Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. DOI: https://doi. org/10. 55606/jurrikes. Tersedia: https://prin. id/index. php/JURRIKES Kehamilan dengan Epilepsi Teuku Yudhi Iqbal1. Ariq Murfid2* Bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi. Rumah Sakit Umum Cut Meutia. Fakultas Kedokteran. Universitas Malikussaleh. Indonesia Program Studi Kedokteran. Fakultas Kedokteran. Universitas Malikussaleh. Indonesia Email: ariq. 190610050@mhs. id 2* Alamat: Jl. Cot Tengku Nie. Reuleut. Muara Batu. Kabupaten Aceh Utara. Aceh. Indonesia Penulis korespondensi Abstract. Epilepsy is one of the most common chronic neurological disorders and can affect women of reproductive age, including during pregnancy. Pregnancy in women with epilepsy (WWE) presents various clinical challenges due to the complex interaction between physiological changes in pregnancy, fluctuations in antiepileptic drug (AED) levels, and the increased risk of seizures. Seizures during pregnancy not only pose a threat to maternal safety but also carry potential complications for the fetus, such as hypoxia, trauma, and impaired uteroplacental blood flow. Therefore, the management of epilepsy during pregnancy requires a careful and comprehensive approach. This report presents the case of a 41-year-old woman. G4P2A1, at 37Ae38 weeks of gestation, who presented to the emergency obstetric unit at Cut Meutia General Hospital with complaints of contractions following three episodes of seizures within the previous 24 hours. The patient had a 16-year history of epilepsy and was on regular neurologist follow-up, but she had discontinued her AEDs three weeks prior due to medication unavailability. She underwent an elective cesarean section with concurrent fimbriectomy as a permanent contraceptive method. Postoperatively, the patient experienced status epilepticus and decreased consciousness for approximately 24 hours. A multidisciplinary approach involving neurologists was implemented, including AED administration, enteral nutrition, close monitoring of vital signs and urine output. The patient's condition gradually improved, and she was discharged on the seventh day in a stable condition with well-healed surgical wounds. This case highlights the importance of optimal seizure control during pregnancy. Preconception counseling, appropriate AED selection, and regular drug level monitoring are essential in minimizing maternal and fetal complications. A multidisciplinary collaboration between obstetricians and neurologists plays a crucial role in achieving favorable outcomes. Keywords: Antiepileptic Drugs. Cesarean Section. Epilepsy. Pregnancy. Status Epilepticus Abstrak. Epilepsi merupakan salah satu gangguan neurologis kronis yang paling sering dijumpai dan dapat memengaruhi wanita dalam usia reproduktif, termasuk selama kehamilan. Kehamilan pada wanita dengan epilepsi (WWE) menimbulkan berbagai tantangan klinis, karena interaksi kompleks antara perubahan fisiologis kehamilan, fluktuasi kadar obat antiepilepsi (OAE), dan peningkatan risiko kejang. Kejang selama kehamilan tidak hanya membahayakan kondisi ibu, namun juga berpotensi menimbulkan komplikasi terhadap janin, seperti hipoksia, trauma, dan gangguan aliran darah uteroplasenta. Oleh karena itu, penatalaksanaan epilepsi selama kehamilan membutuhkan pendekatan yang hati-hati dan komprehensif. Laporan ini membahas kasus seorang perempuan berusia 41 tahun. G4P2A1 dengan usia kehamilan 37Ae38 minggu, yang datang ke IGD RSUD Cut Meutia dengan keluhan kontraksi setelah mengalami tiga kali kejang dalam 24 jam terakhir. Pasien memiliki riwayat epilepsi selama 16 tahun dan rutin kontrol ke dokter saraf, namun sempat putus obat selama tiga minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien kemudian menjalani persalinan secara elektif dengan tindakan sectio caesarea disertai fimbriektomi sebagai metode kontrasepsi permanen. Pascaoperasi, pasien mengalami status epileptikus dan penurunan kesadaran selama kurang lebih 24 jam. Perawatan dilakukan secara kolaboratif dengan tim neurologi, termasuk pemberian OAE, nutrisi enteral, pemantauan ketat tanda vital dan output urin. Setelah hari kelima perawatan, kesadaran pasien membaik, dan pasien dipulangkan pada hari ketujuh dengan kondisi stabil dan luka operasi membaik. Kasus ini menunjukkan pentingnya pengendalian epilepsi yang optimal selama Edukasi prakonsepsi, pemilihan OAE yang aman, serta pemantauan kadar obat secara berkala sangat penting dalam mencegah komplikasi. Pendekatan multidisiplin antara obstetri dan neurologi berperan krusial dalam mencapai hasil kehamilan yang baik bagi ibu dan janin. Kata kunci: Epilepsi. Kehamilan. Obat Antiepilepsi. Operasi Caesar. Status Epilepticus Naskah Masuk: 04 Agustus 2025. Revisi: 22 Agustus 2025. Diterima: 16 September 2025. Tersedia: 19 September 2025 Kehamilan dengan Epilepsi LATAR BELAKANG Epilepsi merupakan salah satu penyakit neurologis kronik yang paling sering dijumpai, dengan jumlah penderita mencapai sekitar 50 juta orang di seluruh dunia. Pada wanita usia subur, kondisi ini menjadi perhatian khusus, terutama saat kehamilan, karena dapat menimbulkan risiko tambahan baik bagi ibu maupun janin (Aziz. Djamil, and Amroisa 2024. Wulan Maryanti 2. Kehamilan pada wanita dengan epilepsi (WWE Ae Women with Epileps. melibatkan tantangan medis kompleks akibat interaksi antara perubahan fisiologis selama kehamilan, penggunaan obat antiepilepsi (OAE), serta potensi peningkatan frekuensi kejang (Haq 2. Secara global, diperkirakan sekitar 0,3Ae0,5% wanita hamil mengalami epilepsi. Polandia, misalnya, sekitar 1. 800 wanita setiap tahunnya mengidap epilepsi. Sebagian besar . %) tidak mengalami kejang selama kehamilan (Taufiqurrohman. Nuradyo, and Harsono Peluang untuk tetap bebas kejang selama masa kehamilan lebih tinggi pada wanita yang sudah tidak mengalami kejang dalam kurun 9 bulan hingga 1 tahun sebelum hamil, yaitu masing-masing sebesar 74% dan 92%. Data dari registri EURAP (European Registry of Antiepileptic Drugs and Pregnanc. menunjukkan bahwa ibu hamil dengan epilepsi jenis kejang umum memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk bebas kejang . %) dibandingkan dengan epilepsi kejang fokal . %) (Haq 2. Salah satu perhatian utama dalam tata laksana epilepsi selama kehamilan adalah penggunaan OAE. Meskipun obat-obatan ini penting untuk mengendalikan kejang, sebagian di antaranya memiliki efek teratogenik yang dapat menyebabkan kelainan bawaan seperti celah bibir atau langit-langit, cacat tabung saraf, dan gangguan perkembangan sistem saraf janin. Namun, penghentian OAE secara tiba-tiba juga berisiko, karena dapat meningkatkan kejadian kejang yang membahayakan baik ibu maupun janin (Alwahdy et al. Khairani. Sejahtera, and Fauzal 2020. Wahyuni et al. Meski demikian, sekitar 90% wanita hamil dengan epilepsi mampu melahirkan bayi dalam kondisi sehat. Risiko terjadinya malformasi kongenital sangat bergantung pada jenis, jumlah, dan dosis obat yang digunakan. Oleh karena itu, pemilihan OAE yang relatif aman dan pemantauan kadar obat secara rutin menjadi bagian krusial dalam perawatan kehamilan. Konseling prakonsepsi juga penting untuk memberikan pemahaman mengenai rencana terapi, perubahan gaya hidup, dan pentingnya pemantauan selama kehamilan. Dengan perencanaan dan kontrol yang optimal, sebagian besar wanita dengan epilepsi dapat menjalani kehamilan dengan aman dan melahirkan bayi yang sehat. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk membahas laporan kasus mengenai kehamilan pada pasien dengan epilepsi. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan - Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. KAJIAN TEORITIS Epilepsi merupakan gangguan neurologis kronis yang ditandai oleh kejang berulang akibat aktivitas listrik abnormal di otak. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bila terjadi pada wanita hamil karena perubahan fisiologis selama kehamilan dapat memengaruhi metabolisme obat antiepilepsi (OAE) dan ambang kejang. Penurunan kadar OAE akibat peningkatan volume distribusi, perubahan enzim hati, dan peningkatan pembuangan ginjal dapat meningkatkan risiko kejang pada ibu hamil, yang dapat membahayakan ibu maupun janin (Li et al. Penggunaan OAE selama kehamilan perlu dilakukan secara hati-hati karena beberapa OAE seperti valproate memiliki risiko teratogenik tinggi, sementara carbamazepine dinilai lebih aman dengan risiko yang lebih rendah. Oleh karena itu, prinsip penggunaan OAE saat kehamilan meliputi pemilihan monoterapi dengan dosis efektif terendah, pemantauan kadar obat secara berkala, dan suplementasi asam folat untuk mencegah cacat tabung saraf (Adi Prasetya et al. Kehamilan juga dapat memperburuk kontrol epilepsi, terutama bila pasien tidak rutin mengonsumsi obat. Selain itu, penting membedakan kejang karena epilepsi dengan eklamsia, yang memiliki gejala sistemik dan tidak disertai riwayat kejang sebelumnya. Dalam kasus tertentu, seperti pada pasien dengan epilepsi yang tidak terkontrol dan usia maternal tinggi, tindakan persalinan operatif seringkali dipilih untuk menghindari komplikasi yang lebih berat. METODE PENELITIAN Seorang perempuan berusia 41 tahun. Ny. NA, datang ke instalasi PONEK RSUD Cut Meutia pada tanggal 11 Maret 2025 dengan keluhan utama merasakan kontraksi setelah mengalami kejang dua jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien, yang merupakan seorang ibu rumah tangga dan berdomisili di Aceh Utara, tercatat sebagai gravida 4 para 2 abortus 1 dengan usia kehamilan 37Ae38 minggu. Ia mengeluhkan sering mengalami kejang selama masa kehamilan, terutama dalam satu bulan terakhir, disertai keluhan pusing dan lemas. Riwayat kejang telah diderita pasien sejak tahun 2009, setelah mengalami trauma kepala akibat kecelakaan lalu lintas. Pada tahun 2015, ia didiagnosis menderita epilepsi oleh dokter spesialis neurologi dan sejak saat itu mendapatkan pengobatan berupa Levetiracetam 3x500 mg per hari serta suplementasi asam folat 1x1 mg. Selama kehamilan, kejang tetap terjadi setidaknya satu kali per bulan, bahkan meningkat menjadi empat kali dalam bulan terakhir sebelum presentasi. Menurut keluarganya, kejang yang dialami pasien bersifat general, melibatkan seluruh tubuh, dan berlangsung kurang dari lima menit, tanpa adanya penurunan kesadaran Kehamilan dengan Epilepsi antarkeadaan kejang. Setelah serangan, pasien tampak linglung, kebingungan, serta merasa lemas dan pusing. Sebelum kejang, pasien biasanya mengalami kecemasan dan keringat Riwayat keluarga tidak ditemukan adanya penyakit epilepsi, diabetes melitus, hipertensi, maupun keganasan. Dalam hal obstetri. Ny. NA telah dua kali menjalani persalinan dengan tindakan sectio caesarea (SC) sebelumnya, dan satu kali mengalami abortus pada kehamilan usia 16 minggu. Pasien sempat melakukan kunjungan antenatal sebanyak empat kali, yaitu pada usia kehamilan 16, 20, 28, dan 36 minggu, seluruhnya dilakukan di praktik bidan. USG baru dilakukan sekali di usia kehamilan 36 minggu, dan hasilnya menunjukkan janin tunggal intrauterin dengan presentasi kepala. Kenaikan berat badan ibu selama kehamilan cukup stabil, dari 62 kg menjadi 75 kg. Dari pemeriksaan fisik awal didapatkan tekanan darah 105/70 mmHg, nadi 81 kali/menit, suhu tubuh 36,8AC, dan saturasi oksigen 98% dalam kondisi sadar menurun (GCS E1M5V. Status umum menunjukkan tidak ada kelainan signifikan pada sistem respirasi dan Pemeriksaan abdomen menunjukkan adanya bekas operasi SC sebelumnya, tanpa adanya tanda distensi atau nyeri tekan. Pemeriksaan obstetri menunjukkan tinggi fundus uteri 33 cm. DJJ 148x/menit, presentasi kepala, dan belum ada pembukaan serviks. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hemoglobin dalam batas normal, leukosit sedikit meningkat . 960/mmA Ie 19. 900/mmA), dan hasil serologi (HBsAg. VDRL, dan HIV) menunjukkan hasil non-reaktif. Tidak ada tanda-tanda gangguan koagulasi atau gangguan elektrolit pada hasil awal. Diagnosis kerja ditegakkan sebagai G4P2A1 usia kehamilan 37Ae38 minggu dengan Diagnosis banding meliputi epilepsi, eklamsia, dan gangguan elektrolit. Pasien direncanakan untuk menjalani tindakan sectio caesarea disertai fimbriektomi mengingat riwayat kejang dan kehamilan yang sudah aterm. Penatalaksanaan non-farmakologis meliputi tirah baring, edukasi laktasi, dan diet tinggi energi serta protein. Terapi farmakologis mencakup kombinasi antibiotik, antiemetik, antinyeri, antiepileptik . arbamazepine dan diazepa. , serta neuroprotektan citicoline. Pascaoperasi, pasien dirawat di HCU. Pada hari pertama pascaoperasi . Mare. , kondisi umum relatif stabil dengan nyeri pasca operasi sebagai keluhan utama, dan belum terjadi Namun, pada hari kedua . Mare. , pasien mengalami kejang selama 10 menit disertai penurunan kesadaran. Pemeriksaan menunjukkan delirium dan pasien dipindahkan ke ruang rawat bersama neurologi. Kejang berulang kembali terjadi pada hari ketiga . Mare. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan - Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. sebanyak dua kali, disertai status mental terganggu. Diagnosis status epileptikus ditegakkan dan pasien direncanakan untuk rawat di ICU. Selanjutnya, pasien menunjukkan perbaikan bertahap. Pada hari keempat pascaoperasi . Mare. , pasien mulai sadar namun masih mengalami disorientasi dan gangguan perilaku, didiagnosis sebagai gangguan mental organik (GMO). Terapi dilanjutkan termasuk pemberian haloperidol injeksi jika pasien menunjukkan agresivitas. Pada hari keenam dan ketujuh, pasien menunjukkan kemajuan signifikan: mampu diajak berkomunikasi, disorientasi berkurang, dan tidak terjadi lagi kejang. Keadaan umum pasien membaik dan disiapkan untuk pulang. Prognosis pasien ditetapkan sebagai dubia ad malam untuk kehidupan dan kesembuhan, serta dubia ad bonam untuk fungsi. Evaluasi jangka panjang, pemantauan neurologis, serta edukasi keluarga menjadi aspek penting dalam tata laksana pascapersalinan dan kontrol epilepsi ke depan. PEMBAHASAN Dalam laporan kasus ini, seorang pasien perempuan berusia 41 tahun. G4P2A1 dengan usia kehamilan 37Ae38 minggu, dirujuk ke instalasi PONEK RSUD Cut Meutia karena mengalami kontraksi setelah kejang dua jam sebelum masuk rumah sakit. Kontraksi berlangsung singkat (<20 deti. dan tidak disertai dengan keluarnya lendir maupun cairan Dalam 24 jam terakhir sebelum kunjungan, pasien mengalami tiga kali serangan kejang dengan durasi <5 menit, tanpa penurunan kesadaran di antara episode kejang. Namun, selama kejang, pasien kehilangan kesadaran total. Tidak ditemukan kelemahan ekstremitas pascakejang, dan gerakan janin masih dirasakan. Riwayat epilepsi telah berlangsung selama 16 tahun, dimulai setelah pasien mengalami trauma kepala akibat kecelakaan lalu lintas. Pasien secara rutin menjalani kontrol neurologi dan mengonsumsi obat anti epilepsi. Namun, tiga minggu sebelum kunjungan ke rumah sakit, pasien berhenti minum obat karena stok OAE di fasilitas kesehatan kosong. Pada pemeriksaan fisik awal, kondisi umum pasien dalam keadaan sakit sedang dengan tanda vital yang stabil. Namun, pada hari ketiga perawatan . ost SC POD . , pasien kembali mengalami kejang disertai penurunan kesadaran selama kurang lebih 24 jam. Tidak ditemukan defisit neurologis pada pemeriksaan lanjutan. Hasil pemeriksaan laboratorium darah lengkap, hemostasis, dan imunoserologi berada dalam kisaran normal. Selama perawatan, pemantauan ketat dilakukan terhadap tanda vital dan keluaran urin, serta pasien dirawat kolaboratif dengan dokter spesialis saraf untuk manajemen epilepsi. Kehamilan dengan Epilepsi Kondisi kejang pasien didiagnosis sebagai manifestasi epilepsi. Epilepsi didefinisikan sebagai gangguan neurologis kronik yang ditandai oleh dua atau lebih kejang tidak terprovokasi, atau satu kejang tidak terprovokasi dengan risiko kambuh Ou60% dalam 10 tahun, atau identifikasi sindrom epilepsi tertentu (International League Against Epilepsy. ILAE. Dalam kasus ini, pasien mengalami tiga kali kejang dalam 24 jam, dikategorikan sebagai kejang klusterAiserangkaian dua atau lebih kejang dalam satu hari dengan kesadaran yang kembali di antara episode. Keadaan ini kerap terjadi pada pasien epilepsi dengan kontrol kejang yang buruk atau pada pasien yang menghentikan pengobatan, sebagaimana terjadi pada pasien Selama kehamilan, perubahan fisiologis dan hormonal dapat memengaruhi ambang kejang . eizure threshol. dan farmakokinetik OAE. Penurunan konsentrasi plasma OAE akibat peningkatan metabolisme hati, volume distribusi, serta perubahan absorpsi saluran cerna dapat menyebabkan penurunan efektivitas pengobatan dan berujung pada eksaserbasi kejang. Oleh sebab itu, pemantauan kadar obat secara berkala selama kehamilan sangat dianjurkan. Epilepsi yang tidak terkontrol selama kehamilan dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk hipoksia maternal, cedera fisik, hingga gangguan perfusi uteroplasenta yang membahayakan janin. Kejang tonik-klonik yang berlangsung selama persalinan dapat menimbulkan bradikardia janin, penurunan variabilitas detak jantung, dan deselerasi. Meskipun risiko kematian janin akibat kejang atau OAE rendah, kejang yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko terbesar terjadinya sudden unexpected death in epilepsy (SUDEP) pada wanita hamil. Penggunaan OAE selama kehamilan harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian (Khairani et al. OAE bekerja dengan menstabilkan aktivitas listrik neuron otak, namun beberapa di antaranya, seperti valproate, memiliki risiko teratogenik tinggi dan dapat menyebabkan spina bifida, cacat jantung, dan gangguan perkembangan neurologis. Sebagai alternatif yang lebih aman, carbamazepine sering digunakan, meskipun tetap memiliki risiko cacat tabung saraf, yang dapat dikurangi dengan suplementasi asam folat dosis tinggi . Ae5 mg/har. (Fu et al. Wahyuni et al. Dalam kasus ini, pasien mendapatkan carbamazepine 3x200 mg dan asam folat. Prinsip terapi epilepsi pada kehamilan meliputi penggunaan monoterapi, pemakaian dosis efektif terendah, pemantauan kadar obat secara berkala, suplementasi asam folat, dan penyesuaian dosis OAE pascapersalinan (Ornoy. Echefu, and Becker 2. (BCaszczyk et al. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan - Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Diagnosis banding eklamsia juga dipertimbangkan pada pasien ini, mengingat gejala kejang yang dialami. Namun, perbedaan utama antara epilepsi dan eklamsia terletak pada adanya riwayat kejang sebelumnya. Eklamsia muncul sebagai komplikasi obstetri akibat preeklamsia dan biasanya disertai hipertensi, edema, nyeri kepala hebat, dan proteinuria masif, yang tidak ditemukan pada pasien ini. Tindakan persalinan dilakukan dengan sectio caesarea elektif disertai fimbriektomi sebagai metode kontrasepsi permanen. Pertimbangan ini didasarkan pada usia ibu yang termasuk dalam kategori berisiko tinggi (>40 tahu. , tidak adanya riwayat persalinan pervaginam, dan hasil penilaian skoring VBAC Flamm & Geiger yang menunjukkan angka keberhasilan <50%. Selain itu, riwayat epilepsi memperkuat indikasi untuk tindakan SC karena risiko kejang saat persalinan yang dapat mengancam keselamatan ibu dan janin. Fimbriektomi adalah bentuk sterilisasi wanita dengan cara mengangkat bagian ujung tuba falopi yang berfungsi menangkap sel telur dari ovarium. Prosedur ini terbukti sangat efektif, dengan angka kegagalan rendah sebagaimana ditunjukkan dalam studi jangka panjang (Government of India: Ministry of Health and Family Welfare 2. Selama perawatan, pasien juga diberikan diet tinggi kalori dan protein (TKTP) sebanyak 3000Ae3375 kkal/hari untuk mendukung proses penyembuhan pascaoperasi. Nutrisi tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan energi yang meningkat dan mencegah kerusakan jaringan, diberikan baik melalui makanan biasa maupun enteral (NGT) tergantung kondisi kesadaran pasien. Pasien dipulangkan pada hari ke-7 perawatan dalam keadaan umum yang membaik. Luka operasi menunjukkan perbaikan, tidak ada perdarahan postpartum, dan tidak ada kejang Pasien dijadwalkan untuk kontrol ulang di poliklinik kebidanan serta melanjutkan pemantauan neurologis secara rutin untuk memastikan stabilitas epilepsinya. KESIMPULAN DAN SARAN Telah dilaporkan pasien Ny. NA. G4P2A1 41 tahun, usia kehamilan 37-38 minggu dengan keluhan merasakan kontraksi setelah kejang pada 2 jam SMRS. Kejang terjadi 3x dalam 24 jam dengan durasi kurang dari 5 menit tanpa adanya defisit neurologi. Pasien memiliki riwayat epilepsi yang kurang terkontrol yang dialami selama 16 tahun. Selama kehamilan pasien rutin mengonsumsi obat anti epilepsi (OAE) namun 3 minggu terakhir pasien putus obat yang menyebabkan frekuensi serangan kejang pasien meningkat. Pemeriksaan fisik secara generalisata dan obstetrik dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium dalam batas Kemudian pada pasien dilakukan persalinan secara operatif sectio caesaria dengan Kehamilan dengan Epilepsi Bayi pasien lahir dengan sehat tanpa ditemukan kelainan kongenital. Pada hari rawatan ke 3 (Post SC POD . pasien mengalami kejang kembali dengan penurunan kesadaran selama lebih dari 24 jam, dan dilakukan rawatan bersama dengan neurologi. Pada hari rawatan ke 5 pasien sudah sadar kembali dengan tanda-tanda vital baik. Selanjutnya pasien dipulangkan di hari rawatan ke 7 dengan keadaan umum yang telah membaik, luka operasi membaik serta tidak terdapat perdarahan post partum. Pasien disarankan kontrol minggu depan di poliklinik kebidanan dan kandungan serta rutin kontrol mengenai epilepsi pasien di neurologi. DAFTAR PUSTAKA