Journal Sosial Science and Teknology for Community Service (JSSTCS) Vol. No. Maret 2021, page-page. P-ISSN: 2723-2026 E-ISSN: 2723-455x DOI: available online at: https://ejurnal. id/index. php/teknoabdimas PEMERTAHANAN SASTRA LISAN LAMPUNG BERBASIS DIGITAL DI KABUPATEN PESAWARAN Jafar Fakhrurozi. Donaya Pasha2. Jupriyadi3. Intan Anggrenia4 Universitas Teknokrat Indonesia 1,2,3,4 Email : jafar. fakhrurozi@teknokrat. id1, jupriyadi@teknokrat. id2, donayapasha@teknokrat. anggrenia@teknokrat. Received: . Februari 2. Accepted: . Maret 2. Published : . Maret 2. Abstract This paper describes the Community Service activities carried out on speakers of Lampung oral literature AuwawancanAy in Way Lima District. Pesawaran Regency. The activity was carried out because of concerns that the development of Lampung oral literature was starting to decline. Therefore, it is necessary to make defense efforts. Maintenance activities that can be carried out in the digital era are by utilizing digital technology through digital documentation, videos and websites. With these efforts, the existence of oral literature is expected to be more developed and accessible to the wider community. The approach used in community service activities is participatory action research (PAR). This method combines research with sustainable action and is carried out in a participatory manner with the community. This method of community service activities is carried out with a variety of approaches, starting from surveys and interviews, documenting oral literature, studying and translating oral literature, and creating websites. The activity was held for three months from August to November 2020. The result of this activity was a process of typing scripts, translation, video documentation products of interview performances, and oral literature websites. Keywords: Defense. Digital. Website. Video. Oral Literature. Wawancan Abstrak Tulisan ini menjelaskan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilakukan terhadap para penutur sastra lisan wawancan Lampung di Kecamatan Way Lima Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Kegiatan didasarkan atas adanya kekhawatiran perkembangan sastra lisan Lampung yang mulai menurun. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya pemertahanan. Kegiatan pemertahanan yang dapat dilakukan di era digital seperti sekarang ini dapat dilakukan dengan pemanfaatan teknologi digital melalui dokumentasi digital dan website. Dengan inovasi tersebut keberadaan sastra lisan diharapkan lebih berkembang dan dapat diakses oleh masyarakat secara luas. Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah participatory action research (PAR). Metode ini mengkombinasikan antara penelitian dengan tindakan yang berkelanjutan dan dilakukan secara partisipatif bersama masyarakat. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan berbagai pendekatan, mulai dari survei dan wawancara, pendokumentasian sastra lisan, pengkajian dan penerjemahan sastra lisan, dan pembuatan website. Kegiatan dilaksanakan selama tiga bulan dari Agustus s. d November 2020. Hasil dari kegiatan ini adalah adanya proses pengetikkan naskah, penerjemahan, produk video dokumentasi pertunjukan wawancan, dan website sastra lisan Kata Kunci: Pemertahanan. Digital. Website. Video. Sastra Lisan. Wawancan To cite this article: Authors. (Yea. Title of the article. Journal of Technology and Social for Community Service (JTSCS). Vol. , 27-36. PENDAHULUAN Lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki kekayaan budaya. Salah satunya adalah sastra Ada berbagai jenis sastra lisan yang masih berkembang hingga saat ini meliputi peribahasa, teka-teki. Journal Social Science and Teknologi for Community Service (JSSTCS). Vol: 02. No: 01, 27-36 mantra, puisi, dan cerita rakyat. Keberadaan sastra lisan di tengah masyarakat sangat dibutuhkan karena menurut Danandjaja dalam Sukatman, . , tradisi/sastra lisan mempunyai beberapa fungsi yakni sebagai cerminan angan-angan suatu kelompok masyarakat, sebagai alat pendidikan, sebagai alat pemaksa atau pengontrol normanorma. Dengan fungsi tersebut maka keberadaan sastra lisan sangat dibutuhkan oleh masyarakat yakni sebagai sarana pewarisan nilai-nilai kultural Lampung. Namun demikian saat ini sastra lisan Lampung kondisinya cukup mengkhawatirkan, termasuk di Kabupaten Pesawaran yang dikenal sebagai daerah penghasil seniman Lampung terutama sastra lisan. Menurut Haris Fadilah saat ini, kebudayaan sastra lisan lampung itu sudah sulit ditemui, bahkan sastrawan yang bias membawakan sastra lisan Lampung itu sudah langka (Yudono, 2. Hal itu terjadi karena salah satunya dipengaruhi oleh perubahan sosial masyarakat. Masyarakat terutama generasi muda tidak lagi tertarik terhadap sastra lisan, mereka lebih tertarik hiburan lain yang disediakan produk-produk teknologi internet dan digital. Perkembangan zaman tersebut telah membawa perubahan-perubahan di segala bidang termasuk dalam hal kebudayaan. Tradisi mengalami perubahan ketika orang memberikan perhatian khusus pada cerita tertentu dan mengabaikan cerita yang lain. (Azhari, 2018:. Herdiyani dalam bukunya Bajidoran di Karawang: Kontinuitas dan Perubahan . menyatakan bahwa sebuah kesenian yang hidup di masyarakat akan terus bergulir sejalan dengan arus perkembangan Bentuk-bentuk kesenian yang masih relevan dengan zamannya di masyarakat akan tetap hidup dengan berbagai penyesuaian, sedangkan bentuk kesenian yang tidak relevan lagi dengan massanya akan hilang ditelan zaman. Menurut Mahmud Yunus . , keberadaan sastra Lampung merupakan kebudayaan yang sangat indah sehingga dapat dijadikan sarana promosi daerah kepada dunia luar atau daerah lain. Oleh karena itu pemerintah terus berupaya menginventarisasi sastra dan kebudayaan Lampung yang masih berkembang di Namun demikian peran peneliti dan akademisi masih sangat diperlukan. Dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, mitra yang dipilih adalah para penutur sastra lisan Lampung Saibatin di Kabupaten Pesawaran. Masyarakat Lampung sendiri dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu pepadun dan Saibatin. Dua adat tersebut dikenal dengan istilah ruwa jurai . Khuwa Jura. yang berarti dua negeri. Masyarakat yang beradat Saibatin memakai dialek (A api/ap. dan masyarakat Pepadun memakai dialek (O nyow/ap. Sastra lisan yang berkembang pada masyarakat Lampung adalah peribahasa, teka-teki, mantra, puisi, dan cerita rakyat. Salah satu sastra lisan yang masih hidup dalam masyarakat Lampung Saibatin adalah Wawancan adalah jenis karya sastra berbentuk puisi/syair/pantun. (Fakhrurozi, 2019:. Di lokasi mitra sastra lisan Lampung masih berkembang. Setidaknya, masih banyak para penutur sastra lisan yang masih aktif meskipun intensitasnya sudah berkurang. Jenis sastra lisan yang masih berkembang adalah bubandung, wawancan, tangis, segatta, hahiwang, dan warahan. Menurut salah satu seniman yang bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesawaran. Jauhari, setidaknya ada 6 penutur sastra lisan yang masih aktif di wilayah Saibatin yakni Saiful Hambala dan Ihsan dari Way Lima. Mega Fafayanti, dan Yurizal Effendi (Kedondon. Muhi ABS (Way Rila. , dan Humandi Abas yang menuturkan Warahan. Penutur tersebut biasanya menguasai beberapa sastra lisan. Menurut Jauhari, keberadaan Meskipun demikian, eksistensi sastra lisan Lampung sudah semakin menurun. Hal ini tentu amat disayangkan mengingat dalam sastra lisan Lampung terdapat identitas dan