JURNAL BASICEDU Volume 8 Nomor 4 Tahun 2024 Halaman 3303 - 3311 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Culturally Responsive Teaching dalam Model Pembelajaran Problem Based Learning Mata Pelajaran PPKn Masfufatul Lailiyah1A. Husni Wakhyudin2. Choirul Huda3. Sutarman4 Universitas PGRI Semarang1,2,3 Sekolah Dasar Negeri Siwalan Semarang. Indonesia4 E-mail: masfufatullailiyah111@gmail. com1, husniwakhyudin@upgris. Choirulhuda581@gmail. Sutarman291@guru. Abstrak Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. merupakan mata pelajaran yang berperan membentuk karakter dan kesadaran kewarganegraan peserta didik. Suatu pendekatan yang perlu dikembangkan guru agar mampu menyajikan pembelajaran bermakna adalah pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT). Pendekatan CRT yaitu pendekatan yang menghubungkan materi pembelajaran dengan memperhatikan latar belakang peserta didik. Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembelajaran PPKn dengan pengimplementasian pendekatan Culturally Responsive Teaching dalam model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di kelas iA SDN Siwalan Semarang. Penelitian ini menggunakan jenis kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data dilakukan melauli observasi, wawancara dan Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi, wawancara, dan telaah dokumen. Penelitian dilaksanakan di kelas iA SDN Siwalan dengan jumlah 27 peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan pendekatan CRT terintegrasi dengan baik mulai dari kegiatan pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pendekatan CRT dalam model pembelajaran PBL ini membantu peserta didik untuk berfikir kritis, memecahkan masalah dengan beragam alternatif solusi melalui proses menggali informasi ragam budaya yang ada di Indonesia. Pendekatan CRT dengan model pembelajaran PBL mampu memberikan pengalaman belajar yang mendalam serta menyiapkan peserta didik yang memiliki sikap toleransi dan mengakui keberagaman budaya dari berbagai etnis yang berbeda. Kata Kunci: Culturally Responsive Teaching. Problem Based Learning. PPKn. Abstract Civic Education is the subjects that has a role in creating the character and civic awareness of students. An approach that teachers must develop to present a good learning is the Culturally Responsive Teaching (CRT) approach. The CRT approach is an approach that links learning material with attention to the students' backgrounds. This research aims to find out how the Culturally Responsive Teaching approach is implemented in the Problem Based Learning (PBL) learning model in Civics subjects in class iA at SDN Siwalan Semarang. This research is a type of descriptive qualitative research. The data collection method used was observation, interviews and documentation. The instruments used were observation sheets, interviews and document reviews. The research was carried out in class iA at SDN Siwalan with 27 students. The research results show that the CRT approach is well integrated from the beginning of learning, the core of learning, and the end of learning. The CRT approach in this PBL learning model helps students to be able to think critically, solve problems with a variety of alternative solutions, through the process of exploring information about the various cultures that exist in Indonesia. The CRT approach with the PBL learning model is able to provide meaningful learning experiences and prepare students who have an attitude of tolerance and recognize the cultural heritage of various different ethnic groups. Keywords: Culturally Responsive Teaching. Problem Based Learning. Civic Education. Copyright . 2024 Masfufatul Lailiyah. Husni Wakhyudin. Choirul Huda. Sutarman A Corresponding author : Email : masfufatullailiyah111@gmail. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Culturally Responsive Teaching dalam Model Pembelajaran Problem Based Learning Mata Pelajaran PPKn Ae Masfufatul Lailiyah. Husni Wakhyudin. Choirul Huda. Sutarman DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Pendidikan adalah upaya sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara keseluruhan untuk mencapai cita-cita membangun manusia seluruhnya. Pendidikan memainkan peran penting dalam membantu perkembangan manusia menuju arah yang secara normatif lebih baik (Hasan, 2. Dengan kata lain pendidikan adalah upaya terencana untuk membuat lingkungan dan proses pembelajaran secara aktif mengembangkan pengetahuan keagamaan, kepribadian, dan pengendalian diri yang diperlukan untuk diri mereka sendiri dan masyarakat (Noor, 2. Pendidikan kewarganegaraan mengajarkan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PPK. menekankan pemahaman peserta didik tentang kewarganegaraan melalui pendidikan nilai dan moral. Tujuan dari pendidikan ini adalah untuk membentuk kepribadian peserta didik sebagai warga negara yang arif dan berbudi (Bakoting, 2. Dalam mata pelajaran PPKn seringkali membuat peserta didik merasa jenuh pada serangkaian pembelajaran. sekolah dasar, pembelajaran PPKn biasanya hanya menggunakan buku ajar dan diajarkan secara konvensional sehingga peserta didik merasa bosan (Pramitasari, 2. Hal itu lantaran materi yang membosankan karena sifatnya yang subtansial. Mengatasai kerisauan tersebut, sebuah pendekatan pembelajaran dihadirkan untuk menemukan titik temu dalam pembelajaran PPKn dengan kondisi peserta didik di kelas. Culturally Responsive Teaching (CRT) menjadi reformasi pendidikan yang berupaya untuk melibatkan dan memotivasi peserta didik dalam pembelajaran (Gay, 2. CRT hadir sebagai upaya agar setiap peserta didik dari latar belakang yang berbeda memiliki kesempatan belajar yang setara sehingga tidak adanya kesenjangan dalam CRT menawarkan strategi yang berpusat pada peserta didik dengan merangkul model komunitas belajar untuk pengorganisasian ruang kelas. Secara khusus. Culturally Responsive Teaching (CRT) mngintegrasikam latar belakang peserta didik ke dalam kurikulum sekolah serta membangun hubungan yang signifikan dengan budaya (Villages, 2. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pengajaran yang responsif secara budaya membantu memberdayakan peserta didik dengan menggunakan makna hubungan budaya untuk menyampaikan sikap pengetahuan, sikap akademis, dan sikap sosial (Junaedi Ifan, 2. Pada hal ini erat kaitannya dengan pengimplementasian budaya lokal dalam proses pembelajaran di kelas. Budaya lokal membantu peserta didik belajar nilai-nilai dan pengetahuan melalui lingkungan sosialnya yang meliputi kepercayaan, pengetahuan, hubungan, dan simbol bahasa lisan dan tulis (Mutiah, 2. Oleh karena itu peserta didik perlu didorong untuk melestarikan kebudayaan daerah di tengah arus globalisasi. Penelitian sebelumnya (Saodah et al. , 2. mengintegrasikan pembelajaran dengan menghubungkan peserta didik dengan budaya lokal sejak dini bertujuan menumbuhkan rasa kepememilikan terhadap budaya lokal yang dapat digunakan untuk melawan dampak buruk globalisasi. Sejalan dengan penelitian (Salma & Yuli, 2. mengharuskan guru mempunyai pengetahuan terhadap latar belakang peserta didik. Hal ini akan membantu peserta didik dalam tercapainya pembelajaran yang maksimal. Perilaku individu dipengaruhi oleh budaya dan norma setempat. CRT dalam penelitian sebelumnya (Istika et al. , 2. memberikan pembelajaran yang signifikan dan responsif, dan memungkinkan peserta didik untuk berinteraksi, berpartisipasi aktif, dan berkolaborasi dengan teman sebaya. Pengimplementasian model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah dalam pelajaran PPKn didasarkan pada pemahaman bahwa pembelajaran yang efektif tidak hanya tentang pemberian informasi, tetapi juga pembangunan kemampuan berpikir, kerja sama, dan penyelesaian masalah (Sari & Rosidah, 2. Tujuan utama penerapan PBL dalam PPKn adalah menyajikan pembelajaran dengan mengaitkan konsep teoritis