JURNAL SAINS. SOSIAL DAN HUMANIORA Support By : e-ISSN: 2777-015X. DOI: https://doi. org/10. 52046/jssh. Web: https://journal. com/index. php/jssh E-mail: jurnaljssh. ummu@gmail. Coastal Community Perception of the Bahavior of Throwing Garbage into The Sea in North Mangga Dua Subdistrict South Ternate City (Persepsi Masyarakat Pesisir Terhadap Perilaku Mebuang Sampah Ke Laut di Kelurahan Mangga Dua Utara Kota Ternate Selata. Namira Ismail 1A dan Nadias Humairah Mustafa 1 1 Program Studi Psikologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Ternate. Indonesia. Email: namiraismailbanda22@gmail. Info Artikel : E Artikel Penelitian A Artikel Pengabdian A Riview Artikel Diterima : 24 Mei 2026. Disetujui : 7 Juni 2026. Publikasi On-Line : 8 Juni 2026 Abstract This study explores coastal community perceptions of waste disposal behavior into the sea in North Mangga Dua Village. South Ternate City. Using a qualitative phenomenological approach, data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation involving community leaders, fishermen, and coastal residents. Data were analyzed using thematic analysis. The findings identified four main themes: the perception of the sea as a natural dumping site, low environmental awareness, cognitive dissonance, and limitations in waste management systems. Many residents believe that ocean currents can naturally remove waste, making sea disposal a common practice passed down through generations. Although some community members understand the environmental impacts of marine pollution, they continue the behavior due to convenience and social habits. Inadequate waste management facilities, including limited waste bins and ineffective waste collection services, further contribute to the problem. The study concludes that social habits, environmental awareness, and insufficient waste management infrastructure significantly influence waste disposal behavior among coastal communities. Strengthening environmental education and improving waste management facilities are essential to reducing marine pollution in coastal areas. Keywords: Coastal Community Perception. Waste Disposal Behavior. Cognitive Dissonance. Environmental Awareness. Waste Management. PENDAHULUAN Permasalahan yang berkaitan dengan sampah merupakan salah satu isu lingkungan yang terus menjadi perhatian serius, baik secara global maupun nasional. Dalam peningkatan jumlah penduduk, aktivitas rumah tangga, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan menyebabkan volume sampah terus meningkat, terutama wilayah pesisir. Kawasan pesisir merupakan daerah yang sangat rentan terhadap pencemaran lingkungan karena sebagian besar aktivitas masyarakat yang berhubungan langsung dengan Salah satu bentuk pencemaran yang sering kali ditemukan yaitu perilaku membuang sampah langsung ke laut. Wilayah pesisir kota Ternate, memiliki permasalahan sampah yang menjadi fenomena kompleks dan sulit di tangani baik pemerintah yang terkait maupun individu yang belum sadar akan kebersihan laut (Muhammad A. Tuara, & Ihsan, 2. Masyarakat pesisir pada umumnya memanfaatkan laut tidak hanya sebagai sumber mata pencaharian, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Pada saat ini masih Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora terdapat masyarakat yang menjadikan laut sebagai tempat pembuangan sampah rumah tangga seperti plastik, sisa makanan, dan limbah domestik lainnya karena dianggap sebegai cara mudah dan praktis. Fenomena membuang sampah ke laut tidak hanya merusak pemandangan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan aspek psikologis dan sosial Persepsi masyarakat terahadap laut sangat mempengaruhi bagaimana seseorang memperlakukan lingkungan pesisir. Sebagian masyarakat memandang laut sebagai tempat pembuangan yang alami dikarenakan nantinya terbawa oleh arus laut. Persepsi tersebut kemudian