Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 Resistensi Tertutup Perempuan Jawa pada Budaya Patriarki pada Visual dan Komponen Film Kartini . Nurudin Sidiq Mustofa1. Rony Ramadhan2 Program Studi Seni. Minat Studi Pengkajian Videografi. Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Suryodiningratan no. Kota Yogyakarta. nurudinsidiq@gmail. Program Studi Desain Komunikasi Visual. Universitas Stekom Jalan Majaphit no. Semarang. Jawa Tengah ronyramadhan24@gmail. Abstrak Patriarki, sistem di mana kekuasaan pria mendominasi, telah lama memengaruhi masyarakat, termasuk anggapan bahwa perempuan lebih lemah. Namun, semangat perlawanan kian menggema, termasuk melalui media seperti film. Artikel ini bertujuan menggali jejak-jejak perlawanan tertutup terhadap budaya patriarki dalam film "Kartini". Riset ini menganalisis "Kartini" secara kualitatif, menelusuri setiap adegan untuk menemukan "kode sosial" tiga tingkat menurut John Fiske. Kode-kode ini, mulai dari tingkat permukaan hingga realitas yang mendasarinya, membantu mengungkap pesan tersembunyi dalam film. Resistensi . tertutup terhadap patriarki tersirat dalam visual film dan berbagai komponen lain, mulai dari kostum yang dikenakan Kartini hingga sinematografi yang digunakan. Melalui analisis semiotika tiga tingkat John Fiske, terlihat bahwa film dapat menjadi senjata ampuh melawan budaya "Kartini" menunjukkan bagaimana perempuan Jawa, meskipun hidup dalam belenggu adat, mampu melawan dan memperjuangkan hak-hak mereka. Kata kunciAi Resistensi Tertutup. Perempuan. Patriarki. Film. Semiotika Abstract Patriarchy, a system where men dominate, has long influenced society, including the notion that women are weaker. However, the spirit of resistance is increasingly echoed, including through media such as movies. This article aims to explore the traces of closed resistance to patriarchal culture in film, using the movie "Kartini" as an example. This research analyzes "Kartini" qualitatively, going scene by scene to find John Fiske's three-tingkat "social codes". These codes, ranging from the surface tingkat to the underlying reality, help reveal the hidden messages in the movie. The closed resistance to patriarchy is implied in the movie's visuals and various other components, from the costumes Kartini wears to the cinematography used. Through this analysis, we can see that film can be a powerful weapon against patriarchal culture. "Kartini" shows how Javanese women, despite living in the shackles of custom, can resist and fight for their KeywordsAi Closed Resistence. Woman. Patriarchal. Film. Semiothics PENDAHULUAN Gambaran perempuan Jawa erat terkait dengan norma-norma perilaku yang memiliki pandangan bahwa perempuan seharusnya tunduk, setia, dan lemah lembut telah terakar dalam kehidupan sosial Jawa. Kebudayaan dan norma-norma yang terdapat dalam masyarakat telah membentuk perbedaan tugas dan tanggung jawab antara pria dan wanita. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 di mana pria biasanya bertanggungjawab untuk urusan publik sementara perempuan cenderung mengurus urusan domestik (Munir, 2. Peran publik yang diemban oleh laki-laki sering kali membawa imbalan materi dan kedudukan sosial yang lebih tinggi, sementara peran perempuan yang kurang terlibat dalam mencari materi atau kedudukan sering kali membuat mereka berada pada posisi yang lebih rendah (Nurlaelawati, 2. Klasifikasi yang membedakan antara superior dan inferior adalah faktor yang membuat sebagian pria meremehkan status perempuan sebagai ibu rumah tangga. Peran terbatas perempuan dalam ranah domestik sering dianggap remeh. Pandangan semacam ini berkontribusi pada penurunan nilai status ibu rumah tangga. Tradisi budaya Jawa yang diwariskan melalui karya sastra sering kali menempatkan perempuan dalam peran yang sekunder, sehingga menciptakan ketakutan bagi perempuan untuk mengadvokasi hak-hak yang seharusnya mereka peroleh (Munir, 2. Pemikiran-pemikiran semacam itu telah memicu berkembangnya sistem patriarki di Jawa. Bersamaan dengan meningkatnya jumlah perempuan yang mendukung gerakan menentang ketimpangan yang disebabkan oleh budaya patriarki, media menangkap fenomena sosial ini untuk disebarkan melalui berbagai bentuk media dan literatur. Karyakarya seperti "Dia yang Menyerah" karya Pramoedya Ananta Toer dan "Sri Sumarah" karya Umar Kayam berusaha untuk menggambarkan peran gender perempuan yang berbeda dari konvensi budaya Jawa yang umumnya menganggap perempuan hanya sebagai pelengkap masyarakat (Harjito, 2. Contoh lainnya adalah film, yang dipandang sebagai penggerak perubahan sosial. Paling tidak, berkontribusi dalam memperkuat semangat kesetaraan gender, memungkinkan perempuan untuk menentukan dan mengekspresikan tujuan hidup mereka (Jha, 2. Film-film modern tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan semata, tetapi juga sebagai pembawa pesan. Pada tahun 2017, sebuah film drama fiksi bertajuk "Kartini" yang diciptakan Hanung Bramantyo dirilis. Sinema ini menceritakan perjalanan hidup R. Kartini, yang lahir dan tumbuh di Mayong. Jepara, pada tanggal 21 April tahun 1879. Pada permulaan abad ke-20, ketika Indonesia di koloni oleh Kerajaan Belanda, daerah Jawa diperintah oleh sultan dan ningrat dengan pengawasan oleh pemerintah Belanda. Pada periode tersebut, hanya anak laki-laki keturunan ningrat yang diizinkan untuk mengenyam pendidikan dan bersekolah, sementara perempuan masih dilarang untuk mendapat pendidikan yang layak. Bagi perempuan Jawa, tujuan hidup mereka terbatas hanya sebagai istri. Tetapi. Kartini dan adik-adik kecilnya. Roekmini dan Kardinah, mereka berupaya keras untuk menyamakan hak bagi setiap individu, terutama dalam hal akses pendidikan bagi perempuan. Mereka mendirikan sekolah untuk masyarakat kurang mampu dan menciptakan peluang pekerjaan bagi penduduk di Jepara dan daerah Kartini berhasil menghadapi budaya patriarki yang kuat dalam budaya Jawa. Film ini menerima 14 nominasi dalam 13 kategori di FFI (Festival Film Indonesi. pada tahun 2017 (Pangerang, 2. Selain itu, prestasi seperti pemutaran di Gedung PBB dan kemenangan di ajang film internasional juga menjadikan film ini patut untuk dipelajari lebih lanjut. METODE PENELITIAN Film "Kartini" telah dianalisis dengan pendekatan teori tanda milik John Fiske yang bertujuan mengungkap serta menguraikan bagaimana simbol-simbol resistensi . terhadap budaya patriarki tercermin pada aspek visual dan elemen-elemen lain dalam film (Fiske, 2. Metode teori tanda John Fiske digunakan karena kemiripan Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 alat analisisnya dengan teori komponen-komponen film yang dijelaskan oleh M. Pramaggiore dan T. Wallis dalam buku mereka "Film: a Critical Introduction" (Pramaggiore & Wallis, 2. Dalam unsur naratif film, terdapat elemen setting yang sejalan dengan daerah atau lingkungan di tingkat realitas dalam tiga tingkat kode sosial milik John Fiske. Contoh lain di komponen mise-en-scene atau sinematik, termasuk setting, pencahayaan, kostum dan riasan, akting, dan gerakan pemain, yang mirip dengan penampilan, kostum, perilaku, dan dialog dalam konteks realitas. Begitu juga dengan elemen editing dan suara, yang sesuai dengan representasi dalam teori tiga tingkat kode sosial menurut John Fiske. Tanda-tanda yang terdapat dalam film Kartini pada tiga tingkat semiotika John Fiske dianalisis melalui konsep resistensi . yang dibahas oleh James C. Scott, yang mencakup resistensi . tersembunyi dan terbuka (C. Scott, 1. Teori patriarki yang akan disandingkan dengan teori resistensi . adalah teori patriarki milik Kamla Bhasin di bukunya berjudul What is Patriarchy. Di dalam bukunya. Bhasin menjelaskan jenis-jenis dan karakteristik dari patriarki seperti kontrol atas produktivitas perempuan, kontrol atas reproduksi, kontrol atas seksualitas, pembatasan gerak, dan kontrol atas ekonomi perempuan (Bhasin, 1. Riset ini akan menggunakan metode dokumentasi sebagai pendekatan pengumpulan data. Metode dokumentasi melibatkan pencarian data terkait variabelvariabel tertentu yang tersedia dalam bentuk objek tidak hidup, seperti dokumen, transkrip, buku, koran, majalah, prasasti, sinema, dan sebagainya. (Creswell & Creswell. Sumber data yang digunakan untuk riset ini adalah film berjudul "Kartini" diakses melalui platform streaming Netflix. Riset ini mengadopsi analisis data kualitatif, yang melibatkan pengolahan, pengorganisasian, dan penyintesan data untuk mengidentifikasi pola, menyoroti hal-hal penting, dan menarik kesimpulan yang relevan (Skjott Linneberg & Korsgaard, 2. Pendekatan deskriptif digunakan dalam analisis data kualitatif, yang melibatkan penjelasan, analisis, dan klasifikasi melalui berbagai teknik seperti survei, wawancara, kuesioner, observasi, dan tes, terutama dalam studi kasus (Creswell & Creswell, 2. Namun, pada penelitian hanya dilakukan melalui document review atau obervasi melalui karya film AuKartiniAy itu sendiri tanpa proses interview, survei, wawancara, kuisioner, dan Riset dilakukan dengan melakukan pengodean tahap pertama yaitu mengelompokkan hasil pengamatan berupa adegan atau scene. Pada pengkodean