IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 87Aa100 Analisis Lingkungan Perairan pada Kawasan Budidaya Kerang Darah (Anadara Granos. di Kabupaten Rokan Hilir. Provinsi Riau Subkhan Riza1*. Iskandar Putra2. Irwan Effendi2. Jusup Suprijanto3. Ita Widowati3 1 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Penelitian dan Pengembangan Provinsi Riau 2 Universitas Riau Pekanbaru 3 Universitas Diponegoro Semarang Email:msubkhanriza@gmail. Received: 21/05/2024. Revised:10/06/2024. Accepted: 10/06/2024. Published: 30/06/2024 ABSTRACT Rokan Hilir Regency is the largest Blood Cockle (A. producing area in Riau Province with production of 6,492. 47 tons in 2018. High blood cockle cultivation activities will affect the carrying capacity of waters. This research aims to determine the existing conditions of blood cockle cultivation and analyze the water quality in the blood cockle cultivation area in Rokan Hilir Regency. This research was conducted using survey and experimental methods. Blood cockle production in Rokan Hilir Regency is currently 6,492. 47 tonnes or 49. 67% of the total 13,072. 21 tonnes of aquaculture Water quality parameters in cultivation areas are. salinity 34 ppt, temperature 28. 7 Aa 290C, pH around 8, dissolved oxygen 4. 4 Aa 6. 1 mg/l and alkalinity 120 Aa 125 mg/l, are in the range of good quality standards to support the life of blood cockles. Meanwhile, the brightness parameter ranges from 50. 0 Ae 55. 0 cm, which is below the required quality standard, namely 60. 0 cm. The waters of the cultivation area are rich in plankton, namely Location I: 30,959 ind/l. Location II. A: 15,032 ind/l and Location II. B: 5,011 ind/l as natural food for the growth of blood cockles. The water sample showed negative results for E. Coliform and Salmonella bacterial contamination with levels of 0 ind/100 l and negative. Likewise, contamination in the shellfish samples showed a value < 3 and was negative so it was safe for consumption. The levels of heavy metals lead (P. , cadmium (C. and mercury (H. in water samples ranged from 0. 036 Ae 0. 082 mg/kg and in shellfish samples ranged 074 Ae 0. 163 mg/kg, which is below the maximum standard standard so it is safe for Sediment and water samples in Panipahan waters were identified as containing microplastics in the form of nylon, polyethylene and polypropylene Keywords: blood cockles, environmental quality, heavy metals, microplastics, rokan hilir regency ABSTRAK Kabupaten Rokan Hilir merupakan daerah penghasil kerang darah (A. terbesar di Provinsi Riau dengan produksi sebesar 6. 492,47 ton pada tahun 2018. Kegiatan budidaya kerang darah yang tinggi akan berpengaruh terhadap daya dukung perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting budidaya kerang darah dan menganalisis kualitas perairan pada kawasan budidaya kerang darah di Kabupaten Rokan Hilir. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey dan eksperimen. Produksi kerang darah di Kabupaten Rokan Hilir saat ini sebesar 6. 492,47 ton atau 49,67% dari total 13. 072,21 ton produksi perikanan budidaya. Parameter kualitas perairan di kawasan budidaya adalah . salinitas 34 ppt, suhu 28,7 - 290C, pH sekitar 8, oksigen terlarut 4,4 Ae 6,1 mg/l dan alkalinitas 120 Ae 125 mg/l, berada pada kisaran standar baku mutu yang baik untuk mendukung kehidupan kerang darah. Sedangkan parameter kecerahan berkisar 50,0 Ae 55,0 cm, berada dibawah standar baku mutu yang dipersyaratkan yakni 60,0 cm. Perairan kawasan budidaya kaya akan plankton yakni Lokasi I : 30. 959 ind/l. Lokasi II. A : 15,032 ind/l dan Lokasi II. B :5. 