Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan Volume 13. No. April 2022 ISSN:2086-3861 E-ISSN: 2503-2283 Teknologi Pembenihan Abalon Haliotis squamata Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Secara Berkelanjutan Seeding Technology of Haliotis squamata to Improve Sustainable Aquaculture Production Andri Iskandar. AB Jannar1. A Sujangka2. Muslim Muslim3 . Program Studi Teknologi Produksi dan Manajemen Perikanan Budidaya. Sekolah. Vokasi. Institut Pertanian Bogor . Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok. Nusa Tenggara Barat . Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Pertanian. Universitas Sriwijaya. Palembang *Penulis Korespondensi: Email: andriiskandar@apps. (Diterima Januari 2022/ Disetujui April 2. Abstract Abalone has a specific taste, containing 71,99% protein. 3,2% lipid. 5,6% crude fiber. and 0,6% The selling price in the domestic market ranges from IDR 250. 000-IDR 600. 000 per kg depending on the size and in the international market it ranges from USD 22-USD 66 per kg depending on the quality and type. The hatchery activities begin with rearing broodstock until the gonads mature. It was placed in plastic crates with a density of 40-50 individuals/unit and fed with The parent which is ready to be spawned has developed gonad and covers the hepatopancreas organ over 50%, and carried out on a spawning container. Larvae rearing begins with a container that has been cultured with benthic diatom as the larvae feed. Abalone measuring 1-2 cm was harvested and transferred to seed maintenance containers. Seed maintenance was carried out for 2-3 months and produces abalone seeds ready for sale with a size of 3cm. Hatchery activities produce FR 60%. HR 85%, and SR 0,1-1%. Seed packaging was carried out using three stage, a net bag with a density of 75-100 individuals/bag, a plastic bag filled with 20 net bags/plastic sheet, and a styrofoam box filled with 1 plastic/box. Keyword: Abalone, broodstock, larva rearing, seed maintenance Abstrak Abalon memiliki cita rasa yang khas, mengandung 71,99% protein. 3,2% lemak. 5,6% serat kasar. dan 0,6% air. Harga jual di pasar domestik berkisar antara Rp 250. 000-Rp 600. 000 per kg tergantung ukuran dan di pasar internasional berkisar antara USD 22-USD 66 per kg tergantung kualitas dan Kegiatan pembenihan dimulai dengan pemeliharaan induk sampai gonad matang. Induk ditempatkan di dalam peti plastik dengan kepadatan 40-50 ekor/unit dan diberi pakan makroalga. Gonad induk yang telah siap dipijahkan berkembang dan menutupi organ hepatopankreas lebih dari 50%, dan pemijahan dilakukan di wadah pemijahan. Pemeliharaan larva dilakukan di dalam wadah yang sebelumnya telah dikultur diatom bentik sebagai pakan larva. Abalon berukuran 1-2 cm dipanen dan dipindahkan ke wadah pemeliharaan benih. Pemeliharaan benih dilakukan selama 2-3 bulan dan menghasilkan benih abalon yang siap dijual dengan ukuran 3cm. Kegiatan pembenihan menghasilkan FR 60%. HR 85%, dan SR 0,1-1%. Pengemasan benih dilakukan melalui tiga tahap, yaitu kantong jaring dengan kerapatan 75-100 ekor/kantong, kantong plastik berisi 20 kantong jaring/kantong plastik, dan boks styrofoam berisi 1 plastik/boks styrofoam. Kata kunci: Abalon. Induk. Pemeliharaan larva. Pemeliharaan benih To Cite this Paper: Iskandar. Jannar. AB. Sujangka. Muslim. , 2022. Teknologi Pembenihan Abalon Haliotis squamata Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Secara Berkelanjutan. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 17-31 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI PENDAHULUAN Pengembangan perikanan budidaya merupakan salah satu strategi yang ditempuh dalam pembangunan perikanan nasional karena sektor ini dapat dijadikan sebagai produksi andalan di masa depan untuk menggantikan peranan perikanan tangkap. Budidaya laut . , budidaya air payau . rackish water cultur. , dan budidaya air tawar . reshwater cultur. merupakan tiga jenis kegiatan perikanan budidaya yang pembagiannya didasarkan pada lokasi. Dari ketiga kegiatan tersebut, budidaya laut di Indonesia sudah mulai semakin berkembang, terutama pada kelompok moluska salah satunya adalah abalon Haliotis squamata. Abalon memiliki cita rasa daging yang khas serta nilai gizi yang tinggi dengan kandungan protein 71,99%, lemak 3,2%, serat kasar 5,6%, dan kandungan air 0,6% (Sososutiksno & Gasperz, 2. juga dipercaya mampu meningkatkan vitalitas dan rendah kolestrol (Sari et al. , 2. Produksi abalon secara global dari hasil tangkapan alam mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hal tersebut memicu perkembangan teknologi budidaya abalon dalam meningkatkan hasil produksi abalon untuk memenuhi permintaan daging abalon (Giri et al. , 2. Saat ini lebih dari 95% dari total abalon yang telah memenuhi permintaan pasar berasal dari hasil budidaya (Globefish, 2. Sejak 2013-2014 Tiongkok dan Korea Selatan merupakan negara pengekspor abalon terbesar di dunia, hal ini disebabkan oleh meningkatnya budidaya abalon di kedua negara tersebut (Cook. Tiongkok memproduksi abalon sebanyak 127 ribu ton pada tahun 2015, dengan 90% hasil produksinya diperuntukkan bagi konsumsi dalam negeri. Korea selatan adalah produsen abalon terbesar kedua dengan total 9 ribu ton pada tahun 2015 (Globefish, 2. Produksi abalon di Indonesia masih didominasi dari hasil tangkapan di alam hingga tahun 2000an. Abalon yang terdapat di Indonesia memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dengan nilai jual berada pada kisaran harga Rp. 000 - 500. 000,- per kilogram kering (Tubalawony et al. , 2. Budidaya abalon di Indonesia belum berkembang menjadi industri yang mapan karena sebagian besar benih masih dipasok dari hasil tangkapan dari alam yang lambat laun akan menyebabkan penurunan jumlah benih untuk kegiatan budidayanya, sehingga strategi yang dilakukan adalah bagaimana mendiseminasikan teknis budidaya yang dilakukan agar informasi yang disebarkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi para pelaku usaha budidaya abalon untuk dapat mengelola usaha budidaya secara ekonomis dan berkelanjutan. METODE Metode kerja yang digunakan adalah metode action research, yang bertujuan untuk mengembangkan metode kerja yang paling efisien, sehingga biaya produksi dapat ditekan dan produktifitas dapat meningkat (Darna & Herlina, 2. Pengumpulan data yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah dengan pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari sumber asli . idak melalui perantar. , melalui wawancara, observasi, partisipasi aktif maupun memakai instrumen pengukuran yang khusus sesuai dengan tujuan (Dwiyana, 2. Data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen yang telah diolah untuk menunjang kegiatan melalui pihak-pihak lain yang ada hubungannya dengan analisis (Dwiyana. HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan Wadah Pemeliharaan Induk Wadah pemeliharaan induk digunakan untuk memelihara induk abalon hingga menghasilkan induk matang gonad. Wadah yang digunakan berupa bak fiber berbentuk persegi panjang dengan ukuran 3 m x 1 m x 0,6 m dengan kapasitas 1. Pada bagian saluran outlet wadah, dilengkapi egg collector yang berfungsi untuk menampung telur hasil pemijahan (Gambar . Persiapan wadah pemeliharaan dilakukan sebelum induk ditebar ke dalam wadah yang bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran atau penyakit pada wadah. Air di dalam wadah pemeliharaan disurutkan, selanjutnya diberi desinfektan menggunakan kalsium hipoklorit Ca(OC. 2 yang telah dilarutkan dengan air laut sebanyak 30 gr/L. Wadah yang sudah diberi desinfektan didiamkan selama 24 jam. Kalsium hipoklorit merupakan bahan kimia desifektan yang biasa digunakan untuk menjernihkan air dan desinfektan ini juga mampu membunuh mikroorganisme yang bersifat patogen di dalam air dan juga untuk menghilangkan bau (Herawati & Yuntarso, 2. Kalsium hipoklorit umumnya tersedia dalam bentuk bubuk putih, pelet, atau pelat datar dan digunakan secara umum To Cite this Paper: Iskandar. Jannar. AB. Sujangka. Muslim. , 2022. Teknologi Pembenihan Abalon Haliotis squamata Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Secara Berkelanjutan. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 17-31 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI sebagai agen pembersih dalam proses pencucian, air minum, pembersihan air kolam renang Kalsium hipoklorit terurai di dalam air untuk melepaskan larutan klorin dan natrium hipoklorit dan dapat melepaskan gas klor jika dicampur dengan bahan pembersih lainnya. Kalsium hipoklorit memiliki rumus struktur CaCl2O2 dan memiliki berat molekul 142,98 g/mol (Herdianti et al. , 2. Air di dalam wadah selanjutnya dibuang dan wadah dibersihkan dengan cara disikat bagian dasarnya menggunakan sikat bertangkai, selanjutnya kotoran yang menempel pada bagian dinding dibersihkan menggunakan sikat kecil atau spons. Pengisian air laut dilakukan setelah wadah benarbenar kering dengan cara membuka keran saluran inlet dan menutup saluran outlet. Aerasi kemudian dipasang setelah pengisian air. Air dialirkan secara terus menerus sehingga terjadi proses sirkulasi setiap hari. Keranjang dan shelter dicuci dan dikeringkan agar tidak ada kotoran yang menempel, kemudian disusun ke dalam bak pemeliharaan sebanyak 4-5 keranjang dan setiap keranjang diisi dengan shelter dengan jumlah 2-3 unit tiap keranjang. Gambar 1. Wadah pemeliharaan induk . Saluran outlet yang telah dilengkapi egg collector . egg collector Penebaran Induk Induk abalon yang ditebar, berasal dari hasil tangkapan alam dan hasil budidaya. Baik induk yang berasal dari alam maupun hasil budidaya, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Induk abalon dari alam mempunyai kondisi prima dan selera makan tinggi dan biasanya mempunyai fekunditas dan kualitas telur yang baik namun kekurangannya memerlukan proses adaptasi yang lebih lama di lingkungan yang baru (Setyabudi et al. , 2. , sedangkan induk abalon dari hasil budidaya proses adaptasinya cepat serta mempunyai laju pertumbuhan merata dan diketahui asalusul hidupnya. Induk yang ditebar adalah induk yang memenuhi kriteria yaitu sehat . ergerak aktif, melekat kuat pada shelter, jika diletakkan terbalik langsung membalikkan tubuhnya, nafsu makan tingg. , tidak ada luka dan cacat . agian cangkang dan daging utu. , tidak stres . idak mengeluarkan lendir di kolom air secara berlebiha. , ukuran panjang cangkang berkisar antara 4-5 cm pada saat awal pemeliharaan dengan umur minimal 2-3 tahun (Khotimah et al. , 2. Gambar 2. Induk abalon Induk dipelihara di dalam keranjang krat plastik berukuran 60 cm x 50 cm x 40 cm dengan kepadatan 40-50 ekor/keranjang krat. Keranjang krat digantung dengan menggunakan kayu pada wadah dengan jumlah 4-5 ekor. Induk yang ditebar berjumlah 1. 180 individu yang terdiri dari 560 ekor induk jantan dan 620 ekor induk betina. Induk yang ditebar memiliki bobot antara 30,10-76,44 gr/ekor dan panjang cangkang antara 4,2-7,6 cm/ekor. To Cite this Paper: Iskandar. Jannar. AB. Sujangka. Muslim. , 2022. Teknologi Pembenihan Abalon Haliotis squamata Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Secara Berkelanjutan. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 17-31 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI . Gambar 3. Keranjang krat plastik . Keranjang . Rearing plate Pemberian Pakan Pakan yang diberikan untuk induk abalon adalah rumput laut karena abalon tergolong hewan herbivora dan gemar memakan alga terutama alga merah dan alga hijau. Jenis rumput laut yang diberikan adalah Gracillaria sp. (Gambar 4. dan Ulva sp. (Gambar 4. Penggunaan rumput laut jenis Gracillaria sp. dan Ulva sp. karena jenis rumput laut ini memiliki tekstur yang lembut dan disukai Pemberian pakan menggunakan kombinasi dari kedua jenis rumput laut ini juga dapat meningkatkan laju pertumbuhan serta tingkat kematangan gonad induk abalon (Marzuqi et al. Kandungan nutrisi yang terdapat pada Glacillaria sp. dan Ulva sp. disajikan pada Tabel 1. Gambar 4. Glacillaria sp. Ulva sp. Tabel 1. Kandungan nutrisi pakan makro alga Glacillaria sp Ulva sp Protein Lemak . Air . Parameter (%) Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan untuk induk abalon adalah stok rumput laut sebagai pakan abalon, harus tetap terjaga kualitas dan kesegarannya, untuk itu rumput laut disimpan di dalam wadah dan direndam menggunakan air yang mengalir terus menerus selama 24 jam untuk menghindari penurunan kualitas rumput laut yang diindikasikan dengan adanya perubahan warna menjadi pucat. Rumput laut dibersihkan sebelum diberikan keinduk (Gambar . , sehingga tidak ada hama predator dan kotoran yang masuk ke dalam bak pemeliharaan induk (Gambar . Pemberian pakan menggunakan metode ad libitum atau selalu tersedia dalam wadah pemeliharaan, dan pakan diberikan dengan dosis 15%-20% dengan frekuensi dua hari sekali (Sinaga & Setyono, 2. To Cite this Paper: Iskandar. Jannar. AB. Sujangka. Muslim. , 2022. Teknologi Pembenihan Abalon Haliotis squamata Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Secara Berkelanjutan. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 17-31 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI Gambar 5. Pengambilan dan pencucian rumput laut yang akan digunakan sebagai pakan Pengelolaan Kualitas Air Pengelolaan kualitas air pada wadah pemeliharaan induk meliputi proses filtrasi, penyiponan dasar bak, dan pergantian air. Filtrasi atau penyaringan air dilakukan dengan menggunakan sandfilter yang disusun pada tandon berbentuk tabung berkapasitas 1. 100 L. Substrat yang digunakan untuk filtrasi antara lain pasir kuarsa, ijuk, dan arang kayu (Gambar . Filtrasi digunakan bertujuan untuk mencegah partikel-partikel kecil yang masuk ke dalam wadah pemeliharaan sehingga kualitas air tetap terjaga (Rejeki et al. , 2. Penggunaan arang aktif sebagai filter dianggap mampu menurunkan kandungan zat-zat berbahaya yang terkandung dalam air. Kombinasi antara pasir kuarsa dan arang aktif sebagai media filter memiliki peran yang efektif sebagai penyaring dan absorban yang baik (Dewi & Buchori, 2. Gambar 6. Susunan substrat dalam filter fisik Penyiponan dasar bak dilakukan setiap pagi hari untuk membersihkan sisa pakan dan kotoran pada wadah pemeliharaan. Kegiatan penyiponan dilakukan dengan tujuan mengurangi kadar amoniak dari sisa pakan dan sisa metabolisme abalon (Muqsith, 2. Pergantian air dilakukan dengan cara menjalankan air dengan sistem mengalir . low throug. untuk menghasilkan sirkulasi air pada wadah pemeliharaan induk. Pengukuran kualitas air pemeliharan induk baik secara fisik maupun kimia dilakukan setiap minggu. Hasil dari pengukuran kalitas air pemeliharaan induk dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil pengukuran kualitas air pemeliharaan induk To Cite this Paper: Iskandar. Jannar. AB. Sujangka. Muslim. , 2022. Teknologi Pembenihan Abalon Haliotis squamata Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Secara Berkelanjutan. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 17-31 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI Parameter Suhu Salinitas Satuan AC Baku Mutu Hasil Uji . inggu ke-) i >30 Nitrat Nitrit Amoniak Pencegahan Hama dan Penyakit Hama merupakan hewan pengganggu dalam budidaya abalon dan dapat menimbulkan kerusakan bahkan kematian abalon jika tidak ditangani secara baik. Hama yang terdapat pada pemeliharaan induk adalah teritip Balanus sp. , kepiting (Gambar 7. , udang (Gambar 7. , dan siput (Gambar 7. yang terbawa atau menempel pada pakan rumput laut. Pencegahan hama dilakukan dengan mencuci pakan rumput laut hingga bersih sebelum diberikan kepada induk (Susanto et al. , 2. Teritip dan kotoran yang menempel pada cangkang induk dapat menutupi lubang respirasi abalon sehingga dapat menghambat metabolisme yang menyebabkan induk stres dan sakit. Teritip dan kotoran yang sudah menempel pada cangkang dapat dibersihkan menggunakan spatula plastik atau menggunakan spons. Gambar 7. Hama yang menyerang induk: . Kepiting, . Udang, dan . Siput Pemijahan Induk Seleksi Induk Matang Gonad Seleksi induk abalon dilakukan sebelum musim pemijahan . ada bulan gelap dan bulan teran. Pengamatan gonad induk dapat dilakukan secara visual dengan membuka otot kaki menggunakan spatula (Setyabudi et al. , 2. Pengelompokkan jenis induk terlihat dari perbedaan warna gonad Gonad induk abalon jantan berwarna putih Ae jingga seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8a, sementara induk betina berwarna hijau keabuan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8b. Gambar 8. Seleksi induk: . induk jantan, . induk betina Kegiatan seleksi induk abalon dilakukan dengan cara mengukur panjang cangkang (Gambar 9. serta penimbangan bobot abalon (Gambar 9. Induk yang diseleksi merupakan induk muda yang berumur sekitar 2-3 tahun. Seleksi induk yang dilakukan di lokasi studi adalah dengan cara memilih To Cite this Paper: Iskandar. Jannar. AB. Sujangka. Muslim. , 2022. Teknologi Pembenihan Abalon Haliotis squamata Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Secara Berkelanjutan. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 17-31 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI induk abalon yang sehat dengan hasil pengukuran panjang cangkang rata-rata berkisar antara 5-8 cm dan bobot > 40 gr. Gambar 9. Kegiatan seleksi induk: . pengukuran panjang induk dan . penimbangan bobot Selama pemeliharaan induk abalon beberapa faktor dapat mempengaruhi perbedaan tingkat kematangan gonad baik itu faktor eskternal dan faktor internal (Permana et al. , 2. Tingkat kematangan gonad abalon dikelompokkan menjadi 4 stadia menurut perbandingan volume visual gonad bulk (VGB) dengan kelenjar pencernaannya seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3. Stadia Tabel 3. Stadia tingkat kematangan gonad induk abalon TKG (%) Deskripsi < 25 Pada ujung organ pencernaan terlihat gonad Pemulihan(Recover. tampak kecil, testis berwarna putih kekuningan 35 - 49 Gonad tumbuh menyelimuti 25 - 49 % organ Berkembang(Maturin. Ou 50 Gonad berkembang penuh, menyelimuti Ou 50 Matang (Rip. % organ pencernaan, testis berwarna cerah Abalon telah melepaskan gamet, <50 Memijahsebagian menyusut dan berwarna pucat atau total(Spen. Sumber: Setyono . Pemijahan Proses pemijahan abalon menggunakan teknik pemijahan secara alami dengan sistem massal. Rasio jumlah induk betina mempengaruhi tingkat keberhasilan pemijahan(Sudarmawan et al. , 2. Rasio pemijahan antara induk abalon jantan dan betina adalah 1:3 (Permana et al. , 2. Induk yang akan dipijahkan ditempatkan dalam krat plastik dengan jumlah 50 individu dalam 1 keranjang. Keranjang untuk menampung induk jantan dan betina ditempatkan didalam 1 wadah pemijahan dengan perbandingan 1 keranjang berisi induk jantan dan 3 keranjang berisi induk betina. Pemijahan terjadi ditandai dengan keluarnya sperma yang diikuti oleh sel telur sehingga menimbulkan warna keruh pada air media pemijahan dan berbau amis (Gambar . To Cite this Paper: Iskandar. Jannar. AB. Sujangka. Muslim. , 2022. Teknologi Pembenihan Abalon Haliotis squamata Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Secara Berkelanjutan. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 17-31 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI Gambar 10. Kondisi air media pemijahan pada saat pemijahan. piva PVC sebagai media penempelan telur Pemijahan terjadi pada pagi hari sekitar pukul 07. Hasil kegiatan pemijahan disajikan dalam Tabel 4. Tabel 4. Data hasil pemijahan abalon Waktu Pemijahan Jumlah Induk . Jantan Betina Jumlah Produksi Telur . Jumlah Trochopore . (%) Jumlah . (%) 6,850,000 8,425,000 Pemanenan dan Penetasan Telur Pemanenan telur dilakukan pada saat induk abalon selesai memijah pada kisaran pukul 09. 00, pada saat telur sudah banyak terkumpul di dalam egg collector. Pemanenan dilakukan dengan cara menurunkan sambungan saluran outlet agar telur terbawa arus air yang keluar dari saluran outlet. Proses penyaringan telur yang ada pada bak egg collector menggunakan dua buah plankton net (Gambar . Penyaringan pertama menggunakan plankton net berukuran 250 AAm untuk menyaring kotoran yang terbawa dan penyaringan kedua menggunakan plankton net berukuran 60 AAm untuk menyaring telur. Dalam satu kali pemijahan, satu ekor induk dapat 000 butir telur dengan persentase induk yang mengeluarkan telur 8-10% dari jumlah induk yang memijah. Rendahnya persentase induk mengeluarkan telur diduga karena induk abalon yang matang gonad tingkat akhir atau yang benar-benar siap memijah jumlahnya sedikit (Sudarmawan et al. , 2. Gambar 11. Kegiatan pemanenan telur Telur yang sudah terkumpul di dalam bak kolektor kemudian dibilas menggunakan air bersih dan ditampung di dalam wadah penetasan telur dengan kepadatan 200-500 telur/L. Wadah penetasan telur diberi aerasi dengan intensitas tekanan gelembung kecil agar telur menyebar secara merata pada wadah tersebut. Telur atau trochophore akan terlihat mengambang dengan warna hijau Sampel telur diambil sebanyak 1 mL untuk diamati derajat pembuahan dan penetasan telur menggunakan pipet tetes. Sampel dihitung menggunakan sedgewick rafter dan diamati di bawah mikroskop. Perkembangan telur abalon hingga mencapai fase veliger berlangsung selama 8 jam seperti yang ditunjukkan pada Tabel 5. Tabel 5. Perkembangan embriogenesis abalon To Cite this Paper: Iskandar. Jannar. AB. Sujangka. Muslim. , 2022. Teknologi Pembenihan Abalon Haliotis squamata Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Secara Berkelanjutan. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 17-31 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI Menit ke - Fase Hasil pengamatan Deskripsi Fertilisasi Telur dibungkus oleh selaput gelatin. Ukuran telur 0,18 mm dengan ukuran inti telur 0,16 mm dan ketebalan selaput gelatin 0,02 mm Dua sel Inti telur mulai membelah menjadi dua sel Empat sel Pembelahan sel dari dua menjadi empat sel Delapan sel Empat sel telur membelah masingmasing menjadi dua sel sehingga jumlah sel di dalam satu buah telur sebanyak delapan sel Morula Tiap sel membelah sehingga menghasilkan banyak sel yang membentuk gumpalan Gastrula Mulai terbentuk suatu individu akibat dari pembelahan sel secara terus menerus Trochopore Lapisan gelatin mulai menipis dan bergerak di dalam sel Veliger Individu menetas menjadi larva yang bergerak dan melayang di kolom air dan memiliki rambut Pemeliharaan Larva Kegiatan pemeliharaan larva dilakukan di hatchery semi indoor hingga larva mencapai ukuran Penggunaan hatchery semi indoor bertujuan untuk memudahkan pertumbuhan bentik diatom sebagai pakan alami larva yang membutuhkan paparan cahaya matahari. Persiapan wadah pemeliharaan larva dilakukan 3 minggu sebelum penebaran larva. Persiapan wadah dimulai dari To Cite this Paper: Iskandar. Jannar. AB. Sujangka. Muslim. , 2022. Teknologi Pembenihan Abalon Haliotis squamata Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Secara Berkelanjutan. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 17-31 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI membersihkan wadah dengan cara menyikat dasar dan dinding wadah. Wadah dibilas menggunakan air laut yang telah melewati proses filtrasi hingga bersih. Pengeringan wadah dilakukan dengan cara mendorong air yang tersisa menggunakan wiper karet, selanjutnya wadah dibiarkan terkena cahaya matahari. Rearing plate yang akan digunakan disusun ke dalam wadah sebanyak 25 unit setiap bak. Rearing plate merupakan potongan-potongan atap supervynil bergelombang yang dimodifikasi sebagai tempat menempelnya abalon pada stadia veliger dan pakan alami fitoplankton diatom. Rearing plate terbuat dari atap plastik supervynil bergelombang yang disusun menggunakan batang aluminium. Wadah diisi dengan air laut hingga penuh dan diberi aerasi sebanyak 4 titik di setiap bak. Penebaran dan Pemeliharaan Larva Penebaran larva dilakukan setelah telur yang terbuahi diinkubasi dalam wadah penetasan telur selama 8-10 jam dan menetas menjadi veliger. Larva ditebar ke dalam wadah pemeliharaan setelah air di dalam wadah telah disirkulasi selama 24 jam . low throug. dan di dalamnya sudah terdapat bentik diatom yang menempel pada rearing plate. Veliger abalon ditebar dengan kepadatan 100200 veliger/L (Gambar . Gambar 12. Kegiatan penebaran larva Wadah pemeliharaan diberi aerasi dengan tekanan udara kecil. Air di dalam wadah tidak diganti, karena veliger masih bersifat planktonis hingga hari ketiga dan pada hari keempat abalon mulai menempel pada rearing plate (Permana et al. , 2. Pergantian air di dalam wadah dilakukan setelah abalon berumur 7-10 hari dan larva telah kuat menempel pada substrat menggunakan sistem air mengalir . low throug. dengan debit air 0,5-1 L/menit. Pemberian Pakan dan Pengelolaan Kualitas Air Pemeliharaan Larva Ketersediaan pakan alami merupakan faktor penting dalam kegiatan pemeliharaan larva abalon. Penambahan konsentrat bibit bentik diatom merupakan cara pemberian pakan pada larva abalon yang diberikan setiap 7 hari sekali. Selama penambahan konsentrat bentik diatom, sirkulasi air dihentikan selama 3-5 hari, karena bentik diatom belum menempel pada rearing plate. Bentik diatom diberikan hingga larva berumur 60 hari dengan ukuran 0,5-1 cm. Larva yang telah mencapai umur 60 hari selanjutnya diberi pakan makroalga jenis Gracilaria sp. dan Ulva sp. dengan metode ad libitum (Permana et al. , 2. Larva sangat rentan terhadap kualitas air yang ekstrem (Faturrahman, 2. Pengelolaan kualitas air dalam wadah pemeliharaan larva merupakan faktor penting dalam mempertahankan derajat kelangsungan hidup larva. Pengelolaan kualitas air ini dilakukan dengan cara sirkulasi air menggunakan air yang sudah difiltrasi menggunakan filter fisik yang sama seperti pemeliharaan Sirkulasi air ini dimulai setelah 7-10 hari setelah larva ditebar dan saat larva sudah menempel kuat pada substrat. Penyiponan diperlukan saat sisa pakan atau kotoran sudah menumpuk di dasar wadah pemeliharaan, untuk mengurangi kadar amoniak dalam air. Pengukuran kualitas air dilakukan rutin seminggu sekali. Hasil pengukuran kualitas air pemeliharaan larva disajikan dalam Tabel 6. Tabel 6. Data hasil pengukuran kualitas air media pemeliharaan larva Parameter Suhu Salinitas Satuan AC Baku Mutu Hasil Uji . inggu ke-) i >30 To Cite this Paper: Iskandar. Jannar. AB. Sujangka. Muslim. , 2022. Teknologi Pembenihan Abalon Haliotis squamata Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Secara Berkelanjutan. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 17-31 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI DO Nitrat Nitrit Amoniak Berdasarkan hasil pengukuran parameter kualitas air (Tabel . , menunjukkan bahwa standar nilai kisaran rata-rata masih layak untuk pemeliharaan larva abalon. Suhu media pemeliharaan berkisar antara 28-28,50C. pH 7,4- 8,3. salinitas 31-33 ppt. DO 5,1-6,2 mg/L. nitrat 0,001- 0,01 mg/L. 0,006-0,02 mg/L dan amonia 0,01-0,009 mg/L. Pebriani & Dewi . , menyebutkan bahwa suhu merupakan parameter kualitas air yang sangat penting untuk diamati karena perubahan suhu yang signifikan akan mempengaruhi kondisi kualitas air lainnya seperti jumlah oksigen terlarut sehingga akan mempengaruhi kehidupan organisme di perairan, lebih lanjut disebutkan bahwa suhu yang optimal untuk abalon berkisar antara 27-290C, sedangkan salinitas optimum antara 31-35 ppt. Pencegahan Hama dan Penyakit Hama yang menjadi kompetitor bagi larva abalon untuk mendapatkan makanan dari rearing plate yang ditumbuhi bentik diatom yaitu larva chironomus sp. Larva chironomus memakan bentik diatom dengan sangat cepat sehingga menyebabkan larva abalon kekurangan pakan yang menyebabkan abalon mati. Larva chironomus membentuk koloni pada bagian dasar wadah, dinding dan permukaan rearing plate yang berasal dari kotoran dan dari campuran bentik diatom yang di dalamnya terdapat persembunyian larva chironomus tersebut. Penanganan hama larva chironomus dengan cara penyiponan pada dasar wadah, dinding, dan permukaan rearing plate (Lain, 2. Pemanenan Juvenil Juvenil abalon akan mulai banyak menempel pada pakan . setelah 60 hari pemeliharan. Juvenil yang telah berumur lebih dari 60 hari dipanen, kemudian dipindahkan ke dalam wadah pemeliharaan Pemanenan dilakukan pada saat pagi atau sore hari untuk menghindari terjadinya stres pada Metode pemanenan yang digunakan adalah panen parsial dengan standar ukuran panen diatas 1 cm, sedangkan juvenil yang dibawah 1 cm dibiarkan tetap pada wadah pemeliharaan larva. Pemanenan juvenil dilakukan menggunakan spatula plastik pipih dan tipis agar tidak melukai daging dari juvenil. Pemeliharaan Benih Persiapan Wadah dan Penebaran Juvenil Persiapan wadah berupa bak fiber yang terletak pada hatchery indoor diawali dengan pencucian wadah dengan cara menyikat bagian dasar dan bak, lalu dibilas dengan air laut. Desinfeksi wadah dilakukan dengan cara pemberian kalsium hipoklorit dosis 30 gr/L didiamkan selama 24 jam dan dibilas dengan air laut (Supriyono et al. , 2. Wadah yang telah didesinfeksi diisi dengan air laut hingga penuh dan diberi aerasi kuat. Juvenil abalon yang berukuran dibawah 2 cm merupakan stadia yang sangat rentan terhadap kondisi lingkungan ekstrem dan memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan stadia lain. Produksi benih abalon dengan ukuran siap tebar merupakan salah satu upaya untuk mengatasi hal itu (Setyabudi et al. , 2. Juvenil ditebar ke dalam keranjang plastik berbentuk persegi panjang dengan dimensi 40 cm x 30 cm x 13 cm yang dilengkapi shelter dengan panjang 30 cm. Abalon ditebar dengan kepadatan 150-200 ekor tiap keranjang (Gambar Keranjang disusun dalam wadah pemeliharaan benih berupa bak fiber yang berukuran 3 m x 1 m x 0,6 m. To Cite this Paper: Iskandar. Jannar. AB. Sujangka. Muslim. , 2022. Teknologi Pembenihan Abalon Haliotis squamata Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Secara Berkelanjutan. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 17-31 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI Gambar 13. Kegiatan penebaran juvenil Pemberian Pakan dan Pengelolaan Kualitas Air Pemberian pakan pada juvenil ukuran dibawah 2 cm menggunakan makroalga jenis Ulva sp. Ulva sp. memiliki tekstur lebih lembut dibandingkan dengan Glacillaria sp. , setelah juvenil berukuran 2-3 cm akan diberikan pakan gabungan antara Ulva sp. dan Glacillaria sp. Rahmawati et al. dalam Marzuqi et al. , . menyebutkan bahwa rumput laut jenis Ulva sp. dan Gracilaria sp. jenis rumput laut yang baik untuk pertumbuhan abalon (H. disbanding jenis rumput laut lainnya, sementara menurut (Macchiavello & Bulboa, 2. dengan menggunakan Gracilaria sp. sebagai pakan dapat memacu pertumbuhan dan dianggap cocok untuk budidaya abalon. Pakan diberikan secara ad libitum dengan frekuensi dua hari sekali (Kuncoro et al. , 2. Juvenil diberi pakan dengan dosis . eeding rat. antara 20-30 % (Permana et al. , 2. dari biomassa per hari. Pemberian pakan dilakukan pada pagi hari pukul 08. Pengelolaan kualitas air pemeliharaan benih dilakukan dengan menerapkan sirkulasi air dan Penyiponan dilakukan setiap pagi hari dengan menyipon sisa pakan dan kotoran yang terdapat pada bagian dasar wadah pemeliharaan. Pergantian air sebanyak 50% dilakukan setelah Pencegahan Hama dan Penyakit Hama pengganggu selama pemeliharaan juvenil adalah udang-udang kecil yang berasal dari pakan rumput laut. Hama tersebut menjadi kompetitor abalon dalam mengumpulkan nutrisi dari pakan dan dapat mengganggu metabolisme abalon dengan cara masuk ke dalam lubang dan celah cangkang Langkah dalam mencegah masuknya hama adalah mencuci bersih pakan sebelum diberikan pada larva. Hama yang sudah menempel pada rumput laut dapat diberantas dengan teknik perendaman pakan menggunakan air tawar selama 15 menit sehingga hama yang menempel akan mati terapung di permukaan air. Pemanenan Benih Pemanenan benih dilakukan pada saat benih telah mencapai ukuran panjang cangkang 2-3 cm dengan masa pemeliharaan 2-3 bulan setelah penebaran juvenil (Gambar . Benih yang dipanen akan dijual atau dilakukan pembesaran hingga ukuran konsumsi. Pemanenan benih dilakukan pada pagi hari untuk menghindari stres pada abalon. Gambar 14. Pemanenan benih berukuran 2-3 cm Sortir. Grading dan Pengemasan Benih Sortir merupakan penyeleksian benih abalon dengan ukuran panjang cangkang yang seragam. Penyortiran dilakukan dengan memisahkan abalon yang sudah masuk ukuran siap jual menggunakan spatula plastik secara perlahan untuk dipindahkan ke wadah lainnya. Abalon yang masih berukuran di bawah 3 cm dibiarkan di dalam wadah pemeliharaan hingga benih mencapai ukuran yang layak jual. Grading merupakan kegiatan penyeleksian benih berdasarkan kualitas Kualitas benih yang layak memiliki kriteria yang sehat, kuat, tidak cacat dan memiliki warna Kualitas benih ini akan menentukan keberhasilan proses pemeliharaan selanjutnya dalam To Cite this Paper: Iskandar. Jannar. AB. Sujangka. Muslim. , 2022. Teknologi Pembenihan Abalon Haliotis squamata Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Secara Berkelanjutan. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 17-31 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI hal kecepatan adaptasi, respon terhadap pakan yang diberikan dan kecepatan peningkatan ukuran panjang cangkang sebagai bagian dari proses pertumbuhan (Marzuqi et al. , 2. Kegiatan pengemasan benih terdiri dari tiga tahap yaitu pengemasan benih dengan kantong jaring berukuran 20 cm x 10 cm pada tahap pertama (Gambar . Tujuan pengemasan menggunakan kantong jaring untuk memudahkan pengambilan benih pada saat benih sudah sampai kepada Padat tebar dalam pengemasan tahap ini ditentukan berdasarkan jarak pengiriman ke lokasi konsumen. Kepadatan benih ukuran 2-3 cm untuk pengiriman jarak dekat, dalam 1 kantong jaring diisi antara 75-100 individu benih, sedangkan untuk pengiriman jarak jauh, kepadatan benih ukuran 2-3 cm dalam 1 kantong jaring berkisar antara 35-50 individu benih. Pada saat pengiriman benih, dimasukkan juga Gracillaria sp. Kedalam kantong jaring berisi benih yang digunakan sebagai pakan benih pada saat proses pengiriman. Kantong jaring yang sudah berisi benih dan pakan, diikat menggunakan tali nilon seperti yang ditunjukkan pada Gambar 15. Dalam tahap pengemasan ini, kantong jaring akan dibiarkan dalam wadah pemeliharaan dan diberi aerasi sebelum diproses pada tahapan pengemasan selanjutnya. Gambar 15. Pengemasan benih menggunakan kantong jaring Pengemasan tahap kedua adalah benih yang sudah dikemas menggunakan kantong jaring dimasukkan ke dalam kantong plastik PE transparan ukuran 120 cm x 60 cm dengan kapasitas 60 Satu kantong plastic kemas berisi 20 kantong jaring yang diisi 25 % air dan 75 % gas oksigen (Gambar 16. Kantong plastik selanjutnya diikat menggunakan karet gelang sebanyak 3-5 buah per plastik. Pengemasan tahap ketiga menggunakan box styrofoam ukuran 120 cm x 40 cm x 25 cm dengan ketebalan 3cm, setiap box styrofoam diisi 1 kantong plastik dan 1 buah es batu yang dibungkus kertas koran (Gambar 16. Gambar 16. Pengemasan benih menggunakan plastik packing . Pengemasan benih menggunakan box styrofoam Pengangkutan Benih Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengangkutan adalah jarak tempuh, suhu, oksigen terlarut, kepadatan, dan sisa metabolisme yang dikeluarkan. Tingkat metabolisme tubuh akan berdampak pada tingkat konsumsi oksigen selama pengangkutan (Pebriani & Dewi, 2. Untuk mengurangi tingkat pergerakan abalon yang pada akhirnya berpengaruh terhadap tingkat metabolisme tubuh selama pengangkutan, diberikan batu es yang mampu bertahan selama 48 jam To Cite this Paper: Iskandar. Jannar. AB. Sujangka. Muslim. , 2022. Teknologi Pembenihan Abalon Haliotis squamata Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Secara Berkelanjutan. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 17-31 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI proses pengangkutan (Maraja et al. , 2. Pengangkutan dilakukan pada pagi hari bertujuan untuk mencegah terjadinya stres pada benih. KESIMPULAN Induk abalon yang ditebar dalam studi ini diperoleh dari alam dan hasil budidaya. Induk abalon dari alam mempunyai kondisi prima dan selera makan tinggi dan biasanya mempunyai fekunditas dan kualitas telur yang baik namun kekurangannya memerlukan proses adaptasi yang lebih lama di lingkungan yang baru. Dalam pemeliharaannya, induk diberi pakan berupa rumput laut Gracillaria dan Ulva sp. Proses pemijahan abalon menggunakan teknik pemijahan secara alami dengan sistem massal dengan rasio pemijahan antara induk abalon jantan dan betina adalah 1:3. Dalam satu kali pemijahan, satu ekor induk dapat menghasilkan 400. 000 butir telur dengan persentase induk yang mengeluarkan telur 8-10% dari jumlah induk yang memijah. Juvenil abalon yang telah berumur lebih dari 60 hari dipanen untuk dipelihara pada tahap berikutnya. Pemanenan benih dilakukan pada saat benih telah mencapai ukuran panjang cangkang 2-3 cm dengan masa pemeliharaan 2-3 bulan setelah penebaran juvenil. DAFTAR PUSTAKA