tahap dua, dicari kode-kode yang dianggap memiliki tanda penolakan tertutup perempuan Jawa pada budaya patriarki melalui unsur-unsur film. Setelah itu dilakukan analisis data menggunakan semiotika kode sosial tiga tingkat dari John Fiske. HASIL DAN PEMBAHASAN Film ini menampilkan 12 adegan yang menunjukkan penolakan pada budaya patriarki, yang tercermin melalui tiga tingkat pengkodean John Fiske, yakni tingkat realitas, representasi, dan ideologi. Adegan-adegan yang menggambarkan penolakan terhadap budaya patriarki meliputi resistensi . tertutup melalui penampilan agresi terhadap pembatasan gerak perempuan, seperti yang terlihat dalam adegan 2. Resistensi . tertutup dalam bentuk penggunaan wacana otoritas yang tersembunyi, dengan menciptakan ruang sosial yang otonom untuk menegaskan martabat perempuan dan mengatasi pembatasan gerak, seperti dalam adegan 11 dan 12. Resistensi Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 . tertutup yang mengungkapkan kemarahan tersembunyi terhadap pembatasan gerak perempuan, yang terwujud dalam transkrip kemarahan pada adegan 28, 29, 30, 31, 1 Resistensi (Penolaka. Tertutup berupa terhadap Pembatasan Gerak Perempuan 1 Tingkat Realitas 1 Enviroment Adegan berlangsung di pendopo di Kadipaten Jepara, tempat tinggal Kartini dan Kartini di sana memperlihatkan pembatasan yang dijatuhkan padanya, yang meliputi larangan untuk tidur bersama ibu kandungnya di kamar yang berada di area Larangan ini diberlakukan karena sebagai anak dari ningrat. Kartini diharuskan untuk tidur bersama keluarganya di dalam dalem ageng, yang dianggap sebagai tempat suci bagi keluarga inti. Ibunya, yang merupakan selir . arwa ampi. , tidak memiliki tempat di dalam dalem ageng karena status sosialnya yang lebih rendah daripada R. Moeryam, yang merupakan garwa padma dari RM Soesroningrat (Asmarani, 2. Meskipun demikian, anak-anak dari garwa ampil memiliki hak yang sama dengan anakanak garwa padma, sehingga Kartini dilarang tidur di gandhok bersama ibu kandungnya (Coty, 2. 2 Dress (Wardrob. Gambar 1. Wardrobe yang digunakan Kartini (Sumber: Netfli. Pada adegan kedua film Kartini, pemilihan warna pakaian para karakter memiliki makna mendalam. Gambar 1 menampilkan adegan Kartini kecil yang mengenakan kebaya putih. Warna putih yang dikenakan oleh Kartini kecil melambangkan kesucian dan kepolosan, serta menandakan ketidakberdayaannya dalam keluarga (Belantoni, 2. Hal ini diperjelas oleh status Kartini sebagai anak dari garwa ampil, sementara anak-anak dari garwa padma memiliki status yang lebih tinggi (Coty. Dalam metafora warna di Indonesia pun, warna putih memiliki makna ketidakberdayaan namun juga kesucian atau keluguan (Putu Wijana, 2. Gambar 2. Warna Wardrobe ayah kandung dan ibu tiri Kartini (Sumber: Netfli. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 Gambar 2 menampilkan ayah kandung dan ibu tiri Kartini. M Sosroningrat dan Moeryam, mengenakan Beskap dan kebaya yang semuanya berwarna hijau. Warna hijau memiliki makna amat beragam. Di satu sisi, hijau melambangkan kehidupan dan kesegaran seperti pada tanaman yang hijau. Namun, di sisi lain, hijau juga bisa mengisyaratkan bahaya, seperti pada peringatan akan tekanan rendah yang dapat menyebabkan bencana alam seperti tornado, atau dalam konteks maritim, "air hijau" yang menandakan bahaya bagi pelaut. Dengan demikian, hijau bisa diartikan sebagai lambang kedamaian dan kehidupan, namun juga bisa melambangkan ancaman dan kehancuran (Belantoni, 2. Penggunaan warna hijau oleh R. Sosroningrat, ayah Kartini, bermakna sebagai representasi ketenangan dan perlindungan yang dihadirkan oleh seorang ayah. Namun, pada R. Moeryam, ibu tiri Kartini, warna hijau tersebut mungkin mencerminkan keberadaan ancaman dan keburukan. Dwi Kurnia dalam penelitiannya Basic Colors in Javanese and Indonesian Languages: Natural Semantic Metalanguage Theory menyebutkan bahwa warna hijau juga dapat melambangkan kecemburuan pada budaya jawa (Kurnia et al. , 2. Kecemburuan tersebut adalah kecemburuan dari R. Moeryam karena Kartini sebagai anak perempuan satu-satunya pada saat ia kecil dan ia sangat disayang oleh ayahnya. Hal tersebut membuat kecemburuan R. Moeryam sebab Kartini hanyalah anak dari garwa ampil atau selir lain selain selir utama. Sebagai pendamping utama seorang ningrat atau selir utama disebut juga garwa padmi. Moeryam memiliki posisi sosial diatas pendampingpendamping ningrat lain . arwa ampi. Oleh karena itu, dia merasa memiliki otoritas atas Kartini seorang putri dari istri kedua atau garwa ampil belaka (Asmarani, 2. Gambar 3. Wardrobe yang digunakan Yu Ngasirah (Sumber: Netfli. Sementara itu, pakaian berkebaya merah terang dikenakan oleh Yu Ngasirah yang ditampilkan pada gambar 3. Menurut Belantoni, pemakaian warna merah memicu rasa cemas yang berkelanjutan (Belantoni, 2. Yu Ngasirah mengenakan warna merah mencerminkan kegamangan yang dirasakannya karena posisinya dalam lingkungan sosial Namun, kasih sayang juga bisa diasosiasikan dengan warna merah tersebut (Morton, 2. Dalam adegan itu. Yu Ngasirah digambarkan sebagai sosok ibu asli yang melharikan Kartini, yang mungkin mencerminkan kasih sayang yang diberikan oleh Yu Ngasirah kepada Kartini. 