Kebijakan Pengelolaan Sampah Nasional: Analisis Pendorong Food Waste di Tingkat Rumah Tangga Shinta Citra Lestari1. Alin Halimatussadiah2 Magister Perencanaan Ekonomi dan Kebijakan Publik. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia1,2 shintacitra@gmail. Abstract Food waste has been identified as a significant economic, environment and social problem. Reports mentioned that food waste are the biggest contributor of IndonesiaAos waste generation, and household as the last downstream tier of food chain supply were the biggest contributor of food waste generation. Previous studies examines the effects of socio-demographic characteristics, shopping planning habits, food consumption, waste management activities, as food waste driving factors. This study attempts to identified various factors which affecting household food waste generation. Data collected through questionnaires survey by interviewing 257 respondents in Depok municipality, study literature and in-depth interviews, and analyzed by Ordinary Least Square (OLS) regression model. The result shows that waste sorting at home, economic motivation, shopping planning habit are the main factors of food waste generation at home. This findings can be put into consideration when developing new policies and campaigns for food waste reduction. Keywords Organic Waste. Food Waste. Waste Sorting. Household Waste Abstrak Food waste dianggap sebagai suatu permasalahan multidimensi ekonomi, lingkungan dan sosial. Laporan menyebutkan food waste sebagai kontributor terbesar timbulan sampah di Indonesia dengan penghasil utama di tingkat rumah tangga sebagai konsumen akhir dalam rantai pasok makanan. Penelitian terdahulu membahas berbagai faktor perilaku pendorong food waste seperti karakter demografi rumah tangga, kebiasaan berbelanja, mengonsumsi makanan, dan pengelolaan sampah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi timbulan food waste di tingkat rumah tangga. Pengumpulan data dengan survei kuisioner kepada 257responden rumah tangga di Kota Depok, studi literatur, dan wawancara dengan pemangku kepentingan, dan dianalisis menggunakan model regresi Ordinary Least Square. Hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku memilah sampah, perencanaan berbelanja, serta motivasi ekonomi mempengaruhi timbulan food waste di rumah tangga. Temuan ini juga dapat dijadikan pertimbangan saat menyusun kebijakan dan kampanye pengurangan food waste. Kata kunci : Sampah Organik. Sampah Makanan. Pemilahan Sampah, sampah rumah tangga PENDAHULUAN Salah satu target Sustainable Development Goals (SDG. khususnya SDG 12. 3 adalah pengurangan food loss, dan pengurangan setengah dari food waste yang ditimbulkan di seluruh dunia di tahun 2030 sebagai upaya memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan (UN, 2. Laporan Barilla Center For Food and Nutrition (The Economist Intelligence Unit, 2. , menyebutkan Indonesia membuang makanan sebanyak 300 38 | Kebijakan Pengelolaan Sampah Nasional: Analisis Pendorong Food Waste di Tingkat Rumah Tangga kg/tahun/kapita atau setara 13 juta ton makanan, menjadikannya negara penyampah makanan nomor dua dunia, sedangkan laporan Food and Agriculture (FAO, 2. bahwa dengan populasi terbesar keempat di dunia yaitu sebanyak 273 juta penduduk. Indonesia membuang 13 juta ton makanan per tahun sama dengan kebutuhan pangan bagi 28 juta penduduk atau 11% populasi Indonesia. Hal ini ironis mengingat berdasarkan laporan Global Hunger Indeks (GHI, 2. Indonesia menempati posisi posisi 70 dari 117 negara dengan status tingkat kelaparan serius. dan sebanyak 22 juta penduduk Indonesia menderita kelaparan (ADB dan IFPRI, 2. Diantara sekian jenis sampah padat, food waste memiliki potensi pencegahan timbulan tertinggi (Cox et al. , 2. sekaligus dapat mengurangi kerugian ekonomi, lingkungan, dan sosial (Williams & Wikstrym, 2. Estimasi FAO . menyatakan makanan yang hilang atau terbuang di tingkat