Jurnal Pendidikan. Bahasa dan Budaya Volume 4 Nomor 1 Maret 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. DOI: https://doi. org/10. 55606/jpbb. Available online at: https://journal. id/index. php/jpbb Strategi Mengatasi Kesulitan Membaca Permulaan pada Anak Disleksia di Sekolah Dasar Dinda Meisyah Azzahra*1. Adrias2. Salmaini Safitri Syam3 Universitas Negeri Padang. Indonesia azzahradinda696@gmail. com1, adrias@fip. id2, salmainisyam@fip. Alamat: Jln. Prof. Dr. Hamka. Air Tawar. Padang. Sumatera Barat. Indonesia Korespondensi penulis: azzahradinda696@gmail. Abstract. Dyslexia is not a disorder that occurs due to a person's physical disability but rather refers to the brain that functions as a processor, dyslexia is a nerve disorder that is useful in language processing that makes sufferers have difficulty in identifying words. The purpose of this study is to identify and also describe the appropriate handling and strategies applied by educators in helping dyslexic students who have difficulty reading at the beginning with symptoms that usually occur, namely sufferers will be slow and hesitant in speaking, and difficulty in choosing the right words to express the meaning they want to convey, so the spelling method is used as a strategy to overcome it, which is a way of learning to read that starts from spelling letter by letter. The strategy of using this spelling method is indeed the most suitable to use, proven by the experience of several people who have handled dyslexic and also previous studies that present a comparison between before and after applying this method, and the results obtained show that there is a significant increase in student learning outcomes after applying this spelling method. Keywords: Dyslexia. Spelling Menthod. Strategy Abstrak. Disleksia bukanlah suatu gangguan yang terjadi karena ketidakmampuan fisik seseorang melainkan mengacu pada otak yang berfungsi sebagai pemprosesan dan pengolah, dengan kata lain disleksia merupakan suatu gangguan saraf yang berguna dalam pemprosesan bahasa yang membuat penderitanya kesulitan di dalam mengidetifikasi kata-kata, sehingga dapat mengakibatkan penderitanya kesulitan di dalam berbahasa salah satunya yaitu membaca. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi dan juga mendeskripsikan penanganan serta strategi yang cocok diterapkan oleh pendidik dalam membantu peserta didik disleksia yang kesulitan membaca dengan fokus utama dari tulisan ini adalah untuk memberikan strategi penanganan anak-anak yang kesulitan untuk membaca permulaan dengan gejala yang biasa terjadi yaitu penderitanya akan lambat dan ragu-ragu dalam berbicara, serta kesulitan dalam memilih kata yang cocok untuk mengemukakan maksud yang ingin disampaikanya, sehingga di gunakanlah metode eja sebagai strategi dalam mengatasinya, yang merupakan suatu cara belajar membaca yang dimulai dari mengeja huruf demi huruf. Strategi dengan menggunakan metode eja ini memang sudah yang paling cocok digunakan, terbukti dari pengalaman beberapa orang yang sudah pernah menangani anak disleksia dan juga penelitian-penelitian terdahulu yang memaparkan perbandingan antara sebelum dan juga setelah menerapkan metode ini, dan di dapatkan hasil bahwasannya terjadi peningkatan hasil belajar peserta didik yang cukup signifikan setelah menerapkan metode eja ini. Kata kunci: Disleksia. Metode Eja. Strategi LATAR BELAKANG Seorang peserta didik haruslah memiliki kemampuan dasar untuk memperoleh informasi atau pengetahuan yang diberikan yang berguna untuk mengembangkan kemungkinan yang ditawarkan oleh para pendidik, salah satunya kemampuan membaca yang merupakan suatu