JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA p-ISSN 2620-9950 Efektivitas Penggunaan Pendose dalam Mengevaluasi Nilai Dosis Radiasi Petugas pada Operasional Alat C-Arm Di Rumah Sakit Umum Daerah Al Ihsan Pemprov Jawa Barat Ardiana1 ,Lili Julia Rahmat2. Oktarina Damayanti3 Radiology Department. Politeknik Al Islam Bandung. West java. Indonesia 1,2,3 Corresponding author: Ardiana Email: ardiana. dosentro@gmail. ABSTRACT Background: The use of C-Arm in interventional radiology procedures has,potential to expose both patients and radiation workers to ionize the radiation. Therefore, radiation dose monitoring is essential to ensure occupational safety in accordance with radiation protection principles. This study aimed to evaluate the radiation dose received by radiation workers using a personal dosimeter (Pendos. and to measure the output dose of the C-Arm device at Al-Ihsan General Regional Hospital. West Java. Methods: This research employed a descriptive quantitative method with direct data collection from 64 examinations involving 10 radiographers. The data recorded included C-Arm output dose . and personal dose measured with Pendose (AAS. after each procedure. Descriptive statistical analysis was conducted, including mean, minimum, maximum, and standard deviation values, and data visualization was presented in the form of comparative and distribution charts. Results: The results showed that the mean C-Arm output dose was 52. 8 mGy . ange 0Ae1226. 6 mGy. = 187. , while the mean Pendose dose was 0. 52 AASv . ange 0Ae18. 3 AASv. SD = 2. Most examinations produced low radiation doses, but some procedures showed extreme values. The histogram indicated that the majority of doses were distributed within the lower range, with a few outliers in certain cases. Conclusions: The radiation doses received by workers were relatively low and within safe limits, which is likely due to the short fluoroscopy duration and appropriate imaging techniques. Nevertheless, the presence of high-dose variations in several cases highlights the importance of continuous dose monitoring and the application of the ALARA principle in clinical practice. Keyword: C-Arm. Pendose. occupational dose. Pendahuluan Penggunaan fluoroskopi dalam prosedur bedah dan diagnostik, khususnya melalui perangkat Carm, telah menjadi bagian integral dari pelayanan kesehatan modern (Ojodu et al. , 2. Ruang operasi dan intervensi medis yang menggunakan Carm memungkinkan visualisasi real-time, yang sangat penting dalam tindakan seperti ortopedi, traumatologi, kardiologi dan pembedahan vaskular (Meurer, 2. Namun demikian, di samping manfaat diagnostik dan terapeutik. C-arm menghasilkan radiasi hambur . yang dapat menyebabkan paparan radiasi bagi petugas yang berada di sekitarnya. Paparan ini, walaupun dalam dosis per-prosedur mungkin rendah, tetapi memiliki potensi akumulasi efek jangka panjang, seperti peningkatan risiko kanker, katarak, dan efek deterministik lainnya. Oleh karena itu, prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievabl. dan regulasi proteksi radiasi menjadi dasar penting dalam setiap fasilitas kesehatan yang menggunakan teknologi sinar-X (Gopee-Ramanan & Reis, 2. Risiko paparan radiasi dalam prosedur intervensi telah banyak diteliti secara global (Alvarez et al. , 2022. Hiswara et al. , 2. menunjukkan perlunya optimasi teknik dan pemantauan dosis pekerja. Dalam konteks nasional, regulasi dari BAPETEN mengatur dosis batas pekerja radiasi dan mewajibkan pemantauan dosis melalui dosimeter personal secara berkala (Nadia et al. , 2. Meskipun demikian, laporan lokal menunjukkan bahwa di beberapa RSUD, termasuk di Jawa Barat, fasilitas monitoring dan evaluasi paparan radiasi petugas belum selalu dilakukan secara optimal, terutama ketika prosedur menggunakan C-arm yang bersifat mobil dan posisi petugas bisa berubah-ubah selama Tindakan (Sahfira et al. , 2. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa variabel teknis seperti frame rate, voltase . V), collimation, dan penggunaan pelindung . sangat memengaruhi besaran radiasi hambur dan JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA p-ISSN 2620-9950 paparan ke petugas. Misalnya, penelitian di Eropa dan Asia memetakan distribusi radiasi hambur dan melaporkan bahwa penempatan dosimeter referensi pada alat dapat menjadi indikator cepat jika terjadi paparan tinggi, selaras dengan pembacaan dosimeter personal (Mohd Ridzwan et al. , 2. Penelitian lain mengenai dosis radiasi pasien dan variabel teknis dalam pemeriksaan radiografi konvensional yang memberi gambaran bahwa menghasilkan dosis yang berbeda signifikan (Raharja et al. , 2. Selain itu, penelitiandengan judul Au Evaluasi Penerimaan Dosis Radiasi pada Pekerja Radiologi di Instalasi Radiologi RSUD WonosariAy memberikan data riwayat dosis pekerja, korelasinya dengan volume pemeriksaan radiologi, dan menunjukkan bahwa meskipun dosis pekerja masih dalam batas aman regulasi, terdapat hubungan positif antara jumlah pemeriksaan dan dosis yang diterima petugas(MasAouul et al. , 2. Sampai saat ini belum banyak penelitian lokal secara sistematik yang mengevaluasi efektivitas penggunaan alat referensi/dosimeter yang dipasang pada unit C-arm yang dalam konteks lokal dikenal sebagai AuPendoseAy untuk mengestimasi paparan petugas dalam operasi C-arm. Ketiadaan data lokal mengenai korelasi antara nilai yang dibaca oleh Pendose dengan dosimeter personal petugas, serta pengaruh faktor prosedural dan teknis di rumah sakit daerah seperti RSUD Al-Ihsan, menjadi gap penelitian yang perlu dikaji. Berdasarkan hal tersebut Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan Pendose dalam memantau dosis radiasi yang diterima pekerja radiasi selama operasional alat C-arm di RSUD Al-Ihsan. Jawa Barat. Secara khusus, penelitian ini difokuskan untuk: mengukur dan membandingkan dosis radiasi yang dicatat oleh Pendose dengan dosimeter personal pada berbagai prosedur C-arm, menganalisis pengaruh faktor teknis dan prosedural terhadap perbedaan hasil pengukuran dosis, dan memberikan rekomendasi kebijakan proteksi radiasi berbasis bukti ilmiah guna mendukung keselamatan pekerja radiasi di rumah sakit Metode Jenis penelitian ini adalah kuantitatif yang berfokus pada deskripsi data secara sistematis. Lokasi penelitian dilaksanakan di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat pada bulan Juli-Agustus 2025. Populasi penelitian adalah seluruh pekerja radiasi yang bertugas mengoperasionalkan alat C-Arm, dengan sampel sebanyak 10 orang radiografer yang terlibat selama periode penelitian. Data diperoleh melalui pencatatan langsung terhadap hasil output dosis pada monitor C-Arm . atuan mG. serta dosis personal dari pendose . atuan AAS. yang dikenakan oleh pekerja radiasi setelah setiap pemeriksaan selesai dilakukan. Sampel dalam penelitian ini menggunakan 64 pemeriksaan yang diperoleh melalui metode total Instrumen penelitian berupa alat C-Arm dan dosimeter personal . yang digunakan sesuai standar proteksi radiasi di rumah sakit. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan ukuran pemusatan . , dispersi . impangan bak. , serta nilai minimum dan maksimum. Temuan penelitian disajikan secara visual menggunakan tabel dan grafik sebagai representasi distribusi data serta tren perbandingan antara dosis keluaran C-Arm dengan dosis personal pekerja radiasi. Hasil dan Pembahasan Terdapat beberapa temuan dari data yang sudah diperoleh yaitu Jumlah pemeriksaan sebanyak 64 pemeriksaan dengan menggunakan C-Arm . Jumlah pekerja radiasi yang terlibat sebanyak 10 orang radiografer yang bertugas mengoperasionalkan alat C-Arm selama periode penelitian. Jenis pemeriksaan berupa variasi tindakan yang menggunakan C-Arm meliputi ORIF. Epiduralisis. Decompresi & Stabilisasi Posterior. ROI Radius. RPG, dan beberapa prosedur lainnya. Dengan demikian, data penelitian ini mencerminkan aktivitas klinis nyata pekerja radiasi dalam penggunaan alat C-Arm serta memungkinkan dilakukan evaluasi perbandingan antara dosis keluaran alat dan dosis individu yang terekam pada Berikut Adalah hasil analisis deskriptif dari temuan data di lapangan Variabel C-arm . Pendose (AAS. Tabel 1. Statistik Deskriptif Mean Min Max Standar deviasi Tabel 2. Distribusi Frekuensi Dosis C-Arm Rentang Dosis Frekuensi Persentase . 0 Ae 10 11 Ae 50 51 Ae 200 201 Ae 500 > 500 Total JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA p-ISSN 2620-9950 Tabel 3. Distribusi Frekuensi Dosis Pendose Rentang Dosis Frekuensi Persentase (AAS. 0 Ae 0. 6 Ae 1. 1 Ae 5. > 5. Total Data di atas menunjukan distribusi data dan mayoritas pemeriksaan menghasilkan dosis rendah, meskipun terdapat beberapa nilai ekstrem yang jauh lebih tinggi. Kondisi ini sejalan dengan teori yang menyebutkan bahwa besarnya paparan radiasi sangat dipengaruhi oleh durasi fluoroskopi, teknik imaging, serta faktor operator (Ojodu et al. , 2018. Meurer, 2. Pemeriksaan dengan fluoroscopy time yang lebih singkat dan penggunaan teknik kolimasi yang tepat akan menghasilkan dosis yang lebih rendah. Temuan ini konsisten dengan penelitian Falahatkar et al. yang melaporkan bahwa pengurangan durasi fluoroskopi secara signifikan menurunkan dosis radiasi pasien, serta studi Cheng et al. yang membuktikan bahwa low-dose fluoroscopy protocol mampu menekan paparan tanpa menurunkan kualitas gambar. Dengan demikian, rendahnya rata-rata dosis pada penelitian ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh praktik penggunaan fluoroskopi yang lebih efisien oleh operator di RSUD Al-Ihsan. Meskipun demikian, keberadaan nilai dosis ekstrem, misalnya 1226,6 mGy pada C-Arm dan 18,3 AASv pada Pendose, menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu pekerja radiasi dapat terpapar lebih Hal ini kemungkinan terjadi akibat durasi fluoroskopi yang lebih lama, jarak operator yang terlalu dekat dengan sumber radiasi, atau keterbatasan penggunaan proteksi tambahan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Raharja et al. di Indonesia yang menyebutkan bahwa variabilitas dosis pekerja sangat dipengaruhi oleh teknik operator dan penerapan prinsip proteksi Hasil penelitian ini mendukung penerapan prinsip ALARA sesuai panduan ICRP Publication 103 serta ketentuan nasional dalam Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 4 Tahun 2013. Dosis personal rata-rata yang diperoleh menunjukkan tingkat paparan yang masih aman, yakni di bawah Nilai Batas Dosis (NBD), adanya variasi dan kasus outlier menegaskan perlunya monitoring dosis personal secara rutin, evaluasi penggunaan C-Arm, serta penguatan disiplin proteksi radiasi bagi Hal ini penting untuk memastikan keselamatan pekerja tetap terjaga dan risiko radiasi dapat ditekan seminimal mungkin. Penelitian Miyantra et al. juga menunjukkan variasi dosis pada pemeriksaan coronary angiography di Indonesia, yang serupa dengan variasi nilai outlier pada penelitian ini Berikut grafik dengan sumbu ganda yang membandingkan tren antara Output Dosis C-Arm . dan Dosis Pendose (AAS. untuk tiap pasien. Gambar 1. Grafik perbandingan output dosis C-Arm dan dosis pendose Grafik menunjukkan bahwa nilai output dosis CArm . bervariasi cukup besar antar pemeriksaan, mulai dari nilai sangat rendah . ,2 mG. hingga sangat tinggi . ebih dari 1200 mG. Sebaliknya, nilai dosis Pendose (AAS. cenderung lebih rendah dan relatif stabil, meskipun tetap menunjukkan kenaikan pada pemeriksaan dengan output C-Arm tinggi. Hal ini sejalan dengan penelitian Al Zubaidy et . yang menemukan bahwa pada prosedur diagnostic coronary angiography di Indonesia, durasi fluoroscopy memiliki pengaruh signifikan terhadap besarnya dosis radiasi pasien maupun Terlihat adanya pola kesesuaian: saat dosis CArm meningkat, dosis yang tercatat pada Pendose juga meningkat. Misalnya, pada pemeriksaan dengan output dosis sangat tinggi . 6,6 mGy dan 340,4 mG. , nilai Pendose juga naik signifikan . ,3 AASv dan 7,6 AAS. Namun, pada dosis rendah . isalnya <5 mG. , sebagian besar nilai Pendose tercatat mendekati 0 AASv atau sangat kecil. Beberapa titik menunjukkan nilai C-Arm yang ekstrem tinggi yaitu 1226,6 mGy dengan lonjakan dosis Pendose. Hal ini perlu diperhatikan sebagai indikasi pemeriksaan dengan paparan yang tidak biasa atau lebih lama. JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA p-ISSN 2620-9950 Meskipun output C-Arm tinggi, dosis yang diterima pekerja radiasi berdasarkan Pendose tetap relatif kecil. Hal ini menunjukkan bahwa proteksi radiasi (APD, jarak, dan shieldin. bekerja cukup Upaya proteksi tambahan seperti penggunaan shielding terbukti dapat menurunkan dosis pekerja (Zhang, 2. Perbedaan signifikan antara output C-Arm dan Pendose menegaskan pentingnya menggunakan pendose . osimeter persona. dimana Output mesin hanya menggambarkan radiasi yang dihasilkan, sementara pendose mencatat radiasi aktual yang diterima oleh pekerja (Jang et al. , 2. Adanya fluktuasi dosis Pendose meskipun tidak setinggi output mesin menandakan bahwa posisi pekerja, durasi paparan, dan penggunaan proteksi berperan penting dalam menentukan dosis individu. Data ini mendukung teori dalam literatur ICRP 103 dan Permenkes No. 1014 Tahun 2008 yang menyebutkan bahwa dosis pekerja radiasi seharusnya tetap jauh di bawah ambang batas tahunan sebanyak 20 mSv/tahun rata-rata dalam 5 tahun, atau 50 mSv dalam setahun (Ghani et al. Nilai dosis personal dalam penelitian ini sejalan dengan hasil studi di RSUP Adam Malik Medan, di mana nilai dosis pekerja radiologi . okter, perawat, radiografe. tercatat pada kisaran 1-59 AASv tergantung jenis prosedur dan durasi paparan. Pemeriksaan dengan lonjakan dosis tinggi perlu dievaluasi kembali tekniknya yaitu waktu fluoroskopi, jarak sumber dengan pasien, dan proteksi petugas. Temuan ini konsisten dengan studi Samsun et al. yang melaporkan bahwa dosis hamburan di ruang cathlab dapat ditekan melalui optimasi teknik fluoroscopy dan penggunaan dosimeter personal. Data ini dapat menjadi baseline untuk evaluasi periodik terhadap paparan pekerja di ruang operasi atau intervensi yang menggunakan C-Arm. Gambar 2. Grafik distribusi Nilai Histogram C-Arm menunjukkan distribusi yang sangat lebar, mulai dari nilai mendekati 0 mGy hingga lebih dari 1200 mGy. Sebagian besar pemeriksaan terkonsentrasi pada rentang rendah . Ae 30 mG. dengan frekuensi cukup tinggi. Namun terdapat outlier berupa nilai yang sangat tinggi . atusan hingga ribuan mG. , yang meskipun jarang terjadi tetapi sangat memengaruhi rata-rata dan variasi data. Distribusi cenderung right-skewed . ondong ke kana. karena adanya nilai ekstrem yang jauh lebih besar dibanding mayoritas data. Histogram Pendose menunjukkan bahwa mayoritas nilai berada di rentang rendah . Ae1 AAS. Hanya sedikit kasus dengan nilai lebih tinggi, misalnya >5 AASv, dan hanya satu data yang mencapai 18,3 AASv . Distribusi juga bersifat right-skewed, di mana sebagian besar nilai terkonsentrasi di dekat nol tetapi ada ekor panjang menuju nilai yang lebih Histogram sebaran nilai menunjukkan bahwa output dosis C-Arm . memiliki rentang yang sangat lebar, dengan sebagian besar pemeriksaan berada pada kategori rendah antara 0Ae30 mGy, namun terdapat beberapa nilai ekstrem yang mencapai lebih dari 1000 mGy. Kondisi ini mencerminkan variasi penggunaan C-Arm yang dipengaruhi oleh faktor teknis, seperti durasi fluoroskopi, mode pemeriksaan, serta kompleksitas tindakan intervensi (Ojodu et al. , 2. Sebaran data yang cenderung condong ke kanan . mengindikasikan bahwa meskipun sebagian besar pemeriksaan menggunakan monitoring rendah, terdapat sejumlah kecil pemeriksaan dengan paparan tinggi yang secara signifikan memengaruhi rata-rata dan variasi data. Sebaliknya, sebaran dosis Pendose (AAS. yang merepresentasikan paparan aktual pekerja radiasi menunjukkan kecenderungan yang relatif stabil dengan nilai yang umumnya berada di bawah 1 AASv. Hanya sedikit kasus dengan paparan di atas 5 AASv, dan terdapat satu nilai ekstrem sebesar 18,3 AASv. Pola distribusi ini menegaskan bahwa proteksi radiasi yang diterapkan di ruang pemeriksaan berjalan cukup efektif, sehingga dosis yang diterima pekerja tetap jauh lebih rendah dibandingkan output yang dihasilkan oleh C-Arm. Hasil ini sejalan dengan teori proteksi radiasi yang dinyatakan dalam ICRP Publication 103 dan regulasi nasional seperti Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 4 Tahun 2013, yang menegaskan perlunya menjaga tingkat paparan radiasi pekerja di bawah ambang batas 20 mSv per tahun . ata-rata lima tahuna. , sesuai dengan prinsip ALARA yang menjadi dasar utama dalam JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA p-ISSN 2620-9950 praktik proteksi radiasi. Meskipun distribusi dosis Pendose menunjukkan nilai yang relatif kecil, keberadaan outlier menandakan bahwa masih terdapat potensi paparan lebih tinggi pada kondisi tertentu, misalnya saat fluoroskopi digunakan lebih lama atau pekerja berada lebih dekat dengan sumber Penelitian monitoring dosis personal secara kontinu dan evaluasi teknis penggunaan C-Arm pada pemeriksaan yang memerlukan paparan lebih Upaya ini diperlukan untuk memastikan keselamatan pekerja radiasi tetap terjaga, serta mendukung implementasi proteksi radiasi yang optimal sesuai dengan standar internasional maupun regulasi nasional. Penelitian terbaru oleh Richter et al. menekankan pentingnya dosimetri real-time dalam fluoroscopy guided procedures untuk memastikan paparan pekerja tetap terkendali, sesuai dengan prinsip proteksi radiasi ALARA. Ay Penelitian Oinike et al. pada pemeriksaan cerebral DSA menggunakan biplane C-Arm juga menunjukkan bahwa dosis organ kritis pasien fluoroscopy, mendukung temuan penelitian ini bahwa faktor teknis fluoroscopy berperan penting dalam besarnya dosis radiasi. Daftar Pustaka