global merugikan ekonomi dunia US$ 750 miliar atau 8,5 triliun rupiah per tahun1 (Venkat, 2012. WRAP, 2013. World Bank2, 2011. Saudi Arabia Ministry of Agricuture, 2. Perkiraan kerugian ekonomi akibat food waste di Indonesia selama kurun waktu 2000-2019 mencapai 213-551 triliun rupiah/tahun atau setara 4-5% PDB Indonesia (Bappenas, 2. Dari sisi lingkungan, food waste merupakan representasi jejak karbon dimana makanan yang dikonsumsi berasal dari pupuk, pestisida, energi bahan bakar fosil yang digunakan di pertanian, perkebunan, peternakan, pabrik pengolahan makanan, serta transportasi untuk distribusi (WEF, 2. , sifatnya yang basah dan mudah membusuk menghasilkan gas metana 21 kali lebih kuat dalam menyebabkan pemanasan global dibanding CO2 saat tertimbun dalam lahan urug atau landfill (FAO, 2. Diperkirakan total emisi timbulan food waste Indonesia selama 20 tahun sebesar 1. MtCO2 ek, atau rata-rata kontribusi per tahun setara dengan 7,29% emisi gas rumah kaca Indonesia (Bappenas, 2. Food waste juga berpengaruh pada usia pakai lahan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (Ngoc et al, 2. Dari perspektif sosial, salah satu permasalahan dunia adalah ketahanan pangan bagi sekitar 870 juta penduduk dunia (Stuart. Peningkatan produksi pangan serta redistribusi pangan ke wilayah lain yang kekurangan makanan merupakan upaya yang logis dilakukan (Stuart, 2. Selain itu, pengurangan food waste serta penanganan yang tepat dapat menghemat sumber daya ekonomi, berkontribusi pada ketahanan pangan, dan meminimalisir dampak negatif pada sistem pengelolaan sampah (Thyberg & Tonjes, 2. Estimasi Bappenas . sebesar 80% food waste di Indonesia ditimbulkan pada tahap konsumsi oleh rumah tangga dan terkait erat dengan perilaku konsumen, sehingga perilaku food waste sering dikaitkan dengan aktivitas rumah tangga sehari-hari (Parfitt et al. , 2. Data BPS . menyebutkan total komposisi sampah rumah tangga di 34 kota di Indonesia 082,47m3 per hari atau setara 8,8 juta m3/tahun, dengan komposisi sampah plastik, kertas, karton 29%, sampah lainnya 18%, dan yang terbesar adalah sampah organik sebesar 53% termasuk di dalamnya sampah dapur dan food waste (BPS, 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis timbulan food waste rumah tangga dan faktor apa saja yang mempengaruhinya, serta apa yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi timbulan food waste rumah tangga. Diharapkan penelitian ini juga dapat melengkapi literatur akademis mengenai food waste di Indonesia. http://w. org/food-waste-and-recycling-china-growing-trend-1 Sub-Saharan Africa | Data . Jurnal Good Governance Volume 18 No. Maret 2022 | KAJIAN LITERATUR Konsep Food Waste Food waste adalah seluruh bahan makanan yang diperuntukan bagi konsumsi manusia, tetapi dibuang dan tidak dikonsumsi karena berbagai alasan seperti hilang, terdegradasi, atau diserang hama (FAO, 2. Sedangkan penelitian Parfitt et al . menyatakan bahwa food waste mengacu pada makanan yang dapat dikonsumsi manusia, tetapi hilang atau Indonesia tidak secara khusus mendefinisikan food waste, namun food waste termasuk dalam jenis sampah rumah tangga yang mudah terurai atau sampah organik, seperti tertuang pada Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Food waste dibedakan menjadi avoidable food waste . ood waste yang dapat dihindar. yaitu produk makanan yang dapat dikonsumsi dan disiapkan tetapi tidak dimakan, makanan yang dibiarkan rusak dan produk lain yang dapat dimakan namun dibuang karena berbagai alasan (Berndstad and Anderson, 2. , dan unavoidable food waste . ood waste yang tidak dapat dihindar. , yaitu food waste yang dihasilkan pada fase saat makanan disiapkan dan bagian yang memang tidak dapat dikonsumsi seperti tulang, cangkang telur dan sebagainya (Berndstad and Anderson, 2015. WRAP UK, 2. Dalam penelitian ini, food waste tidak dibedakan karena responden memperlakukan keduanya sebagai sampah organik dan tidak