Vol. No. December . p-ISSN x-x e-ISSN x-x PENGARUH TERAPI MUSIK KLASIK MOZART DALAM MENGURANGI TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT MARINIR CILANDAK Syabila Rizkyani*, 1Dame Lestaria Program Studi Di Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mayapada *Email: bellasyabilla189@gmail. ABSTRAK Kata Kunci Mozart. Kecemasan. Nonfarmakologis Penelitian ini mengkaji efektivitas terapi musik klasik Mozart dalam mengurangi kecemasan pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Marinir Cilandak. Sampel penelitian terdiri dari 69 responden dengan rentang usia 18-65 tahun, didominasi kelompok usia 48-57 tahun . ,9%), dan memiliki keseimbangan gender yang baik. Sebelum intervensi, 46,4% pasien mengalami kecemasan ringan dan 53,6% kecemasan Metodologi penelitian menggunakan desain pre-post test untuk mengukur tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian terapi musik Mozart. Hasil penelitian menunjukkan perubahan signifikan setelah intervensi, dengan 46,4% pasien tidak lagi menunjukkan gejala kecemasan dan 53,6% mengalami penurunan ke tingkat kecemasan ringan. Analisis statistik menggunakan uji paired samples t-test mengonfirmasi signifikansi perbedaan antara skor pretest dan posttest . =48,436, p<0,. Pembahasan mengaitkan temuan dengan penelitian terkini tentang efek neurobiologis musik Mozart terhadap regulasi emosi dan aktivitas otak. Kesimpulannya, terapi musik klasik Mozart terbukti efektif dalam mengurangi kecemasan pasien rawat inap, dengan implikasi potensial untuk peningkatan kualitas perawatan kesehatan. ABSTRACT Keywords Mozart, anxiety, nonpharmacological This study examines the effectiveness of Mozart classical music therapy in reducing anxiety among inpatients at Cilandak Marine Hospital. The research sample comprised 69 respondents aged 18-65 years, predominantly in the 48-57 age group . 9%), with a good gender balance. Before intervention, 46. 4% of patients experienced mild anxiety and 53. 6% moderate anxiety. The research methodology employed a pre-post test design to measure anxiety levels before and after Mozart music therapy. Results showed significant changes post-intervention, with 46. 4% of patients no longer exhibiting anxiety symptoms and 53. 6% experiencing a reduction to mild anxiety levels. Statistical analysis using paired samples t-test confirmed the significance of differences between pretest and posttest scores . =48. 436, p<0. The discussion links findings to recent research on the neurobiological effects of Mozart's music on emotion regulation and brain activity. In conclusion. Mozart classical music therapy proved effective in reducing inpatient anxiety, with potential implications for improving healthcare quality. * Corresponding author : Syabila Rizkyani Email Address : bellasyabilla189@gmail. Received : October 13, 2024. Revised : October 30, 2024. Accepted : November 15, 2024. Published : December 01. Mayapada Nursing Journal Vol. No. December 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x PENDAHULUAN Di Indonesia prevalensi terkait gangguan kecemasan menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. pada tahun 2018 menunjukkan bahwa sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta penduduk di Indonesia mengalami gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala kecemasan dan depresi (Depkes, 2. Menurut RISKESDAS tahun 2018 prevalensi di Indonesia menunjukkan angka sebesar 9,8% yang terjadi gangguan kecemasan. Penelitian yang dilakukan (Mawaddah et al, 2. dengan judul penatalaksanaan masalah keperawatan ansietas pada pasien dengan penyakit fisik di RSI Sakinah Kabupaten Mojokerto. Hasil penelitian diperoleh bahwa seluruh pasien dengan penyakit fisik . %) mengalami masalah kecemasan dengan berbagai tingkatan, 14% mengalami kecemasan berat, 64% mengalami kecemasan sedang dan 22 % mengalami kecemasan ringan. Menurut Santoso et al. , terapi musik klasik telah terbukti efektif dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien rawat inap di Indonesia. Terapi ini melibatkan penggunaan musik klasik yang dipilih dengan cermat untuk menciptakan lingkungan yang tenang dan menenangkan bagi Selama sesi terapi, pasien duduk atau berbaring dalam keadaan santai sambil mendengarkan musik klasik melalui headphone atau speaker. Musik klasik dipilih berdasarkan karakteristiknya yang meliputi tempo yang lambat, melodi yang indah, dan harmoni yang menyenangkan. Terapi musik klasik biasanya dilakukan selama 30-60 menit setiap sesi, beberapa kali seminggu, tergantung pada kebutuhan dan kondisi pasien. Penelitian ini menunjukkan bahwa terapi musik klasik dapat merangsang respon relaksasi dalam tubuh, seperti menurunkan denyut jantung, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi produksi hormon stres. Hal ini dapat membantu mengurangi kecemasan pada pasien rawat inap dan meningkatkan kualitas tidur mereka. Studi ini memberikan bukti tambahan tentang manfaat terapi musik klasik sebagai pendekatan non-farmakologis yang efektif dalam mengurangi kecemasan pada pasien rawat inap di Indonesia, sehingga dapat menjadi alternatif yang baik atau pelengkap untuk pengobatan konvensional. Terapi musik klasik mozart yang diberikan kepada pasien dapat meningkatkan relaksasi dengan mengurangi pelepasan hormon stres dan menurunkan regulasi aktivitas aksis hipotalamus-hipofisisadrenal, yang dapat tercermin pada penurunan konsentrasi serum kortisol (Ganesan et al. , 2. Otak memiliki korelasi yang signifikan dengan musik yang membangkitkan emosi dan berdampak pada penurunan regulasi aktivitas sistem saraf otonom yang mengakibatkan penurunan tekanan darah dan detak jantung. Intervensi non-farmakologis seperti mendengarkan musik yang disukai dan menenangkan telah terbukti mengurangi ansietas dan penggunaan obat-obatan (Chahal et al. , 2. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, peneliti memilih terapi musik klasik mozart sebagai intervensi dalam mengatasi kecemasan karena kegiatan ini relatif mudah dilakukan, dapat dilakukan Mayapada Nursing Journal Vol. No. December 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x secara klasikal, dan memiliki berbagai manfaat seperti menghasilkan perasaan rileks yang dapat mengurangi gejala-gejala yang ada (Guytin et al. , 2. , membangkitkan ingatan positif, serta efektif dalam mengurangi gejala umum kecemasan sementara pada pasien dengan berbagai macam masalah medis, seperti asma, kanker, dan sebagainya (Gutiyrrez & Camarena, 2. , serta manfaat-manfaat Selain itu, penggunaan terapi musik ini bermanfaat karena telah terbukti sebagai salah satu alternatif pilihan yang efektif untuk mengurangi kecemasan individu (Gutiyrrez & Camarena, 2015. Goldbeck & Ellerkamp, 2012. Tan et al. , 2010. Guytin et al. , 2009. Bibb et al. , 2015. dan lain-lai. Meskipun demikian, penelitian mengenai terapi musik klasik untuk mengurangi tingkat kecemasan pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Marinir Cilandak memiliki beberapa alasan Efektivitas terapi musik klasik telah dibuktikan dalam berbagai studi terbaru, seperti metaanalisis oleh Kyhlmann et al. yang menunjukkan dampak positif signifikan dalam mengurangi kecemasan pasien di berbagai setting medis. Mengingat Rumah Sakit Marinir Cilandak melayani pasien dari kalangan militer, penelitian ini menjadi semakin relevan. Goetter et al. menemukan bahwa personel militer memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan, sehingga intervensi nonfarmakologis seperti terapi musik dapat sangat bermanfaat. Selain itu, penelitian di setting spesifik seperti rumah sakit militer akan memberikan kontribusi berharga pada literatur ilmiah, sejalan dengan rekomendasi Fancourt & Finn . yang menekankan pentingnya penelitian terapi musik di berbagai konteks kesehatan. Dari segi ekonomi. Zhang et al. menunjukkan bahwa implementasi terapi musik dapat menghasilkan penghematan biaya perawatan kesehatan jangka panjang, mengingat ini merupakan intervensi non-invasif dan relatif murah. Terakhir. Lee et al. membuktikan bahwa integrasi terapi musik klasik ke dalam perawatan standar dapat meningkatkan kualitas pelayanan secara keseluruhan, dengan pasien melaporkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi. Mengingat potensi manfaat yang signifikan ini, melakukan penelitian terapi musik klasik di Rumah Sakit Marinir Cilandak menjadi langkah yang logis dan penting untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan quasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang dirawat diruang cempaka atas ketika dirawat di RS Marinir Cilandak. Tehnik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dengan Junlah sanpel adalah 69 responden. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji independent t test. Mayapada Nursing Journal Vol. No. December 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Karakteristik Responden Tabel 1. Frekuensi karakteristik umur responden kecemasan di ruang rawat inap di rumah sakit marinir cilandak tahun 2024 Karakteristik Umur 18-27 tahun 28-37 tahun 38-47 tahun 48-57 tahun 58-65 tahun Total Dari total 69 responden, kelompok usia terbesar adalah 48-57 tahun, yang mewakili 31,9% . dari total sampel. Kelompok usia kedua terbesar adalah 38-47 tahun, mencakup 21,7% . dari responden. Kelompok usia 58-65 tahun menyusul dengan proporsi 20,3% . , diikuti oleh kelompok usia 18-27 tahun sebesar 18,8% . Kelompok usia dengan representasi terendah adalah 28-37 tahun, hanya mewakili 7,2% . dari total sampel. Tabel 2. Frekuensi karakteristik Jenis Kelamin responden kecemasan di ruang rawat inap di rumah sakit marinir cilandak tahun 2024 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Total Hasil analisis data SPSS mengenai distribusi jenis kelamin pada penelitian tentang pengaruh terapi musik klasik Mozart dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Marinir Cilandak tahun 2024 menunjukkan proporsi yang relatif seimbang antara responden laki-laki dan perempuan. Dari total 69 responden, 53,6% . adalah laki-laki, sementara 46,4% . adalah perempuan. Distribusi jenis kelamin ini memberikan wawasan penting dalam konteks penelitian dan memiliki implikasi signifikan terhadap interpretasi hasil serta aplikasi praktis dari terapi musik klasik Mozart dalam setting rumah sakit. Tingkat kecemasan sebelum diberikan terapi musik klasik mozart Tabel 3. Tingkat kecemasan responden sebelum diberikan terapi musik klasik mozart Tingkat kecemasan Jumlah Presentase Kecemasan ringan Kecemasan sedang Total Mayapada Nursing Journal Vol. No. December 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x Hasil analisis data SPSS mengenai tingkat kecemasan pasien rawat inap di Rumah Sakit Marinir Cilandak sebelum diberikan terapi musik klasik Mozart . menunjukkan distribusi yang menarik dan signifikan secara klinis. Data tersebut mengungkapkan bahwa dari total 69 responden, 32 pasien . ,4%) mengalami kecemasan ringan, sementara 37 pasien . ,6%) menunjukkan gejala kecemasan sedang. Temuan ini memberikan gambaran awal yang penting tentang prevalensi dan tingkat kecemasan di kalangan pasien rawat inap, sekaligus menyediakan baseline untuk mengevaluasi efektivitas intervensi terapi musik klasik Mozart. Tingkat kecemasan sesudah diberikan terapi musik klasik mozart Tabel 4. Tingkat kecemasan responden sesudah dilakukan terapi musik klasik mozart Tingkat kecemasan Jumlah Persentase Kecemasan Ringan Ie Tidak ada Kecemasan sedang Ie kecemasan Total Hasil analisis data SPSS mengenai tingkat kecemasan pasien rawat inap di Rumah Sakit Marinir Cilandak setelah diberikan terapi musik klasik Mozart . menunjukkan perubahan yang signifikan dan menarik. Dari total 69 responden, 32 pasien . ,4%) tidak lagi menunjukkan gejala kecemasan, sementara 37 pasien . ,6%) mengalami penurunan tingkat kecemasan menjadi kategori Temuan ini mengindikasikan efektivitas yang substansial dari intervensi terapi musik klasik Mozart dalam mengurangi tingkat kecemasan pasien rawat inap. Analisis Bivariat Perbedaan rerata skor tingkat kecemasan pada pasien rawat inap pada pretest dan posttest Tabel 5. Perbedaan rerata skor tingkat kecemasan pada pasien rawat inap pada pretest dan posttest Hasil uji paired samples t-test menunjukkan nilai t hitung sebesar 48,436 dengan derajat kebebasan . 68 dan nilai signifikansi . sebesar 0,000. Nilai p yang lebih kecil dari 0,05 mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara skor pretest dan posttest. Rata-rata perbedaan . ean differenc. antara kedua pengukuran adalah 6,000 dengan standar deviasi 1,029. Interval kepercayaan 95% untuk perbedaan rata-rata berada antara 5,753 hingga 6,247. Berdasarkan hasil analisis data SPSS yang disajikan, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara skor pretest dan posttest dalam penelitian mengenai pengaruh terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan pasien rawat inap di Rumah Sakit Marinir Cilandak pada tahun Hasil penelitian ini sejalan dengan studi terdahulu yang dilakukan oleh yNetinkaya et al. yang mengevaluasi efek terapi musik pada tingkat kecemasan pasien yang menjalani operasi jantung. Mereka menemukan bahwa intervensi musik secara signifikan menurunkan skor kecemasan pada Mayapada Nursing Journal Vol. No. December 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x kelompok eksperimen dibandingkan dengan kelompok kontrol. Demikian pula, meta-analisis yang dilakukan oleh Kyhlmann et al. mengenai efek musik pada kecemasan perioperatif mendukung penggunaan musik sebagai intervensi non-farmakologis yang efektif untuk mengurangi kecemasan pasien. Mekanisme yang mendasari efek anxiolytic dari musik klasik Mozart telah menjadi subjek penelitian ekstensif dalam bidang neurosains musik. Koelsch . menjelaskan bahwa musik dapat memodulasi aktivitas di berbagai wilayah otak yang terlibat dalam regulasi emosi, termasuk amigdala, hipokampus, dan korteks prefrontal. Stimulasi auditori yang menyenangkan dari musik klasik dapat mengaktifkan sistem reward otak, meningkatkan pelepasan neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin, yang berperan penting dalam modulasi suasana hati dan kecemasan. Lebih lanjut, karakteristik spesifik dari musik Mozart, seperti struktur harmonik yang kompleks namun teratur, tempo yang moderat, dan dinamika yang seimbang, diyakini berkontribusi pada efek Penelitian yang dilakukan oleh Verrusio et al. menunjukkan bahwa mendengarkan sonata Mozart untuk dua piano dalam D mayor (K. secara signifikan meningkatkan koherensi EEG dan menurunkan aktivitas gelombang beta yang terkait dengan keadaan cemas pada subjek penelitian. Dalam konteks perawatan kesehatan, implementasi terapi musik klasik Mozart sebagai intervensi komplementer memiliki beberapa keuntungan. Pertama, ini merupakan metode non-invasif dan bebas efek samping, yang menjadikannya pilihan yang aman untuk berbagai populasi pasien. Kedua, biaya implementasinya relatif rendah dibandingkan dengan intervensi farmakologis atau psikoterapis konvensional. Ketiga, terapi musik dapat dengan mudah diintegrasikan ke dalam rutinitas perawatan tanpa mengganggu prosedur medis yang sedang berlangsung. Namun, penting untuk dicatat bahwa efektivitas terapi musik dapat bervariasi antar individu. Faktor-faktor seperti preferensi musik personal, latar belakang budaya, dan pengalaman musikal sebelumnya dapat mempengaruhi respons pasien terhadap intervensi ini. Oleh karena itu, pendekatan yang dipersonalisasi dalam pemilihan repertoar musik mungkin diperlukan untuk memaksimalkan manfaat terapeutik. Implikasi dari temuan ini signifikan bagi praktik keperawatan dan manajemen pasien di rumah Perawat dan tenaga kesehatan lainnya dapat mempertimbangkan untuk mengintegrasikan terapi musik klasik Mozart ke dalam rencana perawatan holistik untuk pasien yang mengalami kecemasan. Hal ini sejalan dengan rekomendasi dari World Health Organization (WHO) yang menekankan pentingnya pendekatan integratif dalam perawatan kesehatan yang menggabungkan terapi konvensional dengan intervensi komplementer yang berbasis bukti. Lebih lanjut, hasil penelitian ini juga memiliki implikasi penting bagi kebijakan kesehatan. Mengingat prevalensi tinggi kecemasan di antara pasien rawat inap dan potensi efek negatifnya terhadap prognosis dan kualitas hidup, pengembangan intervensi non-farmakologis yang efektif seperti terapi musik klasik Mozart harus menjadi prioritas dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Kebijakan yang mendukung implementasi dan penelitian lebih lanjut mengenai terapi musik di rumah sakit dapat berkontribusi pada peningkatan outcome pasien dan efisiensi sistem kesehatan secara keseluruhan. Meskipun hasil penelitian ini menjanjikan, beberapa keterbatasan perlu dipertimbangkan. Pertama, ukuran sampel yang relatif kecil . dapat membatasi generalisasi temuan. Kedua, penelitian ini tidak mempertimbangkan variabel confounding potensial seperti penggunaan obat anxiolytic atau intervensi psikologis lainnya yang mungkin mempengaruhi tingkat kecemasan pasien. Ketiga, efek jangka panjang dari terapi musik klasik Mozart pada kecemasan pasien tidak dievaluasi dalam penelitian ini. KESIMPULAN Terapi musik klasik Mozart terbukti memiliki pengaruh signifikan dalam mengurangi tingkat kecemasan pasien rawat inap di Rumah Sakit Marinir Cilandak. Mayapada Nursing Journal Vol. No. December 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x DAFTAR PUSTAKA