nilai kultural masyarakat Lampung yang berguna bagi masyarakat. Masalah lainnya adalah proses pewarisan sastra lisan terhadap generasi muda tidak berjalan mulus. Padahal usia penutur sastra lisan yang masih hidup sudah menginjak lebih dari 60 tahun. Jika dibiarkan maka bukan tidak mungkin sastra lisan Lampung akan punah. Masalah perkembangan sastra lisan salah satunya ditentukan oleh proses pendokumentasian. Pada kenyataannya kesadaran akan pendokumentasian sastra lisan belum terbangun termasuk pemerintah daerah. Pendokumentasian yang dimaksud adalah pendokumentasian berbasis digital. Naskah wawancan masih dalam bentuk tulisan tangan pada kertas HVS atau kertas folio bergaris. Hal ini sangat rentan karena bisa saja naskah tersebut rusak atau hilang. Atas dasar itu diperlukan strategi-strategi yang tepat untuk mempertahankan sebuah tradisi. Di tengah perubahan sosial yang serba digital, upaya pemertahanan sastra lisan Lampung harus dilakukan dengan cara-cara yang tepat. Salah satunya adalah dengan pemanfaatan teknologi digital melalui dokumentasi digital dan website. Dengan inovasi tersebut keberadaan sastra lisan diharapkan lebih berkembang dan dapat diakses oleh masyarakat secara luas. Journal Social Science and Teknologi for Community Service (JSSTCS). Vol: 02. No: 01, 27-36 METODE PELAKSANAAN Tempat dan Waktu Kegiatan dilaksanakan selama tiga bulan dari Agustus s. d November 2020. Kegiatan bertempat di kediaman seniman . sastra lisan Saiful Hambala di Desa Baturaja. Kecamatan Way Lima Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Khalayak Sasaran Mitra dampingan kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah seniman/penutur sastra lisan Lampung di Kecamatan Way Lima Kabupaten Pesawaran. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan pengambilan dokumentasi video. Wawancara dilakukan kepada budayawan dan seniman . sastra lisan. Rekaman video berisi kegiatan pembacaan wawancan yang dilakukan oleh Saiful Hambala. Ada 3 naskah wawancan yang dibacakan yaitu Wawancan Sejarah Kecamatan Way Lima. Wawancan Nurdin-Ceri, dan Wawancan Jawabni Hulun Tuha. Metode Pengabdian Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah participatory action research (PAR). Menurut Kindon dan Ottoson dalam Irawan . , metode ini mengkombinasikan antara penelitian dengan tindakan yang berkelanjutan dan dilakukan secara partisipatif bersama masyarakat. Metode PAR dapat dijadikan sebagai upaya upaya untuk memberikan alternatif solusi pemecahan masalah yang dihadapi mitra. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan berbagai pendekatan, mulai dari survei dan wawancara, pendokumentasian sastra lisan, pengkajian dan penerjemahan sastra lisan, dan pembuatan website. Adapun tahapan pelaksanaan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat digambarkan melalui gambar sebagai berikut: Gambar 1. Tahapan kegiatan pengabdian kepada masyarakat Journal Social Science and Teknologi for Community Service (JSSTCS). Vol: 02. No: 01, 27-36 HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dalam tiga tahapan sebagai berikut: Tahap Survei dan Wawancara Tahap persiapan diisi dengan kegiatan survei dan wawancara penutur sastra lisan. Survei dan wawancara pertama dilakukan pada 18 Agustus 2020. Wawancara dilakukan kepada budayawan Lampung Jauhari yang berprofesi sebagai Pegawai Dinas Kebudayaan Pemerintah Daerah Kabupaten Pesawaran Jauhari dan seniman/penutur sastra lisan Lampung Saiful Hambala. Survei dan wawancara difokuskan untuk menggali permasalahan mitra. Hasil dari kegiatan tersebut menunjukkan bahwa ada beberapa permasalahan yang dialami Sastra lisan di daerah Gedong Tataan masih hidup sampai saat ini. Namun eksistensinya sudah semakin Padahal para penuturnya