https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 Pengaruh Religiusitas dan Regulasi Emosi Terhadap Kesejahteraan Psikologis Guru Tiara Intan Mulia1. Arie Rihardini Sundari2 Fakultas Psikologi. Universitas Persada Indonesia Y. I1,2 E-mail : tiaraaintn@gmail. com1, arie. rihardini@upi-yai. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh religiusitas dan regulasi emosi terhadap kesejahteraan psikologis guru. Populasi penelitian ini berjumlah 99 orang guru di SD Negeri regrouping wilayah Utan Kayu Selatan. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 58 orang guru dengan menggunakan teknik cluster random Dalam penelitian ini kesejahteraan psikologis sebagai dependent variable, religiusitas dan regulasi emosi sebagai independent variable. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kesejahteraan psikologis, skala kesejahteraan religiusitas, dan skala regulasi emosi dengan model skala Likert. Pengolahan data dalam penelitian ini mempergunakan software JASP 0. 0 for Windows. Berdasarkan analisis data, didapatkan kesimpulan bahwa religiusitas dan regulasi emosi berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis guru. Kontribusi religiusitas dan regulasi emosi terhadap kesejahteraan psikologis, secara simultan, yaitu sebesar 37. 9% dan sebesar 62. 1% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Kata kunci : Kesejahteraan Psikologis. Religiusitas. Regulasi Emosi. Guru. Regrouping ABSTRACT This study aims to examine the influence of religiousity on psychological well-being of teachers at SDN regrouping in the South Utan Kayu Region, mediated by emotional regulation. The population of this study amounted to 99 teachers and the sample in this study was 58 teachers using the cluster random sampling technique. In this research, dependent variable is psychological wellbeing, and independent variable are religiosity and emotional regulation. The data collection method used a likert scale model, namely the psychological well-being scale, the religiosity scale, and the emotional regulation scale. The study processes data using JASP version 0. 0 for Windows. The contribution of religiosity and emotional regulation to psychological well-being is 9% and 62. 1% is influenced by other factors not examined in this study. Keyword : Psychological Well-being. Religioosity. Emotional Regulation. Teachers. Regrouping Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 4 No 1 Maret 2024 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 PENDAHULUAN Kebijakan penggabungan sekolah, diatur melalui peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 105 Tahun 2012. Pada dasarnya kebijakan ini diciptakan dengan tujuan mengakibatkan konflik antar individu, tingkat stress yang tinggi, penurunan motivasi, kecemasan berlebih, krisis perasaan sensitif, dan emosi yang tidak teratur, (Ardiansyah, dkk, 2. Sementara, untuk dapat optimal dalam menghadapi tantangan dalam kegiatan belajar dan mengajar, sangat penting bagi guru untuk merasa bahagia dan sejahtera secara psikologis dengan berbagai cara yang personal, (Ghaybiyyah & Mahpur. Kesejahteraan psikologis guru dapat mencegah kelelahan, mengatasi stres, dan mengefektifkan pengelolaan kelas atau kegiatan belajar mengajar, (Nataraj & Reddy, 2. Faktor-faktor psikologis seseorang diantaranya usia, jenis kelamin, kepribadian, pendapatan, pendidikan dan status perkawinan (Ryff dan Keyes, 1995. Diener, 2. , budaya dan dukungan sosial . alam Rahayu, 2. , religiusitas (Ellison dan Levin, 1. , stress (Heizomi, dkk, 2. Oleh karenanya penting untuk meneliti kesejahteraan psikologis guru SDN Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh religiusitas dan regulasi emosi terhadap kesejahteraan psikologis guru. Berdasarkan hasil pengamatan penulis di SDN Utan Kayu Selatan 01 . alah satu dari lima SDN yang mendapat kebijakan regrouping di wilayah Utan Kayu Selata. sejak Februari hingga Juli penggabungan sekolah memberikan sejumlah perubahan pada sistem kerja, lingkungan kerja, serta tekanan dan https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. beban kerja yang meningkat bagi guru. Ditambah, hal ini terjadi pada saat peningkatan akreditasi sekolah dan menerapkan kegiatan tatap muka di era new-normal rombongan belajar yang dibagi menjadi 3 sesi, oleh karena kurangnya fasilitas Hal ini juga diikuti dengan