JURNAL RISET MAHASISWA AKUNTANSI (JRMA) Volume 13. No. Tahun 2025 https://doi. org/10. 21067/jrma. Analisis Good Governance Dalam Pengelolaan Keuangan Masjid Asy-SyifaAo Di Kota Bukittinggi Ulfah Mawaddaha1*. Yessia2. Rio Rahmat Yusrana3 Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi. Indonesia 1ulfahmawaddah6@gmail. *Ulfah Mawaddah1 Received: 20 November 2025. Revised: 25 November 2025 . Accepted: 1 Desember 2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip-prinsip good governance dalam pengelolaan keuangan Masjid Asy-SyifaAo di Kota Bukittinggi, mengkaji upaya penerapan laporan keuangan berdasarkan ISAK 335, serta merumuskan strategi peningkatan tata kelola keuangan masjid. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat akuntabilitas pengelolaan keuangan mencapai 46,67%, transparansi 39,25%, partisipasi jamaah 28,88%, dan responsivitas pengurus 36,66%. Laporan keuangan yang disajikan masih sederhana . ash basi. dan belum sesuai standar ISAK 335. Disimpulkan bahwa diperlukan adopsi ISAK 335, peningkatan kapasitas pengurus melalui pelatihan, serta penguatan sistem pengarsipan keuangan untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan masyarakat. Kata kunci - good governance. keuangan masjid. ISAK 335. Abstract This study aims to analyze the application of good governance principles in the financial management of the Asy-Syifa' Mosque in Bukittinggi City, examine efforts to implement financial reporting based on ISAK 335, and formulate strategies for improving mosque financial management. The method used is descriptive qualitative with a case study approach. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation studies, then analyzed using thematic analysis techniques. The results showed that the level of accountability in financial management reached 46. 67%, transparency 39. 25%, congregation participation 28. 88%, and responsiveness of administrators 36. The financial reports presented are still simple . ash basi. and do not comply with ISAK 335 standards. It is concluded that the adoption of ISAK 335, capacity building of administrators through training, and strengthening of the financial filing system are necessary to improve transparency, accountability, and public trust. Keywords - good governance. mosque finance. How to Cite : Mawaddah. Yessi. , & Yusran. Analisis Good Governance Dalam Pengelolaan Keuangan Masjid Asy-SyifaAo Di Kota Bukittinggi. Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi, 13. , 322Ae327. https://doi. org/10. 21067/jrma. Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 322 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 Mawaddah. Yessi. Yusran PENDAHULUAN Masjid sebagai organisasi nirlaba keagamaan memegang peran sentral dalam kehidupan masyarakat Muslim, tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial, pendidikan, dan ekonomi (Pradesyah et al. , 2. Sebagian besar sumber daya keuangan masjid berasal dari sumbangan umat, seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf, yang merupakan amanah yang harus dikelola secara akuntabel dan transparan (Syafitri et al. , 2. Dalam konteks ini, penerapan prinsip-prinsip good governance menjadi sebuah keharusan untuk menjamin integritas pengelolaan dana, mencegah penyalahgunaan, dan membangun kepercayaan publik (Mardianton et al. , 2. Prinsip-prinsip tersebut, yang meliputi akuntabilitas, transparansi, partisipasi, dan responsivitas, tidak hanya selaras dengan tata kelola modern tetapi juga memiliki akar yang kuat dalam nilai-nilai Islam seperti amanah . Aoadl . , dan maslahah . emanfaatan bersam. (Januardi et al. Di Indonesia, urgensi penerapan good governance di masjid semakin mengemuka seiring dengan tuntutan masyarakat akan akuntabilitas lembaga keagamaan pasca reformasi 1998 (Dewi. Standar pelaporan keuangan untuk organisasi nirlaba seperti masjid telah diatur dalam ISAK 335, yang menekankan pentingnya pemisahan dana terikat dan tidak terikat, serta penyajian laporan keuangan yang lengkap dan auditable (IAI, 2. Namun, dalam praktiknya, banyak masjid yang masih menghadapi kendala dalam mengadopsi standar ini. Studi oleh Setiadi et al. dan Muntaha et al. mengungkapkan bahwa keterbatasan pemahaman pengurus, minimnya sumber daya teknologi, dan budaya organisasi yang belum mendukung menjadi hambatan utama implementasi good governance dan standar akuntansi yang berlaku. Penelitian mengenai tata kelola keuangan masjid telah banyak dilakukan dengan berbagai fokus dan temuan. Zikran et al. menemukan bahwa manajemen aset, utang, dan tata kelola yang baik berpengaruh positif terhadap kinerja masjid, dengan religiusitas berperan sebagai variabel Di level desa. Yusup et al. mengidentifikasi bahwa akuntabilitas pengelolaan zakat dan infak di Masjid Desa Pangsor belum optimal dan belum sesuai prinsip syariah. Suarni & Nurbaya . dalam studi masjid Muhammadiyah di Sulawesi Selatan menekankan pentingnya komitmen transparansi dan diversifikasi pendapatan, meski dihadapkan pada tantangan kurangnya personel Beberapa studi kasus memberikan gambaran praktis. Syafitri et al. melaporkan bahwa Masjid Muhajirin telah menjalankan akuntabilitas dan transparansi, namun laporan keuangannya masih sangat sederhana dan belum mengadopsi standar akuntansi. Sementara itu. Mardianton et al. dalam penelitian fenomenologis di tiga masjid di Medan menemukan variasi praktik, di mana hanya Masjid Al-Jihad yang telah menyusun laporan sesuai ISAK 35, sementara dua masjid lainnya masih menggunakan pencatatan dasar. Khudhori . menambahkan bahwa meskipun pengelolaan keuangan Masjid Al-Jihad Rejang Lebong sudah transparan, fokusnya masih pada pembangunan fisik sehingga pemberdayaan masyarakat perlu lebih dikembangkan. Najmudin & Bayinah . melalui telaah literatur menyimpulkan bahwa kompetensi takmir, pengendalian internal, dan pemanfaatan teknologi merupakan faktor kunci dalam menjaga kualitas laporan keuangan masjid. Berdasarkan tinjauan literatur di atas, dapat diidentifikasi beberapa kesenjangan . penelitian (Wahyuningsih, 2021. Zikran et al. , 2. Pertama, mayoritas penelitian terdahulu berfokus pada aspek akuntabilitas dan transparansi secara terpisah, tanpa mengintegrasikan keempat prinsip good governance . kuntabilitas, transparansi, partisipasi, dan responsivita. secara komprehensif dalam satu kerangka analisis. Kedua, meskipun ISAK 335 telah efektif berlaku, masih terbatas penelitian yang mengkaji secara mendalam upaya implementasi dan kendala penerapannya di level masjid, khususnya dalam konteks kota seperti Bukittinggi. Ketiga, penelitian-penelitian sebelumnya banyak yang bersifat deskriptif tanpa memberikan rumusan strategi peningkatan yang operasional dan terukur berdasarkan analisis kondisi riil di lapangan. Keempat, terdapat kesenjangan antara tuntutan standar akuntansi Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 323 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 Mawaddah. Yessi. Yusran yang kompleks dengan kapasitas dan sumber daya yang dimiliki pengurus masjid pada umumnya, yang belum banyak diangkat sebagai fokus penelitian. Berdasarkan latar belakang dan identifikasi kesenjangan di atas, penelitian ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu menganalisis penerapan prinsip-prinsip good governance dalam pengelolaan keuangan Masjid Asy-SyifaAo Bukittinggi, menganalisis tingkat kesesuaian laporan keuangan Masjid Asy-SyifaAo dengan standar ISAK 335 serta mengidentifikasi kendala dalam implementasinya, serta merumuskan upaya-upaya strategis yang dapat dilakukan oleh pengurus Masjid Asy-SyifaAo untuk meningkatkan tata kelola keuangan yang baik, akuntabel, dan sesuai prinsip syariah. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Menurut Creswell . , penelitian deskriptif kualitatif berfokus pada pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial dalam konteks alamiyah. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk menggali dan menganalisis secara mendalam penerapan prinsip-prinsip good governance serta tantangan dalam pengelolaan keuangan Masjid Asy-SyifaAo. Penelitian ini dirancang sebagai studi kasus tunggal untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif dan utuh mengenai objek yang diteliti. Penelitian ini dilakukan di Masjid Asy-SyifaAo yang terletak di Jl Batang Agam. Kota Bukittinggi. Sumatera Barat. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan bahwa masjid ini merupakan salah satu masjid aktif di pusat kota yang memiliki sistem pengelolaan keuangan yang telah berjalan namun masih perlu dikaji lebih mendalam terkait penerapan tata kelola yang baik. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan kriteria tertentu dan dianggap paling mengetahui permasalahan penelitian (Sekaran, 2. Kriteria informan meliputi : terlibat langsung dalam pengelolaan keuangan masjid, memahami proses tata kelola masjid, dan aktif dalam kegiatan masjid. Adapun informan yang dipilih Tabel 1 Daftar Informan Informan Bendahara Ketua Takmir Petugas Masjid (Gari. Perwakilan Jamaah (Penguru. Jamaah Tetap Masjid Asy-SyifaAo Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga metode yang saling melengkapi(Tahir et al. , 2. Wawancara mendalam dilakukan secara semi-terstruktur dengan menggunakan panduan wawancara untuk menggali informasi mendalam dari para informan mengenai penerapan prinsip good governance dalam pengelolaan keuangan masjid. Observasi partisipatif dilakukan untuk mengamati secara langsung proses pengelolaan keuangan dan aktivitas administrasi di masjid, sehingga diperoleh data tentang praktik tata kelola yang berlangsung. Sedangkan studi dokumentasi digunakan untuk menganalisis laporan keuangan, notulensi rapat, dan dokumen pendukung lainnya guna melengkapi dan menguji konsistensi data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi. Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis tematik menurut Braun & Clarke . melalui tiga tahap yang saling berkesinambungan. Tahap pertama adalah reduksi data, dimana peneliti melakukan seleksi, pemusatan perhatian, dan penyederhanaan data mentah yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Tahap kedua adalah penyajian data, dimana data yang telah direduksi disajikan dalam bentuk narasi deskriptif yang dilengkapi dengan tabel-tabel tematik untuk mempermudah identifikasi pola dan hubungan antar kategori Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 324 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 Mawaddah. Yessi. Yusran (Sugiyono, 2. Tahap ketiga adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, dimana peneliti mulai menarik makna dari data yang telah disajikan dan melakukan verifikasi melalui teknik triangulasi sumber dan metode untuk memastikan keandalan temuan penelitian. PEMBAHASAN Penerapan Prinsip Good Governance Berdasarkan hasil penelitian, penerapan prinsip good governance dalam pengelolaan keuangan Masjid Asy-SyifaAo menunjukkan tingkat capaian yang belum optimal. Akuntabilitas mencapai 46,67%, transparansi 39,25%, partisipasi jamaah 28,88%, dan responsivitas pengurus 36,66%. Temuan ini mengindikasikan bahwa masih terdapat ruang untuk peningkatan dalam keempat aspek tersebut. Rendahnya tingkat akuntabilitas disebabkan oleh belum adanya pemisahan yang jelas antara dana terikat dan tidak terikat, serta minimnya bukti pendukung transaksi yang terdokumentasi dengan Hal ini sejalan dengan temuan Syafitri et al. yang menyatakan bahwa akuntabilitas pengelolaan keuangan masjid sering terkendala oleh sistem pencatatan yang masih sederhana. Sementara itu, tingkat transparansi yang masih rendah ditunjukkan dengan terbatasnya akses informasi keuangan bagi jamaah secara lengkap dan real-time, meskipun telah ada upaya penyajian laporan melalui Google Sheets. Kesesuaian Laporan Keuangan dengan ISAK 335 Laporan keuangan Masjid Asy-SyifaAo masih berbasis kas . ash basi. dan belum sesuai dengan standar ISAK 335. Hal ini terlihat dari belum dipisahkannya dana terikat . akat/waka. dan tidak terikat dalam laporan keuangan. Selain itu, laporan yang disajikan hanya terbatas pada laporan posisi keuangan tanpa mencakup komponen lain yang diwajibkan ISAK 335, seperti laporan aktivitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan (IAI, 2. Temuan ini konsisten dengan penelitian Muntaha et al. yang mengungkap bahwa mayoritas masjid di Indonesia masih menghadapi kendala dalam menerapkan ISAK 335 secara penuh, terutama terkait pemahaman teknis dan kesiapan sumber daya. Ketidakpatuhan terhadap standar ini berpotensi menimbulkan asimetri informasi dan menyulitkan pengawasan terhadap alokasi dana sosial umat. Upaya Peningkatan Tata Kelola Keuangan Pengurus masjid telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan tata kelola keuangan, seperti menyajikan laporan keuangan digital melalui Google Sheets dan merespons pertanyaan jamaah. Namun, upaya ini masih terkendala oleh keterbatasan waktu pengurus yang bekerja non-full time di masjid serta minimnya pemahaman terhadap standar akuntansi. Berdasarkan temuan penelitian, beberapa rekomendasi yang dapat diimplementasikan untuk meningkatkan tata kelola keuangan Penyusunan prosedur tetap pengelolaan keuangan yang mengatur pemisahan dana dan proses Pelatihan kapasitas pengurus mengenai prinsip akuntansi syariah dan teknis penerapan ISAK Pengembangan sistem pelaporan partisipatif yang melibatkan perwakilan jamaah dalam audit Pemanfaatan teknologi informasi untuk automasi pencatatan dan pelaporan keuangan. Pembahasan Temuan penelitian ini konsisten dengan studi sebelumnya yang mengungkap bahwa banyak masjid masih menggunakan sistem pencatatan keuangan yang sederhana tanpa mengadopsi standar akuntansi yang relevan (Syafitri et al. , 2023. Mardianton et al. , 2. Rendahnya partisipasi jamaah dalam pengawasan keuangan masjid juga menjadi faktor penghambat terwujudnya good governance. Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 325 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 Mawaddah. Yessi. Yusran Hasil penelitian memperkuat teori legitimasi (Dowling & Pfeffer, 1. yang menyatakan bahwa organisasi perlu mendapatkan dan mempertahankan legitimasi melalui praktik pengelolaan yang transparan dan akuntabel. Dalam konteks masjid, penerapan good governance tidak hanya merupakan keharusan administratif tetapi juga bagian dari pertanggungjawaban amanah keuangan Oleh karena itu, penting untuk membangun kanal partisipasi yang inklusif bagi jamaah serta mengadopsi standar pelaporan keuangan yang transparan dan akuntabel. Sebagaimana disarankan oleh Yusup et al. , penguatan sistem governance masjid harus diikuti dengan peningkatan kapasitas pengurus dan optimalisasi peran serta masyarakat. KESIMPULAN Berdasarkan seluruh proses penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan prinsip good governance dalam pengelolaan keuangan Masjid Asy-Syifa' Bukittinggi masih berada pada tahap perkembangan dan belum sepenuhnya optimal. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa tingkat akuntabilitas keuangan masjid berada pada level sedang dengan persentase 46,67%, dimana meskipun pengurus telah menyajikan laporan keuangan melalui Google Sheets dan merespons pertanyaan jamaah, namun belum dilakukan pemisahan dana terikat dan tidak terikat secara sistematis serta belum terbentuk forum evaluasi partisipatif yang melibatkan jamaah secara luas. Dalam aspek transparansi, penelitian ini menemukan bahwa tingkat keterbukaan informasi keuangan masih relatif rendah dengan persentase 39,25%, ditandai dengan adanya perbedaan persepsi di kalangan jamaah mengenai kelengkapan informasi yang disampaikan. Kendala utama yang dihadapi adalah belum sesuainya laporan keuangan dengan standar ISAK 335, dimana laporan yang disajikan masih bersifat sederhana . ash basi. dan tidak mengakomodasi kelima komponen laporan keuangan yang diwajibkan. Partisipasi jamaah dalam pengelolaan keuangan masjid tercatat sebagai aspek terlemah dengan persentase hanya 28,88%, menunjukkan bahwa mekanisme keterlibatan jamaah masih terbatas pada tingkat perwakilan dalam struktur pengurus tanpa adanya saluran partisipasi yang inklusif bagi masyarakat luas. Sementara itu, responsivitas pengurus dalam menanggapi kebutuhan dan aspirasi jamaah juga masih perlu ditingkatkan, dengan persentase 36,66% yang menunjukkan bahwa respon terhadap tuntutan transparansi alokasi dana belum optimal dan belum memiliki standar waktu yang Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan studi dengan cakupan yang lebih luas melibatkan beberapa masjid dengan karakteristik berbeda, serta mengembangkan model tata kelola keuangan masjid yang terintegrasi dengan teknologi digital. Penelitian tindakan . ction researc. juga dapat menjadi alternatif untuk menguji efektivitas model peningkatan good governance yang direkomendasikan dalam studi ini. Daftar Pustaka