membantuk kebiasaan yang terus turun-temurun kehidupan masyarakat pesisir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di kawasan pelantar masih memiliki kebiasaan membuang sampah ke laut akibat rendahnya kesadaran lingkungan serta meningkatnya aktivitas rumah tangga di kawasan pesisir (Desrian Effendi & Endri Bagus Prastiyo, 2. Selain persepsi masyarakat, rendahnya kesadaran ligkungan juga yang menjadi penyebab berlangsungnya perilaku membuang sampah ke Meskipun sebagian masyarakat memahami dampak negative sampah terhadap lingkungan dan kesehatan, perilaku tersebut tetap dilakukan karena telah menjadi kebiasaan yang dianggap normal dalam lingkungan masyarakat. Pada kondisi ini menunjukkan bahwa adanya ketidaksesuaian antara pengetahuan dan tindakan dalam menjaga kebersihan lingkungan. Hasil Aryanty . menunjukkan bahwa 51% masyarakat pesisir masih membuang sampah ke laut meskipun memiliki pengetahuan yang cukup baik menegenai dampak sampah terhadap lingkungan. Dampak dari perilaku membuang sampah ke laut sangat besar terhadap kehidupan masyarakat pesisir. Sampah laut dapat menyebabkan pencemaran air, kerusakan ekosistem laut, tergantungnya habitat biota laut, serta menurunkan kualitas kesehatan dan estetika lingkungan pesisir (Littaqwa. , & Rancak. Selain itu, keterbatasan sarana pengelolaan sampah yang masih kurang mendukung seperti tempat sampah di pesisir laut, sistem Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. pengangkutan sampah dan tempat pembuangan akhir (TPA) yang belum memadai di wilayah pesisir yang menyebabnkan masyarakat kesulitan untuk mengelola sampah dengan benar. Berdasarkan fenomena tersebut, peneliti tertarik untuk mengambil judul berkaitan dengan persepsi masyarakat pesisir terhadap perilaku membuang sampah ke laut di Kelurahan Mangga dua Utara Kota Ternate Selatan. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu memahami suatu fenomena sosial secara mendalam berdasarkan pengalaman, pandangan, persepsi, dan makna yang diberikan oleh individu atau kelompok terhadap suatu Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses, makna, dan pemahaman daripada pengukuran angka atau statistik. (Sugiyono, 2. metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti bertindak sebagai instrumen utama, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna daripada generalisasi. Teknik dalam metode kualitatif berupa wawancara mendalam (In-deptg Intervie. , observasi, dokumentasi dan catatan lapangan. Pendekatan Fenomenologi pendekatan yang berusaha memahami suatu fenomena sebagimana dialami secara langsung oleh individu tanpa dipengaruhi oleh asumsi atau (Nasir. A, 2. menekankan bahwa realitas dapat dipahami melalui pengalaman sadar manusia terhadap suatu peristiwa. Fenomenologi bertujuan untuk mendeskripsikan makna umum dari pengalaman beberapa individu terhadap suatu konsep atau fenomena tertentu (Creswell. Teknik menggunakan analisis tematik merupakan metode analisis data yang digunakan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menafsirkan pola-pola makna atau tema yang muncul dari data Virginia Braun & Victoria . menjelaskan analisis tematik adalah metode melaporkan tema dalam data secara sistematis Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora sehingga mampu menggambarkan fenomena penelitian secara rinci. Subjek menggunakan teknik purposive sampling yaitu peneliti memilih informan yang yang memiliki pengalaman langsung terhadap fenomena yang sedang diteliti. Informan pada penelitian ini terdiri dari dua orang tokoh masyarakat yaitu ketua RT 14 dan Ketua RT 004 Kelurahan Mangga dua Utara dan tiga orang yang bekerja sebagai nelayan di Kelurahan Mangga dua Utara, serta dua orang masyarakat yang tinggal di area dekat jembatan wilayah pesisir swering dan sudah tinggal sejak lama di daerah pesisir laut Kelurahan mangga dua Utara. HASIL DAN PEMBAHASAN Persepsi