JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 591-606 EISSN 2622-545X PERBANDINGAN DEFORMASI DINDING PADA BASEMENT METODE TOP-DOWN DENGAN ANALISIS CONSTRUCTION STAGE DAN ANALISIS KONVENSIONAL Raynaldi1 dan Alfred Jonathan Susilo2 Program Studi Sarjana Teknik Sipil. Universitas Tarumanagara. Jl. Letjen S. Parman No. 1 Jakarta 325179101@stu. Program Studi Sarjana Teknik Sipil. Universitas Tarumanagara. Jl. Letjen S. Parman No. 1 Jakarta alfredsusilo@gmail. Masuk: 05-01-2021, revisi: 14-01-2021, diterima untuk diterbitkan: 11-03-2021 ABSTRACT In basement construction with the top-down approach, excavation and slab installation work are carried out in stages. However, not all geotechnical applications can simulate construction stages, hence this effect has been ignored by many engineers in practice. Therefore, in this study, the effect of basement construction stages is analyzed using MIDAS GTS NX. In the program, two different analyses are performed. The first analysis is the construction stage analysis that simulates construction stages. As a comparison, a conventional analysis is performed which doesn't simulate construction stages. The two analysis results are compared. This analysis focuses mainly on the wall The modeling consists of 5 excavation stages . meters dee. and a diaphragm wall . meters dee. The walls are given 5 layers of slab reinforcements. In the first excavation stage, the maximum wall deformation results in both analyses show slightly different results . he construction stage analysis result is 8% greater than that of conventional analysi. However, in the final excavation stage, a significant difference is shown . he construction stage analysis result is 37% greater than that of conventional analysi. These results indicate that the effect of construction stages should not be neglected, especially in multi-story basements with top-down construction. Keywords: top-down. MIDAS GTS NX. construction stage. diaphragm wall. ABSTRAK Pada konstruksi basement dengan metode top-down, pekerjaan penggalian dan pemasangan pelat dilakukan secara Namun, tidak semua aplikasi geoteknik dapat mensimulasikan tahapan konstruksi sehingga pengaruhnya sering diabaikan oleh banyak insinyur dalam praktiknya. Maka, pada penelitian ini dilakukan analisis pengaruh tahapan konstruksi basement menggunakan aplikasi MIDAS GTS NX. Pada program, akan dilakukan dua analisis yang berbeda. Pertama, dilakukan analisis construction stage yang mensimulasikan tahapan konstruksi. Sebagai perbandingan, dilakukan analisis konvensional yang tidak mensimulasikan tahapan konstruksi. Kedua hasil analisis Analisis ini lebih berfokus pada deformasi yang terjadi pada dinding diafragma. Pemodelan terdiri dari 5 tahap galian dengan kedalaman 17 meter dan dinding diafragma dengan kedalaman 36 meter. Dinding diberi perkuatan pelat sebanyak 5 lapis. Pada galian tahap pertama, hasil deformasi maksimum dinding pada kedua analisis menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda . asil analisis construction stage lebih besar 8% dibandingkan hasil analisis konvensiona. Tetapi pada galian tahap akhir, hasil deformasi maksimum dinding pada kedua analisis menunjukkan perbedaan signifikan . asil analisis construction stage lebih besar 37% dibandingkan hasil analisis Hasil ini menunjukkan bahwa pengaruh tahapan konstruksi sebaiknya tidak diabaikan khususnya pada basement bertingkat banyak dengan metode top-down. Kata kunci: top-down. MIDAS GTS NX. tahapan konstruksi. dinding diafragma. PENDAHULUAN Pekerjaan galian tanah akan menimbulkan deformasi lateral pada dinding diafragma, sehingga perlu dilakukan analisis untuk memastikan keamanannya. Untuk mendapatkan hasil analisis yang akurat, maka perlu dilakukan analisis yang menyerupai kondisi sesungguhya. Dalam pekerjaan basement dengan metode top-down di lapangan, proses dilakukan secara bertahap mengikuti suatu tahapan konstruksi. Namun sayangnya, tidak semua aplikasi geoteknik dapat mensimulasikan tahapan konstruksi sesuai dengan yang dikerjakan di lapangan. Padahal, efek penerapan beban mati secara sekuensial merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam analisis (Das, 2. Sayangnya, efek ini telah diabaikan oleh banyak insinyur dalam praktiknya. Salah satu cara untuk mempertimbangkan efek ini dengan benar dalam analisis adalah dengan melakukan prosedur analisis langkah demi langkah sesuai dengan penerapan Perbandingan Deformasi Dinding pada Basement Metode Top-Down dengan Analisis Construction Stage dan Analisis Konvensional Raynaldi, et al. beban mati secara sekuensial selama konstruksi berlangsung atau biasa disebut analisis construction stage. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan analisis pengaruh tahapan konstruksi pada basement dengan metode top-down. Aplikasi MIDAS GTS NX digunakan untuk analisis. Pada program, akan dilakukan dua analisis yang berbeda. Pertama, dilakukan analisis construction stage yang dapat mensimulasikan tahapan konstruksi. Kedua, dilakukan analisis konvensional yang tidak mensimulasikan tahapan Kedua analisis diilustrasikan pada Gambar 1. Kedua hasil analisis akan dibandingkan dan dianalisis seberapa besar pengaruh tahapan konstruksi. Analisis ini lebih berfokus pada deformasi yang terjadi pada dinding diafragma untuk mengetahui perubahan deformasi yang terjadi pada dinding penahan tanah selama tahapan Untuk batasan masalah pada penelitian ini, basement yang ditinjau adalah basement 5 tingkat dan analisis dilakukan pada kondisi tanah drained. Gambar 1. Ilustrasi analisis construction stage . dan analisis konvensional . Metode Top-Down Metode membangun bangunan tinggi yang dilakukan secara bersamaan ke bawah dan ke atas dinamakan top-down. Pada metode konstruksi top-down, urutan pekerjaan tidak dimulai dari lantai basement paling bawah . asar galia. Tepatnya, titik awal pekerjaan dimulai dari pelat lantai satu . round level atau muka tana. Kemudian, galian mengarah ke bawah dan secara bersamaan juga dilakukan pekerjaan struktur atas. Dalam hal ini terjadi proses pekerjaan ganda, yaitu ke bawah dan ke atas. Jika dibandingkan dengan sistem konvensional . ottom-u. , penggunaan sistem top-down lebih menghemat biaya dan memangkas waktu pelaksanaan (Prawidiawati, 2. Faktor hemat waktu dan biaya memungkinkan sistem top-down akan berkembang cepat dan menjadi pilihan para perencana. Tahapan Pada Metode Top-Down Tahapan pengerjaan basement dengan metode top-down dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah dengan penjelasan sebagai berikut: Pemasangan dinding diafragma Pemasangan fondasi dan king post Pembuatan pelat lantai dasar . icor di atas tanah dengan lantai kerj. Disediakan lubang lantai dan ramp sementara untuk pembuangan tanah galian. Penggalian basement tingkat 1 Pengecoran pelat lantai. Disediakan lubang lantai dan ramp sementara untuk pembuangan tanah galian Penggalian basement tingkat 2 dilaksanakan seperti galian basement 1, begitu seterusnya Pengecoran raft