keadaan pada ruang guru yang terbilang sempit untuk menampung semua guru, sehingga membuat guru merasa tidak nyaman, hubungan antara guru juga belum harmonis karena kurang terjalin komunikasi yang baik antar guru yang seringkali menyebabkan terjadinya permasalahan yang cukup kompleks. Kurangnya fasilitas ruang kelas juga membuat guru menjadi kurang optimal dalam belajar dan mengajar karena waktu yang terbatas. Selain itu, adanya beban kerja yang lebih bagi guru yang dipilih untuk memegang dua jabatan . ebagai guru dan pembantu kepala sekola. , dan terdapat pula satu guru yang berstatus sebagai guru honorer murni, dimana gaji yang diterima guru tersebut rendah namun tugas pokok yang dimilikinya sama dengan guru lainnya. Dampak tersebut diduga menjadi penyebab kelelahan psikologis yang dirasakan oleh guru, sehingga membuat guru kurang merasa bahagia di sekolah maupun Namun, wawancara yang dilakukan oleh penulis dengan 4 orang guru dari sekolah yang berbeda, mendapatkan hasil bahwa, terdapat guru yang belum menerima dirinya secara utuh, terkadang masih menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah terjadi. Terdapat guru yang masih bergantung pada orang lain, dan adanya Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 4 No 1 Maret 2024 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. permasalahan hubungan interpersonal dengan rekan kerja yang baru. Kurangnya kesejahteraan psikologis juga disebabkan oleh permasalahan finansial bagi guru yang berstatus honorer murni, adanya beban kerja, tekanan dari atasan menyebabkan stress kerja, serta adanya dua peranan pada guru perempuan yang menjadi seorang ibu dengan anak balita yang menyebabkan terkadang merasa kelelahan fisik dan psikologis. Berdasarkan hasil wawancara, penulis menduga bahwa tingkat mempengaruhi kesejahteraan psikologis pada guru SDN regrouping di Utan Kayu Selatan. Dalam hal ini, tingkat religiusitas guru memberikan harapan dan makna hidup yang lebih tinggi. Adanya makna hidup yang jelas dan transenden dapat memberikan kepuasan, motivasi, dan orientasi dalam kehidupan sehari-hari landasan psikologis yang kuat dalam menghadapi tantangan hidup dan mengatasi kesulitan. Ancok dan Suroso . 1, p. menyatakan bahwa keberagamaan atau religiusitas dapat mencakup berbagai aspek kehidupan, bukan hanya saat individu melakukan ritual agama, tetapi saat mereka terlibat dalam kegiatan lain yang dipengaruhi oleh kekuatan yang bersifat transenden atau supranatural, termasuk didalamnya rasa yakin pada Autakdir TuhanAy. Selain menduga bahwa regulasi emosi juga mempengaruhi kesejahteraan psikologis pada guru. Dalam hal ini, diperlihatkan melalui hasil wawancara dimana 3 guru mengakui bahwa masih kurang mampu mengontrol mood atau suasana hati, sehingga hal ini berdampak kepada tingkat motivasi mengajar, hubungan dengan orang lain, serta kepada diri Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ivcevic dan Brakett . , yang menekankan bahwa kemampuan regulasi emosi memberikan dampak positif dalam keberhasilan Seperti peningkatan kinerja dan kesejahteraan guru yang lebih baik di tempat kerja. Oleh karena itu guru diharapkan memiliki regulasi emosi yang baik dalam pekerjaannya, sehingga dapat mengatur dan menyeimbangkan emosi untuk dapat melakukan tindakan yang Terlebih ketika mendapat tekanan dan beban kerja tambahan dari atasan, dan termasuk perubahan akibat METODOLOGI Metode statisik yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan teknik analisis Linear Regression dengan pengelolahan data menggunakan JASP 0 for Windows. Dalam penelitian ini digunakan teknik sampel cluster random sampling, melalui 99 populasi dari 5 sekolah, didapatkan 3 sekolah dan 56 sampel guru SDN regrouping wilayah Utan Kayu Selatan. Dalam penelitian ini kesejahteraan psikologis sebagai dependent variable, sementara religiusitas dan regulasi emosi sebagai independent variable. Adapun skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kesejahteraan psikologis (=0,. , skala religiusitas (=0,. , dan skala regulasi emosi (=0,. , dengan model skala Likert. Skala Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 4 No 1 Maret 2024 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 berdasarkan teori Ryff dan Singer . , sementara skala religiusitas mengadopsi hasil penelitian yang dilakukan oleh MaAorifah . yang mengacu pada dimensi religiusitas menurut Ancok dan Suroso . , dan skala regulasi emosi disusun berdasarkan teori Gross dan John . LANDASAN TEORI 1 Kesejahteraan Psikologis Ryff Singer mengemukakan bahwa kesejahteraan psikologis adalah suatu keadaan yang mengacu kepada seluruh rasa bahagia dan rasa puas seseorang dengan kehidupan mereka, termasuk tujuan hidup, otonomi, pertumbuhan pribadi, hubungan positif, dan penerimaan diri, yang dijelaskan melalui pendekatan eudaimonik . ondisi bahagi. yang menekankan pada pertumbuhan pribadi dan aktualisasi diri. Sedangkan menurut Maslow dan Rogers . alam Wells, 2010, . menitikberatkan pada aktualisasi diri dan pandangan individu yang berfungsi penuh dalam mengejar psychological well-being dan kepuasan Ryff. Keyes, dan Shmotkin . menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis merupakan persepsi individu tentang keterlibatan dengan tantangan hidup yang ada, dicerminkan melalui rasa kontrol atas hidup mereka, kualitas hubungan, kemampuan untuk tumbuh dan berkembang, serta rasa tujuan dan makna hidup secara keseluruhan. Individu yang sejahtera psikologisnya dapat dikatakan sebagai individu yang sehat mental, bahagia, puas dengan hidupnya, serta mampu mengatasi https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. Menurut Ryff dan Singer . dimensi dari psychological well-being Penerimaan diri (Self acceptanc. , mengacu pada sejauh mana individu penerimaan terhadap dirinya sendiri. Hubungan positif dengan orang lain (Positive relation with other. , mengacu pada sejauh mana individu memuaskan dan mendukung dengan orang lain, termasuk keluarga, teman, dan kolega. Otonomi (Autonom. , menekankan pentingnya individu untuk dapat bertindak sesuai dengan tujuan dan nilai mereka sendiri. Penguasaan (Environmental Master. , mengacau pada sejauh mana individu merasa kompeten dan efektif dalam mengelola lingkungan mereka secara efektif sehingga mampu merasakan rasa kompetensi, kontrol dalam hidup mereka, dan mencapai tujuan Tujuan Hidup (Purpose in Lif. , mengacu pada sejauh mana individu merasa bahwa hidup mereka memiliki arti dan tujuan, dan bahwa mereka memberikan kontribusi untuk sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Pertumbuhan pribadi (Personal Growt. , mengacu pada sejauh mana individu merasa terus mampu mengembangkan dan memperluas potensi mereka sebagai individu, baik secara intelektual maupun Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 4 No 1 Maret 2024 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. Menurut Ryff . alam Ramadhani faktor-faktor mempengaruhi kesejahteraan psikologis . sychological well-bein. antara lain: Faktor Demografis, mencangkup usia, jenis kelamin, status sosial, ekonomi, dan budaya. Dukungan sosial, mencangkup perhatian, serta tolong menolong yang dipandang oleh individu lain yang biasa diperoleh dari orang Evaluasi hidup, menilai berbagai aspek dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan sosial. Locus of Control (LOC), suatu keyakinan penuh seseorang dalam mengendalikan penguatan yang mengikuti perilaku tertentu. 2 Religiusitas Glock dan Stark . alam Ancok dan Suroso, 2011, p. berpendapat bahwa religiusitas itu berfokus pada isu-isu yang diinternalisasikan sebagai yang paling maknawi, khususnya pada sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku yang dilembagakan. Sedangkan Mukti Ali . alam Rakhmat, 2003, p. mendefinisikan religi atau agama sebagai suatu keyakinan terhadap tuhan yang selalu hidup, pada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan memiliki hubungan moral dengan umat manusia. Ancok dan Suroso . 1, p. menjelaskam bahwa religiusitas sebuah sistem yang memiliki banyak dimensi, dimana religiusitas terjadi tidak hanya pada konteks pelaksanaan perilaku ritual . , tetapi juga dalam pelaksanaan ibadah, tindakan lainnya yang didukung oleh kekuatan supranatural. Dalam hal ini, religiusitas merupakan kepercayaan individu dengan kekuatan yang lebih besar dan berperan penting dalam membentuk nilai-nilai, sikap, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Ancok dan Suroso . 