Volume 1 No 2 : p. E-ISSN : Open Acces MEDIDENJ : Medial and Dental Journal GAMBARAN PROFIL PENGOBATAN DAN ANALISIS INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GASTRITIS DI RUMAH SAKIT SAMARINDA DESCRIPTION OF TREATMENT PROFILE AND DRUG INTERACTION ANALYSIS IN GASTRITIS PATIENTS IN SAMARINDA HOSPITAL Leniastri Dwi Andini1*. Muthia Dewi Marthilia Alim2 Mahasiswa Program Studi Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur Dosen Program Studi Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur *Koresponden Leniastri Dwi Andini. Address: Program Studi Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur , email : daleniastri@gmail. Abstrak Pendahuluan: Kondisi inflamasi yang muncul di mukosa serta submukosa lambung, dan sifatnya akut hingga kronis biasa disebut dengan gastritis. Pemberian beberapa jenis terapi pada pasien gastritis yang mengingat luasnya efek samping yang ditimbulkan yaitu interaksi obat yang diterima pasien, terutama pasien gastritis di Instalasi Rawat Inap yang membuat instalasi farmasi di Rumah Sakit harus memonitoring terjadinya interaksi obat. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, pengumpulan data dilakukan dengan cara mengumpulkan data sekunder berupa rekam medis dari pasien gastritis. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Identifikasi interaksi obat menggunakan situs web Drugs Interaction Checker yaitu Micromedex dan Medscape untuk mengetahui mekanisme interaksi dan tingkat keparahan obat. Hasil: Hasil penelitian ini ditemukan bahwa pantoprazole menjadi obat yang paling sering digunakan pada profil pengobatan gastritis sebanyak 58 pasien . %) dengan dosis dan aturan pakai 2 x 40mg. Dari analisis interaksi yang dilakukan diperoleh sebanyak 17 kejadian interaksi obat. Berdasarkan mekanisme, interaksi farmakokinetik sebanyak 9 kejadian . %), dengan tingkat keparahan minor sebanyak 10 kejadian . ,82%), moderate sebanyak 6 kejadian . ,29%) dan major sebanyak 1 kejadian . ,88%). Kesimpulan: Interaksi obat berdasarkan tingkat keparahan terbanyak yaitu interaksi minor sebanyak 10 . ,82%). Kata Kunci: Interaksi Obat. Profil Pengobatan. Gastritis. Abstract Background: Inflammatory conditions that arise in the mucosa and submucosa of the stomach, and are acute to chronic in nature are commonly referred to as gastritis. The provision of several types of therapy in gastritis patients given the extent of side effects caused by drug interactions received by patients, especially gastritis patients in the Inpatient Installation which makes pharmaceutical installations in hospitals must monitor the occurrence of drug interactions. Method: This study uses quantitative methods, data collection is done by collecting secondary data in the form of medical records from gastritis patients. Data collection was done retrospectively. Identification of drug interactions using the Drugs Interaction Checker website, namely Micromedex and Medscape to determine the mechanism of interaction and the severity of the drug. Result: The results of this study found that pantoprazole was the most commonly used drug in gastritis treatment profiles as many as 58 patients . %) with doses and rules of use 2 x 40mg. From the interaction analysis conducted, 17 drug interaction events were obtained. Based on the mechanism, pharmacokinetic interactions were 9 events . %), with minor severity of 10 events . 