membedakan antara keduanya pada saat membuang sampah. Faktor-faktor Demografi dan Perilaku Konsumen yang Mempengaruhi Food Waste di Rumah Tangga Hasil penelitian Koivupuro et al . menyebutkan bahwa latar belakang demografi seperti ukuran dan jenis rumah tangga, gender anggota rumah tangga yang bertanggung jawab atas belanja rumah tangga mempengaruhi timbulan food waste. Studi lain menyebutkan timbulan food waste di rumah tangga terkait dengan berbagai kebiasaan konsumen sehari-hari seperti perencanaan sebelum berbelanja, saat berbelanja makanan, persiapan memasak, mengonsumsi makanan, kebiasaan makan di luar, hingga perilaku pengelolaan sampah. Perilaku konsumen yang tidak terbiasa membuat daftar belanja, atau tergoda berbagai penawaran khusus seperti diskon, promo beli 1 gratis 1, dan sebagainya, juga cenderung mendorong pada perilaku food waste (Abdelradi 2018. Romani et al, 2017. Stefan et al, 2. Terkait Beberapa faktor lain seperti kesadaran lingkungan, motivasi ekonomi, kepercayaan, tradisi keluarga, pengetahuan akan dampak negatif food waste terhadap lingkungan, dapat mendorong rumah tangga mengurangi timbunan food waste yang dihasilkan rumah tangga (Abdelradi, 2018. Revilla & Salet, 2018. Russell et al. , 2017. Qi & Roe, 2016. Quested et al, 2. Rumah tangga yang memiliki pengetahuan terhadap pengelolaan sampah yang baik seperti metode 3R . educe, reuse, recycl. cenderung menghasilkan food waste lebih sedikit (Abdelradi, 2018. Diaz-Ruiz et al. , 2. Hasil penelitian Secondi et al . menyatakan pengaruh aktivitas pengomposan dalam mengurangi food waste yang dihasilkan rumah tangga, sedangkan Azlina et al . menyebutkan perilaku pemilahan sampah di rumah tangga dapat mengurangi timbunan sampah. 40 | Kebijakan Pengelolaan Sampah Nasional: Analisis Pendorong Food Waste di Tingkat Rumah Tangga METODE PENELITIAN Metodologi pengumpulan data dalam penelitian ini melalui studi literatur terhadap food waste, survei kuisioner, serta wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan terkait. Lokus penelitian dilakukan di kota Depok. Jawa Barat. Penentuan kota Depok dipilih karena telah menerapkan program pemilahan sampah sebagai upaya pemerintah mengurangi sampah rumah tangga, yang merupakan salah satu variabel bebas yang dianalisis. Sampel responden rumah tangga dipilih secara acak, dari 277 kuisioner yang disebarkan, hanya 257 responden yang menyelesaikan seluruh kuisioner pada bulan November 2018. Di awal kuisioner responden diberikan pertanyaan mengenai tanggung jawab di rumah. Hanya responden yang bertanggung jawab atau memiliki pengetahuan yang cukup dalam aktivitas perencanaan belanja, penyediaan makanan, dan pengelolaan sampah di rumah, yang diminta untuk mengisi kuisioner (WRAP UK, 2. Kuisioner terdiri dari 28 pertanyaan terstruktur meliputi pertanyaan mengenai informasi demografi rumah tangga, rata-rata timbulan food waste di rumah per minggu, perilaku dan kebiasaan sebelum berbelanja, saat berbelanja, saat mengonsumsi makanan, dan dalam mengelola sampah rumah tangga. Responden diminta mengisi isian jumlah timbulan food waste selama seminggu untuk dihitung rata-ratanya, menggunakan alat ukur kantong plastik ukuran sedang sebagai media pembuangan sampah di rumah tangga. Data dianalisis menggunakan metode pendugaan parameter model regresi Ordinary Least Square (OLS). Tabel 1 menjelaskan seluruh variabel yang digunakan dalam penelitian (Koivupuro et al, 2. Tabel 1Daftar Operasionalisasi Variabel Table 1 Variables List Variabel Terikat Keterangan Ln Food Waste per kapita Log timbulan food waste yang dihasilkan rumah tangga per kapita per minggu . atuan kantong plastik dibagi jumlah ART) Variabel Penjelas Utama Keterangan Referensi Referensi Perencanaan Dummy kebiasaan perencanaan belanja seperti memperkirakan porsi makanan yang akan berapa banyak jumlah makanan yang akan dibeli . = Ya . 