Johan. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 VARIASI TUTUR AuHELMIAy PENDERITA AFASIA SUATU KAJIAN MORFO-NEUROLINGUISTIK Mhd. Johan*1 Universitas Putera Batam. Batam. Indonesia *) corresponding author Keywords Abstract Aphasia. MorphoNeurolinguistic. Speech Variations This research aims to identify speech events uttered by a respondent named Helmi. The theory used to identify data is neurolinguistics theory initiated by Ingram and Sastra, while for morphological studies the author uses Johan and Susanto's After this theory, the author uses methods, there are two methods, first the data collection method and the data analysis method. For the data collection method, the author uses the skillful listening and involvement method or the agih This method was initiated by Nadra and Renidawati. To analyze the data the author uses the method for direct elements. This technique is also supported by the loss technique, the addition technique and the replace technique, this method and technique is the Sudaryanto technique. Once these methods and techniques are involved, results are obtained. The results obtained in this analysis are three processes. These processes are the replace process, add process, and replace process. The results obtained are the morphemes /bukan/> /buka/, /komunikasi/>/komunikai/, /maukah/>/baukah/, /dada/> /tata/ and /rumah/ > /rumba/. In terms of appearance, the replacement process occurred 3 times and the process disappeared three times. PENDAHULUAN Bahasa adalah alat tutur yang digunakan seseorang untuk menyampaikan maksud pada lawan bicara. Sesuatu yang diharapkan penutur adalah maksud yang disampaikan tersebut dapat diterima oleh lawan bicaranya. Dalam berkomunikasi banyak hal yang perlu diperhatikan seperti pelafalan kata yang diujarkan oleh penutur. Hal ini tidak dapat dipisahkan dari peranan alat ujar penutur. Alat ujar tutur ini ada dipengaruhi oleh system kerja otak seorang penutur. Sebagai objek penelitian di sini adalah AuHelmiAy nama samaran untuk menjaga kerahasiaan identitas penutur. Dia sudah berumur tujuh tahun tapi cara wicaranya masih perlu diperbaiki. Variasi tutur seseorang dilihat dari sisi neurolinguistik mengalami hal berbeda satu sama lainnya. Hal-hal tersebut dapat diidentifikasi melalui produksi ujaran yang diujarkan oleh penutur. Penutur sering mengalami masalah dalam menuturkan satu morfem, atau kombinasi satu morfem dengan morfem lainnya. Adapun morfem yang diujarkan dapat mengalami penambahan fonem seperti phenomena yang terjadi pada saat mendapatkan 48 | P a g e Johan. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 data, di sini peneliti meminta responden untuk melafalkan satu morfem dan morfem yang diujarkan oleh penutur ini seperti: /buka/ menjadi /bukan/ ujaran ini diujarkan oleh seseorang penutur yang mengalami gangguan afasia. Setelah memahami ujaran yang diujarkan oleh responden ini maka dapat diidentifikasi bahwa morfem yang diujarkan tersebut mengalami perubahan makna sehingga ujaran yang tidak ada hubungannya dengan morfem yang diujarkan oleh responden tersebut. Ujaran yang ditargetkan oleh peneliti adalah /buka/ sedangkan ujaran yang diujarkan oleh responden menjadi /bukan/ jika diambil makna dari morfem tersebut menjadi negative. Dengan terjadinya perubahan makna tersebut maka dapat disimpulkan proses tersebut adalah proses penambahan. Peristiwa berikutnya adalah peristiwa pengurangan fonem yang terjadi pada saat mengujarkan morfem /kepala/ menjadi /kepal/. Pada saat melafalkan