Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 164-181 Filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dalam Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi UIN Surakarta The Philosophy of Tri Dharma of Raden Mas Said in the Implementation of the Tri Dharma of Higher Education at UIN Raden Mas Said Surakarta Muh. Fajar Shodiq 1 . Maslamah2. Riki Irawan3 UIN Raden Mas Said Surakarta Universitas Gadjah Mada Yogyakarta fajarshodiq@staff. Article history: Submitted: 26 Januari 2026 Accepted: 12 Mei 2026 Published: 05 Juni 2026 Abstrak: Penelitian ini mengkaji integrasi filosofi Tri Dharma Raden Mas Said yang meliputi Rumangsa Melu Handarbeni . erasa ikut memilik. Wajib Melu Hangrungkebi . ajib ikut membel. , dan Mulat Sarira Hangroso Wani . erani introspeksi dir. ke dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi . endidikan, penelitian, pengabdian masyaraka. di UIN Raden Mas Said Surakarta. Tujuan penelitian adalah: . memahami konsep filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dalam perspektif pendidikan Islam. menganalisis relevansi nilai-nilai tersebut dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. merumuskan strategi integrasi yang aplikatif. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap literatur serta dokumen institusional. Analisis data mengikuti model interaktif Miles & Huberman . eduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikas. Hasil temuan menunjukkan bahwa filosofi Tri Dharma Raden Mas Said memiliki relevansi kuat dengan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi dan dapat memperkaya dimensi moral, kultural, dan spiritual dalam pendidikan tinggi Islam. Implementasi yang efektif memerlukan strategi struktural, peningkatan kapasitas sivitas akademika, dukungan kebijakan institusional, serta kolaborasi aktif antara kampus dan komunitas lokal. Implikasi penelitian ini diharapkan menjadi rujukan bagi pengembangan kurikulum, penelitian partisipatif, dan pengabdian masyarakat berbasis kearifan lokal. Kata Kunci: Tri Dharma. Kearifan Lokal. Perguruan Tinggi. Integrasi Nilai Abstract: This research examines the integration of Raden Mas Said's Tri Dharma philosophy, which includes Rumangsa Melu Handarbeni . eeling a sense of belongin. Wajib Melu Hangrungkebi . n obligation to defen. , and Mulat Sarira Hangroso Wani . he courage to introspec. , into the implementation of the Tri Dharma of Higher Education . ducation, research, and community servic. at UIN Raden Mas Said Surakarta. The objectives of this research are: . to understand the concept of Raden Mas Said's Tri Dharma philosophy from the perspective of Islamic education. to analyze the relevance of these values to the Tri Dharma of Higher Education. to formulate applicable integration strategies. The method used is a qualitative descriptive approach with a case study design. Data collection was conducted through in-depth interviews, participant observation, and documentation study of literature and institutional Data analysis followed the Miles & Huberman interactive model . ata reduction, data display, and conclusion drawing/verificatio. The findings indicate that Raden Mas Said's Tri Dharma philosophy has a strong relevance to the values of the Tri Dharma of Higher Education and can enrich the moral, cultural, and spiritual dimensions in Islamic higher education. Effective implementation requires structural strategies, capacity building for the academic community, institutional policy support, and active collaboration between the campus and the local community. The implications of this research are expected to serve as a reference for curriculum development, participatory research, and community service based on local wisdom. Keywords: Tri Dharma. Local Wisdom. Higher Education. Value Integration P-ISSN 2798-186X E-ISSN 2798-3110 A 2026 author. Published by FAB UIN Surakarta, this is an open-access article under the CC-BY-SA license. DOI: 10. 22515/isnad. Filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dalam Implementasi Tri Dharma. Muh. Fajar Shodiq. Maslamah. Riki Irawan PENDAHULUAN Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat merupakan fondasi utama penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia. Namun dalam praktiknya, pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sering kali berjalan secara normatif dan teknis, dengan penekanan pada capaian administratif dan akademik, sehingga belum sepenuhnya mempertimbangkan konteks lokal serta nilai budaya yang hidup di lingkungan Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi yang memiliki akar historis dan kultural yang kuat, seperti UIN Raden Mas Said Surakarta. Sebagai perguruan tinggi Islam negeri yang tumbuh dari sejarah dan budaya Jawa. UIN Raden Mas Said Surakarta memiliki kekhasan identitas yang bersumber dari filosofi perjuangan Raden Mas Said atau Mangkunegara I. Dalam konteks pengembangan universitas Islam kontemporer, penguatan moderasi beragama dan identitas keislaman yang berpadu dengan kearifan lokal menjadi kebutuhan yang mendesak. Hal ini sejalan dengan gagasan pengembangan universitas berbasis global dan lokal atau global university, sebagaimana dikemukakan oleh Emmanuel Jean Francois, yang menekankan pentingnya kemampuan perguruan tinggi untuk berpikir secara global tanpa melepaskan pijakan lokalnya. Visi UIN Raden Mas Said Surakarta sebagai Moderate Global Local Islamic University mencerminkan upaya untuk membangun model pendidikan tinggi Islam yang mampu bersaing di tingkat global, sekaligus tetap berakar pada nilai budaya dan spiritual lokal. Dalam kerangka ini, filosofi Tri Dharma Raden Mas Said yang mencakup Rumangsa Melu Handarbeni. Wajib Melu Hangrungkebi, dan Mulat Sariro Hangroso Wani menjadi sumber nilai yang relevan dan strategis. Filosofi tersebut mengajarkan kesadaran memiliki, tanggung jawab untuk membela dan berkontribusi, serta keberanian untuk melakukan introspeksi diri, yang secara substansial sejalan dengan ajaran Islam tentang amanah, tanggung jawab sosial, dan muhasabah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai budaya lokal dalam pendidikan tinggi mampu memperkuat identitas institusi dan meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Rahardjo menegaskan bahwa pendidikan berbasis kearifan lokal tidak hanya membentuk karakter mahasiswa, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk berkompetisi secara global dengan identitas yang kuat. Pandangan serupa disampaikan oleh Roy Martin Simamora yang menyatakan bahwa nilai budaya lokal dapat menciptakan karakter dan keunikan institusi, sekaligus membangun ikatan yang lebih erat antara perguruan tinggi dan komunitas Mahasiswa yang memiliki pemahaman budaya lokal dinilai lebih adaptif, memiliki Tim Media. AuRektor Sampaikan Nilai-Nilai Perjuangan Raden Mas Said Dalam Dies Natalis Ke-32 UIN Surakarta,Ay Uinsaid. Ac. Id, 2024. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 164-181 keterampilan interpersonal yang baik, serta mampu menyelesaikan persoalan yang kontekstual dengan kebutuhan zaman. Penelitian Firdaus dan rekan-rekan juga menunjukkan bahwa institusi pendidikan yang mengadopsi nilai lokal memberikan dampak positif terhadap pemberdayaan masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa budaya lokal memiliki potensi besar untuk memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Namun demikian, integrasi nilai filosofi lokal, termasuk filosofi Tri Dharma Raden Mas Said, masih menghadapi berbagai kendala, seperti belum meratanya pemahaman civitas akademika, keterbatasan sumber daya pendukung, serta belum tersedianya model implementasi yang sistematis dan terukur. Selain relevan untuk penguatan karakter mahasiswa, filosofi Tri Dharma Raden Mas Said juga memiliki nilai strategis dalam membangun kesadaran sosial dan nasionalisme. Nilai persatuan, tanggung jawab kolektif, dan semangat perjuangan yang terkandung di dalamnya menjadi penting untuk ditanamkan kepada mahasiswa sebagai generasi penerus, khususnya di Surakarta yang memiliki keterikatan historis yang kuat dengan tokoh Raden Mas Said. Penguatan identitas budaya melalui kurikulum dan aktivitas kampus diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga dan penghargaan mahasiswa terhadap warisan budaya mereka, sekaligus membentuk sikap akademik yang beretika dan berorientasi pada kemaslahatan sosial. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berfokus pada upaya memahami filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dalam konteks nilai pendidikan, menelaah relevansinya dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta merumuskan strategi integrasi nilai-nilai tersebut dalam penyelenggaraan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di UIN Raden Mas Said Surakarta. Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan model integrasi yang tidak hanya memperkuat kualitas akademik, tetapi juga berakar pada nilai budaya dan spiritual lokal, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan tinggi Islam yang holistik dan relevan dengan kebutuhan lokal maupun global. Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan konsep fundamental dalam sistem pendidikan tinggi Indonesia yang menegaskan peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pengajaran, tetapi juga sebagai penghasil ilmu pengetahuan dan agen perubahan sosial. Pendidikan diarahkan pada pengembangan keilmuan dan karakter mahasiswa, penelitian berfungsi sebagai sarana pengembangan ilmu dan pemecahan masalah sosial, sementara pengabdian kepada masyarakat menjadi wujud tanggung jawab moral dan sosial perguruan tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam perkembangannya. Tri Dharma Perguruan Tinggi sering dipahami secara administratif dan Filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dalam Implementasi Tri Dharma. Muh. Fajar Shodiq. Maslamah. Riki Irawan prosedural, sehingga substansi nilai yang seharusnya menopang pelaksanaannya kurang mendapat Dalam konteks Pendidikan Tinggi Islam, penguatan nilai menjadi aspek penting karena pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak lulusan yang cakap secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berakhlak. Integrasi nilai budaya lokal dalam pendidikan tinggi Islam dipandang sebagai salah satu strategi untuk menjembatani antara tuntutan akademik modern dan pembentukan karakter mahasiswa. Kearifan lokal mengandung nilai etik, sosial, dan spiritual yang lahir dari pengalaman panjang suatu masyarakat dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Filosofi Tri Dharma Raden Mas Said yang terdiri dari Rumangsa Melu Handarbeni. Wajib Melu Hangrungkebi, dan Mulat Sariro Hangroso Wani merupakan warisan nilai budaya Jawa yang sarat dengan makna kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan refleksi diri. Rumangsa Melu Handarbeni mengajarkan kesadaran bahwa individu merupakan bagian dari komunitas sehingga memiliki rasa memiliki terhadap lingkungan dan institusinya. Wajib Melu Hangrungkebi menekankan kewajiban moral untuk berperan aktif dalam menjaga, membela, dan memajukan kepentingan bersama. Sementara itu. Mulat Sariro Hangroso Wani mengajarkan keberanian untuk melakukan introspeksi diri sebagai dasar pembentukan etika dan integritas pribadi. Nilai-nilai tersebut memiliki kesesuaian dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam yang menekankan amanah, tanggung jawab sosial, keadilan, dan muhasabah. Dalam perspektif pendidikan modern, nilai-nilai tersebut juga relevan dengan pengembangan pendidikan karakter, civic responsibility, dan pembelajaran reflektif. Oleh karena itu, filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dapat diposisikan sebagai sumber nilai lokal yang berpotensi memperkaya pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam membangun budaya akademik yang beretika dan berorientasi pada kemaslahatan sosial. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengintegrasian kearifan lokal dalam pendidikan tinggi mampu memperkuat identitas institusi dan meningkatkan relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat. Pendidikan yang berbasis nilai lokal tidak hanya membentuk kesadaran budaya mahasiswa, tetapi juga meningkatkan kemampuan adaptasi mereka dalam menghadapi tantangan global. Dalam kerangka ini, pendekatan global lokal atau glocal menjadi relevan, yaitu upaya menggabungkan perspektif global dengan konteks lokal dalam perencanaan dan pelaksanaan pendidikan tinggi. Pendekatan ini memungkinkan perguruan tinggi untuk tetap kompetitif secara internasional tanpa kehilangan jati diri budaya dan nilai-nilai lokalnya. Berdasarkan kajian tersebut, integrasi filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat dipahami sebagai upaya strategis untuk menguatkan dimensi nilai, karakter, dan identitas pendidikan tinggi Islam, sekaligus menjawab tantangan globalisasi pendidikan. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 164-181 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami secara mendalam integrasi filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di UIN Raden Mas Said Surakarta. Data diperoleh dari dosen, mahasiswa, dan pengelola institusi yang dipilih secara purposif melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan mengaitkan temuan pada kerangka teoretis yang digunakan. Untuk menjamin kredibilitas hasil penelitian, keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi metode. Penelitian ini menggunakan konsep Filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dan Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai landasan utama analisis. Filosofi Rumangsa Melu Handarbeni. Wajib Melu Hangrungkebi, dan Mulat Sariro Hangroso Wani dipahami sebagai nilai kearifan lokal yang mencerminkan tanggung jawab, kepedulian, dan introspeksi diri, yang relevan dengan pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Analisis didukung oleh teori pendidikan berbasis nilai lokal, teori integrasi nilai-nilai Islam, serta paradigma teo-antropokosmosentris yang menekankan harmonisasi hubungan Tuhan, manusia, dan alam. Kerangka ini digunakan untuk mengkaji integrasi nilai budaya lokal dan Islam dalam penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi di UIN Raden Mas Said Surakarta. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Raden Mas Said dan Lahirnya Tri Dharma Mangkunegaran: Latar Belakang Keluarga dan Masa Kecil Raden Mas Said, kelak bergelar Mangkunegara I, lahir di Keraton Kartasura pada 7 April 1725. merupakan putra Kanjeng Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura, putra sulung Sunan Amangkurat IV, dan Raden Ayu Wulan. Secara genealogis, ayahnya memiliki hak atas takhta Mataram, namun karena sikapnya yang menentang VOC. KPA Mangkunegara diasingkan ke Sri Langka pada 1728 dan tidak pernah naik takhta. Peristiwa ini membekas kuat dalam diri Raden Mas Said kecil dan menjadi benih awal sikap perlawanan terhadap ketidakadilan kolonial Belanda. Setelah ditinggal wafat ibundanya. Raden Mas Said diasuh oleh neneknya. Raden Ayu Kusumanarsa. Ia tumbuh dalam kehidupan sederhana, dekat dengan abdi dalem dan rakyat jelata. Kedekatan sosial ini membentuk empati yang kuat terhadap penderitaan rakyat akibat tekanan Pada usia remaja, ia diangkat oleh Pakubuwana II sebagai Mantri Gandhek Anom dengan gelar Raden Mas Ngabehi Suryokusumo, sebuah langkah politik untuk mengikatnya dalam struktur Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif. Dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2. , hlm. Sartono Kartodirdjo. Sejak Indische sampai Indonesia (Jakarta: Kompas, 2. , hlm 90. Filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dalam Implementasi Tri Dharma. Muh. Fajar Shodiq. Maslamah. Riki Irawan kekuasaan istana. Namun, pengalaman menyaksikan intrik politik dan dominasi VOC justru menumbuhkan sikap kritis dan semangat perlawanan dalam dirinya. Memasuki pertengahan abad ke-18. Kerajaan Mataram mengalami krisis serius akibat campur tangan VOC dalam suksesi takhta dan kebijakan pemerintahan. Ketergantungan Pakubuwana II pada VOC berdampak pada hilangnya wilayah pesisir strategis seperti Rembang. Surabaya, hingga Madura. Raja tidak lagi memiliki kedaulatan penuh, melainkan sekadar pemegang kekuasaan di bawah bayang-bayang kolonial. Situasi ini memicu kekecewaan para bangsawan dan memperparah penderitaan rakyat akibat pajak dan monopoli dagang VOC. Kondisi tersebut mencapai puncaknya dengan peristiwa Geger Pecinan 1740, yang bermula dari pembantaian etnis Tionghoa di Batavia dan meluas ke Jawa Tengah. Banyak kelompok Tionghoa melarikan diri ke pedalaman dan bergabung dengan kekuatan anti-VOC. Situasi ini menjadi momentum penting bagi Raden Mas Said untuk terlibat langsung dalam perlawanan bersenjata demi memulihkan kedaulatan Mataram. Peristiwa Geger Pecinan 1740Ae1743 Geger Pecinan menjadi panggung awal keterlibatan Raden Mas Said dalam perlawanan terbuka terhadap VOC. Pada usia 15Ae17 tahun, ia bersekutu dengan Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning. Aliansi JawaAeTionghoa ini berhasil menggempur Keraton Kartasura pada 30 Juni 1742 hingga memaksa Pakubuwana II melarikan diri ke Ponorogo. Keberhasilan ini menandai soliditas perlawanan terhadap raja boneka VOC. Raden Mas Garendi kemudian dibaiat sebagai Amangkurat V, sementara Raden Mas Said diangkat sebagai panglima perang dengan gelar Pangeran Prangwadana. Namun. VOC merespons dengan serangan besar-besaran dibantu Cakraningrat IV dari Madura. Sunan Kuning akhirnya ditangkap dan diasingkan, sementara Kartasura direbut kembali. Karena istana hancur, pusat kerajaan dipindahkan ke Surakarta pada 1745, meskipun pengaruh VOC tetap menguat. Raden Mas Said berhasil lolos dan melanjutkan perjuangan. Pengalaman gerilya bersama pasukan JawaAeTionghoa memperkuat kemampuan militernya. Ia kemudian bersekutu dengan Pangeran Mangkubumi, pamannya sendiri, yang juga menentang VOC dan Pakubuwana II. Aryadito Fathurrohman et al. AuAyGEJOLAK SINGGASANA SANG ADIPATIAy Dinamika Suksesi Mangkunegara IX Tahun 1987-1993,Ay Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities. Vol. No. , hlm. , https://doi. org/10. 22515/isnad. Sartono Kartodirdjo. Sejak Indische sampai Indonesia, hlm 101. Iswara N. Raditya. AuIntrik Keraton dan Misteri Kematian Sultan Hamengkubuwana IV,Ay Tirto. id, 2017, diakses 10 Februari 2026, https://tirto. id/intrik-keraton-dan-misteri-kematian-sultan-hamengkubuwana-iv-cAS4. Daradjadi. Perang Sepanjang 1740-1743 Tionghoa-Jawa Lawan VOC. Michoigan: Eksekutif Pub. , 2. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 164-181 Kolaborasi ini melahirkan perlawanan besar melalui strategi perang gerilya di wilayah pedalaman yang kelak menjadi cikal bakal Yogyakarta. Namun. VOC menerapkan politik divide et impera dengan menebar kecurigaan di antara kedua tokoh tersebut. Ketegangan memuncak hingga akhirnya Raden Mas Said memisahkan diri dari Mangkubumi pada 1753. Perpecahan ini berujung pada Perjanjian Giyanti 1755 yang membagi Mataram menjadi dua kekuasaan: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Raden Mas Said menolak perjanjian tersebut karena dianggap mengkhianati cita-cita persatuan Mataram. Dalam kondisi terjepit. Raden Mas Said terus melawan tiga kekuatan sekaligus: VOC. Surakarta, dan Yogyakarta. Keberaniannya dalam perang gerilya membuatnya dijuluki AuPangeran Sambernyawa,Ay sebuah sebutan yang tercatat dalam laporan VOC dan babad Jawa sebagai simbol ketangguhan dan keberaniannya. Perlawanan panjang tersebut akhirnya berujung pada Perjanjian Salatiga 1757, ketika VOC memilih jalur diplomasi. Dalam perjanjian ini. Raden Mas Said diangkat sebagai Adipati Mangkunegaran I dan memperoleh wilayah lungguh seluas 4. 000 cacah. Meski demikian, kedudukan Mangkunegaran bersifat terbatas dan berada dalam kerangka politik kolonial VOC. Sejak saat itu, berdirilah Kadipaten Mangkunegaran sebagai entitas politik ketiga di Jawa. Mangkunegara I memerintah dengan gaya kepemimpinan yang disiplin, egaliter, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Ia membangun pasukan tetap, mengembangkan kemandirian ekonomi, serta menjadikan Mangkunegaran sebagai pusat kebudayaan Jawa. Warisan terbesarnya bukan pada luas wilayah, melainkan pada nilai-nilai kepemimpinan yang kelak dirumuskan dalam Tri Dharma Mangkunegaran sebagai fondasi moral praja. Tri Dharma sebagai Falsafah Perjuangan Raden Mas Said Setelah berdirinya Kadipaten Mangkunegaran. Raden Mas Said yang bergelar Mangkunegara I merumuskan Tri Dharma Mangkunegaran sebagai landasan moral dan ideologi pemerintahan. Tri Dharma dimaknai sebagai tiga bentuk pengabdian yang tidak hanya berfungsi sebagai semboyan, tetapi juga sebagai pedoman hidup bagi pemimpin dan rakyat. Falsafah ini berakar dari pengalaman Iswara N. Raditya. AuIntrik Keraton dan Misteri Kematian Sultan Hamengkubuwana IV,Ay Tirto. id, 2017 Lukman Hadi Subroto, "Kerajaan Karangasem: Sejarah. Raja-raja. Keruntuhan, dan Peninggalan," Kompas. com, 14 Desember 2021, https://w. com/stori/read/2021/12/14/090000679/kerajaan-karangasem-sejarah-raja-raja-keruntuhan-dan-peninggalan?page=all. Ricklefs. Samber Nyawa: Kisah Perjuangan Pahlawan Nasional Indonesia. Pangeran Mangkunegara I . , ed. Peter Carey, terj. Muhammad Yuanda Zara (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2. , hlm 231. Lukman Hadi Subroto, "Kerajaan Karangasem: Sejarah. Raja-raja. Keruntuhan, dan Peninggalan," Kompas. com, 14 Desember 2021. Ricklefs. Samber Nyawa: Kisah Perjuangan Pahlawan Nasional Indonesia. Pangeran Mangkunegara I . , (Jakarta: Kompas, 2. , hlm 244. Filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dalam Implementasi Tri Dharma. Muh. Fajar Shodiq. Maslamah. Riki Irawan panjang Raden Mas Said dalam memimpin perlawanan terhadap VOC, ketika semboyan persatuan dan loyalitas menjadi kekuatan utama dalam perjuangan. Tri Dharma terdiri dari tiga ajaran utama, yaitu rumangsa melu handarbeni . erasa ikut memilik. , wajib melu hangrungkebi . ajib ikut membel. , dan mulat sarira hangrasa wani . erani setelah mawas dir. Ketiganya membentuk satu kesatuan nilai yang menekankan tanggung jawab kolektif, solidaritas, serta integritas moral dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Pada awalnya, ajaran ini disampaikan sebagai yel-yel penyemangat perjuangan, kemudian berkembang menjadi falsafah kepemimpinan yang diterapkan secara sistematis dalam tata kelola Mangkunegaran. Ajaran rumangsa melu handarbeni menekankan pentingnya rasa memiliki terhadap praja sebagai hasil perjuangan bersama, bukan sekadar milik penguasa. Rasa memiliki ini melahirkan tanggung jawab moral untuk menjaga, mengelola, dan mengembangkan Mangkunegaran demi kesejahteraan generasi mendatang. Prinsip tersebut ditegaskan dalam janji bersama antara Mangkunegara I dan para punggawa pada saat penobatan, yang mencerminkan hubungan erat antara pemimpin dan rakyat dalam semangat manunggaling kawula lan gusti. Sementara itu, ajaran wajib melu hangrungkebi menegaskan kewajiban seluruh elemen praja untuk mempertahankan dan membela Mangkunegaran secara sukarela. Nilai ini menempatkan praja sebagai tanggung jawab bersama, bukan semata-mata milik raja. Kesadaran untuk menjaga praja bahkan dalam kondisi paling sulit menunjukkan karakter kepemimpinan Raden Mas Said yang konsisten dan pantang berkompromi terhadap ketidakadilan, terutama dalam menghadapi dominasi VOC. Adapun ajaran mulat sarira hangrasa wani mengajarkan pentingnya introspeksi diri sebelum bertindak. Keberanian yang dimaksud bukanlah sikap gegabah, melainkan keberanian yang lahir dari pertimbangan matang, kejujuran, dan tanggung jawab moral. Prinsip ini menuntun pemimpin dan rakyat untuk menyelaraskan pikiran, perkataan, dan perbuatan agar setiap tindakan membawa kemaslahatan dan menghindarkan diri dari kesengsaraan akibat keputusan yang Ketiga unsur Tri Dharma tersebut saling melengkapi dan membentuk fondasi etis kepemimpinan Mangkunegara I. Setelah Perjanjian Salatiga 1757. Tri Dharma diproklamasikan sebagai dasar persatuan internal Mangkunegaran dan menjadi kontrak moral antara penguasa dan Falsafah ini tidak hanya relevan pada masa pembentukan kadipaten, tetapi terus diwariskan Andereas Pandu Setiawan. Gedung Kavallerie Artillerie Pura Mangkunagaran, cet. ke-1 (Surabaya: Petra Press, 2. Team Redaksi Rekso Pustaka, "Tri Dharma Mangkunegaran," dokumen internal. Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran. Surakarta, 1981, diakses oleh peneliti, 6 Februari 2026. Lukman Hadi Subroto, "Kerajaan Karangasem: Sejarah. Raja-raja. Keruntuhan, dan Peninggalan," Kompas. com, 14 Desember 2021 Rekso Pustaka, 1981 Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 164-181 dan diadaptasi oleh generasi penerus hingga era modern. Bahkan, salah satu unsur Tri Dharma, yaitu mulat sarira hangrasa wani, kini diabadikan sebagai semboyan resmi Kota Surakarta, menandakan keberlanjutan nilai-nilai kepemimpinan Mangkunegara I dalam kehidupan masyarakat Jawa kontemporer. Implikasi Tri Dharma Raden Mas Said dalam Pendidikan Secara Umum Tri Dharma Raden Mas Said yang terdiri atas Mulat Sarira Hangrasa Wani. Rumangsa Melu Handarbeni, dan Wajib Melu Angrungkebi merupakan ajaran yang merepresentasikan sinergi antara rakyat dan prajurit, sekaligus nilai kepemimpinan yang bersifat kolektif. Menurut Priyono Mardikusumo, nilai-nilai ini tetap relevan dan bahkan kembali ditegaskan dalam konteks kebangsaan dan pendidikan, sebagaimana disampaikan dalam pidato peringatan 80 tahun Indonesia Mulat Sarira Hangrasa Wani mengandung makna keberanian untuk melakukan introspeksi diri secara sungguh-sungguh. Dalam konteks pendidikan, nilai ini menuntun guru untuk berani melihat kekurangan diri, baik dalam kompetensi pedagogik, penguasaan materi, maupun metode pembelajaran. Introspeksi menjadi dasar pengembangan profesional berkelanjutan, sehingga guru senantiasa terbuka terhadap pembaruan dan inovasi pendidikan. Sementara itu. Rumangsa Melu Handarbeni menekankan rasa memiliki secara kolektif. Dalam dunia pendidikan, nilai ini mendorong guru untuk memandang pendidikan bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah dan pengabdian. Rasa memiliki menumbuhkan kepedulian, tanggung jawab, serta partisipasi aktif dalam membangun sekolah, mendampingi peserta didik, dan menjalin kerja sama dengan sesama pendidik serta orang tua siswa. Adapun Wajib Melu Angrungkebi mengandung kewajiban moral untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur. Dalam pendidikan, prinsip ini mengarahkan guru untuk tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, menjaga budaya sekolah, serta melestarikan nilai-nilai lokal agar peserta didik tetap berakar pada jati diri bangsa di tengah arus Dengan demikian. Tri Dharma Raden Mas Said memberikan kerangka etis yang utuh bagi dunia pendidikan. Nilai introspeksi diri, rasa memiliki kolektif, dan kewajiban menjaga mutu pendidikan membentuk siklus perbaikan berkelanjutan yang memperkuat peran guru sebagai pendidik, teladan, dan penjaga nilai bangsa. Destriana Rusmaniar, "Aspek-Aspek Moral Yang Membangun Falsafah Tri Dharma Mangkunegara I (RM. Sai. " (Skripsi. Universitas Indonesia, 2. , hlm. Parisada Hindu Dharma Indonesia, "Mulat Sarira Hangrasa Wani," http://phdi. id/artikel. php?id=mulat-sarira-hangrasa-wani. Wayan Budiarta, "Integrasi Kearifan Lokal Mulat Sarira dalam Pembelajaran Sejarah," Jurnal IKA Vol. No. , hlm. 1-7, https://doi. org/10. 23887/ika. Filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dalam Implementasi Tri Dharma. Muh. Fajar Shodiq. Maslamah. Riki Irawan Implikasi Tri Dharma Raden Mas Said dalam Pendidikan Perguruan Tinggi Tri Dharma Raden Mas Said lahir dari pengalaman historis dan perjuangan panjang Pangeran Sambernyawa dalam menghadapi konflik internal Mataram dan penindasan kolonial. Falsafah ini merupakan kristalisasi nilai kepemimpinan yang menekankan rasa memiliki, kesediaan berkorban, dan keberanian melakukan introspeksi diri, yang kemudian diterapkan dalam tata kelola Mangkunegaran sebagai bentuk pengabdian kepada rakyat (Sigit. Dimas, 2. Nilai-nilai tersebut bersifat universal dan relevan untuk diadaptasi dalam konteks pendidikan tinggi. Konsep Tri Dharma Mangkunegaran yang meliputi Rumangsa Melu Handarbeni. Wajib Melu Hangrungkebi, dan Mulat Sarira Hangrasa Wani dapat menjadi landasan etis pembentukan karakter sivitas akademika. Rumangsa Melu Handarbeni dimaknai sebagai rasa memiliki secara kolektif terhadap institusi pendidikan. Dalam konteks perguruan tinggi, nilai ini mendorong dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk bertanggung jawab menjaga nama baik almamater, meningkatkan mutu akademik, serta merawat sarana dan budaya kampus sebagai amanah bersama. Sikap ini sejalan dengan prinsip amanah dalam Islam, yakni tanggung jawab moral dalam mengelola ilmu dan lembaga pendidikan. Sementara itu. Wajib Melu Hangrungkebi mengandung kewajiban membela dan menjaga nilai-nilai kebenaran. Dalam dunia akademik, ajaran ini berimplikasi pada penguatan integritas ilmiah, penegakan etika akademik, serta penolakan terhadap plagiarisme dan penyalahgunaan ilmu. Nilai hangrungkebi juga mendorong perguruan tinggi untuk berperan aktif membela kepentingan masyarakat melalui penelitian dan pengabdian, sejalan dengan prinsip amar maAoruf nahi munkar dalam Islam. Adapun Mulat Sarira Hangrasa Wani menekankan keberanian melakukan evaluasi dan introspeksi diri secara jujur. Dalam pendidikan tinggi, nilai ini selaras dengan konsep muhasabah, yaitu refleksi berkelanjutan terhadap kualitas pembelajaran, penelitian, dan tata kelola institusi. Dosen dan mahasiswa yang menghayati nilai ini akan bersikap terbuka terhadap kritik, siap memperbaiki kekurangan, serta memiliki accountability akademik. Sikap tersebut juga melahirkan scientific humility, yaitu kesadaran bahwa ilmu pengetahuan selalu terbuka untuk koreksi dan Ketiga nilai Tri Dharma tersebut saling terkait dan hanya efektif jika diterapkan secara terpadu . Dalam perspektif pendidikan Islam, integrasi nilai handarbeni, hangrungkebi, dan mulat sarira membentuk akhlak mulia di lingkungan kampus, yang mencakup tanggung jawab, kepedulian sosial, kejujuran, serta keberanian moral. Nilai-nilai ini relevan dengan Refleksi Menuju Perubahan Profesionalisme Menuntun Arah Baru," Jalan Dakwah . JalanDakwahSite, 4 Juni 2025, https://jalandakwahsite. com/2025/06/04/refleksi-menuju-perubahanprofesionalisme-menuntun-arah-baru/. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 164-181 visi perguruan tinggi Islam, termasuk UIN Raden Mas Said Surakarta, yang mengusung Islam moderat berbasis kearifan lokal. Hasil wawancara dengan Ibu Darweni, pengelola Perpustakaan Keraton Mangkunegaran, menegaskan bahwa Tri Dharma Raden Mas Said memiliki sifat lintas ruang dan waktu, sehingga dapat dijadikan pedoman etis dalam pengelolaan perguruan tinggi. Penerapan nilai rasa memiliki, mawas diri, dan keberanian bertanggung jawab akan mendorong sivitas akademika menjaga integritas institusi, bersaing secara sehat, serta tetap berakar pada nilai budaya dan moral. 22 Dengan demikian. Tri Dharma Raden Mas Said tidak hanya relevan sebagai warisan sejarah, tetapi juga sebagai kerangka pendidikan karakter di perguruan tinggi. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi etis dan spiritual dalam membangun institusi pendidikan tinggi yang berintegritas, berdaya saing, dan berakar kuat pada kearifan lokal. Relevansi Nilai-Nilai Tri Dharma Raden Mas Said dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi UIN Raden Mas Said Surakarta Transformasi kelembagaan kembali terjadi pada tahun 2021 ketika IAIN Surakarta ditingkatkan statusnya menjadi universitas. Melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2021 tanggal 11 Mei 2021, institusi ini resmi menjadi Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. Perubahan ini sejalan dengan kebijakan nasional integrasi keilmuan yang mendorong Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri untuk mengembangkan ilmu agama secara berdampingan dengan sains, teknologi, dan ilmu sosial humaniora. Sejak berstatus universitas. UIN Raden Mas Said Surakarta membuka berbagai program studi baru seperti Bioteknologi. Sains Data. Teknologi Pangan, dan Ilmu Lingkungan sebagai penanda orientasi universitas komprehensif. Penetapan nama Raden Mas Said memiliki makna historis dan filosofis yang kuat. Raden Mas Said, yang dikenal sebagai KGPAA Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa, merupakan tokoh perjuangan yang tidak hanya berpengaruh secara lokal di Surakarta, tetapi juga memiliki kontribusi nasional sebagai pahlawan bangsa. Ia dikenal sebagai sosok yang moderat, toleran, dan Menurut Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta saat itu. Prof. Dr. Mudhofir, nilainilai kepahlawanan dan falsafah perjuangan Raden Mas Said diharapkan menjadi inspirasi dalam pengembangan universitas. Nilai-nilai tersebut terangkum dalam falsafah Tri Dharma Raden Mas Said yang meliputi Mulat Sarira Hangrasa Wani. Rumangsa Melu Handarbeni, dan Wajib Melu "Pendidikan Islam dan Nilai Tri Dharma," Jateng NU Online, diakses 6 Februari 2026, https://jateng. Wawancara dengan Darweni, pengelola Perpustakaan Keraton Mangkunegaran. Surakarta, oleh Muh. Fajar Shodiq, 6 Februari 2026. Perdana Bayu Saputra, "IAIN Surakarta Sah Jadi IAIN Raden Mas Said. Siap Buka Fakultas Baru," *Radar Solo*, 29 Mei 2021, https://radarsolo. com/pendidikan/2105290002/iain-surakarta-sah-jadi-iainraden-mas-said-siap-buka-fakultas-baru. Filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dalam Implementasi Tri Dharma. Muh. Fajar Shodiq. Maslamah. Riki Irawan Hangrungkebi, yang mencerminkan sikap introspektif, tanggung jawab kolektif, serta keberanian membela kebenaran. Penanaman spirit lokal yang bernuansa nasionalis dan moderat ini menjadi momentum penting bagi UIN Raden Mas Said Surakarta dalam memperkuat dedikasi kebangsaan dengan menjunjung tinggi integritas dan profesionalitas akademik. Saat ini. UIN Raden Mas Said Surakarta terus berbenah dan meningkatkan reputasi akademiknya sebagai universitas Islam yang berorientasi global namun tetap berakar pada nilai-nilai lokal. Dengan luas kampus sekitar 14 hektare di Kartasura. Kabupaten Sukoharjo. UIN Raden Mas Said Surakarta mengusung visi sebagai Moderate Global-Local Islamic University di bawah pembinaan Kementerian Agama Republik Indonesia. Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat merupakan fondasi utama pelaksanaan pendidikan tinggi di Indonesia. Namun dalam praktiknya, pelaksanaan Tri Dharma tersebut kerap bersifat teknokratis dan kurang menyentuh konteks kearifan lokal. Falsafah Tri Dharma Raden Mas Said memberikan kontribusi penting berupa nilai-nilai budaya lokal yang dapat memperkaya dan menguatkan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi agar lebih kontekstual, bermakna, dan berakar pada realitas sosial masyarakat. Dalam ranah pendidikan dan pengajaran, nilai Rumangsa Melu Handarbeni berperan membangun iklim akademik yang partisipatif dan bertanggung jawab. Dosen dan mahasiswa yang memiliki rasa ikut memiliki terhadap proses pembelajaran akan menunjukkan keterlibatan dan motivasi yang lebih tinggi. Dosen mengajar dengan kesadaran moral untuk mencerdaskan bangsa, sementara mahasiswa belajar dengan orientasi kemaslahatan bersama. Nilai ini berkontribusi pada meningkatnya keterlibatan akademik dan kualitas pembelajaran. Selain itu. Mulat Sarira Hangrasa Wani mendorong sikap reflektif dalam dunia pendidikan melalui evaluasi berkelanjutan terhadap kurikulum dan metode pengajaran. Sikap berani melakukan introspeksi memastikan proses pembelajaran tetap adaptif, inovatif, dan relevan dengan perkembangan zaman serta kebutuhan lokal dan global. Integrasi nilai lokal dalam pendidikan menjadikan materi pembelajaran lebih membumi dan bermakna, sejalan dengan pandangan yang menegaskan bahwa pendidikan tinggi berbasis nilai lokal mampu memperkuat identitas institusi sekaligus meningkatkan relevansi lulusan di tingkat global. Dalam dharma penelitian, nilai Mulat Sarira Hangrasa Wani dan Rumangsa Melu Handarbeni mendorong penelitian yang bertanggung jawab, reflektif, dan berpihak pada kebutuhan masyarakat. Rasa memiliki terhadap lingkungan sosial menjadikan dosen dan peneliti lebih peka dalam memilih tema riset yang relevan dengan persoalan lokal dan nasional. Penelitian tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga diarahkan untuk menjawab tantangan sosial budaya. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 164-181 pelestarian kearifan lokal, dan pembangunan masyarakat. Sementara itu. Wajib Melu Hangrungkebi menegaskan komitmen etis dalam menjaga integritas ilmiah dan membela kebenaran akademik. Nilai ini relevan dalam upaya menjaga kejujuran penelitian, mencegah plagiarisme, serta mengarahkan riset pada pembelaan terhadap kepentingan bangsa, seperti keadilan sosial dan kelestarian lingkungan. Prinsip introspektif dalam Mulat Sarira Hangrasa Wani juga mendorong peningkatan mutu penelitian secara berkelanjutan melalui evaluasi dan pengembangan kapasitas riset. Hal ini sejalan dengan pernyataan Prof. Mudhofir bahwa nilai perjuangan Raden Mas Said dijadikan penciri arah pengembangan UIN Raden Mas Said Surakarta, termasuk dalam orientasi riset institusional. Pada dharma pengabdian kepada masyarakat, relevansi nilai-nilai Tri Dharma Raden Mas Said tampak paling nyata. Rumangsa Melu Handarbeni menumbuhkan empati dan kepedulian civitas akademika terhadap permasalahan masyarakat, sehingga mendorong keterlibatan aktif dalam pemberdayaan sosial. Wajib Melu Hangrungkebi mempertegas tanggung jawab moral perguruan tinggi untuk membela masyarakat dari ketertinggalan, ketidakadilan, dan berbagai persoalan sosial melalui aksi nyata. Nilai ini tercermin dalam kegiatan pengabdian seperti Kuliah Kerja Nyata yang menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat, sekaligus agen Pengiriman ribuan mahasiswa KKN UIN Raden Mas Said ke desa-desa sekitar merupakan contoh konkret implementasi nilai handarbeni dan hangrungkebi dalam konteks lokal. Adapun Mulat Sarira Hangrasa Wani menjadikan pengabdian masyarakat bersifat reflektif dan berkelanjutan melalui evaluasi program dan pembelajaran timbal balik antara kampus dan Sikap ini menumbuhkan kerendahan hati akademik serta pengakuan bahwa kearifan lokal masyarakat juga merupakan sumber pembelajaran penting. Penelitian Firdaus dkk. menunjukkan bahwa adopsi nilai-nilai budaya lokal dalam pendidikan tinggi berdampak positif terhadap pemberdayaan masyarakat, sementara Simamora . menegaskan bahwa integrasi budaya lokal memperkuat identitas institusi dan ikatan sosial dengan komunitas sekitarnya. Secara keseluruhan, nilai-nilai Tri Dharma Raden Mas Said melengkapi Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan dimensi moral dan kultural, sehingga pelaksanaannya tidak bersifat generik, tetapi berjiwa dan berkarakter. Di UIN Raden Mas Said Surakarta, falsafah ini menjadi inspirasi arah pengembangan universitas dalam mewujudkan visi sebagai Moderate Global-Local Islamic University, yakni menduniakan nilai lokal dan melokalkan nilai global. Integrasi ini memastikan perguruan tinggi memiliki identitas kuat, relevan secara sosial, serta kompetitif di tingkat global tanpa kehilangan akar budayanya. Filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dalam Implementasi Tri Dharma. Muh. Fajar Shodiq. Maslamah. Riki Irawan Strategi Integrasi Filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dalam Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi di UIN Raden Mas Said Surakarta Integrasi filosofi Tri Dharma Raden Mas Said ke dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di UIN Raden Mas Said Surakarta perlu dilakukan secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan. Integrasi ini bertujuan menjadikan nilai Rumangsa Melu Handarbeni. Wajib Melu Hangrungkebi, dan Mulat Sarira Hangrasa Wani sebagai landasan etik dan spiritual yang menjiwai pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, tanpa mengurangi karakter ilmiah dan universal Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dengan demikian. Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak hanya dijalankan sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai praktik akademik yang bermakna dan berakar pada kearifan lokal. Langkah strategis pertama adalah internalisasi nilai Tri Dharma Raden Mas Said ke dalam visi, misi, dan kebijakan institusi. Visi UIN Raden Mas Said Surakarta sebagai Moderate GlobalLocal Islamic University merupakan pintu masuk penting untuk menempatkan falsafah Raden Mas Said sebagai core values universitas. Nilai-nilai tersebut perlu diturunkan ke dalam rencana strategis, kebijakan rektorat, dan tata kelola fakultas serta program studi, sehingga tidak berhenti pada tataran simbolik. Internalisasi ini dapat diwujudkan melalui pengarusutamaan nilai handarbeni, hangrungkebi, dan mulat sarira dalam standar operasional, kode etik sivitas akademika, serta kebijakan lembaga penunjang seperti LPPM. Dukungan pimpinan universitas menjadi kunci, karena keteladanan dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan institusi akan mempercepat proses pembudayaan nilai tersebut di lingkungan kampus. Strategi berikutnya adalah integrasi nilai Tri Dharma Raden Mas Said ke dalam kurikulum dan proses pembelajaran. Integrasi ini dapat dilakukan secara eksplisit melalui pengembangan mata kuliah atau modul yang membahas filsafat keilmuan Nusantara. Islam dan kearifan lokal Jawa, serta relevansi nilai Tri Dharma Mangkunegaran dalam konteks modern. Di samping itu, integrasi juga dapat dilakukan secara implisit melalui penyisipan nilai-nilai lokal dalam studi kasus, contoh pembelajaran, dan penilaian soft skills di berbagai mata kuliah lintas disiplin. Pendekatan ini menjadikan pembelajaran lebih kontekstual, membumi, dan relevan dengan realitas sosial Penguatan pedagogi berbasis kearifan lokal juga perlu didukung melalui pelatihan dosen agar mampu mengintegrasikan indigenous knowledge dalam perencanaan pembelajaran, sehingga lulusan UIN tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan karakter kebangsaan yang kuat. Dalam bidang penelitian, strategi integrasi diarahkan pada pengembangan riset bertema kearifan lokal dan moderasi Islam dengan menjadikan Tri Dharma Raden Mas Said sebagai kerangka nilai. UIN Raden Mas Said Surakarta dapat menginisiasi pusat studi atau klaster riset Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 164-181 yang fokus pada kajian filosofi Mangkunegaran, pendidikan tinggi berbasis budaya lokal, serta penerapan nilai handarbeni dan hangrungkebi dalam berbagai bidang keilmuan. Penelitian diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan masyarakat dan kebijakan publik. Pendekatan partisipatif yang melibatkan komunitas lokal sebagai mitra riset menjadi wujud nyata rumangsa melu handarbeni, sekaligus memperkuat relevansi sosial penelitian. Dengan dukungan pendanaan, kolaborasi lintas disiplin, dan kemitraan dengan institusi budaya. UIN berpeluang menjadi pusat unggulan nasional dalam studi glokalisasi pendidikan tinggi. Strategi integrasi selanjutnya diwujudkan melalui pengabdian kepada masyarakat berbasis nilai handarbeni dan hangrungkebi. Program pengabdian dirancang dengan pendekatan partisipatif yang menempatkan masyarakat sebagai subjek sekaligus mitra, bukan objek kegiatan. Dalam konteks ini. Kuliah Kerja Nyata dapat dikembangkan sebagai wahana service learning yang menekankan rasa memiliki terhadap komunitas, kewajiban membela dan memberdayakan potensi lokal, serta refleksi berkelanjutan melalui prinsip mulat sarira. Mahasiswa didorong untuk hadir sebagai bagian dari masyarakat yang belajar sekaligus mengabdi, sementara dosen berperan sebagai fasilitator dan penjaga etika pengabdian. Integrasi nilai Tri Dharma Raden Mas Said dalam pengabdian akan menghasilkan model pemberdayaan masyarakat yang sensitif budaya, berkelanjutan, dan berdampak nyata. Keberhasilan integrasi nilai tersebut sangat ditentukan oleh penguatan sumber daya manusia dan budaya kampus. Oleh karena itu, diperlukan program sosialisasi dan pelatihan berkelanjutan bagi dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa mengenai sejarah serta filosofi Raden Mas Said. Penanaman nilai dapat dilakukan melalui orientasi mahasiswa baru, stadium generale, kegiatan budaya kampus, serta pengembangan unit kegiatan mahasiswa yang mengangkat seni dan tradisi lokal. Selain itu, pembentukan hidden curriculum melalui praktik kepemimpinan partisipatif, sistem penghargaan berbasis nilai, dan budaya refleksi akan membuat nilai Tri Dharma Raden Mas Said hidup dalam keseharian kampus. Keteladanan pimpinan dalam bermusyawarah, keterbukaan evaluasi, dan keberanian melakukan introspeksi menjadi faktor kunci keberlanjutan budaya ini. Sebagai penutup, integrasi filosofi Tri Dharma Raden Mas Said perlu dituangkan dalam model implementasi yang terstruktur dan dievaluasi secara berkala. Penyusunan roadmap jangka pendek, menengah, dan panjang dengan indikator keberhasilan yang terukur akan memastikan Moh Ashif Fuadi et al. AuStrengthening Religious Moderation to Counter Radicalism at IAIN SURAKARTA,Ay Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam Vol. No. : hlm. ttps://doi. org/https://doi. org/10. 21154/altahrir. Filosofi Tri Dharma Raden Mas Said dalam Implementasi Tri Dharma. Muh. Fajar Shodiq. Maslamah. Riki Irawan integrasi berjalan konsisten dan tidak sporadis. Monitoring dan evaluasi dilakukan melalui survei, penilaian kinerja Tri Dharma, serta umpan balik dari masyarakat mitra. Hasil evaluasi menjadi dasar perbaikan strategi dan inovasi program. Dalam jangka panjang, model integrasi ini berpotensi menjadi praktik baik nasional yang dapat direplikasi oleh perguruan tinggi lain dengan penyesuaian konteks lokal masing-masing. Dengan strategi integrasi yang komprehensif. UIN Raden Mas Said Surakarta dapat memperkaya pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan dimensi budaya dan spiritual khas Jawa-Islam. Filosofi Tri Dharma Raden Mas Said bukan hanya dilestarikan sebagai warisan sejarah, tetapi diaktualisasikan sebagai keunggulan institusional yang memperkuat identitas kampus, meningkatkan kualitas akademik, dan memperluas kontribusi sosial. Integrasi ini pada akhirnya meneguhkan posisi UIN Raden Mas Said sebagai Moderate Global-Local Islamic University yang unggul, berakar kuat pada kearifan lokal, dan relevan dalam percaturan global. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai-nilai Mangkunegara I, yaitu Mulat Sarira Hangrasa Wani. Rumangsa Melu Handarbeni, dan Wajib Melu Hangrungkebi, memiliki relevansi yang kuat dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di UIN Raden Mas Said Surakarta. Integrasi nilai-nilai tersebut terbukti mendukung pembentukan karakter mahasiswa, memperkuat tanggung jawab sosial, serta menciptakan lingkungan akademik yang humanis dan berakar pada kearifan Oleh karena itu, nilai-nilai Mangkunegara I perlu terus diinternalisasikan dalam kurikulum, kegiatan kemahasiswaan, dan budaya institusi. Penelitian ini juga menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai dan pembentukan karakter, sehingga tercipta keseimbangan antara keunggulan akademik, integritas moral, dan tanggung jawab sosial. REFERENSI