salam situasi kehidupan nyata. Masalah-masalah kontekstual memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengaitkan konsep teoritis dengan situasi kehidupan yang mereka hadapi sehari-hari. Dengan melibatkan peserta didik dalam memecahkan masalah dan menganalisis isu-isu kewarganegaraan, diharapkan mereka dapat mengembangkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Culturally Responsive Teaching dalam Model Pembelajaran Problem Based Learning Mata Pelajaran PPKn Ae Masfufatul Lailiyah. Husni Wakhyudin. Choirul Huda. Sutarman DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. nilai-nilai Pancasila, demokrasi, dan kewarganegaraan. Tantangan utama yang dihadapi oleh banyak lembaga pendidikan saat ini adalah bagaimana mengatasi disparitas hasil belajar peserta didik. Meskipun berbagai upaya dan strategi telah dilakukan, masih ditemukan tingkat ketidaksetaraan dalam pencapaian akademis. Oleh sebab itu, dihadirkan sebuah pendekatan pembelajaran yang mampu menciptakan kesetaraan peluang belajar bagi semua peserta didik. Dengan mempertimbangkan situasi tersebut, penelitian ini menawarkan kontribusi keterbaruan dengan menggabungkan pendekatan CRT dengan model pembelajaran PBL pada pembelajaran PPKn. Pada penelitian ini, materi yang gunakan ketika guru menerapkan pendekatan CRT dalam model pembelajaran PBL yaitu mata pelajaran pada Bab AuKeberagaman Masyarakat IndonesiaAy. Perbedaan signifikan dari penelitian sebelumnya adalah belum adanyan penggabungan model pembelajaran PBL dalam pendektaan CRT untuk mengeksplor kemampuan peserta didik dalam pemecahan masalah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengimplementasian pendekatan CRT dalam model pembelajaran PBL pada mata Pelajaran PPKn di kelas 3 di SDN Siwalan. Penelitian ini juga berfokus unuk memperkaya prosess pembelajaran yang inovatif, inklusif, memotivasi, dan mendukung keberagaman gaya belajar peserta didik. METODE Penelitian ini menggunakan jenis kualitatif deskriptif. Objek studi dalam penelitian ini yaitu proses pembelajaran PPKn dengan pengimplementasian pendekatan CRT dalam model pemeblajaran PBL. Penelitian ini melibatkan guru dan peserta didik kelas 3A di SDN Siwalan Semarang. Proses penelitian ini berlangsung selama satu bulan yaitu pada bulan Maret Ae April 2024. Pada penelitian ini, peneliti mengumpulkan informasi melalui pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Pengamatan dilaksanakan pada proses pembelajaran yang meliputi kegiatan pembuka, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Wawancara dilakukan terhadap guru kelas dan peserta didik. Adapun informan yang turut membantu peneliti dalam menggali data yaitu kepala sekolah. Dokumentasi dilaksanakan pada rangkaian pembelajaran dan rencana pembelajaran milik guru kelas. Analisis deskriptif digunakan oleh peneliti untuk menjelaskan fakta dan fenomena yang ditemukan pada implementasi pendekatan CRT dalam model pembelajaran PBL mata pelajaran PPKn. Peneliti melakukan uji keabsahan data melalui trianggulasi sumber untuk meminimalkan bias. Triangulasi sumber dilakukan melalui wawancara dengan informan, sedangkan triangulasi metode melalui observasi, dokumentasi, wawancara bebas dan wawancara terstruktur. Guru kelas mengkonfirmasi data hasil pengamatan kemudian dikuatkan oleh artikel jurnal nasional terakreditasi dan artikel jurnal internasional yang terbit dalam rentang waktu antara tahun Penelitian ini menggali informasi terkait bagaimana penerapan CRT dalam model pembelajaran PBL pada mata pelajaran PPKn lalu mencatat data yang diperoleh berdasarkan perspektif peneliti dan menafsirkan temuan studi literatur. HASIL DAN PEMBAHASAN Data yang diperoleh melalui observasi pada proses pembelajaran di SDN Siwalan yang telah diimplementasikan dengan pendekatan Cuturally Responsive Teaching (CRT) dihasilkan bahwa pendekatan ini cocok diaplikasikan dalam pembelajaran PPKn di kelas. Penggunaan model pembelajaran (PBL) mendukung pendekatan CRT dalam pembelajaran. Model PBL didasarkan pada sejumlah masalah yang membutuhkan penyelidikan autentik dan nyata (Sari, 2. Materi pembelajaran yang disajikan dengan mengimplementasikan pendekatan CRT adalah materi tentang AoKeberagaman Masyarakat IndonesiaAo di kelas iA. Pendekatan CRT tersebut dapat diintegrasikan dengan baik selama proses pembelajaran melalui tiga tahapan yaitu kegiatan pembuka, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Dalam pelakasanaannya, guru menciptakan pembelajaran yang relevan dengan kutur budaya peserta didik untuk mendukung proses Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Culturally Responsive Teaching dalam Model Pembelajaran Problem Based Learning Mata Pelajaran PPKn Ae Masfufatul Lailiyah. Husni Wakhyudin. Choirul Huda. Sutarman DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. pembelajaran (Khalisah et al. , 2. Selain dapat melestarikan kebudayaan, hal tersebut juga memberikan dampak positif terhadap efektivitas pembelajaran di kelas dengan menyajikan pengalaman langsung bagi peserta didik karena materi yang didapatkan familiar dengan kehidupan sehari-hari. Sebelum pelaksanaan pembelajaran, guru terlebih dahulu membuat perencanaan dengan mengidentifikasi karakteristik peserta didik untuk mengetahui latar belakang budaya, gaya belajar, dan identitas sosial peserta didik. Budaya yang diintegrasikan dalam penelitian ini yaitu budaya Jawa Tengah karena semua peserta didik berasal dari Jawa Tengah. Adapun pengintegrasian budaya Jawa Tengah dalam proses pembelajaran berlangsung selama tiga tahapan dapat dilihat dalam tabel 1. Kegiatan Pembuka Menanyakan kabar menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa, menyanyikan lagu daerah Jawa Tengah berjudul AoCublak-Cublak SuwengAo Tabel 1. Tahapan Pengintegrasian CRT Kegiatan Inti Kegiatan Penutup Menggali dan Menyanyikan lagu daerah dari keragaman Jawa Tengah. Papua. Bali, budaya Jawa Tengah. Papua. Bali. Nangroe Aceh Darussalam. Nangroe Aceh Darussalam. Sumatera Barat Sumatera Barat Pada kegiatan pembuka, guru menyapa peserta didik dan menanyakan kabar dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Guru juga mengajak peserta didik untuk mengawali pembelajaran dengan menyanyikan lagu daerah Jawa Tengah berjudul AoCublak-Cublak SuwengAo. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik terbiasa dengan budi Bahasa, tata krama, dan budaya masyarakat Indonesia khusunya masyarakat Jawa Tengah (Ngalimun & Harun, 2. Pada kegiatan inti guru mengintegrasikan ragam budaya yang ada di Indonesia meliputi budaya Jawa Tengah. Papua. Bali. Nangroe Aceh Darusaalam, dan Sumatera Barat. Guru memberikan pengetahuan mengenai budaya dari kelima provinsi tersebut melalui papan ragam budaya, buku teks, media bergambar dan video pembelajaran. Proses pengintegarsian budaya pada mata pelajaran PPKn dibarengi dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Peserta didik diberikan kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan yang disajikan mengenai AuDita adalah seorang pemandu wisata di suatu Untuk itu Dita harus mengetahui ragam budaya di daerah tempat ia bekerja agar Dita bisa menceritakannya kepada pengunjung. Untuk memudahkan Dita dalam menggali informasi maka Dita akan membuat sebuah kliping ragam budayaAy. Guru menyajikan masalah yang benar-benar ada, nyata, dan penting bagi peserta didik. Masalah ini menjadi titik awal pembelajaran dan mendorong peserta didik untuk menggunakan pengetahuan mereka untuk membuat hipotesis, mencari informasi terkait, dan menemukan solusi masalah. Salah satu fungsi dari model pembelajaran PBL yaitu untuk mendukung peserta didik dalam memecahkan persoalan dan berpikir kritis. Di sisi lain, model ini juga berfokus pada meningkatkan keterampilan untuk aktif membangun pengetahuan secara mandiri (Zulfa et al. , 2. Guru mengajak peserta didik untuk bekerja secara kolaboratif dengan