Masyarakat Pesisir Persepsi merupakan suatu proses yang terjadi dalam diri individu ketika menanggapi lingkungannya melalui proses pemikiran dan perasaan yang kemudian menjadi dasar pertimbangan perilakunya (Triana, 2. Persepsi juga dapat diartikan sebagai suatu pandangan seseorang terhadap lingkungannya yang dipengaruhi oleh kepribadian dan karakteristik yang dimiliki seseorang dalam Jika objek persepsi seseorang terhadap lingkungannya mempunyai nilai positif dan mampu mempengaruhi nilai perseptor, baik secara fisik maupun psikologis. Maka pada gilirannya dapat memberikan motivasi proses perilaku masyarakat yang positif terhadap Teori Robbins . menjelaskan bahwa persepsi adalah proses seseorang dalam mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberikan makna terhadap Penelitian ini sejalan dengan kerangka Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1. menjelaskan bahwa sikap adalah penilaian individu terhadap suatu perilaku, apakah dianggap baik atau buruk, bermanfaat atau Kedua, yaitu norma subjektif adalah tekanan sosial atau pengaruh dari orang lain terhadap perilaku seseorang. Dan ketiga, persepsi kontrol perilaku adalah keyakinan individu mengenai kemampuan dan kesempatan untuk melakukan suatu perilaku. Perilaku Membuang Sampah ke Laut Hasil penelitian menunjukkan bahwa membuang sampah ke laut menjadi empat Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. kategori yaitu terdiri dari pertama, laut sebagai tempat pembuangan alami, dalam hal ini persepsi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir laut memandang laut sebagai tempat yang luas dan mampu membersihkan atau menghilangkan sampah secara alami melalui arus dan gelombang laut (Indrayanti. Safmila & Hamzah, 2. Hal ini sejalan dengan hasil temuan di lapangan dari kedua tokoh masyarakat yaitu ketua RT 14 dan Ketua RT 004 Kelurahan Mangga dua Utara menjelaskan bahwa kebiasaan masyarakat di Kelurahan mangga dua Utara terutama yang tinggal di daerah pesisir membuang sampah seperti plastik, popok bayi, bahkan sisa makanan itu langsung ke laut tidak dibuang ke tempat sampah terdekat tetapi lebih memilih untuk membuangnya di laut sehingga masyarakat menganggap bahwa nantinya akan terbawa oleh gelombang laut. selain itu dari kedua subjek yang tinggal di kawasan jembatan pesisir swering Kelurahan Mangga dua Utara juga menjelaskan bahwa sering ditemukan banyak sampah plastik dan sampah Rumah Tangga yang terlihat di kawasan pesisir yang terbawa oleh air hujan dari kawasan pegunungan hingga ke pesisir laut Kelurahan Mangga dua Utara. Pada kategori kedua yaitu rendahnya kesadaran lingkungan berasal dari kebiasaan yang membuang sampah ke laut (Rajib. Khairunnisa & Renggais, 2. Hal ini sejalan degan temuan di lapangan dari kedua tokoh masyarakat yaitu ketua RT 14 dan Ketua RT 004 Kelurahan Mangga dua Utara yang menjelaskana bahwa masyarakat mangga dua Utara sebagian besar sudah memiliki pemahaman tentang tidak diperbolehkan untuk membuang sampah ke laut akan tetapi banyak sekali masyarakat yang tidak memiliki kepedulian terhadap aturan tersebut sehingga menjadi suatu kebiasaan dalam keluarga yang membuang sampah ke laut merupakan suatu hal yang wajar Hal ini juga berkaitan dengan subjek ketiga nelayan di Kelurhan Mangga dua Utara yang menjelaskan bahwa di lingkungan keluarganya sendiri sering membuang sampah di laut dikarenakan sudah menjadi kebiasaan yang sudah sejak lama dan turun temurun. Untuk membuang sampah di tempat pembuangan umum itu jaraknya sangat jauh sehingga keluarga dari subjek nelayan lebih memih untuk membuang sampah ke laut karena dianggap lebih praktis dan Kategori ketiga yaitu terdapat disonasi kognitif, di mana masyarakat memahami dampak negatif sampah terhadap lingkungan, namun tetap melakukan perilaku negatif tersebut karena faktor praktis dan tekanan sosial (Frestinger. Hal ini berkaitan dengan hasil temuan di lapangan Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora dari kedua subjek tokoh masyarakat ketua RT 14 dan Ketua RT 004 Kelurahan Mangga dua Utara menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat yang berada di Kelurahan mangga dua Utara adalah orang yang sudah memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang dampak dari membuang sampah ke laut karena akan merusak ekosistem laut, akan tetapi masih terdapat banyak masyarakat yang tidak memikirkan dampak dari membuang sampah ke laut. Hal ini juga berkaitan dengan kedua subjek masyarakat yang tinggal di kawasan jembatan pesisir laut di Kelurahan Mangga dua Utara yang menjelaskan bahwa kurangnya pemahaman yang berkaitan dengan dampak sampah pada masyarakat yang membuat masyarakat membuang sampah ke laut tanpa memikirkan dampaknya kedepan untuk generasi Selain Perilaku masyarakat pesisir, terdapat keterbatasan pengelolaan sampah yaitu kondisi ketika sistem, sarana maupun kemampuan masyarakat dan pemerintah dalam menangani sampah belum berjalan secara optimal (UU No. Tahun 2008 : DLH, 2. Hal ini sejalan dengan hasil temuan di lapangan dari ketiga subjek nelayan Kalurahan Mangga dua Utara yang mengeluhkan pada petugas pengangkut sampah dikarenakan tidak bekerja dengan optimal dan bahkan jarang sekali untuk mengangkat sampah, sehingga sampah masyarakat tertumpuk di kawasan dekat dengan jembatan aliran air dan akhirnya hanyut ke laut. Selain itu dari subjek kedua tokoh masyarakat yaitu ketua RT 14 dan RT 004 juga mengeluhkan hal yang sama yaitu petugas pengangkut sampah tidak berkeja dengan optimal walaupun sudah ada fasilitas seperti sepeda motor yang dibuat khusus untuk mengangkut sampah di setiap kelurahan dari pemerintah daerah akan tetapi tidak berkerja dengan optimal dan dianggap masih minim tempat sampah yang disediakan oleh pemerintah Kota Ternate khusunya di daerah pesisir laut Kelurahan Mangga dua Utara. IV. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa persepsi masyarakat pesisir terhadap perilaku membuang sampah ke laut di Kelurahan Mangga dua Utara dipengaruhi oleh kebiasaan sosial, budaya, serta kondisi lingkungan masyarakat pesisir. Sebagian masyarakat masih memandang laut sebagai tempat pembuangan alami karena dianggap mampu membawa sampah melalui arus laut. Persepsi tersebut kemudian membentuk Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. kebiasaan yang dilakukan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat pesisir. Selain itu, rendahnya kesadaran lingkungan menyebabkan masyarakat tetap membuang sampah ke laut meskipun telah mengetahui dampak negatifnya terhadap lingkungan dan kesehatan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa keterbatasan pengelolaan sampah menjadi faktor yang memperkuat perilaku membuang sampah ke laut. Minimnya fasilitas tempat sampah, sistem pengangkutan sampah yang belum optimal, serta kurangnya perhatian terhadap pengelolaan sampah di wilayah pesisir menyebabkan masyarakat mengalami kesulitan dalam mengelola sampah dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah dalam meningkatkan kesadaran lingkungan serta menyediakan sarana pengelolaan sampah yang memadai agar perilaku membuang sampah ke laut dapat dikurangi. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan fasilitas pengelolaan sampah, khususnya di wilayah pesisir Kelurahan Mangga dua Uatara, seperti penyediaan tempat sampah dan optimalisasi sistem pengangkutan sampah. Selain itu, diperlukan program edukasi dan sosialisasi secara berkelanjutan mengenai pentingnya menjaga kebersihan laut dan dampak sampah terhadap lingkungan pesisir. Bagi mengembangkan penelitian dengan jumlah subjek yang lebih luas serta menggunakan pendekatan penelitian yang berbeda agar memperoleh gambaran yang lebih mendalam mengenai perilaku masyarakat pesisir terhadap pengelolaan sampah lingkungan. DAFTAR PUSTAKA