foundation King post dicor, sebagai kolom struktur JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 591-606 EISSN 2622-545X Gambar 2. Pekerjaan basement dengan sistem top-down Dinding Penahan Tanah Dinding penahan tanah yang digunakan pada basement metode top-down umumnya adalah dinding diafragma. Dinding diafragma atau dinding sekat adalah sebuah membran buatan dengan ketebalan . esuai tebal alat penggali bernama grabbe. dan kedalaman tertentu. Dinding diafragma merupakan dinding penahan tanah yang dipasang sebagai sebuah sistem pengembangan lebih lanjut dari sistem tiang bor beruntun atau secant pile dan juga contiguous Penggunaan sistem dinding diafragma sangat ekonomis karena ada banyak faktor menguntungkan bila dibandingkan dengan sistem dinding penahan beruntun (Mistra, 2. Tiang Bor Tahap pengeboran dikerjakan setelah dilakukan penetapan titik bor di lapangan sesuai rencana. Untuk menjaga kestabilan lubang, selama proses penggalian lubang yang dihasilkan selalu diisi dengan lumpur bentonite yang dikontrol kekentalan dan berat jenisnya sebelum dituangkan ke dalam lubang galian. Setelah lubang selesai dikerjakan pembesian dimasukkan diikuti dengan pengecoran dengan menggunakan pipa tremi. Selama proses pengecoran kualitas beton harus tetap dijaga. King Post King post merupakan langkah kerja setelah seluruh pekerjaan pemasangan dinding diafragma selesai, yang berfungsi sebagai (Mistra, 2. Kolom sementara yang mendukung pelat lantai basement atau strutting pada saat penggalian basement. Menahan pelat lantai dan menyalurkan beban yang bekerja pada pelat lantai basement ke tiang fondasi dimana king post tertanam. King post ini sangat berperan pada pelaksanaan sistem top-down yang memungkinkan pelaksanaan pembangunan serentak ke atas dan ke bawah. Pelat Selain berfungsi sebagai penahan beban gravitasi yang bekerja padanya, pelat lantai pada metode konstruksi top-down juga berfungsi penting sebagai pengaku . yang menahan deformasi lateral dari dinding penahan tanah (Xiao. Hal yang juga perlu diperhatikan adalah rencana ketinggian lantai ke lantai dari pelat basement karena alat gali backhoe yang digunakan membutuhkan ruang gerak minimum tertentu. Bila jarak lantai terlalu dekat maka penggalian tidak dapat dilaksanakan secara berurutan, tapi harus meloncat satu lantai. Raft (Base Floo. Lantai dasar basement . ase floo. merupakan fondasi utama dari seluruh bangunan sehingga dibuat berbeda dengan lantai basement lainnya. Pada lantai bagian ini merupakan lokasi adanya pile cap, fondasi tiang bor, dan kolom struktur Seringkali didapat kebutuhan ruang pile cap yang hampir memenuhi seluruh ruang lantai basement bawah. Desain pelat ini sekaligus difungsikan sebagai pile cap yang lebar seperti pada Gambar 3. Perbandingan Deformasi Dinding pada Basement Metode Top-Down dengan Analisis Construction Stage dan Analisis Konvensional Raynaldi, et al. Gambar 3. Potongan basement dengan metode top-down (Sumber: Mistra, 2. Analisis Construction Stage Pada analisis construction stage, tidak dibuat model analisis independen untuk setiap tahap konstruksi. Sebaliknya, digunakan konsep model kumulatif di mana hanya perubahan struktur atau pembebanan yang menjadi input untuk setiap tahap konstruksi dan hasil analisis diakumulasikan dari hasil analisis tahap sebelumnya. Digunakan prosedur analisis langkah demi langkah sesuai dengan penerapan beban mati secara sekuensial selama konstruksi berlangsung Oleh karena itu dalam analisis construction stage, perubahan