aspek penting dari komunikasi dan dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi dan pengetahuan dari teks yang dibaca. Kemampuan membaca diharapkan mestilah sudah harus dimulai sejak usia dini, bahkan sebelum masuk sekolah, karena pembelajaran yang efektif juga mencakup tentang keterlibatan aktif peserta didik dalam proses belajar, bukan sebatas transfer Received Februari 19, 2025. Revised Maret 09, 2025. Accepted Maret 25, 2025. Published Maret 27, 2025 Strategi Mengatasi Kesulitan Membaca Permulaan pada Anak Disleksia di Sekolah Dasar pengetahuan dari guru ke peserta didik saja, sehingga fokus peserta didik terhadap pembelajaran menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang produktif dan juga dinamis (Dhea et al. , 2. Motivasi atau minat membaca peserta didik dapat ditumbuhkan dengan menghadirkan materi yang relevan, menarik, dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari mereka, karena sejatinya setiap individu berbeda bahkan sekalipun orang kembar dia tetap akan berbeda, artinya standar motivasi belajar pada setiap individu juga akan berbeda, maka dari itu kita sebagai pendidik harus memikirkan bagaimana agar membaca ini menjadi sesuatu yang disenangi oleh peserta didik sehingga mereka bersemangat dan senang saat belajar (Rena et al. , 2. Disamping itu ada pula tahapan dari membaca seperti membaca permulaan yang merupakan tahap awal di dalam proses belajar membaca yang difokuskan pada pengenalan simbol-simbol seputar huruf-huruf yang menjadi pondasi agar anak dapat melanjutkan ketahap membaca selanjutnya. Secara umum, membaca berguna untuk mendapatkan informasi atau memahami arti dari suatu teks dengan cara mengaitkannya kepada pengetahuan sebelumnya, contohnya seperti konsep-konsep atau bahkan kosa kata penting yang terdapat di dalam teks, mencakup kemampuan memahami isi dari teks secara keseluruhan (S. Suwarni, 2. Disamping itu sebenarnya setiap anak memiliki tahap perkembangan yang berbeda, gangguan perkembangan dapat terjadi karena berbagai hal, salah satunya yaitu gangguan yang terjadi pada otak atau disebut dengan disleksia (Syahroni et al. , 2. Disleksia merupakan ketidakmampuan seseorang dalam membaca yang disebabkan oleh gangguan perkembangan otak saat menerima sebuah informasi, sehingga anak disleksia memiliki hambatan dalam membaca dan dalam proses menerima pembelajaran yang dapat disebabkan oleh faktor genetik dan bagian otak yang sulit mengalami perkembangan sehingga menyebabkan anak tersebut mengalami disleksia (Anita et al. , 2. Disleksia ini dapat diartikan sebagai suatu ketidakmampuan belajar yang dialami oleh seseorang dikarenakan tidak mampu dengan baik melakukan aktivitas membaca seperti orang pada umumnya yang disebabkan oleh terjadinya kesulitan atau gangguan pada otak pada saat mengolah suatu informasi yang diterimanya (Syahroni et al. , 2. Anak-anak yang mengalami disleksia sering kali kesulitan memahami hubungan fonologis antara suara dan huruf, yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengeja dan membaca (Yeni & Mochamad, 2. Jadi, meskipun anak memiliki kecerdasan normal atau diatas rata-rata, tetap saja mereka akan mengalami kesulitan dalam memproses informasi dari bahasa, karena inilah tak jarang pengidap disleksia ini dianggap tingkat konsentrasinya rendah atau bahkan tidak mampu berkonsentrasi sama sekali, bukab berarti anak yang menderita disleksia ini merupakan anak JPBB - VOLUME. NOMOR. MARET 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. yang bodoh atau bahkan mempunyai IQ dibawah rata-rata, bahkan tanpa kita sadari banyak dari anak-anak penderita disleksia ini memiliki bakat-bakat tertentu. Penderita disleksia ini biasanya akan kesulitan dalam menghubungkan huruf dengan bunyinya, mengingat urutan huruf, serta memahami kata dan kalimat dengan cepat, bahkan tak jarang juga terjadi kekacauan terhadap kata-kata yang hanya sedikit berbeda susunannya misalnya: bau, buah, batu, buta (Rifaldi, 2. Penderi disleksia ini juga tidak mampu di dalam menyusun atau membaca urutan kalimat baik secara terbalik atau bahkan dari kanan dan kiri, atas ke bawah, yang biasanya pembalikan tersebut terjadi terutama pada huruf-huruf yang hampir sama seperti d dengan b, p dengan q atau g, v dengan u, m dengan n atau w yang dapat berdampak cukup besar terhadap pembelajaran, maka dari itu harus diatasi secepat mungkin melalui penggunaan metode eja, yaitu membaca dengan cara merangkaikan huruf, di mulai dari mengeja satu-satu huruf demi huruf, dimana peserta didik mulai diperkenalkan beberapa lambang huruf atau abjad dari A-Z serta seperti apa bunyi huruf . tersebut dan di lanjutkan dengan mengenalkan suku kata yang akhirnya dapat dirangkaikan menjadi sebuah Pada metode eja ini, juga kita kenal dengan yang namanya fonologi, yaitu ilmu yang membahas sekaligus mendeskripsikan terkait bunyi-bunyi dari bahasa, proses terbentuk bahasa, dan perubahannya (Wulandari, 2. KAJIAN TEORITIS Berdasarkan hasil wawancara yang sudah dilakukan bersama 3 orang yang pernah menangani anak-anak disleksia ini tepatnya mahasiswi Pendidikan Khusus (PK), didapatkan hasil bahwasannya anak-anak yang mengalami disleksia ini seringkali merasa cemas secara berlebihan dan tidak percaya diri dikarenakan ketertinggalan mereka dibandingkan temanteman sebayanya. Sudah banyak sekali metode yang digunakan oleh masing-masing informan tersebut, mulai dari melakukan pendampingan secara khusus atau pendekatan individual (PPI), menggunakan metode multisensori yang melibatkan berbagai indera seperti belajar membaca sambil menggunakan kartu kata, mengikuti huruf dengan jari, atau menghubungkan bunyi dengan gambar, bahkan menggunakan media sebagai strategi di dalam menanganinya, tepatnya yaitu media gambar percakapan yang dibawahnya terdapat tulisan dan media bernama smart box sebagai strategi di dalam menanganinya (Primasari & Supena, 2. Pendidik harus mampu mendorong peserta didik untuk memanfaatkan hak dan potensi mereka dalam mengembangkan diri karena pendidik tetap berperan penting dalam menciptakan lingkungan pembelajaran sepanjang hayat (Hasibuan, 2. JPBB - VOLUME. NOMOR. MARET 2025 Strategi Mengatasi Kesulitan Membaca Permulaan pada Anak Disleksia di Sekolah Dasar Berdasarkan mengidentifikasi dan mendeskripsikan penanganan serta strategi yang dapat diterapkan oleh pendidik dalam membantu peserta didik disleksia dengan fokus utama dari tulisan ini adalah untuk memberikan solusi penanganan anak-anak yang kesulitan untuk membaca permulaan pada peserta didik kelas I/II SD dengan memahami berbagai pendekatan dan teknik yang efektif, dan diharapkan para pendidik atau orang tua dapat memberikan dukungan yang optimal bagi peserta didik disleksia, sehingga mereka dapat mencapai potensi akademis mereka secara Melalui pemahaman mengenai disleksia dan strategi penanganannya, diharapkan penelitian ini dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat bagi para pendidik, orang tua, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam pendidikan anak-anak yang mengalami kesulitan membaca ini. Dengan demikian, kontribusi penelitian ini tidak hanya berfungsi sebagai panduan praktis, tetapi juga sebagai dorongan untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan suportif bagi semua peserta didik tanpa mereka merasa tidak percaya diri atau bahkan berbeda dengan teman-teman sebayanya (Anita et al. , 2. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini yang merupakan penelitian kualititif deskriptif yang merujuk pada jenis penelitian yang menghasilkan metode analisis tanpa melibatkan prosedur analisis statistik atau pendekatan kuantitatif lainnya yang di dalam pengumpulan datanya melibatkan penggunaan teknik khusus untuk memperoleh informasi berupa deskripsi atau data nonnumerik, tepatnya penulis melakukan pengumpulan data melalui wawancara mendalam bersama beberapa orang yang sudah pernah menangani anak-anak disleksia (Elie et al. , 2. Disamping melakukan wawancara mendalam dengan beberapa orang yang sudah berpengalaman di dalam menangani anak-anak penderita disleksia, penelitian ini juga dilakukan dengan berdasarkan pada penelitian-penelitian yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu yang sudah pernah mengkaji terkait permasalahan anak-anak yang berkesulitan membaca yang disebabkan oleh disleksia tersebut dengan teknik analisis data yang diterapkan mencakup penyajian data dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang sudah dilakukan bersama 3 orang yang pernah menangani anak-anak disleksia ini tepatnya mahasiswi Pendidikan Khusus (PK), didapatkan hasil bahwasannya ada beberapa strategi yang dipercaya ampuh diterapkan di dalam menangani anak-anak yang mengalami disleksia ini, yang tentunya juga sudah JPBB - VOLUME. NOMOR. MARET 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. digunakan oleh masing-masing informan berdasarkan atau disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan keparahan dari anak yang ditanganinya. Tabel 1. Hasil Wawancara Bersama Narasumber Aspek yang diamati Hasil Wawancara Perilaku peserta didik 1. Narasumber berinisial RA selama diajarkan Dari hasil wawancara yang sudah dilakukan selama diajarkan. DRH merasa kesulitan di dalam mengenali huruf, membedakan bentuk huruf yang mirip seperti n dengan m, v dengan u, dan lain sebagainya, kesulitan mengingat urutan angka, hari, dan bulan, kesulitan di dalam memahami dan mengikuti instruksi tertulis dan bahkan tidak bersemangat, sehingga mengalami ketertinggalan di dalam pembelajaran dan menunjukkan perilaku menghindar karena tidak percaya Narasumber berinisial AM MV jarang atau bahkan hampir tidak pernah diajarkan dirumahnya, jadi MV hanya belajar di sekolah saja, akan tetapi dikarenakan disekolah terdapat banyak anak seusianya yang bisa membaca maka MV harus mengikuti pembelajaran sesuai peraturan kelas, dan setelah diamati ternyata MV masih bingung terhadap huruf abjad, bahkan ada beberapa huruf yang juga masih keliru baginya. Narasumber berinisial AA Disaat diminta untuk membaca 1 paragraf. MI memakan waktu 11 menit untuk membacanya, padahal 1 paragraf tersebut hanya terdiri dari 4 kalimat, disamping itu juga wali kelasnya mengatakan bahwasannya MI tersebut malas di dalam membaca dan juga tidak memperhatikan guru disaat mengajar. MI juga sangat lambat di dalam membaca dan bahkan masih membaca kata dengan cara mengeja, sehingga membuatnya tidak tertarik untuk membaca sehingga harus dibujuk terlebih dahulu, bahkan tak jarang juga diberikan reward agar MI semangat untuk belajar dan mau melakukan interfensi lebih lanjut Strategi mengatasi Narasumber berinisial RA Menerapkan strategi PPI (Pendekatan Individua. dan dibantu juga dengan penggunaan media pembelajaran, serta beberapa kali juga diselingi dengan menggunakan metode multisensori, seperti belajar membaca sambil menggunakan kartu kata, mengikuti huruf dengan jari, atau menghubungkan bunyi dengan gambar, sehingga DRH tersebut mengalami peningkatan yang cukup signifikan terutama di dalam membaca, ia bisa lebih percaya diri, lebih mudah mengenali huruf, dan lebih lancar membaca kata-kata sederhana, meskipun prosesnya cukup lama dan bertahap. Narasumber berinisial AM Melakukan identifikasi dan asesmen, dan setelah itu memutuskan untuk menggunakan media yang disebut dengan JPBB - VOLUME. NOMOR. MARET 2025 Strategi Mengatasi Kesulitan Membaca Permulaan pada Anak Disleksia di Sekolah Dasar AuSmart BoxAy untuk membantu di dalam pengajaran, dan setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya MV menunjukkan tanda-tanda peningkatan yang cukup signifikan dari Narasumber berinisial AA Menggunakan media berupa gambar percakapan yang dibawahnya terdapat kata-kata yang menjelaskan gambar tersebut dengan tujuan diharapkan anak tertarik membacanya untuk mendapatkan informasi atau mengetahui apa yang sedang dibahas pada gambar tersebut. Lalu, setelah dilakukan interfensi sebanyak 11 kali terlihat tanda-tanda MI mengalami peningkatan, yang awalnya memakan waktu 11 menit untuk membaca 1 paragraf menjadi 2 menit saja Tantangan Narasumber berinisial RA kesulitan yang dialami Kesulitan yang umumnya dialami yaitu terkait perilaku dari oleh narasumber DRH, seperti kesulitan di dalam membujuk DRH agar mau belajar serta di dalam mengajarkannya juga membutuhkan kesabaran yang tinggi dikarenakan DRH seringkali bersikap acuh tak acuh dan seperti kurang menghargai. Narasumber berinisial AM Tantangan yang dialami di dalam menangani MV lebih ke media sebagai alat bantu untuk mengajarkan MV masih sangat kurang memadai, dan juga kekurangan waktu. Narasumber berinisial AA Tantangan yang dihadapi yaitu dari segi fokus MI, dimana konsentrasinya mudah sekali teralihkan, seperti jika ada teman yang berisik, ada hal yang terjadi di luar kelas yang membuat suasana kelas menjadi tidak tenang, dan MI juga seringkali tidak mau memperhatikan pendidik ketika menerangkan Berdasarkan tabel tersebut, kesulitan atau tantangan yang umumnya dihadapi oleh narasumber yaitu kurangnya motivasi belajar dari peserta didik yang pada akhirnya membuat mereka menjadi tertinggal dari teman-teman seusianya, sehingga membuatnya menjadi tidak percaya diri. Nah, disini penulis tertarik untuk menggunakan strategi berupa penerapan metode eja karena kita dapat berkomunikasi secara intens dan lebih dekat dengan peserta didik. Metode ini biasanya paling banyak digunakan di dalam membantu pembelajaran seputar membaca. Strategi ini terbukti sangat cocok di dalam mengatasi anak-anak yang mengalami disleksia, melalui pembimbingan yang intens dan juga perhatian yang luarbiasa, dilihat dari perbandingan antara sebelum menerapkan dan setelah penerapan metode eja ini dalam 3 tahap yaitu tahap mengenal huruf dimulai dari pengenalan huruf seperti M dan juga N, tahap membaca huruf dan membedakan huruf, dan tahap membaca sebuah kalimat yang pada akhirnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan saat sebelum JPBB - VOLUME. NOMOR. MARET 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. penggunaan metode eja ini, dimana peserta didik juga sangat antusias dan semangat sekali untuk belajar (Hariyanto, 2. Langkah langkah pembelajaran metode eja meliputi: . peserta didik diperkenalkan lambang-lambang seperti: /A/, /B/, /C/, /D/, /E/, /F/, dan seterusnya sebagai . , . , . , . , . , . , dan begitu seterusnya. setelah melakukan pengenalan lambang-lambang huruf, peserta didik diajak untuk merangkai beberapa huruf yang sudah dikenalnya sebagai tahap berkenalan dengan suku kata. misalkan, /b/, /a/, /d/, /u/ menjadi b-a ba . ibaca atau dieja /bea/ . ) d-u . ibaca atau dieja /de-u/ . ba-du dilafalkan /badu/. lalu dilanjutkan dengan pengenalan kalimat-kalimat sedehana. Contoh perangkaian huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat. Anak yang menderita disleksia bukanlah anak yang bodoh atau bahkan mempunyai IQ dibawah rata-rata IQ manusia pada umumnya sehingga mengakibatkan mereka menjadi malas belajar seperti yang selama ini orang awam pahami dan katakan. Disleksia ini dapat diartikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan karena tidak mampu dengan baik melakukan aktivitas membaca seperti orang pada umumnya, bukan karena keterbatasan atau terjadi gangguan pada indra penglihatan, indra pendengaran, intelegensia, maupun sejenisnya, tapi lebih tepatnya terjadi kesulitan atau gangguan pada otak pada saat mengolah suatu informasi yang diterimanya (Syahroni et al. , 2. Nah, karena inilah tak jarang pengidap disleksia ini dianggap tingkat konsentrasinya rendah atau bahkan tidak mampu berkonsentrasi sama sekali. Biasanya penderita disleksia ini kerap kali terbalik membaca urutan kalimat, pembalikan tersebut terjadi terutama pada huruf-huruf yang hampir sama seperti d dengan b, p dengan q atau g, m dengan n atau w. Masalah tersebut dapat berdampak cukup besar terhadap pembelajaran kata dan kalimat, maka dari itu harus dicarikan jalan keluarnya secepat mungkin melalui penggunaan metode eja dan juga diselingi dengan penggunaan Teknologi Informasi (TI) mengikuti zaman, tepatnya menggunakan canva interaktif dan juga tayangan video. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan oleh orang-orang yang sudah berpengalaman sebelumnya, tergambar bahwa penggunaan metode eja di dalam membaca permulaan dipercaya sangat membantu di dalam pengajaran anak-anak yang mengalami kesulitan di dalam membaca permulaan . , terutama bagi seorang pendidik atau guru. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Rifaldi Setiawan . yang menyatakan bahwasannya peserta didik disleksia yang menjadi subjek pada penelitian ini berada pada rata-rata kategori tidak mampu sebelum diterapkannya metode eja ini, namun ternyata tidak disangka-sangka kemampuan membaca permulaan peserta didik tersebut malah mengalami peningkatan yang JPBB - VOLUME. NOMOR. MARET 2025 Strategi Mengatasi Kesulitan Membaca Permulaan pada Anak Disleksia di Sekolah Dasar cukup signifikan setelah diterapkannya metedo eja ini, hasilnya menunjukkan peserta didik berada pada kategori sangat mampu, dengan target penelitiannya yaitu peserta didik yang berada di kelas rendah, yaitunya kelas I dan II SD yang mengalami disleksia. Disamping itu, ada juga jurnal peneliti Anita et al. yang juga menggunakan metode eja namun melalui penggunaan Wordwall dan juga tayangan video yang menarik dan berhasil meningkatkan peserta didik Wordwall merupakan suatu aplikasi permainan kuis yang sebenarnya menyediakan berbagai jenis permainan yang tentunya sangat bermanfaat di dalam meningkatkan keterampilan ejaan dan mengenali pola kata untuk peserta didik disleksia. Melalui fitur seperti kuis mencocokkan kata, teka-teki silang, dan permainan mencari kata yang membuat proses pembelajaran terasa lebih menyenangkan dan juga variatif, sehingga peserta didik akan merasa lebih antusias dan termotivasi lagi. Dimana Wordwall sebagai media tambahan digunakan sebanyak dua kali seminggu selama 30 menit. Berdasarkan hasil pengamatan terlihat bahwa peserta didik disleksia memberikan respons yang sangat baik terhadap permainan ini karena merasa mereka dapat belajar sambil bermain. Dimana peserta didik tidak hanya akan terbantu di dalam mengenali kata dan ejaan saja, melainkan juga merasa lebih termotivasi untuk belajar secara mandiri. Misalnya dalam permainan mencocokkan kata menggunakan sebuah gambar yang membuat peserta didik lebih mudah mengingat arti dari kata-kata dasar. Selain Wordwall, ada juga penggunaan video interaktif yang berfungsi sebagai tambahan latihan bagi peserta didik disleksia dalam mengenali dan mengingat bunyi yang tertuang dalam video. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, peserta didik disleksia yang sering melihat tayangan video interaktif ini menunjukkan peningkatan dalam kesadaran fonologis, yaitu kemampuan untuk mengenali pembelajaran yang diajarkan untuk perkembangan kemampuan belajar peserta didik. Selanjutnya ada penelitian yang dilakukan oleh Hariyanto . terkait peningkatan kemampuan membaca pada peserta didik disleksia etelah penerapan metode eja melalui 3 proses dimulai dari pengenalan huruf seperti M dan N, lalu membaca huruf dan membedakan huruf, dan terakhir membaca kalimat yang pada akhirnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan saat sebelum penggunaan metode eja ini, dimana siswa juga sangat antusias dan semangat sekali untuk belajar. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan bersama beberapa orang yang sudah berpengalaman di dalam menangani anak-anak disleksia dan juga berdasarkan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, maka karena itulah penulis sangat tertarik sekali untuk mengangkatkan permasalahan terkait strategi mengatasi kesulitan membaca permulaan pada anak disleksia JPBB - VOLUME. NOMOR. MARET 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. dengan menggunakan metode eja ini, dengan rencana awal dimulai dari menyebutkan terlebih dahulu setiap huruf yang akan dipelajari, lalu meminta peserta didik untuk mengikutinya. Setelah itu, pendidik atau guru menyebutkan atau membunyikan masing-masing huruf agar dapat mempermudah peserta didik mengenali huruf tersebut. Lalu lanjut kepada metode pesan neurologis dengan cara pendidik atau guru membacakannya secara bersamaan bersama peserta didik, kemudian secara perlahan pendidik atau guru menghilangkan suaranya, sehingga hanya suara peserta didik saja yang terdengar. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Strategi mengatasi kesulitan menggunakan metode eja yang digunakan ini terbukti sebagai strategi yang sangat cocok dan juga efektif di dalam membantu peserta didik yang mengalami kendala di dalam belajar, terkhususnya di dalam membaca permulaan yang kita kenal dengan AuDisleksiaAy. Dimana metode ini menuntut kita untuk dapat terlibat secara langsung di dalam membimbing peserta didik dengan penuh perhatian dan kesabaran, sehingga kita dapat menjalin hubungan baik dan tentunya juga dapat menciptakan suasana belajar yang tentunya nyaman bagi peserta didik. Bahkan juga sudah banyak penelitian sebelumnya yang membahas perihal keefektifan dari penggunaan metode ini, dibuktikan dengan meningkatnya kemampuan peserta didik setelah menggunakan atau menerapkan metode eja ini dibandingkan sebelum menggunakan metode ini. Peserta didik yang awalnya tidak mampu membedakan beberapa hurus yang terlihat sama seperti m dan n, b dan p, dan masih banyak lagi, akhirnya bisa perlahan membedakan dan bahkan bisa mengucapkannya dengan sangat baik setelah diterapkannya metode eja ini, walaupun membutuhkan sedikit kesabaran dan rentang waktu yang berbeda-beda pada setiap penderitanya, namun semuanya terbayar melalui hasil yang didapatkan setelahnya. Bahkan juga ada penelitian sebelumnya yang juga menggunakan aplikasi tambahan seperti Word wall sebagai perantara dari metode eja ini dengan tujuan agar pembelajarannya tidak membosankan melalui variasi-variasi yang dilakukan. Saran