eISSN 3090-7985 & pISSN 3090-5125 org/10. 63822/85qsjz83 Vol. No. Juni Tahun 2025 Hal. Homepage https://ojs. id/index. php/ib Penguatan Nilai-nilai Aswaja An Nahddliyah di Majlis Taklim Nurul Hidayah Kelurahan Tosaren Kota Kediri Siti MahmudahA. Naila Azahra2 Prodi Peternakan. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Kediri Kediri. Indonesia1,2 Email Korespodensi: sitimahmudah@uniska-kediri. INFO ARTIKEL ABSTRACT Histori Artikel: The strengthening of Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. An-Nahdliyah values at the grassroots level is a vital strategy to counter ideological threats in the digital era. This community service program was conducted at Majlis Taklim Nurul Hidayah. Tosaren Subdistrict. Kediri City, whose members consist primarily of Muslimat women. The goal was to improve moderate religious understanding based on Aswaja through educational, participatory, and tradition-based Islamic approaches. The methods included interactive lectures, group discussions, book reading sessions, and practical religious rituals such as tahlil, shalawat, and istighotsah. The results showed a significant increase in participants' understanding of core Aswaja principles such as tawassuth . , tasamuh . , tawazun . and iAotidal . The program also successfully fostered critical awareness among participants regarding misleading religious content circulating online. Key supporting factors included high participant enthusiasm, strong NU cultural roots, and support from local religious leaders. Nevertheless, challenges remain, including limited access to user-friendly Aswaja literature and the need for sustained mentoring. This activity affirms the potential of majlis taklim as centers of religious moderation at the community level. Similar programs are recommended to be replicated with sustainable support across sectors. Diterima Disetujui Diterbitkan 19-06-2025 23-06-2025 26-06-2025 Keyword: Aswaja An Nahdliyah Nahdlatul Ulama. Islamic Study Group Fourth Strengthening of value Copyright A 2025 The Author. This article is distributed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. s 74 Penguatan Nilai-nilai Aswaja An Nahddliyah di Majlis Taklim Nurul Hidayah Kelurahan Tosaren Kota Kediri (Mahmudah, et al. PENDAHULUAN Dalam konteks keindonesiaan yang majemuk, eksistensi paham keagamaan yang moderat menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas sosial dan kerukunan umat beragama. Salah satu pendekatan keagamaan yang telah terbukti mampu memainkan peran strategis dalam merawat nilai-nilai moderasi dan toleransi adalah Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. Aswaja, sebagaimana dipahami dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), merupakan manhaj berpikir keagamaan yang menekankan prinsip tawassuth . , tawazun . , tasamuh . , dan iAotidal/ adil (Sahal & Aziz, 2. Paham ini tidak hanya merupakan pilihan teologis, melainkan juga respons sosial terhadap berbagai tantangan zaman. Aswaja An-Nahdliyah merupakan hasil kristalisasi dari ajaran ulama salaf yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh NU, dan telah menjadi basis ideologi keagamaan mayoritas umat Islam di Indonesia (Wahid. Namun, dalam dua dekade terakhir, munculnya paham transnasional seperti salafisme puritan dan ideologi keagamaan radikal telah mengancam eksistensi nilai-nilai Aswaja di akar rumput. Hal ini tidak terlepas dari masifnya penyebaran narasi keagamaan melalui media sosial, buku terjemahan, dan khutbahkhutbah tanpa sanad keilmuan yang valid (Zaini, 2. Akibatnya, sebagian masyarakat menjadi terpapar paham yang cenderung eksklusif, intoleran, bahkan anti-tradisi. Salah satu kelompok masyarakat yang rentan terhadap disinformasi keagamaan adalah jamaah majlis taklim, terutama yang berada di kawasan urban-periferal. Majlis taklim yang seharusnya menjadi pusat pendidikan Islam tradisional dan penguatan akhlakul karimah, dalam beberapa kasus justru menjadi sasaran infiltrasi ideologi yang menyimpang dari tradisi Aswaja (Rohmah, 2. Oleh karena itu, penting bagi para akademisi, praktisi keagamaan, dan lembaga pendidikan Islam untuk terlibat aktif dalam proses revitalisasi nilai-nilai Aswaja di ruang-ruang pengajian masyarakat. Majlis Taklim Nurul Hidayah yang berada di Kelurahan Tosaren. Kota Kediri, merupakan salah satu komunitas pengajian ibu-ibu Muslimat yang cukup aktif dan memiliki potensi besar dalam pelestarian tradisi keislaman moderat. Namun, berdasarkan observasi awal, masih ditemukan kesenjangan pemahaman jamaah terhadap prinsip dasar Aswaja. Banyak dari mereka yang melaksanakan amaliah NU seperti tahlilan, manaqiban, dan istighotsah secara rutin, namun tidak memahami dasar epistemologis maupun historis dari praktik tersebut (Samsul, 2. Hal ini menyebabkan jamaah menjadi rentan ketika berhadapan dengan doktrin yang mempertentangkan praktik keagamaan lokal. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, tim pelaksana berupaya melakukan penguatan nilainilai Aswaja secara edukatif dan aplikatif. Tujuannya adalah agar para jamaah tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga memahami argumentasi keagamaan yang mendasarinya. Dengan memahami Aswaja secara menyeluruh, baik secara teologis, fiqih, maupun tasawuf diharapkan jamaah mampu menjadi agen moderasi di lingkungan masing-masing (Mufid, 2. Kegiatan ini juga dilatarbelakangi oleh pentingnya membangun benteng ideologis bagi masyarakat melalui pendekatan nonformal yang berbasis pada kearifan Dalam hal ini, peran majlis taklim bukan hanya sebagai ruang ritual, tetapi juga sebagai pusat pendidikan keagamaan yang transformative (Anam, 2. Oleh karena itu, kegiatan ini tidak hanya menyasar peningkatan pemahaman, tetapi juga penguatan kelembagaan dan revitalisasi narasi keagamaan yang berlandaskan Islam rahmatan lil Aoalamin. METODE PELAKSANAAN Subyek kegiatan pengabdian Masyarakat ini adalah Majlis Taklim ibu-ibu Nurul Hidayah yang beranggotan sekitar 50 jamaAoah. Majlis taklim ini berada di Kelurahan Tosaren Kota Kediri. Waktu a 75 Penguatan Nilai-nilai Aswaja An Nahddliyah di Majlis Taklim Nurul Hidayah Kelurahan Tosaren Kota Kediri (Mahmudah, et al. pelaksanaan kegiatan dilakukan selama satu bulan pada 3-30 April 2025 yang bertempat di Masjid Darussalam maupun berkeliling di rumah jamaah di Kelurahan Tosaren. Para peserta yang mengikuti kegiatan berjumlah 30 orang yang berasal dari ibu-ibu di sekitar Keluran Tosaren berusia 40 tahun keatas dengan latar belakang yang berbeda-beda. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini terdiri dari: Sosialisasi: Pengenalan konsep-konsep dasar Aswaja An-Nahdliyah. Tahap awal kegiatan dilakukan dengan sosialisasi kepada peserta majlis taklim. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan memperjelas pemahaman dasar mengenai Ahlussunnah wal JamaAoah An-Nahdliyah (Aswaja An-Nahdliya. Materi yang disampaikan mencakup: Sejarah perkembangan Aswaja di Indonesia Prinsip dasar Aswaja (Tawassuth. Tawazun. Tasamuh, dan TaAoadu. Pendekatan fikih . adzhab SyafiAo. , teologi (AsyAoari dan Maturid. , serta tasawuf (Ghazali dan Junaid al-Baghdad. Pentingnya menjaga tradisi keagamaan lokal berbasis Aswaja dalam kehidupan sehari-hari Sosialisasi disampaikan secara komunikatif menggunakan media presentasi dan leaflet agar mudah dipahami oleh seluruh peserta, khususnya ibu-ibu majlis taklim yang menjadi sasaran utama kegiatan. Diskusi Interaktif: Tanyajawab seputar isu kontemporer . adikalisme, toleransi, khilafiya. Setelah pemaparan materi, dilakukan sesi diskusi terbuka yang memberikan ruang bagi peserta untuk menyampaikan pertanyaan, keresahan, maupun pengalaman mereka terkait praktik keagamaan di masyarakat. Beberapa isu kontemporer yang dibahas antara lain: Tantangan dakwah Aswaja di tengah arus digital dan media sosial Fenomena kelompok keagamaan yang cenderung eksklusif atau radikal Perbedaan praktik keagamaan antar madzhab dan bagaimana sikap toleransi menurut Aswaja Posisi perempuan dalam ruang keagamaan dan dakwah Diskusi ini memperkuat aspek dialogis dan partisipatif, serta mendorong peserta lebih aktif dalam memahami nilai-nilai Aswaja secara aplikatif. Praktik Keagamaan: Pendampingan dalam membaca tahlil, shalawat, dan praktik ibadah amaliyah NU. Sebagai bentuk penguatan praktik keagamaan berbasis Aswaja, tim pelaksana melakukan pendampingan langsung pada kegiatan keagamaan rutin di majlis taklim, seperti: Tahlil: Membimbing dalam susunan dan bacaan tahlil yang sesuai dengan tradisi NU Yasinan: Menjelaskan makna bacaan surah Yasin dan adab pembacaannya Istighotsah: Menanamkan kesadaran spiritual melalui doa bersama sebagai bagian dari tradisi Aswaja Kegiatan ini dilakukan dengan pendekatan edukatif dan persuasif, sehingga peserta merasa nyaman dan antusias untuk mempertahankan tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun. Evaluasi: Pre-test dan post-test pemahaman serta wawancara singkat dengan peserta. Untuk mengukur efektivitas kegiatan, dilakukan evaluasi dengan menggunakan instrumen pretest dan post-test. Evaluasi ini berfungsi untuk: Mengetahui tingkat pemahaman peserta sebelum dan sesudah kegiatan Mengukur peningkatan pengetahuan terkait konsep dan praktik Aswaja Memberikan umpan balik terhadap metode dan materi yang digunakan a 76 Penguatan Nilai-nilai Aswaja An Nahddliyah di Majlis Taklim Nurul Hidayah Kelurahan Tosaren Kota Kediri (Mahmudah, et al. Tes dilakukan dalam bentuk pilihan ganda dan pertanyaan terbuka. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta terhadap nilai-nilai Aswaja AnNahdliyah. Menguraikan metode pelaksanaan pengabdian yang dilakukan. Metode pelaksanaan diuraikan dari tahapan awal sampai akhir pengabdian yang dilakukan. Metode pelaksanaan bisa dibagi menjadi tiga sub bab yaitu bagian pra pelaksanaan, bagian pelaksanaan dan bagian evaluasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Majlis Taklim Nurul Hidayah. Kelurahan Tosaren. Kota Kediri membuktikan bahwa proses internalisasi nilai-nilai Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. An-Nahdliyah di tingkat masyarakat bawah masih sangat relevan dan mendesak. Berdasarkan observasi awal, para jamaah memiliki semangat keagamaan yang tinggi namun belum semuanya memahami konsep-konsep ideologis dalam Aswaja secara mendalam. Hal ini terlihat dari hasil pre-test yang menunjukkan hanya sekitar 35% peserta memahami makna tasamuh, tawassuth, tawazun, dan iAotidal secara utuh (Abdul Wahid, 2. Metode penyuluhan, diskusi interaktif, dan pendampingan amaliah keagamaan menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kesadaran ideologis jamaah. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Hasil post-test menunjukkan peningkatan pemahaman, di mana 78% peserta mampu menjelaskan kembali nilai-nilai Aswaja dengan baik. Mereka juga menunjukkan kemampuan membedakan antara paham moderat dan paham radikal dalam Islam (Syamsul MaAoarif, 2. Salah satu sesi yang paling menarik perhatian jamaah adalah pembacaan dan penjelasan isi dari Qawa'id Ahlus Sunnah wal Jama'ah karya KH. Hasyim Asy'ari (KH. Hasyim AsyAoari, 2. Kitab ini dipilih karena relevan dan mudah dikontekstualisasikan dalam kehidupan sosial jamaah. Penekanan pada pentingnya sanad keilmuan, sikap tawassuth, dan loyalitas kepada ulama-ulama ahlussunnah menjadi bagian penting dari penguatan Aswaja dalam kegiatan ini. Dari sisi praktik, penguatan nilai Aswaja juga dilakukan melalui pelaksanaan tahlilan, pembacaan shalawat, istighotsah, dan penguatan tradisi keagamaan yang selama ini telah dijalankan oleh warga NU. Hal ini sekaligus menjadi klarifikasi bahwa amalan-amalan tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam, sebagaimana sering disalahpahami oleh kelompok transnasional atau eksklusif (Ahmad Zaini, 2. Tradisi ini menjadi bagian dari Islam Nusantara yang bersifat adaptif terhadap budaya lokal namun tetap dalam kerangka syariat Islam (Sahal Mahfudz, 2. Selain aspek pemahaman, kegiatan ini juga menyasar pada isu-isu kontemporer, seperti maraknya hoaks keagamaan, intoleransi, dan paham radikal yang sering tersebar melalui media sosial. Dalam sesi diskusi, sebagian besar jamaah mengakui bahwa mereka sebelumnya menerima informasi keagamaan dari internet tanpa proses tabayyun. Setelah kegiatan ini, jamaah lebih kritis dan menyadari pentingnya sumber keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan, khususnya dari para ulama NU (M. Zain, 2. Dari pengabdian Masyarakat ini diketahui bahwa kegiatan ini turut memperkuat rasa kebersamaan di antara jamaah. Diskusi tentang keberagaman mazhab, perbedaan praktik ibadah, serta pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah menjadi momen pembelajaran yang transformatif. Jamaah menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap perbedaan dan tidak mudah menghakimi kelompok lain. Hal ini menjadi bukti bahwa penguatan Aswaja bukan hanya soal pemahaman teks, tetapi juga transformasi sikap keberagamaan a 77 Penguatan Nilai-nilai Aswaja An Nahddliyah di Majlis Taklim Nurul Hidayah Kelurahan Tosaren Kota Kediri (Mahmudah, et al. yang inklusif. Dari sisi kelembagaan. Majlis Taklim memiliki potensi besar sebagai pusat pendidikan ideologis masyarakat. Selain hasil positif, kegiatan ini juga mengungkap adanya tantangan. Salah satunya adalah kurangnya literatur Aswaja dalam bahasa yang mudah dipahami oleh jamaah majlis taklim. Banyak kitab-kitab rujukan yang masih berbahasa Arab dan membutuhkan pendampingan lebih lanjut. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini sangat perlu dilanjutkan secara berkelanjutan dengan dukungan dari akademisi, tokoh agama, serta pemerintah lokal karena penguatan kelembagaan majlis taklim menjadi kebutuhan mendesak ke depan (Anam Khoiri, 2. Gambar 1. Pemberian Sosialisasi Pengenalan Konsep Aswaja Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan literasi keagamaan moderat dan membentuk benteng ideologis masyarakat akar rumput. Hal ini sejalan dengan tujuan NU sebagai penjaga Islam wasathiyah dan keutuhan NKRI (Nur Kholis, 2. Kegiatan ini juga bisa direkomendasikan untuk direplikasi di majlis taklim lain yang memiliki karakteristik serupa. Berikut hasil pre test dan post test pada kegiatan pengabdian Masyarakat: Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Pre-Test dan Post-Test Pemahaman Nilai Aswaja Aspek yang Diukur Menyebutkan prinsip dasar Aswaja awassuth, ds. Memahami dasar amaliah NU . Mengenali ciri paham radikal vs moderat Memilih rujukan keagamaan yang valid Pre-Test (%) Post-Test (%) Peningkatan (%) 65% 43% 54% 57% Tabel 2. Distribusi Skor Peserta Pre-Test dan Post-Test Rentang Skor (%) 0Ae40 41Ae60 61Ae80 81Ae100 Total Jumlah Peserta (Pre-Tes. 6 orang . %) 13 orang . 8 orang . 3 orang . %) 30 orang Jumlah Peserta (Post-Tes. 0 orang . %) 4 orang . 14 orang . 12 orang . %) 30 orang a 78 Penguatan Nilai-nilai Aswaja An Nahddliyah di Majlis Taklim Nurul Hidayah Kelurahan Tosaren Kota Kediri (Mahmudah, et al. Temuan pada saat Pre-Test: 20% peserta mampu menyebutkan minimal dua prinsip dasar Aswaja . awassuth, tasamuh, tawazun, iAotida. 63% peserta belum mengetahui bahwa amaliah NU seperti tahlilan, istighotsah, dan manaqiban memiliki dasar dalam tradisi Ahlussunnah wal JamaAoah. 78% peserta tidak dapat membedakan antara paham moderat dan paham ekstrem dalam Islam. Sebagian besar jamaah menerima informasi keagamaan dari media sosial tanpa menyaring sumbernya . anya 4 orang yang menyebut kiai/ustadz NU sebagai rujukan utam. Hasil pre-test menunjukkan bahwa mayoritas peserta berada pada tingkat pemahaman sedang hingga rendah terhadap nilai-nilai Aswaja. Kegiatan penguatan menjadi penting agar jamaah tidak hanya mengikuti amaliah secara turun-temurun, tetapi juga memahami landasan keilmuan dan ideologinya secara benar. Temuan setelah dilakukan Post-Test: Sebagian besar jamaah dapat menyebutkan minimal tiga dari empat prinsip Aswaja dengan penjelasan aplikatif. Mayoritas peserta dapat menjelaskan dalil dan alasan di balik tahlilan, istighotsah, dan maulid Nabi dalam tradisi NU. Jamaah menunjukkan sikap lebih selektif dalam menerima informasi keagamaan dari internet. Terdapat peningkatan pemahaman terhadap bahaya ideologi transnasional dan pentingnya sanad Hasil post-test menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman jamaah terhadap nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah. Hal ini menandakan keberhasilan pendekatan edukatif, partisipatif, dan kontekstual dalam kegiatan pengabdian. Majlis taklim terbukti efektif sebagai media penguatan literasi keagamaan moderat di masyarakat akar rumput. KESIMPULAN Kegiatan penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. An-Nahdliyah di Majlis Taklim Nurul Hidayah Kelurahan Tosaren Kota Kediri memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman ideologis dan praktik keagamaan moderat di kalangan jamaah. Berdasarkan hasil evaluasi, terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman jamaah terhadap prinsip-prinsip Aswaja seperti tasamuh . , tawassuth . , tawazun . , dan iAotidal . Selain itu, jamaah juga menunjukkan peningkatan kesadaran kritis terhadap isu-isu kontemporer seperti radikalisme digital, intoleransi, dan penyimpangan akidah. Kegiatan ini berhasil memperkuat pemahaman jamaah melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, termasuk pembacaan kitab QawaAoid Ahlus Sunnah wal JamaAoah, pelatihan amaliah NU . ahlil, shalawat, istighotsa. , serta diskusi interaktif terkait tantangan keberagamaan masa kini. Majlis taklim terbukti menjadi ruang strategis dalam membumikan nilai-nilai Islam moderat di tingkat komunitas, khususnya bagi kalangan ibu-ibu Muslimat sebagai tokoh informal di masyarakat. Adapun faktor pendukung dari keberhasilan program ini meliputi: Antusiasme dan keterbukaan jamaah terhadap materi Aswaja, kedekatan kultural masyarakat dengan tradisi NU yang sudah mengakar, peran aktif pengurus majlis taklim dalam mendukung keberlangsungan kegiatan, metode penyampaian yang komunikatif dan kontekstual. a 79 Penguatan Nilai-nilai Aswaja An Nahddliyah di Majlis Taklim Nurul Hidayah Kelurahan Tosaren Kota Kediri (Mahmudah, et al. Sementara itu, terdapat pula beberapa faktor penghambat, antara lain: keterbatasan literatur Aswaja yang mudah dipahami oleh awam, masih minimnya pendampingan rutin dari kalangan akademisi dan ulama muda, maraknya informasi keagamaan yang menyesatkan di media sosial tanpa filter, kurangnya pemahaman sebagian jamaah terhadap pentingnya sanad keilmuan dalam ajaran Islam. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, disarankan agar kegiatan semacam ini dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak pihak, termasuk institusi pendidikan tinggi, organisasi keagamaan, dan pemerintah daerah. Revitalisasi majlis taklim sebagai basis pendidikan keagamaan yang moderat merupakan kunci dalam menjaga harmoni sosial dan keutuhan Islam rahmatan lil Aoalamin di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. SARAN Berdasarkan pelaksanaan dan hasil evaluasi kegiatan penguatan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah di Majlis Taklim Nurul Hidayah, dapat disusun beberapa saran sebagai berikut: Penguatan Berbasis Literasi Keagamaan Populer Mengingat sebagian jamaah mengalami kesulitan memahami istilah dan konsep Aswaja secara teoritis, maka perlu disediakan literatur pendamping dalam bahasa Indonesia yang ringan dan aplikatif, seperti modul Aswaja bergambar, infografis, atau video singkat berbasis tradisi NU. Hal ini bertujuan untuk menjembatani antara praktik keagamaan yang sudah dilaksanakan dengan landasan ideologis yang Pendampingan Berkelanjutan oleh Akademisi dan Ulama Muda Salah satu kelemahan dalam kegiatan ini adalah keterbatasan waktu dan intensitas pendampingan. Oleh karena itu, disarankan agar perguruan tinggi dan pesantren lokal menjalin kerja sama jangka panjang dalam bentuk program rutin seperti pelatihan kader Aswaja, majelis bahtsul masaAoil, dan halaqah kitab turats agar pemahaman jamaah semakin mendalam dan sistematis. Digitalisasi Dakwah Aswaja Untuk menjawab tantangan arus informasi digital yang tidak selalu sejalan dengan prinsip Islam moderat, diperlukan pembuatan konten dakwah berbasis media sosial oleh majlis taklim atau komunitas NU lokal. Hal ini penting agar jamaah tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi agen penyebar nilai-nilai keagamaan yang damai dan toleran. Kegiatan Lanjutan dan Penguatan Jaringan Majlis Taklim Meskipun kegiatan pengabdian ini telah mencapai sebagian besar target, namun beberapa aspek seperti konsistensi penguatan pemahaman akidah, respons terhadap isu aktual, serta peran aktif jamaah dalam masyarakat masih perlu dikembangkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan kegiatan lanjutan seperti: Pelatihan pemateri perempuan . hatibah Aswaj. Program kaderisasi generasi muda NU di lingkungan Tosaren. Forum silaturahmi antar majlis taklim se-Kota Kediri untuk berbagi strategi dan materi. Dukungan Kebijakan dari Pemerintah Lokal Pemerintah kelurahan, kecamatan, hingga kota diharapkan dapat memberikan dukungan kebijakan dan anggaran kepada majlis taklim sebagai pusat penguatan moderasi beragama, misalnya melalui program bantuan pembinaan keagamaan, pelatihan guru ngaji berbasis Aswaja, dan penyediaan sarana edukasi Dengan mengoptimalkan keunggulan yang sudah tercapai dan memperbaiki kelemahan yang ada, a 80 Penguatan Nilai-nilai Aswaja An Nahddliyah di Majlis Taklim Nurul Hidayah Kelurahan Tosaren Kota Kediri (Mahmudah, et al. maka kegiatan serupa akan semakin berdampak luas, tidak hanya sebagai edukasi keagamaan tetapi juga sebagai upaya konkret membentengi masyarakat dari paham keagamaan yang ekstrem dan UCAPAN TERIMAKASIH Pengabdian ini tidak akan berhasil tanpa dukungan Ketua Majlis Taklim, para tokoh masyarakat Tosaren, serta partisipasi aktif seluruh jamaah. Terima kasih juga kepada kampus Universitas Islam Kadiri dan lembaga mitra yang memberikan fasilitas pada kegiatan pengabdian masyarakat ini. DAFTAR PUSTAKA