struktur dan riwayat pembebanan dari tahap sebelumnya mempengaruhi hasil analisis tahap selanjutnya (Midas GTS, 2. Analisis Konvensional Analisis konvensional dilakukan dengan asumsi bahwa semua beban diterapkan secara bersamaan ke struktur lengkap yang sudah jadi. Asumsi ini tidak valid dalam konstruksi nyata khususnya pada basement dengan metode top-down, karena konstruksi dilaksanakan secara bertahap dan beban mati yang bekerja juga diterapkan secara bertahap (Panigrahi, 2. Syarat Batas Deformasi Lateral Dinding Penahan Batasan deformasi lateral izin dinding penahan tanah dan/atau embedded walls ditentukan oleh kondisi tanah, kedalaman galian serta jarak dan kondisi gedung terdekat yang besarnya ditentukan dalam rumusan seperti yang tercantum dalam Tabel 1. Tabel 1. Batas maksimum deformasi lateral dinding Batas maksimum deformasi lateral pada dinding Batas izin maksimum /H) Lokasi gedung dan infrastruktur eksisting terdekat Zona 1 Zona 2 Zona 3 . /H > . /H < . O x/H O . Tanah Tipe A Tanah Tipe B 0,5 % 0,7 % 0,7 % 1,0 % (Sumber: Badan Standardisasi Nasional, 2. Keterangan: x = jarak dari batas galian H = kedalaman galian w = defleksi dinding Tanah Tipe A= tanah lempung dan lanau overconsolidated, tanah residual, dan tanah pasir dengan kepadatan sedang sampai dengan padat. A Tipe Tanah B= tanah lempung dan lanau lunak, tanah organik dan tanah timbunan tidak terpadatkan. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 591-606 EISSN 2622-545X METODE PENELITIAN Prosedur Analisis Secara garis besar prosedur yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Tahap awal dari penelitian ini dimulai dengan menentukan data tanah dan layout bangunan dari proyek yang akan digunakan dalam penelitian. Tahap berikutnya adalah mengolah data tanah yang telah didapat dengan menggunakan korelasi-korelasi. Lalu dilakukan studi literatur mengenai tahapan-tahapan pekerjaan basement dengan metode top-down Langkah berikutnya adalah pemodelan untuk tahapan-tahapan pekerjaan basement dengan metode top-down. Pemodelan dilakukan dengan program MIDAS GTS NX . emodelan 3D). Tahap berikutnya adalah dibuat perbandingan dengan pertama-tama dilakukan analisis construction stage, lalu dibandingkan dengan analisis konvensional tanpa memperhitungkan construction stage pada pemodelan. Lalu dilakukan analisa hasil deformasi dinding diafragma. Tahapan terakhir pada penelitian ini adalah membandingkan hasil yang didapat dari analisis. Kemudian akan diformulasikan kesimpulan-kesimpulan yang dapat bermanfaat untuk perencana. Gambar 4 menunjukkan diagram alir penelitian. Gambar 4. Diagram alir penelitian Perbandingan Deformasi Dinding pada Basement Metode Top-Down dengan Analisis Construction Stage dan Analisis Konvensional Raynaldi, et al. Tahapan Pemodelan Pada program MIDAS GTS NX, secara garis besar dilakukan tahapan pemodelan seperti pada Gambar 5. Gambar 5. Tahapan pemodelan 3D pada MIDAS GTS NX Pemodelan Tanah Untuk pemodelan tanah, awalnya dibuat model geometri untuk tanah galian dan tanah luar galian. Tahap selanjutnya, dilakukan meshing seperti pada Gambar 6. Untuk input data tanah, pada menu material dipilih create isotropic lalu model type yang digunakan untuk tanah adalah modified mohr-coulomb. Lalu dimasukkan data tanah sesuai dengan data rekap Tabel 2 s. Tabel 4. Gambar 6. Pemodelan geometri dan meshing tanah Pemodelan Dinding Diafragma dan Struktur Basement Letak titik tiang bor/king post diimport dari denah AutoCad. Lalu dilakukan pemodelan