011 ind/l sebagai makanan alami bagi pertumbuhan kerang darah. Sampel air menunjukkan hasil negatif terhadap kontaminasi bakteri E. Coliform, dan Salmonella dengan kadar 0 ind/100l dan negatif. Demikian juga dengan kontaminasi pada sampel kerang menunjukkan nilai < 3 dan negatif sehingga aman untuk dikonsumsi. Kadar logam berat timbal (P. , cadmium (C. dan merkuri (H. pada sampel air berkisar 0,036 Ae 0,082 mg/kg dan pada sampel kerang berkisar 0,074 Ae 0,163 mg/kg berada dibawah baku standar maksimum sehingga aman untuk dikonsumsi. Sampel sedimen dan air di perairan Panipahan diidentifikasikan mengandung mikroplastik berupa nilon, polyethylene dan polypropylene. Kata Kunci: kerang darah, kualitas lingkungan, logam berat, mikroplastik, kabupaten rokan hilir IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 87Aa100 PENDAHULUAN Kekerangan merupakan jenis biota laut yang memiliki nilai gizi yang tinggi dan digemari oleh masyarakat sebagai bahan konsumsi. Salah satu jenis kekerangan yang memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan di Provinsi Riau adalah kerang darah (Anadara Kerang darah (A. hidup di perairan berlumpur yang banyak terdapat di sepanjang wilayah pesisir Provinsi Riau. Kerang darah adalah salah satu komoditas ekspor Provinsi Riau Kabupaten Rokan Hilir. Salah satu daerah penghasil kerang darah di Provinsi Riau adalah Kabupaten Rokan Hilir. Saat ini kegiatan budidaya kerang darah telah berkembang cukup pesat di daerah ini. Kawasan pesisir Kabupaten Rokan Hilir memiliki panjang garis pantai 263,56 km dan memiliki potensi budidaya kerang darah seluas 6. 500 Ha (Balitbang Provinsi Riau, 2. Berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Rokan Hilir produksi kerang darah di Kabupaten Rokan Hilir sebesar 6. 492,47 ton atau sekitar 49,67% dari total produksi perikanan budidaya sebesar 13. 072,21 Kecamatan Pasir Limau Kapas merupakan wilayah penghasil kerang darah terbesar di Kabupaten Rokan Hilir, selain Kecamatan Bangko dan Kecamatan Sinaboi. Produksi kerang darah di daerah ini sebagian besar merupakan hasil budidaya di tambak. Tingginya kegiatan budidaya kerang darah di kawasan ini akan berpengaruh terhadap daya dukung perairan di kawasan. Kegiatan eksploitasi perairan yang tinggi dan kontaminasi bahan berbahaya di badan keberlanjutan kegiatan usaha budidaya maupun lingkungan perairannya di masa yang akan datang (Prasetiyono et , 2. Berdasarkan kondisi tersebut, maka perlu diketahui kondisi lingkungan pengembangan budidaya kerang darah (A. di Kabupaten Rokan Hilir. Provinsi Riau. Penelitian ini bertujuan . mengetahui kondisi eksisting budidaya kerang darah (A. di Kabupaten Rokan Hilir. menganalisis kualitas perairan pada kawasan budidaya kerang darah (A. di Kabupaten Rokan Hilir. menganalisis kandungan bahan berbahaya pada perairan dan daging kerang darah (A. di Kabupaten Rokan Hilir. METODE Penelitian ini dilaksanakan selama 5 . bulan, dari Agustus s/d Desember 2019. Lokasi penelitian di Panipahan. Kecamatan Pasir Limau Kapas. Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey dan Teknik sampel dilakukan secara purposive Sampel diambil berdasarkan zona intertidal dan aktifitas manusia berbeda di sekitar lingkungan budidaya kerang darah. Sampel diambil satu kali sebulan selama 5 bulan pengamatan pada 2 zona intertidal di Pantai Panipahan, yaitu zona intertidal bagian bawah, tengah dan atas. Pemeriksaan sampel kualitas air, kelimpahan plankton dan bentos dilakukan di Laboratorium Fakultas Perikanan Universitas Riau. Selanjutnya untuk analisis mikrobiologi dan kandungan logam berat dilakukan pada Laboratorium Balai Pengujian Mutu Hasil Perikanan (BPMHP) Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah di Semarang. Sedangkan untuk IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 87Aa100 dilakukan di Laboratorium Universitas Negeri Semarang (UNNES) Semarang. Jawa Tengah. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Eksisting Budidaya Kerang Darah (A. di Kabupaten Rokan Hilir. Kerang (A. merupakan salah satu komoditas sektor perikanan yang perkembangannya cukup tinggi saat ini di Kabupaten Rokan Hilir. Dari total 13. 072,21 ton produksi perikanan budidaya, sebesar 492,47 ton atau 49,67% berasal dari produksi kerang darah. Budidaya kerang darah sangat cocok dilakukan pada perairan yang memiliki dasar substrat berlumpur dan landai. Kondisi pantai yang memiliki karakteristik seperti itu banyak terdapat di sepanjang pesisir Kabupaten Rokan Hilir. Budidaya kerang darah tersebar di sepanjang pesisir pantai Kabupaten Rokan Hilir mulai dari Kecamatan Pasir Limau Kapas. Kubu. Kubu Babussalam. Bangko, dan Sinaboi. Kecamatan Pasir Limau Kapas merupakan daerah yang memiliki tambak budidaya kerang darah terluas dibandingkan dengan kecamatan lain. Terdapat sebanyak 208 Kecamatan Pasir Limau Kapas yang tersebar di Kepenghuluan Panipahan sebanyak 128 orang. Kepenghuluan Panipahan Laut sebanyak 33 orang. Teluk Pulai sebanyak 47 orang. Teknologi budidaya kerang darah dilakukan oleh masyarakat dengan sistem pagar . ence cockle cultur. Pada kawasan pantai yang memiliki dasar . berlumpur dan landai dibuatkan petakan tambak dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan kemampuan si pemilik tambak. Ukuran tambak di penghuluan Panipahan mulai dari yang terkecil berukuran 3 x 4 meter seperti milik Iyan, yang beralamat di jalan Pelajar. Panipahan, ada juga yang berukuran 100 x 100 meter seperti milik Pardi, di jalan PLN, bahkan ada beberapa tambak yang berukuran 200 x 200 meter antara lain milik Sdr. Ahmadin yang beralamat di Swadaya pembudidaya kerang darah lainnya. Untuk membedakan antara petakan tambak yang satu dengan lain, dibuat pagar pembatas berupa tiang-tiang yang dipasangi jaring di sekeliling petakan tambak. Pemagaran tambak ini selain berfungsi untuk memberi batas kepemilikan tambak, yang paling penting adalah sebagai penghalang agar kerang-kerang yang dibudidayakan tidak keluar dari petakan tambak. Setelah itu tambak siap untuk ditebarkan benih dan dimulai masa pemeliharaan kerang darah. Benih kerang darah dengan padat tebar awal 000 ekor/m2 dan kemudian dijarangkan sampai 200 Ae 300 ekor/m2. Panen kerang darah dilakukan setelah masa pemeliharaan berlangsung selama 4-5 bulan dan berakhir sekitar bulan Selama masa pemeliharaan, pemilik tambak mempekerjakan 1 Ae 2 orang untuk mengawasi dan menjaga tambak dari kasus pencurian yang sering Untuk menjaga tambak, pemilik membuatkan rumah jaga di atas petakan tambak miliknya. Upah penjaga rata-rata Rp. 000/bulan untuk satu orang penjaga yang biasanya dilakukan ketika mulai memasuki masa panen. Kerang dikumpulkan, ditimbang dan jual kepada pedagang pengumpul untuk selanjutnya dijual ke pasar lokal, regional maupun ekspor. Ukuran IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 87Aa100 kerang yang dipanen bervariasi mulai dari yang terbesar > 4 cm/ekor sampai yang terkecil ukuran 1 -1,5 cm. Harga jual kerang darah di pasar lokal (Panipaha. sekitar Rp. 500/kg, sedangkan jika dijual ke Medan. Sumatera Utara tingkat harga lebih baik mencapai harga Rp. 000/kg. Sementara itu kerang darah yang dijual untuk ekspor ke Malaysia memiliki harga jual sekitar Rp. 000/kg dengan persyaratan ukuran sekitar 3 Ae 5 cm/ekor atau ukuran 120 ekor/kg. Kerang yang diekspor ke Malaysia biasanya dikirim dalam bentuk daging kerang yang sudah dikupas dan Untuk pengupasan kerang dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga dengan upah sebesar Rp. 000/kg. Analisis kerang darah Analisis Pengukuran parameter kualitas air dan sedimen dilakukan pada kawasan budidaya kerang darah di Panipahan. Kecamatan Limau Kapas pada 2 titik Stasiun 1, berada kurang 000 meter dari pantai ke arah laut, . pada titik koordinat : 2029Ao1Ay LU dan 100020Ao33Ay. Stasiun 2, berada di sekitar pemukiman masyarakat di sekitar kepenghuluan Panipahan, berjarak kurang lebih 500 meter dari pantai dan dekat dari muara sungai dengan titik koordinat : 2027Ao36Ay LU dan 100020Ao44Ay. Hasil analisis kualitas air dan sedimen pada kawasan budidaya kerang darah di Panipahan disajikan sebagaimana Tabel 1. Tabel 1. Hasil analisis kualitas air perairan Panipahan. Kecamatan Pasir Limau Kapas. Parameter Salinitas Suhu Kecerahan Oksigen Terlarut Alkalinitas Satuan Nilai Pengukuran ST 1 ST 2 4,4-5,3 5,5-6,1 Standar 7,5-8,5 >3,0 Sumber : Balitbang Provinsi Riau . Tabel 1 menunjukkan bahwa kisaran salinitas dan suhu perairan di Panipahan baik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup kerang darah. Hal ini sejalan dengan Palafox et al. bahwa kisaran salinitas perairan yang baik untuk pertumbuhan kerang darah adalah adalah 33-40 ppt dengan kisaran suhu 28-300C. Demikian pula dengan parameter pH perairan masih berada pada kisaran yang baik. Untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik organisme air . kan, udang dan molusc. memerlukan medium dengan kisaran pH antara 6. 5 (Ahmad . Boyd . Pada pH dibawah 4,5 atau diatas 9,0 organisme air akan mudah sakit dan lemah serta nafsu makannya menurun. Kisaran Panipahan berkisar 4,4 Ae 6,1 mg/l. IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 87Aa100 Kondisi ini berada pada kisaran optimal bagi kehidupan kerang darah. Odum . menyatakan bahwa kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas. Alkalinitas yang diukur di perairan Panipahan berkisar antara 110-120 mg/l. Alkalinitas atau kesadahan adalah kapasitas buffer air yang dinyatakan dalam mg/l dari CaCO3. Semakin sadah air, semakin baik bagi usaha budidaya ikan, udang dan kerang dengan nilai optimalnya 80 mg/l dan nilai maksimumnya 150 mg/l. Kelimpahan plankton Pengukuran kelimpahan plankton di perairan kawasan budidaya kerang darah sangat penting dilakukan untuk mengetahui tingkat kesuburan suatu Kehadiran plankton sebagai pertumbuhan kerang darah yang optimal (Saif et al. , 2. Plankton dikelompokkan pada 2 jenis yakni. Pengukuran dilakukan pada 2 lokasi sampel pada kawasan budidaya kerang darah di Panipahan. Fitoplankton sebagai produser primer atau penghasil sumber makanan utama di badan Sedangkan berperan sebagai produser sekunder di badan air, artinya penyedia makanan untuk organisme yang lebih besar. Kelimpahan makanannya yaitu fitoplankton. Keberadaan plankton juga telah lama digunakan sebagai indikator kualitas Beberapa spesies sangat sensitif terhadap limbah organik dan limbah Komunitas fitoplankton dan zooplankton dapat digunakan untuk memprediksi kualitas air (Mahenda et ,2. Plankton dengan sangat cepat lingkungan yaitu melalui standing crop dan komposisi spesies. Hasil analisis plankton di masing-masing lokasi studi adalah sebagai mana Tabel 2 berikut : Tabel 2. Kelimpahan plankton lokasi budidaya kerang darah di perairan Panipahan No. (I). Taksa FITOPLANKTON Bacillariophyceae Asterionella sp. Bacillaria paradoxa Bacteriastrum sp. Bellerochea maleus Biddulphia mobiliensis Biddulphia sinensis Biddulphia sp. Chaetoceros sp. Cocconeis sp. Coscinodiscus sp. Diploneis sp. Ditylum brigthwellii Lokasi I 10,737 Kelimpahan . Lokasi II 1,253 2,684 IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 87Aa100 No. Taksa Fragilaria cylindrus Fragilaria oceanica Fragilaria sp. Hemiaulus indicus Hemiaulus sinensis Hemiaulus sp. Leptocylindrus danicus Melosira sp. Nitzschia sp. Pleurosigma sp. Rhizosolenia alata Streptotheca indica Streptotheca sp. Thalassiothrix frauenfeldii Thalassiothrix longissima Thalassiothrix sp. Triceratium reticulum Triceratium sp. Kelimpahan Bacillariophyceae KelimpahanTotal Fitoplankton ZOOPLANKTON (II). Crustaceae Calanus sp. Eurytemora sp. Penaeid sp. Kelimpahan Crustaceae . Protozoa Favella sp. Globigerina sp. Tintinnopsis gracilis Tintinnopsis butchlii Tintinnopsis sp. Kelimpahan Protozoa (IV). Rotifera Brachionus sp. Notholca sp. Synchaeta sp. Kelimpahan Rotifera Kelimpahan Total Zooplankton Kelimpahan Total Plankton Jumlah Jenis (N) Indeks Diversitas (H') Lokasi I Kelimpahan . Lokasi II 1,253 3,042 1,790 26,485 26,485 1,253 11,095 11,095 1,432 4,116 4,116 2,147 3,042 1,790 2,684 1,790 4,474 30,959 3,937 15,032 5,011 IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 87Aa100 No. Taksa Indeks Dominansi (C) Lokasi I Kelimpahan . Lokasi II Sumber : Balitbang Provinsi Riau . Dari hasil analisis fitoplanton disimpulkan bahwa kondisi perairan kawasan budidaya kerang darah di Panipahan tergolong masih seimbang dimana keanekaragaman jenis plankton tergolong sedang dan tekanan sedang. Plankton yang terdapat di perairan merupakan pakan alami bagi ikan, udang dan kerang-kerangan. Hasil analisis terhadap planton di lokasi yang berbeda di perairan Panipahan menunjukkan bahwa perairan tersebut cukup banyak menyediakan pakan bagi kerang darah sehingga budidaya kerang di Panipahan berkembang dengan baik. Dengan pertumbuhan kerang darah berkisar antara 6-8 bulan hingga Kelimpahan plankton lebih tinggi dijumpai pada lokasi 1, yaitu sejumlah 959 ind/l dengan jumlah individu sebanyak 30 jenis. Pada lokasi 2. dijumpai sebanyak 16 jenis dengan kelimpahan sebesar 15. 032 ind/l. Sedangkan pada lokasi 2. B dijumpai sebanyak 8 jenis dengan kelimpahan 011 ind/l. Hal ini diduga karena lokasi 1 berada pada bagian tengah perairan . okasi budidaya kerang dara. sehingga banyak dijumpai plankton. Sedangkan lokasi 2 berada di bagian pinggir dan dipengaruhi oleh perairan tawar sehingga kelimpahannya planton lebih Berdasarkan pengukuran indeks diversitas (HA. menunjukkan bahwa di Lokasi I nilai indeks diversitas (HA. = 3,9244, sedangkan di Lokasi II. A nilai HAo = 3,7248 dan di Lokasi II. B memiliki nilai HAo = 2,7719. Indeks diversitas atau indeks keanekaragaman organisme pada suatu ekosistem dapat menjadi parameter untuk mengetahui kondisi suatu lingkungan. Dengan nilai indeks > 3 pada Lokasi I dan Lokasi II. menunjukkan bahwa kondisi perairan tersebut belum tercemar. Sedangkan nilai indeks diversitas (HA. di Lokasi II. < 3 menunjukkan bahwa kondisi perairan tersebut telah mengalami pencemaran ringan. Hal tersebut disebabkan karena perairan di Lokasi II. B berada paling dekat dengan pasar dan permukiman penduduk sehingga dapat diduga terjadi pencemaran yang berasal dari limbah domestik yang dibuang ke perairan di sekitar permukiman masyarakat di Panipahan. Menurut Wilhm dan Doris . alam Kasry dkk. apabila HAo > 3, maka kondisi perairan belum tercemar, apabila HAo 1 s/d 3, maka kondisi perairan tercemar ringan dan apabila HAo < 1, maka perairannya tercemar berat. Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa kondisi perairan budidaya kerang darah di Panipahan belum tercemar. Berdasarkan indeks dominansi (C) pada 3 lokasi sampel seluruhnya menunjukkan nilai mendekati angka 0, berarti perairan tersebut dalam kondisi baik karena tidak ada jenis atau spesies yang mendominasi pada perairan tersebut. Hal ini sejalan dengan Simpson dalam Odum, . bahwa nilai indeks dominansi (C) berkisar antara 0 s/d 1, dimana apabila nilai C mendekati nol mendominasi dan apabila nilai C mendekati 1 berarti ada jenis yang dominan muncul di perairan tersebut. IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 87Aa100 Tabel 3. Hasil Analisis Makrozoobenthos di perairan Panipahan. Jenis ditemukan Stasiun Klas Bivalve Bivalve Genus Anadara sp Corbicula sp Total Anadara sp Corbicula sp Total Nilai . nd/m. Nilai Indeks Keragaman (HA. i Log2 p. Nilai Indeks Dominansi . Nilai Indeks Keseragaman (E) (H'/log2S) Sumber : Balitbang Provinsi Riau . Hasil analisis benthos di lokasi Panipahan memperlihatkan bahwa jenis benthos yang ditemukan terdiri dari Anadara sp dan Corbicula sp. Pengambilan sampel dilakukan pada daerah budidaya kerang darah sehingga jenis inilah yang Nilai kelimpahan benthos pada stasiun 1 765 ind/m2 dengan nilai indeks Dominansi (C) sebesar 0,509. Sedangkan pada lokasi 2, nilai total kelimpahan adalah 578 ind/m2 dengan nilai indeks dominansi sebesar 0,5410. Hasil ini menunjukkan bahwa di Panipahan organisme benthos yang mendominasi. Kelimpahan Bentos Bentos adalah semua organisme yang hidup pada lumpur, pasir, batu, krikil, maupun sampah organik baik di dasar perairan laut, danau, kolam, ataupun sungai. Bentos merupakan hewan melata, menetap, menempel, memendam, dan meliang di dasar perairan tersebut. Pada kegiatan budidaya perikanan, keberadaan bentos dapat mendukung pertumbuhan ikan, udang ataupun kerang karena dapat berfungsi sebagai pakan alami bagi organisme budidaya (Mahary et al. Hasil analisis keberadaan hewan dasar . di perairan Panipahan disajikan pada Tabel 3. Analisis Kontaminasi Bahan Berbahaya pada Perairan dan Daging Kerang Darah (A. Analisis Mikrobiologi Bahaya mikroba pada pangan perlu mendapat perhatian karena jenis ini yang sering menjadi agen penyebab kasus keracunan pangan. Tabel 4. Hasil analisis mikrobiologi sampel air di Perairan Panipahan Jenis Analisis Satuan ALT Koloni/ EAacoli APM/g Coliform APM/g Salmonella Per Sampel Air Lokasi 1 220 C 5. 370 C 9. 0 koloni/ 100 ml 0 koloni/ 100 ml Lokasi 2 220 C 1. 370 C 1. 0 koloni/ 100 ml 0 koloni/ 100 ml Negatif Negatif Standard Mutu Metode Analisis 220 C 100 370 C 20 SNI-01-2332. SNI-01-2332. SNI-01-2332. (-) SNI-01-2332. Sumber : Balitbang Provinsi Riau . IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 87Aa100 Tabel 5. Hasil analisis mikrobiologi sampel kerang di Panipahan Jenis Analisis ALT Satuan Sampel Kerang Standard Mutu Metode Analisis SNI-01-2332. < 1,8 SNI-01-2332. APM/g <1. SNI-01-2332. Per 25/g Negatif Negatif Negatif SNI-01-2332. Agustus Oktober Koloni/g EAacoli APM/g Coliform Salmonella Sumber : Balitbang Provinsi Riau . Escherichia coli merupakan bakteri patogen yang sering menyebabkan keracunan pangan dan juga menjadi salah satu mikrobaindikator sanitasi. Keberadaan Escherichia coli pada pangan dapat menunjukkan praktek sanitasi lingkungan yang buruk. Hasil analisis mikrobiologi pada sampel air dan sampel kerang disajikan pada Tabel 4 dan 5. Hasil analisa uji menunjukkan tidak ditemukannya bakteri Escherichia coli dan Coliform pada sampel air atau 0 koloni/100 ml Sedangkan Salmonella menunjukkan hasil negatif. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas air di perairan Panipahan masih dibawah baku mutu kandungan mikroba sehingga masih cukup baik untuk media Selanjutnya dari hasil analisis kontaminasi mikroba E. coli dan Caliform pada sampel kerang darah (A. diketahui masih dibawah standar mutu maksimum, sedangkan Salmonella hasilnya adalah negatif. Hasil ini menunjukkan tidak adanya kontaminasi E. coli pada perairan. Sedangkan Salmonella pada sampel kerang menunjukkan hasil negatif karena tidak menunjukkan adanya koloni Salmonella pada media uji sehinga layak konsumsi dan bebas dari kontaminasi Salmonella. Selanjutnya Angka Lempeng Total (ALT) merupakan perhitungan jumlah total bakteri dari suatu sampel yang terdapat pada suatu luasan tertentu seperti cawan petri. Dari pengujian ALT pada sampel kerang 680 koloni pada uji bulan Agustus 2019 dan 2. 600 koloni pada sampel uji bulan Oktober. Dilihat dari hasil analisa ALT yang tidak lebih dari 000 koloni, maka kerang sampel layak untuk dikonsumsi. Analisis Logam Berat Kerang darah dari Panipahan merupakan salah satu komoditas Sebagai komoditas ekspor, terkandung di dalam bahan pangan tersebut merupakan persyaratan utama yang harus diketahui oleh Hasil kandungan logam berat yang terdapat di perairan maupun pada daging kerang darah disajikan pada Tabel 5 dan 6 berikut. Berdasarkan hasil analisis logam berat pada kerang A. granosa yang disampling dari perairan Panipahan, diketahui bahwa konsentrasi timbal (P. di perairan berkisar antara 0,065-0,78, konsentrasi cadmium (C. berkisar antara 0,036-0,050 serta merkuri (H. berkisar antara 0,0680,082. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan logam berat Pb. Cd, dan Hg masih dibawah standar baku mutu Demikian juga dengan kandungan Pb. Cd dan Hg pada daging kerang darah masih berada dibawah standar baku mutu maksimum yang IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 87Aa100 Indonesia (SNI). Standar Nasional Tabel 5. Hasil analisis kandungan logam berat di Perairan Panipahan. Konsentrasi logam berat . g/k. Stasiun 1 Stasiun 2 0,036 Jenis Logam berat Timbal (P. Cadmium (C. Merkuri (H. Sumber : Balitbang Provinsi Riau . Tabel 6. Hasil analisis kandungan logam berat pada daging kerang di Panipahan. Jenis Logam berat Konsentrasi logam berat . g/k. Agustus Timbal (P. Cadmium (C. Merkuri (H. Oktober Batas maks. g/k. SNI-2354. SNI-2354. SNI-01-2354. Metode Analisis Sumber : Balitbang Provinsi Riau . Analisis Mikroplastik Mikroplastik didefinisikan sebagai hasil fragmentasi dari plastik utuh menjadi partikel berukuran kurang dari 5 mm (Arthur et al. , 2. Mikroplastik adalah salah satu limbah plastik yang dapat mempengaruhi siklus makanan di wilayah pesisir dan laut. Mikroplastik merupakan salah satu bagian dari sampah lautan yang apabila menumpuk di wilayah perairan akan menyebabkan terganggunya rantai makanan pada biota laut. Mikroplastik berpotensi mengancam lebih serius dibanding dengan material plastik yang berukuran Organisme yang mendiami tingkatan tropik yang lebih rendah, seperti plankton yang mempunyai partikel rentan terhadap proses organisme tropik tingkat tinggi melalui Hasil mikroplastik dapat dicerna oleh organisme laut ketika salah satu partikel dari mikroplastik dapat menyerupai makanan (Boerger et al. Hasil analisis menggunakan FTIR spectrometer terhadap sampel sedimen pada perairan Panipahan dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini. IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 87Aa100 Gambar 1. Hasil analisis kandungan mikroplastik pada sedimen di perairan Panipahan Sampel mikroplastik pada sedimen Panipahan mengandung jenis nilon. HDPE. LDPE dan PP. Nilon memiliki ikatan N-H di angka peak 3540, 93cm-1 dan ikatan C-H di angka peak 2925,97cm-1 sesuai dengan penelitian Jung et al. Selain itu nilon jugamemiliki ikatan C=O di angka peak 1622,11cm-1. PE atau polyethylene merupakan jenis plastik polimer yang memiliki monomer berupa etil (C2H. yang saling PE memiliki 2 macam yaitu Low Density Polyethylene (LDPE) dan High Density Polyethylene (HDPE), namun pada grafik pengamatan FTIR memiliki angka peak yang relatif sama. PE memiliki ikatan C-H di angka peak memiliki ikatan C-H di angka peak 2925,97cm-1 sesuai dengan penelitian Jung et al. yang menunjukkan C-H pengamatan FTIR di angka peak 2858cm-1 dan 2932cm-1. PP atau polypropylene merupakan jenis plastik polimer yang memiliki monomer berupa propil (C3H. yang saling berikatan. PP memiliki ikatan C-H di angka peak memiliki ikatan C-H di angka peak 2925,97cm-1 sesuai dengan penelitian Jung et al. yang menunjukkan bahwa ikatan C-H pada PP menimbulkan peak di grafik pengamatan FTIR di angka peak 2858cm-1 dan 2932cm-1. Plastik adalah polimeran organik sintetis dan memiliki karakteristik bahan yang cocok digunakan dalam sehari-hari. Van Cauwenberghe . memperkirakan bahwa 10% dari semua plastik yang baru diproduksi akan dibuang melalui sungai dan berakhir di Hal ini berarti sekitar 165 ribu ton plastik/tahun akan bermuara di perairan laut Indonesia. Berdasarkan data tersebut, plastikmenjadi tipe sampah laut dominan (Thomson & Gall. Mikroplastik dapat ditemukan pada air, sedimen, hingga biota laut. Berdasarkan keberadaanya pada sekitar tahun 1970 (Carpenter et al. , 1. Keberadaan peneliti dengan mencari keberadaan mikroplastik pada sedimen dibeberapa daerah perairan. Ng dan Obbard sebesar rata-rata 1,282 partikel/kg pasir dengan ukuran lebih dari 1,6 IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 87Aa100 mikrometer di Singapura. Mikroplastik pada sedimen juga ditemukan di China dan Korea Selatan (Lee et al. , 2. Hasil analisis sampel air yang disampling di perairan Panipahan FTIR Spectrometer, dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini : Gambar 2. Hasil analisis kandungan mikroplastik pada sedimen di perairan Panipahan Sampel mikroplastik pada air di Panipahan mengandung jenis nilon. Nilon memiliki ikatan N-H di angka peak3432,08cm-1 sesuai dengan penelitian Jung et al. yang menunjukkan bahwa ikatan N-H pada nilon menimbulkan peak di grafik pengamatan FTIR spectrometer pada angka peak 3298cm1. Nilon memiliki ikatan C=O di angka peak1628,5cm-1 penelitian Jung et al. yang menunjukkan bahwa ikatan C=O pada nilon menimbulkan peak di grafik pengamatan FTIR di angka peak Pengambilan sampel air menggunakan plankton net secara vertikal menyebabkan keanekaragaman mikroplastik yang ditemukan hanya 1 Hal ini dikarenakan mikroplastik memiliki massa jenis yang berbeda Ae beda setiap jenisnya. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa sampel sedimen dan air yang berasal dari lokasi tempat pemeliharaan kerang di perairan Panipahan diidentifikasikan mengandung mikroplastik berjenis nilon, polyethylene dan polypropylene. Hal tersebut diduga karena banyak limbah rumah tangga yang dibuang langsung ke perairan. KESIMPULAN Kabupaten Rokan Hilir merupakan daerah penghasil kerang darah (A. terbesar di Provinsi Riau dengan potensi lahan seluas 6. 500 Ha, dan produksi pada tahun 2018 sebesar 492,47 ton atau sekitar 49,67% dari total produksi perikanan budidaya Kabupaten Rokan Hilir 072,21 ton. Budidaya kerang darah tersebar di sepanjang pesisir pantai Kabupaten Rokan Hilir mulai dari Kecamatan Pasir Limau Kapas. Kec. Kubu. Kec. Kubu Babussalam. Kec. Bangko, dan Kec. Sinaboi. Teknologi budidaya kerang darah dilakukan oleh masyarakat dengan sistem pagar . ence IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 87Aa100 cockle cultur. Ukuran tambak kerang darah bervariasi mulai dari 3 x 4 meter sampai dengan ukuran 200 x 200 Padat tebar benih awal 2. ekor/m2, penjarangan sampai 200 Ae 300 ekor/m2. Panen dilakukan setelah masa pemeliharaan 4-5 bulan dan berakhir sekitar bulan ke Harga jual kerang darah di pasar lokal sekitar Rp 8. 500/kg, sedangkan jika dijual ke Medan. Sumatera Utara tingkat harga lebih baik mencapai harga Rp. 000/kg. Sementara itu kerang darah yang dijual untuk ekspor ke Malaysia memiliki harga jual sekitar Rp. 000/kg dalam bentuk daging kerang yang sudah Hasil analisis parameter kualitas perairan pada kawasan budidaya di Panipahan adalah sebagai berikut . salinitas 34 ppt, suhu 28,7 - 290C, pH sekitar 8, oksigen terlarut 4,4 Ae 6,1 mg/l dan alkalinitas 120 Ae 125 mg/l, berada pada kisaran standar baku mutu yang baik untuk mendukung kehidupan kerang darah. Sedangkan parameter kecerahan berkisar 50,0 Ae 55,0 cm, berada dibawah standar baku mutu yang dipersyaratkan yakni 60,0 cm. Perairan kawasan budidaya kaya akan plankton yakni Lokasi I : 30. 959 ind/l. Lokasi II. A : 15,032 ind/l dan Lokasi II. :5. 011 ind/l sebagai makanan alami bagi pertumbuhan kerang darah. Sampel air menunjukkan hasil negatif terhadap kontaminasi bakteri E. Coliform, dan Salmonella dengan kadar 0 ind/100l dan negatif. Demikian juga dengan kontaminasi pada sampel kerang menunjukkan nilai < 3 dan Kadar logam berat timbal (P. , cadmium (C. dan merkuri (H. pada sampel air berkisar 0,036 Ae 0,082 mg/kg dan pada sampel kerang berkisar 0,074 Ae 0,163 mg/kg berada dibawah baku standar maksimum sehingga aman untuk dikonsumsi. Berdasarkan hasil analisis mikroplastik sampel sedimen dan air pada kawasan budidaya kerang darah di Panipahan polyethylene dan polypropylene. Hal tersebut diduga karena banyak limbah rumah tangga yang dibuang langsung ke perairan. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kepala Balitbang Provinsi Riau. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Rokan Hilir. Kepala UPTD Perikanan Kecamatan Pasir Limau Kapas. Kepala Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Kepala Laboratorium Balai Pengujian Mutu Hasil Perikanan (BPMHP) Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, dan Rektor Universitas Negeri Semarang (UNNES) serta semua pihak yang telah memberikan dukungan dan kegiatan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA