Jurnal Pendidikan Bahasa Volume 15. Nomor 4. Desember 2025 | ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Integrasi Sastra Anak dalam Kurikulum Bahasa: Upaya Menumbuhkan Minat dan Kemampuan Bahasa Sejak Dini Hani Agustina1,*. Ahmad Rifa'i1 Universitas Mataram *Corespondence: hani. agustina@staff. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran integrasi sastra anak dalam kurikulum bahasa sebagai strategi menumbuhkan minat dan kemampuan berbahasa sejak dini. Kajian ini menggunakan pendekatan kajian pustaka . ibrary researc. dengan menelaah berbagai sumber ilmiah, baik nasional maupun internasional, yang membahas hubungan antara sastra anak, pembelajaran bahasa, dan pengembangan karakter literat pada anak usia sekolah dasar. Hasil kajian menunjukkan bahwa sastra anak berfungsi bukan hanya sebagai bahan ajar linguistik, tetapi juga sebagai media pembentukan nilai dan pengembangan empati melalui bahasa. Pembelajaran bahasa yang berlandaskan sastra anak terbukti mampu menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, imajinatif, dan menyenangkan. Integrasi sastra anak dalam Kurikulum Merdeka menegaskan pentingnya pendekatan humanistik dalam pendidikan bahasa yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan sosial. Dengan demikian, penguatan peran sastra anak dalam kurikulum bahasa menjadi langkah strategis dalam menciptakan generasi pembelajar yang literat, berempati, dan berkarakter. Temuan ini diharapkan memberikan kontribusi praktis bagi guru dan pengembang kurikulum dalam menciptakan pembelajaran bahasa yang lebih bermakna, menyenangkan, dan selaras dengan kebutuhan literasi abad ke-21. Kata Kunci: Sastra Anak. Kurikulum Bahasa. Kemampuan Berbahasa. Minat Baca. Literasi Dini Received: 24 Okt 2025. Revised: 17 Nov 2025. Accepted: 24 Nov 2025. Available Online: 7 Des 2025 This is an open access article under the CC - BY license. PENDAHULUAN Kemampuan berbahasa anak sejak usia dini merupakan landasan krusial bagi perkembangan akademik dan sosial mereka selama jenjang pendidikan berikutnya (Astini Korompot, 2. Di Indonesia, tingkat literasi anak dan minat membaca masih menghadapi tantangan, termasuk kurang optimalnya interaksi anak dengan karya sastra yang sesuai usia dan kontekstual dengan kehidupan mereka (Sapanti. Apriyani & Daulay, 2. Sementara itu, pembelajaran bahasa formal di sekolah dasar seringkali menitikberatkan pada aspek teknis Ai seperti struktur kalimat, kosa kata, dan tata bahasa Ai tanpa diiringi upaya maksimal untuk menumbuhkan minat baca dan apresiasi terhadap bahasa sebagai jembatan kreativitas dan ekspresi. Integrasi sastra anak menjadi strategi penting untuk menghidupkan kembali fungsi bahasa sebagai sarana ekspresi, imajinasi, dan pembentukan karakter, yang sekaligus menjadi fokus utama penelitian ini. Dalam konteks tersebut, sastra anak muncul sebagai salah satu alternatif strategis. Di Indonesia, menurut Nurgiyantoro . , sastra anak adalah bacaan yang ditulis dengan mempertimbangkan minat dan tingkat perkembangan emosional serta intelektual anak, serta lingkungan dunia anak. Karya-karya seperti dongeng, puisi anak, cerita rakyat, dan buku bergambar telah terbukti membantu anak memperkaya kosa kata, meningkatkan kemampuan memaknai teks, dan mengembangkan imajinasi serta empati (Fitriyani. Hamzah, & Rahmadani. Di tingkat internasional, penggunaan childrenAos literature juga dilihat sebagai media efektif bagi pembelajaran bahasa, khususnya bagi pembelajar muda dalam konteks ESL/EFL, dengan manfaat antara lain: meningkatkan minat membaca, memperluas kosa kata, dan membangun kesadaran budaya (Lee, 2. Lebih lanjut, integrasi sastra anak ke dalam kurikulum bahasa dipandang relevan dengan paradigma pembelajaran di era literasi 21. Dalam skema kurikulum yang berpusat pada peserta didik dan kontekstual, https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. seperti yang diupayakan dalam kurikulum nasional Indonesia . ontoh: Kurikulum Merdek. , pembelajaran bahasa tidak hanya diarahkan pada penguasaan teknis tetapi juga pengembangan kompetensi literasiAimembaca, menulis, mendengarkan dan berbicaraAiserta pembentukan karakter (Hasjim et al. , 2. Dengan demikian, integrasi sastra anak bukan hanya sebagai tambahan koleksi bacaan, tetapi sebagai strategi pengajaran yang menyatukan aspek bahasa, literasi, dan karakter. Meski potensi tersebut besar, penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa penerapan integrasi sastra anak dalam pembelajaran bahasa masih menghadapi sejumlah hambatan, antara lain: kurangnya bahan ajar sastra anak yang sesuai usia dan relevan dengan kurikulum, masih terbatasnya pemahaman guru terhadap penggunaan sastra anak dalam pengajaran bahasa, serta belum optimalnya evaluasi dampak sastra anak terhadap minat dan kemampuan bahasa siswa (Anggraini, 2. Dalam kerangka ini, kajian pustaka yang sistematis terhadap teori, penelitian sebelumnya, dan kebijakan kurikulum sangat penting sebagai landasan konseptual untuk mengembangkan model integrasi sastra anak yang efektif. Berangkat dari kondisi tersebut, artikel ini bertujuan untuk meninjau dan menganalisis konsep integrasi sastra anak dalam kurikulum bahasa serta menelusuri peran dan kontribusinya terhadap menumbuhkan minat dan kemampuan berbahasa anak sejak dini. Pendekatan yang digunakan adalah kajian pustaka . ibrary researc. yang mengkaji berbagai literatur dalam dan luar negeri sebagai dasar konseptual dan empiris. Hasil kajian diharapkan memberikan kontribusi bagi pengembangan pembelajaran bahasa berbasis sastra anak di tingkat pendidikan dasar, serta rekomendasi bagi guru, pengembang kurikulum, dan peneliti berikutnya. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka . ibrary researc. Metode ini dipilih karena penelitian tidak berfokus pada pengumpulan data lapangan, melainkan pada analisis berbagai literatur ilmiah yang relevan untuk memahami konsep integrasi sastra anak dalam kurikulum bahasa. Sumber literatur terdiri atas dua jenis, yaitu primer dan sekunder. Literatur primer mencakup buku teori sastra anak . eperti karya Nurgiyantoro, 2. , dokumen kurikulum nasional (Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdek. , serta artikel jurnal yang membahas langsung integrasi sastra anak dalam pembelajaran bahasa. Literatur sekunder meliputi tulisan pendukung mengenai pemerolehan bahasa, literasi dini, dan pendekatan pembelajaran berbasis sastra. Pemilihan literatur mempertimbangkan relevansi, keterbaruan . erbit antara 2015Ae 2. , dan kredibilitas sumber. Proses penelaahan dilakukan melalui tiga tahap: . identifikasi literatur menggunakan basis data seperti Google Scholar. DOAJ. Garuda. Sinta, dan ResearchGate. seleksi literatur yang sesuai dengan fokus dan . analisis isi terhadap gagasan utama dan temuan penelitian terdahulu. Literatur yang telah dibaca kemudian dikelompokkan ke dalam tema-tema seperti konsep dasar sastra anak, hubungan sastra dan perkembangan bahasa, serta implementasi dalam kurikulum. Analisis dilakukan dengan pendekatan analisis isi . ontent analysi. , yaitu mengelompokkan dan menafsirkan informasi secara kualitatif untuk menemukan pola, kesamaan, dan perbedaan pandangan Keabsahan hasil dijaga melalui triangulasi sumber dengan membandingkan teori, hasil penelitian, dan dokumen kebijakan agar interpretasi tetap konsisten dan objektif. HASIL DAN PEMBAHASAN Kajian pustaka yang dilakukan menunjukkan bahwa sastra anak berperan penting sebagai medium pengembangan bahasa sekaligus karakter. Sastra anak tidak hanya memperkenalkan anak pada bentuk-bentuk bahasa yang indah dan komunikatif, tetapi juga membuka ruang bagi pembentukan empati, imajinasi, dan kesadaran moral. Sastra Anak sebagai Ruang Tumbuh Bahasa dan Empati Nurgiyantoro . menegaskan bahwa sastra anak merupakan wahana pendidikan nilai, moral, dan emosi yang disampaikan secara estetik sesuai tahap perkembangan anak. Dalam teks-teks sastra anak, bahasa hadir bukan semata-mata sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai pengalaman estetik yang menggerakkan rasa dan pikiran. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Dalam konteks pembelajaran bahasa, sastra anak membantu anak mengenali ritme dan struktur bahasa melalui cerita, puisi, atau lagu anak. Penelitian Astuti. Putrayasa, dan Anggreni . menunjukkan bahwa penggunaan karya sastra lokal, seperti cerita rakyat daerah dan legenda, mampu meningkatkan kemampuan anak dalam memahami kosakata kontekstual serta menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia. Melalui kegiatan mendengarkan dongeng, anak-anak belajar menangkap pola kalimat, intonasi, serta makna tersirat yang memperkaya keterampilan reseptif mereka. Lebih jauh lagi. Masruroh . menemukan bahwa anak-anak yang terlibat dalam kegiatan literasi berbasis sastra menunjukkan perkembangan lebih cepat dalam kemampuan berbahasa naratifAiyakni kemampuan menyusun dan menceritakan kembali pengalaman secara runtut dan bermakna. Ini menunjukkan bahwa sastra anak tidak hanya menstimulasi kemampuan linguistik, tetapi juga kemampuan kognitif seperti memori dan logika berurutan. Hasil-hasil ini sejalan dengan temuan Lee . di Korea Selatan, yang menegaskan bahwa childrenAos literature efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca kritis dan memperkaya kosakata siswa EFL (English as a Foreign Languag. Namun, daya guna sastra anak tidak hanya terletak pada aspek linguistik, melainkan juga afektif. Dalam kegiatan membaca bersama, anak mengalami proses identifikasi dengan tokoh cerita. Mereka belajar memahami emosi, mengenal nilai kebaikan, dan membedakan tindakan yang benar dan salah. Sari dan Mahendra . menyebut proses ini sebagai literasi empatik, yakni kemampuan memahami pengalaman orang lain melalui Oleh karena itu, penggunaan sastra anak dalam pembelajaran bahasa bukan hanya mengajarkan Aubagaimana berbicara dengan baikAy, tetapi juga Aubagaimana menjadi manusia yang berbahasa dengan hatiAy. Integrasi Sastra Anak dalam Kurikulum Bahasa: Antara Idealisme dan Realitas Hasil telaah terhadap kebijakan pendidikan nasional, terutama Kurikulum Merdeka, memperlihatkan peluang besar untuk mengintegrasikan sastra anak ke dalam pembelajaran bahasa. Kurikulum ini berorientasi pada pembelajaran yang kontekstual, berpusat pada peserta didik, dan berlandaskan prinsip well-being learning. Haqi et al. menyebut bahwa semangat Kurikulum Merdeka adalah menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan, bermakna, dan sesuai dengan minat anak. Dalam konteks ini, sastra anak menjadi media yang sangat relevan karena mampu menggabungkan aspek kognitif, afektif, dan imajinatif dalam satu pengalaman Namun, implementasi integrasi sastra anak dalam pembelajaran bahasa belum berjalan optimal. Berdasarkan telaah pustaka, terdapat tiga kendala utama. Pertama, orientasi pembelajaran bahasa di sekolah dasar masih mekanistik, dengan fokus pada struktur, ejaan, dan tata bahasa (Sapanti. Apriyani, & Daulay, 2. Pendekatan ini membuat kegiatan membaca sastra sering dianggap sebagai hiburan tambahan, bukan bagian integral dari capaian pembelajaran bahasa. Kedua, keterbatasan bahan ajar sastra anak yang sesuai usia dan relevan dengan konteks lokal menyebabkan guru kesulitan memilih teks yang tepat. Ketiga, minimnya pelatihan guru dalam literasi sastra, sehingga banyak guru belum mampu mengintegrasikan teks sastra ke dalam kegiatan pembelajaran yang kreatif dan reflektif. Kompas . menyoroti bahwa sebagian besar guru bahasa Indonesia masih menggunakan buku teks tunggal yang tidak memberi ruang eksplorasi sastra anak. Akibatnya, pembelajaran bahasa kehilangan daya imajinatif dan emosional yang seharusnya menjadi kekuatan utama dalam pembentukan karakter bahasa anak. Di sisi lain, penelitian Apriyani. Syahrul, dan Wiryanto . menunjukkan bahwa guru yang aktif menggunakan metode berbasis sastra anakAiseperti story retelling, drama reading, atau book-making projectAi menunjukkan hasil belajar siswa yang lebih baik, terutama dalam kemampuan menyimak dan berbicara. Dari sudut pandang internasional, beberapa model integrasi sastra anak dalam kurikulum bahasa juga telah dikembangkan. Misalnya, di Finlandia, sastra anak digunakan sebagai bagian dari language immersion program (Koskinen & Kangas, 2. , di mana anak-anak belajar bahasa melalui cerita rakyat dan buku bergambar. Sementara di Selandia Baru, program Reading Together memadukan kegiatan membaca sastra dengan bimbingan keluarga untuk menumbuhkan minat literasi sejak dini (Phillips, 2. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan integrasi sastra anak tidak hanya bergantung pada kurikulum formal, tetapi juga pada dukungan lingkungan belajar yang literatif dan partisipatif. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Dampak Integrasi Sastra Anak terhadap Minat dan Kemampuan Bahasa Kajian terhadap berbagai penelitian menunjukkan bahwa integrasi sastra anak berdampak positif terhadap minat membaca dan kemampuan berbahasa anak secara simultan. Penelitian Astini Korompot . menunjukkan bahwa kegiatan mendengarkan cerita dan mendongeng secara rutin dapat meningkatkan motivasi anak untuk berinteraksi dengan teks. Anak-anak yang terbiasa mendengar cerita menjadi lebih aktif dalam bertanya, menanggapi, dan mengekspresikan pendapatnya. Hal ini memperkuat teori literasi yang dikemukakan oleh Gambrell . , bahwa keterlibatan emosional dalam membaca merupakan prasyarat tumbuhnya motivasi literasi jangka panjang. Dari segi kemampuan bahasa, kegiatan sastra anak mendorong anak untuk memahami struktur kalimat secara alami. Dalam kegiatan membaca nyaring . ead alou. , misalnya, anak belajar mengenai intonasi, jeda, dan ekspresi bahasa. Sementara dalam kegiatan menulis ulang cerita, anak mengasah kemampuan menyusun kalimat dan paragraf dengan logika naratif. Penelitian Gultom dan Setyami . membuktikan bahwa anak-anak yang mengikuti kegiatan menulis kreatif berbasis sastra menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan menulis deskriptif dan naratif. Selain itu, integrasi sastra anak juga berdampak pada peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Melalui interaksi dengan tokoh dan konflik cerita, anak belajar memahami hubungan sebab-akibat serta menilai tindakan dengan perspektif moral. Haqi et al. mencatat bahwa kegiatan berdiskusi tentang tokoh dan alur cerita membantu anak mengembangkan kemampuan reasoning dan argumentasi sederhana. Dengan demikian, pembelajaran berbasis sastra anak bukan hanya membentuk keterampilan berbahasa, tetapi juga menumbuhkan daya berpikir reflektif dan empatikAidua aspek penting dalam literasi abad ke-21. Tantangan Implementasi dan Arah Pengembangan Meskipun hasil penelitian menunjukkan banyak manfaat, integrasi sastra anak dalam kurikulum bahasa masih menghadapi beberapa tantangan serius. Pertama, ketimpangan antara kebijakan dan praktik. Meskipun Kurikulum Merdeka memberi ruang inovatif, sebagian guru belum memahami bagaimana mengoperasionalisasikan integrasi sastra dalam rencana pembelajaran. Kedua, minimnya dukungan bahan ajar dan infrastruktur literasi, seperti perpustakaan anak, pojok baca, atau buku bergambar lokal berkualitas. Ketiga, kurangnya kerja sama antara sekolah, keluarga, dan komunitas literasi yang sebenarnya bisa memperkuat kebiasaan membaca anak di luar kelas. Untuk mengatasi kendala tersebut, sejumlah rekomendasi dapat ditawarkan. Pertama, pemerintah dan lembaga pendidikan perlu mengembangkan antologi sastra anak nasional yang berisi karya lokal dari berbagai daerah, disertai panduan pedagogis bagi guru. Kedua, perlu adanya program pelatihan literasi sastra bagi guru bahasa Indonesia agar mereka mampu menafsirkan teks sastra secara kreatif dan mengaitkannya dengan capaian Ketiga, penguatan peran keluarga dan komunitas literasi menjadi penting untuk menciptakan ekosistem literatif yang berkesinambungan. Seperti yang dikemukakan Phillips . , keterlibatan orang tua dalam membaca bersama anak adalah kunci keberhasilan program literasi dini. Selain itu, perguruan tinggi yang menyiapkan calon guru bahasa juga perlu merevisi kurikulumnya. Mata kuliah seperti Sastra Anak dan Literasi Dini harus diarahkan tidak hanya pada analisis teks, tetapi juga pada praktik pedagogis penggunaan sastra dalam pembelajaran bahasa. Dengan demikian, generasi pendidik yang lahir dari sistem pendidikan tinggi akan lebih siap menghidupkan kembali peran sastra sebagai jantung pembelajaran KESIMPULAN Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi sastra anak dalam kurikulum bahasa merupakan strategi efektif untuk menumbuhkan minat dan kemampuan berbahasa sejak dini. Sastra anak menyediakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan imajinatif, sekaligus memperkuat pemahaman struktur bahasa, perluasan kosakata, serta pengembangan empati, moralitas, dan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran bahasa berbasis sastra memungkinkan internalisasi nilai dan keterampilan berbahasa terjadi secara alamiah sehingga berfungsi sebagai jembatan antara penguasaan bahasa dan pembentukan karakter manusia literat. Namun, efektivitas integrasi ini bergantung pada kesiapan sistem pendidikan, ketersediaan bahan ajar yang relevan, pelatihan literasi sastra bagi guru, serta dukungan keluarga dan komunitas literasi. Meskipun Kurikulum Merdeka telah membuka https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. ruang bagi pendekatan literatif, keberhasilannya tetap membutuhkan kebijakan yang berkelanjutan dan praktik pembelajaran yang konsisten. Oleh karena itu, pengembangan model pembelajaran bahasa berbasis sastra anak perlu diarahkan pada pembentukan ekosistem literasi yang hidup di sekolah maupun di rumah, tempat bahasa, imajinasi, dan nilai kemanusiaan dapat tumbuh secara sinergis. Daftar Pustaka