0= lainny. (Stefan et al. , 2. Belanja Dummy kebiasaan belanja, seperti berbelanja melebihi yang diperlukan karena tergoda berbagai penawaran khusus . = Ya . 0= lainny. (Stefan et al. , 2. Pilah dummy kebiasaan memilah sampah di rumah (Diaz-Ruiz et al. Azlina et al. = memilah . 0= lainny. Jurnal Good Governance Volume 18 No. Maret 2022 | Variabel Kontrol Keterangan Referensi Ekonomi dummy motivasi mengurangi sampah makanan karena alasan ekonomi . = Ya . 0 = lainny. (Quested et al. , 2. Kepercayaan dummy motivasi mengurangisampah makanan karena alasan kepercayaan . = Ya . 0 = lainny. (Abdelradi, 2. Pengetahuan dummy memiliki pengetahuan mengenai sampah (Quested et al. , 2. = tahu tentang food waste . 0= lainny. Ln Food Expend Log pengeluaran makanan dan minuman rumah tangga per bulan (Abdelradi, 2. Usia usia responden (Koivupuro et al. ,2,3,A. ART jumlah anggota rumah tangga (Secondi et al. , 2. ,2,3,A. Pekerjaan dummy pekerjaan responden (Secondi et al. , 2. = ibu rumah tangga . 0=lainny. Pendidikan tingkat pendidikan yang diselesaikan responden (Secondi et al. , 2. =tinggi . 0=lainny. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Demografi Rumah Tangga Terhadap Food Waste Karakteristik responden dalam penelitian ini yaitu mayoritas wanita dan berasal dari rumah tangga menengah ke bawah, dengan rata-rata pendapatan rumah tangga dalam sebulan sebesar Rp. 335,-. Komposisi rumah tangga rata-rata sebanyak 4 . anggota keluarga, dan didominasi ibu rumah tangga berusia rata-rata 38 tahun, dan berpendidikan rata-rata setingkat SMA dan sederajat. Variabel jumlah pengeluaran makanan dan minuman rumah tangga mempengaruhi timbulan food waste dimana semakin tinggi pengeluaran makanan dan minuman rumah tangga, semakin banyak timbulan sampah makanan yang dihasilkan (Secondi et al, 2. Variabel jumlah anggota rumah tangga juga mempengaruhi pengurangan timbulan sampah makanan per kapita dimana semakin sedikit anggota rumah tangga, timbulan food waste yang dihasilkan juga akan semakin sedikit (Koivupuro et al, 2. Status sebagai ibu rumah tangga yang tidak bekerja juga mempengaruhi berkurangnya timbulan food waste rumah tangga, namun penulis mengeluarkan variabel ini disebabkan rasio responden yang memang lebih banyak ibu rumah tangga di rumah. Food waste rumah tangga, didominasi oleh unavoidable food waste atau sisa makanan yang lazimnya tidak dikonsumsi seperti tulang ayam atau ikan, kulit bawang, kulit telur, dan Sebanyak 31,22% responden membuang jenis makanan yang tidak dapat dikonsumsi atau unavoidable food waste. Sedangkan sisanya membuang makanan yang 42 | Kebijakan Pengelolaan Sampah Nasional: Analisis Pendorong Food Waste di Tingkat Rumah Tangga dapat dikonsumsi . voidable food wast. didominasi oleh sayur-sayuran dan buah-buahan, sisa makanan yang tidak habis setelah disajikan dan tidak dimanfaatkan lagi, serta produk Avoidable food waste dibuang karena inefisiensi dalam pengelolaan makanan seperti telah melewati tanggal kadaluarsa, makanan rusak seperti busuk, berubah warna, atau berjamur, makanan sudah terlalu lama disimpan sehingga diragukan kesegarannya, serta sisa makanan yang masih layak namun tidak dimanfaatkan kembali (Quested et al. , 2. Inefisiensi dalam pengelolaan makanan dapat disebabkan karena metode penyimpanan makanan yang tidak tepat sehingga makanan cepat busuk, berubah rasa, atau berjamur, lalu kekeliruan dalam memahami label kadaluarsa pada kemasan makanan, dan sebagainya. Tabel 2 Hasil Estimasi Parameter Table 2 Parameter Estimation Result Variabel Terikat : Timbulan Food Waste per kapita Variabel Bebas Koefisien P>t Perencanaan Belanja Pemilahan 3173*** Ekonomi Kepercayaan Lnfoodexpend Usia Art 4019*** 2511*** Variabel Bebas Koefisien P>t Pekerjaan Pendidikan Pengetahuan terkait Food Waste Prob > F Variabel Penjelas Utama Variabel Kontrol R-squared Catatan : *,**,*** menunjukkan tingkat signifikansi pada 10%, 5%, dan 1% Pengaruh Perilaku Rumah Tangga Terhadap Food Waste Selanjutnya, digunakan metode analisis