masih hidup. Selain itu, penutur sastra lisan kurang mendapatkan apresiasi yang layak. Hal itu disebabkan tidak adanya tarif tertentu untuk penutur sastra lisan. Pelestarian sastra lisan juga terkendala oleh dana baik dari penuturnya sendiri maupun pihak eksternal. Masalah lainnya adalah proses pewarisan sastra lisan terhadap generasi muda tidak berjalan mulus. Jika dibiarkan maka bukan tidak mungkin sastra lisan Lampung akan punah. Sementara masalah utama sebagaimana target kegiatan ini adalah kurangnya proses pendokumentasian. Pada kenyataannya kesadaran akan pendokumentasian sastra lisan belum terbangun termasuk pemerintah daerah. Pendokumentasian yang dimaksud adalah pendokumentasian berbasis digital. Gambar 2. Tim PKM berfoto bersama penutur sastra lisan Bapak Saiful Hambala . dan keluarga. Tahapan Inti Perekaman Pertunjukan Langkah berikutnya adalah pelaksanaan kegiatan inti. Kegiatan diisi dengan perekaman video pertunjukan dengan menggunakan alat kamera DLSR. Kegiatan dilakukan pada 18 November 2020 di Kediaman penutur sastra lisan wawancan. Saiful Hambala di Desa Baturaja. Way Lima Kabupaten Pesawaran. Dalam kegiatan tersebut penutur sastra lisan membacakan wawancan sebanyak 3 naskah yakni wawancan AuSejarah Singkat Kec. Way LimaAy. Wawancan Wawancan Nurdin-Ceri (Pampanga. Ay dan AuWawancan Jawabni Hulun TuhaAy. Hasil rekaman kemudian diedit menjadi sebuah video yang ditayangkan dalam kanal Youtube dan Video wawancan pertama memiliki durasi 4. 05 menit. Selain melakukan perekaman, para penutur juga diwawancarai seputar teks dan konteks wawacan yaitu sejarah proses pembuatan naskah wawancan, pembacaan wawancan, makna teks wawancan, dan profil penutur. Wawancan I Wawancan pertama yang berjudul wawancan AuSejarah Singkat Way LimaAy dibuat pada tanggal 5 Juni Wawancan tersebut dibuat dalam rangka peresmian kecamatan baru yakni kecamatan Way Lima. Journal Social Science and Teknologi for Community Service (JSSTCS). Vol: 02. No: 01, 27-36 Wawancan terdiri dari 15 bait sebelum kemudian direvisi menjadi 14 bait. Wawancan dibuat atas permintaan H. Muchtar, tokoh masyarakat setempat. Diceritakan bahwa Desa Baturaja diputuskan sebagai lokasi kantor Proses pembangunannya sendiri dilakukan dengan cara kerja bakti masyarakat. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan wawancan berikut ini. Pak minggu lom sebulan Pekhaga Kekhja Bakti Induh di Tangebah Lamban Kejuju ni Lokasi (Bait . Terjemahan: Empat minggu dalam sebulan Selalu kerja bakti Apa di depan rumah Atau di dalam lokasi Dalam pembangunannya, dikisahkan bahwa masyarakat Desa Baturaja merelakan secara ikhlas tanahnya dijadikan jalan kecamatan. Perhatikan kutipan wawancan berikut: Khanglaya kecamatan Pitu meter bekhak ni Se idang pekarangan Sapa juga kedau ni (Bait . Terjemahan: Jalan ke kecamatan Tujuh meter lebarnya Masing-amasing pekarangan Siapa saja pemiliknya Mak moneh tian sungkan Yu payu lillah hani Pak mak tengan di badan Di anak umpu nanti (Bait . Terjemahan: Tak perlu ada yang sungkan Semua ikhlas karena Allah Meskipun kita tak merasaan Tapi kelak anak cucu nanti Wawancan II Wawancan kedua tentang pernikahan dengan judul AoWawancan Nurdin-Ceri (Pampanga. Ay. Wawancan dibuat tanggal 7 November 2020 atas permintaan keluarga pengantin Nurdin dari Desa Pampangan. Wawancan terdiri dari 19 bait. Dengan jumlah 4 baris pada masing-masing baitnya dan sajak a-b-a-b. Dalam wawancan diceritakan kisan calon pengantin. Selain itu disebutkan pernyataan-pernyataan permohonan pamit dan rida dari orang tua, permohonan maaf. Permohonan doa yang dipanjatkan agar pernikahan berjalan dengan lancar, bahagian dan sejahtera. Perhatikan kutipan berikut: Anjo tangguh ku ganta Journal Social Science and Teknologi for