Analisis Karakter Lingkungan berdasarkan sifat AA. Dinda, dkk ANALISIS KARAKTER LINGKUNGAN BERDASARKAN SIFAT KIMIA DAN FISIK TANAH PADA LAHAN ALAMI DAN BUDIDAYA TALAS BENENG (Xanthosoma undipes K. Koc. (Analysis of Environmental Characteristics Based On Soil Chemical and Physical Properties In Natural and Cultivated Beneng Taro (Xanthosoma undipes K. Koc. Ecosystem. Ella Dinda . Nuniek Hermita. Dewi Firnia. Endang Sulistyorini. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Serang Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Serang Telp. : 0895-18102834. Email : 44422220068@untirta. Diterima: 05/03/2026 Disetujui: 31/03/2026 ABSTRACT Land use change from natural ecosystems to agricultural systems may alter soil chemical and physical properties, affecting soil quality and sustainability. This study aimed to compare the chemical and physical properties of soil in natural and cultivated Beneng taro (Xanthosoma undipes K. Koc. fields in Serang Regency. Banten. The observed parameters included soil pH, organic carbon, total nitrogen. C/N ratio, organic matter, soil moisture, soil temperature, and light intensity. Soil sampling was conducted using purposive sampling in both land types. The data were analyzed descriptively and statistically to determine differences between land uses. The results indicated a distinct separation between natural and cultivated land based on soil chemical and physical properties, with slightly acidic pH and moderate levels of organic carbon and total In terms of physical properties, natural land exhibited more stable soil moisture, lower light intensity, and more constant soil temperature compared to cultivated land. These environmental conditions supported higher soil macrofauna diversity in natural land. This study concludes that the cultivation system of Beneng taro is able to maintain soil quality close to natural conditions, thereby supporting sustainable agricultural practices. Keywords: Beneng taro, land use, soil chemical properties, soil physical properties, sustainable ABSTRAK Perubahan penggunaan lahan dari ekosistem alami menjadi sistem pertanian dapat memengaruhi sifat kimia dan fisik tanah yang berperan penting dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sifat kimia dan fisik tanah pada lahan alami dan lahan budidaya talas beneng (Xanthosoma undipes K. Koc. di Kabupaten Serang. Banten. Parameter yang diamati meliputi pH tanah. C-organik. N-total, rasio C/N, bahan organik, kelembapan tanah, suhu tanah, dan intensitas cahaya. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling pada kedua tipe lahan. Data dianalisis secara deskriptif dan statistik untuk mengetahui perbedaan antara penggunaan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pemisahan yang jelas antara lahan alami dan lahan budidaya berdasarkan sifat kimia dan sifat fisik tanah, dengan pH tanah tergolong agak masam serta kandungan C-organik dan N-total dalam kategori sedang. Pada sifat fisik, lahan alami memiliki kelembapan tanah yang lebih stabil, intensitas cahaya lebih rendah, dan suhu tanah yang lebih konstan dibandingkan lahan budidaya. Kondisi tersebut mendukung tingkat keanekaragaman makrofauna tanah yang lebih tinggi pada lahan alami. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem budidaya talas ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Jurnal AGRI PEAT. Vol. 27 No. Maret 2026 :48 - 54 beneng mampu mempertahankan kualitas tanah mendekati kondisi alami sehingga mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Kata kunci: budidaya talas beneng, keberlanjutan pertanian, sifat fisik tanah, sifat kimia tanah, penggunaan lahan. PENDAHULUAN beneng dengan titik koordinat yaitu -6. A 343 mdpl dan Desa Ciracas Kecamatan Serang yang merupakan lahan budidaya talas beneng dengan titik koordinat yaitu Oe6. 1256, 106. A 27m mdpl. Sampel tanah diambil dari lahan Budidaya talas beneng yang tidak diberikan penambahan pupuk Hal ini bertujuan untuk memastikan menghasilkan analisis N-total dan kandungan dari C-organik yang akurat, sebagaimana disajikan pada (Tabel . Data yang diperoleh menggambarkan kondisi alami lahan tanpa intervensi pupuk. Tanah merupakan komponen utama dalam ekosistem terestrial yang berfungsi sebagai media pertumbuhan tanaman sekaligus habitat bagi berbagai organisme tanah yang berperan dalam menjaga keseimbangan Kabupaten Serang dan Kota Serang memiliki variasi penggunaan lahan dari vegetasi alami hingga lahan budidaya dengan talas beneng sebagai komoditas lokal yang tumbuh optimal pada kondisi lingkungan teduh dan berasosiasi denga organisme tanah (Hermita et al. , 2. Perbedaan tutupan vegetasi dan pengelolaan lahan berpotensi memengaruhi parameter tanah yaitu pH. Corganik. N-total dan bahan organik yang berperan untuk menentukan kesuburan tanah dan pergerakan ekosistem tanah. Perubahan tipe penggunaan lahan dapat menyebabkan variasi kandungan bahan organik juga sifat kimia tanah yang berakibat pada perbedaan sumber hara dan vegetasi penutup (Gustina et al. , 2. Data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang . menunjukkan adanya permasalahan degradasi lahan di wilayah ini, yang berpotensi menurunkan kualitas habitat organisme tanah. Berdasarkan kondisi yang terjadi, penelitian ini memiliki tujuan menganalisis dan membandingkan sifat kimia dan sifat fisik tanah pada dua tipe lahan yang berbeda yaitu lahan alami dan lahan budidaya talas beneng (Xanthosoma undipes K. Koc. yang terdapat di daerah Serang. Banten. Sampel tanah yang diambil berbagai titik di masing-masing area yang mewakili kondisi keseluruhan lahan. Pengambilan titik sampel tanah dilakukan dengan menggunakan metode transek garis yang mana titiknya diatur berjarak satu sama lain, dengan 10 titik . itiap lahan penelitia. pengambilan sampel tanah dan tiap titik nya berjarak 1 meter. Pengambilan sampel dilakukan pada kedalaman 15 cm, mengingat lapisan topsoil tersebut kaya akan kandungan bahan organik dan sangat rentan terhadap erosi. Melalui pendekatan ini, analisis diantisipasi mampu menyajikan gambaran yang tepat menganai kualitas tanah serta tingkat kesuburannya dalam kondisi alami. Tabel 1. Metode analisis laboratorium Parameter Tanah Metode Analisis C-organik Walkey and Black N-total Kjeldahl Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi sifat kimia tanah berupa pH tanah. C-organik dan N-total, serta sifat fisik tanah berupa kelembapan tanah, dan suhu tanah. Selain itu, diukur pula intensitas cahaya sebagai factor lingkungan yang memengaruhi kondisi kelembapan dan suhu tanah. Analisis C-organik dilakukan menggunakan metode Walkey and Black, sedangkan N-total dianalisis dengan metode Kjeldahl. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di Serang. Banten pada bulan November hingga Desember. Analisis sifat kimia tanah dilakukan di laboratorium Tanah dan Agroklimat Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Sampel tanah yang dibutuhkan dalam penelitian ini didapatkan di Desa Talagawarna Kecamatan Pabuaran yang merupakan lahan alami talas Analisis Karakter Lingkungan berdasarkan sifat AA. Dinda, dkk Gambar 1. Lokasi penelitian di dua lokasi yaitu Desa Talagawarna dan Desa Ciracas tingkat keterbukaan tajuk yang lebih tinggi pada sistem budidaya. Pola selaras dengan temuan Maulana et al. yang melaporkan bahwa variasi elevasi dan tutupan lahan memengaruhi suhu, kelembapan serta dinamika sifat tanah. Dari kedua analisis tersebut selanjutnya dihitung parameter turunan berupa rasio C/N dan kandungan bahan organik. Pengukuran kelembapan tanah, suhu tanah, dan intensitas Cahaya dilakukan secara langsung dilapangan menggunakan alat ukur tancap yang sesuai pada saat pengambilan sampel. Data hasil pengukuran kemudian dianalisis menggunakan software Microsoft Excel dan Principal Component Analysis (PCA) mengidentifikasikan pola distribusi sifat fisik dan kimia tanah serta menentukan karakteristik dominan pada masing-masing tipe lahan Tabel 2. Hasil analisis parameter pada dua tipe lahan talas beneng, lahan alami dan lahan budidaya Lahan Parameter Lahan Alami Budidaya Suhu C) Kelembapan tanah (%) Intensitas Cahaya . pH tanah C-organik (%) N-total (%) Rasio C/N Bahan organik (%) HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis perbedaan yang cukup jelas antara lahan alami dan lahan budidaya talas beneng. Lahan budidaya memiliki suhu tanah lebih tinggi . ,8 C) dibandingkan lahan alami . oC), sementara kelembapan tanah pada lahan alami lebih tinggi . ,3%). Perbedaan intensitas cahaya yang mencolok yaitu 480 lux pada budidaya dan 100 lux pada alami yang mengindikasikan Keterangan: 5,95 1,80 0,16 11,25 5,78 2,51 0,43 3,11 4,34 Nilai merupakan rata-rata parameter lingkungan dan sifat kimia tanah pada lahan budidaya dan lahan alami talas ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Jurnal AGRI PEAT. Vol. 27 No. Maret 2026 :48 - 54 Pada sifat kimia tanah, kandungan Corganik lahan alami yaitu 2,51% lebih tinggi dibandingkan lahan budidaya yaitu 1,80%, demikian pula dengan N-total dan bahan Rasio C/N relatif serupa antara kedua tipe lahan yaitu 11,25 pada lahan budidaya dan 11,8 untuk lahan alami. Maulana et al. bahwa kandungan bahan organik cenderung meningkat pada kondisi lingkungan yang lebih stabil akibat interaksi suhu dan kelembapan. Selain itu. Agustin et al. menunjukkan bahwa faktor lingkungan berkorelasi dengan respons adaptif tanaman talas beneng. Secara umum, lahan budidaya dicirikan oleh suhu dan intensitas cahaya yang lebih tinggi dengan kelembapan lebih rendah, kandungan bahan organik dan nitrogen yang relatif lebih tinggi. Perbedaan ini menunjukkan adanya kecenderungan bahwa perubahan penggunaan lahan berasosiasi dengan variasi karakteristik mikroklimat dan sifat kimia tanah. Untuk antarparameter secara lebih komprehensif, analisis multivariat dilakukan menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Analisis Principal Component Analysis (PCA) berhasil menunjukkan struktur variasi yang jelas antara kedua lahan. Komponen utama pertama (PC. memiliki nilai eigenvalue sebesar 8,000 yang menjelaskan 100% total keragaman data. Berdasarkan dengan kriteria Kaiser, komponen dengan eigenvalue>1 dianggap signifikan karena mampu menjelaskan variasi data yang lebih besar dibandingkan satu Nilai mengindikasikan bahwa seluruh perbedaan sifat kimia dan sifat fisik tanah ada penelitian ini terakumulasi dalam satu gradien lingkungan yang sangat dominan, yaitu gradien antara kondisi lahan alami dan lahan budidaya. Hasil penelitian sifat kimia tanah pada lokasi lahan alami dan lahan budidaya yang telah disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Ragam setiap analisis komponen utama hasil analisis Eigen dari matriks korelasi (Eigen analysis of the Correlation Matri. untuk uji kualitas tanah pada dua tipe lahan talas beneng, lahan alami dan lahan Eigenanalysis of the Correlation Matrix Eigenvalue Proportion Cumulative Keterangan: Nilai eigen dan proporsi menunjukkan bahwa hanya PC1 yang signifikan ( > . dan mampu merepresentasikan seluruh variasi data, sedangkan komponen lainnya tidak memberikan kontribusi tambahan Principal Component Analysis (PCA) menunjukkan bahwa komponen utama pertama (PC. memiliki eigenvalue sebesar 8,000 dan menjelaskan 100% variasi total data. Hal ini mengindikasikan bahwa seluruh parameter sifat kimia dan fisik tanah antara lahan alami dan lahan budidaya terintegritas dalam satu gradien Nilai loading pada PC1 menunjukkan pola kontras yang tajam. Variabel C-organik Ntotal, bahan organik, rasio C/N, dan kelembapan tanah memiliki kontribusi positif yang moderat terhadap sumbu positif PC1 . ekitar 0,. , sebaliknya pH tanah, suhu, dan intensitas cahaya terletak pada arah negative PC1 . ekitar -0,. Pola ini menunjukkan bahwa lahan alami dicirikan oleh kandungan bahan organik dan kelembapan yang lebih tinggi, di sisi lain lahan budidaya cenderung dipengaruhi oleh peningkatan suhu dan intensitas Cahaya akibat keterbukaan tajuk. Kondisi ini sesuai dengan Hajawa et al. yang mengingatkan bahwa lahan dengan kandungan bahan organik dan kelembapan tanah yang tinggi cenderung mengalami suhu dan intensitas cahaya yang lebih rendah, hal ini juga sejalan dengan Safira dan Rusdiana . bahwa karakteristik lahan bertajuk rapat dapat membatasi masuknya cahaya matahari ke permukaan tanah. Analisis Karakter Lingkungan berdasarkan sifat AA. Dinda, dkk Gambar 3. Loading plot Principal Component Analysis (PCA) pada dua tipe lahan, lahan alami dan lahan budidaya talas beneng Loading plot pada Gambar 3 memberikan gambaran mengenai arah dan besarnya kontribusi masing-masing variable terhadap komponen utama. Hasil analisis C/N rasio. C-organik. N-total, bahan organik dan kelembapan tanah mengelompok pada arah yang sama dengan nilai loading positif terhadap PC1. Sebaliknya, variabel pH tanah, suhu, dan intensitas cahaya terletak ada arah yang Pola mengindikasikan adanya hubungan ekologis yang konsisten antar indikator kesuburan tanah. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa variabel dengan kontribusi besar pada PC1 dapat ditafsirkan sebagai faktor dominan yang memengaruhi karakteristik system tanah. Lebih lanjut. Machfiroh et al. menjelaskan bahwa variabel-variabel dengan arah loading serupa merepresentasikan satu kelompok karakteristik yang saling berkaitan. Berdasarkan hal tersebut, pemisahan arah antara kelompok variabel kesuburan dan variabel fisik pada penelitian ini mengindikasikan bahwa gradien utama yang terbentuk mencerminkan integritas antara kondisi kimia tanah dan faktor Gradien utama yang teridentifikasikan menunjukkan bahwa perbedaan antara lahan alami dan lahan budidaya terutama dipengaruhi oleh kandungan bahan organik. N-total dan kelembapan tanah yang berlawanan arah dengan suhu serta pH tanah. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem penggunaan lahan berperan dalam membentuk dinamika sifat tanah melalui akumulasi bahan organik dan kondisi mikroklimat. Lahan alami yang memiliki kandungan C-organik dan nitrogen lebih tinggi cenderung menunjukkan kondisi tanah yang lebih stabil karena bahan organik berperan penting dalam pembentukan agregat tanah, peningkatan kapasitas retensi air, serta menjaga keseimbangan sifat fisik dan kimia tanah (Anwar et al. , 2. Bahan organik berkontribusi terhadap peningkatan retensi air dan ketersediaan hara Sebaliknya, peningkatan suhu dan perubahan pH tanah pada lahan budidaya dapat berkaitan dengan aktivitas pengelolaan lahan yang memengaruhi dinamika bahan organik tanah (Lehman & Kleber, 2. Meskipun perbedaan masing-masing parameter secara individual tidak menunjukkan signifikansi statistik, analisis PCA berhasil mengidentifikasi pola kecenderungan yang membedakan karakteristik tanah antar system penggunaan Berdasarkan pengelolaan bahan organik pada lahan budidaya menjadi aspek penting untuk menjaga keseimbangan sifat kimia dan sifat fisik tanah dalam jangka panjang. ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Jurnal AGRI PEAT. Vol. 27 No. Maret 2026 :48 - 54 KESIMPULAN Cundaningsih. Kratnian. , & Siregar. Ekologi (Gigantochloa atroviolacea Widjaj. sebagai bahan baku angklung di Jawa Barat. Jurnal Silvikultur Tropika, 6. 94Ae102. https://doi. org/10. 13057/psnmbi/m010 Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang. Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) 2024. Pemerintah Kabupaten Serang. https://dlh. id/storage/me dia/lkip-2024-dlh_1753155421. Gustina. Nasrul. , & Idwar. Characterization and evaluation of suitability of tidal land for sugar palm (Arenga pinnata Merr. Jurnal Online Pertanian Tropik, 12. : 1Ae10. https://doi. org/10. 32734/jpt. Hajawa. Rahman. , & Suryani. Pengaruh tutupan tajuk terhadap intensitas cahaya dan kelembapan tanah pada ekosistem hutan sekunder. Forest and Society, 9. : 45Ae56. https://pub. php/forces/article/view/227 Hermita. Muntasib. Suwarto, & Sunkar. Ecological perspective of giant taro as local biodiversity of Pandeglang. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, https://iopscience. org/article/10. 88/1755-1315/1506/1/012021/meta Lehmann. , & Kleber. The contentious nature of soil organic Nature, 528. https://doi. org/10. 1038/nature16069 Machfiroh. Suryani. , & Kurnia. Penentuan indeks kualitas tanah pada principal component analysis (PCA). Jurnal Sains Tanah dan Lingkungan, 16. : 80Ae89. https://surl. li/gpyzeu Maulana. Hermita. Fatmawaty. , & Firnia. Analisis erodibilitas tanah untuk budidaya talas beneng berkelanjutan berdasarkan elevasi. Jurnal Ilmiah Membangun Desa dan Berdasarkan hasil analisis sifat fisik dan kimia tanah pada lahan alami dan lahan budidaya talas beneng (Xanthoshoma undipes Koc. , dapat disimpulkan bahwa : Perbedaan penggunaan lahan antara lahan alami dan lahan budidaya talas beneng memengaruhi karakteristik sifat fisik dan kimia tanah. Lahan alami cenderung memiliki kandungan bahan organik dan kelembapan tanah yang lebih tinggi serta suhu dan intensitas cahaya yang lebih rendah dibandingkan lahan budidaya, yang berhubungan dengan pengaruh tutupan pembentukan mikroklimat tanah. Pengelolaan pemeliharaan penutup lahan merupakan faktor krusial dalam menjaga stabilitas sifat tanah serta mendukung keberlanjutan sistem budidaya talas beneng UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucap syukur kepada Tuhan Yesus dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dari semua dukungan dan fasilitas yang telah disediakan selama proses pelaksanaan penelitian ini. Besar terimakasih juga kepada Ibu Nuniek Hermita. Hut. atas bantuan dalam penyelesaian penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA