NUSANTARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 Nomor 3. Agustus 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 87-96 DOI: https://doi. org/10. 55606/nusantara. Available online at: https://prin. id/index. php/nusantara Penerapan Teknik Non-Linear Editing dalam Pembuatan Film Dokumenter AuApocalyptic TidesAy Application of Non-Linear Editing Technique in the Making of Documentary Film AuApocalyptic TidesAy Yabes Yedija Wesley1*. Dimas Althalaric Mohammad Sultan2. Toto Sugito3. Aat Ruchiat Nugraha4 1,2,3,4 Universitas Padjadjaran. Indonesia Alamat : Jalan Raya Bandung Sumedang KM 21 Jatinangor Korespondensi penulis : yabes21001@mail. Article History: Received: April 12, 2025. Revised: Mei 25, 2025. Accepted: Juni 22, 2025. Online Available: Juni 25, 2025 Keywords: Apocalyptic Tides, documentary, ecological awareness, non-linear editing, trash Abstract: The problem of waste dumping on Bali coast must be regarded as an ecological crisis which proves to be unseen under many perspectives. The article is about the making of a documentary film Apocalyptic Tides as an advocacy and educational tool bringing up this issue by means of the expository documentary style with highlights of poetry and performance elements in play. The method of field observation, semi-structured interviews with activist and scholars and visual documentation are also used in the research, followed by analysis and compiling of information with the help of non-linear editing tools by using Adobe Premiere Pro software. The film is set on a thematic narrative that shows the process of the waste as it goes upstream to downstream and how it affects the ecology and thoughts on the ecological consciousness. Techniques of non-linear editing were applied to organize the footage according to emotional echo and the schemes of meaning instead of the chronological order, thus creating an intellectually stimulating and reflective storyline. Apocalyptic Tides proves the power of documentary film to bridge the gap between art, science, and advocacy in case of creating the ecology-minded population. Abstrak Masalah pembuangan sampah di pesisir Bali harus dilihat sebagai krisis ekologi yang tidak dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Artikel ini membahas tentang pembuatan film dokumenter Apocalyptic Tides sebagai alat advokasi dan edukasi yang mengangkat isu ini dengan gaya dokumenter ekspositoris dengan menonjolkan unsur puisi dan pertunjukan. Metode observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur dengan para aktivis dan akademisi serta dokumentasi visual juga digunakan dalam penelitian ini, diikuti dengan analisis dan penyusunan informasi dengan bantuan alat editing non-linear dengan menggunakan perangkat lunak Adobe Premiere Pro. Film ini dibuat dengan narasi tematik yang menunjukkan proses sampah dari hulu ke hilir dan bagaimana dampaknya terhadap ekologi serta pemikiran-pemikiran mengenai kesadaran ekologis. Teknik penyuntingan non-linear diterapkan untuk mengatur footage sesuai dengan gema emosional dan skema makna, bukan urutan kronologis, sehingga menciptakan alur cerita yang merangsang secara intelektual dan reflektif. Apocalyptic Tides membuktikan kekuatan film dokumenter untuk menjembatani kesenjangan antara seni, ilmu pengetahuan, dan advokasi dalam hal menciptakan masyarakat yang berwawasan ekologi. Kata Kunci: Apocalyptic Tides, dokumenter, sampah, non-linear editing, kesadaran ekologis PENDAHULUAN Permasalahan sampah merupakan isu lingkungan yang kompleks dan multidimensional di Indonesia, terutama di wilayah pesisir yang menjadi titik akhir akumulasi limbah dari berbagai wilayah daratan. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Penerapan Teknik Non-Linear Editing dalam Pembuatan Film Dokumenter AuApocalyptic TidesAy (KLHK) tahun 2021. Indonesia memproduksi lebih dari 68 juta ton sampah per tahun, dengan sekitar 3,2 juta ton di antaranya berakhir di lautan. Fenomena ini diperparah oleh sistem pengelolaan sampah yang belum optimal, terbatasnya infrastruktur daur ulang, serta minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemilahan dan pembuangan sampah secara bertanggung jawab (Sholihah 2. Kondisi serupa terjadi di Bali, salah satu destinasi wisata utama dunia yang kini menghadapi tantangan ekologis dalam bentuk sampah kiriman, yaitu sampah yang terbawa oleh arus laut dan angin musiman dari wilayah hulu dan terdampar di garis pantai. Fenomena ini biasanya meningkat intensitasnya saat angin barat bertiup (DesemberAeMare. , membawa limbah domestik, industri, dan sampah plastik sekali pakai dari berbagai daerah, lalu menumpuk di pesisir seperti Pantai Kedonganan dan Kuta (Marbun et al. Tidak hanya merusak estetika kawasan wisata, kondisi ini juga mengancam ekosistem pesisir dan kesehatan masyarakat sekitar (Jambeck et al. Subjek utama dalam kegiatan ini adalah masyarakat pesisir dan komunitas lingkungan yang terdampak langsung oleh fenomena sampah kiriman. Komunitas-komunitas ini memiliki keterlibatan yang signifikan dalam menjaga kebersihan pantai melalui aksi kolektif, namun masih menghadapi keterbatasan dalam hal akses informasi, edukasi lingkungan, dan media komunikasi yang efektif. Rendahnya tingkat literasi ekologis masyarakat serta minimnya upaya komunikasi lingkungan yang kreatif memperburuk situasi (Cordova et al. Oleh karena itu, pendekatan berbasis media visual menjadi alternatif strategis dalam menyampaikan pesan lingkungan secara afektif dan reflektif. Film dokumenter sebagai media komunikasi memiliki potensi besar untuk membangun kesadaran ekologis masyarakat. Menurut Nichols . , dokumenter ekspositori mampu menyampaikan pesan dengan otoritas argumentatif yang kuat melalui narasi dan struktur yang Sementara pendekatan puitis dan performatif dalam dokumenter modern memungkinkan penonton mengalami isu yang disampaikan tidak hanya secara kognitif, tetapi juga secara emosional (Magriyanti and Rasminto 2020. Plantinga 2. Pendekatan ini relevan untuk mengangkat isu kompleks seperti krisis sampah laut, yang membutuhkan sentuhan visual dan naratif yang kuat agar mampu menyentuh kesadaran publik secara lebih Dalam konteks ini, dokumenter Apocalyptic Tides dikembangkan sebagai sebuah proyek produksi audio-visual yang bertujuan untuk mengadvokasi isu sampah kiriman di pesisir Bali. Dokumenter ini tidak hanya merupakan karya penciptaan film, tetapi juga sebuah bentuk aksi pengabdian masyarakat yang mengintegrasikan riset lapangan, partisipasi NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 87-96 komunitas, dan strategi komunikasi lingkungan berbasis teknik non-linear editing. Dengan durasi 13 menit, film ini menggabungkan footage lapangan, wawancara dengan aktivis lingkungan dan akademisi, serta narasi visual yang membentuk alur tematik dari hulu hingga hilir permasalahan. Kegiatan ini diarahkan untuk menciptakan perubahan sosial berupa peningkatan kesadaran masyarakat terhadap dampak jangka panjang dari pencemaran pesisir, penguatan kapasitas komunitas lokal dalam menyuarakan isu lingkungan, serta penyediaan media advokasi yang dapat digunakan oleh organisasi lingkungan untuk kampanye publik. Tujuan jangka panjangnya adalah membangun narasi ekologis berbasis lokal yang memiliki daya jangkau luas secara emosional dan visual, sekaligus memperkenalkan praktik produksi media sebagai sarana pemberdayaan dan transformasi sosial. METODE Pembuatan film dokumenter Apocalyptic Tides dilaksanakan sebagai tugas akhir dalam Program Studi Manajemen Produksi Media, dengan pendekatan berbasis riset lapangan yang Proses ini menempuh observasi mendalam ke wilayah pesisir Bali khususnya Pantai Kedonganan dan Kuta yang selama musim angin barat kerap terdampak intens oleh sampah kiriman akibat arus laut. Pendekatan ini mengacu pada model community-based participatory research (CBPR) yang menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam seluruh fase produksi, tidak sekadar sebagai objek, tetapi sebagai mitra naratif dan data kolektif. Meskipun tidak masuk dalam kategori pengabdian masyarakat resmi, proyek dokumenter ini mengadopsi elemen participatory video, di mana pembuat film melibatkan komunitas pesisir dan aktivis lingkungan dalam proses signifikan seperti pengambilan gambar, pemilihan pesan visual, dan refleksi naratif. Pendekatan ini semakin diperkuat oleh literatur seperti Mohabeer . , yang menyatakan bahwa participatory video berperan dalam Autransforming relationships, perceptions, and empowering marginalized voicesAy (Mohabeer Kontribusi pihak-pihak seperti relawan Trash Hero dan Sungai Watch serta akademisi dari Universitas Udayana sangat penting dalam memperkuat kekayaan data lapangan dan Trash Hero, misalnya, telah mendokumentasikan inisiatif pembersihan pantai secara reguler yang bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga mengelevasi kesadaran lingkungan masyarakat lokal . Sementara itu, keterlibatan akademisi memberikan validitas ilmiah melalui delapan prinsip CBPR seperti keadilan kolaboratif dan penghargaan terhadap pengetahuan Penerapan Teknik Non-Linear Editing dalam Pembuatan Film Dokumenter AuApocalyptic TidesAy Dengan demikian. Apocalyptic Tides bukan hanya memenuhi syarat tugas akademik, tetapi juga menerapkan tahapan riset rigors yang mirip dengan metode penelitian berbasis Pendekatan ini mencerminkan pandangan Burns. Kwan, and Walsh . bahwa dokumenter berbasis CBPR mampu menciptakan Auco-produced knowledgeAy yang digawangi oleh komunitas dan bukan semata gagasan dari peneliti saja. Proses perencanaan dokumenter diawali dengan observasi langsung dan studi literatur terkait isu pencemaran laut dan pengelolaan sampah di Bali. Temuan lapangan digunakan untuk merumuskan pesan utama film dan menyusun struktur narasi. Penyusunan narasi dilakukan secara tematik, bukan kronologis, untuk membangun keterikatan emosional yang lebih kuat dengan penonton. Dokumenter ini dirancang menggunakan pendekatan ekspositori yang menekankan pada penyampaian data dan fakta secara sistematis, namun dipadukan pula dengan elemen puitis dan performatif untuk menciptakan pengalaman visual yang reflektif dan Pengumpulan data dilakukan menggunakan kamera DSLR dan mirrorless untuk dokumentasi visual, serta perekam audio eksternal untuk menangkap wawancara dan ambient Catatan lapangan dan log sheet juga digunakan untuk mencatat konteks pengambilan gambar serta menyusun struktur penyuntingan. Seluruh materi audiovisual dikumpulkan melalui pendekatan partisipatif, di mana penulis sebagai pembuat film terlibat langsung dalam proses interaksi sosial dan kegiatan komunitas di lapangan. Tahapan produksi dokumenter ini meliputi lima fase utama, yaitu: riset dan observasi awal, pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi lapangan, penyusunan narasi dan storyboard, proses produksi audio-visual, serta tahap penyuntingan dan finalisasi karya. Proses editing dilakukan dengan pendekatan non-linear editing menggunakan perangkat lunak Adobe Premiere Pro. Teknik ini dipilih karena memungkinkan fleksibilitas dalam menyusun footage berdasarkan resonansi tematik dan intensitas emosional, bukan berdasarkan urutan waktu kejadian. Proses penyuntingan meliputi pemilihan footage utama, penyusunan alur visual, penambahan narasi suara . oice-ove. , mixing audio, serta color grading untuk membangun atmosfer visual yang mendukung narasi. Keseluruhan metode yang digunakan dalam produksi ini bertujuan menciptakan karya dokumenter yang tidak hanya menyampaikan informasi secara faktual, tetapi juga menggugah kesadaran ekologis melalui pendekatan sinematik yang komunikatif dan afektif. NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 87-96 HASIL Proses penciptaan film dokumenter Apocalyptic Tides menghasilkan sebuah karya audio-visual berdurasi 13 menit yang secara kritis menyoroti fenomena sampah kiriman di wilayah pesisir Bali. Dokumenter ini tidak hanya menjadi hasil akhir dari proses teknis produksi, tetapi juga menjadi medium eksplorasi sosial yang melibatkan observasi langsung, wawancara mendalam, dan interaksi intensif dengan berbagai elemen masyarakat di lokasi Melalui proses ini, penulis tidak hanya mengumpulkan visual dan narasi untuk membangun struktur film, tetapi juga memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai dinamika masyarakat pesisir dalam menghadapi krisis lingkungan. Selama proses produksi, berbagai respons masyarakat terhadap isu sampah kiriman mulai terungkap. Di satu sisi, terdapat kelompok masyarakat dan relawan yang menunjukkan tingkat kepedulian tinggi terhadap kebersihan lingkungan pesisir. Mereka terlibat secara aktif dalam kegiatan pembersihan pantai, menyuarakan pentingnya pengelolaan limbah, dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai bagian dari rutinitas sosial. Keikutsertaan komunitas seperti Trash Hero dan Sungai Watch juga memperlihatkan bahwa ada inisiatif akar rumput yang cukup kuat dalam mendorong aksi nyata di lapangan. Namun di sisi lain, penulis juga menemukan bahwa kesadaran ekologis di sebagian kalangan masyarakat masih sangat terbatas. Sampah kiriman yang menumpuk di pesisir kerap dianggap sebagai hal musiman yang wajar dan tidak membutuhkan penanganan serius. Pandangan ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam pemahaman akan dampak jangka panjang dari persoalan sampah, serta lemahnya keterhubungan antara perilaku individu dan kerusakan lingkungan secara sistemik. Temuan ini menjadi salah satu refleksi penting dalam dokumenter, bahwa perubahan sosial memerlukan lebih dari sekadar kampanye sesaat melainkan keterlibatan berkelanjutan yang terbangun dari kesadaran kolektif. Situasi di lapangan yang kompleks ini menjadi elemen naratif penting dalam film. Tidak hanya menggambarkan realitas visual. Apocalyptic Tides juga berusaha menangkap spektrum respons sosial yang beragam terhadap persoalan lingkungan. Kombinasi antara rekaman visual, testimoni warga, dan keterlibatan pembuat film dalam proses dokumentasi membentuk dimensi yang lebih dalam dari sekadar penyajian fakta. Dokumenter ini, pada akhirnya, menjadi cermin dari bagaimana masyarakat menghadapi kenyataan ekologis yang sering kali diabaikan, sekaligus menawarkan ruang refleksi bagi audiens untuk menilai peran mereka dalam rantai persoalan tersebut. Salah satu hasil penting dari proses produksi ini adalah munculnya penguatan narasi kolektif dari komunitas lokal. Melalui wawancara yang direkam dan ditampilkan dalam film. Penerapan Teknik Non-Linear Editing dalam Pembuatan Film Dokumenter AuApocalyptic TidesAy masyarakat dan relawan berkesempatan menyuarakan pandangan mereka terhadap penyebab dan dampak sampah kiriman. Hal ini menjadi bagian dari upaya menyusun ulang representasi masyarakat sebagai pihak yang tidak hanya menjadi korban, tetapi juga pelaku perubahan. Film ini tidak sekadar menampilkan visual lingkungan yang tercemar, tetapi juga menangkap semangat gerakan sosial yang tengah dibangun melalui aksi bersih-bersih, edukasi lingkungan, dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Dalam konteks ini, proses dokumentasi turut memfasilitasi terbentuknya kesadaran bersama akan pentingnya keterlibatan aktif semua elemen masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir. Selain dampak sosial, hasil dari penerapan teknik non-linear editing yang digunakan dalam proses penyuntingan turut memberikan kontribusi signifikan terhadap kekuatan naratif Dengan menyusun adegan berdasarkan intensitas tematik dan emosional, bukan urutan kronologis, film mampu menghadirkan alur cerita yang dinamis dan menggugah. Struktur ini terbukti efektif dalam membangun empati penonton, terutama pada bagian pembukaan film yang langsung menampilkan pantai penuh sampah tanpa penjelasan rasional. Pendekatan ini mendorong penonton untuk terlibat secara afektif terlebih dahulu sebelum menerima informasi faktual, sehingga pesan yang disampaikan dapat tertanam lebih dalam. Visual lanskap pantai yang kontras dengan tumpukan limbah, suara ambient yang sunyi, serta narasi puitis yang disampaikan dengan tone reflektif menjadi elemen utama yang memperkuat dampak emosional Dalam proses penciptaan ini, penulis sebagai editor juga memperoleh peningkatan kapasitas teknis dan estetis dalam mengelola materi audio-visual, menyusun ritme visual, serta membentuk pengalaman menonton yang koheren dan bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa proses produksi dokumenter tidak hanya menghasilkan karya akhir, tetapi juga memberikan nilai tambah dalam bentuk pengembangan keterampilan kreatif dan pemahaman mendalam terhadap isu sosial yang diangkat. Secara keseluruhan, hasil yang dicapai dari proses ini mencerminkan bahwa film dokumenter dapat berfungsi sebagai jembatan antara realitas sosial dan kesadaran kolektif, serta menjadi sarana komunikasi strategis yang efektif dalam menyampaikan isu-isu ekologis secara lebih manusiawi dan berdampak. DISKUSI