geometri dan meshing untuk dinding diafragma, pelat basement, raft, king post, dan tiang bor. Untuk dinding diafragma dan tanah, dibuat interface yang mewakili hubungan antarmuka dan begitu pula untuk tiang bor dan tanah. Hasil meshing pelat, dinding diafragma, king post, tiang bor dan interface antar dinding diafragma dan tanah diperlihatkan pada Gambar 7 berikut JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 591-606 EISSN 2622-545X Gambar 7. Hasil meshing untuk dinding diafragma dan struktur basement Penambahan Kondisi Batas Setelah meshing, dilakukan penambahan kondisi batas untuk tanah dengan cara Static/Slope Analysis > Boundary > Constraint > Auto. Lalu ditambahkan kondisi batas untuk tiang dan king post dengan cara Static/Slope Analysis > Boundary > Constraint > Advanced Tab > Object type: Node > Select: Semua nodal tiang bor/ king post > DOF: Rz Penambahan Beban Statis Beban statis yang dipertimbangkan adalah beban parkir sebesar 4 kN/m2 yang diaplikasikan pada pelat basement, berat sendiri . elf weigh. , surcharge load sebesar 10 kN/m2, dan beban dari struktur atas sesuai dengan pembebanan pada struktur atas yang diaplikasikan sebagai beban terpusat pada king post. Penambahan Muka Air Pada saat pemodelan ini dimasukkan letak muka air tanah sesuai dengan kedalaman. Pada luar area galian. MAT berada pada kedalaman -1 m. Sedangkan pada area galian, muka air tanah divariasikan. Muka air tanah pada area galian menurun sedalam 1 meter di bawah tanah yang sudah digali sesuai dengan tahapan galian yang berlangsung. Perbandingan Deformasi Dinding pada Basement Metode Top-Down dengan Analisis Construction Stage dan Analisis Konvensional Raynaldi, et al. HASIL DAN PEMBAHASAN Rekap Input Parameter Tanah Tipe model yang digunakan untuk tanah adalah modified mohr-coulomb dan analisis dilakukan pada kondisi drained. Tabel 2 s. d Tabel 6 memperlihatkan rekap input parameter tanah. Tabel 2. Rekap input parameter tanah . Lapisan Tanah Kedalaman . NSPT Jenis Tanah Konsistensi Tanah Poisson Ratio N/m. N/m. Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 Lapisan 4 Lapisan 5 Lapisan 6 Clay Clay Clay Clay Clay Clay Medium Stiff Very Stiff Very Stiff Very Stiff Hard 0,35 Tabel 3. Rekap input parameter tanah . Lapisan Tanah Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 Lapisan 4 Lapisan 5 Lapisan 6 Kedalaman . K . /se. Su . E (MP. Eoed (MP. Euref (MP. Tabel 4. Rekap input parameter tanah . Lapisan Lapisanh 1 Lapisan 2 Lapisan 3 Lapisan 4 Lapisan 5 Lapisan 6 Kedalaman . Porositas . 0,57 0,50 0,44 0,44 0,44 0,44 i (A) (A) C . Rekap Input Spesifikasi Dinding Penahan Tanah Tabel 5 memperlihatkan rekap input parameter dinding diafragma. Tabel 5. Rekap input spesifikasi dinding diafragma Parameter Nama Nilai Satuan Jenis Perilaku Modulus elastisitas Tebal ekivalen Berat Angka Poisson Jenis Material Elastis 2,7 x 107 0,18 kN/m2 kN/m3 OCR JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 591-606 EISSN 2622-545X Rekap Input Spesifikasi Pelat Tabel 6 memperlihatkan rekap input parameter pelat . Tabel 6. Rekap input spesifikasi pelat . Parameter Nama Nilai Satuan Jenis Perilaku Modulus elastisitas Tebal ekivalen Berat Angka Poisson Jenis Material Elastis 2,7 x 107 0,18 kN/m2 kN/m3 Rekap Input Spesifikasi Raft Tabel 7 memperlihatkan rekap input parameter raft. Tabel 7. Rekap input spesifikasi raft Parameter Nama Nilai Satuan Jenis Perilaku Modulus elastisitas Tebal ekivalen Berat Angka Poisson Jenis Elastis 2,7 x 107 0,18 kN/m2 kN/m3 