SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2025 ANALISIS KESIAPAN GURU DALAM PELAKSANAAN PEMBELAJARAN CODING MELALUI METODE GAMIFIKASI DI MIN 1 DAIRI: STUDI KASUS DI MIN 1 DAIRI Elsida Aritonang 1. Deswidya S Hutauruk 2 . Syukur Bestin Harefa 3. Wulan Yulita Sari 4 1, 2,3,4 Universitas Efarina elsidaaritonang@gmail. hutauruk@gmail. Abstract Recognizing the importance of coding skills because it trains the mindset in finding and solving problems creatively, this coding is included in the school curriculum from an early age. Gamification encourages students to be more active and enthusiastic when participating in class to have skills in the 21st century and directs students to behave positively, so researchers are interested in seeing the readiness of teachers in welcoming and implementing coding learning using the gamification method at MIN 1 Dairi. The problem formulation of this study is how Teacher Readiness in Implementing Coding Learning with the Gamification Method at MIN 1 Dairi. The research method used is a qualitative method with a Case Study approach with data collection techniques through interviews, observation and documentation and data validity testing using Data Triangulation. This study aims to describe teacher readiness in Implementing Coding Learning with the Gamification Method at MIN 1 Dairi. From the research results, it was found that the planning and implementation of teacher readiness in coding learning at MIN 1 Dairi consists of learning foundations, objectives, approaches, models, media, introductory activities, core and closing of learning, assessment and management so that it was concluded that teachers were sufficiently prepared to teach coding material to all students at MIN 1 Dairi with complete facilities and infrastructure that still need to be improved. Keywords: Teacher Readiness. Gamification. Coding Abstrak Menyadari pentingnya keterampilan coding karena melatih pola pikir dalam menemukan serta memecahkan masalah secara kreatif maka koding ini dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah sejak dini. Gamifikasi mendorong siswa untuk lebih aktif dan penuh rasa bersemangat saat berpartisipasi di kelas agar memiliki keterampilan di abad 21 serta mengarahkan peserta didik berperilaku yang positif, maka peneliti tertarik untuk melihat kesiapan guru dalam penyambut dan melaksanakan pembelajaran coding dengan menggunakan metode gamifikasi di MIN 1 Dairi. Rumusan masalah dari penelitian ini bagaimana Kesiapan Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran Coding dengan Metode Gamifikasi di MIN 1 Dairi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan Case Study dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi dan uji keabsahan data menggunakan Triagulasi Data. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesiapan guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran Coding dengan Metode Gamifikasi di MIN 1 Dairi. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa perencanaan dan pelaksanaan kesiapan guru dalam pembelajaran koding di MIN 1 Dairi terdiri dari landasan pembelajaran, tujuan, pendekatan, model, media, kegiatan pendahulan, inti dan penutup pembelajaran, asesmen dan manajemen sehingga disimpulkan bahwa guru cukup siap untuk mengajarkan materi koding kepada seluruh siswa di MIN 1 Dairi dengan kelengkapan sarana dan prasana yang masih perlu untuk ditingkatkan. Kata Kunci: Kesiapan Guru. Gamifikasi. Koding Pendahuluan SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2025 Banyak perubahan signifikan yang ditimbulkan oleh revolusi digital abad ke-21, termasuk sistem Banyaknya kemajuan teknologi yang memfasilitasi pengembangan strategi pengajaran yang lebih fleksibel dan partisipatif. Sebagai contoh, perubahan akses pendidikan yang lebih luas dan terjangkau dari berbagai