1, p. religiusitas terdiri dari tiga poin dimensi. Dimensi Keyakinan Mengacu pada tingkatan kepercayaan individu terhadap ajaran agama mereka yang anut, terutama pada ajaran yang bersifat fundamental dan dogmatis, mencangkup keyakinan tentang Allah, para Malaikat. Nabi/Rasul. Kitab-Kitab Allah. Surga dan Neraka, serta Qada dan Qadar. Dimensi Peribadatan Mengacu pada tingkat ketaatan individu terhadap praktik keagamaan, terutama ketika melakukan tindakan ditentukan dan dianjurkan oleh Menyangkut pelaksanaan shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Qur'an, shalat, dzikir, dll. Dimensi Pengamalan Mengacu pada sejauh mana individu Islam mengimplementasikan ajaran agama sehari-hari, khususnya dalam hubungan individu dengan dengan orang lain, mencakup perilaku tolong menolong, kerja sama, pertumbuhan serta perkembangan orang lain, membela keadilan dan kebenaran, dll. Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 4 No 1 Maret 2024 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 3 Regulasi Emosi Menurut Gross dan John . regulasi emosi adalah kemampuan individu dalam hal menyadari atau tidak mengalami, serta mengekspresikan emosi yang dimiliki termasuk pikiran dan Sedangkan Gross Thompson . menyatakan bahwa regulasi emosi merujuk pada bagaimana emosi mengatur sesuatu yang lain, seperti fikiran, fisiologi, atau perilaku, termasuk bagaimana mengatur emosi itu sendiri. Gross . berpendapat bahwa regulasi emosi merupakan proses mempengaruhi emosi apa yang kita miliki, kapan kita memilikinya, dan bagaimana kita mengalami dan mengekspresikannya, yang melibatkan perubahan intensitas, durasi, dan jenis respons emosional terhadap situasi tertentu. Artinya, bahwa regulasi emosi menjadi suatu proses Gross dan John . juga menambahkan bahwa regulasi emosi memiliki karakteristik, yaitu Cognitive reappraisal . engubah cara berpiki. Merupakan suatu perubahan kognitif penafsiran kognitif mereka terhadap suatu situasi untuk mengubah konsekuensi emosionalnya. Dimana, individu melakukan evaluasi ulang dan membingkai kembali pikiran dan persepsi mereka tentang suatu situasi. Pada karakteristik ini melibatkan proses kognitif untuk mengubah makna dari stimulus tersebut yang membuat emosi negatif pada akhirnya bisa diatasi. https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. Expressive suppression . enekanan Merupakan suatu bentuk modulasi respons atau eksternalisasi perhatian dari luar ke dalam diri yang melibatkan penghambatan perilaku ekspresif emosional yang sedang berlangsung dalam diri. Artinya karakteristik regulasi emosi ini melibatkan upaya untuk menekan atau mengendalikan ekspresi emosi yang sedang dirasakan, biasanya dilakukan dengan cara menahan diri untuk tidak menunjukkan ekspresi emosi negatif seperti marah atau sedih, terutama di depan orang lain. Misalnya, saat pengekspresian wajahnya selagi ia berada di kantor, agar tetap terlihat professional dan fokus terhadap HASIL DAN PEMBAHASAN Partisipan didominasi oleh responden berjenis kelamin wanita yaitu sebanyak 42 orang guru, rentang usia dominan yaitu 41-60 tahun dengan jumlah 33 orang guru. Terkait dengan posisi guru, status kepegawaian, dan jumlah gaji perbulan didominasi oleh wali kelas. PNS, dan lebih dari 3 juta per bulan. Rincian penjelasan tertera pada tabel 1. Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 4 No 1 Maret 2024 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. Tabel 1 Data Demografis Penyebaran Responden Penelitian Kategori Frekuensi Presentase Usia 22 Ae 40 Tahun 41 Ae 60 Tahun Jenis Kelamin Pria Wanita Jumlah Penghasilan > 3 Juta/ bulan 1- 2 Juta/ bulan Asal Sekolah UKS 01 UKS 18 UKS 20 Posisi Guru Wali Kelas Guru Mata Pelajaran Status Kepegawaian Honorer Murni KKI P3K PNS 27,6% 72,4% 93,1% 6,9% 46,6% 27,6% 25,9% 72,4% 27,6% 6,9% 8,6% 29,3% 55,2% Gambar 1 Grafik Q-Q Plots Standardized Residuals Uji Heteroskedastisitas Uji menggunakan grafik Scatter Plot menghasilkan kesimpulan bahwa tidak ada pola yang jelas, sebaran data menyebar di atas dan di bawah, atau di sekitar angka 0, sehingga dapat heteroskedastisitas terpenuhi atau tidak terjadi gejala heterostedastisitas. Grafik Scatter Plot dapat dilihat pada Gambar 2. 1 Uji Normalitas Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji normalitas visual dengan grafik Q-Q Plots Standardized Residuals. Didapatkan hasil grafik dengan sebaran data menyebar dan mengikuti garis diagonal, sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi Grafik Q-Q Plots Standardized Residuals dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 2 Grafik Scatter Plot Uji Multikolinearitas Berdasarkan uj multikolineaaritas, dihasilkan angka VIF pada variabel religiusitas sebesar 1,582 (<10,. dan nilai tolerance sebesar 0,632 (>0,. Sementara pada variabel regulasi emosi dengan nilai VIF sebesar 1,582 (<10,. dan nilai tolerance sebesar 0,632 (>0,. Nilai VIF dan tolerance dapat dilihat pada Tabel 3. Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 4 No 1 Maret 2024 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. Tabel 3 Coefficients 0,882 Collinearity Statistics tolerance VIF 4,993 <0,001 0,632 1,582 1,244 4,917 <0,001 Model Religiusitas Regulasi Emosi 0,632 1,582 4 Uji-t Parsial Uji-t Parsial Ha1 menghasilkan nilai p-value <0,001, p < 0,05 yang artinya variabel religiusitas (X. berpengaruh terhadap variabel kesejahteraan psikologis (Y), nilai pvalue dapat dilihat pada Tabel 3. Dengan sebesar 0,882, secara signifikan. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian dari Situmorang dan Andriani . Laila . Diredja dan Diantina . , dan Kosasih. Kosasih, dan Zakariyya . , bahwa religiusitas berpengaruh secara signifikan terhadap kesejaheraan psikologis. Kemudian uji-t parsial pada H2 menghasilkan nilai p-value <0,001, p < 0,05 yang artinya variabel regulasi emosi (X. berpengaruh terhadap variabel kesejahteraan psikologis (Y) secara signifikan, nilai p-value dapat dilihat pada Tabel 3. Dengan demikian regulasi kesejahteraan psikologis sebesar sebesar 1,244, secara signifikan. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian dari Fuad dan Rahadjo . Pratiwi . , yang mendapatkan hasil bahwa regulasi emosi secara signifikan berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis. 5 Uji F Uji F yang dilakukan pada H3 menghasilkan nilai p-value < 0,001, p < 0,05 yang artinya variabel religiusitas (X. dan regulasi emosi (X. secara bersama-sama . berpengaruh psikologis (Y), nilai p-value dapat dilihat pada Tabel 4. Model Tabel 4. ANOVA 0,616 16,818 < 0,001 Berdasarkan diperoleh kesimpulan bahwa religiusitas dan regulasi emosi berpengaruh secara psikologis sebesar 0,616, dengan signifikansi < 0,001, p < 0,05. Koefisien Determinasi (R. Nilai R-Square (R. dalam penelitian ini adalah 0,379 yang artinya bersama-sama Religiusitas (X. dan Regulasi Emosi (X. memiliki kontribusi menjelaskan Kesejahteraan Psikologis sebesar 37,9%, sedangkan sisanya sebesar 62,1% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini, seperti faktor demografis, dukungan sosial, evaluasi terhadap pengalaman hidup, dan locus of control (Ryff dalam Ramadhani dkk, 2. , usia, jenis pendidikan dan status perkawinan (Ryff dan Keyes, 1995. Diener, 2. , budaya dan dukungan sosial . alam Rahayu, 2. , religiusitas (Ellison dan Levin, 1. , stress (Heizomi, dkk, 2. Didapatkan pula bahwa religiusitas terhadap kesejahteraan psikologis guru, sebesar 30,8%. Hasil berdasarkan uji kategorisasi diperoleh kesejahteraan psikologis guru SDN regrouping wilayah Utan Kayu Selatan berada pada kategori tinggi. Dimana dimensi tujuan hidup memiliki skor ratarata tertinggi yaitu sebesar 88,22, sementara yang terendah adalah dimensi otonomi dengan skor rata-rata sebesar 70,68. Selain itu religiusitas pada guru SDN regrouping wilayah Utan Kayu Selatan berada pada kategori tinggi. Dimana aspek keyakinan mendapatkan Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 4 No 1 Maret 2024 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. skor rata-rata tertinggi sebesar 98,27, sementara yang terendah adalah aspek peribadatan dengan skor rata-rata sebesar 81,03. Sementara regulasi emosi pada guru SDN regrouping wilayah Utan Kayu Selatan berada pada kategori Dimana, masing-masing aspek regulasi emosi berpengaruh secara psikologis cognitive reappraisal menjadi aspek yang memiliki skor rata-rata tertinggi yaitu sebesar 84,88, berdasarkan hal tersebut dinyatakan bahwa lebih banyak guru yang menerapkan strategi regulasi emosi dengan cara cognitive reappraisal . engubah cara berpiki. dibandingkan dengan cara expressive suppression . enahan emos. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh religiusitas dan regulasi emosi terhadap kesejahteraan psikologis guru. Dimana religiusitas terhadap kesejahteraan psikologis guru, pada dimensi tujuan hidup. Sementara strategi regulasi emosi dengan cara cognitive reappraisal . engubah cara berpiki. berpengaruh dominan pada kesejahteraan psikologis guru. DAFTAR PUSTAKA