Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. Pengaruh Warna Logo Brand terhadap Brand Personality Gracia Diva Chandra. Laurentia Verina Halim S. Listyo Yuwanto Fakultas Psikologi graciachandra95@gmail. Abstrak- Brand personality merupakan salah satu alat komunikasi dan media promosi brand yang efektif dan dapat memunculkan kepercayaan konsumen. Oleh karena itu, brand personality perlu AudirancangAy, salah satunya dapat melalui logo Logo brand, khususnya elemen warna logo, dapat dimanfaatkan untuk memunculkan brand personality tertentu yang dapat menarik konsumen. Penelitian ini dilakukan untuk melihat lebih dalam pengaruh warna pada logo terhadap pembentukan brand personality. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa warna kuning dapat memengaruhi pembentukan brand personality excitement dan sincerity. Warna putih dapat memengaruhi pembentukan brand personality peacefulness dan sophistication. Sedangkan pembentukkan brand personality competence dipengaruhi oleh beberapa warna, yaitu biru, hitam, merah, dan putih. Warna hijau tidak memengaruhi brand personality apapun. Warna-warna tersebut diasosiasikan dengan beberapa karakteristik tertentu, yang juga merupakan karakteristik dari dimensi brand personality tertentu. Melihat pengaruh warna terhadap brand personality, perusahaan ataupun desainer logo dapat mempertimbangkan penggunaan yang tepat dalam menciptakan logo brand yang sesuai dengan brand personality. Kata Kunci: Brand Personality. Brand. Warna. Logo Brand Abstract- Brand personality is one of the most effective communications and promotion tool, which has the ability to establish consumer loyalty. Hence, it should be AudesignedAy by utilizing the brand logo. Brand logo, particularly its color, can be manipulated to establish certain brand personality dimensions which can also attract the consumers. This researchAos aim is to find further impact of logo colors towards brand personality. According to the results, it was found out that yellow color affects the construction of excitement and sincerity dimensions of brand personality. White color has the ability to affect the construction of peacefulness and sophistication dimensions. Meanwhile, the competence dimension is affected by four colors, blue, black, red, and white. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. However, the green colored logo wasnAot affecting any brand personality These colors were associated with certain characteristics representing certain brand personality dimensions. Discerning the colorAos impact towards brand personality, both logo designer and corporations might take a proper logo color application into consideration for creating or designing a brand logo that match its brand personality. Keywords: Brand Personality. Brand. Color. Brand Logo PENDAHULUAN Brand menjadi salah satu aspek penting yang diperhatikan dalam proses American Marketing Association mendefinisikan brand sebagai nama, istilah, tanda, simbol atau desain ataupun kombinasi dari keseluruhannya, yang dirancang untuk mengidentifikasikan suatu produk atau jasa dari penjual ataupun sekelompok penjual untuk membedakannya dengan kompetitor atau pesaing. Keberadaan brand tidak lepas dari adanya logo yang mewakili identitas brand. Logo merupakan representasi visual dari suatu organisasi atau perusahaan yang dapat berbentuk nama perusahaan atau organisasi sendiri sampai dengan logo berbentuk simbol dengan desain abstrak yang sama sekali tidak berkaitan dengan perusahaan (Keller, 2. Logo merupakan salah satu aspek penting dari suatu brand (Kohli. Suri, & Thakor, 2. Logo menjadi penting karena keberadaan logo dari suatu perusahaan atau brand, dapat menjadi jaminan, memunculkan perasaan yakin konsumen terhadap kualitas suatu produk atau brand. Selain itu logo dapat menggantikan nama perusahaan atau brand dalam kondisi tempat ataupun waktu yang terbatas untuk menuliskan atau menyebutkan nama brand atau perusahaan. Logo juga dapat mengkomunikasikan identitas brand atau perusahaan secara global karena logo hadir sebagai aspek visual dari identitas brand dapat melampaui hambatan bahasa dan juga batasan-batasan wilayah negara. Logo terdiri dari beberapa elemen, yaitu bentuk, ukuran, gambar, corak atau gaya, dan warna. Aspek warna dapat memunculkan berbagai asosiasi dalam pikiran manusia tanpa harus dikondisikan terlebih dahulu, dan hal ini sangat berguna untuk menunculkan kesan tertentu yang ingin dibentuk oleh perusahaan dalam pikiran konsumen (Bottomley & Doyle, 2006. Hynes, 2. Warna dapat Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. menyampaikan informasi terkait perusahaan yang lebih mudah diingat dan disimpan dalam memori konsumen, termasuk dalam proses pemanggilan kembali informasi . Oleh karena itu, warna menjadi salah satu elemen penting yang perlu diperhatikan pada logo. Beberapa brand seperti Pepsi. H&R Block. Victoria Secret memanfaatkan warna untuk menunjukkan identitas brand. Rebranding melalui warna logo yang dilakukan oleh perusahaan tersebut ditujukan untuk menyampaikan brand personality tertentu, sehingga dapat menarik segmentasi pasar pada kategori tertentu dan membedakannya dari brand lain (Labrecque dan Milne, 2. Brand personality merupakan kumpulan karakteristik-karakteristik manusia yang diasosiasikan atau dilekatkan dengan suatu brand (Aaker, 1. Istilah Brand Personality diperkenalkan oleh Aaker pada tahun 1997. Brand personality menjadi salah satu bagian dari brand image yang cukup penting untuk diperhatikan (Plummer, 1. Brand personality dapat memberikan pengaruh yang cukup besar untuk menumbuhkan loyalitas konsumen yang sangat dibutuhkan perusahaan dalam menghadapi persaingan pasar (Farhat & Khan, 2. Suatu brand personality yang dibentuk secara AukokohAy, jelas dapat memunculkan ikatan emosi yang lebih kuat dan mengarah kepada kepercayaan konsumen. Oleh karena itu brand personality dapat menjadi alat komunikasi dan media promosi yang efektif (Diamantopoulos. Smith & Grime. Brand Personality termasuk sebagai salah satu variabel yang bias terhadap Dalam penelitian ini, peneliti memilih Japanese Brand Personality dari beberapa dimensi brand personality dengan latar belakang budaya berbeda. Brand personality dengan adaptasi budaya Jepang dipilih karena memiliki kemiripannya dengan latar belakang budaya Indonesia . enjunjung nilai-nilai keharmonisan, kerukuna. serta kondisi geografis yang dekat, masih di dalam benua Asia. Kelima dimensi Japanese Brand Personality menurut Aaker. Benet-Martinez dan Garolera . , yaitu Excitement . ejenakaan, kontemporer, muda, dan energi. Competence . anggung jawab, dapat dipercaya, rasa percaya diri, keteguha. Peacefulness . armoni, kerukuna. Sincerity . ehangatan, kelemah-lembutan. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. penuh perhatia. , dan Sophistication . nggun, elegan, sifat yang halus, canggih. Beberapa penelitian dalam dunia marketing sudah mencoba membahas brand personality serta faktor-faktor yang dapat memengaruhi kemunculan atau pembentukan brand personality. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Muller dan Chandon . ditemukan bahwa keberadaan brand website dapat memunculkan brand personality youthfulness dan sincerity. Selain itu, faktor terkait atribut produk, yaitu desain . entuk dan warn. packaging produk memunculkan brand personality tertentu. Faktor lain seperti karakteristik tulisan . ont characteristic. pada logo brand ataupun pada packaging produk memiliki pengaruh tertentu terhadap pembentukan brand personality (Grohmann. Giese. Parkman. Penggunaan memunculkan dimensi brand personality tertentu . incerity, excitement, sophistication, ruggedness, dan competenc. Penelitian kualitatif yang dilakukan Seimiene dan Kamarauskaite . menjabarkan secara lebih spesifik faktor terkait atribut produk yang memengaruhi brand personality, yaitu desain dan warna botol . ackaging minuman bi. , serta label produk. Melihat pentingnya brand personality dalam dunia marketing, maka diperlukan penelitian untuk menggali lebih dalam mengenai pembentukan brand personality yang tepat pada suatu brand. Logo sebagai salah satu alat marketing yang penting juga merupakan faktor yang memengaruhi brand personality dan dapat dimanfaatkan untuk membentuk brand personality yang tepat pada brand. Masih sedikit penelitian yang melihat pengaruh logo brand terhadap pembentukan brand personality, khususnya dari elemen warna pada logo. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh logo, secara spesifik pada elemen warna, terhadap brand personality. Lauren I. Labrecque dan George R. Milne . melakukan penelitian serupa mengenai pengaruh warna terhadap brand personality, namun dalam penelitiannya tidak dijelaskan secara mendalam mengenai bagaimana suatu warna dapat memengaruhi munculnya brand personality tertentu. Dalam penelitian ini, peneliti juga akan mencoba menggali bagaimana warna dapat memengaruhi brand Pada penelitian Labrecque dan Milne . , menggunakan desain Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. eksperimen between-group subjects. Salah satu kelemahan penggunaan desain between-subjects pada penelitian ini, yaitu kesulitan dalam mengontrol bias terhadap warna yang didasari oleh preferensi warna. Penelitian kali ini mencoba mengontrol bias tersebut dengan menggunakan desain eksperimen within- group Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya dan beberapa penelitian mengenai asosiasi makna pada warna, peneliti mengajukan beberapa hipotesis: Hipotesis 1-tailed 1: Warna putih berpengaruh terhadap pembentukan brand personality sincerity Hipotesis 1-tailed 2: Warna hitam berpengaruh terhadap pembentukan brand personality sophistication. Hipotesis 1-tailed 3: Warna merah berpengaruh terhadap pembentukan brand personality excitement. Hipotesis 1-tailed 4: Warna kuning berpengaruh terhadap pembentukan brand personality sincerity. Hipotesis 1-tailed 5: Warna biru berpengaruh terhadap pembentukan brand personality competence. Hipotesis 1-tailed 6: Warna hijau tidak berpengaruh terhadap pembentukan brand METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain withingroup subjects, randomized one-way ANOVA. Randomized one-way ANOVA dipilih karena penelitian ini melibatkan satu variabel bebas . ndependent variable / IV) dengan lebih dari dua variasi. Pada desain within-group subjects, setiap partisipan akan mendapatkan seluruh variasi perlakuan. Desain within-group subjects dipilih untuk mengontrol bias penilaian yang didasari oleh preferensi Alat ukur yang digunakan adalah Japanese Brand Personality Scale yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Terdapat lima dimensi dari Japanese Brand Personality Scale, yaitu Excitement. Competence. Peacefulness. Sincerity, dan Sophistication. Penilaian alat ukur ini menggunakan skala likert . sangat tidak sesuai sampai dengan 5 sangat sesua. Japanese Brand Personality Scale ini telah divalidasi dengan Content Validity Ratio. Hasil perhitungan CVR Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. menunjukkan bahwa seluruh aitem memiliki rentang skor 0. 6 sampai dengan 1, sehingga seluruh aitemnya digunakan pada penelitian ini. Partisipan penelitian ini adalah mahasiswa dan mahasiswi S1 Universitas Surabaya dari jurusan non-desain. Seluruh partisipan tidak mengalami buta warna serta bersedia mengikuti penelitian dari awal sampai akhir. Total jumlah partisipan yang terkumpul adalah 53 partisipan, namun satu partisipan gugur karena mempersepsi warna logo secara berbeda . arna logo kuning dipersepsi sebagai warna hija. Oleh karena itu jumlah partisipan yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 52 orang . perempuan, 25 laki-lak. Teknik counterbalancing dalam penelitian ini yaitu selected order with Seluruh partisipan dibagi ke dalam enam kelompok dan masing-masing mendapatkan enam gambar logo yang berbeda warna. Urutan pemberian gambar logo juga berbeda untuk setiap kelompoknya, seperti yang dapat dilihat pada tabel Tabel 1. Pembagian Kelompok Urutan Perlakuan (Treatmen. Kelompok Urutan Perlakuan (Warna Log. Hijau-putih-merah-biru-hitam-kuning Putih-merah-biru-hitam-kuning-hijau Merah-biru-hitam-kuning-hijau-putih Biru-hitam-kuning-hijau-putih-merah Hitam-kuning-hijau-putih-merah-biru Kuning-hijau-putih-merah-biru-hitam Seluruh partisipan diminta untuk menilai karakteristik-karakteristik brand personality dari keenam gambar logo dengan warna yang berbeda secara satu Penilaian brand personality menggunakan Japanese Brand Personality Scale (Japanese BPS). Setiap setelah menilai satu gambar logo dengan BPS, peneliti memberikan pertanyaan terbuka mengenai hal-hal yang diasosiasikan dengan warna pada logo. Keenam gambar logo yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1. Keenam warna tersebut . erah, kuning, hijau, biru, hitam, puti. dipilih berdasarkan opponent process theory of color vision yang dicetuskan Ewald Hering pada tahun 1878. Berdasarkan teori ini, manusia dapat mempersepsi enam warna karena adanya reseptor pada mata yang dapat berespon terhadap tiga Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. pasang warna . utih dan hitam, merah dan hijau, kuning dan bir. (Weiten, 2. Keenam warna tersebut, secara biologis dapat dikenali dan dipersepsi dengan mudah oleh manusia yang tidak memiliki buta warna baik dikromatik ataupun Merah Kuning Hijau Biru Hitam Putih Gambar 1. Enam Gambar Logo yang Digunakan dalam Penelitian Teknik analisis yang digunakan yaitu uji ANOVA, untuk melihat apakah mean skor atau nilai dari masing-masing dimensi brand personality dari setiap kelompok warna apakah sama atau berbeda. Setelah dilakukan uji ANOVA, dilanjutkan dengan uji post-hoc. Uji post-hoc ini dilakukan untuk mencari tahu lagi lebih dalam kelompok warna mana yang paling berpengaruh dalam satu dimensi brand personality dan bagaimana pengaruhnya dibandingkan dengan warna yang lain. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil uji ANOVA menunjukkan, bahwa warna berpengaruh terhadap setiap dimensi brand personality . 1-tailed<0. , seperti yang dapat dilihat pada tabel 2. Dalam setiap dimensi brand personality terdapat warna yang berbeda pengaruhnya terhadap pembentukan dimensi brand personality. Hasil uji post-hoc dapat menjelaskan warna yang berpengaruh paling kuat pada masingmasing dimensi brand personality. Selanjutnya, peneliti melakukan uji post-hoc dengan melihat perbandingan perbedaan mean antara warna yang dianggap dominan dari masing-masing dimensi dengan warna lainnya. Warna yang dominan diperoleh dari hasil mean Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. skor masing-masing warna pada setiap dimensi brand personality. Melalui tes post-hoc dapat dilihat lebih lanjut variasi perlakuan manakah yang memberikan pengaruh lebih besar terhadap variabel terikat (Seniati. Yulianto & Setiadi, 2. Pada dimensi Excitement, variasi perlakuan warna kuning memiliki pengaruh yang paling besar atau paling kuat terhadap pembentukan dimensi Excitement. Begitu juga pada dimensi Sincerity, warna kuning memiliki pengaruh yang paling besar atau paling kuat terhadap pembentukan dimensi Excitement. Pada dimensi peacefulness dan sophistication, warna putih menjadi warna yang memiliki pengaruh paling besar atau paling kuat terhadap pembentuan kedua dimensi tersebut. Terakhir, dimensi competence dipengaruhi oleh beberapa warna, yaitu biru, hitam, merah, dan putih. Keempat warna tersebut memiliki besar pengaruh yang kurang lebih sama dalam membentuk brand personality Tabel 2. Hasil Uji ANOVA Dimensi Brand Personality Sig. 1-tailed ANOVA Excitement Competence Peacefulness Sincerity Sophistication Keterangan Ada pengaruh warna terhadap brand personality excitement, yaitu warna kuning. Ada pengaruh warna terhadap brand personality competence, yaitu warna biru, hitam, merah. Ada pengaruh warna terhadap brand personality peacefulness, yaitu warna putih. Ada pengaruh warna terhadap brand personality sincerity, yaitu warna kuning. Ada pengaruh warna terhadap brand personality sophistication, yaitu warna putih. Penelitian ini juga turut menggali data kualitatif melalui pertanyaan terbuka untuk menjelaskan hasil data kuantitatif sebelumnya. Berdasarkan data kualitatif tersebut, dapat terlihat hal-hal apa saja yang diasosiasikan dengan warna untuk dapat menjelaskan hubungan antara warna dengan karakteristik brand Hasil data kualitatif atau jawaban-jawaban dari pertanyaan terbuka dapat dilihat pada lampiran. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. Bahasan Warna logo dan brand personality Hampir seluruh warna pada penelitian ini berpengaruh terhadap pembentukan brand personality, kecuali warna hijau. Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Labrecque dan Milne . , warna hijau tidak memengaruhi secara signifikan pada brand personality Jawaban yang diberikan oleh partisipan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan warna hijau cukup beragam, namun jawaban yang paling banyak ditemukan adalah hal-hal yang berkaitan dengan alam, tumbuh-tumbuhan . aun dan poho. Tumbuh-tumbuhan, terutama pohon banyak dimaknai sebagai lambang keabadian, kehidupan, kelahiran, pertumbuhan (Carvalho, 2011. Farahani. Motamed & Jamei, 2. Melihat makna-makna simbolis yang diasosiasikan dengan tumbuhan, tidak ada satupun makna yang menjadi karakteristik dari kelima brand Berdasarkan jawaban-jawaban pertanyaan terbuka, peneliti mencoba mencari kata sifat atau karakteristik yang diasosiasikan dengan warna hijau. Jika dilihat berdasarkan makna diasosiasikan secara langsung ataupun tidak langsung . elalui simbol-simbol tertent. , maka warna hijau menunjukkan adanya perubahan, perkembangan. Pada hasil penelitian ini, ditemukan bahwa warna kuning adalah warna yang paling berpengaruh terhadap pembentukan brand personality excitement. Warna ini memiliki pengaruh yang berbeda secara signifikan terhadap pembentukan brand personality excitement jika dibandingkan dengan kelima warna lainnya. Warna kuning, tergolong sebagai Auwarm colorsAy yang dapat meningkatkan perasaan senang serta girang, bersemangat . (Bleichers, 2012. Berlyne, 1970. Tucker, 1987 dalam Plass. Heidig. Hayward. Homer & Um. Hasil penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Clark dan Costall . menunjukkan bahwa warna-warna yang dikatakan sebagai AuwarmAy . banyak diasosiasikan dengan bentuk emosi-emosi aktif . enstimulasi aktivitas fisi. , termasuk riang, ceria, bahagia, dan emosi-emosi tersebut merupakan karakteristik dari dimensi excitement. Berdasarkan hasil kualitatif, warna kuning Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. seringkali diasosiasikan secara langsung dengan karakteristik ceria, cerewet, berjiwa muda, bebas, dan enerjik. Selain itu, ada juga partisipan yang menjawab warna kuning memiliki karakteristik humoris. Asosiasi-asosiasi karakteristik tersebut secara langsung mencerminkan karakteristik-karakteristik dari brand personality excitement. Oleh karena itu warna kuning pada penelitian ini dapat memengaruhi kemunculan brand personality excitement. Pada dimensi competence, dari antara keempat warna yang dapat memengaruhi dimensi ini, warna biru dan hitam sama-sama berpengaruh secara khusus pada karakteristik maskulin. Berdasarkan hasil data kualitatif, kedua warna ini . iru dan hita. secara langsung diasosiasikan dengan karakteristik maskulin yang menjadi salah satu karakteristik dari dimensi competence. Kedua warna ini dianggap maskulin karena seringkali dikaitkan dengan gender laki-laki. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan (KBBI Darin. maskulin memiliki arti bersifat jantan, berjenis laki laki. Warna biru dan juga warna gelap sudah menjadi stereotip warna untuk gender laki-laki, dan stereotip ini sudah dibentuk sejak masa anak-anak melalui hal-hal dalam kehidupan seharihari seperti mainan, bahkan kartu ucapan (Bridge, 1993. Karniol, 2. Warna merah juga menjadi warna yang memengaruhi pembentukan brand personality competence. Salah satu karakteristik yang dimunculkan oleh warna merah pada dimensi ini adalah karakteristik Aupercaya diriAy. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Saito Miho . , ditemukan bahwa warna merah dianggap sebagai warna yang tampil mencolok dan berbeda . howy dan distinc. Karakteristik tampil mencolok dan berbeda, dilatar belakangi oleh karakteristik percaya diri, oleh karena itu warna merah secara tidak langsung dapat diasosiasikan dengan karakteristik percaya diri. Warna terakhir yang memengaruhi pembentukan brand personality competence berdasarkan hasil penelitian ini adalah warna putih. Salah satu karakteristik dari dimensi competence yang dominan dibentuk oleh warna putih adalah karakteristik Ausabar . Ay. Jika dilihat berdasarkan data kualitatifnya, warna putih dikaitkan dengan tokoh seperti Paus . emimpin agama Katoli. dan Tuhan. Kedua tokoh ini dikenal sebagai sosok yang memiliki Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. karakteristik sabar. Selain itu, beberapa jawaban yang ditemukan pada data kualitatif,warna putih secara langsung dikaitkan dengan karakteristik sabar. Dimensi brand personality peacefulness, paling dipengaruhi oleh warna Berdasarkan hasil data kualitatif, cukup banyak jawaban partisipan yang langsung mengasosiasikan warna putih dengan karakteristik damai ataupun kata Selain itu, beberapa juga menyebutkan tenang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, kata tenang dapat diartikan sebagai keadaan yang Warna putih juga dikaitkan dengan burung merpati dan burung merpati merupakan simbol kedamaian (Wang, 2. Hal lain yang dikaitkan dengan warna putih yaitu hal-hal religi, seperti Tuhan. Paus . emimpin agama Katoli. , mukena . erlengkapan sholat umat Muslim wanit. Hal-hal religi yang dikaitkan pada warna putih ini termasuk ke dalam keperluan serta figur-figur yang terlibat dalam kegiatan keagamaan. Kegiatan-kegiatan keagamaan yang merupakan wujud religiusitas, secara tidak langsung dapat memunculkan perasaan damai (Sulandari. Wijayanti, & Sari. Oleh karena itu, figur-figur serta keperluan yang terkait kegiatan keagamaan ini juga dapat memunculkan asosiasi karakteristik damai. Dalam dimensi sincerity, warna kuning memiliki pengaruh yang paling Berdasarkan hasil data kualitatif, warna kuning memang mencerminkan kehangatan yang merupakan salah satu karakteristik dari sincerity. Warna kuning juga cukup banyak diasosiasikan dengan matahari yang merupakan sumber kehangatan . atahari / mentari, cahaya matahari, bunga matahari, musim pana. Bunga matahari tidak hanya melambangkan kebahagiaan, namun melambangkan juga kehangatan. Dalam agama Kristen, bunga matahari juga melambangkan kasih atau kebaikan Tuhan (Farcas. Cristea. Farcas. Ursu, & Roman, 2. Dari tiga aitem atau karakteristik sincerity, salah satu karakteristik yang dinilai paling tinggi pada logo kuning adalah karakteristik Aubaik hatiAy. Banyak partisipan yang mengaitkan warna kuning dengan kata ceria. Dalam bahasa aslinya, aitem karakteristik baik hati berasal dari kata kind. Kind atau kindness didefinisikan sebagai suatu tindakan, perilaku positif yang menguntungkan pihak lain serta menciptakan hubungan yang positif dengan pihak lain (Binfet, 2. Sedangkan ceria atau keceriaan merupakan salah satu hal yang dapat Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. berkontribusi dalam menciptakan hubungan yang positif (Schaffhuser. Allemand, & Martin, 2. Oleh karena itu dapat dilihat bahwa keceriaan dapat menjadi salah satu hal yang menunjukkan kindness atau kebaikan karena ceria dapat menciptakan hubungan positif. Pada dimensi sophistication, warna putih menjadi warna yang paling dominan terhadap pembentukan brand personality dimensi ini. Berdasarkan data kualitatifnya, warna putih ini memang dianggap sebagai warna yang menunjukkan keanggunan, elegan. Selain itu, beberapa benda yang dikaitkan dengan warna putih juga dapat melambangkan kemewahan, yaitu mutiara, pesawat. Mutiara merupakan perhiasan yang termasuk memiliki harga tinggi, digunakan oleh perempuan yang umumnya berasal dari kelas ekonomi menengah ke atas. Oleh karena itu, mutiara dapat dianggap juga sebagai barang yang mewah. Pesawat juga termasuk sebagai transportasi umum dengan tarif perjalanan yang cukup tinggi atau lebih mahal dibandingkan transportasi lainnya. Salah satu jawaban yang paling banyak diasosiasikan dengan warna putih yaitu kelembutan. Karakteristik lembut ini kebanyakan diasosiasikan secara langsung dengan warna putih. Selain itu beberapa juga menggunakan metafora awan untuk menunjukkan kelembutan. Salah satu jawaban partisipan secara langsung mengaitkan awan dan kelembutan dengan menuliskan Aukelembutan seperti awanAy. Hasil kualitatif ini dapat mendukung hasil yang menunjukkan bahwa dari keenam aitem atau karakteristik dimensi sophistication, warna putih menonjol untuk aitem atau karakteristik lembut. Scott-Kemis . 3 dalam Babolhavaeji. Vakilian, & Slambolchi, 2. juga menemukan bahwa warna putih memang dianggap sebagai warna yang menunjukkan kelembutan. Proses Asosiasi Warna dan Brand Personality Melalui pembahasan sebelumnya dapat dilihat terdapat dua bentuk mekanisme dalam mengekspresikan asosiasi warna dan brand personality. Proses asosiasi yang dijelaskan dalam penelitian ini hanya cara mengekspresikan asosiasi warna dengan suatu makna atau karakteristik brand personality, namun proses asosiasi internal atau proses asosiasi yang terjadi secara kognitif belum tentu dapat dijelaskan melalui bagan tersebut. Menurut Allan Paivio . , baik simbol Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. ataupun kata-kata . erbal labe. dapat menjadi mediator dalam proses asosiasi kognitif. Sebelum partisipan mengaitkan suatu warna dengan karakteristik brand personality, dalam proses retrieval bisa terjadi bahwa partisipan terlebih dahulu mengasosiasikan warna dengan suatu AusimbolAy yang mencirikan karakteristik Akan tetapi ketika diminta untuk mengekspresikan secara tertulis, partisipan langsung menyebutkan karakteristik yang diasosiasikan tersebut. internal karakteristik brand personality yang diasosiasikan bisa muncul terlebih dahulu sebelum partisipan mengasosiasikannya dengan suatu simbol tertentu. Sehingga yang terjadi bukanlah AusimbolAy sebagai alat bantu kognitif melainkan karakteristik-karakteristik brand personality menjadi alat bantu . dalam proses kognitif untuk menghubungkan warna dengan simbol yang diasosiasikan. Proses mengekspresikan asosiasi ini bisa terjadi secara langsung ataupun tidak langsung. Pada proses yang terjadi secara langsung, warna pada logo langsung secara tertulis diasosiasikan dengan karakteristik pada dimensi brand Contohnya seperti warna merah yang secara langsung dikaitkan dengan kata semangat, warna putih dengan kata tenang, kuning dengan kehangatan, hitam dan biru dengan mewah, berkelas tinggi. Makna atau karakteristik yang diasosiasikan dengan warna diperoleh dari hasil pengkondisian dalam kehidupan sehari-hari. Manusia mempelajari asosiasi antara makna . dengan warna melalui kehidupan sehari-hari secara berulang-ulang sepanjang hidupnya. Hal ini dapat dijelaskan melalui teori classical conditioning. Proses mengekspresikan asosiasi secara tidak langsung, dapat dijelaskan dengan mekanisme higher order conditioning. Warna tidak secara langsung dikaitkan dengan makna, tetapi dikaitkan terlebih dahulu melalui objek-objek yang menjadi AusimbolAy dari suatu makna . Simbol sebagai suatu AualatAy kognitif memiliki fungsi untuk membantu manusia untuk mengatasi kondisi yang dianggap sulit atau ada ketidakpastian. dengan menggunakan kemampuan interpretasi manusia (Veraksa, 2. Melihat fungsi simbol tersebut, dapat dikatakan bahwa beberapa partisipan menggunakan simbol untuk membantu menghubungkan antara warna dan karakteristik brand personality, sehingga Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. simbol-simbol tersebut secara tertulis dikatakan memiliki asosiasi dengan suatu KESIMPULAN DAN SARAN Warna dapat memengaruhi pembentukan brand personality yang berbeda Dari keenam warna yang diujikan pada penelitian ini lima diantaranya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap dimensi brand personality tertentu, kecuali warna hijau. Satu dimensi brand personality tidak hanya dipengaruhi oleh satu warna, tetapi bisa juga dipengaruhi oleh beberapa warna. Pada penelitian ini ditemukan bahwa dimensi excitement dan sincerity dipengaruhi oleh warna Dimensi competence dipengaruhi warna biru, putih, hitam, dan merah. Dimensi peacefulness dan sophistication hanya dipengaruhi warna putih. Proses mengekspresikan asosiasi warna dengan karakteristik-karakteristik dimensi brand personality dapat terjadi secara langsung ataupun tidak langsung. Beberapa partisipan dalam penelitian ini secara langsung mengekspresikan asosiasi warna dalam bentuk karakteristik-karakteristik brand personality. Proses asosiasi ini dapat terjadi melalui proses pengkondisian oleh budaya lingkungan Proses asosiasi tidak langsung terjadi dengan adanya simbol sebagai Aualat bantu kognitifAy untuk menghubungkan antara dua hal yang berbeda, yaitu warna dan karakteristik brand personality. Melihat hasil penelitian ini, desainer logo ataupun perusahaan dapat mempertimbangkan penggunaan warna yang tepat dalam memasarkan brand-nya di tengah masyarakat. Penggunaan warna yang tepat ini, dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap brand, dan lebih jauh lagi menarik perhatian masyarakat untuk mengonsumsi produk dari suatu brand. Pengaplikasian warna yang tepat untuk memunculkan brand personality yang sesuai, tidak hanya bisa diterapkan pada logo, tetapi juga dapat diaplikasikan pada beberapa aspek brand yang lain. Pada penelitian berikutnya, perlu digali lebih dalam mengenai asosiasi Perlu ditanyakan lebih dalam lagi alasan partisipan menuliskan jawaban terkait asosiasi warnanya, sehingga dapat melihat proses kognitif pada proses Selain itu penelitian berikutnya juga perlu memerhatikan validasi brand personality scale, khususnya agar bisa diterapkan dalam konteks budaya Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. Indonesia. Dimensi-dimensi brand personality sangat rentan terhadap perbedaan budaya, oleh karena itu perlu diteliti lebih dalam khususnya dimensi-dimensi brand personality dalam konteks budaya Indonesia. Pustakan Acuan Aaker. Dimensions of brand personality. Journal of marketing research, 347-356. Aaker. Benet-Martinez. , & Garolera. Consumption symbols as carriers of culture: A study of Japanese and Spanish brand personality Journal of personality and social psychology, 81. , 492. Babolhavaeji. Vakilian. , & Slambolchi. Color Preferences Based On Gender As a New Approach In Marketing. Advanced Social Humanities and Management, 2. , 35-44. Binfet. Not-so Random Acts of Kindness: A Guide to Intentional Kindness in the Classroom. International Journal of Emotional Education, 7. , 49-62. Bottomley. , & Doyle. The interactive effects of colors and products on perceptions of brand logo appropriateness. Marketing Theory, 6. , 63-83. Bridges. Pink Or Blue. Psychology of Women Quarterly, 17. , 193205. Carvalho. The Symbolic Uses of Plants. Ethnobiology. New Jersey: John Wiley & Sons, 351-69. Clarke. , & Costall. The emotional connotations of color: A qualitative investigation. Color Research & Application, 33. , 406-410. Diamantopoulos. Smith. , & Grime. The impact of brand extensions on brand personality: experimental evidence. European Journal of Marketing, 39. , 129-149. Farahani. Motamed. , & Jamei. Persian Gardens: Meanings. Symbolism, and Design. Landscape Online, 46. Farcas. Cristea. Farcas. Ursu. , & Roman. The symbolism of garden and orchard plants and their representation in paintings (I). Contributii Botanice, 50. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. Farhat. , & Khan. Importance of brand personality to customer loyalty: A conceptual study. New media and mass communication, 1. , 4-10. Grohmann. Giese. , & Parkman. Using type font characteristics to communicate brand personality of new brands. Journal of Brand Management, 20. , 389-403. Hynes. Colour and meaning in corporate logos: An empirical study. Journal of Brand Management, 16. , 545-555. Karniol. The color of childrenAos gender stereotypes. Sex Roles, 65. Keller. Strategic Brand Management: Building. Measuring, and Managing Brand Equity . rd ed. New Jersey: Pearson Education. Inc. Kohli. Suri. , & Thakor. Creating effective logos: Insights from theory and practice. Business Horizons, 45. , 58-64. Labrecque. , & Milne. Exciting red and competent blue: the importance of color in marketing. Journal of the Academy of Marketing Science, 40. , 711-727 Myller. , & Chandon. The impact of visiting a brand website on brand personality. Electronic Markets, 13. , 210-221. Paivio. Mental imagery in associative learning and memory. Psychological review, 76. , 241. Plass. Heidig. Hayward. Homer. , & Um. Emotional design in multimedia learning: Effects of shape and color on affect and learning. Learning and Instruction, 29, 128-140. Plummer. Brand personality: A strategic concept for multinational In Marketing Educators' Conference . New York. NY: Young & Rubicam. Saito. A comparative study of color preferences in Japan. China and Indonesia, with emphasis on the preference for white. Perceptual and Motor Skills, 83. , 115-128. Schaffhuser. Allemand. , & Martin. Personality traits and relationship satisfaction in intimate couples: Three perspectives on European Journal of Personality, 28. , 120-133. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 7 No. Seimiene. , & Kamarauskaite. Effect of brand elements on brand personality perception. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 156, 429434. Seniati. Yulianto. , & Setiadi. Psikologi eksperimen. Jakarta: Indeks. Sulandari. Wijayanti. , & Sari. Religious Activity: An Alternative To Achieve Happiness In Later Life. Journal of Education and Social Sciences 6. Veraksa. Symbol as a cognitive tool. Psychology in Russia: State of the Art, 6. Wang. Symbolism---The Main Artistic Style of Katherine Anne PorterAos Short Stories. English Language Teaching, 3. , 95. Weiten. Psychology Themes and Variations (International Editio. th Singapore: Cengage Learning.