regresi untuk mengestimasi variabel bebas perencanaan, kebiasaan belanja, kebiasaan memilah sampah, dan motivasi terhadap timbunan food waste per kapita. Analisis penelitian menggunakan model regresi Ordinary Least Square (OLS) menemukan hasil bahwa perencanaan dan kebiasaan belanja, pemilahan sampah, dan motivasi ekonomi dapat mendorong pengurangan perilaku food waste rumah Jurnal Good Governance Volume 18 No. Maret 2022 | Perencanaan dan kebiasaan belanja Perencanaan sebelum berbelanja seperti mengecek inventori persediaan makanan, membuat daftar belanjaan hingga berapa banyak yang akan dibeli, dapat mengurangi timbulan food waste rumah tangga. Perencanaan sebelum belanja dilakukan karena dengan pendapatan yang terbatas, responden harus mampu mengatur seluruh pengeluaran agar dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk konsumsi makanan dan minuman. Selain itu, kebiasaan saat berbelanja seperti belanja secara spontan, membeli makanan yang tidak diperlukan, atau belanja makanan berlebihan dengan memanfaatkan promo potongan harga, beli 1 gratis 1 juga meningkatkan food waste. Anggaran belanja yang tidak besar membuat responden jarang berbelanja diluar kebutuhannya, dan akan memanfaatkan dan tidak membuang makanan yang sudah dibeli. Pemilahan Sampah Pemilahan sampah yang dilakukan rumah tangga dapat mengurangi timbulan food waste, sesuai hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pengelolaan sampah di rumah tangga dapat mempengaruhi timbunan sampah yang dihasilkan di rumah (Abdelradi, 2018. Azlina et al. , 2013. Chang et al. , 2013. Diaz-Ruiz et al. , 2018. Secondi et al. , 2. Pemilahan sampah yang diawali dari rumah tangga meningkatkan kesadaran responden untuk lebih bertanggung jawab dalam membuang sampah dan berusaha mengurangi perilaku food waste. Motivasi Ekonomi Selain faktor demografi dan perilaku konsumen, faktor motivasi ekonomi juga dapat mendorong perilaku mengurangi food waste. (Quested et al, 2. Individu sering kali terdorong melakukan sesuatu apabila terdapat insentif ekonomi baginya (Russels et al. Keyakinan bahwa membuang makanan sama dengan membuang-buang uang yang dapat digunakan untuk keperluan lain, atau bijaksana tidak berbelanja dan mengonsumsi makanan secara berlebihan dapat mendorong kebiasaan menabung. Setiap bagian dalam populasi memiliki berbagai motivasi dalam melakukan berbagai hal termasuk perilaku food waste, sehingga pemahaman terhadap motivasi tersebut merupakan hal krusial yang harus dimiliki pengambil kebijakan dalam menyusun berbagai kebijakannya (Quested et al, 2. Arah Kebijakan Pengelolaan Sampah Nasional Berbagai langkah dalam penyelesaian masalah persampahan telah dilakukan oleh pemerintah, seperti menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 97 tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan (Jakstrana. Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, yang menargetkan pengurangan sampah sebesar 30% dan penanganan sampah sebanyak 70% pada tahun 2025. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga berupaya mengembangkan basis data terpadu pengelolaan sampah seluruh Indonesia melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang menampilkan cakupan jumlah, komposisi sampah, sumber sampah, dan sarana prasarana persampahan yang ada di setiap daerah. Tahun 2021. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas secara khusus menginisiasi penyusunan Kajian Food Loss and Waste (FLW) di Indonesia yang mengidentifikasi data dasar FLW di Indonesia periode 2000 s. Hal ini sangat penting karena basis data yang akurat merupakan 44 | Kebijakan Pengelolaan Sampah Nasional: Analisis Pendorong Food Waste di Tingkat Rumah Tangga modal dasar bagi pengambilan kebijakan yang tepat sasaran untuk mengatasi food waste di Indonesia. Pemerintah Kota Depok sebagai lokus penelitian menargetkan pengurangan sampah yang masuk ke TPA Cipayung yang menjadi tempat pembuangan sampah akhir