ujaran /kepala/ terjadi pengurangan fonem, fonem yang dihilangkan adalah fonem /a/ vokal, yang berada pada posisi central unround low. Dengan terjadinya pengurangan ini dapat mengakibatkan perubahan makna pada morfem tersebut. /Kepala/ mempunyai makna yang berada pada posisi atas leher manusia atau dapat juga nama jabatan. Sedangkan morfem /kepal/ adalah nasi atau tanah yang ditekan melalui genggaman tangan manusia. Proses pengurangan ini dapat juga terjadi pada morfem /keras/ menjadi /keyas/. Peristiwa ini dapat terjadi pada responden yang tidak bisa mengujarkan /r/ liquid central apicoalveolar liquid central menjadi /y/ alveopalatal glides. Proses ini tidak menciptakan makna baru karena tidak ada kata /keyas/ dalam Bahasa Indonesia. Kepala Kepal yo Keras keyas makna baru Pelesapan yang menciptakan /-r- > /-y/ Perubahan tidak menciptakan makna baru Proses ganti banyak terjadi pada penutur yang mengalami afasia salah satu contoh kata di atas adalah pada saat responden mengucapkan /lurus/ menjadi /lulus/, proses ini adalah proses ganti yang mengakibatkan terciptanya makna baru. Proses ganti tersebut disebut dengan pergantian pada posisi apicoalveolar liquid central dan lateral. Proses ganti tersebut adalah proses ganti yang berada dalam satu area. Di samping proses di atas masih ada proses analisis yang mesti dianalisis yaitu proses penambahan fonem. Proses tambah atau proses expansi merupakan proses dimana terjadinya penambahan fonem pada kata/morfem yang diujarkan oleh responden tersebut. Morfem yang di ujarkan dapat menciptakan makna baru dan dapat juga tidak menciptakan makna baru. Hal ini dapat dilihat pada morfem /pada/ menjadi /padam/. Dapat diidentifikasi bahwa penambahan fonem /-m/ tersebut telah menciptakan makna baru. /padam/ berarti Aumati pada api yang menyalaAy. Dengan terjadinya peristiwa di atas tidak lepas dari peranan morfologi. Morfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang morfem, sedangkan morfem adalah yang mengkaji unsur makna yang terkecil dan bagian dari unsur kata itu sendiri (Johan & Wijayanti, 2. Kajian neurolinguistic sangat cocok diaplikasikan dan dikombinasikan dengan ilmu morfologi. 49 | P a g e Johan. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 Dalam kajian morfologi akan dipelajari pembentukan unsur kata seperti pembentukan kata kerja, kata sifat, kata keterangan, dan kata benda. Dalam hal ini responden afasia sering mengalami gangguan dalam memproduksi morfem. Penderita afasia sering mengalami masalah dalam membentuk suatu kata. Unsur kata yang diujarkan sering mengalami peristiwa pengurangan, penambahan, dan pergantian fonem dalam memproduksi morfem. Pada penelitian ini dapat digolongkan pada studi kasus Jadi penelitian ini hanya mengambil satu responden saja sebagai object penelitian. Adapun yang ditiliti adalah ujaran-ujaran yang diproduksi oleh responden dan setelah data didapatkan maka peneliti mulai melakukan penginditifikasian masalah. Kemudian peneliti melanjutkan ke formulasi Formulasi Penelitian penelitian ini adalah bagaimana cara menginditifikasi ujaran yang diproduksi oleh responden? Dan tujuan penelitian ini adalah Menjelaskan jenis penginditifikasian ujaran yang diujarkan oleh reseponden. TINJAUAN PUSTAKA Nurolinguistik Dalam hal ini peneliti menggunakan teori yang dikemukakan oleh (Ingram, 2. gejala penderita afasia sering kehilangan kata-kata yang akan diucapkan. Adapun bentuk gejala yang dikemukakan oleh Ingram adalah: pertama adalah adanya gangguan pada lesi central wicara pada penderita. Kedua adanya gangguan pada bagian lesi tengah wicara. Kemudian penderita afasia sering mengalami gangguan dengan melakukan pengulangan kata, hal ini dapat disebabkan oleh broca afasia, wernick afasia, konduksi afasia. Gangguan afasia tanpa pengulangan dapat disebabkan oleh isolasi area wicara, transkortikal motor afasia, transkortikal sensory afasia, dan anomik afasia. Sementara itu (Sastra, 2. mengatakan bahwa, afasia bahasa yang diakibatkan oleh gangguan pada korteks pada seorang penutur. Afasia ini adalah penyakit yang mengalami gangguan saraf linguistic pada seorang penderita. Penyakit ini dapat diakibatkan cedera pada korteks atau serat putih yang menempel pada korteks. Dengan adanya cedera ini dapat berdampak pada kefasihan dalam memproduksi bahasa. Afasia ini dapat berdampak pada strok dimana terjadinya pembekuan darah pada otak atau pecahnya pembuluh darah pada otak Sastra, . Sastra mengatakan ada beberapa jenis afasia. Pertama adalah afasia broca, apabila seorang penutur mengalami hal ini dapat dikenal dengan gangguan motoric atau dengan nama lain adalah afasia expressive. Kerusakan pada bagian ini terdapat pada lingkaran depan hemisfer kiri. Produksi tuturan yang diujarkan oleh seorang penutur menjadi tidak fasif dan sering terhenti-henti disamping itu tidak memiliki intonasi. Morfem yang ditimbulkan seperti tidak dapat membedakan bentuk jamak, kata kerja, kata depan dalam Bahasa Inggris. Kemudian afasia Wernicke, gangguan ini dikenal dengan afasia reseptif. Gangguan ini diakibatkan adanya kerusakan pada korteks auditori. Pada penderita ini dapat dikenal dengan bentuk pendengaran normal, tuturan penutur agak fasih tetapi agak terhenti-henti dalam bertutur. Disisi lain terdapat juga gangguan fonologi dalam menciptakan fonem dalam Morfologi Morfologi adalah ilmu yang mengkaji tentang unsur pembentukan suatu kata dan bagaimana memaknai kata itu sendiri. Untuk menganalisis data-data yang didapatkan nanti 50 | P a g e Johan. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 peneliti menggunakan teori yang pernah dilakukan (Johan & Susanto, 2. Teori ini pernah dilakukan pada saat menganalisis gangguan ujaran penderita strok. Dalam satu pembicaraan antara responden dengan peneliti, peneliti telah menyiapkan kata yang akan diujikan, misalnya: /pelan-pelan/ > /peyan-peyan/ di sini peneliti mengidentifikasi bahwa telah terjadi proses ganti, fonem yang terganti itu adalah fonem /l/ menjadi /y/, bunyi /l/ adalah bunyi apicoalveolar liquid central sedangkan fonem /y/ berada pada posisi alveopalatal glides dalam Johan & Suri, . Sebenarnya penelitian ini adalah penelitian lanjutan yang pernah dilakukan oleh (Johan & Suryani, 2. , pada penelitian ini, peneliti meneliti gangguan bertutur pada anak dengan menggunakan pendekatan neuro-fonologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Sastra dengan metode pengumpulan data adalah simak libat cakap. Untuk menganalisis data penulis menggunakan Teknik bagi unsur langsung dengan hasil proses tambah 45, 8 %, 37,5 % untuk proses ganti dan proses lesap 16,7 %. (Kendall et al. , 2. (Dharmaperwira-Prins, 2. , (Ahlsen, 2. , (Johan, 2. , (Handoko, 2. , (Dewi, 2. , (Arianto et al. , 2. , (Johan, 2. Setelah membaca dan mengamati karya-karya tersebut, hal ini dapat dijadikan sebuah acuan analisis data pada penelitian ini. Kajian penelitian di atas pada dasarnya mengkaji morfem yang di produksi oleh seorang penutur. Penelitian ini adalah penelitian lapangan studi kasus yang melibatkan seorang responden yang mengalami gangguan wicara. (Nadra & Renidawati, 2. mengatakan penelitian lapangan adalah dimana peneliti melakukan penelitian di tempat atau lokasi dimana data itu berada. Responden tersebut berada di Batam dan sehari-harinya baraktivitas di perumahan Tiban Raya. RESEARCH METHOD Teknik Pengumpulan Data Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode simak libat cakap, di sini peneliti berusaha untuk memancing responden untuk mengungkapkan beberapa kata. Nadra & Renidawati, . mengatakan bahwa metode adalah berada pada lapisan kulit sedangkan teknik adalah jabaran dari metode itu sendiri. Metode dan Teknik Analisis Data Peneliti dalam menganalisis Penelitian ini, akan menggunakan metode agih, metode ini dsebut dengan teknik bagi unsur langsung (Sudaryanto. , 2. Nama lain dari taknik bagi unsur langsung adalah segmenting immediate constituents. Cara kerja teknik ini adalah dengan cara membagi satuan lingual menjadi beberapa bagian. Teknik ini dapat dibagi menjadi dua unsur, tiga unsur, dan empat unsur. Dalam metode ini tidak semua satuan lingual dapat diperlakukan seperti ini. Metode ini mengutamakan unsur makna dan hubungannya dengan antar kata. Teknik ini akan didukung dengan teknik lanjutan, teknik itu adalah tekni delesi. Teknik Kemudian teknik ini akan melibatkan pergantian dalam pelafalan atau disebut juga dengan Teknik ganti. Setelah itu. Auteknik ekspansiAy teknik ini disebut juga dengan teknik perluas atau Teknik tambah. Kemudian dilanjutkan dengan teknik penyisipan atau dikenal dengan Teknik sisip. Teknik-teknik akan digunakan untuk menganalisis data-data yang didapatkan nantinya. Penelitian akan menggunakan tuturan responden yang akan dijadikan sebagai subject Peneliti akan mengidentifikasi setiap ujaran yang diujarkan oleh responden dan menjadikan sebagai subject analisis nantinya. 51 | P a g e Johan. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 Dalam penelitian ini dan sumber data yang akan dianalasis adalah responden yang mengalami gangguan afasia, dan hal ini banyak didapatkan di lingkungan masyarakat perumahan Tiban Raya. Setiap ujaran yang diujarkan oleh responden dijadikan sebagai acuan dan dianalisis nantinya. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam menganalisis data responden di atas terdapat tiga masalah, masalah itu adalah masalah penambahan, masalah pengurangan dan masalah ganti. Analisis ini dimulai dengan data-data di bawah ini. Data 1. /Bukan/ > /buka/ Pada data di atas terdapat kata /bukan/, kata ini bermakna negative, dan kata itu dapat bermakna menyangkal, seperti /dia bukan seorang tantara/. Pada saat melafalkan kata ini, responden melafalkan /buka/. Setelah diujarkan responden dapat disimpulkan kata yang diujarkan tersebut terdapat proses pengurangan fonem. Fonem tersebut adalah fonem apicoalveolar nasal voiced. Dengan terjadinya peristiwa ini, menimbulkan terciptanya makna baru pada kata tersebut, kata /buka/ merupakan kata kerja, sebagai contoh Audia membuka kesempatan pada generasi muda untuk dilatih menjadi tenaga ahliAy. Data 2 /Komunikasi/ > /komunikai/ Pada saat melafalkan kata /komunikasi/ menjadi /komunikai/, setelah menganalisis data tersebut telah terjadi proses pengurangan fonem. Fonem yang hilang tersebut adalah fonem /s/, fonem /s/ adalah bunyi apicoalveolar, fricatives voiceless. Dengan adanya proses penghilangan ini dan kata yang diujarkan respponden tersebut menjadi tidak bermakna. Kata komunikasi bermakna pesan yang disampaikan ke pada lawan bicara sebenarnya kata ini berbentu kata benda dan apabila fonem /s/ hilang pada kata tersebut maka makna pada kata tersebut jadi hilang. Data 3 /maukah/ > /baukah/ Pada ujaran responden di data ke tiga ini adalah /maukah/ menjadi /baukah/. Setelah peneliti menelaah kata yang diujarkan responden tersebut telah terjadi peristiwa ganti. Peristiwa ganti tersebut adalah peristiwa ganti dalam satu ruang lingkup dimana fonem /m/ adalah fonem yang terjadi pada area bilabial nasals voiced dan sedangkan fonem /b/ adalah bilabial stop plains voiced. Jadi kedua fonem tersebut berasal bunyi bilabial dan voiced. Dengan terjadinya peristiwa ganti ini maka dari segi makna berubah secara total kata ini berubah juga. Dari bentuk dasar kata ini adalah /mau/ kata mau berarti ingin, bermaksud, kehendak, dan sungguh-sungguh. Kemudian kata ini ditambahkan pertikel /pun/. Sedangkan untuk kata /baupun/ berasal dari dua kata. Pertama kata /bau/ dan ditambahkan dengan partikel /pun/. Makna dari kata ini sesuatu yang tercium oleh panca indera penciuman. Data 4 /dada/ > /tata/ 52 | P a g e Johan. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 Pada data ini responden melafalkan /dada/ menjadi /tata/. Mengamati dua unsur kata tersebut terjadi proses ganti satu lingkungan. Pergantian itu terletak pada kata fonem apicoalveolar stop plains voiced dan voiceless. Bunyi fonem fonem /d/ adalah apicoalveolar stop plains voiced dan fonem /t/ adalah apicoalveolar stop plains voiceless. Dengan terjadinya pergantian fonem pada ujaran yang diujarkan oleh responden tersebut maka makna kata tersebut berubah dan menciptakan makna baru. /dada/ bermakna bagian tubuh yang terletak di atas perut dan di bawah kepala pada bagian depan Sedangkan makna /tata/ mengacu pada makna aturan, kaidah, system dan susunan. Dengan terjadinya perubahan dalam pelafalan fonem dapat mengakibatkan perubahan makna pada suatu kata. Data 5 /rumah/> /rumba/ Pada data ke lima ini terdapat peristiwa penambahan dan pengurangan proses ini terjadi pada kata /rumah/ menjadi /rumba/ peristiwa penambahan yang diujarkan oleh penutur ini menambah fonem /b/ bilabial stop plains voiced setelah fonem /m/ bilabial nasal voiced. Peristiwa seperti ini dapat diakibatkan dekatnya posisi dua fonem satu ruang tersebut sehingga bunyi /m/ diikuti oleh bunyi /b/ dan menggeser fonem /a/. Di sisi lain, adanya pengurangan bunyi fonem /h/ glottal fricative voiceless, pada kata /rumah/ tadi, sehingga kata yang terujarkan adalah /rumba/. Kalau dianalisis dari sisi makna, peneliti dapat menerima makna /rumba/ tersebut karena. Dalam kamus bahasa Indonesia, /rumba/ tarian yang diikuti oleh music yang berasal dari Kuba. Dengan terjadinya peristiwa ini dapat mengakibatkan terciptanya makna baru dan sangat jauh berbeda dengan makna kata asal. KESIMPULAN Setelah menganalisis semua data yang yang diujarkan oleh responden, maka peneliti menyimpulkan bahwa terdapat 3 masalah ujaran, masalah ujaran tersebut adalah masalah pengurangan, masalah ganti dan masalah penambahan. Dari proses pengurangan terdapat kata yang memiliki makna dan tidak bermakna. Sementara itu dari proses ganti ditemukan kata perubahan makna dan menciptakan makna baru pada kata tersebut. Setelah itu untuk proses penambahan ditemukan ditemukan perubahan makna yang signifikan. Dari lima data yang dianalisis tersebut terdapat 3 . peristiwa pengurangan atau penghilangan fonem, kemudian untuk. Kemudian untuk proses ganti ditemukan 2 . Yang terakhir adalah ditemukannya 1 peristiwa peristiwa tambah. REFERENSI