3 Behaviour (Pergeraka. Pergerakan (Behaviou. beberapa karakter dalam adegan ke-12 menunjukkan tindakan agresi yang dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi patriarki yang ada dalam lingkungan tersebut. Misalnya. Kartini anak-anak berusaha bersama ibunya untuk tidur di kamarnya, ia kemudian dipaksa dan ditarik oleh abang lelakinya, tetapi Kartini menolak dan bahkan menerkam abangnya. Busono. Tindakan paksa dari kedua kakaknya menegaskan pembatasan gerak perempuan yang disebabkan oleh Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 dominasi laki-laki. (Bhasin, 1. Namun, respons Kartini yang menampik dan menerkam abangnya menunjukkan tindakan agresi terhadap dominasi abangnya yang ditampilkan pada gambar 4 (C. Scott, 1. Gambar 4. Perilaku Kartini dan Kakaknya (Sumber: Netfli. Gambar 5. Perilaku nyembah seluruh anggota keluarga (Sumber: Netfli. Selain itu, ada perilaku lain yaitu nyembah untuk menghormati RM Sosroningrat sebagai kepala keluarga ditampilkan pada gambar 5. Perilaku tersebut menunjukan penghormatan kepada laki-laki sebagai pemimpin perempuan pada struktur keluarga patriarki (Asmarani, 2. 2 Tingkat Representasi 1 Suara B: AuAyo!Ay K: AuTidak Mau!Ay S: AuPanggil Yu, bukan Ibu!Ay K: AuTidak Mau. Yu ngasirah bukan Pembantu!Ay S: AuSekarang kamu anak bupati, bukan wedana lagi. Sekarang tidur dirumah. Busono! Bawa dia Pergi!Ay B: AuKurang ajar! Dia menggigit!Ay K adalah Kartini. S adalah Slamet, dan B adalah Busono. Interaksi suara antara kakak laki-laki Kartini dan Kartini mencerminkan upaya pemaksaan dan perilaku agresi yang diperbuat Kartini kepada kakaknya. Paksaan tersebut termanifestasi dalam bentuk pembatasan aktivitas perempuan dan penguasaan oleh laki-laki di lingkungan keluarga. Selain itu, dialog tersebut mengungkapkan adanya pembagian tingkatan sosial dalam daerah itu. 2 Camera (Cinematograph. Gambar 6. Teknik Rack Focus (Sumber: Netfli. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 Teknik pergeseran fokus lensa, atau rack focus, diterapkan untuk mengalihkan bokeh kamera dari Busono menuju Kartini. Pergeseran ini bertujuan untuk menyorot mimik muka kegusaran Kartini. 3 Tingkat Ideologi Dari pemaparan mengenai tingkatan realitas serta tingkatan representasi dalam adegan kedua, tergambarlah pemikiran atau ideologi penolakan . melawan budaya patriarki. Ideologi ini termanifestasikan dalam bentuk resistensi . tertutup, yang merupakan agresi terhadap pembatasan gerak perempuan. Kartini menunjukkan agresi tersebut dengan menentang larangan kakak laki-lakinya atas gerak Ekspresi kemarahan, teriakan, dan kontak fisik terjadi dalam adegan tersebut. Larangan yang diberikan oleh abang Kartini yaitu larangan tidak tidur di ruang tidur yang dimiliki oleh ibu kandungnya. Simbol-simbol penolakan terhadap pembatasan kebebasan perempuan tercermin dalam berbagai aspek seperti setting, pakaian, dan perilaku pada tingkat realitas, serta percakapan dan sinematografi pada tingkat representasi. 4 Hasil Temuan Hasil temuan dan ringkasan pembahasan akan dijelaskan dalam tabel dibawah ini: Tabel 1. Hasil temuan adegan 2 Hasil temuan Resistensi (Penolaka. Tertutup berupa terhadap Pembatasan Gerak Perempuan Adegan 2 Pada Enviroment (Settin. di latar belakang rumah Level Realitas tempat tinggal Kartini, ditemukan pembatasan gerak yang berupa keharusan Kartini untuk tidur di Dalem Ageng atau rumah utama dan larangan untuk Kartini tidur di Gandhok atau rumah samping bersama ibu kandungnya karena status sosial kartini yang dianggap anak ningrat walaupun ibunya bukan ningrat. Larangan tersebut dilakukan oleh ayahnya dan kedua kakak Pada wardrobe atau pakaian yang digunakan seperti warna putih yang digunakan Kartini bisa menyimbolkan kesucian dan ketidakberdayaan, warna hijau yang digunakan R. Sosroningrat menyimbolkan ketenangan dan perlindungan seorang ayah namun warna hijau yang digunakan R. Moeryam menyimbolkan ancaman, keburukan, dan kecemburuan. Warna merah yang digunakan Yu Ngasirah mencerminkan kegamangan dan kasih saying. Pergerakan atau behaviour beberapa karakter dalam Level Representasi adegan ke 2 menunjukkan tindakan agresi yang dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi patriarki yang ada dalam lingkungan tersebut. Misalnya. Kartini anak-anak berusaha bersama ibunya untuk tidur di kamarnya, ia kemudian dipaksa dan ditarik oleh abang lelakinya, tetapi Kartini menolak dan bahkan menerkam abangnya. Busono. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 Hasil temuan Level Ideologi Temuannya Hal tersebut juga dipertegas dengan suara dialog di film yang dilakukan oleh Kartini dan kedua kakaknya. Pada sinemtografi, hal tersebut ditangkap menggunakan teknik pergeseran fokus lensa atau rack focus untuk menyorot mimik muka Kartini. Dari pemaparan mengenai tingkatan realitas serta tingkatan representasi dalam adegan kedua, tergambarlah pemikiran atau ideologi penolakan . melawan budaya patriarki. Ideologi ini termanifestasikan dalam bentuk resistensi . tertutup, yang merupakan agresi terhadap pembatasan gerak perempuan. Kartini menunjukkan agresi tersebut dengan menentang larangan kakak laki-lakinya atas gerak perempuan. Ekspresi kemarahan, teriakan, dan kontak fisik terjadi dalam adegan tersebut. Larangan yang diberikan oleh abang Kartini yaitu larangan tidak tidur di ruang tidur yang dimiliki oleh ibu kandungnya. Simbol-simbol Penolakan terhadap pembatasan kebebasan perempuan. dalam berbagai aspek seperti setting, pakaian, dan perilaku pada tingkat realitas, serta percakapan dan sinematografi pada tingkat representasi. Adegan 2 menampilkan penolakan tertutup terhadap budaya patriarki dalam bentuk agresi terhadap pembatasan gerak perempuan. 2 Resistensi (Penolaka. Tertutup (Penggunaan Wacana Otoritas yang Tersembunyi, dengan Menciptakan Ruang Sosial Yang Otonom untuk Menegaskan Martaba. Terhadap Pembatasan Gerak Adegan 11 & 12 1 Tingkat Realitas 1 Enviroment (Settin. Setting tempat yang digunakan pada scene 11 dan 12 adalah kamar pingitan Kartini yang berada di dalem ageng yang ditampilkan pada gambar 7. Pingitan adalah budaya untuk mengurung anak perempuan ketika dia memasuki masa akhil baliq dan ditandai dengan menstruasi (Devi, 2. Pingitan dilakukan untuk menjaga kehormatan perempuan dengan cara membatasi pergaulan mereka. Tempat tersebut berada dalam suatu ruang terisolasi di dalam rumah yang terkunci, yang digunakan untuk menciptakan sebuah ruang sosial yang mandiri. Hal ini bertujuan untuk menegaskan martabat mereka, terlepas dari budaya yang membatasi gerak perempuan yang umumnya diterapkan dalam budaya pingitan. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 Gambar 7. Ruang Pingitan (Sumber: Netfli. 2 Behaviour (Pergeraka. Gambar 8. Aktivitas yang dilakukan Kartini dan adik-adiknya (Sumber: Netfli. Pada saat adegan memasuki kamar pingitan yang ditampilkan pada gambar 8. Kartini memerintahkan Rukmini dan Kardinah supaya menyembah untuk menunjukan kekuasannya di kamar tersebut. Tetapi Kartini menunjukan kekuasaan untuk mengajari adik-adiknya agar menjadi otonom dan mandiri tanpa terikat pingitan yang membatasi gerak mereka. Kekuasannya di kamar tersebut diperlihatkan dengan memerintahkan adikadiknya untuk bersimpu sambil menyembah dengan maksud mengejek budaya nyembah. Kartini tidak ingin adiknya terkungkung budaya pingitan dan ingin adiknya berpikiran maju seperti dirinya. Setelah itu. Kartini membawa adik-adiknya ke dalam ruangan tersebut untuk menguatkan kedudukan mereka. Mereka menguasai ruangan itu sendiri tanpa campur tangan dari anggota keluarga lainnya. Mereka membentuk sebuah kelompok sosial yang memiliki hak dan kekuasaan untuk menentukan langkah-langkahnya sendiri, melepaskan diri dari tradisi pingitan dan norma-norma kebiasaan, melalui berbagai percakapan tentang masa depan, dorongan untuk meningkatkan diri melalui membaca dan pembelajaran, serta kegiatan-kegiatan untuk pengembangan pribadi. Hal tersebut dilakukan karena walaupun Kartini dan adik-adiknya sebagai seorang ningrat telah menempuh pendidikan formal, namun perempuan pada lingkungan budaya tersebut tidak diperbolehkan untuk sekolah tinggi karena menganggap perempuan harus dipersiapkan menjadi ibu rumah tangga dan bekerja di bidang domestik saja sehingga Kartini dan Adikadiknya melakukan perlawanan melalui hal-hal tersebut. 2 Tingkat Representasi 1 Sound (Dialo. Kartini: AuSejak semua kakak kita menikah, aku yang paling berkuasa disini, kalian mengerti kan harus patuh kepada siapa?Ay Rukmini: AuTahu kak, tapi kalau nyembah sampai pegel seperti ini baru saya alami sekarang ini. Ay Kartini: AuKamu ngomong apa? Pegel? Nah itu. Kamu akan pegel terus menerus. Menjadi raden ayu itu berarti kamu harus melayani lelaki yang bukan pilihanmu sendiri. Mau kamu?!Ay Kardinah: AuApa tidak ada pilihan lain kak?Ay Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 Kartini: AuTidak ada, tapi kita bisa menjadi raden ayu yang beda, turunkan tangan kalian. Berdiri. Kesini-kesini. Lihat itu, pintu ini batas dunia luar kamar ini. Kamar kita ini satusatunya tempat di japara dimana kita bisa menjadi diri kita sendiri. Kamu bisa tertawa sebebasmu nyengir sepuasmu. Lihat ketawaku. Nah itu tertawa saja. Ay Rukmini: AuTidak kak. Ay Kartini: AuJangan panggil aku kakak, tidak perlu tata krama kepadaku tidak perlu berbahasa halus. Panggil aku Kartini saja. Kar-Ti-Ni. Ay Rukmini AuTrinil. Ay Kartini: AuSudah saatnya kita jadi diri kita sendiri. Sekarang ini baca, ini buku bagus. Bacalah!Ay Dialog yang dilakukan Kartini. Rukmini, dan Kardinah menunjukan ajakan Kartini untuk menciptakan ruang sosial yang otonom untuk penegasan martabat. Kartini mengajak adiknya untuk mengabaikan aturan dan etika yang diterapkan di lingkungan tersebut seperti keharusan menggunakan bahasa Jawa Krama untuk orang yang lebih tua atau mengabaikan tata krama dan aturan selama berada di ruangan pingitan yang membatasi gerak mereka. Dialog Kartini yang menyebutkan bahwa ruangan tersebut adalah satu-satunya tempat bagi mereka untuk menjadi diri mereka sendiri mengindikasikan ajakan Kartini untuk melawan budaya patriarki yang menghambat kebebasan perempuan dan gerak perempuan. melalui penegasan martabat mereka yang selama ini di kungkung oleh budaya pingitan dan tata krama lain. Kartini mengajak adiknya untuk mengembangkan diri dan menegaskan martabat mereka di ruang sosial otonom baru yang mereka ciptakan dengan berpikir di luar budaya patriarki yang membelenggu mereka, membaca buku, dan belajar. 3 Tingkat Ideologi Berdasarkan informasi tentang realitas dan representasi, pada adegan 11 dan 12, terdapat ideologi resistensi . tertutup yang melibatkan wacana kewibawaan yang disamarkan. Ini termanifestasi dalam penciptaan ruang sosial yang independen untuk menegaskan martabat dan menentang budaya patriarki dengan membatasi gerak Budaya yang membatasi gerak Kartini. Rukmini, dan Kardinah adalah budaya pingitan dan mereka menciptakan ruang otonom untuk menegaskan martabat mereka di dalam ruang pingitan. Hal tersebut dapat terlihat dari environment atau setting tempat dimana mereka dipingit, kemudian behavior atau pergerakan mereka selama di dalam kamar, dan dialog yang dilakukan Kartini. Rukmini, dan Kardinah di dalam kamar 4 Hasil Temuan Hasil temuan dan ringkasan pembahasan akan dijelaskan dalam tabel dibawah ini: Tabel 2. Hasil temuan adegan 11 dan 12 Hasil temuan Resistensi (Penolaka. Tertutup (Penggunaan Wacana Otoritas yang Tersembunyi, dengan Menciptakan Ruang Sosial yang Otonom untuk Menegaskan Martaba. Terhadap Pembatasan Gerak Adegan 11 & 12 Pada Enviroment (Settin. yang digunakan di adegan 11 Level Realitas dan 12 adalah kamar pingitan dalam dalem ageng. Pingitan tersebut digunakan untuk membatasi gerak anak perempuan ketika memasuki masa akhil baliq. Dalam ruang pingitan yang terisolir tersebut mereka Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 Hasil temuan Level Representasi Level Ideologi Temuannya menciptakan ruang sosial yang mandiri untuk menegaskan martabat mereka sebagai perempuan. Pergerakan atau behaviour beberapa karakter dalam adegan 11 dan 12 menunjukkan bagaimana Kartini menciptakan ruang sosial yang otonom untuk menegaskan martabat mereka sebagai perempuan. Mereka membentuk sebuah kelompok sosial yang memiliki hak dan kekuasaan untuk menentukan langkahlangkahnya sendiri, melepaskan diri dari tradisi pingitan dan norma-norma kebiasaan, melalui berbagai percakapan tentang masa depan, dorongan untuk meningkatkan diri melalui membaca dan pembelajaran, serta kegiatan-kegiatan untuk pengembangan pribadi. Suara melalui dialog yang dilakukan Kartini. Rukmini, dan Kardinah menunjukan ajakan Kartini untuk menciptakan ruang sosial yang otonom untuk penegasan Kartini mengajak adiknya untuk mengabaikan aturan dan etika yang diterapkan di lingkungan tersebut seperti keharusan menggunakan bahasa Jawa Krama untuk orang yang lebih tua atau mengabaikan tata krama dan aturan selama berada di ruangan pingitan yang membatasi gerak mereka. Berdasarkan informasi tentang realitas dan representasi, pada adegan 11 dan 12, terdapat ideologi