Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Indonesian Language Competence in Grade i Students at MIN 1 Karangasem through Interactive Storytelling Activities Ana Yuliana Wati1. Nia Sumiati Ningsih2 1 MIN 1 Karangasem 2 MI Hidayatullah Karangasem Correspondence: watiliana01@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Indonesian acquisition, language expression, third grade. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to enhance the Indonesian language skills of third-grade students at MIN 1 Karangasem through interactive storytelling activities. The primary objective of this study is to investigate how storytelling can improve students' reading comprehension, vocabulary acquisition, and language expression in the Indonesian The research was conducted in two cycles, with each cycle consisting of planning, action, observation, and reflection stages. In each cycle, the students were engaged in interactive storytelling sessions where they listened to stories, discussed their content, and performed activities related to the stories. Data were collected through observations, interviews, and assessments of students' language performance. The findings indicate that storytelling activities significantly improved the students' language skills, especially in terms of vocabulary, comprehension, and speaking The study concludes that using storytelling as an instructional strategy is effective in fostering a more engaging and interactive learning environment in language education. It is recommended that teachers in MIN 1 Karangasem continue to implement storytelling in their teaching practices to further develop students' Indonesian language proficiency. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang menjadi dasar komunikasi dan identitas Di jenjang sekolah dasar, penguasaan bahasa Indonesia sejak dini amat krusial agar siswa mampu menguasai keterampilan berbahasa secara utuh Ai menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. (Misnawati, 2. Namun kenyataannya, di banyak sekolah dasar, termasuk madrasah ibtidaiyah, pembelajaran bahasa Indonesia masih sering dilakukan dengan metode konvensional yang monoton dan minim variasi. (Lubis & Juliana, 2. Kondisi ini berisiko membuat anak kurang tertarik terhadap pelajaran bahasa, sehingga kemampuan berbahasa mereka berkembang secara kurang optimal. (Kurniawan, 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rendahnya minat dan motivasi siswa merupakan hambatan utama dalam pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Dasar. (Rahmawati. Di samping itu, keterbatasan media pembelajaran Ai misalnya ketidakterjangkauan buku cerita menarik atau bahan ajar kontekstual Ai juga menjadi faktor penghambat efektivitas (Yuananda & Utaminingtyas, 2. Ketergantungan pada metode ceramah dan hafalan menyebabkan siswa cenderung pasif dan kurang terlibat aktif dalam proses belajar (Purwanto, 2. Sebagai respon terhadap tantangan tersebut, beberapa penelitian di Indonesia mulai mengeksplorasi penggunaan media alternatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia, seperti cerita bergambar dan metode bercerita. (Desmirasari & Oktavia, 2. Media-media ini menawarkan kelebihan: mampu menarik minat siswa, memberikan stimulus visual dan naratif, serta menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna. (Hendika & Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Musyadad, 2. Melalui cerita bergambar, aspek mendengarkan, membaca, dan berbicara dapat dikemas secara kontekstual dan komunikatif sehingga lebih mudah dipahami siswa kelas (Sari & Nofriadi, 2. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa penerapan metode bercerita . dalam pembelajaran bahasa memperlihatkan peningkatan signifikan terhadap minat baca dan kemampuan mendengarkan siswa SD. (Oktavianti, 2. Dalam studi tersebut, siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis storytelling menunjukkan lebih antusias, aktif, dan responsif dibandingkan metode konvensional. (Silalahi et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa storytelling dapat menjadi solusi bagi permasalahan rendahnya minat dan partisipasi siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia. (Silalahi et al. , 2. Selain aspek literasi, penggunaan cerita Ai terutama cerita rakyat atau narasi Ai juga berpotensi menanamkan nilai-nilai budaya dan karakter pada siswa. (Aini. Havita & SaAodiyah, 2. Dengan demikian, pembelajaran bahasa tidak hanya mengasah keterampilan berbahasa, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan karakter kebangsaan siswa. (Aini et al. , 2. Pendekatan ini sangat relevan untuk sekolah berbasis madrasah seperti MIN 1 Karangasem, di mana integrasi nilai budaya dan karakter dalam pembelajaran diharapkan mampu membentuk siswa yang kompeten secara bahasa dan bermoral. (Lubis & Juliana, 2. Walaupun demikian, implementasi metode alternatif seperti cerita bergambar atau storytelling belum banyak dilakukan secara sistematis di banyak sekolah dasar/madrasah. (Mubarok. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor: guru kurang familiar dengan metode tersebut, keterbatasan bahan ajar yang sesuai, serta kurangnya pelatihan bagi guru dalam merancang pembelajaran yang berbasis cerita. (Kurniawan, 2. Akibatnya, potensi besar metode ini belum tergali secara optimal di lapangan. (Mubarok, 2. Konteks di sekolah seperti kelas i pada madrasah ibtidaiyah memiliki karakteristik perkembangan kognitif dan bahasa siswa yang sangat cocok untuk penerapan pembelajaran berbasis cerita. Di usia ini, siswa masih sangat responsif terhadap rangsangan visual, naratif serta keaktifan dalam belajar. (Hendika & Musyadad, 2. Namun jika metode pembelajaran tetap konvensional, peluang untuk memanfaatkan potensi ini menjadi terlewatkan. (Lubis & Juliana, 2. Dengan demikian, diperlukan strategi pembelajaran yang sesuai dan kontekstual agar siswa dapat terlibat aktif dan meraih hasil belajar maksimal. (Purwanto, 2. Lebih jauh, integrasi cerita bergambar atau storytelling dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat membantu mengatasi perbedaan latar belakang bahasa dan budaya siswa. (Desmirasari & Oktavia, 2. Karena cerita, terutama cerita rakyat lokal, mengandung nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang familiar bagi siswa, sehingga memudahkan pemahaman dan menciptakan rasa memiliki terhadap materi. (Silalahi et al. , 2. Pendekatan ini secara tidak langsung juga mendukung pelestarian budaya lokal melalui pendidikan. (Aini et al. , 2. Menurut tinjauan literatur terhadap pembelajaran bahasa di SD, variasi strategi pembelajaran sangat diperlukan agar pencapaian hasil belajar siswa pada keempat keterampilan berbahasa dapat meningkat. (Sari & Nofriadi, 2. Strategi yang fleksibel dan kontekstual mampu merespon kebutuhan siswa yang heterogen, baik dari segi kemampuan, latar belakang budaya, maupun gaya belajar. (Yuananda & Utaminingtyas, 2. Dengan demikian, guru memiliki peran penting dalam memilih metode yang paling sesuai dan adaptif terhadap kondisi peserta (Kurniawan, 2. Selain storytelling dan cerita bergambar, beberapa penelitian menyarankan agar pembelajaran bahasa dikelola secara komunikatif Ai misalnya melalui diskusi, presentasi kelompok, dan simulasi Ai agar siswa terbiasa menggunakan bahasa secara aktif dalam kehidupan sehari-hari. (Mukhyar, 2. Pendekatan komunikatif ini diharapkan membuat siswa tidak hanya mampu memahami materi, tetapi juga mampu menggunakan bahasa secara efektif untuk (Mukhyar, 2. Namun dalam praktik, hal ini belum rutin diterapkan di banyak sekolah dasar. (Lubis & Juliana, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Pada akhirnya, pengembangan model pembelajaran berbasis cerita menjadi sangat relevan bagi sekolah dasar/madrasah di Indonesia Ai termasuk bagi sekolah seperti MIN 1 Karangasem. Jika diterapkan dengan baik, model ini dapat meningkatkan keterampilan berbahasa siswa, memupuk minat dan motivasi belajar, serta menanamkan nilai-nilai karakter dan budaya. (Silalahi et al. , 2023. Aini et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas untuk mengimplementasikan metode ini akan menjadi kontribusi penting bagi praktik pendidikan di (Mubarok, 2. Dengan latar belakang demikian, muncul pertanyaan penelitian: AuSejauh mana penerapan metode storytelling / cerita bergambar dapat meningkatkan kemampuan bahasa Indonesia Ai terutama membaca, menulis, menyimak dan berbicara Ai siswa kelas i di MIN 1 Karangasem?Ay Pertanyaan ini menjadi dasar bagi penelitian tindakan kelas yang akan (Lubis & Juliana, 2. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan temuan empiris mengenai efektivitas model pembelajaran berbasis cerita untuk konteks kelas rendah Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah di Indonesia. Temuan semacam ini penting agar guru, sekolah, maupun pembuat kebijakan memperoleh gambaran nyata tentang pengaruh metode ini terhadap perkembangan keterampilan berbahasa dan literasi siswa. (Desmirasari & Oktavia, 2. Selain itu, hasil penelitian diharapkan menjadi acuan bagi pengembangan bahan ajar kontekstual dan relevan di madrasah atau sekolah dasar. (Mubarok, 2. Dengan demikian, latar belakang masalah ini menegaskan urgensi dan relevansi penelitian tindakan kelas untuk mengembangkan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis cerita Ai agar pendidikan bahasa di sekolah dasar tidak hanya bersifat formal dan normatif, tetapi juga kreatif, kontekstual, serta mendidik secara holistik: bahasa, literasi, karakter, dan budaya. (Aini et al. Silalahi et al. , 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa kelas i di MIN 1 Karangasem melalui penerapan metode storytelling . PTK dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada di kelas dan secara langsung menerapkan tindakan untuk memperbaikinya. PTK memiliki siklus yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi yang memungkinkan peneliti untuk mengevaluasi dan memperbaiki strategi pembelajaran yang digunakan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, di mana setiap siklus terdiri dari empat tahap tersebut untuk mengukur keberhasilan metode storytelling dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa. (Sari, 2. Pada tahap perencanaan, peneliti merancang kegiatan pembelajaran yang melibatkan storytelling sebagai metode utama. Dalam siklus pertama, peneliti memilih cerita rakyat yang relevan dengan budaya lokal untuk digunakan dalam pembelajaran. Peneliti juga menyiapkan alat bantu, seperti gambar-gambar pendukung cerita, serta strategi diskusi kelompok agar siswa dapat lebih aktif berpartisipasi. Selama perencanaan, peneliti juga menyusun rubrik penilaian untuk mengevaluasi kemampuan berbahasa siswa, baik dalam menyimak, berbicara, maupun Semua kegiatan tersebut disusun untuk memastikan pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif dan menyenangkan. (Kurniawan, 2. Pada tahap pelaksanaan, peneliti melaksanakan kegiatan storytelling dengan siswa di kelas. Setiap siklus diawali dengan pendahuluan, di mana guru memberikan pemahaman tentang cerita yang akan dibacakan dan tujuan pembelajaran. Setelah itu, guru membacakan cerita dengan ekspresi yang menarik, diikuti dengan diskusi kelompok tentang isi cerita. Siswa diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat mereka, mendiskusikan karakter dalam cerita, serta menjawab pertanyaan terkait teks yang telah dibaca. Selain itu, siswa juga diajak Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 untuk menceritakan kembali cerita tersebut dengan kata-kata mereka sendiri untuk mengasah kemampuan berbicara dan menyusun kalimat yang baik. (Rahmawati, 2. Observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung, dengan fokus pada keterlibatan dan partisipasi siswa. Pengamatan dilakukan oleh peneliti dan didukung oleh rekan sejawat yang bertindak sebagai pengamat. Catatan lapangan, rekaman audio, dan foto aktivitas siswa digunakan sebagai data pendukung untuk menilai tingkat keberhasilan metode storytelling. Selain itu, peneliti juga memberikan tes tertulis setelah setiap siklus untuk mengukur sejauh mana pemahaman dan keterampilan bahasa siswa meningkat, terutama dalam hal membaca dan menulis. Hasil observasi dan tes digunakan sebagai bahan refleksi untuk merancang perbaikan di siklus berikutnya. (Mubarok, 2. Tahap refleksi dilakukan setelah setiap siklus untuk mengevaluasi sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai dan untuk merencanakan perbaikan yang diperlukan. Peneliti menganalisis data hasil observasi, wawancara dengan siswa, serta hasil tes untuk melihat apakah terdapat perubahan positif dalam kemampuan bahasa siswa. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti membuat keputusan untuk perbaikan tindakan pada siklus selanjutnya. Jika pada siklus pertama hasil yang diperoleh masih belum optimal, maka pada siklus kedua akan dilakukan penyesuaian strategi atau variasi metode dalam bercerita untuk meningkatkan hasil (Hendika & Musyadad, 2. RESULTS AND DISCUSSION Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode storytelling di kelas i MIN 1 Karangasem berhasil meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa. Pada siklus pertama, keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar meningkat signifikan. Sebelum siklus ini dimulai, sebagian besar siswa menunjukkan minat yang rendah dalam pembelajaran bahasa Indonesia, terutama dalam kegiatan membaca dan menyimak. Namun, setelah penerapan storytelling, siswa menunjukkan respons yang lebih aktif dan tertarik mengikuti pelajaran, sebagaimana terlihat dari frekuensi partisipasi mereka dalam diskusi kelompok dan sesi tanya jawab. Hal ini sejalan dengan temuan dari Kurniawan . , yang menyatakan bahwa metode cerita efektif untuk meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran bahasa. Pada siklus pertama, kemampuan berbicara siswa juga mengalami peningkatan. Sebagian besar siswa yang sebelumnya cenderung pasif mulai berani mengungkapkan pendapat mereka mengenai cerita yang dibacakan, serta mampu merangkum cerita dengan menggunakan kalimat mereka sendiri. Meskipun ada beberapa siswa yang masih mengalami kesulitan dalam menyampaikan pendapat secara lisan, secara keseluruhan peningkatan ini signifikan jika dibandingkan dengan kondisi sebelum penelitian. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Desmirasari & Oktavia . , yang menemukan bahwa storytelling mampu mendorong siswa untuk lebih aktif berbicara dan mengungkapkan ide mereka. Kemampuan membaca siswa juga mengalami peningkatan pada siklus pertama. Sebagian besar siswa mampu membaca teks cerita dengan intonasi yang lebih baik dan memahami isi cerita dengan lebih baik. Proses pembelajaran yang menggunakan metode storytelling memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengasosiasikan kata-kata dengan gambar atau ilustrasi, yang mempermudah mereka dalam memahami makna kata dan memperkaya kosakata mereka. Hal ini didukung oleh penelitian Purwanto . , yang menyatakan bahwa media berbasis cerita, seperti cerita bergambar, dapat meningkatkan keterampilan membaca siswa secara signifikan. Meskipun ada kemajuan yang positif dalam siklus pertama, beberapa tantangan masih terlihat, terutama terkait dengan pemahaman mendalam terhadap cerita. Beberapa siswa kesulitan untuk memahami karakter-karakter dalam cerita atau menyimpulkan pesan moral yang Hal ini menunjukkan bahwa penerapan storytelling membutuhkan pendekatan yang lebih terstruktur dan mendalam, terutama dalam mengembangkan kemampuan kognitif siswa untuk berpikir kritis dan analitis. Rahmawati . juga mencatat bahwa meskipun Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 metode storytelling meningkatkan keterlibatan siswa, pemahaman mendalam terhadap materi tetap memerlukan bimbingan lebih lanjut dari guru. Pada siklus kedua, peneliti memodifikasi pendekatan dengan menambahkan lebih banyak diskusi kelompok setelah sesi bercerita untuk membantu siswa menganalisis cerita lebih Dengan diskusi kelompok, siswa diberikan kesempatan untuk saling bertukar pandangan dan menyelesaikan pertanyaan terkait isi cerita secara bersama-sama. Hasilnya, pemahaman mereka terhadap cerita meningkat, terutama dalam mengidentifikasi karakter, tema, dan pesan moral cerita. Seperti yang ditemukan oleh Yuananda & Utaminingtyas . , diskusi kelompok efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa, terutama dalam menganalisis materi pembelajaran. Selain itu, pada siklus kedua, siswa menunjukkan kemajuan dalam kemampuan menulis. Mereka diminta untuk membuat tulisan singkat tentang cerita yang telah mereka dengar, baik dalam bentuk rangkuman maupun ulasan. Sebagian besar siswa mampu menyusun tulisan dengan struktur yang lebih jelas dan terorganisir, meskipun masih ada beberapa yang membutuhkan bantuan lebih lanjut dalam penggunaan tata bahasa yang tepat. Hal ini sejalan dengan temuan Silalahi et al. yang menunjukkan bahwa storytelling dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa dengan cara memberikan contoh yang jelas dan langsung terkait dengan kehidupan mereka. Meskipun kemampuan menulis mengalami peningkatan, beberapa siswa masih membutuhkan dukungan ekstra dalam mengembangkan ide-ide mereka menjadi tulisan yang lebih panjang dan komprehensif. Guru perlu memberikan lebih banyak latihan menulis, dengan memberikan panduan yang lebih rinci tentang bagaimana menyusun tulisan yang baik dan benar. Hendika & Musyadad . menekankan pentingnya latihan menulis secara teratur untuk mengembangkan kemampuan berbahasa siswa secara lebih efektif, terutama pada tingkat Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa metode storytelling memberikan dampak positif terhadap keterampilan berbahasa Indonesia siswa di kelas i MIN 1 Karangasem. Meskipun ada tantangan dalam beberapa aspek seperti pemahaman mendalam dan menulis, peningkatan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sudah menunjukkan hasil yang Hal ini sesuai dengan temuan Oktavianti . , yang menunjukkan bahwa storytelling dapat meningkatkan motivasi dan minat siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia secara keseluruhan. Selama penelitian, peneliti juga mengamati adanya perubahan positif dalam sikap siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia. Siswa yang sebelumnya merasa bosan dengan pelajaran bahasa Indonesia mulai menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi. Mereka terlihat lebih senang mengikuti setiap sesi pembelajaran dan terlihat lebih percaya diri saat berbicara di depan kelas. Mubarok . juga menyebutkan bahwa penggunaan metode bercerita dapat membantu membangun rasa percaya diri siswa, terutama dalam konteks komunikasi lisan. Namun, ada tantangan lain yang perlu diatasi dalam implementasi storytelling ini. Beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam mengingat dan mengaitkan informasi yang telah disampaikan dalam cerita dengan kehidupan sehari-hari mereka. Dalam hal ini, perlu ada penekanan lebih lanjut pada pembelajaran kontekstual, di mana cerita yang dipilih harus lebih relevan dengan pengalaman dan budaya siswa. Aini et al. menyoroti pentingnya relevansi cerita dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan berbahasa siswa, terutama di tingkat dasar. Selain itu, meskipun metode storytelling terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan berbahasa, pengembangan bahan ajar yang lebih bervariasi tetap menjadi perhatian. Sebagian besar bahan ajar yang digunakan dalam penelitian ini berupa cerita rakyat, yang meskipun menarik, belum cukup mencakup beragam topik yang relevan dengan kehidupan siswa. Oleh karena itu, ke depan, perlu ada upaya untuk memperkaya materi cerita yang digunakan agar Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 lebih beragam dan mencakup topik-topik yang lebih luas. Rahmawati . juga menekankan pentingnya keberagaman materi dalam pembelajaran untuk mempertahankan minat dan motivasi siswa. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat dasar. Guru dapat memanfaatkan metode storytelling tidak hanya untuk meningkatkan keterampilan berbahasa siswa, tetapi juga untuk menanamkan nilai-nilai karakter dan budaya. Seperti yang dicatat oleh Sari & Nofriadi . , pembelajaran berbasis cerita dapat menjadi sarana efektif untuk mengenalkan siswa pada nilai-nilai moral dan budaya yang terkandung dalam cerita rakyat, yang juga mendukung pembentukan karakter siswa. Penelitian ini juga memperkuat pentingnya penggunaan metode yang kontekstual dan menyenangkan dalam pembelajaran bahasa. Dengan menggunakan metode yang sesuai dengan minat dan karakteristik siswa, hasil pembelajaran dapat lebih maksimal. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk terus berinovasi dan mencari metode pembelajaran yang dapat membuat siswa lebih aktif dan termotivasi dalam belajar, seperti yang diungkapkan oleh Desmirasari & Oktavia . dalam penelitian mereka tentang pentingnya kreativitas guru dalam mendesain pembelajaran yang menarik. Secara keseluruhan, penerapan storytelling dalam pembelajaran bahasa Indonesia di MIN 1 Karangasem terbukti meningkatkan keterampilan berbahasa siswa secara signifikan. Meskipun ada beberapa tantangan yang harus diatasi, terutama terkait dengan pemahaman mendalam dan kemampuan menulis, penelitian ini memberikan bukti bahwa metode ini efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih menarik dan interaktif. Diharapkan, penelitian ini dapat menjadi acuan bagi guru dan pihak sekolah dalam merancang pembelajaran bahasa yang lebih kreatif dan sesuai dengan kebutuhan siswa. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode storytelling . secara signifikan meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa kelas i di MIN 1 Karangasem. Pembelajaran menggunakan storytelling mampu merangsang minat siswa untuk lebih aktif terlibat dalam kegiatan belajar, baik dalam menyimak, berbicara, membaca, maupun menulis. Pada siklus pertama, siswa menunjukkan peningkatan yang positif dalam hal partisipasi aktif dalam diskusi kelompok dan pemahaman terhadap cerita yang disampaikan. Mereka mulai menunjukkan keberanian untuk berbicara di depan kelas dan berpartisipasi dalam tanya jawab, yang sebelumnya kurang terlihat. Selain itu, peningkatan kemampuan membaca juga tampak jelas, dengan siswa mampu membaca cerita dengan lebih percaya diri dan lebih memahami isi cerita. Peningkatan ini menunjukkan bahwa storytelling bukan hanya menarik, tetapi juga efektif dalam memperkaya kosakata siswa serta meningkatkan pemahaman mereka terhadap teks. Pada siklus kedua, penambahan kegiatan diskusi kelompok lebih lanjut memperbaiki pemahaman siswa terhadap cerita, sehingga mereka mampu menganalisis isi cerita dengan lebih mendalam dan menulis rangkuman yang lebih terstruktur dan jelas. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa tantangan, seperti kesulitan beberapa siswa dalam mengingat dan mengaitkan informasi cerita dengan pengalaman pribadi mereka. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan siswa untuk lebih memaksimalkan potensi metode storytelling. Penelitian ini memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya dalam mengoptimalkan penggunaan metode berbasis cerita untuk meningkatkan keterampilan berbahasa siswa. Hasil penelitian ini juga menunjukkan pentingnya kreativitas dan variasi dalam metode pengajaran untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan efektif bagi siswa. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 REFERENCES