Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (PEKAMAS) P-ISSN: 2807-2871 | E-ISSN: 2807-1557 PENINGKATAN KAPASITAS WISATA AMAN BAGI KELOMPOK SADAR WISATA (POKDARWIS) MELALUI PELATIHAN AWARENESS K3 DAN MANAJEMEN RISIKO DI TEMPAT WISATA Antinah Latif1, Meisi Riana1, Fristi Bellia Annishia2 1Jurusan Teknologi Industri Prodi Teknik Grafika, Politeknik Negeri Media Kreatif, Indonesia 2Jurusan Pengelolaan Perhotelan, Prodi Pariwisata, Politeknik Negeri Media Kreatif, Indonesia antinahlatif@polimedia.ac.id , meisi.riana@polimedia.ac.id , fristi.ba@polimedia.ac. dinisyuraningrum@gmail.com , najwaaa08novel12@gmail.com ABSTRAK Abstrak: Dewasa ini, kasus kecelakaan di tempat wisata semakin marak terjadi. Kegiatan berwisata melibatkan manusia, lingkungan dan peralatan yang berpotensi mengalami kerugian material maupun jiwa. Keselamatan, keamanan dan Kesehatan merupakan aspek penting yang menjadi indicator dalam world forum economic 2019. Desa wisata Kubang Baros merupakan desa wisata rintisan yang memiliki beberapa atraksi seperti curug betung, bukit harmis, dan pemandian air panas. Atraksi tersebut belum pernah dilakukan identifikasi bahaya dan risiko Manajemen risiko penting dilakukan untuk meminimalisir risiko kecelakaan di tempat kerja/usaha baik bagi pengunjung, pengelola bahkan lingkungan. Tujuan dari pengabdian ini adalah meningkatkan kapasitas “wisata aman” bagi pokdarwis. Metode yang digunakan adalah observasi/wawancara, pelatihan manajemen risiko, awareness K3 dan FGD. Berdasarkan hasil pre dan post terjadi peningkatan pengetahuan, kemampuan melakukan manajemen risiko menggunakan HIRADC dan evaluasi kegiatan berada pada kategori 3-4 (baik-sangat baik). Kata Kunci: K3, Wisata Aman, Desa Wisata, HIRADC, Pokdarwis Abstract: Nowadays, accident cases in tourist attractions are increasingly common. Tourism activities involve humans, the environment and equipment that have the potential to experience material or life losses. Safety, security and health are important aspects that are indicators in the 2019 World Economic Forum. Kubang Baros tourist village is a pioneering tourist village that has several attractions such as Curug Betung, Bukit Harmis, and hot springs. These attractions have never been identified for hazards and risks. Risk management is important to minimize the risk of accidents in the workplace/business for visitors, managers and even the environment. The purpose of this service is to increase the capacity of "safe tourism" for Pokdarwis. The methods used are observation/interviews, risk management training, K3 awareness and FGD. Based on the pre and post results, there was an increase in knowledge, the ability to carry out risk management using HIRADC and the evaluation of activities was in category 34 (good-very good). Keywords: Safe Tourism, Tourism Village, HIRADC, Pokdarwis A. LATAR BELAKANG Desa wisata saat ini menjadi salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pengembangan desa wisata masuk dalam RPJMN 2020-2024 dengan tujuan untuk membangkitkan wisata dan pertumbuhan ekonomi nasional (Kemenperaf.go.id). Pertumbuhan desa wisata terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yaitu mencapai 3.524 desa yang tersebar dari pulau jawa hingga pulau Papua. Namun hanya sebelas desa yang masuk dalam kategori desa wisata mandiri (Fasa, Angga Wijaya Holman, Berliandaldo & Prasetio, 2022). Salah satu desa wisata di Kabupaten Serang ialah Desa wisata Kubang Baros yang merupakan desa wisata rintisan berdiri tahun 2021 berdasarkan SK Bupati Serang Nomor 556/Kep.267- Huk.Disporapar/2021. Lokasi desa wisata berada di Desa Kubang Baros, Kecamatan Cinangka Kabupaten Serang Provinsi Banten. Desa wisata Kubang Baros memiliki beberapa wisata yang ditawarkan mulai dari wisata alam, 55 56 | JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PEKAMAS) | Vol. 4, No. 2, Januari 2025, hal. 55-63 hingga budaya dan kearifan lokal seperti wisata air terjun Curug Betung, Bukit Harimis, Terbang dan Bela diri, pemandian air panas embah bulu wajah, serta berbagai souvenir dari kearifan lokal seperti madu klenceng, lampu hias dari buah maja, dan olahan limbah plastik. Desa wisata Kubang Baros masuk dalam 75 nominasi Anugerah Desa Wisata tahun 2023, dan hal ini menjadi pemicu bagi Desa Wisata Kubang Baros untuk terus meningkatkan pelayanan dan fasilitas yang dimiliki sehingga bisa menjadi desa wisata terbaik dan mandiri yaitu desa wisata yang bisa menciptakan perekonomian mandiri bagi warganya. Dibalik potensi yang ada di desa wisata tersebut juga terdapat risiko dan bencana yang perlu diantisipasi baik oleh pengelola maupun pengunjung. Beberapa permasalahan yang berhasil diidentifikasi dari desa wisata Kubang Baros diantaranya adalah belum pernah diberikan pelatihan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di tempat wisata, dan belum adanya manajemen risiko, dan mitigasi bencana di area wisata. Gambar 1. Potensi Desa Wisata Kubang Baros Padahal aspek Keselamatan dan keamanan menjadi salah satu faktor penentu daya saing destinasi wisata (Salinas Fernández et al., 2020). Namun sayangnya, wisata aman bagi desa wisata belum menjadi prioritas utama (Rahman A, dkk., 2022). Penerapan standart keamanan dan keselamatan di area wisata penting dilakukan baik untuk petugas maupun pengunjung wisata. Hal ini dikarenakan area-area wisata memiliki berbagai potensi bahaya yang dapat menimbulkan risiko baik secara material hingga korban jiwa. Kejadian cedera di area wisata juga beragam (Jamil et al., 2023). Beberapa kasus kecelakaan terjadi di area wisata disebabkan kurangnya penerapan standart keamanan dan keselamatan yang dilakukan oleh pengelola wisata maupun pengunjung (A. Agustin et al., 2014) (I Made Sukarja, I Wayan Sukawana, 2019). Kecelakaan di obyek wisata juga akan berdampak pada keberlangsungan bisnis desa wisata, secara tidak langsung kecelakaan di area wisata akan membuat pencitraan lokasi wisata menjadi buruk dan kepercayaan pengunjung akan menurun. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian yang mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi peminatan pengunjung terhadap obyek wisata dan salah satu yang menjadi faktor signifikan berpengaruh adalah keselamatan dan keamanan (A. Agustin et al., 2014); (Hidayat & Nizar, 2021); (Soehardi et al., 2021). Berdasarkan hal tersebut maka penting untuk menerapkan standart kenyaman dan keselamatan pengunjung di area wisata. Pengendalian risiko penting dilakukan sebagai upaya mengurangi kecelakaan baik pengelola maupun pengunjung wisatawan dan menjadi dasar lahirnya program keamanan dan keselamatan di desa wisata (A. Agustin et al., 2014). Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk memberikan awareness K3 dan meningkatkan pemahaman manajemen risiko melalui identifikasi bahaya dan risiko dengan metode HIRADC untuk para pengelola wisata di desa wisata kubang baros. 57 Antinah Latif, PENINGKATAN KAPASITAS WISATA... B. METODE PELAKSANAAN Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di desa wisata Kubang Baros di Banten. Peserta dari kegiatan pengabdian ini adalah POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata) yang ada di desa wisata tersebut. Berikut adalah metode pelaksanaan kegiatan tersebut. Jumlah peserta yang terlibat adalah 14 peserta yang terdiri dari POKDARWIS dan beberapa pemuda karang taruna di desa tersebut. Tahap persiapan Pada tahap ini yang dilakukan tim pengabdi adalah wawancara dan observasi awal di desa wisata kubang baros Bersama pengelola desa wisata. Tahap pelaksanaan Pada tahap ini yang dilakukan adalah pelatihan awareness K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), pelatihan manajemen risiko dengan HIRADC, FGD (Focus Group Discussion) dan Pembuatan media digital berupa video keselamatan saat tracking. Sebelum dilakukan kegiatan pelaksanaan dilakukan pre dan post test untuk melihat peningkatan pengetahuan dan keterampilan manajemen risiko di tempat kerja. Gambar 2. Pelatihan Awareness K3 Gambar 2. Pelatihan Manajemen Risiko dan FGD Evaluasi dan pelaporan Kegiatan ini dilakukan dengan cara memberikan kuesioner terkait pengetahuan dan keterampilan yang telah diajarkan baik sebelum dan sesudah. Selain itu juga peserta diminta untuk memberikan feedback kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kegiatan di masa yang akan datang. 58 | JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PEKAMAS) | Vol. 4, No. 2, Januari 2025, hal. 55-63 pelaksanaan •menggali kebutuhan •penetapan materi persiapan • pre-test • pelatihan awareness • pelatihan manajemen risiko • FGD • Post test •evaluasi pengetahuan pre dan post •evaluasi kegiatan evaluasi dan pelaporan Gambar 3. Metode Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Kegiatan pengabdian kepada masyarakat terkait manajemen risiko sudah pernah dilakukan oleh tim pengabdi lain di tempat wisata yang berbeda yaitu di daerah tebing Breksi Yogyakarta (H. Agustin et al., 2019). Letak perbedaanya dengan pengabdian ini adalah perbedaan metode. Pada pengabdian ini, metode penugasan yang dilakukan oleh pengabdi adalah FGD (Focus Group Discussion) dan presentasi hasil. Letak perbedaan lainnya adalah lokus tempat sehingga terdapat perbedaan pada identifikasi berbagai jenis bahaya dan risiko serta pengendaliannya yang berbeda. C. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan Kapasitas Pengetahuan Kegiatan ini diikuti oleh 14 peserta yang terdiri dari kelompok sadar wisata (POKDARWIS) di Desa Wisata Kubang Baros, Banten. Berdasarkan karakteristik jenis kelamin, 12 orang terdiri dari laki-laki sedangkan 2 orang adalah perempuan. Sebelum dilakukan kegiatan pelatihan seluruh peserta melakukan registrasi dan pemberian lembaran pre-test. Pemberian pre test terkait dengan materi K3 dan manajemen risiko di tempat kerja sejumlah 10 pertanyaan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui dampak pelatihan yang telah diberikan kepada peserta. Kegiatan pengabdian ini diberikan oleh narasumber dari Politeknik Negeri Media Kreatif. Kegiatan pelatihan dilakukan dua kali yaitu pelatihan K3 dan pelatihan manajemen risiko di tempat kerja yang kemudian dilanjutkan dengan FGD Manajemen Risiko menggunakan HIRADC di desa wisata kubang Baros di 3 tempat yaitu curug betung, bukit harmis dan pemandian air embah buluh. Setelah kegiatan, tim pengabdi juga memberikan video safety berupa "panduan berwisata aman saat tracking berdasarkan hasil HIRADC”. Berdasarkan dari hasil pretest yang diisi oleh peserta untuk mengukur tingkat pengetahuan yang diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 1 Hasil Pre-test Pengetahuan K3 dan Manajemen Risiko Pengetahuan Jumlah peserta (f) Baik (81-100) 12 ((85,7) Cukup (61-80) 0 (0) Kurang (≤ 60) 2 (14,3) Jumlah 14 Berdasarkan Tabel 1 hasil pre test didapatkan bahwa sebanyak 12 peserta pelatihan atau 85,7% dalam kategori baik dan kurang sebanyak 2 orang atau 59 Antinah Latif, PENINGKATAN KAPASITAS WISATA... 14,3% peserta belum memiliki pemahaman yang baik terhadap K3 dan manajemen risiko di tempat kerja. Kegiatan serupa pernah dilakukan pada pokdarwis di Desa Caturharjo Yogyakarta. Berdasarkan hasil pre test dengan kategori baik sejumlah 41,67%. Berbeda dengan hasil yang diperoleh di desa wisata Kubang Baros yang memiliki pengetahuan diawal dengan kategori baik mencapai 85,7%. (Mulasari et al., 2020). Hal tersebut dapat dimungkinkan karena materi yang disampaikan memiliki kedalaman yang berbeda. Selain itu, hasil penilaian yang dilakukan pada pengabdian kepada masyarakat tentang K3 di desa wisata Tebing Breksi menghasilkan hal yang senada yaitu adanya peningkatan rerata namun tidak signifikan secara statistika (p=0,01) (H. Agustin et al., 2019). Tabel 2 Hasil Pre Test Pengetahuan K3 dan Manajemen Risiko K3 di tempat Kerja Berdasarkan Pertanyaan No Pertanyaan 1 2 3 4 5 Kepanjangan K3 Tujuan K3 Kepanjangan APD Pentingnya K3 di sector wisata Penyebab kecelakaan di sector wisata 6 Aspek manajemen risiko di tempat kerja Contoh potensi bahaya Arti risiko Arti severity Tingkatan risiko paling ekstrim 7 8 9 10 Benar (n=14) 14 (100) 12 (86,6) 14 (100) 13 (93,3) 13 (93,3) 12 (80) Salah (n=14) 0 2 (13,3) 0 1 (6,6) 1 (6,6) 14 (100) 10 (73,3) 1 (6,6) 14 (100) 0 4 (26,6) 13 (93,3) 0 3 (20) Berdasarkan hasil tersebut bahwa Sebagian besar peserta memiliki pengetahuan yang baik terkait dengan konsep dasar K3. Hasil tersebut dapat terlihat dari pertanyaan nomor 1,2,3,4,5,6,7,dan 10. Dengan demikian hanya terdapat 2 pertanyaan terkait dengan manajemen risiko yang masih banyak belum memahamai konsep dasar dari manajemen risiko. Tabel 3 Hasil Post-test Pengetahuan K3 dan Manajemen Risiko Pengetahuan Jumlah peserta (f) Baik (81-100) 14 (100%) Cukup (61-80) 0 Kurang (≤ 60) 0 Jumlah 14 Setelah mendapatkan pelatihan K3 dan Manajemen risiko di tempat wisata terdapat kenaikan 14,3% atau sebanyak 2 peserta yang mengalami peningkatan dari kategori kurang menjadi baik. Hal tersebut menunjukkan adanya kecenderungan pelatihan ini memengaruhi pengetahuan pengetahuan peserta, terbukti dengan adanya peningkatan kategori baik menjadi meningkat 100%. 60 | JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PEKAMAS) | Vol. 4, No. 2, Januari 2025, hal. 55-63 16 14 12 10 8 6 4 2 0 pre post baik kurang Gambar 4. Perbandingan Sebelum dan Sesudah Berdasarkan Diagram Batang Tabel 4 Perbandingan Pre dan Post test Pengetahuan K3 dan Manajemen Risiko N pre pos Valid N (listwise) 14 14 14 Minimum Maximum 0 90 90 100 Mean 77.14 97.14 Std. Deviation 23.674 4.688 Berdasarkan Tabel 4 bahwa rerata nilai pretest adalah 77,14 sedangkan rerata post test mencapai 97,14. Secara statistika terjadi perbedaan rerata sebelum dan sesudah pelatihan K3 dan manajemen risiko yang dilakukan kepada pokdarwis. Kegiatan serupa seperti edukasi mitigasi bencana di sekolah juga mengalami peningkatan pengetahuan (Hayati & Wirda, 2023). Peningkatan Kapasitas Manajemen HIRADC Setelah pemberian materi manajemen HIRADC (Hazard Identification Risk Assesment and determining control), peserta melakukan identifikasi bahaya, menilai risiko dan menentukan pengendalian menggunakan metode HIRADC. Metode ini biasanya digunakan untuk berbagai tempat kerja termasuk wisata(Saptadi et al., 2021). Kegiatan ini dilakukan dengan membagi tiga kelompok tim pokdarwis kemudian menilai atraksi yang ada di desa wisata yaitu bukit hermis, curug betung dan pemandian air. Setiap kelompok memberikan presentasi hasil FGD dengan memaparkan dalam bentuk table HIRADC sederhana yang dapat difahami oleh setiap kelompok. Berdasarkan hasil observasi bahwa semua kelompok dalam kategori baik dalam membuat table HIRADC, namun perlu ditingkatkan dalam penentuan jenis-jenis bahaya yang ditemukan di lapangan. 61 Antinah Latif, PENINGKATAN KAPASITAS WISATA... Gambar 5. Presentasi Manajemen Risiko dengan HIRADC Berdasarkan hasil HIRADC tersebut, tim pengabdi juga memberikan panduan berwisata aman saat tracking. Hal tersebut karena tracking pada curug betung memiliki nilai risiko yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan atraksi lainnya sehingga pengunjung dan pengelola diharapkan dapat mengimplementasikan K3 saat berwisata di alam khususnya saat tracking. Panduan tersebut berupa video singkat berisi panduan persiapan yang harus dilakukan, dan hal yang perlu diperhatikan saat tracking. Video dapat dilihat pada link berikut: https://youtu.be/3UuSb4q0B5g. Secara umum, rekomendasi yang dihasilkan dari FGD HIRADC ini adalah adanya pengendalian berupa safety sign yang masuk dalam kategori administrasi. Rambu keselamatan ini juga pernah dikaji dalam penelitian dengan objek wisata air terjun(Wiratami & Bhaskara, 2018). Selain itu, tim pengabdi juga menerima masukan dari para peserta berupa evaluasi kegiatan pengabdian dengan indicator narasumber, kebermanfaatan, kesesuaian materi, durasi kegiatan dan metode pelatihan. Berdasarkan Gambar di bawah ini bahwa mayoritas menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat berada pada sangat setuju dan setuju 100%. Nilai tertinggi pada penyampaian narasumber kepada peserta dinilai baik/memuaskan peserta. Adapun masukan yang dapat menjadi peningkatan kegiatan ini ke depan adalah durasi pelaksanaan workshop. Pada workshop K3 dan manajemen risiko di tempat kerja berdasarkan jadwal dilaksanakan 3 jam diikuti dengan sesi diskusi dan 62 | JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PEKAMAS) | Vol. 4, No. 2, Januari 2025, hal. 55-63 FGD sehingga waktunya dinilai kurang cukup. Selain itu juga bisa menambahkan jumlah peserta lebih banyak lagi ke depannya. Evaluasi Kegiatan Pengabdian 12 10 8 6 4 2 0 narasumber manfaat kesesuaian sangat setuju durasi metode setuju Gambar 6. Evaluasi Kegiatan Pengabdian Peran pokdarwis sangat penting dalam pengembangan desa wisata. Penguatan kapasitas berupa pelatihan awareness K3 menjadi bagian penting untuk menjaga keselamatan dan Kesehatan tidak hanya pengunjung tetapi juga para pengelola dan pekerja yang terlibat dalam desa wisata. Berdasarkan hasil jurnal bahwa K3 Pariwisata terdapat beberapa aspek yang perlu diketahui oleh para pokdarwis di desa wisata kubang baros diantaranya adalah aspek personal yaitu para pemandu wisata ke depannya diharapkan memiliki keterampilan dalam mencegah dan menangani kasus kecelakaan yang dapat dialami oleh wisatawan. Aspek perlengkapan keselamatan berupa APD. Alat tersebut bermanfaat untuk mengurangi kcelakaan kerja saat di area wisata terutama yang memiliki bahaya yang ekstrim (Syofyan et al., 2022). Aspek selanjutnya adalah Kesehatan wisatawan maupun pengelola dan aspek lingkungan. Oleh karena itu pelatihan K3 dan manajemen risiko di tempat wisata sebaiknya dapat dilakukan secara kontinyu sehingga K3 dapat diterapkan di desa wisata khususnya di Kubang Baros dan perlunya penguatan pengorganisasian K3 yang lebih luas dengan melibatkan masyarakat dan perangkat daerah. (Mulasari et al., 2020). D. SIMPULAN DAN SARAN Setelah terlaksananya kegiatan pelatihan awareness K3 dan manajemen risiko di tempat wisata dapat disimpulakn sebagai berikut: 1. Pengetahuan pokdarwis meningkat sebesar 14.3% untuk kategori baik untuk awareness K3 dan manajemen risiko dengan HIRADC 2. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan analisis HIRADC (manajemen risiko) di tempat wisata bagi pokdarwis 3. Kegiatan pengabdian ini berhasil mendapatkan kepuasan yang baik oleh peserta dengan indicator narasumber, kebermanfaatan, kesesuaian, durasi dan metode pelaksanaan. UCAPAN TERIMA KASIH Tim pengabdian mengucapkan terima kasih kepada Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Polimedia yang telah memfasilitasi kegiatan pengabdian 63 Antinah Latif, PENINGKATAN KAPASITAS WISATA... melalui hibah internal skema kemitraan strategis dengan mitra desa wisata kubang baros, Banten. DAFTAR RUJUKAN Agustin, A., Sentosa, S., & Aimon, H. (2014). Faktor – faktor yang mempengaruhi permintaan wisatawan domestik terhadap objek Wisata Bahari Pulau Cingkuak Kabupaten Pesisir Selatan. Jurnal Kajian Ekonomi, 3(05), 102774. Agustin, H., Soepomo, J. P., & Yogyakarta, W. (2019). Peningkatan Kapasitas dan Manajemen Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bagi Kelompok Sadar Wisata. Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Univeritas Ahamd Dahlan, September, 285–292. Fasa, Angga Wijaya Holman, Berliandaldo, M., & Prasetio, A. (2022). Wisata Desa dan Desa Wisata. Kajian, 1(1), 71–87. https://doi.org/10.51172/jbmb.v1i1.8 Hayati, & Wirda. (2023). Edukasi Tanggap Bencana Untuk Meningkatkan Pengetahuan Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami di SMPIT Nurul Ishlah Kota Banda Aceh. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 29(1), 25–29. Hidayat, F., & Nizar, M. (2021). Model Addie (Analysis, Design, Development, Implementation and Evaluation) Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Inovasi Pendidikan Agama Islam (JIPAI), 1(1), 28–38. https://doi.org/10.15575/jipai.v1i1.11042 I Made Sukarja, I Wayan Sukawana, N. M. W. (2019). Pelatihan Bantuan Hidup Dasar Pada Kelompok Sekeha Teruna Sebagai Antsisipasi Cedera Pariwisata di Desa Dawan Kaler Klungkung. 2014(Volume 1), 186–192. Jamil, M., Budi Laksono, B., & merisdawati. (2023). Program Pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kejadian Cidera Di Tempat Wisata Air Terjun Coban Jahe Malang. Jurnal Pengabdian Soepraoen, I(1), 18–29. Mulasari, S. A., Masruddin, M., Izza, A. N., Hidayatullah, F., D.P.B.M.A, F., Axmalia, A., & Tukiyo, I. W. (2020). Pengetahuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Kelompok Sadar Wisata di Desa Caturharjo Yogyakarta. Jurnal Berkala Kesehatan, 6(1), 31. https://doi.org/10.20527/jbk.v6i1.8355 Salinas Fernández, J. A., Serdeira Azevedo, P., Martín Martín, J. M., & Rodríguez Martín, J. A. (2020). Determinants of tourism destination competitiveness in the countries most visited by international tourists: Proposal of a synthetic index. Tourism Management Perspectives, 33(November). https://doi.org/10.1016/j.tmp.2019.100582 Saptadi, J. D., Arianto, M. E., & Habibi, A. N. (2021). Manajemen Risiko K3 di Wisata Gua Pindul, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati, 6(2), 154. https://doi.org/10.35842/formil.v6i2.358 Soehardi, S., Anhar, B., Santoso, M. H., Miranto, S., & Rusdi, R. (2021). Kepuasan Wisatawan Mancanegara dan Nusantara Ditinjau dari Keselamatan, Keamanan, Kesehatan dan Hygiene di Desa Wisata Indonesia. Jurnal Kajian Ilmiah, 21(1), 121–134. https://doi.org/10.31599/jki.v21i1.443 Syofyan, A. A., Harahap, P. S., & Yenni, M. (2022). Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja Di Wisata Danau Sipin Jambi Tahun 2021. MIRACLE Journal, 2(1), 1–11. https://doi.org/10.51771/mj.v2i1.207 Wiratami, R., & Bhaskara, G. I. (2018). Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Atraksi Adventure Tourism di Kawasan Air Terjun Aling-Aling Sambangan. Jurnal Destinasi Pariwisata, 5(2), 287. https://doi.org/10.24843/jdepar.2017.v05.i02.p16