resistensi . tertutup yang melibatkan wacana kewibawaan yang disamarkan. Ini termanifestasi dalam penciptaan ruang sosial yang independen untuk menegaskan martabat dan menentang budaya patriarki dengan membatasi gerak perempuan. Budaya yang membatasi gerak Kartini. Rukmini, dan Kardinah adalah budaya pingitan dan mereka menciptakan ruang otonom untuk menegaskan martabat mereka di dalam ruang Hal tersebut dapat terlihat dari environment atau setting tempat dimana mereka dipingit, kemudian behavior atau pergerakan mereka selama di dalam kamar, dan dialog yang dilakukan Kartini. Rukmini, dan Kardinah di dalam kamar pingitan. Adegan 11 dan 12 menampilkan resistensi . tertutup terhadap budaya patriarki melalui cara-cara yang bersifat tidak langsung seperti pembentukan ruang sosial yang independent, untuk menunjukkan kehormatan dan Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 3 Resistensi (Penolaka. Tertutup yang Mengungkapkan Kemarahan Tersembunyi Terhadap Pembatasan Gerak Perempuan, yang Terwujud dalam Transkrip Kemarahan Pada Adegan 28, 29, 30, 31. Dan 32 1 Tingkat Realitas 1 Enviroment Lokasi masih tetap berada dalam area pendopo di Kadipaten Japara. Kadipaten tersebut memiliki gerbang dan yang tinggal terbatas untuk kalangan pejabat seperti Keluarga Kartini. Selain kamar pingitan, selama menjalani budaya pingitan Kartini dan adik-adiknya tidak boleh keluar dari lingkungan kadipaten. Area pergerakan mereka hanya terbatas pada kamar pingitan di dalem ageng, pendopo, pringgitan, gandhok, dan pawon (Devi, 2. 2 Behaviour dan Gesture (Pergeraka. Gambar 9. Kartini tidak diperbolehkan keluar kadipaten (Sumber: Netfli. Pada saat Kartini. Rukmini dan Kardinah akan keluar untuk mengantarkan makanan dan tulisannya, mereka tidak diperkenankan keluar oleh penjaga gerbang karena tidak diizinkan oleh kakaknya. Slamet. Adegan ini ditampilkan pada gambar 9. Penjaga tersebut menawarkan untuk menawarkan, tetapi tulisan tersebut malah diserahkan ke kakak lelaki Kartini, kemudian tulisan tersebut dibakar. Behaviour atau pergerakan tersebut memperlihatkan bagaimana Slamet membatasi gerak para adiknya dengan budaya pingitan. Gambar 10. Kertas untuk mengelabui kakaknya dan transkrip diterima Ovinksoer (Sumber: Netfli. Dikarenakan tidak diperbolehkan. Kartini meminta adiknya untuk mengantar bungkusan makanan ke rumah Ny. Ovinksoer, tetapi tidak dan menyelipkan surat rahasia di baju adik lelakinya untuk diserahkan kepada Ny. Ter Horst, akan tetapi aksinya digagalkan oleh penjaga. Makanan tersebut tetap diantar ke kediaman Ny. Ter Horst dan adiknya digeledah. Saat digeledah, kakak lelaki Kartini menemukan sepucuk surat namun di dalamnya tidak tertulis apapun. Di waktu yang sama ketika makanan telah sampai di rumah Ny. Ter Horst. Ny. Ter Horst menemukan surat . yang berisi kegusaran Kartini dan adik-adiknya karena pembatasan pergerakan dilakukan oleh kakak lakilakinya. Adegan ini ditampilkan pada gambar 10. Perilaku itu menggambarkan bagaimana Kartini melawan pembatasan yang dilakukan oleh kakaknya dengan menyembunyikan surat rahasia yang berisi transkrip kemarahan. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 2 Tingkat Representasi 1 Sound (Dialo. Kartini: AuBuka gerbang pak. Ay Penjaga: AuTunggu! Tutup. Ay Kartini: AuAda apa pak?Ay Penjaga: AuMohon maaf tuan putri, saya diperintahkan Tuan Slamet tuan putri tidak boleh keluar pendopo. Ay Kartini: AuTolong antarkan tulisanku. Yang akan terbit besok Ke rumah Nyonya Ter Horst. Ay Penjaga: AuBiar saya yang mengantarnya. Ay Percakapan antara Kartini dan penjaga yang diperintah Slamet kakak mereka menunjukan bagaimana Slamet membatasi gerak ketiga adik-adiknya. Perempuan yang sedang menjalani pingitan tidak boleh keluar dari area pendopo kadipaten dan kamar pingitan sehingga Slamet sebagai otoritas tertinggi di dalam area pendopo ketika orangtua mereka sedang tidak berada di pendopo memberikan perintah tersebut. 3 Tingkat Ideologi Adegan 28, 29, 30, 31, dan 32 menggambarkan pelaksanaan budaya patriarki, yaitu pembatasan gerak perempuan, yang diterapkan terhadap Kartini dan saudarasaudaranya, sebagaimana terlihat dalam dialog mereka. Perlawanan terhadap pembatasan tersebut terlihat dalam perilaku Kartini dan saudara-saudaranya, yang mencerminkan resistensi tertutup dalam bentuk ekspresi kemarahan yang tersembunyi. 