warga Kota Depok. Daya dukung TPA Cipayung yang telah melebihi kapasitasnya, memaksa Pemkot Depok untuk mengubah pola pengelolaan sampah kota. Penambahan lahan TPA tidak memungkinkan karena keterbatasan anggaran Pemerintah Kota serta penolakan dari warga. Sebagai upaya mengurangi dan menangani sampah perkotaan serta mengurangi beban TPA Cipayung. Pemkot Depok mendorong program pengurangan dan penanganan sampah dari hulu hingga hilir. Program pengurangan dan penanganan sampah diawali di sumber sampah . umah tangga, horeka, kawasan industri, perkantoran, rumah peribadatan, dan sebagainy. yang wajib memilah sampah sesuai jenisnya . rganik, anorganik, resid. , untuk kemudian diangkut dan diolah ke fasilitas UPS 3R untuk sampah organik, dan Bank Sampah untuk sampah anorganik. Fasilitas tersebut tersebar di tingkat RT dan RW di 11 kecamatan di Kota Depok. Residu sampah yang tidak dapat diolah di tingkat UPS dan Bank Sampah, diangkut dan dibuang ke TPA Cipayung. Paradigma baru pengelolaan sampah yang tertuang dalam Jakstranas, mendorong pemerintah untuk mengubah TPA menjadi TPAS yaitu sebagai tempat pengolah akhir sampah, bukan pembuangan akhir. Pemkot Depok bekerja sama dengan Pemda Kota Bogor. Pemda Kabupaten Bogor, dan Badan Usaha terkait pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah Regional (TPPASR) Lulut Nambo (LUNA). Aktivitas TPPASR Lulut Nambo meliputi pengolahan dan pemprosesan akhir sampah, dimana sampah yang sudah terpilah diolah sesuai sifatnya. Sampah organik masuk ke instalasi pengolahan organik dan diproses menjadi kompos dan bahan baku makanan hewan. Sampah anorganik dan residu diproses untuk menjadi Refused Derifed Fuel (RDF), yaitu metode penanganan sampah yang mengubah sampah menjadi energi. Mengubah sampah menjadi komoditi yang bernilai ekonomi merupakan perwujudan ekonomi sirkular yang menjadi tujuan pengelolaan sampah. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial dari food waste semakin mendapat perhatian global, bermuara pada agenda besar Sustainable Development Goals (SDG) yang salah satu targetnya adalah mengurangi food loss and waste di seluruh dunia pada tahun 2030, untuk memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi timbulan food waste di tingkat konsumen rumah tangga. Hasil menunjukan bahwa food waste yang ditimbulkan rumah tangga didominasi oleh sisa makanan yang tidak dapat dikonsumsi atau unavoidable food waste. Inefisiensi pengelolaan makanan seperti kurangnya pengetahuan terkait metode penyimpanan bahan makanan tertentu, atau label tanggal produk menjadi penyebab utama makanan dibuang. Selain itu perilaku pemilahan sampah, kebiasaan dalam perencanaan berbelanja motivasi ekonomi, serta faktor demografi responden juga mempengaruhi timbunan food waste. Jurnal Good Governance Volume 18 No. Maret 2022 | Rekomendasi Diperlukan pendekatan lebih komprehensif yang dimulai dengan mendorong pada upaya pencegahan perilaku membuang sampah pada tingkat terkecil di rumah tangga sebelum melakukan upaya pengurangan dan penanganan (Zhang, 2. Upaya pencegahan food waste dilakukan dengan memahami perilaku konsumen yang menimbulkan food waste Atas hasil penelitian ini, beberapa rekomendasi disusun berdasarkan pelaku yang disasar, sebagai berikut: Perubahan perilaku konsumen melalui edukasi dan kampanye/promosi. Kebiasaan merupakan refleksi dari pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan masyarakat, maka upaya perbaikan dapat dilakukan melalui: Kampanye dampak food waste. Kolaborasi untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan potensi bahaya food waste terhadap lingkungan, ketahanan pangan, perekonomian. Upaya edukasi dan peningkatan kesadaran konsumen harus menyasar pada berbagai tingkatan kelompok masyarakat yang menyentuh perilaku individu serta berbagai situasi, tindakan, serta motivasi food waste tersebut dihasilkan, karena setiap kelompok akan bereaksi berbeda terhadap program yang dicanangkan. Edukasi terkait kebiasaan berbelanja dapat dimulai dari sejak usia dini oleh keluarga dan dikuatkan dengan teladan oleh tokoh panutan, pemuka masyarakat, influencer/selebritas, dan sebagainya. Kampanye konsumen sadar untuk mengurangi food waste dapat dilakukan melalui berbagai gerakan seperti: Donasi makanan. Kampanye donasi makanan mulai banyak dilakukan di wilayah Makanan yang masih layak konsumsi didonasikan melalui berbagai organisasi kemasyarakatan lalu disalurkan kepada para pihak yang membutuhkan (Baig et al, 2. Pengelolaan sampah di rumah. Mulai mengelola sampah rumah tangga dengan melakukan pemilahan sampah lalu diolah dengan pengomposan atau digunakan sebagai makanan hewan, untuk mengurangi food waste yang masuk ke TPAS. Pengetahuan dan informasi tentang keuntungan ekonomis apabila berbelanja secara . Tujuan akhir industri ritel adalah meraih keuntungan dari konsumen. Konsumen dapat menuntut industri ritel untuk menjual produk makanan yang tergolong tidak sesuai standar estetika/kosmetik produk makanan yang diinginkan. Relaksasi standar kosmetik produk. Mulai menjual produk yang tidak sempurna, jelek, tidak memenuhi standar estetika/kosmetik produk, selama tidak membahayakan keamanan konsumen. Edukasi label tanggal produk. Misinformasi label tanggal produk makanan seperti Aubest before dateAy. Aubest by dateAy. Auexpired dateAy. Ausell-by dateAy merupakan salah satu faktor penyebab food waste (WRAP UK 2007a, 2009, 2011. Label tanggal produk dalam kemasan terkait dengan tingkat kesegaran produk saat dikonsumsi, bukan keamanan 46 | Kebijakan Pengelolaan Sampah Nasional: Analisis Pendorong Food Waste di Tingkat Rumah Tangga Pengenaan denda terhadap makanan yang dibuang mendorong warga untuk mulai mengurangi food waste hingga melakukan upaya daur ulang makanan menjadi kompos. Korea Selatan mampu mengurangi food waste yang dihasilkannya hingga 10% dan meningkatkan recycling rate 2% menjadi 95%. Sarana prasarana pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah dari level rumah tangga dan RT dapat dimulai dari penyediaan kontainer sampah sesuai jenis sampah untuk memudahkan dilakukan pengelolaan sampah sesuai jenisnya. Pengumpulan data food waste. Data yang baik dapat mendorong upaya penelitian dan pengembangan lebih lanjut untuk mengetahui berbagai upaya pencegahan dan penanganan food waste. Implementasi ekonomi sirkular dengan mengadopsi teknologi yang mengubah food waste menjadi energi biogas untuk listrik, kompos, dan bahan baku makanan hewan yang bernilai ekonomis (Malinauskaite et al, 2. HAMBATAN DAN PENELITIAN SELANJUTNYA Penelitian ini memiliki banyak keterbatasan. Berbagai kelemahan seperti waktu pengambilan data yang terbatas serta tingkat kejujuran dan daya ingat responden dalam menjawab kuisioner tidak dapat terlalu menggambarkan kebiasaan rumah tangga seharihari, mengakibatkan data yang didapatkan kemungkinan tidak terlalu akurat. Selain itu, meskipun ukuran sampel relatif besar namun sampel yang ada belum cukup mewakili keseluruhan rumah tangga di Kota Depok karena sampel yang tersedia tidak memasukkan cukup responden untuk mewakili kelompok rumah tangga tertentu yang ada di Kota Depok, seperti kelompok rumah tangga dengan pendapatan lebih dari Rp. 000,-. Untuk penelitian lebih lanjut, ruang lingkup dapat lebih dikhususkan menjadi avoidable food waste saja, dan memperlebar cakupan wilayah yang diteliti mengingat setiap daerah memiliki norma dan budaya lokal yang berbeda-beda (Revilla & Salet, 2. PENGAKUAN Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Alin Halimatussadiah, rekan-rekan Magister Perencanaan dan Kebijakan (MPKP) Universitas Indonesia angkatan PB 37. Dirjen Pengelolaan Sampah KLHK, serta responden, surveyor, aparatur kantor kelurahan lokus penelitian. UPS 3R dan Bank Sampah Kecamatan Cipayung, yang telah mendukung dan membantu dalam menyelesaikan tugas penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA