Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Damayanti et al, 2025 ANALISIS RISIKO USAHATANI KUBIS DI KECAMATAN SELUPU REJANG KABUPATEN REJANG LEBONG Destin Damayanti. Ellys Yuliarti. Bambang Sumantri. Alfayanti. Fakultas Pertanian. Program Studi Agribisnis. Universitas Bengkulu *corresponding author : destindamayanti6@gmail. * Received for review March 24, 2025 Accepted for publication April 10, 2025 Abstract The purpose of this study was to analyze the level of production risk, price risk, and cost risk in cabbage farming in Selupu Rejang District. Rejang Regency. Bengkulu Province. This research used descriptive quantitative method with survey approach. The research sample was 92 cabbage farmers selected by purposive sampling from the four largest cabbage producing villages. Data analysis was done by calculating the mean, variance, standard deviation, coefficient of variation, and lower limit. Based on the results of the study, it is known that the level of risk of production, price, and cost is low because the CV value <0. 5 with a production CV value of 0. 0013, a price CV value of 0. 0018 and a cost CV value of 0. In addition, the value of the lower limit (L) is more than 0, which means that farmers have the opportunity to experience profits with a production L value of 570,228, a price L value of 320,865, and a cost L value of 936,009,909. Keywords: Cabbag. Farming. Risk Abstrak Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis tingkat risiko produksi, risiko harga, dan risiko biaya pada usaha tani kubis di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Provinsi Bengkulu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei. Sampel penelitian sebanyak 92 petani kubis yang dipilih secara purposive sampling dari empat desa penghasil kubis terbesar. Analisis data dilakukan dengan menghitung rata-rata, varians, simpangan baku, koefisien variasi, dan batas bawah. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tingkat risiko produksi, harga, dan biaya tergolong rendah karena nilai CV < 0,5 dengan nilai CV produksi sebesar 0,0013, nilai CV harga sebesar 0,0018 dan nilai CV biaya sebesar 0,000033. Selain itu, nilai batas bawah (L) lebih dari 0 yang berarti petani berpeluang mengalami keuntungan dengan nilai L produksi sebesar 570. 228, nilai L harga sebesar 320. 865, dan nilai L biaya sebesar 936. Kata Kunci : Kubis. Risiko. Usahatani Copyright A 2025 The Author. This is an open access article under the CC BY-SA license PENDAHULUAN Setiap tahunnya luas areal panen kubis di Indonesia terus meningkat seiring dengan peluang pemasarannya yang semakin menjanjikan (Ayumardensi & Ningrum, 2. (Arsanti et al. , 2. Provinsi Bengkulu luas panen dan produksi pada tahun 2019-2023 menunjukkan bahwa kubis mengalami kenaikan dan penurunan secara bertahap, dapat dilihat pada Tabel 1 berikut : Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Damayanti et al, 2025 Tabel 1. Sebaran luas panen, produksi, dan produktivitas kubis di Provinsi Bengkulu, tahun 20192023 Tahun Luas Panen (H. Produksi (To. Produktivitas (Ton/H. 34,71 35,76 35,46 35,98 35,62 Rata-Rata 35,51 Sumber: Kementrian Pertanian. Direktorat Jendral Hortikultura . Tabel 1 dapat kita lihat bahwa luas panen dan produksi kubis di Provinsi Bengkulu mengalami fluktuasi secara bertahap selama tahun 2019-2023. Faktor penyebabnya yaitu peralihan fungsi lahan dari tanaman kubis ketanaman hortikultura lainnya sehingga produksi dari tanaman kubis ikut terkena imbas dari hal tersebut (BPS, 2. Berdasarkan data BPS Kabupaten Rejang Lebong pada tahun 2024 komoditi tanaman pada sektor hortikultura berupa kubis merupakan salah satu produk unggulan yang dominan. Pada tahun 2022 produksi kubis sebesar 19,224 ton dengan luas lahan 529 ha dan pada tahun 2023 sebesar 16,389 ton dengan luas lahan 451 ha (BPS, 2. Setiap sektor pertanian memiliki risiko produksi yang tidak terpisahkan dari proses produksinya. Penurunan produksi mengindikasikan adanya risiko dalam usahatani kubis, hal ini terjadi bukan hanya karena lahan yang relatif kecil, tetapi juga ka r e n a adanya potensi serangan hama dan Selain itu, jumlah input yang digunakan oleh petani tidak hanya mempengaruhi hasil produksi pertanian, tetapi juga berdampak pada berkelanjutannya hasil produksi tersebut, yang dalam hal ini adalah risiko produksi (Mutisari & Meitasari, 2. Fahriyah et al. , 2. Salah satu tantangan utama yang dihadapi petani adalah berkurangnya luas lahan pertanian akibat perubahan fungsi lahan dan fregmentasi lahan pertanian. Kondisi ini menuntut petani untuk mencari strategi optimal dalam meningkatkan produktivitas dengan memanfaatkan lahan yang Selain itu, faktor eksternal seperti curah hujan tinggi akibat kondisi geografis didataran tinggi juga menjadi tantangan dalam budidaya kubis, terutama terkait dengan risiko pembusukan tanaman dan risiko serangan hama/penyakit yang lebih tinggi seperti ulat grayak dan kutu daun sulit untuk dikendalikan. Jika pengendalian tidak optimal maka dapat menyebabkan gagal panen atau menurunkan kualitas hasil yang didabatkan sehingga berimbas pada harga jual dipasar. Selain aspek produksi, faktor pemilihan benih, proses penanaman, pemberian pupuk, dan penyemprotan pestisida juga mempengaruhi keberhasilan usahatani kubis. Ketidakpastian dalam harga jual hasil panen dan fluktuasi biaya produksi seperti harga pupuk dan pestisida yang tidak stabil turut menambah kompleksitas risiko yang dihadapi petani oleh petani. Kenaikan harga input menyebabbkan peningkatan biaya produksi sementara harga jual kubis yang fluktuatif tidak selalu sebanding dengan biaya yang dikeluarkan sehingga dapat mengurangi keuntungan petani (Prasetyowati et al. , 2. Ketidakmampuan petani kubis dalam memperkirakan kebutuhan faktor produksi dalam kegitan usahataninya juga menyebabkan penurunan produktivitas kubis yang pada akhirnya mempengaruhi pendapatan usahatani kubis. Pendapatan petani kubis belum bisa dianggap stabil karena sering kali terjadi penurunan pendapatan yang secara otomatis dapat memberikan dampak pada tingkat kesejahteraan petani yang ikut menurun (Ratu et al. , 2020. Darmansyah et al. , 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Yahya . Permasalahan yang mendasari perlunya dilakukan Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Damayanti et al, 2025 penelitian ini adalah adanya ketidakpastian yang tinggi dalam kegiatan usahatani tersebut. Ketidakpastian ini berasal dari berbagai faktor seperti perubahan cuaca yang tidak menentu, serangan hama dan penyakit,serta fluktuasi harga jual kubis di pasar. Kondisi ini menyebabkan hasil produksi dan pendapatan petai menjadi tidak stabil, bahkan berpotensi merugi. Di sisi lain, sebagian besar petani di wilayah tersebut masih menjalankan usahatani secara tradisional dan belum memiliki pemahaman serta strategi yang memadai dalam mengelola risiko yang dihadapi. Hal ini diperparah oleh minimnya data dan informasi kuantitatif mengenai seberapa besar risiko yang sebenarnya dialami dalam berusahatani kubis sehingga menyulitkan petani dan pihak terkait dalam menyusun langkah mitigasi yang tepat. Banyaknya permasalahan tersebut yang mendasari perlunya untuk mengetahui seberapa penting usahatani kubis dan risikonya dalam menambah perekonomian bagi petani sehingga kesejahteraan petani dapat meningkat dan memberikan nilai tambah bagi kemajuan sektor pertanian. Tinggi atau rendahnya risiko sangat berpengaruh terhadap keputusan yang dipilih oleh petani untuk menghasilkan lebih banyak komoditas yang akan dibudidayakan. Oleh karena itu dapat diangkat topik AuAnalisis Risiko Usahatani Kubis di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang LebongAy. METODE PENELITIAN Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu merupakan Kecamatan yang dipilih dalam penelitian ini karena mayoritas peduduknya bermata pencaharian sebagai petani holtikultura. Penelitian dilakukan pada tahun 2024. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling, yaitu teknik pemilihan sampel yang dilakukan berdasarkan penilaian pribadi peneliti saat memilih anggota populasi untuk diikut sertakan dalam penelitian dan pengambilan sampel pada penelitian ini mampu mewakili populasi petani kubis sesuai dengan kriteria. Maka dari itu dalam kegiatan tersebut menggunakan metode purposive sampling (Sugiyono, 2. (Romland et al. , 2. Adapun kriteria dalam pemilihan responden ini yaitu petani yang masih aktif menanam dan memproduksi kubis, bertempat tingga di Desa Karang Jaya. Desa Sumber Urip. Desa Sumber Bening, ataupun Desa Sambirejo, termasuk petani kubis monokultur dan memiliki pengalaman bertani kubis lebih 3 tahun. Penelitian menggunakan data primer dan sekunder. Data primer dalam bentuk wawancara dan diambil langsung dari responden utama yang dapat dibuktikan keakuratannya. Sementara itu, data sekunder yaitu data pendukung yang telah ditulis dan didokumentasikan. Data sekunder berasal dari laporan, dokumen, internet, buku atau literature. Data sekunder dapat berupa: datadata pendukung yang diterbitkan lembaga resmi (BPS. Kantor Desa. Kantor-kantor pemerintahan, perusahaan, dan lain sebagainy. (Nurlan, 2. Analisis data penelitian yaitu metode deskriptif Metode ini digunakan untuk menggambarkan berbagai risiko yang akan dihadapi dalam berusahatani kubis berdasarkan data hasil wawancara dengan responden mengenai produksi, biaya biaya, dan harga (Putri & Suwandari, 2. Menurut Darmawati et al. , . Apabila populasi kurang dari 100 orang, maka seluruh anggota jumlah populasi digunakan sebagai sampel. Namun, apabila populasi melebihi 100 orang, maka sampel dapat dipilih sebanyak 10-15% atau 20-25% dari jumlah keseluruhan populasi. Berdasarkan hasil jumlah populasi diatas dapat dilihat bahwasannya jumlah populasi dari petani kubis itu sebanyak 916, hal ini menunjukkan bahwa jumlah populasinya lebih dari 100, maka dari itu penulis mengambil 10% dari jumlah populasi. Dengan jumlah populasi yang akan dijadikan sampel Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Damayanti et al, 2025 adalah sebanyak 92 orang. Kemudian dari jumlah sampel sebanyak 92 orang petani ini maka kita dapat menentukan alokasi sampel perdesa dengan menggunakan rumusyaitu sebagai berikut: ycuyca = ycAyca y ycuycayca ycAycayca Keterangan : na = Total Sampel perdesa nab = Total Sampel total Na = Total Petani perdesa Nab = Total Popolasi petani Perhitungan penentuan sampel total petani yang dilakukan diatas, maka diperoleh responden dalam kegiatan ini yaitu di Desa Karang Jaya sebanyak 25 petani, di Desa Sambirejo sebanyak 21 petani, di Desa Sumber Urip sebanyak 24 petani dan di Desa Sumber Bening sebanyak 22 petani. Total biaya yang perlu dikeluarkan oleh petani dalam melakukan kegiatan usahatani ini yaitu dengan menjumlahkan total biaya variabel dengan total biaya tetap, dalam hal ini rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: TC= TVC TFC Keterangan : TC = Total Biaya TVC = Total Biaya Variabel TFC = Total Biaya Tetap Rumus yang dapat digunakan untuk menghitung risiko dari usahatani kubis dalam tiga kali musim tanam yaitu sebagai berikut : Hasil yang diharapkan (E) Hasil yang diharapkan dilakukan untuk menghitung rata-rata produksi, harga dan biaya usahatani dengan menggunakan rumus sebagai berikut : ya= Ocycuycn=1 yaycn ycu Keterangan : = Nilai rata-rata yang diharapan atas (Produksi Kg/MT. Harga (Rp/K. Biaya (Rp/MT) pada = Jumlah (Produksi Kg/MT. Harga (Rp/K. Biaya (Rp/MT) = Produksi (Kg/MT. Harga (Rp/K. Biaya (Rp/MT) = jumlah musim tanam . eriode pengamata. Tingkat Risiko (V) Tingkat risiko usahatani dapat diukur dengan menggunakan ukuran ragam . Nilai ragam . menunjukkan besarnya penyimpangan dalam suatu usahatani. Jika nilai variance semakin tinggi maka semakin besar penyimpangannya sehingga resiko dalam menjalankan Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Damayanti et al, 2025 usahatani juga meningkat. Sebaliknya, semakin rendah nilai variance maka semakin kecil pula penyimpangannya sehingga resiko yang dihadapi dalam kegiatan usahatani pun ikut berkurang (Jasmine,2014. (Ghozali & Wibowo, 2. Berikut adalah rumus dari tingkat risiko : ycO2 = Ocycuycn=1. aycn Oe y. ycuOe1 Keterangan : VA = Ragam (Varianc. V = Simpangan Baku (Rp dan K. E = Nilai rata-rata yang diharapan atas (Produksi Kg/MT. Harga (Rp/K. Biaya (Rp/MT) pada Ei = Jumlah (Produksi Kg/MT). Harga (Rp/K. Biaya (Rp/MT) n = jumlah musim tanam . eriode pengamata. Koefisien Variasi (CV) Koefisien risiko dalam usahatani merupakan perbandingan antara risiko yang dihadapi oleh petani dengan keuntungan yang diperoleh sebagai hasil dari jumlah modal yang diinvestasikan. Ketika koefisien variasi meningkat maka risiko yang akan dihadapi petani juga akan lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang mungkin didapatkan (Asaad et al. , 2. (Potolau et al. Berikut ini rumus dari koefisien variasi: yaycO = ycO ya Keterangan : = Koefisien variasi produk, harga, biaya pada usahatani. = Simpangan baku (Produksi Kg/MT. Harga (Rp/K. Biaya (Rp/MT) pada usahatani. = Nilai rata-rata yang diharapkan atas (Produksi Kg/MT. Harga (Rp/K. Biaya (Rp/MT) pada Berikut adalah kriteria pengukuran nilai koefisien variasi (CV): A Jika CV > 1 menandakan bahwa resiko dalam bertani semakin tinggi. A Jika 0,5 < CV O 1 menandakan bahwa resiko dalam bertani sedang. A Jika CV < 0,5 menandakan bahwa resiko dalam bertani semakin rendah. Batas Bawah (L) Batas bawah merupakan nilai hasil yang paling rendah yang bisa jadi akan diterima oleh petani (Agribisnis, 2. berikut ini adalah rumus dari batas bawah : L=E-2V Keterangan : = Batas bawah produksi, harga dan biaya. = Nilai rata-rata yang diharapkan atas (Produksi Kg/MT. Harga (Rp/K. Biaya (Rp/MT) pada V = Simpangan baku (Produksi Kg/MT. Harga (Rp/K. Biaya (Rg/MT) Kriteria pengukuran batas bawah (L) adalah sebagai berikut : Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Damayanti et al, 2025 A L > 0 artinya kemungkinan besar petani akan mengalami keuntungan. A L < 0 artinya kemungkinan besar petani akan mengalami kerugian. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Karakteristik Petani Kubis Karakteristik petani yang telah diamati dalam pengambilan sampel yaitu beragam-ragam, mulai dari usia, tingkat pendidikan, pengalaman dalam usahatani, status kepemilikan lahan, dan jumlah anggota keluarga. Gambaran mengenai responden ini dapat dilihat pada table berikut ini. Tabel 2. Karakteristik Petani Kubis di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong Variabel Persentase (%) Rata-Rata Umur(Tahu. Pendidikan Pengalaman Usahatani (Tahu. < 5 tahun 5-10 tahun > 10 tahun Status Kepemilikan Lahan Milik Sendiri Sewa Tanggungan Keluarga Milik Sendiri Sumber: Data Primer diolah . Badan Pusat Statistik (BPS), menetapkan bahwa rentang umur produktif berkisar 15 hingga 64 tahun. Dari hasil penelitian, umur petani kubis di Kecamatan Selupu Rejang dapat diketahui antara 15-64 tahun. Dengan rata rata umur petani yaitu 42 tahun, dapat disimpulkan bahwa petani di Kecamatan Selupu Rejang berada dalam rentang umur produktif. Faktor umur mempengaruhi mempengaruhi tingkat produktivitas usahatani di Kecamatan tersebut. Pengalaman dalam berusahatani berperan penting dalam menentukan keberhasilan petani, hal tersebut bisa dilihat dari hasil produksinya. Petani yang memiliki pengalaman lebih lama dalam berushatani cendrung labih baik dalam hal pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman dalam mengelola usahatani. Pengalaman usahatani diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok yaitu kurang berpengalaman . urang dari 5 tahu. , cukup berpengalaman . -10 tahu. dan berpengalaman . ebih dari 10 tahu. (Gusti et al. , 2. (Arsanti et al. , 2. Rata-rata pengalaman dalam usahatani yaitu selama 22 tahun, untuk pengalaman usahatani tertinggi yaitu selama 10 tahun keatas dengan jumlah 77 Berdasarkan teori, maka bisa dikatakan petani di Kecamatan Selupu Rejang memiliki pengalaman usahatani yang sangat baik atau sudah sangat berpengalaman. Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Damayanti et al, 2025 Tingkat Pendidikan petani berpengaruh terhadap proses penentuan keputusan dalam aktivitas pengelolaan usahataninya. Petani dengan tingkat pendidikan lebih rendah cenderung mengalami hambatan dalam menentukan keputusan terkait dengan pembagian sumber daya yang dimilikinya, yang secara tidak langsung juga ikut mempengaruhi tingkat produksi dan tingkat penerimaan Di Kecamatan Selupu Rejang rata-rata petani menempuh pendidikan selama 10 tahun yang berarti berada pada tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Semakin tinggi tingkat pendidikan petani, diharapkan mereka lebih rasional dalam menghadapi kemungkinan kegagalan (Paramita et al. , 2. (Padmisari & Rosdiantini, 2. Tanggungan keluarga mencakup semua orang yang tinggal dalam satu rumah dan bergantung pada kepala keluarga untuk memenuhi biaya serta kebutuhan hidup lainnya. Kepala keluarga memiliki tanggung jawab atas segala aktivitas dan kejadian dalam rumah tangga serta berupaya mencukupi kebutuhan anggota keluarga yang masih menjadi beban tanggung jawab nya. Semakin banyak jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungannya, maka semakin besar dorongan bagi petani untuk bekerja lebih giat dalam mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sementara itu, kebutuhan hidup akan terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. (Gusti et , 2. (Cahya et al. , 2. Berdasarkan data jumlah tanggungan keluarga terbanyak yaitu antara 4-6 tanggungan dengan rata-rata 4 orang tanggungan. Ini berarti bahwa jumlah tenaga kerja yang bersedia juga cukup banyak dan begitu pun dengan beban tanggungan keluarga lebih banyak. Selain itu, penguasaan lahan dan pengadaan lahan yang digunakan di Kecamatan Selupu Rejang yaitu lahan milik sendiri dan sewa, yang artinya status pengadaan lahan tersebut yaitu petani berhak untuk mengelola secara penuh lahan dan ada juga yang harus membayar biaya sewa lahan. 2 Analisis Tingkat Risiko Usahatani Kubis Analisis tingkat risiko dalam usahatani berperan penting dalam membantu petani mengambil keputusan yang dilakukan sebelum menjalankan kegiatan usahatani. Risiko dalam usahatani dapat berasal dari berbagai faktor, seperti fluktuasi harga, ketidakpastian hasil produksi, serta biaya operasional yang tidak terduga. Semakin tinggi risiko yang dihadapi, semakin besar pula pengaruhnya terhadap keberlanjutan dan keberhasilan usahatani yang dijalankan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap tingkat risiko menjadi aspek krusial bagi petani dalam menyusun strategi mitigasi yang efektif guna meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan (Mardiana et al. , 2. (Prabowo et al. , 2. Nilai koefisien variasi (CV) dan batas bawah (L) secara bersamaan menunjukan tingkat keamanan modal yang diinvestasikan dari potensi kerugian. Jika CV kurang dari 0,5 atau L lebih dari 0, maka petani dapat dipastikan memperoleh keuntunga. Sebaliknya jika CV lebih dari 0,5 dan L kurang dari 0 maka terdapat kemungkinan petani mengalami kerugian. Sementara itu, petani akan mencapai titik impas ketika CV sama dengan 0 dan L sama dengan 0 (Mitra et al. , 2. (Pani et al. , 2. Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Damayanti et al, 2025 Tabel 3. Analisis Tingkat Risiko Produksi. Risiko Harga, dan Risiko Biaya Usahatani Kubis di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong Risiko Produksi Harga Biaya Periode MT I MT II MT i MT I MT II MT i MT I MT II MT i Nilai CV 0,0104 0,0218 0,0117 0,0258 0,0120 0,0224 0,0003 0,0003 0,0003 Nilai L 1,423 6,833 1,911 Tingkat Risiko Rendah Rendah Rendah Sumber : Data Primer diolah 2025 3 Analisis Tingkat Risiko Produksi Usahatani Kubis Risiko produksi adalah risiko yang timbul akibat ketidakpastian jumlah hasil panen yang dihasilkan dari suatu usahatani. Petani sering menghadapi berbagai permasalahan seperti risiko tinggi, produktivitas rendah, dan ketidakefisienan. Dalam usahatani, risiko gagal panen dapat berdampak pada hasil produksi usahatani. Risiko ini muncul karena aktivitas pertanian sangat bergantung pada kondisi alam yang menyebabkan ketidakpastian. Ketidakpastian tersebut berdampak terhadap fluktuasi produksi sehingga akan memengaruhi keberlangsungan kegiatan usahatani (Lawalata, 2. (Pamusu et al. , 2. Berdasarkan Tabel 3 nilai koefisien variasi (CV) produksi pada MT I yaitu sebesar 0,0104, pada MT II yaitu sebesar 0,0218, dan pada MT i yaitu sebesar 0,0117. Kemudian, nilai batas bawah (L) untuk produksi usahatani kubis pada MT I yaitu 031, pada MT II yaitu sebesar 2. 019, dan pada MT i yaitu sebesar 7. 139 yang artinya angka tersebut merepresentasikan batas minimum produksi yang harus didapatkan oleh petani Berdasarkan kriteria dari nilai CV menunjukkan bahwa nilai CV yang diterima petani yaitu <0,5, artinya risiko produksi usahatani kubis termasuk dalam kategori rendah. Rendahnya nilai risiko produksi yang diterima petani, maka dapat di simpulkan bahwa usahatani kubis di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong ini terhindar dari risiko produksi dan petani cendrung sering mendapatkan keuntungan (Astuti et al. , 2. Disamping itu, terdapat beberapa aspek yang berhubungan dengan risiko produksi yaitu perubahan cuaca/iklim dan serangan hama atau penyakit. Kondisi geografis Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong yang berada di dataran tinggi menyebabkan wilayah ini memiliki curah hujan yang relatif tinggi sepanjang tahun. Tingginya curah hujan dapat berdampak pada produktivitas pertanian, terutama dalam hal pengolahan lahan dan perlindungan tanaman terhadap penyakit akibat kelembapan berlebihan. Selain faktor iklim, serangan hama juga menjadi ancaman utama bagi petani di wilayah ini. Salah satu serangan hama yang menjadi ancaman yaitu ulat grayak dan berbagai jenis hama lainnya yang dapat mengurangi panen secara signifikan. Jika tidak dikelola dengan baik, keberadaan hama ini bisa mengakibatkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi Sejalan dengan penelitian Mitra et al . Risiko yang timbul akibat faktor lingkungan meliputi serangan hama dan penyakit, perubahan iklim, serta kondisi di lingkungan tempat Selain faktor alam, risiko juga dapat timbul akibat tindakan manusia atau kekeliruan teknis dalam proses budidaya. Perubahan harga input dan output juga bisa berdampak pada penerimaan serta pendapatan petani. Ketidakstabilan harga tidak hanya terjadi pada harga jual hasil Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Damayanti et al, 2025 produksi, tetapi juga pada harga input produksi seperti benih, pestisida dan kebutuhan lainnya yang cendrung mengalami kenaikan. Faktor ini membutuhkan perhatian yang lebih untuk mengendalikannya misalnya pada saat curah hujan tinggi dapat menyebabkan banyak tanaman kubis busuk dan rusak yang membuat produksi kubis menjadi menurun dan tidak menentu. 4 Analisis Tingkat Risiko Harga Usahatani Kubis Risiko harga merujuk pada ketidakpastian yang dihadapi petani terkait fluktuasi harga komoditas pertanian. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fluktuasi harga seperti perubahan permintaan dan penawaran, spekulasi pasar, serta panjangnya rantai pemasaran. Risiko harga juga dapat terjadi akibat dari perubahan harga input yang digunakan. Risiko ini timbul pada saat proses produksi berlangsung, karena dalam sektor pertanian yang memiliki jangka waktu panjang maka kebutuhan input di setiap periode tertentu cenderung mengalami perubahan harga (Rianti & Maula, 2. (Volantina, 2. Berdasarkan Tabel 3 nilai koefisien variasi (CV) harga pada MT I yaitu sebesar 0,0258, pada MT II yaitu sebesar 0,0120, dan pada MT i yaitu sebesar 0,0224. Kemudian, nilai batas bawah (L) untuk harga usahatani kubis pada MT I yaitu sebesar 1. 423, pada MT II yaitu 833, dan pada MT i yaitu sebesar 1. 911 yang artinya angka tersebut merepresentasikan batas minimum harga yang harus didapatkan oleh petani kubis. Berdasarkan kriteria dari nilai CV menunjukkan bahwa nilai CV yang diterima petani yaitu <0,5, artinya risiko harga usahatani kubis termasuk dalam kategori rendah. Rendahnya nilai risiko harga yang diterima petani, maka dapat disimpulkan bahwa usahatani kubis di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong ini terhindar dari risiko harga dan petani cendrung sering mendapatkan keuntungan (Putri & Suwandari. Harga kubis di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong sering kali berfluktuasi disetiap musim tanamnya akibat dari permintaan dan penawaran dipasar ataupun kebijakan Harga pada usahahatani kubis sangat dibutuhkan dalam proses keberlanjutan usahatani kubis kedepannya, dimana harga jual yang tinggi menghasilkan modal yang tinggi juga. Kemudian hasil yang diperoleh dalam proses produksi juga mempengaruhi harga jual. Apabila produksi tinggi maka harga jual akan turun, begitupun sebaliknya. Sejalan dengan penelitian Aini et al . Hasil produksi kubis yang melimpah akan menyebabkan nilai jual yang diperoleh oleh petani menurun. Hal ini terjadi karena semakin banyak produksi kubis yang tersedia, maka harga akan cendrung menurun. Kondisi ini sejalan dengan hukum penawaran yang menyatakan bahwa kenaikan jumlah barang yang disediakan akan menurunkan harga dan begitu pun sebaliknya. 5 Analisis Tingkat Risiko Biaya Usahatani Kubis Biaya produksi mencakup seluruh pengeluaran yang digunakan untuk mendapatkan sarana produksi yang diperlukan dalam usahatani. Pengeluaran ini terdiri dari biaya tunai maupun non tunai. Dalam usahatani, biaya produksi terbagi menjadi dua jenis biaya yaitu biaya tetap dan biaya Biaya tetap adalah biaya yang tidak akan berubah jenis dan jumlahnya, sedangkan biaya variabel adalah biaya yang akan berubah sesuai dengan musim tanam (Marsaoly. Hasrul et al. Biaya tetap meliputi pengeluaran untuk peralatan, pajak tanah, dan sewa lahan. Sementara itu, biaya variabel mencangkup biaya bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja (Purwodadi & Pasuruan, 2. Risiko biaya usahatani mengacu pada ketidakpastian yang dihadapi petani terkait pengeluaran selama proses produksi pertanian yang dapat mempengaruhi profitabilitas dan keberlanjutan Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Damayanti et al, 2025 Faktor-faktor seperti perubahan penggunaan input seperti benih, pupuk, dan pestisida serta perubahan biaya tenaga kerja dapat berkontribusi terhadap risiko ini. Berdasarkan Tabel 3 nilai koefisien variasi (CV) biaya pada MT I. MT II, dan MT i yaitu sebesar 0,0003. Kemudian, nilai batas bawah (L) untuk biaya usahatani kubis pada MT I yaitu sebesar 10. 458, pada MT II yaitu sebesar 126, dan pada MT i yaitu sebesar 99. 336, yang artinya angka tersebut merepresentasikan batas angka minimum biaya yang harus dikeluarkan oleh petani kubis. Berdasarkan kriteria dari nilai CV menunjukkan bahwa nilai CV yang dikeluarkan petani yaitu <0,5, artinya risiko biaya usahatani kubis termasuk dalam kategori rendah. Rendahnya nilai risiko biaya yang dikeluarkan petani, maka dapat di simpulkan bahwa usahatani kubis di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong ini terhindar dari risiko biaya dan petani cendrung sering mendapatkan keuntungan. Kondisi ini sangat menguntungkan karena menunjukkan bahwa ketidakpastian dalam biaya berada pada tingkat yang rendah, sehingga perencanaan dan pengelolaan usahatani menjadi lebih mudah dan minim risiko (Amelia, 2. 6 Tingkat Risiko Produksi. Risiko Harga, dan Risiko Biaya Usahatani Kubis Koefisien Variasi Kurva Risiko Usahatani Kubis Musim Tanam MT I Risiko Produksi MT II Risiko Harga MT i Risiko Biaya Gambar 1. Kurva Risiko Usahatani Kubis Gambar grafik diatas terlihat bahwa koefisien variasi risiko, produksi, harga, dan biaya menunjukkan fluktuasi yang berbeda pada setiap musim tanam (MT I. MT II, dan MT . Risiko produksi cenderung lebih rendah pada MT I dan MT i, tetapi meningkat pada MT II yang kemungkinan disebabkan oleh faktor lingkungan seperti perubahan cuaca atau serangan hama yang lebih intensif. Sebaliknya, risiko harga menunjukkan tren yang berlawanan dimana risiko lebih tinggi pada MT I dan MT i tetapi lebiih rendah pada MT II. Hal ini dapat dijelaskan oleh hukum penawaran dan permintaan dimana produksi yang lebih tinggi pada MT II menyebabkan harga stabil sedangkan produksi yang lebih rendah pada MT I dan MT i menyebabkan fluktuasi harga yang lebih besar. Sementara itu, risiko biaya relatif stabil disemua musim tanam menunjukkan bahwa faktor biaya tidak banyak terpengaruh oleh perubahan musim. Hubungan antara variabel ini mencerminkan keterkaitan antara produksi dan harga dipasar. Ketika produksi tinggi pada MT II maka harga cenderung lebih stabil karena pasokan yang mencangkupi, sedangkan ketika produksi lebih rendah pada MT I dan MT i maka volatilitas harga Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Damayanti et al, 2025 meningkat akibat fluktuasi pasokan. Faktor musim tanam menjadi salah satu aspek penting dalam menentukan risiko usahatani kubis karena kondisi lingkungan yang berbeda di setiap musim dapat memengaruhi hasil produksi dan stabilitas harga. Variabilitas produksi hortikultura dipengaruhi oleh faktor musim terutama faktor cuaca dan curah hujan. Pada musim dengan curah hujan tinggi maka produksi dapat meningkat akan tetapi kualitas hasil panen bisa menurun sehingga menyebabkan risiko harga tinggi. Kemudian, harga produk hortikultura cenderung akan lebih fluktuatif pada saat musim kemarau dibandingkan dengan musim hujan, hal ini karena pasokan air yang tidak merata. Fenomena ini dapat terlihat dari grafik di atas, di mana risiko harga lebih tinggi pada MT I dan MT i. Penelitian oleh Magdalena . menemukan bahwa produksi dan harga jual berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani lada, hal ini mengindikasikan bahwa fluktuasi produksi dan harga dapat memengaruhi pendapatan petani. SIMPULAN Hasil dari penelitian secara keseluruhan usahatani kubis di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong memiliki tingkat risiko yang rendah dalam aspek produksi, harga, dan Dengan demikian, usaha ini cukup menguntungkan dan berkelanjutan bagi para petani. Namun, pengelolaan risiko tetap diperlukan terutama dalam menghadapi fluktuasi harga dan perubahan iklim yang dapat mempengaruhi hasil panen petani. DAFTAR PUSTAKA