertensi. Menurut Soharto . , hipertensi dalam hal ini komsumsi lemaknya tinggi dengan hipertensi lebih tinggi dibandingkan dengan penderita berat badan normal. Bisa demikian karena diperkirakan, orang yang kegemukan akan mengalami kekurangan oksigen dalam darah, hormone, enzim, serta kurang melakukan aktivitas fisik dan makan Terlalu banyak lemak dalam memerlukan sebagian besar oksigen, jadi jantung harus bekerja lebih keras. SIMPULAN Adapun simpulan dari hasil penelitian ini yaitu adanya hubungan yang signifikan Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 antara pola makan dengan kejadian hipertensi pada lansia di UPTD Puskesmas Marga II. REFERENSI