SARGA: JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME 19 NO 2 JULY 2025 P-ISSN: 0853-4748 E-ISSN: 2961-7030 Journal Home Page: https://jurnal2. id/index. php/sarga TRANSFORMASI MORFOLOGI PERMUKIMAN DESA SESUA . 2 Ae 2. Morphology Transformation of Sesua Village Settlement . | Received May 1, 2025 | Accepted July 27, 2025 | Available online July 31, 2025 | | DOI 10. 56444/sarga. 2931 | Page 149 - 161 | Sri Rahayu Ningsih*. Ikaputra2 srirahayuningsih2001@mail. Magister Rancang Kota. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta1* ikaputra@ugm. Magister Rancang Kota. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta2 ABSTRAK Penelitian ini membahas transformasi morfologis Desa Sesua dari tahun 1932 hingga 2024 sebagai refleksi perubahan bentuk spasial yang kompleks dan bertahap. Dari permukiman komunal berbasis rumah panjang di tepi sungai, desa mengalami evolusi menjadi kawasan linear yang lebih terstruktur dengan rumah-rumah pribadi, fasilitas publik, dan jaringan jalan darat. Transformasi ini dipengaruhi oleh faktor sosial-budaya Dayak Bulusu, perkembangan ekonomi, kebijakan modernisasi, serta pembangunan infrastruktur. Meskipun mengalami perubahan signifikan secara fisik, morfologi desa tetap mempertahankan nilai-nilai lokal seperti solidaritas, kolektivitas, dan keharmonisan dengan alam. Studi ini menunjukkan pentingnya pendekatan morfologis untuk memahami dinamika perubahan desa dan sebagai dasar perencanaan spasial yang kontekstual dan berkelanjutan. Transformasi morfologis Desa Sesua mencerminkan proses perubahan spasial yang menyeluruh dan bertahap, dari sistem permukiman komunal berbasis rumah panjang menuju pola permukiman linear yang lebih terstruktur, modern, dan fungsional. Perubahan ini tidak hanya mencakup pergeseran bentuk fisik seperti pola lahan, bangunan, sirkulasi, dan lanskap, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika sosial, ekonomi, aksesibilitas, lingkungan, serta kebijakan pembangunan. Kata kunci: Morfologi, rumah panjang, transformasi permukiman. Dayak Bulusu. Desa Sesua. ABSTRCT This study explores the morphological transformation of Sesua Village from 1932 to 2024 as a reflection of a complex and gradual spatial shift. Originally a communal settlement based on longhouses along the river, the village has evolved into a more structured linear area with private houses, public facilities, and a road-based circulation network. The transformation was driven by Dayak Bulusu socio-cultural values, economic development, modernization policies, and infrastructure expansion. Despite significant physical changes, the villageAos morphology retains local values such as solidarity, collectivity, and harmony with nature. This study highlights the relevance of a morphological approach to understanding rural spatial dynamics and informing contextual and sustainable spatial planning. The morphological transformation of Sesua Village reflects a thorough and gradual process of spatial change, from a longhouse-based communal settlement system to a more structured, modern, and functional linear settlement pattern. These changes not only include shifts in physical forms such as land patterns, buildings, circulation, and landscapes, but are also influenced by social, economic, accessibility, environmental, and development policy dynamics. Keywords: Morphology, longhouse, settlement transformation. Dayak Bulusu. Sesua Village. Sri Rahayu Ningsih. Ikaputra PENDAHULUAN Morfologi ruang merupakan hasil dari proses pembentukan dan pengorganisasian elemenelemen spasial yang saling berhubungan, membentuk suatu struktur atau tatanan lingkungan Menurut Hillier dan Hanson . , morfologi juga mencakup proses identifikasi kesamaan dan perbedaan dari suatu bentuk atau susunan fisik, yang dapat digunakan untuk mengungkap penyebab-penyebab transformasi yang dapat dibuktikan secara ilmiah. Dengan kata lain, pendekatan morfologis tidak hanya menelaah bentuk fisik semata, tetapi juga mengkaji dinamika yang melatarbelakangi pembentukan dan perubahan struktur ruang tersebut. Desa Sesua adalah sebuah contoh menarik dari studi morfologi desa, karena memiliki perjalanan sejarah dan proses pembentukan spasial yang unik. Secara geografis, desa ini terletak pada lokasi yang strategis, yakni di sepanjang jalan raya dan tidak jauh dari Sungai Bengalun, yang pada masa awal menjadi poros utama aktivitas masyarakat. Sejarah panjang desa ini menunjukkan adanya transformasi bentuk permukiman dari pola tradisional ke bentuk yang lebih modern dan Salah satu kekayaan yang dimiliki oleh Desa Sesua adalah warisan budayanya yang masih lestari, baik dalam bentuk cerita lisan, praktik adat, maupun ingatan kolektif tentang rumah panjang tradisional yang pernah menjadi pusat kehidupan masyarakat Dayak Bulusu di masa lalu. Pada awalnya, permukiman di Desa Sesua kemungkinan besar tersusun dalam bentuk rumah panjang yang terletak di tepi sungai sesuai dengan tradisi masyarakat Dayak Bulusu yang menjadikan sungai sebagai pusat orientasi ruang dan kehidupan sosial. Rumah panjang tersebut bukan sekadar hunian, tetapi juga mencerminkan struktur sosial komunal, ekonomi berbasis kolektivitas, serta praktik budaya yang berakar kuat. Namun, seiring dengan perkembangan jumlah penduduk, peningkatan mobilitas, serta perubahan kebijakan pembangunan dan orientasi ekonomi, pola hunian mulai mengalami pergeseran. Masyarakat kemudian mulai membangun rumah-rumah tunggal di sepanjang jalan utama, membentuk pola permukiman linear yang lebih sesuai dengan kebutuhan mobilitas modern dan aksesibilitas ekonomi. Sehingga Latar belakang dan tujuan penelitian ini didasarkan pada kebutuhan untuk memahami perkembangan morfologi desa yang mencerminkan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda. Perubahan-perubahan ini tidak hanya penting sebagai catatan sejarah, namun juga memberikan wawasan bagi perencanaan dan pembangunan desa berkelanjutan di masa depan. Berdasarkan latar belakang tersebut memunculkan dua pertanyaan penelitian yaitu bagaimana proses transformamsi morfologi permukiman di Desa Sesua terjadi? Dan faktor-faktor apa saja yang mendorong terbentuknya pola di Desa Sesua? Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana proses transformasi morfologi permukiman di Desa Sesua berlangsung dari waktu ke waktu, serta mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mendorong terbentuknya pola permukiman tersebut. Dengan demikian penelitian ini memberikan pemahaman mendalam bagaimana proses formasi dan transformasi kawasan Desa Sesua berlangsung dari waktu ke waktu. Penelitian ini berupaya mengungkap pola-pola pembentukan awal permukiman. MORFOLOGI Istilah "morfologi" berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Yunani Kuno, yaitu morphy yang berarti AubentukAy dan akhiran -logi yang berarti AuilmuAy. Secara harfiah, morfologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang bentuk (Luca, 2. Dalam konteks permukiman dan perkotaan, morfologi merujuk pada kajian ilmiah terhadap bentuk fisik permukiman serta dinamika transformasinya seiring waktu. Morfologi perkotaan merupakan bidang yang berupaya memahami bagaimana permukiman terbentuk, berkembang, dan mengalami perubahan berdasarkan konteks historis, spasial, dan sosial. Sejumlah ilmuwan menyatakan bahwa identitas suatu kawasan, terutama dalam konteks kota, sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan historis yang tertanam dalam ruang dan waktu tertentu (Mumford, 1968. Jones & Svejenova, 2. Dengan kata lain, bentuk fisik sebuah kota atau permukiman tidak terlepas dari perjalanan sejarahnya yang khas dan melekat pada lokasinya. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transformasi Morfologi Permukiman Desa Sesua . 2 Ae 2. Morfologi kota merujuk pada struktur penyusun fisik yang membentuk lingkungan Struktur ini terdiri atas beberapa elemen utama, yaitu kavling . , bangunan, fungsi penggunaan lahan, jaringan sirkulasi, serta lanskap kota. Kavling berperan sebagai unit dasar dalam penataan ruang, mempengaruhi skala dan keteraturan pola pembangunan. Bangunan berkontribusi pada citra kota melalui bentuk, ukuran, fungsi, dan arah orientasinya. Sementara itu, zonasi fungsi lahan merepresentasikan distribusi ruang untuk berbagai aktivitas seperti hunian, perdagangan, industri, dan ruang publik, yang mencerminkan dinamika kehidupan kota. Sistem jaringan jalan bertugas menghubungkan berbagai zona kota, memfasilitasi mobilitas, serta membentuk tingkat aksesibilitas antar ruang. Di sisi lain, elemen lanskap termasuk taman, ruang terbuka hijau, dan area publik berfungsi memperkuat kualitas ekologis, sosial, dan visual kawasan perkotaan. Interaksi menyeluruh antar elemen-elemen tersebut menghasilkan bentuk fisik kota yang dapat ditelaah secara analitis, ditafsirkan, dan dirancang ulang demi menunjang keberlanjutan serta kenyamanan hidup warganya. (Gordon, 1984. Oliviera, 2. Gordon . menyatakan bahwa morfologi kota maupun permukiman terbentuk melalui interaksi berkesinambungan antara faktor fisik alami dan faktor manusia yang berlangsung dalam perjalanan sejarah. Pola fisik seperti jaringan jalan, blok, lahan, hingga bangunan tidak bersifat tetap, melainkan merupakan hasil evolusi spasial yang terus mengalami perubahan dari masa ke masa yang dipengaruhi oleh: C Faktor Alami. Unsur lingkungan seperti topografi, ketersediaan air, sungai, iklim, dan karakter tanah menentukan arah awal pertumbuhan sebuah kota atau desa. C Faktor Manusia. Kegiatan ekonomi, kebijakan pemerintah, budaya setempat, serta kebutuhan sosial menjadi pendorong utama dalam memodifikasi atau memperluas bentuk C Faktor Historis. Setiap tahap perkembangan meninggalkan bekas pada pola morfologi, sehingga pola masa kini dapat digunakan untuk menelusuri proses perubahan yang pernah Oliveira . menjelaskan bahwa wujud kota tidak hanya ditentukan oleh elemen fisiknya, tetapi juga oleh berbagai pihak yang terlibat dan proses perubahan yang terjadi. Para aktor seperti pemerintah, dan masyarakat ikut mempengaruhi arah perkembangan, sedangkan prosesnya bisa melalui rencana resmi maupun perubahan bertahap di lapangan. Dengan demikian, bentuk kota terbentuk dari interaksi dinamis antara struktur fisik dan faktor manusia sepanjang waktu. Lebih lanjut Oliveira . mengungkapkan empat elemen dasar dalam morfologi kota merupakan komponen fisik yang saling berhubungan dan bersama-sama membentuk struktur ruang perkotaan sebagai berikut: C Streets (Jaringan Jala. Jaringan jalan berfungsi sebagai kerangka utama dari struktur kota. Jalan tidak hanya menyediakan akses dan sirkulasi, tetapi juga menjadi batas dan penentu arah pertumbuhan kawasan, membentuk pola ruang seperti grid, linear, atau organik. C Street Blocks (Blok Kot. Street blocks adalah area yang dibatasi oleh jaringan jalan. Blok ini menjadi satuan besar yang menampung berbagai fungsi seperti permukiman, komersial, atau campuran, sekaligus mempengaruhi kepadatan dan orientasi kawasan. C Plots (Petak atau Laha. Plot merupakan unit terkecil dalam struktur kota, yaitu lahan individu tempat bangunan berdiri. Ukuran, bentuk, dan orientasi plot menentukan ritme, keteraturan, serta variasi tampilan kota di tingkat mikro. C Buildings (Bangunan dan Ruang Terbuk. Bangunan adalah wujud fisik akhir dari proses perencanaan dan pembangunan. Tipologi, skala, dan tata letak bangunan memberikan identitas visual dan karakter khas pada suatu kota atau kawasan. METODE Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggali sejarah desa dan menerapkan wawasannya pada desain perkotaan. Langkah ini melibatkan pengumpulan SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Sri Rahayu Ningsih. Ikaputra data sejarah melalui dokumen, foto, dan wawancara dengan warga setempat. Data tersebut akan dianalisis untuk mengidentifikasi tren dan pola utama, yang akan digunakan untuk merancang rencana kota yang mempertimbangkan warisan sejarah desa dan menerapkan prinsip-prinsip desain yang sesuai. Rencana tersebut kemudian akan divalidasi melalui umpan balik dari masyarakat lokal sebelum dilaksanakan dan akan terus dipantau dan dievaluasi untuk memastikan kesesuaiannya dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini, narasumber dipilih berdasarkan kriteria yang mampu memberikan informasi yang mendalam dan relevan mengenai perubahan morfologi permukiman di Desa Sesua yang meliputi: tokoh adat serta warga yang telah lama tinggal di desa dan memahami sejarah perkembangannya, aparat pemerintah atau perangkat desa yang terlibat dalam proses perencanaan maupun pembangunan, penduduk yang secara langsung mengalami perubahan pola ruang, serta individu yang berperan dalam menjaga dan melestarikan budaya setempat, seperti pelaku adat atau penyimpan cerita lisan. Pemilihan kriteria tersebut dilakukan agar data yang diperoleh tidak hanya memuat aspek fisik, tetapi juga perspektif budaya, kebijakan, dan pengalaman lapangan, sehingga hasil penelitian menjadi lebih utuh dan dapat dipertanggungjawabkan. Gambar 1. Lokasi Penelitian Desa Sesua Sumber: dpuprperkim. id, 2024 Penelitian ini juga menggunakan Teknik wawancara terarah . uided intervie. , yaitu metode wawancara di mana peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah dirancang dan disiapkan sebelumnya kepada setiap informan. Pertanyaan yang diberikan disusun dengan urutan yang sama sehingga hasil dari masing-masing narasumber dapat dibandingkan secara sistematis. Teknik ini dipilih karena penelitian memerlukan informasi yang spesifik mengenai hal-hal tertentu, seperti tahapan perkembangan permukiman, faktor yang mempengaruhi perubahan, serta kebijakan yang pernah diterapkan. Penelitian ini menerapkan analisis naratif sebagai teknik analisis kualitatif. Metode ini berfokus pada penyusunan kembali serta penafsiran cerita, pengalaman, dan peristiwa yang disampaikan informan. Dalam prosesnya, data hasil wawancara tidak dipandang sebagai potongan-potongan informasi yang terpisah, melainkan dirangkai menjadi alur cerita yang berkesinambungan sehingga dapat terlihat tahapan peristiwa serta makna di baliknya. Analisis tersebut dilakukan dengan cara: menyusun kronologi perubahan, menafsirkan makna peristiwa, mengaitkan pengalaman dari berbagai narasumber, dan menyajikan deskripsi kontekstual. IDENTIFIKASI TATA GUNA LAHAN (LANDUSE) Periode Pembentukan . 2 Ae 1. Pada periode 1932 hingga 1956, tata guna lahan di Desa Sesua didominasi oleh lima rumah panjang yang tersebar di area permukiman. Selain itu, terdapat banyak ruang hijau yang luas karena desa masih dalam tahap awal perkembangan dan baru terbentuk. Keberadaan rumah panjang sebagai pusat permukiman menjadi fokus kehidupan sosial masyarakat, sementara area hijau yang melimpah berfungsi sebagai ruang terbuka yang mendukung kegiatan agraris dan menjaga SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transformasi Morfologi Permukiman Desa Sesua . 2 Ae 2. keseimbangan alam desa. Dengan demikian, tata guna lahan pada masa ini mencerminkan pola hidup tradisional yang mengutamakan kebersamaan dalam rumah panjang dan hubungan harmonis dengan alam sekitar. Periode Pembongkaran & Pembangunan . 0 Ae 1. Pada periode 1960 hingga 1970, tata guna lahan di Desa Sesua mengalami perubahan besar dengan mulai dibangunnya banyak hunian pribadi. Masyarakat secara perlahan mulai meninggalkan dan membongkar rumah panjang yang sebelumnya ada, beralih ke rumah-rumah pribadi yang terpisah dan mencerminkan pola kehidupan yang lebih modern. Meskipun terjadi perubahan dalam bentuk permukiman, ruang hijau yang luas masih ada di sekitar desa, mempertahankan keseimbangan antara pembangunan dan alam. Lahan hijau tetap berperan penting, mendukung kegiatan pertanian dan kehidupan sosial yang masih erat kaitannya dengan alam sekitar. Periode Perkembangan . 0 Ae 2. Pada periode 2000 hingga 2024, tata guna lahan di Desa Sesua mengalami perkembangan yang signifikan. Pembangunan hunian pribadi meningkat pesat, mencerminkan pertumbuhan jumlah penduduk dan struktur permukiman yang lebih teratur. Selain itu, sejumlah fasilitas penting mulai dibangun, seperti gereja, lapangan olahraga, sekolah, dan fasilitas kesehatan, yang memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Lahan juga tetap dimanfaatkan untuk perkebunan warga, yang masih menjadi sumber utama penghidupan. Perkembangan ini menggambarkan transformasi desa yang semakin maju dengan infrastruktur yang lebih lengkap, namun tetap mempertahankan kegiatan agraris yang menjadi bagian penting dari kehidupan warga. IDENTIFIKASI TATA BANGUNAN Periode Pembentukan . 2 Ae 1. Pada masa 1932 hingga 1956, pola pembangunan di Desa Sesua sangat dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat Dayak yang memandang sungai sebagai pusat kehidupan. Karena itu, bangunan-bangunan diorientasikan sejajar dengan aliran sungai. Hunian utama berbentuk rumah panjang . ong hous. dengan desain memanjang horizontal mengikuti jalur sungai. Struktur rumah dibuat terbuka, memungkinkan penghuni untuk selalu berhubungan secara visual dengan sungai, mempertegas ikatan antara aktivitas kehidupan dan lingkungan alam. Gambar 6. Bukaan Rumah Panjang Sumber: AxelTobias, 2025 Periode Pembongkaran & Pembangunan . 0 Ae 1. Pada periode ini, terjadi perubahan signifikan dalam pola permukiman desa. Rumah panjang tradisional mulai ditinggalkan, digantikan oleh rumah-rumah pribadi yang masih mengadaptasi bentuk memanjang dari bangunan rumah panjang, namun dengan penyesuaian tertentu. Salah satu perubahan utama adalah orientasi bangunan. Jika dahulu rumah panjang sejajar sungai dan menghadap aliran air, kini rumah pribadi dibangun membelakangi sungai dan menghadap ke jalan, mencerminkan peralihan orientasi kehidupan dari sungai ke akses jalan darat. Rumah-rumah pribadi disusun memanjang ke belakang dalam blok-blok linear yang dihuni oleh satu garis keturunan atau SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Sri Rahayu Ningsih. Ikaputra keluarga besar. Pola ini tetap mempertahankan kedekatan antaranggota keluarga, meskipun bentuk bangunannya lebih individual. Secara keseluruhan, tata ruang mulai membentuk struktur linear sejajar jalan, menandai awal transformasi menuju pola permukiman yang lebih modern namun tetap berbasis kekeluargaan. Periode Perkembangan . 0 Ae 2. Pada masa ini, perkembangan permukiman berlangsung secara pesat dan menyeluruh. Rumah panjang tradisional sudah tidak ditemukan lagi, digantikan sepenuhnya oleh bangunan permanen seperti rumah tinggal, fasilitas ibadah, sekolah, kantor, area komersial, dan sarana Pembangunan tidak hanya meningkat secara jumlah, tetapi juga meluas ke arah utara dan barat desa. Struktur permukiman menjadi lebih tertata dan kompleks, mengakomodasi beragam fungsi sosial, ekonomi, dan pelayanan publik. Periode ini mencerminkan transisi menuju tata ruang desa yang lebih modern dan terintegrasi. IDENTIFIKASI TATA SIRKULASI Periode Pembentukan . 2 Ae 1. Pada masa awal pembentukan desa, sungai menjadi jalur utama pergerakan masyarakat. Segala aktivitas mobilitas, baik untuk kebutuhan harian maupun hubungan antarwilayah, dilakukan melalui aliran sungai. Perahu digunakan sebagai sarana transportasi utama. Rumah panjang dibangun sejajar dengan sungai untuk memudahkan akses langsung, mencerminkan pentingnya sungai sebagai pusat aktivitas dan konektivitas masyarakat pada periode ini Ketergantungan masyarakat ini terhadap sungai terlihat dari pola permukimannya yang umumnya berada di tepian Gambar 12. Potongan 1932-1956 Sumber: Data Olahan,2024 Periode Pembongkaran & Pembangunan . 0 Ae 1. Dalam periode ini, masyarakat Desa Sesua mulai menerapkan pola permukiman baru dengan membangun rumah secara berjajar. Setiap deret dihuni oleh keluarga yang masih memiliki hubungan kekerabatan, membentuk koridor/sirkulasi linear yang mencerminkan gaya hidup mereka yang terstruktur dan saling terhubung. Dari pola ini, terbentuk pusat permukiman yang menjadi cikal bakal Desa Sesua. Walaupun akses darat mulai berkembang melalui jalan tanah, keberadaan jalur sungai tetap dipertahankan. Sungai masih digunakan untuk keperluan transportasi dan kegiatan harian Dengan demikian, sistem sirkulasi air dan darat berjalan bersamaan dan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transformasi Morfologi Permukiman Desa Sesua . 2 Ae 2. Gambar 13. Potongan 1960-1970 Sumber: Data Olahan,2024 Periode Perkembangan . 0 Ae 2. Gambar 12. Potongan 2000-2024 Sumber: Data Olahan,2024 Pada periode ini, seiring meningkatnya jumlah penduduk dan pembangunan permukiman, jaringan sirkulasi di Desa Sesua mengalami perkembangan yang pesat. Bertambahnya bangunan dan fasilitas menyebabkan munculnya lebih banyak jalur pergerakan dan koridor-koridor baru. Perkembangan pola permukiman turut memengaruhi pembentukan sistem sirkulasi yang semakin beragam, namun tetap mempertahankan bentuk linear sebagai ciri khas. Pola ini merupakan bentuk adaptasi terhadap budaya masyarakat yang hidup dalam struktur kekerabatan yang teratur dan saling terhubung. Dengan demikian, sirkulasi yang terbentuk mencerminkan kombinasi antara kebutuhan ruang modern dan tradisi sosial yang terus dijaga. IDENTIFIKASI RUANG TERBUKA Periode Pembentukan . 2 Ae 1. Pada masa awal pembentukan desa, kawasan masih didominasi oleh alam yang alami. Rumah panjang terletak di tepi hutan dengan pepohonan besar yang tumbuh alami dan beragam. Sungai yang mengalir dekat permukiman menjadi sumber kehidupan utama, dan lingkungan sekitarnya belum mengalami perubahan. Lanskap saat itu memperlihatkan hubungan yang erat antara alam dan kehidupan masyarakat tradisional, selaras dengan nilai-nilai lokal dan prinsip hidup SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Sri Rahayu Ningsih. Ikaputra Gambar 16. Time Series tata lanskap 1932-1956 Sumber: Data Olahan,2024 Periode Pembongkaran & Pembangunan . 0 Ae 1. Pada periode ini, ruang hijau masih terjaga keasriannya, namun mulai terlihat perubahan karena semakin banyak rumah pribadi bermunculan. Area halaman depan rumah mulai dimanfaatkan untuk menanam tanaman hias, meskipun jumlah dan jenisnya masih sedikit. Lanskap mulai menunjukkan pergeseran dari bentuk alami ke arah yang lebih tertata secara individual, seiring berkembangnya pola permukiman dan kebutuhan estetika penghuni. Gambar 17. Time Series tata lanskap 1960-1970 Sumber: Data Olahan,2024 Periode Perkembangan . 0 Ae 2. Selama periode ini, tata lanskap desa mengalami kemajuan yang signifikan dengan penataan halaman rumah yang semakin rapi dan beragam. Warga mulai menanam berbagai tanaman hias di halaman depan, yang juga berfungsi sebagai barrier alami antara rumah dan jalan. Penanaman ini tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga menciptakan suasana yang lebih nyaman dan terlindungi. Selain itu, pembangunan infrastruktur mulai terlihat melalui hadirnya jalan beraspal yang memperkuat konektivitas antar area permukiman. Secara keseluruhan, lanskap desa mulai menunjukkan pola yang lebih teratur dan dirancang, menggabungkan unsur fungsi, keindahan, dan kenyamanan. Gambar 18. Time Series tata lanskap 2000-2024 Sumber: Data Olahan,2024 SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transformasi Morfologi Permukiman Desa Sesua . 2 Ae 2. Gambar 19. Peta Perubahan Sumber: Data Olahan,2024 SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transformasi Morfologi Permukiman Desa Sesua . 2 Ae 2. Gambar 20. Peta Perubahan Sumber: Data Olahan,2024 SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transformasi Morfologi Permukiman Desa Sesua . 2 Ae 2. Gambar diatas menunjukkan bagaimana Desa Sesua telah mengalami perubahan besar dari tahun 1932 hingga 2024. Pada masa awal, desa ini masih sangat sederhana. Hanya ada satu rumah panjang yang menjadi tempat tinggal bersama sekaligus pusat kehidupan sosial masyarakat Dayak Bulusu. Bangunan di masa itu semuanya serupa memanjang dan menyatu dalam satu struktur, tanpa pemisahan rumah seperti sekarang. Jalan yang hanya ada jalan setapak alami dan sungai yang menjadi jalur utama. Lingkungannya masih sangat alami, dikelilingi hutan dan lahan berburu. Seiring waktu, desa terus berkembang. Kini, jalan-jalan sudah diaspal, kendaraan bisa masuk dengan mudah, dan antarwilayah desa terhubung lewat jaringan jalan yang rapi. Ruang terbuka juga yang berubah, tidak lagi hanya hutan atau perkebunan, tapi sudah terdapat halaman rumah, lahan pertanian, sekolah, dan gereja dan fasilitas pendidikan. Meski begitu, desa tetap menjaga ruang hijau seperti kebun dan ladang sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan, gambar ini memperlihatkan bagaimana Desa Sesua telah bertransformasi dari permukiman tradisional yang bersifat komunal menjadi sebuah desa yang lebih modern, tertata, dan memiliki struktur permukiman yang kompleks namun tetap fungsional TRANSFORMASI MORFOLOGI DESA SESUA Gambar 1. Perubahan Desa Sesua Tahun 1932 -2024 Sumber: Data Olahan, 2024 Perubahan morfologi Desa Sesua tidak hanya tampak pada pergeseran pola huniannya, tetapi juga tercermin dalam empat prinsip dasar penataan ruang. C Tata Guna Lahan. Pemanfaatan lahan di Desa Sesua berubah dari pola komunal di tepi sungai menjadi pola linear di sepanjang jalan raya. Meskipun kini didominasi Rumah tunggal untuk hunian dan usaha, jejak lahan bersama seperti ladang dan ruang adat masih dapat ditemukan, mencerminkan perpaduan orientasi tradisional dan modern. C Tata Bangunan. Bangunan mengalami perubahan dari rumah panjang ke rumah tunggal. Banyak rumah yang kini juga difungsikan sebagai tempat usaha kecil, namun tetap mempertahankan elemen arsitektur lokal, sehingga memberi identitas tersendiri dibanding permukiman lain yang serupa. C Tata Sirkulasi. Pola sirkulasi memadukan jalur air dan jalan darat. Sungai masih digunakan untuk kegiatan tertentu, sementara jalan raya menjadi pusat mobilitas. Jalur setapak lama yang menghubungkan rumah panjang dengan ladang pun masih bertahan, membentuk pola akses yang khas. C Tata Lansekap. Lanskap desa tetap mempertahankan unsur alami seperti pohon besar peninggalan masa lalu. Halaman rumah memadukan tanaman tradisional dan tanaman hias modern, memperlihatkan keterikatan dengan memori budaya sekaligus adaptasi estetika masa kini. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Sri Rahayu Ningsih. Ikaputra Keempat prinsip ini menunjukkan karakter unik Desa Sesua: lahan yang bertransformasi tanpa menghapus jejak lama, bangunan yang menyesuaikan fungsi tetapi tetap beridentitas lokal, sirkulasi yang memadukan jalur lama dan baru, serta lanskap yang melestarikan alam sekaligus memenuhi kebutuhan modern. Uraian ini menjadi jembatan antara analisis dan temuan faktor, menegaskan bahwa perkembangan Desa Sesua adalah hasil adaptasi yang terus berlangsung. Berikut ini merupakan beberapa temuan pada penelitian ini: a Pola kawasan mempunyai bentuk linear a Desa Sesua mulai dihuni secara tetap oleh lima kelompok utama masyarakat Dayak Bulusu yang membangun rumah panjang di sepanjang Sungai Bengalun. Hunian tersebut menjadi pusat kehidupan bersama yang mencakup aspek tempat tinggal, sosial, dan budaya. Tata letak permukiman mengikuti alur sungai sebagai sumber utama penghidupan. a Bangunan bergeser dari rumah panjang kolektif yang sejajar sungai menjadi rumah pribadi permanen yang tersusun linear mengikuti jalan, mencerminkan peralihan fungsi dan orientasi ruang berbasis keluarga inti. a Sistem sirkulasi berkembang dari ketergantungan penuh pada sungai menuju jaringan jalan darat yang linear dan terstruktur, menghubungkan permukiman dan fasilitas secara lebih Temuan - temuan diatas ditentukan oleh beberapa faktor. Pertama, faktor budaya dan Kekuatan sistem sosial komunal serta nilai-nilai adat Dayak Bulusu mempengaruhi pola awal Dalam perkembangannya, perubahan cara pandang masyarakat terhadap ruang pribadi dan struktur keluarga turut memengaruhi bentuk permukiman. Kedua, adalah faktor kebijakan. Pada masa Orde Baru, kebijakan yang mendorong kepemilikan rumah pribadi mendorong masyarakat untuk beralih dari rumah panjang ke rumah individu, sebagai bagian dari program penertiban dan modernisasi desa. Fator ketiga adalah ekonomi. Pertumbuhan jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan tempat tinggal mendorong pembangunan hunian baru. Kemudian, peluang ekonomi di sepanjang jalan raya menjadi pemicu pemekaran kawasan permukiman ke timur desa. Faktor keempat adalah infrastruktur. Pembangunan jalan baru ke arah perkebunan memicu perkembangan desa ke wilayah utara, sementara keberadaan jalan utama di sisi timur mempercepat akses dan pertumbuhan fasilitas publik serta pemukiman. Faktor terakhir adalah lingkungan dan Kesadaran akan kenyamanan visual dan ruang hijau mendorong warga menata halaman rumah dan lanskap desa secara estetis serta fungsional. KESIMPULAN Transformasi morfologis Desa Sesua mencerminkan proses perubahan spasial yang menyeluruh dan bertahap, dari sistem permukiman komunal berbasis rumah panjang menuju pola permukiman linear yang lebih terstruktur, modern, dan fungsional. Perubahan ini tidak hanya mencakup pergeseran bentuk fisik seperti pola lahan, bangunan, sirkulasi, dan lanskap, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika sosial, ekonomi, aksesibilitas, lingkungan, serta kebijakan pembangunan. Meskipun terjadi modernisasi fisik dan penguatan infrastruktur, proses ini tetap menjaga esensi nilainilai lokal, seperti solidaritas kekerabatan, kolektivitas ruang, dan hubungan harmonis dengan alam. Dengan demikian, transformasi morfologi Desa Sesua dapat dipahami sebagai wujud adaptasi masyarakat terhadap perubahan zaman yang tetap kontekstual dan berakar kuat pada budaya Merujuk pada hasil penelitian yang menunjukkan adanya pergeseran bentuk permukiman serta melemahnya identitas lokal di Desa Sesua, disarankan agar pemerintah desa menyusun kebijakan strategis yang berfokus pada pelestarian dan penguatan identitas lokal. Kebijakan ini dapat mencakup perlindungan terhadap warisan budaya masyarakat Dayak Bulusu, penghidupan kembali narasi sejarah lokal seperti keberadaan rumah panjang, dan permukiman awal desa, serta optimalisasi ruang-ruang publik sebagai wadah pelestarian budaya. Langkah ini penting untuk memastikan nilai-nilai lokal tetap hidup dan menjadi dasar dalam pembangunan desa yang SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transformasi Morfologi Permukiman Desa Sesua . 2 Ae 2. berkelanjutan dan berakar pada kearifan lokal. Dengan demikian, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan tata ruang di Desa Sesua agar tidak melupakan sejarah dan tetap mempertahankan identitas kawasan. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi lebih jauh dimensi sosial dan budaya yang memengaruhi perubahan pola ruang, termasuk bagaimana memori kolektif, adat, serta praktik keseharian masyarakat Dayak Bulusu membentuk identitas lokal. Selain itu, studi lanjutan dapat memperluas cakupan data melalui metode gabungan seperti pemetaan partisipatif, survei spasial, maupun dokumentasi visual agar hasil analisis lebih komprehensif. Penting juga untuk mengaitkan temuan dengan kebijakan tata ruang dan strategi pembangunan berkelanjutan, sehingga penelitian tidak hanya berhenti pada aspek akademik, tetapi juga dapat memberikan kontribusi nyata bagi upaya pelestarian identitas lokal dan perencanaan masa depan Desa Sesua. DAFTAR PUSTAKA Ayudya. , dkk. Memahami perkembangan kota melalui urban morphology. Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan. Universitas Gadjah Mada. https://doi. org/10. 14710/pwk. Branch. Perencanaan kota komprehensif: Pengantar dan penjelasan (Terjemaha. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Utara. https://kaltara. Carmona. Heath. Oc. , & Tiesdell. Public places, urban spaces: The dimensions of urban Routledge. Cowan. The dictionary of urbanism. Streetwise Press. DAoAcci. The mathematics of urban morphology. Springer. https://doi. org/10. 1007/978-3-030-123819 Fadhil. Karakteristik kawasan pusat kota lama Tegal: Identitas kolonial di Jawa (Tesis. Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mad. Yogyakarta. Gordon, . The Cambridge University. https://doi. org/10. 1017/S0963926800006878 Hanson. , & Hillier. The social logic of space. Cambridge: Cambridge University Press. https://doi. org/10. 1017/CBO9780511597237 Kropf. The handbook of urban morphology. Chichester. UK: John Wiley and Sons Ltd. https://doi. org/10. 1002/9781118747711 Litiloly. Studi morfologi kawasan Kotagede di Kota Yogyakarta: Perkembangan pola kawasan Kotagede dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Mandaka. Tipologi dan morfologi kota bersejarah Lasem. Universitas Gadjah Mada. https://doi. org/10. 37631/pendapa. Moudon. Urban morphology as an emerging interdisciplinary field. Urban Morphology, 1. , 3Ae10. https://doi. org/10. 51347/jum. Mutia. Morfologi kota Pekanbaru (Tesis Magister. Arsitektur Universitas Gadjah Mad. Yogyakarta. Oliveira. Urban morphology: An introduction to the study of the physical form of cities. Springer. Pangasih. , dkk. Pergeseran konsep morfologi pada desa Bali Aga: Studi kasus Desa Bayung Gede dan Desa Panglipuran. Universitas Atma Jaya Yogyakarta. https://doi. org/10. 24002/jars. Pigawati. Identifikasi kawasan pendukung perkembangan kota Kalinyamatan Kabupaten Jepara. Universitas Diponegoro (UNDIP). UCAPAN TERIMA KASIH