Rekap Input Spesifikasi Tiang Bor Tabel 8 memperlihatkan rekap input parameter tiang bor pada tabel berikut. Tabel 8. Rekap input spesifikasi tiang bor Parameter Nama Nilai Satuan Jenis Perilaku Modulus elastisitas Diameter Berat Angka Poisson Jenis Ei l Elastis 2,7 x 107 0,18 kN/m2 kN/m3 Rekap Input Spesifikasi King post Tabel 9 memperlihatkan rekap input parameter king post. Tabel 9. Rekap input spesifikasi king post Parameter Nama Nilai Satuan Jenis Perilaku Modulus elastisitas Berat Angka Poisson Jenis Material Elastis 2 x 108 76,98 kN/m2 kN/m3 King post menggunakan pipa baja 600 mm dengan tebal 50 mm. Perbandingan Deformasi Dinding pada Basement Metode Top-Down dengan Analisis Construction Stage dan Analisis Konvensional Raynaldi, et al. Perbandingan Tegangan Vertikal Dan Horizontal Efektif Pada Program Dan Hitungan Manual Pengecekan dilakukan dengan membandingkan tegangan vertikal efektif dan tegangan horizontal efektif antara perhitungan manual dan hasil dari program. Analisis dilakukan pada tahap galian akhir dengan MAT luar galian berada pada kedalaman -1 m dan MAT area galian pada kedalaman -18 m. Gambar 8 dan Gambar 9 menunjukkan perbandingan antara kedua hasil. Tabel 10 menunjukkan hasil perhitungan manual tegangan aktif dan pasif. TEGANGAN VERTIKAL EFEKTIF . -200 -100 TEGANGAN HORIZONTAL EFEKTIF . DASAR GALIAN DASAR GALIAN -15 Teg. Horizontal (Akti. Teg. Horizontal (Pasi. Teg. Horizontal (Aktif-Progra. Teg. Horizontal (Pasif- Progra. Teg. Vertikal Efektif (Akti. Teg. Vertikal Efektif (Pasi. Teg. Vertikal Efektif (Aktif-Progra. Teg. Vertikal Efektif (Pasif- Progra. Gambar 8. Tegangan Vertikal Efektif (Program Vs Hitungan Manua. Gambar 9 Tegangan Horizontal Efektif (Program Vs Hitungan Manua. Tabel 10. Hasil perhitungan manual tegangan efektif Kedalaman . N/m. Koefisien Aktif (K. Pasif (K. 0,53 0,53 0,49 0,44 0,44 0,44 0,41 1,89 1,89 2,04 2,28 2,28 2,28 2,46 Teg. Vertikal Efektif . Aktif 17,00 81,71 2c' Ka 2c' Kp Pasif 0,00 -19,00 -92,52 -184,42 10,56 10,56 19,61 31,54 31,54 31,54 29,22 -37,89 -37,89 -81,58 -164,35 -164,35 -164,35 -177,40 Teg. Lateral Efektif . Aktif Pasif -1,58 32,57 44,54 29,81 33,83 66,04 98,48 -164,35 -207,72 -375,54 -631,80 Hasil Analisis Construction Stage Dari hasil analisis construction stage, bisa didapatkan deformasi maksimum dinding penahan tanah pada masingmasing arah X dan Y seperti pada Gambar 10. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 591-606 EISSN 2622-545X Gambar 10. Deformasi dinding arah x . dan arah y . Tabel 11. Perbandingan deformasi maksimum dinding diafragma dengan pelat dan tanpa pelat Tahapan Tahap Awal Instalasi Pemasangan Pelat 1 Penggalian Tahap 1 Pemasangan Pelat 2 Penggalian Tahap 2 Pemasangan Pelat 3 Penggalian Tahap 3 Pemasangan Pelat 4 Penggalian Tahap 4 Pemasangan Pelat 5 Penggalian Tahap 5 Pemasangan Raft Deformasi Max Arah X . Dengan Pelat Tanpa Pelat 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 7,43 16,16 7,38 10,31 28,55 10,28 12,30 49,49 12,30 13,92 97,34 13,95 14,96 177,34 15,07 179,11 Deformasi Max Arah Y . Dengan Pelat Tanpa Pelat 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 5,74 11,32 5,69 8,32 19,41 8,29 10,28 27,19 10,27 12,06 35,82 12,07 13,44 44,20 13,57 45,23 Untuk memperoleh gambaran seberapa efektif fungsi pelat sebagai strut, dilakukan perbandingan antara deformasi maksimum dengan pelat sebagai strut dan tanpa pelat sebagai strut. Batas maksimum deformasi ditetapkan dalam SNI Geoteknik sesuai dengan Tabel 1. Diasumsikan bahwa x/H < 1, sehingga batas maksimum deformasi sebesar 0. 5%H yaitu 85 mm. Deformasi dinding penahan tanah dengan pelat masih memenuhi syarat SNI. Namun, tidak sama halnya dengan deformasi dinding penahan tanah tanpa perkuatan pelat sehingga pelat diperlukan selama pekerjaan penggalian agar dinding penahan tanah dalam keadaan aman. Dari hasil analisis pada Tabel 11, dapat dilihat bahwa perbedaan hasil deformasi maksimum antara penggalian basement tanpa pelat sebagai strut dan penggalian basement dengan pelat sebagai strut sangat besar. Pada tahap galian 5, didapatkan deformasi maksimum sebesar 15,07 mm . engan perkuatan pela. dan 179,11 mm . anpa perkuatan Didapat perbedaan sebesar 164,04 mm. Hasil deformasi dinding pada masing-masing tahapan dapat dilihat pada Gambar 11 untuk penggalian dengan perkuatan pelat dan Gambar 12 untuk penggalian tanpa perkuatan pelat. Pada Gambar 11 dan Gambar 12, dapat terlihat perbedaan pola. Pada model tanpa pelat, letak titik deformasi maksimumnya selalu terletak di bagian paling atas dinding pada tiap tahapan, sedangkan pada model dengan pelat, letak titik deformasi maksimumnya berpindah-pindah. Semakin dalam galian, letak titik deformasi maksimumnya semakin ke bawah. Perbandingan Deformasi Dinding pada Basement Metode Top-Down dengan Analisis Construction Stage dan Analisis Konvensional DEFORMASI (MM) DEFORMASI (MM) KEDALAMAN (M) KEDALAMAN (M) Raynaldi, et al. Galian 1 Galian 3 Galian 5 Galian 1 Galian 3 Galian 5 Galian 2 Galian 4 Gambar 11. Grafik deformasi dinding . engan pela. pada tiap tahap galian Galian 2 Galian 4 Gambar 12. Grafik deformasi dinding . anpa pela. pada tiap tahap galian Perbandingan Antara Hasil Analisis Construction Stage dan Analisis Konvensional Selanjutnya dilakukan perbandingan hasil deformasi antara analisis construction stage dan analisis biasa . anpa memperhitungkan construction stag. Hasil deformasi maksimum ditabulasikan pada Tabel 12. Tabel 12. Perbandingan hasil deformasi maksimum dinding antara analisis construction stage dan analisis Tahapan Konstruksi Tahap Awal Instalasi Penggalian Tahap 1 Penggalian Tahap 2 Penggalian Tahap 3 Penggalian Tahap 4 Penggalian Tahap 5 Deformasi Max Dinding Diafragma . Analisis Dengan Tanpa Memperhitungkan Memperhitungkan Tahapan Kontruksi Tahapan Kontruksi 0,00 0,00 0,00 0,00 7,43 6,84 10,31 7,86 12,30 8,68 13,92 9,08 14,96 9,36 Perbedaan . 0,00 0,00 0,59 2,45 3,62 4,84 5,60 Dari tabel di atas, jelas terlihat bahwa deformasi dengan memperhitungkan tahapan konstruksi lebih besar daripada deformasi tanpa memperhitungkan tahapan konstruksi. Perbedaan tidak terlalu besar pada tahap galian 1 yaitu 0,59 Namun perbedaan semakin besar pada tahap-tahap berikutnya hingga mencapai perbedaan sebesar 5,60 mm pada tahap galian 5. Maka dari itu, pengaruh dari tahapan konstruksi tidak dapat diabaikan khususnya pada pekerjaan basement dengan metode top-down. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 591-606 EISSN 2622-545X Pada Gambar 13 dan Gambar 14, ditunjukkan grafik deformasi pada masing-masing tahapan. Gambar 13 menggambarkan deformasi dinding hasil analisis construction stage, sedangkan Gambar 14 menggambarkan deformasi dinding hasil analisis konvensional. DEFORMASI (MM) KEDALAMAN (M) Galian 1 Galian 2 Galian 3 Galian 4 Galian 5 Gambar 13. Hasil deformasi dinding dengan analisis construction stage DEFORMASI (MM) KEDALAMAN (M) Galian 1 Galian 2 Galian 3 Galian 4 Galian 5 Gambar 14. Hasil deformasi dinding dengan analisis