platform digital dalam teknologi informasi dan komunikasi. Tentunya Hal ini menciptakan peluang sekaligus kesulitan yang luar biasa bagi para pendidik maupun calon pendidk untuk terus meningkatkan keterampilan mereka agar dapat mengikuti perubahan. Guru yang merupakan komponen penting dari sistem pendidikan, mereka dituntut tidak hanya berkonsentrasi pada pemahaman materi saja melainkan mereka harus memberikan prioritas utama pada pengembangan keterampilan digital fundamental sehingga siswa dapat menyesuaikan diri dengan dinamika dunia kerja yang berubah dengan cepat. Menurut (Thoriq et al. , 2. pendidik maupun calon pendidik tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mengoptimalkan penggunaannya untuk merancang pembelajaran yang relevan, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan masa depan. (Harahap & Delfi, 2. menyatakan Coding sangat perlu diajarkan di dalam jenjang pendidikan sebab hampir semua pekerjaan di abad 21 membutuhkan teknologi sebagai media pendukung dalam pelaksanaan pekerjaan yang lebih efektif. Penerapan pembelajaran coding di sekolah perlu dikuasai para guru, karena pembelajaran coding dapat meningkatkan kreativitas, pemecahan masalah, dan keterampilan berpikir kritis yang merupakan hal penting dalam menilai kemahiran siswa di abad ke-21 saat ini (Fifa Aprilia Maziyah, (Kelvin & Meisyanti, 2. menyatakan bahwa setiap pembelajaran tentu perlu disusun suatu startegi komunikasi seperti dalam pembelajaran coding. Coding merupakan pengetahuan penting dalam era teknolgi di era ini. (Indah Setianingrum, 2. menyatakan pola pikir terkait coding dinyatakan sebagai kemampuan penyelesaian masalah algoritmik atau matematika. (Ramadhan et , 2. telah melakukan penelitian terkait penerapan coding, penulis mendapati hasil bahwa pembelajaran coding dapat membentuk dan mengembangkan suatu pemikiran komputasional berupa pemikiran logika, imajinasi, dan kreativitas anak. Menyadari pentingnya keterampilan coding karena melatih pola pikir dalam menemukan serta memecahkan masalah secara kreatif, bahkan pada anak usia 4-5 tahun, negara maju sudah memasukkan keterampilan tersebut ke dalam kurikulum sekolah sejak dini. Pengajaran coding sudah masuk dalam kurikulum di beberapa sekolah dasar di Indonesia yang dilengkapi dengan fasilitas pengajar dan penunjang yang menunjang pemprograman Pembelajaran coding. Berdasarkan keunggulan dari pembelajaran coding ini, maka urgensi dari penelitian ini adalah pengenalan pembelajaran coding yang sangat perlu untuk diajarkan dengan sungguh sungguh agar tercapai tujuan dalam pembelajaran coding. Salah satu cara agar pembelajaran ini tercapai peneliti tertarik menggabungkan unsur permainan yang dapat dianggap dapat meningkatkan motivasi dalam belajar, seperti halnya peneliti terdahulu mengatakan Gamifikasi merupakan penggunaan elemenelemen permainan dalam konteks non-permainan untuk meningkatkan partisipasi dan motivasi. (Mursalin. Fonna et al. , 2. menyatakan bahwa Gamifikasi memiliki beberapa keuntungan dalam Pertama, gamifikasi dapat meningkatkan motivasi siswa dengan elemen-elemen seperti papan peringkat, lencana, poin, dan tantangan yang menghibur. Hal ini mendorong siswa untuk lebih aktif dan penuh rasa bersemangat saat berpartisipasi di kelas. Selain itu, gamifikasi membuat proses pembelajaran lebih kolaboratif dan interaktif. Berangkat dari revolusi digital abad ke -21 diatas maka mendidik anak seharusnya sesuai dengan zamanya. Artinya seorang pendidikk diharapkan mampu memberdayakan anak agar mampu bertahan hidup dan berkembang di zamannya saat ini, mandiri dan berkontribusi terhadap kesejahteraan umat manusia ketika sudah dewasa kelak. Charles Darwin . 9Ae1. pernah menyatakan bahwa AuOn the origin of spesies by means of natural selection, or the preservation of favoured races in the struggle for lifeAy, yang artinya yang bisa bertahan bukan semata yang terkuat dan terpintar, namun yang responsif terhadap perubahan (Indah Setianingrum. Untuk membekali peserta didik agar memiliki keterampilan di abad 21 serta mengarahkan peserta didik berperilaku yang positif, maka peneliti tertarik untuk melihat kesiapan guru dalam penyambut dan melaksanakan pembelajaran coding dengan menggunakan metode gamifikasi di MIN 1 Dairi. Rumusan masalah dari penelitian ini bagaimana Kesiapan Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2025 Coding dengan Metode Gamifikasi di MIN 1 Dairi: Studi Kasus di MIN 1 Dairi. Dari rumusan ini maka kemudian penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan kesiapan guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran Coding dengan Metode Gamifikasi di MIN 1 Dairi. Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di MIN 1 Kecamatan Sidikalang. Kabupaten Dairi. Sumatera Utara. Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian case study research . tudi kasu. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Dilanjutkan dengan reduksi data, penyajian data dan ditarik kesimpulan. Sedangkan uji keabsahan data menggunakan Triagulasi data. Menurut Creswell, dalam dimas (Assyakurrohim et al. , 2. studi kasus adalah suatu jenis penelitian kualitatif, yang mana peneliti melakukan eksplorasi secara terperinci terhadap program, kejadian, proses, kegiatan setiap individu yang terikat oleh waktu dan aktivitas. Terkait hal tersebut peneliti akan meneliti terhadap kondisi objek yang alamiah, yang mana peneliti merupakan sebagai instrumen kunci. Untuk pengambilan sampel dari sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan triangulasi . , analisis data bersifat induktif dan hasil penelitiannya lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Berikut tahapan yang akan dilaksanakan: Menentukan Kasus Kajian literatur Merumuskan fokus dan masalah penelitian Mengumpulkan data Mengujui kredibilitas data Menganalisis data Menyimpulkan hasil penelitian Hasil Penelitian dan Pembahasan 1 Persiapan Pelaksanaan Pembelajaran Coding di MIN 1 Dairi Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang ditemukan oleh peneliti di MIN 1 Dairi, diperoleh informasi bahwa proses persiapan yang dilakukan adalah: Persiapan Sarana Ae Prasarana Bapak Sumarto A. Sitanggang. Pd. Si selaku kepala Madrasah MIN 1 Dairi mengatakan Aupersiapan yang pertama sebelum pembelajaran coding ini dilakukan seperti buku /LKJ coding, proyektor, laptop, aliran listrik, ruang kelas sehingga siswa tertarik untuk mengikuti pelajaran dengan metode baru dan lebih bersemangat karena banyak warna-warna yang menarik perhatian siswa tersebutAy Gambar 2. Wawancara Kepala Madrasah MIN 1 Dairi (Dok. Peneliti, 2. SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2025 Persiapan Sumber Daya Manusia Selanjutnya Kepala Madrasah juga menyatakan bahwa Aupersiapam Sumber Daya Manusianya di MIN ini adalag dengan memberi wawasan dan melatih guru-guru di MIN 1 Dairi dalam memahami tentang coding ini, untuk itu narasumber dari luar sekolah yaitu Bapak Abden R Aritonang. Pd. Pd dan Bapak Muslim Maha. Pd. Pd telah memberikan pengetahuan tentang codingAy Gambar 3. Pembekalan guru-guru MIN 1 Dairi dalam pemlejaran koding (Dok. Penelitian, 2. Penerapan pembelajaran koding dan kecerdasasan artifisial terintegrasi kedalam mata pelajaran-mata pelajaran yang diajarkan disekolah, menjadi mata pelajaran pilihan dan juga bisa menjadi salah satu kegiatan ekstrakulikuler. Koding yang terintegrasi kedalam mata pelajaran contohnya sains, matematika, teknologi dan seni sehingga mampu mnedorong kemampuan berpikir komputasional siswa (Badan Standar, 2. Sebelum sampai kepada guru-guru, peneliti menyampaikan dan memaparkan perihal koding kepada Kepala Madrasah MIN 1 Dairi bersama dengan narasumber sehingga penjelasan terkait pembelajaran koding lebih jelas dan terperinci. Dengan pemahapan yang mendalam maka kepala Madrasah dapat menyampaikan arahan yang sesuai kepada guru-guru terkait kesiapan pembelajaran koding dikelas. Gambar 4. Diskusi dengan Kepala Madrasah bersama dengan Narasumber (Dok. Penelitian, 2. Guru sebagai pengelola dalam suatu pembelajaran dikelas seperti menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menarik bagi siswa dibutuhkan persiapan yang matang. Maka untuk mematangkan kesiapan guru-guru di MIN 1 Dairi, terlebih dahulu guru-guru mendapatkan pembekalan melalui narasumber serta buku-buku terkait koding yang diberikan oleh peneliti sehingga guru lebih siap untuk mengajarkan koding tersebut kepada siswa-siswi. Selanjutnya, sebelum memasuki proses pembelajaran dikelas, persiapan yang dilakukan yaitu: Membuat perencanaan yaitu menganalisis CP (Capaian Pembelajara. dan ATP (Alur Tujuan Pembelajara. , membuat program tahunan dan semester, melakukan asesmen SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2025 diagnostik, membuat modul ajar dan memilih metode pembelajaran serta membuat media pembelajaran Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan Ibu Ella Gustari. Pd selaku guru matapelajaran matematika yang melaksanakan pembelajaran koding di kelas 5 sebagai berikut: AuSebelum melaksanakan pembelajaran saya dan guru yang separalel membuat dan menganalisis CP dan ATP, lalu membuat program tahunan, program semester, melakukan asesmen diagnostik seperti memahami kompetensi pembelajaran, memahami kekuatan dan kelemahan siswa sebelum memulai pembelajaran, membuat modul ajar dan bahan ajarAy Hal yang sama diperkuat oleh Ibu Iin Suryani Berampu. Pd, yaitu: AuYa. Kami membuat persiapan sebelum pembelajarn dilaksnakan. Media pembelajaran yang kami gunakan adalah media berupa LKJ siswa yang berwarna-warni sehingga hanya dengan melihatnya saja, siswa sudah mulai tertarik dan bersemangat untuk mempelajarinya, dan ini menjadi salah satu cara yang kami gunakan agar siswa tidak takut dengan pembelajaran matematikaAy Lebih lanjut Ibu Ella Gustari. Pd, menjelaskan Au Bagi saya, membuat perangkat pembelajaran seperti CP. ATP. Program tahunan dan program semester di awal semester baru ini tidak jauh berbeda dengan perangkat pembelajaran sebelumnya, hanya menambahkan beberapa kompetensi baru seperti materi pelajaran koding ini karena ini ada materi baru yang masih diterapkan dalam kurikulum dibeberapa sekolah dan belum semua sekolah melaksanakannya. Namun persiapan untuk media dan metode pembelajarannya membutuhkan waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan materi pelajarannya lainnya karena ini adalah materi baru yang masih baru bagi siswa-siswa di MIN 1 Dairi iniAy Beberapa contoh media pembelajaran yang dibuat dan diberikan kepada siswa, seperti: Gambar 5. Media Pembelajarn yang digunakan (Dok. Penelitian, 2025 SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2025 Gambar 6. Diskusi dan wawancara dengan Ibu Ella Gustari. Pd. selaku wali kelas 5 (Dok. Penelitian, 2. Membuat aspek pelaksanaan yaitu proses pelaksanaan pembelajaran koding, penemuan kendala selama pelaksanaan pembelajaran koding, strategi yang digunakan untuk meminimalisir dampak negatif yang muncul saat proses pembelajaran koding Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan Bapak Asrun Dabutar selaku guru matapelajaran matematika yang melaksanakan pembelajaran koding di kelas 4 sebagai berikut: AuProses pelaksanaan pembelajaran koding dengan metode gamifikasi ini membuat pembelajaran khususnya matapelaran matematika menjadi menyenagkan dan membuat peserta didik jadi tertarik namun ditemukan ada kendala selama proses pembelajaran berlangsung yaitu ada beberapa siswa yang masih bingung dan mungkin karena masih belum memahami caranya atau bisa jadi karena ini materi baru bagi merekaAo. Gambar 6. Diskusi dan wawancara dengan Bapak Asrun Dabutar selaku wali kelas 4 (Dok. Penelitian, 2. Ibu Syafwani Sadanta Capah, menambahkan pernytaan yang sedikit berbeda, yaitu: Au siswa di kelas saya yang masih kelas 3 SD masih lebih banyak yang bingung mengerjakan LKJ koding ini, mungkin karena usia mereka masih harus banyak dijarakan penalaran dalam mengerjakan soal-soal koding ya, karena koding ini saya lihat memang butuh penalaran dan berpikir kritis yang kuat baru bisa cepat tanggap, tapi saya pikir bisa diatasi dengan lebih sering mengulanginya atau dengan media pembelajaran yang lebih variatifAy Melakukan asesmen setelah pembelajaran koding selesai, dan mengetahui kesulitan yang dihadapi guru saat melakukan asesmen Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan Ibu Iin Suryani Berampu. Pd selaku guru matapelajaran matematika yang melaksanakan pembelajaran koding di kelas 6 sebagai berikut: Au Saya memang melakukan asesmen setelah pembeljaran selesai namun untuk pembelajaran koding ini karena masih materi baru jadi masih banyak yang harus saya pelajari lagi namun beberapa yang saya buat seperti asesmen awal dengan membuat media pengenalan koding bangun datar, selanjutnya di asesmen proses saya buat angka berwarna dan asesmen akhir saya coba dengan menggabungkan bangun datar namun dengan warna yang berbeda-beda dan kesulitan yang saya hadapi ini adalah fasilitas yang kurang memadai, mungkin karena masih baru jadi masih banyak yang harus dilengkapi media atau model pembelajarannyaAy Senada juga dengan pendapat Ibu Ella Gustari. Pd yang mengajar di kelas 5, yaitu: SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2025 AuKalau saya buat asesmen awal dengan coding pola berwarna / pola, lalu di asesmen proses saya buat coding materi penjumlahan dan pengurangan, dan diakhir yaitu coding dari hasil penjumlahan melalui gambar. Siswa-siswa jadi cukup antusias dalam belajar matematika ini dan menurut saya fasilitas belajar coding ini perlu di perkaya lagi, jadi bukan hanya berbentuk LKJ berwarna begini tapi juga melalui aplikasi-aplikasi menarik seperti Scratch. Code. org, dan TynkerAy. Hasil penelitian (Ismayani, 2. menunjukkan bahwa koding dapat diterapkan melalui pembelajaran matematika salah satunya pada topik penjumlahan, dimana aktivitas koding ini akan menuntun siswa untuk melakukan analisis dan proses berpikir algoritmik. Pada saat proses koding berjalan, siswa melihat pola penjumlahan serta kemungkinan-kemungkinan yang akan muncul. Gambar 6. Diskusi dan wawancara dengan Ibu Iin Suryani Berampu. Pd selaku wali kelas 6 (Dok. Penelitian, 2. Manajemen terkait persiapan pembelajaran koding, dukungan yang diberikan sekolah untuk terlaksananya pembelajaran, ada tidaknya penambahan biaya sekolah untuk anakanak dalam pembelajaran coding, respon wali murid dalam pembelajaran koding serta hasil yang diharapkan setelah pembelajaran coding berjalan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan Ibu Syafwani Sadanta Capah. Pd selaku guru matapelajaran matematika yang melaksanakan pembelajaran koding di kelas 3 sebagai berikut: Au Peserta didik pada dasarnya memang diwajibkan dalam pelajaran matematika namun nalar peserta didik di MIN 1 Dairi ini masih kurang sehingga terkadang kami sebagai guru di MIN 1 Dairi ini, butuh metode dan media baru yang dapat meningkatkan penalaran dan logika siswa, jadi menurut saya pelajaran coding dengan metode gamifikasi ini menjadi salah satu latar belakang yang penting agar nalar peserta didik meningkat. Beberapa tahapan persiapan pembelajaran coding dengan metode gamifkasi yang kami buat diawali dengan menganalisis karakteristik peserta didik, selanutnya menyusun modul dan LKPD dan terakhir memberikan proyek ini kepada peserta didik untuk di kerjakanAy Ditimpali oleh Ibu Iin Suryani Berampu. Pd, yaitu: Au Benar yang disebutkan ibu Syafwani tadi, maka dari itu sekolah memberikan dukungan penuh melalui Kepala Madrasah Bapak Sumarto A. Sitanggang. Pd. Si dengan memfasilitasi narasumber yang menambah wawawan dan pengetahuan kami tentang koding ini, persediaan bukubuku koding dan fasilitas seperti infokus untuk menampilkan pembelajaran coding ini kepada siswasiswa serta tidak ada penambahan biaya yang dibebankan kepada siswaAy SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2025 Gambar 7. Diskusi dan wawancara dengan Ibu Syafwani Sadanta Capah. Pd selaku wali kelas 3 (Dok. Penelitian, 2. Kepala Madrasah Bapak Sumarto A. Sitanggang. Pd. Si, menjelaskan bahwa: Au Guru. Siswa dan orangtua tidak ada kami kenakan penambahan biaya apapun, makanya para orangtua/wali siswa menunjukkan respon yang sangat baik dan antusias dalam mendukung pembelajaran koding di MIN 1 Dairi ini, apalgi para orangtua / wali siswa kan sudah banyak yang melek teknologi jadi beberapa dari mereka update tentang informasi-informasi baru untuk perkembangan anak mereka dan tentunya harapan kami selaku peserta didik dan orangtua siswa pembelajaran koding dengan metode gamifikasi ini mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis, meningkatka kreatif, kolaboratif dan pemecahan masalah yang akan dihadapi siswa selama masa pendidikan atau bahkan di dunia kerja nantiAy. Terlihat pada saat siswa mengerjakan soal LKJ yang diberikan oleh guru, siswa antusias dalam menjawab setiap soal. LKJ siswa dibagikan setelah diberikan penjelasan tentang koding secara terperinci oleh guru. Siswa terlebihdahulu di perkenalkan apa itu coding, tujuan dan manfaat koding, contoh-contoh soal koding dan terakhir diberikan LKJ koding. Gambar 8. Penjelasan tentang koding kepada siswa oleh Guru di MIN 1 Dairi (Dok. Penelitian, 2. Gambar 9. Siswa MIN 1 Dairi saat mengerjakan LKJ koding (Dok. Penelitian, 2. Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi dari lokasi penelitian secara langsung tentang kesiapan guru dalam pelaksanaan pembelajaran coding melalui metode gamifikasi di MIN 1 Dairi, peneliti menguaraikan bahasan sesuai dengan fokus penelitian dengan menghubungkan antara temuan dengan teori-teori yang ada dalam kajian teori. Belajar koding sejak dini dapat meningkatkan kebiasaan anak untuk bertindak sebagai produser teknologi dengan cara yang menyenangkan dimasa yang akan datang dan juga meningkatkan imajinasi, kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor siswa. Koding merupakan salah satu dari sekian banyak implementasi kecerdasan buatan atau yang dikenal dengan AI (Artificial Intelligenc. Dalam (Fifa Aprilia Maziyah, 2. menyatakan bahwa penerapan pembelajaran coding disekolah dapat meningkatkan kreativitas, pemecahan masalah dan keterampilan kritis yang menjadi hal penting dalam menilai kemahiran siswa di abad ke-21. SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2025 Selanjutnya (Indah Setianingrum, 2. juga mengatakan bahwa pola pikir terkait coding dinyatakan sebagai suatu kemampuan penyelesaian masalah algoritmik. Coding juga dapat membentuk pemikiran logika, imajinasi dan kreativitas anak sehingga sudah masuk dalam kurikulum dibeberapa sekolah dasar di Indonesia. Cara berpikir koding juga dikatakan sebagai computational thinking yang dimiliki oleh anak karena mampu meningkatkan kecerdasan, lebih cepat memahami perkembangan teknologi serta melatih otak agar terbiasa berpikir logis, terstruktur dan kretaif (Istiqomah, 2. Senada dengan pernyataan (Muklason et al. , 2. yang mneyatakan coding merupakan keterampilan yang sangat penting di era indsutri 4. 0 dimana keterampilan ini disebut juga dengan literasi digital dan ini adalah keterampilan yang perlu di ajarkan sejak dini karena koding bukan saja sekedar keterampilan psikomotorik tetapi juga dikaitkan dengan kemmpuan berpikir yang tidak bisa dikuasai secara instan tetapi dengan proses pelatihan yang panjang sehinngga pola pikir tersebut terbentuk dengan baik. Kesiapan guru menurut Tri dalam (Klarisa et al. , 2. adalah keadaan pengetahuan dan keterampilan sudah dimiliki oleh guru untuk mendapatkan suatu kompetensi yang ditargetkan. Sedangkan menurut Slameto dalam (Romadhon et al. , 2. dijelaskan bahwa kesiapan gru adalah keadaan total guru dalam mempersiapkan diri untuk bereaksi atapun menanggapi situsi yang terjadi selama proses pembelajaran dengan cara tertentu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara garis besar perencanaan dan pelaksanaan kesiapan guru dalam pembelajaran koding di MIN 1 Dairi meliputi landasan pembelajaran, tujuan, pendekatan, model, media, kegiatan pendahulan, inti dan penutup pembelajaran, dan setelah itu lalu dilajutkan ke tahap asesmen dan manajemen. Sehingga dari hasil penelitian terlihat bahwa guru cukup siap untuk mengajarkan materi koding kepada seluruh siswa di MIN 1 Dairi yang sejalan dengan kewajiban guru sebagai pengajar, pengelola dan pengurus kelas dengan kualifikasi masingmasing yang telah dimiliki guru, namun masih terkendala dalam kesiapan sarana dan prasarana Sarana dan prasarana yang ada saat ini masih perlu ditingkatkan seperti performa perangkat TIK, buku koding dari berbagai sumber dan sosialisasi kepada orangtua/wali siswa. Beberapa faktor yang mempengaruhi kesiapan pembelajaran koding ini di MIN 1 Dairi, seperti: Pentingnya peningkatan kecerdasan berpikir logis dan kritis pada siswa agar dapat mndukung perkembangan teknologi Pengenalan koding bagi siswa dan bagi orangtua yang masih tergolong baru karena belum disosialisasikan secara merata keseluruh sekolah dasar Belum diterapkannya kewajiban materi pelajaran koding diseluruh kurikulum sekolah dasar Masih kurangnya jenis buku pegangan guru dan siswa yang beredar di masyarakat Sosialisasi terhadap orangtua/wali siswa tentang manfaat koding yang juga bisa dilatih dirumah Strategi belajar koding yang masih perlu ditingkatkan lagi di MIN 1 Dairi Untuk mengurangi faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran koding di MIN 1 Dairi, guru melakukan strategi adaptif yang sesuai dengan kemampuan siswa di MIN 1 Dairi seperti penilaian berbasis proyek saat mengerjakan LKJ dan pemanfaatan sarana-prasana yang ada seperti menmapilkan slide melalui infokus sehingga dapat menampilkan penjelasan contoh / gambar koding yang menarik, dan strategi ini dinilai efektif untuk menjaga kualitas penilaian di tengah keterbatasan pembelajaran koding. Pada tahap asesmen, guru melakukan refleksi untuk mengetahui keberhasilan tujuan pembelajaran dan pemahaman siswa tentang koding dan memberikan umpan balik bagi peserta didik terhadap proses dan hasil pembelajaran. Dalam menghadapi perkembangan teknologi yang ada saat ini salah satunya koding yang termasuk dalam bagian kecerdasan buatan atau AI (Ekoran et al. , 2. merekomendasikan pentingnya penguatan pelatihan guru dalam bidang asesmen digital, peningkatan infrastruktur teknologi dan juga pengembangan kebijakan evaluasi yang adaptif dan konstektual sehingga mampu mendukung keberhasilan pembelajaran. (Kiptiyah, 2. juga menjelaskan untuk menentukan arah tujuan SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2025 pembelajaran dan merancang pembelajaran dengan mudah yang sesuai dengan kebutuhan siswa guru menggunakan tahapan mencakup mengamati, menanya, mengumpulkan informasi atau mencoba, mengasosiasi dan mengkomunikasikan. Kesimpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari perencanaan dan pelaksanaan kesiapan guru dalam pembelajaran koding, guru di MIN 1 Dairi cukup siap untuk mengajarkan materi koding kepada seluruh siswa di MIN 1 Dairi dengan kelengkapan sarana dan prasana yang masih perlu untuk Referensi