e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 EKSPLORASI DAN IDENTIFIKASI JAMUR ANTAGONIS ASAL LIMBAH MEDIA JAMUR TIRAM SERTA DALAM MENEKAN KOLONI Fusarium oxysporum PENYEBAB PENYAKIT LAYU FUSARIUM CABAI SECARA IN-VITRO EXPLORATION AND IDENTIFICATION OF ANTAGONISTIC FUNGI FROM OYSTER MUSHROOM MEDIA WASTE AND IN SUPPRESSING Fusarium oxysporum COLONIES THAT CAUSE FUSARIUM WILT DISEASE OF CHILI IN-VITRO Nuraeni1*. Satriyo Restu Adhi1*. Sugiarto1 Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Singaperbangsa Karawang Jl. HS. Ronggo Waluyo. Puseurjaya. Telukjambe Timur. Karawang. Jawa Barat 41361. Indonesia ABSTRAK Fusarium oxysporum tergolong ke dalam patogen tular tanah penyebab penyakit layu fusarium pada tanaman cabai. Salah satu pengendalian yang ramah lingkungan yaitu pengendalian secara biologis. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan isolat jamur asal limbah media jamur tiram yang bersifat antagonistik terhadap Fusarium oxysporum penyebab penyakit layu fusarium cabai. Tahapan penelitian ini: . isolasi dan identifikasi jamur asal limbah media jamur tiram, . uji antagonisme secara in-vitro dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal dengan 11 perlakuan dalam 3 kali ulangan. Hasil penelitian diperoleh 10 isolat jamur antagonis terdiri dari genus Trichoderma sp. dan genus Gliocladium sp. Hasil analisis uji antagonisme secara in-vitro pada uji dual culture memberikan hasil berbeda nyata semua isolat jamur asal limbah media jamur tiram bersifat antagonis terhadap Fusarium oxysporum penyebab penyakit layu fusarium cabai, perlakuan penghambatan terbaik yaitu JTH (Trichoderma sp. dengan nilai AUCGC terkecil 14,59. Kata kunci: Fusarium oxysporum. jamur antagonis limbah media jamur tiram. layu fusarium ABSTRACT Fusarium oxysporum classified as soil-borne pathogen that causes fusarium wilt disease in chili plants. Biological control is one of the environmentally friendly controls. This study aims to obtain fungal isolates from oyster mushroom media waste that are antagonistic to Fusarium oxysporum and are non-pathogenic to chili plants. This research stages: . isolation and identification of fungi from oyster mushroom media waste, . in-vitro antagonism test using a single-factor Completely Randomized Design (RAL) with 11 treatments in 3 replications, . pathogenicity test of antagonistic fungi against chili seed germination using a single-factor Group Randomized Design with 11 treatments in 3 replications. The research results obtained 10 isolates of antagonistic fungi consisting of the genus Trichoderma sp. and the genus Gliocladium sp. Analysis of in-vitro antagonism test results in dual culture tests gave significantly different results all fungal isolates from oyster mushroom media waste are antagonistic to Fusarium oxysporum causing chili fusarium wilt disease, the best inhibitory treatment was JTH (Trichoderma sp. with the smallest AUCGC value 14. Keywords: Fusarium oxysporum. antagonistic fungi oyster mushroom media waste. fusarium wilt -----------------------------------------------------------------*) Penulis Korespondensi. E-mail: aeni89743@gmail. e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 sehingga meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan patogen (Bonanomi et al. Bahan organik yang bisa digunakan yaitu dengan memanfaatkan limbah media jamur tiram. Berdasarkan hasil penelitian Verma et al. dari limbah media tanam jamur . pent mushroom substrate (SMS)) terkandung