konvensional Perbandingan Deformasi Dinding pada Basement Metode Top-Down dengan Analisis Construction Stage dan Analisis Konvensional DEFORMASI (MM) KEDALAMAN (M) KEDALAMAN (M) Raynaldi, et al. Galian 2 (Dengan Construction Stag. Galian 1 (Tanpa Construction Stag. Galian 2 (Tanpa Construction Stag. Gambar 16. Perbandingan hasil deformasi dinding antara analisis construction stage dan analisis konvensional pada galian tahap 2 Gambar 15. Perbandingan hasil deformasi dinding antara analisis construction stage dan analisis konvensional pada galian tahap 1 KEDALAMAN (M) KEDALAMAN (M) DEFORMASI (MM) Galian 3 (Tanpa Construction Stag. Galian 3 (Dengan Construction Stag. DEFORMASI (MM) Galian 1 (Dengan Construction Stag. DEFORMASI (MM) Galian 5 (Dengan Construction Stag. Galian 5 (Tanpa Construction Stag. Gambar 17. Perbandingan hasil deformasi dinding antara analisis construction stage dan analisis konvensional pada galian tahap 3 Gambar 18. Perbandingan hasil deformasi dinding antara analisis construction stage dan analisis konvensional pada galian tahap 5 Pada Gambar 15 s. Gambar 18, dilakukan perbandingan dalam bentuk grafik agar memperjelas perbedaan tren. Dilihat dari Gambar 15, hasil deformasi dinding pada tahap galian 1 mempunyai tren pergerakan yang sama dan nilai yang tidak jauh berbeda. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 591-606 EISSN 2622-545X Namun seiring dengan maju nya tahapan, dapat dilihat pada Gambar 18 bahwa perbedaan tren semakin terlihat dan nilai semakin jauh berbeda. Hal ini jelas menunjukkan bahwa pengaruh tahapan konstruksi sebaiknya tidak diabaikan karena mempengaruhi hasil analisis khususnya apabila basement cukup dalam. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dengan analisis construction stage dan analisis konvensional, didapatkan kesimpulan sebagai berikut: A Pada pekerjaan basement dengan metode top-down, penting untuk dilakukan construction stage analysis karena berpengaruh terhadap hasil analisis. A Hasil deformasi dinding menunjukkan bahwa hasil analisis construction stage lebih besar dibanding analisis biasa . anpa memperhitungkan tahapan konstruks. sehingga lebih baik desain dihitung menggunakan tahapan konstruksi sesuai dengan yang terjadi di lapangan. A Dari hasil analisis construction stage pada basement dengan sistem top-down, didapatkan bahwa deformasi maksimum yang terjadi pada dinding semakin besar seiring dengan majunya tahapan konstruksi. A Pelat berfungsi sangat efektif sebagai strut pada sistem top-down dan membantu menahan beban lateral tanah sehingga mengurangi defleksi dinding penahan tanah . inding diafragm. Pada penggalian basement tanpa pelat sebagai strut, didapatkan deformasi dinding penahan tanah sebesar 179,11 mm pada tahap galian 5, namun apabila pelat digunakan deformasi berkurang menjadi 15,07 mm yaitu 8,41% dari deformasi dinding tanpa pelat. A Deformasi maksimum dinding diafragma terjadi pada tahap galian 5 raft. Deformasi ini masih lebih kecil daripada syarat deformasi sesuai ketentuan SNI yaitu sebesar 85 mm Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, adapun saran untuk melengkapi studi ini adalah: A Pada saat melakukan meshing dapat dibuat dengan lebih detail lagi agar hasil yang didapat lebih akurat. A Elemen struktur yang belum dilihat gaya-gaya dalam yang terjadi dapat ditampilkan di analisis berikutnya. A Untuk analisis selanjutnya disarankan untuk memperhitungkan perubahan muka air tanah di luar area galian yang terjadi. DAFTAR PUSTAKA