Community Service (JSSTCS). Vol: 02. No: 01, 27-36 Di mak ayah pokok ni Nyak hakhap kilu khila Di Penguyunan kuti (Bait . Terjemahan: Inilah sebagai pamitku Dengan ibu dan ayah pokoknya Aku mohon direlakan Semua perawatannya Atau pada kutipan berikut: Mak ayah togok dija Tangguh ku lawan kuti Ampun bukhibu laksa Mahap laheks batin ni (Bait . Terjemahan: Ibu Ayah sampai di sini Permohonan pamitku ini Ampun beribu laksa Mohon maaf lahir dan batin. Wawancan i Wawancan ketiga adalah AuWawancan Jawabni Hulun TuhaAy yang berarti jawaban dari orangtua. Naskah ditulis 21 Agustus 1992. Naskah tersebut dibacakan setelah wawancan pernikahan dengan maksud membalas wawancan sebelumnya. Wawancan terdiri dari 17 bait dengan dengan jumlah 4 baris pada masing-masing baitnya dan bersajak a-b-a-b. Wawancan berisi nasihat dan doa dari orangtua kepada pengantin. Nasihat berisi tata cara berumah tangga mulai dari bagaimana suami dan isteri berbicara, bersikap antar sesamanya. Nasihat tersebut bersifat personal hanya ditujukan kepada suami dan isteri. Perhatikan wawancan berikut: Haga pinyin di niku Nguyun kon khumah tangga Tingkah sakheta laku Sopan santun ti jaga (Bait . Terjemahan: Berhati-hatilah kamu Mengurusrumah tanga Tingkah beserta laku Sopan santun dijaga Atau kutipan berikut: Terhadap di enggom mu Dang salah tawai dia Tantu mena pai niku Ngakhubah tata cakha (Bait . Terjemahan: Journal Social Science and Teknologi for Community Service (JSSTCS). Vol: 02. No: 01, 27-36 Terhadap suami isteri Jangan salah ajak padanya Tentu diawali kam Merubah tata cara Selain nasihat individual yang hanya berlaku di dalam kehidupan rumah tangga dalam wawancan juga disebutkan berbagai nasihat sosial berupa tata cara kehidupan sosial bermasyarakat seperti menjaga lisan dalam bersosialisasi dan tata cara terhadap tamu. Hal itu dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut: Dilom lamban sai tantu Di luahan khena juga Jaga sumba hawa mu Kantu nyikhang cempala (Bait . Terjemahan: Di dalam rumah yang tentu Di luar begitu juga Jaga lidah dan mulutmu Supaya tidak melanggar aturan Kantu kuti wat tamu Ti tagu dang ki lupa Sapa ajo do hamu Ki kham mangkung wat tungga (Bait . Terjemahan: Kalian ada tamu Harus ditegur sapa Segera keluarkan teko Meskipun air putih saja. Nasihat lainnya adalah nasihat spiritual mengatur hubungan antara manusia dengan tuhan. Diingatkan oleh orangtua agar anak-anaknya tidak melupakan salat lima waktu. Nasihat spiritual ini menunjukkan religiusitas keislaman masyarakat Lampung yang kuat. Bacalah kutipan berikut: Kuti pandai di waktu Ki minjak dang mawas ga Sembahyang lima waktu Dang haga sampai lupa (Bait . Terjemahan: Kalian tahu terhadap waktu Bangun subuh jangan lupa Sembahyang lim awaktu Jangan sampai kalian lupa Atau pada kutipan: Ki khadu manom hamu Ti keboke jandila Geluk hokhek kon lampu Journal Social Science and Teknologi for Community Service (JSSTCS). Vol: 02. No: 01, 27-36 engok di waktu lima (Bait . Terjemahan: Kalau sudah sore menurutmu Tutup semua pintu jendela Segera hidupkan lampu Ingat salat lima waktu Gambar 3. Penutur Sastra lisan Saiful Hambala sedang membacakan naskah wawancan. Nasihat-nasihat orangtua yang meliputi aspek personal, sosial, dan spiritual adalah perwujudan dari cara pandang masyarakat Lampung. Cara pandang tersebut termaktub dalam falsafah hidup masyarakat Lampung yang bernama Piil Pesenggiri. Menurut Fahrudin dalam Baharudin . Piil Pesenggiri berelasi dengan eksistensi manusia dalam hubungannya dengan tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam lingkungan. Filsafat Piil Pesenggiri mengandung nilai-nilai ketuhanan, humanistis, dan nilai-nilai kehidupan. Pengetikkan dan Penerjemahan sastra lisan Tahapan berikutnya adalah