4 Hasil Temuan Hasil temuan dan ringkasan pembahasan akan dijelaskan dalam tabel dibawah ini: Tabel 3. Hasil temuan adegan 28, 29, 30, 31, dan 32 Hasil temuan Resistensi (Penolaka. Tertutup yang Mengungkapkan Kemarahan Tersembunyi Terhadap Pembatasan Gerak Perempuan, yang Terwujud dalam Transkrip Kemarahan pada Adegan 28, 29, 30, 31, dan 32 Enviroment atau setting masih tetap berada dalam area Level Realitas pendopo di Kadipaten Japara. Kartini dan adik-adiknya masih dipingit didalam kamar pingitan dan mereka tidak diperbolehkan keluar dari lingkungan Kadipaten. Pada Behaviour, gesture atau pergerakan Kartini, mereka berusaha mengirimkan surat kepada Ny. Ter Horst berupa transkrip kemarahan yang tersembunyi yaitu resistensi atau penolakan Kartini dan adik-adiknya terhadap tradisi pingitan dan pembatasan gerak yang dilakukan oleh keluarganya dan meminta Ny. Ter Horst untuk menyelamatkan mereka. Percakapan antara Kartini dan Penjaga yang diperintah Level Representasi Slamet kakak mereka menunjukan bagaimana Slamet membatasi gerak ketiga adik-adiknya. Perempuan yang sedang menjalani pingitan tidak boleh keluar dari area pendopo kadipaten dan kamar pingitan sehingga Slamet sebagai otoritas tertinggi di dalam area pendopo ketika Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 Hasil temuan Level Ideologi Temuannya orangtua mereka sedang tidak berada di pendopo memberikan perintah tersebut. Adegan 28, 29, 30, 31, dan 32 menggambarkan pelaksanaan budaya patriarki, yaitu pembatasan gerak perempuan, yang diterapkan terhadap Kartini dan saudara-saudaranya, sebagaimana terlihat dalam dialog Perlawanan terhadap pembatasan tersebut terlihat dalam perilaku Kartini dan saudara-saudaranya, yang mencerminkan resistensi tertutup dalam bentuk ekspresi kemarahan yang tersembunyi yang terwujud dalam transkrip atau surat berisi kegusaran dan kemarahan mereka atas pingitan dan pembatasan gerak yang dilakukan keluarga mereka. Surat tersebut ditujukan untuk Ny. Ter Horst salah satu orang yang memiliki kedudukan tinggi diatas keluarga Kartini. Adegan 28, 29, 30, 31, dan 32 menampilkan resistensi . tertutup dalam bentuk transkrip kemarahan yang tersirat terhadap budaya patriarki dan pembatasan kebebasan perempuan. KESIMPULAN Sesudah meneliti simbol-simbol pada elemen-elemen film, dapat disimpulkan bahwa film Kartini mengandung indikasi perlawanan perempuan Jawa terhadap dominasi budaya patriarki. Komponen film yang menggambarkan tanda-tanda penolakan terhadap budaya patriarki, termasuk lokasi, teknik sinematografi, penataan adegan, editing, dan elemen audio. Ada tiga jenis resistensi . tertutup yang ditemukan, yaitu tindakan keras, retorika kekuasaan yang terselubung untuk menciptakan ruang sosial mandiri, dan ekspresi kemarahan yang tidak terucapkan secara terang-terangan. Aspek-aspek perlawanan terhadap budaya patriarki termasuk: Adegan 2 menampilkan penolakan tertutup terhadap budaya patriarki dalam bentuk agresi terhadap pembatasan gerak perempuan. Adegan 11 dan 12 menampilkan resistensi . tertutup terhadap budaya patriarki melalui cara-cara yang bersifat tidak langsung seperti pembentukan ruang sosial yang independent, untuk menunjukkan kehormatan dan kekuatan. Adegan 28, 29, 30, 31, dan 32 menampilkan resistensi . tertutup dalam bentuk catatan kekesalan yang tersirat terhadap budaya patriarki dan pembatasan kebebasan perempuan. Dari analisis yang telah dilakukan sebelumnya, riset ini menyimpulkan bahwa simbol-simbol dalam elemen-elemen film Kartini mencerminkan resistensi . tertutup perempuan Jawa terhadap patriarki. Resistensi . tertutup tersebut tercermin melalui tanda-tanda yang muncul dalam elemen-elemen film. Tanda-tanda ini meliputi lokasi, teknik sinematografi, penataan adegan, pengeditan, dan elemen audio. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 9. Nomor 1. Juli 2024 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 SARAN Riset ini dapat diperdalam dengan menyelami lebih dalam tentang bagaimana penolakan tersembunyi perempuan Jawa terhadap norma-norma patriarki tercermin melalui komponen visual dan aspek lain dari film Kartini . Fokus riset bisa diperluas untuk mengkaji aspek-aspek lain pada film dengan mengalihkan fokus gender studi lain. Selain itu, mengadopsi pendekatan metodologis yang tepat untuk menganalisis narasi visual dan audiovisual dalam kerangka feminis akan sangat bermanfaat. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis berikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penelitian ini, khususnya kepada pihak dari Program Studi Seni. Minat Studi Pengkajian Videografi. Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Program Studi Desain Komunikasi Visual. Universitas Stekom atas seluruh dukungan yang telah diberikan selama penelitian ini berlangsung. DAFTAR PUSTAKA