berkelompok dan guru berperan sebagai fasilitator. Peserta didik dibimbing oleh guru untuk menghasilkan sebuah karya berupa kliping ragam budaya daerah. Guru membagi peserta didik menjadi 5 kelompok. Adapun kelompok peserta didik dapat dilihat pada tabel 2. Kelompok Kelompok 1 Tabel 2. Kelompok peserta didik dan hasil pengerjaan kliping Pemetaan Daerah Deskripsi Jawa Tengah Memiliki rumah Joglo, pakaian daerah berupa Kebaya, tarian adat berupa Tari Gambyong, senjata Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Culturally Responsive Teaching dalam Model Pembelajaran Problem Based Learning Mata Pelajaran PPKn Ae Masfufatul Lailiyah. Husni Wakhyudin. Choirul Huda. Sutarman DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. Kelompok 2 Papua Kelompok 3 Bali Kelompok 4 Nangroe Aceh Darussalam Kelompok 5 Sumatera Barat adat berupa Keris dan penduduk Bahasa Jawa Memiliki rumah Honai, pakaian daerah berupa Koteka, tarian adat berupa Tari Selamat Datang, senjata adat berupa Pisau Belati Papua Bahasa Dera dan Kaure Memiliki rumah Angkul-Angkul, pakaian daerah berupa Payas Agung, tarian adat berupa Tari Pendet, senjata adat berupa Keris dan penduduk berkomunikasi menggunakan Bahasa Bali dan Sasak Memiliki rumah Krong Bade, pakaian daerah adat berupa Pidie, tarian adat berupa tari Saman, senjata adat berupa Rencong Aceh Bahasa Aceh Gayo Memiliki rumah Gadang, pakaian daerah berupa Bundi Kanduang, tarian adat berupa tari Piring, senjata adat berupa Kerambit dan menggunakan Bahasa Minang Tabel 2 ini berisi pembagian kelompok peserta didik beserta daerah yang harus dilengkapi dengan ragam budayanya. Kegiatan menyelesaikan masalah dalam bentukah kliping berkelompok untuk menemukan ragam budaya di daerah pada mata pelajaran PPKn dalam materi Keberagaman Masyarakat Indonesia membuat peserta didik harus mampu menyelesaikannya dengan menggali informasi secara tepat. Dengan begitu peserta didik menemukan pengetahuan dengan menyelesaikan persoalan secara investigasi dan berkolaborasi (Marwah Sholihah & Nurrohmatul Amaliyah, 2. Setiap peserta didik harus mengkonstruksi informasi yang diperolehnya secara mandiri. Guru menyiapkan sumber informasi mengenai ragam budaya kelima daerah tersebut kemudian peserta didik berlatih untuk memiliki kecakapan dalam memproses informasi melalui sumber bacaan yang kemudian disajikan dalam bentuk kliping. Menurut guru kelas, kegiatan ini berdampak dalam menambah semangat peserta didik untuk belajar, bekerja sama, dan menciptakan sikap positif terhadap proses belajar (Sutarman, 2. Kegiatan kolaborasi peserta didik dalam menyelesaikan soal berbasis Problem Based Learning (PBL) dengan pendekatan disajikan dalam bentuk Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Culturally Responsive Teaching dalam Model Pembelajaran Problem Based Learning Mata Pelajaran PPKn Ae Masfufatul Lailiyah. Husni Wakhyudin. Choirul Huda. Sutarman DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. Gambar 1. Kegiatan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan pengintegrasian CRT Tujuan dari penggunaan CRT dalam model pembelajaran PBL adalah supaya peserta didik memiliki kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan pemahaman konsep-konsep penting dari materi pembelajaran (Muhyidin, 2. Setelah proses mencari informasi dan mengkonstruksi dalam bentuk kliping, guru memandu peserta didik untuk melakukan gallery walk. Gallery walk juga dikenal sebagai galeri jalan, adalah upaya memberikan kesempatan kepada setiap anggota kelompok untuk melihat hasil pekerjaan orang lain dan mendorong peserta didik untuk menemukan informasi baru (Suseno & Winanto, 2. Guru juga mengajak peserta didik untuk bergantian mengamati hasil pekerjaan kelompok lainnya yang ditempel di papan ragam budaya di depan kelas seperti yang penulis sajikan pada gambar 2. Gambar 2. Kegiatan Gallery Walk untuk mengetahui ragam budaya kelompok lain Pada gambar 2 peserta didik mengamati hasil pengerjaan kliping dari kelompok lain yang berisikan ragam budaya daerah setempat. Dengan mengajak peserta didik untuk berdiri dan berjalan mengelilingi kelas maka peserta didik mampu berkolaborasi dalam kelompok kecil untuk mengatur dan berbagi ide, dan menanggapi pertanyaan yang bermakna, dan memecahkan masalah dalam suatu situasi ini (Saodah et al. Pembelajaran Keragaman Masyarakat Indonesia pada peserta didik dilaksanakan untuk memberikan konsep pemahaman bagi peserta didik agar dapat membangun kehidupan yang selaras dan mempererat hubungan kekeluargaan antar masyarakat sehingga perbedaan yang ada tidak menjadi masalah (Kabari et al. Pada kegiatan penutup, pengintegrasian CRT dilaksanakan dalam bentuk menyanyikan lagu-lagu daerah secara bergantian sesuai dengan kelompok masing-masing. Adapun lagu daerah yang dinyanyikan oleh tiap kelompok disajikan dalam bnetuk tabel 3. Kelompok Kelompok 1 Kelompok 2 Tabel 3. Peserta didik menyanyikan lagu daerah Deskripsi Gundul-Gundul Pacul Apuse Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Culturally Responsive Teaching dalam Model Pembelajaran Problem Based Learning Mata Pelajaran PPKn Ae Masfufatul Lailiyah. Husni Wakhyudin. Choirul Huda. Sutarman DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. Kelompok 3 Kelompok 4 Kelompok 5 Mejangeran Bungong Jeumpa Kampuang Nan Jauh Di Mato Pada tabel 3 guru mendorong peserta didik untuk menyanyikan lagu daerah sesuai dengan pembagian Kelompok 1 menyanyikan lagu yang berjudul AoGundul-Gundul PaculAo berasal dari Jawa Tengah, kelompok 2 menyanyikan lagu berjudul AoApuseAo berasal dari Papua, kelompok 3 menyanyikan yang berjudul AoMejangeranAo berasal dari Bali. Kelompok 4 menyanyikan lagu yang berjudul AoBungong JeumpaAo berasal dari Nangroe Aceh Darussalam, dan kelompok 5 menyanyikan lagu yang berjudul AoKampuang Nan Jauh Di MatoAo berasal dari Sumatera Barat. Dengan menyanyikan lagu daerah di setiap akhir pembelajaran, peserta didik mampu mengenal berbagai lagu daerah dan menanamkan rasa toleransi terhadap keberagaman yang ada di Indonesia (Sutarman, 2. Melalui pengintegrasian latar belakang peserta didik, pendekatan CRT memiliki relevansi konten akademis dengan kehidupan dan pengalaman belajar peserta didik. Pendekatan CRT juga memberikan pengakuan terhadap identitas peserta didik yang kemudian menjadikan peserta didik memiliki keterlibatan dalam rangkaian pembelajaran. Hal ini sejalan dengan (Salma & Yuli, 2. dalam penelitiannya yang menggunakan pendekatan CRT, guru bertugas sebagai fasilitator dan bertanggung jawab untuk menghilangkan ketimpangan di kelas karena perbedaan tradisi dan latar belakang dari setiap peserta didik. Guru juga bertugas sebagai mediator yang mengatasi perbedaan dan menerima berbagai respon budaya. Selain itu (RIMANG et al. , 2. dalam penelitiannya yang menggunakan pendekatan CRT dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dimana pendekatan CRT adalah metode pembelajaran yang menjawab tuntutan kurikulum pembelajaran abad 21. Melalui pendekatan ini, peserta didik dapat mencapai keberhasilan akademik, memperoleh kompetensi kultural, dan meningkatkan kesadaran kritis. Pendekatan CRT yang diimplementasikan dalam pembelajaran PPKn di kelas 3 SDN Siwalan menjadi salah satu langkah untuk membangun hubungan yang bermakna antar peserta didik. Pendekatan CRT dalam pembelajaran di kelas membantu menyiapkan peserta didik yang memiliki sikap toleransi dan mengakui keberagaman budaya dari berbagai kelompok masyarakat (Lusida et al. , 2. Pada penelitian ini, peneliti mendeskripsikan bagaimana implementasi pendekatan CRT dalam model pembelajaran PBL pada mata pelajaran PPKn di kelas 3 dengan alasan peneliti ingin menyajikan sudut pandang yang berbeda terhadap proses pembelajaran tersebut bukan hanya sebatas manfaat dalam penggunaan pendekatan CRT tetapi serangkaian proses dalam pembelajarannya. Penelitian ini mungkin terbatas pada perspektif