proses pengetikan teks wawancan dan penerjemahan. Teks wawancan yang asli berupa tulisan tangan pada kertas HVS atau folio bergaris. Kondisinya beragam ada yang masih terbaca jelas ada juga yang kurang terbaca akibat kertas yang kotor. Kondisi tersebut tentu saja mengkhawatirkan karena bisa saja sewaktu-sewaktu naskah-naskah tersebut hilang atau rusak. Oleh karena perlu adanya pengetikkan naskah untuk disimpan di komputer. Setelah kegiatan dilanjutkan dengan menerjemahkan teks wawancan dari bahasa Lampung ke Bahasa Indonesia. Hasil terjemahan ditampilkan dalam video dan website sehingga memudahkan proses pemaknaan terhadap sastra lisan. Penerjemahan dibantu oleh penutur wawancan Saiful Hambala dan bantuan Kamus Bahasa Lampung -Indonesia. Indonesia-Lampung karangan Abdulah . Pembuatan Website Setelah didapatkan data berupa profil seniman, dokumentasi pertunjukan, dan penerjemahan sastra lisan, proses selanjutnya adalah pembuatan Website akan menampilkan peta sastra lisan, profil seniman, alamat, kontak seniman, video pertunjukan, dan artikel berita. Selain itu akan ditampilkan menu hubungi seniman, yang menghubungkan antara masyarakat dengan seniman, sehingga masyarakat dapat menghubungi seniman langsung melalui aplikasi jika ingin mengundangnya tampil. Judul website yaitu Pusat Dokumentasi Sastra Lisan Lampung dengan alamat website w. Tahapan Evaluasi Setelah kegiatan inti, proses selanjutnya adalah evaluasi kegiatan dan evaluasi produk. Kegiatan evaluasi melibatkan budayawan, stakeholder pemerintah yakni Dinas Kebudayaan Pesawaran. Evaluasi dilaksanakan dalam bentuk focus discussion group (FGD). Kegiatan FGD mendiskusikan mengenai upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan ke depannya. Beberapa poin hasil FGD di antaranya perlu diadakan kegiatan pengumpulan naskah wawancan untuk didata, pengetikan, pengarsipan digital, pendirian dan pengelolaan sanggar, kegiatan pewarisan terhadap generasi muda, dan kegiatan sosialisasi yang massif kepada masyarakat terutama melalui media sosial Journal Social Science and Teknologi for Community Service (JSSTCS). Vol: 02. No: 01, 27-36 KESIMPULAN Dari hasil pelaksanaan dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut: Terdapat beberapa permasalahan yang dialami para penutur sastra lisan seperti asrisp yang masih berupa tulisan tangan dengan kondisi tercecer, proses pewarisan tidak berjalan, kurangnya dukungan dan apresiasi terhadap penutur sastra lisan. Masalah perkembangan sastra lisan juga salah satunya ditentukan oleh proses pendokumentasian. Pada kenyataannya kesadaran akan pendokumentasian sastra lisan belum terbangun termasuk pemerintah daerah. Pendokumentasian yang dimaksud adalah pendokumentasian berbasis digital. Pendokumentasian sastra lisan berbasis digital dilakukan dengan perekaman video pertunjukan, pengetikan naskah wawancan, dan penayangan video melalui youtube serta pembuatan website sebagai media penyimpanan arsip dan media penyampaian informasi yang lebih luas ke masyarakat. Pemertahanan sastra lisan Lampung memerlukan usaha yang massif di antaranya dengan mengadakan kegiatan pengumpulan naskah wawancan untuk didata, pengetikan, pengarsipan digital, pendirian dan pengelolaan sanggar, kegiatan pewarisan terhadap generasi muda, dan kegiatan sosialisasi yang massif kepada masyarakat terutama melalui media sosial. Proses pendokumentasian berbasis digital memerlukan waktu dan biaya yang cukup besar sehingga perlu adanya dukungan dana dari berbagai pihak terutama pemerintah. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Universitas Teknokrat Indonesia yang telah mendukung dan memfasilitasi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat melalui hibah internal. REFERENSI/DAFTAR PUSTAKA