82%), moderate as many as 6 events . 29%) and major as many as 1 event . 88%). Conclusion: Most drug interactions based on severity were minor interactions as many as 10 . 82%). Keywords: Drug Interactions. Medication Profile. Gastritis PENDAHULUAN Gastritis adalah penyakit saluran cerna yang timbul akibat tiga faktor utama, seperti infeksi Helicobacter pylori, pemberian terapi Non Steroid Anti Inflammatory Drug dalam waktu lama serta Stress-Related Mucosal Damage. Disamping itu, gastritis bisa diakibatkan karena faktor lain seperti kebiasaan makan yang tidak teratur, minuman berkarbonasi, alkohol atau makanan pedas, dan kondisi stres . Merujuk pada data World Health Organization, angka untuk kejadian gastritis di dunia dari beberapa Negara, dengan Inggris 22%. China 31%. Jepang 14,5%. Canada 35%, dan Prancis 29,5%. Sekitar 1,8 juta hingga 2,1 juta orang didiagnosis menderita gastritis Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. setiap tahun di seluruh dunia, dan sekitar 635 orang di Asia Tenggara didiagnosis menderita gastritis setiap tahun . Menurut data tahun 2017, gastritis masih termasuk antara 10 penyakit dengan pasien terbanyak, tetapi jumlah kasusnya turun menjadi 59. Interaksi penggunaan satu obat terganggu setelah adanya obat lain, jamu, makanan atau Interaksi obat-obat dinyatakan menyebabkan pertambahan toksisitas atau turunnya keefektifan obat yang berinteraksi, khususnya untuk obat-obat seperti digoxin yang memiliki indeks terapeutik yang sempit. Interaksi muncul ketika pasien mengkonsumsi lebih dari satu obat . Penelitian yang dilakukan oleh Farikhah pada tahun 2018 di RSUD Dr. Moewardi menemukan 157 kasus gastritis dan dispepsia pada 80 pasien, yang mengalami potensi interaksi obat pada fase absorpsi sebanyak 25 kasus, interaksi fase distribusi 6 kasus, interaksi fase metabolisme 40 kasus, dan Sedangkan tingkat keparahan interaksi obat yang terjadi adalah minor sebanyak 24 kasus, moderate 81 kasus, major 4 kasus . Berdasarkan uraian diatas terdapat potensi interaksi obat yang terjadi terhadap penderita rawat inap dengan diagnosis gastritis, ini penting untuk dijalankan secara berkala untuk menghindari efek interaksi obat yang tidak diinginkan mempengaruhi kondisi klinis pasien maka pentingnya penelitian ini untuk METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di rawat inap Rumah Sakit Samarinda pada bulan November 2022 sampai Desember 2022. Alat Menganalisis interaksi obat berdasarkan mekanisme interaksi serta menganalisis berdasarkan tingkat keparahan interaksi menggunakan alat yaitu, website Drugs Interaction Checker (Micromedex dan Medscap. Bahan Penelitiaan ini menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien rawat jalan yang terdiagnosis gastritis periode Januari 2018 sampai September 2022. Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien rawat jalan yang terdiagnosis gastritis di Rumah Sakit Samarinda periode Januari 2018 sampai September 2022 dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medis dengan kriteria inklusi seperti: Pasien dengan diagnosis gastritis di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Samarinda. Pasien gastritis berusia Ou 17 tahun. Pasien dengan penyakit atau tanpa penyakit Pasien yang dirawat inap > 2 hari Pasien mendapatkan Ou 2 macam obat. Pasien dengan data yang lengkap, meliputi: Identitas pasien . ama, jenis kelamin, usia dan penyakit penyert. Data penggunaan obat . ama obat, dosis dan aturan paka. Kriteria eksklusinya, yaitu pasien yang memiliki data rekam medis yang tidak terbaca secara jelas. Tahapan/Jalannya Penelitian Penelitian dilakukan berdasarkan alur penelitian yang terdapat pada gambar 1: Persiapan proposal Permohonan izin persetujuan Etika penelitian Permohonan izin untuk melakukan penelitian di salah satu Rumah Sakit Samarinda Mengambil data rekam medis pada pasien yang menderita penyakit Gastritis Melakukan identifikasi pasien yang masuk ke dalam kriteria inklusi dan eksklusi Pengumpulan data dan analisis data Penarikan kesimpulan Analisa Data Pengolahan data rekam medis dianalisis secara deskriptif dengan mengelola data profil pengobatan dan interaksi obat berdasarkan mekanisme dan tingkat keparahan dengan menggunakan Microsoft Excel 2010 yang hasilnya akan ditampilkan dengan format Alat yang digunakan dalam Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. menganalisis interaksi obat berdasarkan mekanisme interaksi serta menganalisis berdasarkan tingkat keparahan interaksi yaitu Drugs Interaction Checker (Micromedex dan Medscap. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil identifikasi karakteristik pasien gastritis yang dilaksanakan di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Samarinda. Karakteristik pada penelitian ini meliputi jenis kelamin, usia, dan penyakit penyerta pasien gastritis. Pasien diagnosis gastritis di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Samarinda dalam periode Januari 2021 sampai September 2022 berjumlah 184 pasien. Berdasarkan populasi tersebut diperoleh 66 pasien yang termasuk dalam kriteria inklusi dalam penelitian ini. Data karakteristik pasien dengan diagnosis gastritis dalam penelitian ini sebagai berikut. Tabel 1. Karakteristik Pasien Karakteristik Jumlah. Persentase(%) Jenis Kelamin Laki-laki 43,94 Perempuan 56,06 Jumlah Kelompok Usia Remaja Akhir . -25 tahu. 1,52 Dewasa Awal . -35 tahu. 10,61 Dewasa Akhir . -45 tahu. 13,64 Lansia Awal . -55 tahu. 15,15 Lansia Akhir . -65 tahu. 39,39 Manula (>65 tahu. 19,70 Jumlah Penyakit Penyerta Anemia 5,77 Atherosclerotic cardiovascular disease 3,85 Congestive Heart Failure 0,96 Diabetes Melitus 8,56 Diare 3,85 Dyslipidemia 7,69 Gastroptosis 0,96 Headache 1,92 Hepatitis B Club 0,96 Hipertensi Hyperuricemia 2,88 Internal hemorrhoids NOS 0,96 Jantung 1,92 Low back pain 0,96 Other and unspecified abdominal pain 0,96 Other thoracic, thoracolumbar and lumbosacral 0,96 intervertebral disc displacement Cystitis 0,96 Tuberculosis of lung, without mention of bacteriological or 0,96 histological confirmation Vertigo 11,54 Tidak ada penyakit penyerta 18,27 Jumlah . ,06%) lebih banyak daripada laki-laki. Alasannya, perempuan memiliki tingkat stres Tabel yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki dan perempuan yang menderita gastritis, 37 Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. sulit mengatur serta mengendalikan emosi mereka, yang memicu stres yang merupakan salah satu faktor penyebab gastritis . Stres yang terjadi dapat mempengaruhi saluran pencernaan dan menyebabkan tukak pada saluran pencernaan, termasuk di dalamnya Mekanisme kerusakan lambung yang berhubungan dengan stres disebabkan oleh peningkatan asam lambung yang mengiritasi dinding mukosa lambung dan penurunan produksi lendir yang berfungsi sebagai lapisan pelindung dinding lambung. Hormon mempengaruhi sensitivitas seseorang terhadap rasa sakit. Secara biologis, perempuan lebih sensitif terhadap rasa sakit dibandingkan lakilaki. Hormon perempuan bereaksi lebih kuat dibandingkan laki-laki. Kondisi ini selaras dengan hipotesis tentang sekresi lambung yang dikendalikan oleh mekanisme neurologis dan Regulasi hormonal dilakukan oleh hormon gastrin. Hormon tersebut beroperasi mengakibatkan aliran asam lambung yang sangat asam . Kelompok usia pasien yang menderita penyakit gastritis dan melakukan pengobatan di rumah sakit adalah 56-65 tahun . ansia akhi. yakni sebesar 26 pasien . ,39%). Penyakit yang kerap dialami lansia adalah hiperkolesterol, penyakit hipertensi, konstipasi, osteoporosis, gastritis. Kebiasaan makan lansia kerap kali kurang tertata karena keterbatasan mengingat jam makan, sering kali terlampau lapar tetapi kadang terlampau kenyang, menimbulkan gangguan pada lambung dan sistem Penuaan penurunan stamina, yang dimulai dengan Nama Obat Esomeprazole Lansoprazole Omeprazole Na rabeprazole Pantoprazole Ranitidine banyak perubahan dalam hidup. Kasus gastritis beragam, mulai dari gastritis akut hingga gastritis kronis karena beberapa alasan, yang umumnya terjadi karena meningkatnya kadar asam lambung maupun menurunnya daya tahan dinding lambung terhadap pengaruh Guna meminimalisir kasus gastritis pada lansia, hendaknya perhatikan pola makan atau masalah yang berkaitan dengan kebiasaan makan, istirahat saat makan, tidak merokok dan minum alkohol, serta minum bir agar lansia tidak beresiko terkena gastritis . Berdasarkan hasil identifikasi penyakit penyerta terbanyak adalah hipertensi yaitu sebanyak 26 pasien . %). Terjadinya hipertensi pada pasien gastritis berkaitan dengan adanya faktor psikososial seperti stres, cemas dan depresi yang dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna dan menyebabkan gangguan pada keseimbangan sistem saluran cerna yang kemudian berakibat pada peningkatan sekresi asam lambung . Faktor stres ini mempengaruhi kenaikan tekanan darah yang memicu hipertensi karena dapat menyebabkan tubuh memproduksi lebih banyak hormon adrenalin dan menyebabkan jantung bekerja lebih keras dan lebih cepat. Adanya gangguan saluran pencernaan dan hipertensi terjadi secara bersamaan . Demikian pula, perubahan gaya hidup seperti kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, sulit tidur dan kebiasaan makan yang tidak teratur menyebabkan tingginya angka hipertensi pada pasien dengan penyakit pencernaan . Tabel 1. Profil Pengobatan Gastritis Aturan Pakai Rute Jumlah. Proton Pump Inhibitors 40 mg 20 mg 30 mg 30 mg 40 mg 20 mg 40 mg 40 mg 40 mg Histamine H2 Antagonist 25 mg/ml Dosis Persentase(%) 1,38 0,69 1,38 1,38 5,52 0,69 0,69 0,69 5,52 Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. 150 mg Rebamipide 100 mg Antasida 3 x 1 ac Sitoprotektif 3 x 1 cc 3 x 2 cc 500 mg/5 ml 500 mg/5 ml Jumlah Pada tabel 2 golongan Proton Pump Inhibitors yaitu pantoprazole didapatkan sebanyak 58 pasien dengan persentase . %) merupakan kelompok obat terbanyak yang diberikan sebagai pengobatan pasien gastritis. Obat dengan golongan Proton Pump Inhibitors umumnya digunakan karena efek penekan asam lambungnya yang kuat dan efektif daripada obat anti-refluks lainnya. Obat golongan Proton Pump Inhibitors secara permanen menginhibisi pompa proton di sel menurunkan sekresi asam lambung. Golongan Proton Pump Inhibitors mampu sembuhkan esofagitis lebih cepat dan dalam jangka waktu lama dapat mempertahankan pH asam lambung . Mengutip Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia . bahwa Proton Pump Inhibitors aturan pakai 2 x 1 . Pengobatan rebamipide merupakan pengobatan paling banyak digunakan kedua dengan sebanyak 40 pasien . ,59%), obat ini termasuk dalam golongan antasida. Antasida digunakan karena memiliki mekanisme kerja yang cepat . alam hitungan meni. untuk menetralkan asam lambung. Obat ini memiliki efektivitas yang berlangsung selama 20-60 menit jika meminumnya dalam keadaan perut masih kosong, sehingga dapat membantu meringankan rasa nyeri akibat gastritis . Berdasarkan Firman & Andriani . menyatakan bahwa antasida 3 x 1 dengan jumlah 81 . ,78%) . Obat sucralfate . paling banyak digunakan ketiga 17 pasien . ,72%). Sucralfate merupakan obat yang digunakan sebagai terapi gastritis selain Histamine H2 Antagonist dan Proton Pump Inhibitors pada pada pasien negatif Helicobacter pylori . Sucralfate adalah jenis agen sitoprotektif yang meningkatkan meningkatkan produksi bikarbonat dan menghindari kekambuhan . Berdasarkan penelitian pada tahun 2021 yang telah diteliti oleh Syafitri dan kolega, sukralfat diberikan sebanyak 2 cc x 3 dosis . , sedangkan pada Sucralfate 1,38 27,59 1,38 11,72 Drug Information Handbook tahun 2013 disebutkan bahwa dosis sukralfat yang biasa diberikan adalah 2 cc x 4 dosis . Hal ini dapat terjadi dikarenakan adanya penyesuaian dosis, mengingat terapi yang diberikan kepada merupakan terapi kombinasi, sehingga cukup diberikan 3 x 2 cc setiap harinya selama Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. Nama Obat Tabel 2. Obat Penyakit Penyerta Aturan Dosis Rute Pakai Fluoroquinolone Moxifloxacin 400 mg Inhibitor Sodium-Glucose Cotransporter-2 (SGLT-. Dapagliflozin 10 mg 2nd Generation Sulfonylurea 3 mg Glimepiride 2 mg 2rd Generation Cephalosporin Cefuroxime 500 mg 3rd Generation Cephalosporin Cefixime 100 mg 1 gr Ceftriaxone 1 gr ACE Inhibitor Ramipril 5 mg Adrenergic Agonist Agent Dobutamine mg/ml Analgesic. Antipyretic 1 gr 600 mg Paracetamol/ 500 mg 500 mg Analgesic. Opioid Tramadol 50 mg Angiotensin II Receptor Antagonist 8 mg Candesartan 16 mg Irbesartan 150 mg 80 mg Telmisartan 40 mg 80 mg Antiemetic 10 mg Metoclopiramide 5 mg/ml 5 mg/ml 8 mg/ml Ondansetron 4 mg Antianginal Isosorbide dinitrate 5 mg 60 mg Isosorbide mononitrate 20 mg Jumlah . Persentase (%) 0,69 0,34 0,69 0,69 0,34 0,69 1,03 0,34 0,34 0,34 6,21 1,03 0,34 0,34 0,34 0,69 0,69 0,34 1,38 0,34 0,34 0,34 3,45 0,69 12,07 0,34 1,03 0,69 0,69 Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. Nama Obat Dosis Aturan Pakai Rute Jumlah . Persentase (%) 1,38 0,34 Antidiarrheal Attapulgite 600 mg Loperamide Antiemetic 2 mg tab/bab Dimenhydrinate 50 mg 50 mg 1,72 1,03 Antigout Allopurinol Febuxostat Antihistamine 100 mg 80 mg 0,69 0,34 6 mg 24 mg mg/ml 10 mg 1,38 0,34 1,03 0,34 20 mg 20 mg 20 mg 1,03 1,03 0,69 5 mg/ml 2,41 1/100 0,34 2 x 1 cc 4,14 0,34 75 mg 0,34 0,5 mg 0,5 mg 2 mg 2 mg Ax1 2,41 0,34 0,34 1,03 0,34 1,03 0,34 0,34 0,34 0,34 Betahistine Diphenhydramine Loratadine Antihyperlipidemic Atorvastatin Rosuvastatin Simvastatin Anti-Inflammatory Dexamethasone Antimigraine Agent Ergotamine. Caffeine (Erica. Antineoplastic Agent. Hormone Megestrol acetate Antiplatelet Clopidogrel Benzodia-zepine Alprazolam mg/ml mg/ml Diazepam Estazolam Beta3 Agonist Mirabegron 50 mg Beta-Adrenergic Blocker Bisoprolol 2,5 mg Nebivolol 5 mg Beta-Lactamase Inhibitor. Penicillin Amoxicillin. Clavulanate (Clanex. 1 gr Biguanide Metformin 500 mg Biguanide. Dipeptidyl Peptidase IV Inhibitor Metformin. Linagliptin (Trajenta 5 mg Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. Dosis Aturan Pakai Rute Jumlah . Persentase (%) 100 ml 500 mg 1 x 25% 0,34 1,03 5 mg 10 mg Diltiazem 200 mg Flunarizine 5 mg Nifedipine 300 mg Calcium Channel Blocker. Angiotensin II Receptor Antagonist 5 mg/80 Amlodipine. Telmisartan (Twynst. 40 mg/5 Corticosteroid 4 mg Methylprednisolone 8 mg Diuretic. Thiazide Indapamide 1,5 mg Dopamine Antagonist Domperidone 10 mg Folic Acid Antagonist. Sulfonamide Trimethoprim. Sulfamethoxazol 960 mg (Sanprima fort. Inhibitor Dipeptidyl Peptidase-4 (DPP-. Vildagliptin 50 mg Lainnya DLBS1033 Lumbricus rubellus 490 mg (Disol. Laxative Bisacodyl 10 mg Monobasic na phosphate. Dibasic 133 ml na phosphate (Fleet Enem. Lactulose /5 ml 60 ml/ 3 x 2 cc Phenolphthalein. Liquid paraffin. Glycerin (Laxadin. 10 ml Na lauryl sulfoacetate. Na citrate. Sorbic acid, sorbitol. Polyethylene 5 ml Extra II rektal glycol-400 (Microla. Loop Diuretic Furosemide mg/ml Macrolide Clarithromycin 500 mg Spiramycin 500 mg Nonsteroidal Anti Inflammatory Drugs Ketoprofen 100 mg II-0-II 2,41 1,38 0,34 3,45 0,34 0,34 0,34 0,34 0,34 0,34 0,69 0,69 1,72 0,34 0,69 1,03 1,03 0,69 1,72 3,79 4,48 0,69 0,34 1,38 Nama Obat Blood Product Derivative Albumin Vip albumin Calcium Channel Blocker Amlodipine Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. Nama Obat Jumlah . Persentase (%) 0,34 0,34 2,07 0,34 0,34 500 mg 1 gr 0,34 0,34 0,25 mg 0,34 0,34 750 mg 0,69 1 ml 1 x/hari 0,34 1 gr 0,34 10 ml 0,69 Dosis Ketorolac Tromethamine Metamizole Methampyrone, diazepam (Analsi. 100 mg 30 ml mg/ml Aturan Pakai Rute Penicillin Amoxicillin Vitamin Calcitriol Coenzyme B12 (Cobazi. Retinol. Cholecalciferol. Tocopherol. Ascorbic acid. Nicotinamide. Pantothenic acid. Pyridoxine. Riboflavin. Thiamin. Folic acid. D-biotin. Cyanocobalamine (Cernevi. Thiamine 100 mg. Pyridoxine 100. Cynacobalamine 5000 mcg (NB Vitamin. Water Soluble Folic acid Fursultiamine. Dextrose monohydrate (Furami. Jumlah Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. Pada tabel 3 obat tersering diberikan sebagai lini pertama karena relatif aman jika adalah ondansetron yang digunakan pada 35 sesuai dengan dosis dibutuhkan karena dosis pasien . ,07%). Ondansetron bekerja dengan tinggi dapat menyebabkan efek samping menghadang serotonin pada saraf vagal dan seperti kerusakan fungsi hati . berpusat di daerah pemicu kemoreseptor, yang Pada penggunaan obat furosemide dengan jumlah 13 pasien . ,48%). Obat berhubungan dengan perut yang langsung furosemide diberikan sebagai pengobatan menyebabkan muntah. Impuls aferen ke pusat hipertensi, terapi diuretik diindikasikan muntah, yang kemudian menerima impuls sebagai senyawa antihipertensi lain pada aferen dari pusat sensorik seperti sistem pasien dengan kelebihan cairan dan volume pencernaan, menyebabkan muntah. Impuls . Selain itu, efek samping yang terjadi aferen dikirim dari pusat muntah ke perut dan ketika menggunakan furosemide sangat jarang saluran pencernaan ketika dipicu, yang terjadi . Efek samping yang umum terjadi