peneliti. Untuk mengurangi kecenderungan bias, penelitian ini berfokus pada penafsiran peneliti terhadap pengamatan, dokumentasi proses pembelajaran, dan makna yang tersirat dari hasil wawancara. Proses triangulasi sumber dan metode juga digunakan untuk meminimalkan bias. Triangulasi sumber dilakukan melalui wawancara dengan informan, sedangkan triangulasi metode melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara bebas dan wawancara terstruktur. Dalam penelitian ini, meskipun mungkin terbatas pada perspektif peneliti memiliki implikasi signifikan untuk perkembangan keilmuan di bidang pendidikan, khususnya dalam pembelajaran PPKn di kelas 3 sekolah dasar dan penerapan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT). Dengan fokus pada penafsiran peneliti terhadap pengamatan, dokumentasi, dan hasil wawancara, serta penerapan triangulasi sumber dan metode. Penelitian ini menyajikan pemahaman mendalam tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat diintegrasikan secara efektif dengan pendekatan CRT. Temuan dari penelitian ini dapat memberikan pedoman berharga bagi guru dalam membuat materi ajar yang tidak hanya relevan secara kultural tetapi juga menghormati keragaman latar belakang peserta didik. Implementasi pendekatan CRT dalam konteks PPKn dapat memperkuat keterhubungan antara materi ajar dan pengalaman hidup peserta didik. Penelitian ini juga dapat membantu dalam mengidentifikasi strategi-strategi yang efektif untuk mengakomodasi perbedaan budaya dan latar belakang peserta didik, sehingga meningkatkan pemahaman dan aplikasi nilai-nilai Pancasila dalam konteks yang lebih personal dan kontekstual. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat berkontribusi pada Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Culturally Responsive Teaching dalam Model Pembelajaran Problem Based Learning Mata Pelajaran PPKn Ae Masfufatul Lailiyah. Husni Wakhyudin. Choirul Huda. Sutarman DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. pengembangan kurikulum yang lebih inklusif dan relevan, mendukung praktik pengajaran yang lebih responsif terhadap kebutuhan peserta didik, serta memperkaya diskursus tentang penerapan pendekatan CRT dalam pendidikan dasar di Indonesia. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan di SDN Siwalan serta paparan penelitian sebelumnya terkait dengan penggunan pendekatan Culturally Responsive teaching (CRT) dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran PPKn pada peserta didik ditemukan bahwa peserta didik mampu berpikir analitis, menemukan solusi dengan beragam alternatif pada suatu permasalahan melalui proses menggali informasi ragam budaya yang ada di Indonesia. Pendekatan CRT dengan model pembelajaran PBL mampu memberikan pengalaman belajar yang mendalam. Pendekatan CRT dalam pembelajaran di kelas membantu menyiapkan peserta didik yang memiliki toleransi dan mengakui adanya keberagaman budaya dari berbagai kelompok Masyarakat Indonesia. Pendekatan CRT menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan latar belakang peserta didik sehingga peserta didik merasa terhubung dengan apa yang mereka pelajari. Dengan begitu, pendekatan CRT dengan model pembelajaran PBL mampu memberikan warna baru terhadap poses belajar di kelas dalam mata pelajaran PPKn. Pendekatan CRT dengan model pembelajaran PBL telah diimplementasikan dengan baik di kelas iA SDN Siwalan pada seluruh rangkaian pembelajaran PPKn baik kegiatan pembuka, kegiatan inti dan kegiatan penutup. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih atas arahan, doAoa dan dukungan dari keluarga, dosen, serta rekan-rekan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Gelombang 1 Tahun 20224 Universitas PGRI Semarang. Terima kasih juga kepada kepala sekolah, guru kelas dan peserta didik kelas iA SDN Siwalan Semarang yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini sehingga terlaksana dengan lancar. DAFTAR PUSTAKA