Jurnal Prespektif Pendidikan- Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI) PADA KELAS VII SMPN 11 REJANG LEBONG Melisa sapitri1. Anna Fauziah2. Drajat Friansah2 Universitas PGRI Silampari. Indonesia ARTICLE INFORMATION A B S T R A C T Received: 29 Oktober 2022 Revised: 15 November 2022 Available online: 11 Desember 2022 This study aims to determine the completeness of student learning outcomes after participating in learning using the Indonesian Realistic Mathematics Education (PMRI) learning The type of research used is in the form of preexperimental design . uasi-experimenta. The population is all class VII SMPN 11 Rejang Lebong for the Academic Year 2021/2022 and the sample is class VII. 4 students, totaling 36 Data was collected using test in the from of pre-test and post-test techniques. The data collected were analyzed using t-test at a significant level = 0. Based on the results of the analysis, it can be found that the learning outcomes of class VII. 4 SMPN 11 Rejang Lebong after applying the Indonesian Realistic Mathematics Education (PMRI) were significantly The average final test score is 76. 71 with the percentage of completeness of the results reaching 77. KEYWORDS PMRI. Mathematics, learning CORRESPONDENCE E-mail: annafauziah21@yahoo. INTRODUCTION Kurikulum 2013 menuntut agar dalam pelaksanaan pembelajaran siswa diberi kebebasan berpikir memahami masalah, membangun strategi penyelesaian masalah, serta mengajukan ide-ide secara bebas dan terbuka. Kegiatan guru dalam pembelajaran adalah melatih dan membimbing siswa berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah (Sinambela, 2013:. Pembelajaran dilaksanakan secara sengaja untuk mengubah dan membimbing siswa dalam mempelajari sesuatu dari lingkungan dalam bentuk ilmu pengetahuan untuk mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik menuju kedewasaan siswa terutama pada pembelajaran matematika (Kirom, 2017:. Reys dalam Rahmah . mengemukakan bahwa matematika adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat. Menurut Sembiring . matematika memegang peranan penting di dalam dunia pendidikan dan juga diperlukan oleh semua ilmu pengetahuan, oleh sebab itu matematika harus dipelajari dan dikuasai oleh setiap peserta didik dengan harapan agar siswa dapat mencapai hasil belajar yang Jurnal Prespektif Pendidikan- Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau lebih baik, namun kenyataannya tidak semua siswa dapat mencapai hasil belajar seperti yang Kenyataan di lapangan yang sering terjadi yaitu banyak siswa yang tidak tertarik untuk mempelajari matematika, siswa sibuk dengan aktivitasnya sendiri seperti mengobrol dengan teman sebangkunya, tidak mencoba menyelesaikan permasalahan matematika yang sedang dibahas, dan cenderung menunggu jawaban dari guru. Setelah dilakukan wawancara dengan salah satu guru matematika yang ada di SMPN 11 Rejang Lebong ditemukan masalah yaitu siswa masih banyak yang kesulitan dalam memahami konsep matematika yang diajarkan guru, karena pada dasarnya siswa menganggap mata pelajaran matematika sulit dan kurang menarik. Berdasarkan informasi dari guru diperoleh bahwa pada semester genap dari total siswa yang diajar sebanyak 6 kelas yaitu 223 orang siswa, nilai rata-rata ulangan harian siswa 60,47 sedangkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) adalah 70. Hanya 127 siswa dinyatakan tuntas dan sebanyak 96 siswa lainnya dinyatakan belum tuntas. Dengan demikian tujuan pembelajaran belum sepenuhnya tercapai seperti yang diinginkan. Menurut guru tersebut banyak siswa yang tidak tuntas dikarenakan siswa yang aktif di kelas juga hanya beberapa saja, siswa juga kesulitan dalam memahami rumus-rumus matematika, simbol-simbol dalam matematika serta langkah-langkah pengerjaan soal matematika. Kurangnya minat siswa dalam belajar matematika serta siswa juga kurang percaya diri ketika mengerjakan soal matematika yang diberikan guru ke papan tulis dan penggunaan pendekatan pembelajaran yang tidak efektif dan variatif sehingga kurang menarik perhatian siswa untuk belajar. Pada proses pembelajaran guru menggunakan metode pembelajaran ceramah, yaitu guru menjelaskan materi kemudian siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru dan siswa jarang berinteraksi atau bertanya dengan guru maupun dengan siswa lainnya dan mengakibatkan siswa kurang memahami pembelajaran yang diberikan guru. Berdasarkan uraian permasalahan di atas untuk mengatasi hal tersebut agar tidak berkelanjutan maka perlu diterapkan pendekatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan siswa sesuai dengan minat dan keinginan siswa. Pendekatan yang dapat digunakan untuk menciptakan suasana belajar yang aktif dan kreatif dalam Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Lestariningsih dan Trismawati . menyatakan bahwa pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) adalah pendekatan dalam pembelajaran matematika yang diawali Jurnal Prespektif Pendidikan- Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau dengan konteks realistik bagi siswa dan siswa diberikan kebebasan mengembangkan ide-ide matematis untuk menemukan kembali pengetahuan matematis. Idris dan Silalahi . juga menyatakan bahwa Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang lebih mementingkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran di kelas sehingga siswa mampu membangun sendiri pengetahuannya terhadap masalah yang ada pada Anisa . juga menyatakan bahwa PMRI adalah suatu pendekatan pembelajaran matematika yang salah satu prinsip pembelajarannya menggunakan situasi dunia nyata atau konteks yang real dan pengalaman siswa sebagai titik tolak belajar matematika. Dengan menerapkan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) dalam pembelajaran matematika di sekolah, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan siswa terhadap suatu materi yang dipelajari. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan ide-ide matematis, menemukan kembali dan merekonstruksi konsep-konsep matematika melalui pengalaman siswa itu sendiri, sehingga siswa memiliki pemahaman yang baik tentang konsep-konsep matematika tersebut (Fauziah. Putri. Zulkardi dan Somakim, 2020:. Dengan demikian. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) diharapkan memberikan kontribusi yang besar bagi kemampuan dan hasil belajar matematika siswa. RESEARCH METHOD Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2021/2022 dengan subjek penelitian siswa kelas VII 4 dari salah satu SMP di SMPN 11 Rejang Lebong yang berjumlah 36 Jenis penelitian ini adalah metode eksperimen semu (Pre-Experimental Design. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis. Instrumen tes berbentuk esai . yang terdiri dari 6 soal. Tes digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPN 11 Rejang Lebong yang mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Tes yang diberikan sebanyak 2 kali yaitu sebelum perlakuan . re-tes. dan setelah perlakuan . ost-tes. dan bentuk tes yang digunakan yaitu bentuk uraian. Tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diberikan perlakuan dengan Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) pada materi layang-layang dan belah ketupat. Jurnal Prespektif Pendidikan- Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif pada data tes yaitu menghitung rata-rata dan simpangan baku, uji normalitas data, dan pengujian hipotesis. Adapun yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah Au Hasil belajar siswa pada kelas VII SMPN 11 Rejang Lebong tahun pelajaran 2021/2022 setelah diterapkan pembelajaran matematika dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) secara signifikan tuntas. RESULTS ANDDISCUSSION Berikut ini uraian hasil penelitian yang telah dilaksanakan di SMP Negeri 11 Rejang Lebong. Rata-rata hasil belajar Pada penelitian dilakukan tes awal sebelum melakukan tindakan kelas Setelah dilakukan pengolahan data skor pre-test pada kelas VII. 4 diperoleh data hasil penelitian sebagaimana ditunjukkan pada tabel 1. Tabel 1. Rekapitulasi Data Tes Awal (Pre-Tes. Kategori Keterangan Jumlah Siswa Rata-Rata Nilai 17,34 Simpangan Baku Jumlah Siswa yang Tuntas Jumlah Siswa yang Tidak Tuntas 8,95 0 siswa . %) 36 siswa . %) Berdasarkan tabel 1 di atas diketahui bahwa nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 17,34 dengan nilai tertinggi yang diperoleh 33 dan nilai terendah sebesar 0. Pada pre-test ini semua siswa tidak tuntas yaitu sebanyak 36 siswa . %). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa sebelum pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) secara signifikan tidak tuntas. Setelah kemampuan awal siswa diketahui, dilanjutkan kegiatan pembelajaran dengan pendekatan Pendidikn Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Kegiatan tindakan dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan untuk treatment atau tindakan satu kali lagi untuk post-test. Pada akhir penelitian dilakukan tes akhir untuk mengetahui kemampuan akhir siswa. Kemampuan akhir siswa adalah kemampuan siswa dalam penguasaan materi layang-layang dan belah ketupat pada kelas VII. 4 SMP Negeri 11 Rejang Lebong yang merupakan hasil belajar siswa setelah proses pembelajaran. Jurnal Prespektif Pendidikan- Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau Pelaksanaan post-test berfungsi untuk mengetahui kemampuan akhir siswa tentang suatu materi setelah dilakukan pembelajaran. Setelah dilakukan pengolahan data skor post-test pada kelas VII. 4 diperoleh data hasil yang dapat dilihat pada tabel 3 berikut: Tabel 2. Rekapitulasi Data Tes Akhir (Post-Tes. Kategori Keterangan Jumlah Siswa Rata-Rata Nilai 76,71 Simpangan Baku 16,41 Jumlah Siswa yang Tuntas 28 siswa . ,78%) Jumlah Siswa yang Tidak Tuntas 8 siswa . ,22%) Berdasarkan tabel 2 di atas diketahui bahwa rata-rata nilai keseluruhan sebesar 76,71 dengan nilai tertinggi sebesar 100 dan nilai terendah 34. Siswa yang tuntas untuk tes akhir sebanyak 28 siswa . ,78%) dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 8 siswa . ,22%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa setelah penerapan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) secara signifikan tuntas. Dari hasil analisis diperoleh bahwa rata-rata nilai pre-test adalah 17,34 dan untuk rata-rata nilai post-test adalah 76,71. Ini dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan rata-rata nilai dari pre-test ke post-test sebesar 59,37. Sedangkan presentase jumlah siswa yang tuntas pada pre-test sebesar 0 % dan pada post-test sebesar 77,78 %. Untuk ketuntasan belajar ini pun mengalami peningkatan sebesar 77,78%. Deskripsi kemampuan akhir siswa setelah penerapan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) diperoleh nilai tertinggi siswa 100 dan nilai terendah siswa 34 . Rata-rata nilai matematika siswa mencapai 76,71 dan jumlah siswa yang tuntas mengalami peningkatan sebesar 77,78%, jadi dapat dikatakan bahwa hasil post-test siswa setelah penerapan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) tuntas karena rata-rata post-test siswa Ou 70. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa = 35 dan pada post-tes yaitu 2,45 dengan dk yaitu 1,69 dan uji-t mengenai post-test menunjukkan bahwa >1,. , ini berarti ditolak dan . ,45 Dengan demikian hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima kebenarannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa AuHasil belajar siswa pada pembelajaran matematika siswa kelas VII SMP Negeri 11 Rejang Lebong setelah diterapkan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) secara signifikan tuntasAy. Dengan begitu pendekatan ini sangat bagus diterapkan dalam proses pembelajaran karena dapat Jurnal Prespektif Pendidikan- Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian terdahulu yang Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) pembelajaran (Lestarningsih dan Trismawati, 2020. Idris dan Silalahi, 2016. Pembriana, 2. Adapun aktivitas siswa selama pembelajaran dari pertemuan pertama hingga pertemuan keempat tidak jauh berbeda. Pembelajaran dilaksanakan sesuai RPP dan LKPD dengan pendekatan pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Pada pertemuan pertama tidak berjalan begitu lancar. Masih terdapat beberapa kelompok yang tidak mengisi LKS sepenuhnya. LKS yang dibagikan oleh peneliti hanya di isi sebagian saja oleh beberapa kelompok. Terdapat beberapa kelompok juga yang menggunakan kertas origami tidak seusai perintah yang ada di LKS. Hal ini disebabkan siswa yang masih sedikit malu-malu karena belum beradaptasi dengan proses pembelajaran serta guru yang baru, beberapa siswa terlalu asik mengobrol dengan rekan sekelompoknya sehingga membuat keadaan kelas sedikit berisik dan terdapat beberapa siswa yang menggunakan kertas origami tidak seusai dengan yang diperintahkan. Namun dari 7 kelompok yang terbentuk terdapat satu kelompok yang menjawab permasalahan di LKS dengan baik. Kelompok yang menjawab LKS dengan baik yaitu kelompok 3, seluruh permasalahan yang terdapat di LKS semua di isi oleh kelompok 3 dan jawaban yang di sajikan kelompok 3 sudah baik untuk awal Lembar jawaban LKS kelompok tiga dapat dilihat pada gambar 1 sebagai berikut: Gambar 1 Lembar Jawaban LKS Pertemuan Pertama Jurnal Prespektif Pendidikan- Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau Pada gambar 1 terlihat pada permasalahan kedua di LKS siswa dituntun untuk mengembangkan kemampuan serta pemahaman konsep sendiri. Selain itu siswa juga menemukan sendiri strategi untuk menentukan rumus keliling layang-layang dari media yang mereka buat sendiri yaitu membuat layang-layang dari kertas origami. Siswa juga dapat saling bertukar pendapat dengan sesama anggota kelompoknya untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di LKS. Pada pertemuan kedua siswa mulai mengikuti pembelajaran dengan baik dan antusias meskipun masih ada beberapa siswa yang masih sulit memahami masalah yang akan dipecahkan serta masih terdapat beberapa siswa menggunakan origami tidak sesuai dengan apa yang Dalam proses pembelajaran ini setiap kelompok sudah mulai berbagi pendapat dengan sesama anggota kelompoknya sehingga diskusi yang dilakukan berjalan lumayan baik. Sehingga LKS yang dibagikan oleh peneliti digunakan dengan semestinya. Siswa mulai mengerjakan LKS bersama anggota kelompoknya meskipun masih terdapat beberapa permasalahan yang ada di LKS tidak terjawab namun pada pertemuan kedua ini sudah jauh lebih baik dari Dari 7 kelompok terdapat 3 kelompok yang sudah menjawab LKS secara menyeluruh dan terdapat 2 kelompok yang menjawab LKS dengan baik. Kelompok yang menjawab LKS secara menyeluruh yaitu kelompok 1, 3 dan 5, untuk kelompok yang menjawab dengan baik yaitu kelompok 1 dan 3. Presentasi setiap kelompok juga sudah mulai baik, setiap kelompok mulai percaya diri untuk dapat menjelaskan jawaban dari permasalahan yang ada di LKS nya kepada teman-teman sekelasnya. Walaupun masih terdapat beberapa siswa atau kelompok yang masih malu-malu menyampaikan hasil diskusi mereka kepada teman yang lain serta masih terdapat beberapa siswa disetiap kelompok yang tidak membantu menyelesaikan permasalahan yang ada. Hal ini kemungkinan disebabkan karena siswa masih belum dapat memahami tentang permasalahan yang ada dan sudah terbiasa menggunakan pembelajaran sebelumnya yaitu hanya menerima penjelasan dari guru tanpa menemukan sendiri pengetahuan dan pemahaman konsep tentang materi yang dipelajari. Untuk lembar jawaban LKS pada pertemuan kedua dapat dilihat pada gambar 2 sebagai berikut: Jurnal Prespektif Pendidikan- Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau Gambar 2 Lembar Jawaban LKS Pada Pertemuan Kedua. Pada gambar 2 terlihat pada permasalahan pertaman di LKS siswa dituntun untuk mengingat materi pada pertemuan sebelumnya untuk menjawab permasalahan yang ada di LKS, siswa juga dapat mengembangkan kemampuan serta pemahaman konsep matematikanya sendiri. Selain itu siswa juga menemukan sendiri cara untuk menentukan rumus luas layang-layang dari media yang mereka buat sendiri pada pertemuan sebelumnya yaitu membuat layang-layang dari kertas origami. Hal ini sesuai dengan pernyataan Firdaus dalam Ahmad dan Elhusna . pembelajaran matematika realistik merupakan suatu desain pembelajaran yang memberi kesempatan peserta didik untuk terlibat secara aktif pada saat proses pembelajaran dan memberikan kontribusi yang besar dengan cara melakukan proses matematisasi dan pembuatan model untuk masalah-masalah kontekstual yang dipelajari. Pada pertemuan ketiga siswa sudah mulai beradaptasi dengan proses pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Siswa sangat antusias dan lebih fokus dari pertemuan sebelumnya dalam memecahkan permasalahan yang ada di LKS. Siswa lebih serius dalam memecahkan permasalahan realistik yang ada pada LKS. Siswa sangat berkontribusi di setiap kelompoknya untuk menjawab. Siswa lebih aktif dari pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, mereka lebih berani atau percaya diri dalam mengemukakan pendapat serta bertanya dengan anggota kelompok lainnya. Dari 7 kelompok yang terbentuk pada pertemuan ketiga ini semua anggota kelompok menjawab LKS secara menyeleruh. Penyelesaian masalah yang ada di LKS mereka jawab dengan sangat baik meskipun masih terdapat beberapa yang masih belum begitu tepat jawabannya namun siswa sudah sangat antusias mengisi. Terdapat 5 kelompok yang memiliki jawaban yang sangat baik dan tepat. Kemajuan pada pertemuan ketiga sangat pesat hal ini Jurnal Prespektif Pendidikan- Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau dikarenakan siswa mulai memahami tentang pembelajaran PMRI, siswa juga mulai terbiasa belajaran dengan menemukan dan membangun konsep pengetahuan matematikanya sendiri. berupa kertas origamipun digunakan dengan baik oleh siswa tidak seperti pertemuan-pertemuan Pada pertemuan ini proses pembelajaran sudah hampir mendekati maksimal. Lembar jawaban LKS siswa dapat dilihat pada contoh gambar 3 dan 4 sebagai berikut: Gambar 3 Lembar Jawaban LKS Pertemuan Ketiga. Pada gambar 3 siswa diberi permasalahan realistik yang akan membuat siswa dapat membayangkan tentang permasalahan tersebut. Terlihat di gambar 3 terdapat gambar bantal yag memiliki bentuk bangun datar belah ketupat sehingga membuat siswa lebih mudah untuk memecahkan permasalahan yang ada di LKS. Melalui gambar tersebut siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri untuk menentukan keliling belah ketupat. Selain siswa mampu menentukan sendiri rumus keliling belah ketupat, siswa juga diberikan permasalahan untuk menghitung keliling belah ketupat. Lembar jawaban LKS dapat dilihat pada gambar 4 sebagai berikut: Gambar 4 Lembar Jawaban LKS Pertemuan Ketiga. Jurnal Prespektif Pendidikan- Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau Pada gambar 4 siswa dapat menyelesaikan permasalahan realistik dengan cara siswa itu siswa dapat menggunakan ketrampilan dalam proses menyelesaikan permasalahan yang ada di LKS. Siswa dapat berdiskusi dan beragumentasi dengan teman seanggota kelompoknya atau teman lainnya sehingga peserta didik dapat menemukan sendiri ide dan pengethauan matematika dari aktivitas yang dilakukannya bersama kelompoknya dan pada akhirnya dapat menyelesaikan permasalahan matematika baik secara individu maupun kelompok. Hal ini sejalan dengan pendapat Aldila . yang menyatakan bahwa PMRI menekankan pada keterampilan proses, berdiskusi, dan berargumentasi dengan teman lain sehingga peserta didik dapat menemukan sendiri ide matematika dari aktivitas yang dilakukannya di kelas dan pada akhirnya dapat menyelesaikan permasalahan matematika baik secara individu ataupun kelompok. Proses pembelajaran pada pertemuan keempat dengan materi luas belah ketupat, seperti pada pertemuan sebelumnya peneliti membagikan kertas origami dan LKS dengan cara berkelompok dan siswa mengerjakan dengan berdiskusi dan menemukan sendiri sesuai dengan realita yang ada dan kreativitas setiap kelompok. Pada pertemuan keempat semua kelompok sudah mencapai hasil pembelajaran yang maksimal. Siswa sangat antusias belajar dengan sukarelawan maju untuk mewakili kelompoknya menjelaskan hasil diskusi mereka. Siswa juga lebih aktif bertanya serta mengemukakan pendapatnya. Semua kelompok menjawab permasalahan di LKS secara sangat baik. Hal ini disebabkan siswa sudah mengetahui dan memahami pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Lembar jawaban LKS dapat dilihat pada gambar 5 sebagai berikut: Gambar 5 Lembar Jawaban LKS Pertemuan Keempat. Jurnal Prespektif Pendidikan- Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau Dengan diterapkannya pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) dalam kegiatan pembelajaran ini siswa mulai merasa senang dikarenakan siswa dapat mengembangkan dan membangun konsep matematikanya sesuai pengalaman siswa itu sendiri. Siswa lebih aktif bertanya, menanggapi pembelajaran yang berlangsung, siswa juga lebih percaya diri ketika mengemukakan pendapat di depan kelas. Hal ini Sejalan dengan pendapat Subryanto . yaitu tujuan dari pendekatan PMRI sendiri adalah memberikan kesenpatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan mengkontruksi konsep-konsep matematika dengan mengaitkan konsepkonsep matematika didunia nyata, sehingga siswa mempunyai pengertian kuat tentang konsepkonsep matematika. Dengan begitu disimpulkan bahwa aktivitas siswa saat menerapkan pendekatan pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) pada materi layang-layang dan belah ketupat sudah mengikuti tahap-tahap pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) dan mengalami peningkatan keaktifan siswa pada setiap pertemuan. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas VII SMP 11 Rejang Lebong setelah penerapan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) secara signifikan tuntas. Nilai rata-rata hasil tes akhir sebesar 76,71 dengan presentase ketuntasan hasil mencapai 77,78%. REFERENCES