bahan organik tinggi sebesar 20%. Kandungan C/N rasio limbah jamur tiram 116,29% (Mortada et al. , 2. Bahan organik tinggi dan C/N rasio tinggi menandakan aktivitas mikroorganisme di dalam limbah tersebut tinggi. Telah banyak dilaporkan limbah media jamur konsumsi bisa dimanfaatkan dalam mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh Fusarium sp. berupa layu fusarium pada kacang kapri dan fusarium pada tanaman tomat (Istifadah dan Sianipar, 2. Berdasarkan pada penjelasan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan isolat jamur asal limbah media jamur tiram yang bersifat antagonistik terhadap Fusarium oxysporum dan bersifat non patogenik terhadap tanaman cabai. Pendahuluan Tanaman cabai (Capsicum sp. ) merupakan sejenis buah yang sering digolongkan sebagai komoditas hortikultura dan dapat digunakan sebagai bumbu masakan. Selain sebagai bumbu masak, cabai juga termasuk ke dalam komoditas unggul dan bernilai ekonomis tinggi. Salah satu keunggulan cabai dijadikan bahan baku farmasi dan bahan baku industri pangan (Afriani et al. Produksi tanaman cabai di Indonesia pada tahun 2021 menurun. BPS . mencatat penurunan produksi cabai rawit sebesar 8,09%, penurunan ini pertama kalinya pada 10 tahun Salah satu faktor penurunan tersebut adanya hama atau penyakit seperti jamur patogen, yang akan berdampak pada buah cabai bisa menurunkan kuantitas dan kualitas. Jamur patogen yang menyerang tanaman cabai salah satunya yaitu Fusarium oxysporum. Fusarium oxysporum tergolong ke dalam patogen tular tanah yang bisa menyebabkan penyakit pada tanaman cabai berupa layu fusarium, dampaknya terhadap penurunan produksi cabai. Budidaya tanaman cabai tidak tergantung pada musim tertentu, artinya tanaman cabai bisa ditanam pada musim kapan pun (Sitompul et al. , 2. Akan tetapi penanaman di musim hujan akan menimbulkan risiko kerugian dan gagal panen cukup besar mencapai 50% karena Fusarium oxysporum menyerang tanaman dari masa vegetatif sampai generatif (Afriani et , 2. Pengendalian yang biasa dilakukan oleh para petani salah satunya menggunakan pestisida kimia sintetis, akan tetapi upaya pengendalian tersebut akan mengakibatkan dampak yang buruk terhadap lingkungan. Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini dengan melakukan pengendalian secara hayati dengan memanfaatkan mikroorganisme jamur antagonis (Agustinur et , 2. Pengendalian secara hayati tentunya sangat ramah lingkungan, pemanfaatan bahan organik dapat digunakan dalam pengendalian penyakit pada tanaman (Yusidah dan Istifadah. Karena bahan organik mengandung mikroorganisme yang memiliki sifat antagonistik terhadap patogen dan inkubasi resistensi pada tanaman, maka bahan organik tersebut dapat digunakan untuk menekan penyakit tanaman. Bahan organik memiliki kemampuan untuk menekan penyakit pada tanaman disebabkan dari mekanisme terdiri dari senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh mikroba yang terdapat pada kandungan bahan organik tersebut. Metode Penelitian Pelaksanaan antagonisme secara in-vitro dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang. Pengambilan Sampel Limbah Media Jamur Tiram Sampel media limbah jamur tiram diambil dari produsen jamur konsumsi berkah jamur tiram 17, yang berlokasi di Kp. Sukasari. Ds. Karangjaya. Kec. Tirtamulya. Kab. Karawang. Jawa Barat. Pengambilan sampel diambil secara acak dari beberapa titik kumbung . tas, bawah, tengah, kiri dan kana. Sampel yang diambil merupakan limbah baglog media jamur tiram yang sudah tidak terpakai lagi. Masing-masing titik diambil sebanyak A 10 gram. Isolasi dan Purifikasi Masing-masing sampel limbah media jamur tiram yang telah diambil dari beberapa titik digabungkan kemudian diaduk sampai tercampur merata dan di isolasi. Proses isolasi yang dilakukan dalam pengenceran menggunakan pengenceran bertingkat, untuk isolasi jamur menggunakan pengenceran 10-1 sampai 10-5. Langkah pertama mengambil 10 gram sampel limbah yang sudah tercampur merata lalu disuspensikan ke dalam 90 ml akuades steril e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 kemudian di kocok dalam waktu 15 menit dengan menggunakan vortex, selanjutnya suspensi diambil 1 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang sudah berisi 9 ml akuades steril . engenceran tahap I atau 10-. , dan di ulang pengenceran yang sama sampai 10-5 dengan perbandingan yang digunakan yaitu 1:9. (Sutari. Hasil dari masing-masing pengenceran diambil sebanyak 1 ml lalu dituangkan ke dalam cawan Petri yang sudah steril menggunakan pipet steril secara aseptik, selanjutnya dituangkan media Potato Dextrose Agar (PDA) yang telah ditambahkan anti bakteri atau chloramphenicol ke dalam cawan Petri tersebut, kemudian cawan petri yang berisi media PDA dan suspensi digoyangkan agar suspensi limbah media jamur tiram merata pada media PDA, lalu di inkubasi dengan suhu kamar selama 7 hari (Ristiari et al. , 2. Nantinya akan diperoleh kultur campuran sehingga dilakukannya pemurnian dengan mempurifikasi atau memindahkan setiap koloni jamur asal limbah media jamur tiram hasil isolasi yang memiliki karakteristik berbeda berdasarkan morfologi bentuk dan warna setiap koloni yang terlihat secara makroskopis. Koloni jamur yang terlihat berbeda lalu di ambil kemudian diletakkan ke dalam petri dish yang sudah diisi media PDA steril kemudian n di inkubasi selama 7 hari. isolat jamur antagonis asal limbah media jamur tiram secara bersamaan dalam media dengan isolat Fusarium oxysporum dengan posisi yang berlawanan pada jarak 3 cm di dalam cawan Petri berukuran diameter 9 cm yang berisi media PDA yang telah diberi anti bakteri . , sedangkan untuk perlakuan kontrol hanya Fusarium oxysporum pada media PDA tanpa adanya inokulasi isolat jamur antagonis limbah media jamur tiram. Kemudian di inkubasi pada suhu kamar sampai dengan patogen tumbuh memenuhi cawan Petri. Percobaan pada uji antagonisme secara invitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal dengan 11 perlakuan dan diulang 3 kali. Perlakuan berupa isolat jamur terseleksi dengan jamur patogen dan ditambahkan satu perlakuan kontrol . anpa isolat jamur Data yang diperoleh kemudian dilakukan perihitung Area Under Colony Growth Curve (AUCGC) untuk mengetahui jumlah pertumbuhan miselia dengan rumus: ycuOe1 ycU ycU 1 ycn ycn AUCGC = Oc )} . cycn 1 Oe ycycn ) ycn Keterangan: = Diameter koloni pada saati Yi 1 = Diameter koloni pada saati 1 = Beda waktu antar pengamatan Identifikasi Jamur Antagonis Identifikasi dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Pengamatan secara makroskopis dilakukan dengan melihat bentuk dan warna isolat Selanjutnya dilakukan pengamatan secara Pengamatan secara mikroskopis dilakukan dengan menumbuhkan isolat pada water agar di atas object glass selama tujuh hari, kemudian diamati menggunakan mikroskop binokuler dengan perbesaran 400X. Menurut Sinaga et al. pengamatan mikroskopis diamati dengan melihat ada atau tidak septate pada hifa, ukuran dan bentuk konidifor dan konidia. Identifikasi morfologi dari koloni jamur antagonis asal limbah media jamur tiram dan hasil pengamatan secara mikroskopis kemudian dibandingkan dengan bantuan kunci buku Illustrated Genera of Imperfect Fungi karangan Barnett and Hunter . Analisis Data Data pengamatan dari hasil uji antagonisme secara in-vitro dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji F pada taraf 5% tujuannya agar mengetahui pengaruh tingkat perlakuan yang telah diberikan tersebut berbeda nyata atau tidak. Jika data yang dihasilkan berbeda nyata . maka dilakukan uji lanjut DMRT pada taraf 5%. Hasil dan Pembahasan Identifikasi Jamur Antagonis Berdasarkan hasil isolasi dan purifikasi diperoleh 10 isolat jamur asal limbah media jamur tiram, yang terdiri 8 isolat termasuk ke dalam genus Trichoderma sp. dan 2 isolat dari genus Gliocladium sp (Tabel . Uji Antagonisme secara In-vitro Proses pengujian antagonisme secara invitro menggunakan metode dual culture, untuk cara pengujian nya dengan meletakan inokulum e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 Tabel 1. Hasil isolasi dan purifikasi jamur asal limbah media jamur tiram Kode Genus Gliocladium sp. JTA Trichoderma sp. JTB Gliocladium sp. JTC Trichoderma sp. JTD Trichoderma sp. JTE Trichoderma sp. JTF Trichoderma sp. JTG Trichoderma sp. JTH Trichoderma sp. JTI Trichoderma sp. JTJ Trichoderma sp. Gliocladium sp. secara mikroskopis pada buku Barnett & Hunter . , memiliki konidifor hialin dan bercabang, konidia hialin dan bersel satu diproduksi berturut-turut secara apikal dan terkumpul dalam tetesan mucilaginous. Uji Antagonisme secara In-vitro Pengamatan pertumbuhan koloni Fusarium oxysporum yang telah diberikan perlakuan jamur asal limbah media jamur tiram dilakukan setiap hari sampai hari ketujuh. Berdasarkan hasil uji statistik hasil pengamatan area di bawah kurva pertumbuhan koloni atau Area Under Colony Growth (AUCGC) yang tersaji pada Tabel 2, menunjukkan hasil tingkat pertumbuhan koloni Fusarium Tabel 2. Rata-rata nilai AUCGC Perlakuan AUCGC Jamur antagonis Patogen K (Kontro. oxysporum 26,46 d JTA Gliocladium sp. 1 F. oxysporum 17,92 bc JTB Trichoderma sp. 1 F. oxysporum 15,14 abc JTC Gliocladium sp. 1 F. oxysporum 17,85 bc JTD Trichoderma sp. 2 F. oxysporum 18,19 c JTE Trichoderma sp. 3 F. oxysporum 18,00 bc JTF Trichoderma sp. 4 F. oxysporum 17,81 bc JTG Trichoderma sp. 5 F. oxysporum 14,91 ab JTH Trichoderma sp. 6 F. oxysporum 14,59 a JTI Trichoderma sp. 7 F. oxysporum 17,57 abc JTJ Trichoderma sp. 8 F. oxysporum 16,76 abc Keterangan: Nilai AUCGC yang dinotasikan dengan huruf yang sama pada menunjukkan bahwa perlakuan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji Lanjut DMRT taraf 5% Gliocladium sp. Gambar 1. Karakteristik secara makroskopis Trichoderma sp. Gliocladium sp. Gambar 2. Karakteristik secara mikroskopis Karakteristik genus Trichoderma sp. pengamatan makroskopis memperlihatkan koloni berwarna hijau keabuan, hijau kekuningan, hijau dan hijau tua. Miselium berwarna putih dan hijau dengan permukaan halus seperti kapas tipis, penyebaran merata sebagian isolat ada yang berongga dan ada yang tidak berongga. Beberapa isolat Trichoderma sp. mengeluarkan pigmen coklat kemerahan pada PDA. Sedangkan secara mikroskopis pada buku Barnett & Hunter . , memiliki konidifor bercabang, konidia hialin, bulat telur dan bersel satu. Karakteristik genus Gliocladium sp. pengamatan makroskopis memperlihatkan koloni berwarna hijau keabuan, hijau dengan permukaan halus seperti kapas tipis dan penyebaran merata, teratur serta berongga. Sedangkan genus Hasil AUCGC perlakuan kontrol menunjukkan nilai AUCGC tertinggi dan signifikan . erbeda nyat. terhadap perlakuan Tingginya nilai AUCGC pada kontrol dapat terjadi karena isolat Fusarium oxysporum tidak diberikan perlakuan jamur antagonis. Fusarium oxysporum memiliki diameter paling besar dari perlakuan lainnya dikarenakan tidak ada yang Nilai AUCGC yang terendah yaitu pada perlakuan JTH (Trichoderma sp. Hal ini menunjukkan isolat jamur asal limbah media jamur tiram Trichoderma sp. 6 memiliki pengaruh paling tinggi pada pertumbuhan patogen e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 Fusarium oxysporum. Sedangkan nilai AUCGC yang mendekati nilai kontrol yaitu pada perlakuan JTD (Trichoderma sp. , menandakan bahwa isolat jamur asal limbah media jamur tiram Trichoderma sp. 2 memberikan pengaruh yang lebih kecil dibandingkan perlakuan jamur asal limbah media jamur tiram yang lain terhadap pertumbuhan Fusarium oxysporum patogen. Semakin tinggi nilai AUCGC maka semakin rendah daya hambat jamur antagonis dalam menghambat pertumbuhan koloni Fusarium oxysporum, apabila semakin rendah nilai AUCGC maka semakin tinggi nilai penghambatan dari jamur antagonis sehingga pertumbuhan koloni jamur Fusarium oxysporum patogen semakin Perbedaan nilai AUCGC antara perlakuan jamur Trichoderma isolat JTH (Trichoderma sp. dan JTD (Trichoderma sp. diduga karena adanya kemampuan penghambatan yang berbeda dari setiap perlakuan. Meskipun keduanya dari genus yang sama akan tetapi hasil yang diberikan berbeda hal ini diduga adanya perbedaan spesies dari masing-masing isolat. Hal ini sejalan dengan penelitian Rizali & Sari . , hasil data penghambatan yang berbeda pada setiap spesies Trichoderma sp. hal ini bisa terjadi disebabkan adanya perbedaan morfologi, lingkungan hidup, dan perbedaan genetik yang mengakibatkan respons dari setiap spesies bahkan setiap ulangan yang menunjukkan penghambatan yang berbeda, hal ini disebabkan fisiologi dan morfologi nya Menurut Ainy et al. Trichoderma dalam menghambat patogen bukan hanya melalui mekanisme dalam kompetisi merebutkan nutrisi dan tempat tumbuh . ompetisi ruan. saja, tetapi Trichoderma sp. dalam menekan pertumbuhan patogen mempunyai sifat antibiosis. Antibiosis ini terjadi melewati mekanisme antibiotik, senyawa antibiotik seperti trichodermin, trichodermol, tricotoxin, harzianum A dan harzionolidia. Hal ini seperti yang dikemukakan Jyoti & Singh . setiap jamur dapat melepaskan satu atau lebih senyawa metabolit sekunder yang akan berkaitan dengan proses antibiosis, perubahan morfologi dan dengan fase pertumbuhan jamur. Perbedaan nilai AUCGC antara genus Trichoderma sp. dengan Gliocladium sp. (Tabel . terjadinya sebuah perbedaan disebabkan adanya perbedaan jenis jamur antagonis, karena setiap jamur memiliki aktivitas dalam menekan pertumbuhan patogen, aktivitas yang terjadi karena adanya mikro parasitisme, antibiosis, kompetisi nutrisi dan kompetisi ruang . empat (Ali & Samosir, 2. Kesimpulan Sepuluh isolat jamur asal limbah media jamur tiram semua isolat genus Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. pada uji antagonisme secara in-vitro pada uji dual culture memberikan hasil berbeda nyata semua isolat bersifat antagonis terhadap Fusarium oxysporum penyebab penyakit layu fusarium cabai. Perlakuan JTH (Trichoderma . terhadap Fusarium oxysporum pada uji antagonisme merupakan perlakuan terbaik dengan nilai Area Under Colony Growth Curve (AUCGC) terkecil 14,59. Daftar Pustaka