mengakibatkan muntah . adalah ketidakseimbangan cairan dan elektrolit Penggunaan obat paracetamol dengan seperti hiponatremia, hipokalemia, dan jumlah 18 pasien . ,21%). Paracetamol alkalosis hipokloremik, terutama setelah diindikasikan sebagai analgesik antipiretik penggunaan dalam jumlah besar atau dalam untuk meredakan rasa nyeri dan mengurangi waktu lama . demam pada gastritis. Paracetamol digunakan Tabel 4. Persentase Mekanisme Interaksi Obat Gastritis dengan Obat Lain Mekanisme Interaksi Obat Jumlah Interaksi. Persentase(%) Farmakokinetik Farmakodinamik Jumlah Pada tabel 4 persentase untuk hasil pada mekanisme interaksi obat farmakokinetik didapatkan sebanyak 17 kejadian . %). Respon obat yang berubah selama fase absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi disebut interaksi obat farmakokinetik. Penurunan atau peningkatan konsentrasi obat tergantung pada efektivitas klinis obat itu terjadi pada interaksi obat farmakokinetik . Untuk persentase mekanisme interaksi obat farmakodinamik didapatkan sebanyak 0 kejadian . %). Obat yang memiliki efek farmakologi yang serupa . atau berlawanan . dapat membuat interaksi farmakodinamik terjadi dan bersifat potensiasi atau antagonis satu obat dengan obat lainnya juga dapat menyebabkan kegagalan pengobatan bahkan efek toksik . Tabel 3. Persentase Tingkat Keparahan Interaksi Obat Gastritis dengan Obat Lain Interaksi Obat Jumlah Interaksi. Persentase(%) Minor 58,82 Moderate 35,29 Major 5,88 Jumlah Pada tabel 4. 5 persentase untuk hasil Sedangkan major didapatkan hasil sebanyak 1 pada tingkat keparahan obat didapatkan hasil kejadian . ,88%), interaksi dengan tingkat minor sebanyak 10 kejadian . ,82%). Menurut Erviana . bahwa tingkat memberikan konsekuensi klinis menimbulkan keparahan minor merupakan interaksi dengan yang kecil namun tetap akan merugikan membutuhkan tindakan medis. Penanganan Kemudian untuk hasil moderate interaksi mayor juga dapat dikelola dengan didapatkan sebanyak 6 kejadian . ,29%) menghindarkan pemberian obat secara . , menurut Hendra . interaksi dengan bersamaan . tingkat keparahan sedang atau moderate akan mengakibatkan penurunan status klinis . Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. Tabel 4. Profil Interaksi Obat Berdasarkan Mekanisme Interaksi dan Tingkat Keparahan Obat Gastritis dengan Obat Lain Jumlah Persentase Interaksi Obat Keterangan . (%) Farmakokinetik (Mino. Dexamethasone akan menurunkan tingkat atau Pantoprazole 29,41 efek pantoprazole dengan cara mempengaruhi Dexamethasone metabolisme enzim CYP3A4 hati/usus. Cyanocobalamine akan mengalami penurunan Omeprazole 5,88 kadar yang terjadi karena penyerapan pada GI Cyanocobalamine terhambat yang disebabkan oleh Omeprazole Cyanocobalamine akan mengalami penurunan Pantoprazole 11,76 kadar yang terjadi karena penyerapan pada GI Cyanocobalamine terhambat yang disebabkan oleh Lansoprazole Dexamethasone akan menurunkan tingkat atau Lansoprazole 5,88 efek lansoprazole dengan mempengaruhi Dexamethasone metabolisme enzim CYP3A4 hati/usus. Omeprazole Omeprazole meningkatkan kadar estazolam 5,88 Estazolam dengan menurunkan metabolisme. Farmakokinetik (Moderat. Sucralfate Sucralfate menurunkan efek furosemide 23,53 Furosemide dengan menghambat penyerapan GI. Sucralfate Sucralfate menurunkan kadar moksifloksasin 5,88 Moxifloxacin dengan menghambat penyerapan GI. Penggunaan alprazolam dan omeprazole Omperazole secara bersamaan dapat menyebabkan 5,88 Alprazolam toksisitas benzodiazepine . epresi SSP, ataksia, les. Farmakokinetik (Majo. Domperidone dan ranitidine jika digunakan secara bersamaan dapat menyebabkan Ranitidine peningkatan konsentrasi domperidone dalam 5,88 Domperidone plasma dan meningkatkan risiko efek jantung serius, termasuk ventrikel dan kematian jantung mendadak. Jumlah Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. Pada tabel 6 didapatkan mekanisme interaksi pada pantoprazole dengan dengan tingkat keparahan obat yaitu minor sebanyak 5 kejadian . ,41%). Menurut Medscape dexamethasone jika digunakan bersamaan dengan pantoprazole akan mengurangi efek pantoprazole dengan cara mempengaruhi enzim CYP3A4 di dalam hati . Manajemen interaksi dapat dilakukan dengan melakukan pemantauan pada saat penggunaan . Penggunaan furosemide didapatkan interaksi untuk farmakokinetik dan tingkat keparahan obat yaitu moderate sebanyak 4 kejadian . ,53%). Menurut Medscape, penggunaan furosemide dan sucralfate secara bersamaan dapat menurunkan efek antihipertensi dan natriuretic dari furosemide . Penelitian ini sejalan dengan Hidayati dan kolega pada tahun 2022 untuk kejadian sucralfate dengan furosemide dengan jumlah 1 . ,47%). Sucralfate bekerja dengan mengikat protein pada permukaan ulkus, membentuk kompleks larutan yang stabil. Kompleks ini bertindak sebagai penghalang dan melindungi permukaan ulkus. Oleh karena itu, penyerapan furosemide tidak maksimal, sehingga mengurangi efek Pengobatan efek yang diakibatkan oleh interaksi kedua obat ini terdiri dari jarak pemberian obat. Sucralfate harus diberikan terlebih dahulu sebagai furosemide 2 jam kemudian . Penggunaan domperidone didapatkan untuk mekanisme interaksinya yaitu farmakokinetik dan tingkat keparahan obat yaitu major sebanyak 1 kejadian . ,88%). Domperidone dan ranitidine bila digunakan secara bersamaan dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi plasma domperidone dan meningkatkan risiko efek jantung serius, termasuk ventrikel dan kematian jantung domperidone > 30 mg/hari dan pada usia lebih dari 60 tahun. Domperidone harus dimulai dari dosis rendah. Hentikan domperidone jika pasien pusing, jantung berdebar, sinkop dan/atau kejang . Manajemen interaksi mayor juga dapat dilakukan dengan monitoring efek samping atau menghindari penggunaan obat secara bersamaan . Berdasarkan data profil interaksi yang diperoleh dari penelitian ini, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalisir atau mengatasi terjadinya interaksi obat, yaitu menghindari penggunaan kombinasi dan menyesuaikan yang diberikan Jika interaksi terjadi pada fase absorpsi, hentikan penggunaan obat 2 jam sebelum atau 4 jam setelah pemberian obat yang menyebabkan interaksi dan pantau pasien untuk mengetahui gejala klinis atau data laboratorium yang berhubungan dengan reaksi obat . KESIMPULAN Hasil penelitian yang didapatkan dari profil pengobatan gastritis obat yang paling sering digunakan yaitu pantoprazole sebanyak 58 pasien . %) dengan dosis dan aturan pakai 2 x 40 mg. Lalu hasil analisis interaksi obat yang dilakukan didapatkan 17 kejadian interaksi obat. Pada mekanisme, interaksi farmakokinetik sebanyak 17 kejadian . %), dengan tingkat keparahan minor sebanyak 10 kejadian . ,82%), moderate sebanyak 6 kejadian . ,29%) dan major sebanyak 1 kejadian . ,88%). DAFTAR PUSTAKA