ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 FAKTOR INTERNAL ORGANISASI DAN PENCEGAHAN FRAUD PADA PENGELOLAAN WISATA MANGROVE DI MADURA Naqibati RifAoatul Khomsah1 Faculty of Economy and Business. University of Trunojoyo Madura kh@gmail. Anita Carolina2 Faculty of Economy and Business. University of Trunojoyo Madura carolina@trunojoyo. Rian Abrori3 Faculty of Economy and Business. University of Trunojoyo Madura abrory@trunojoyo. AbstractAiThis study aims to identify many factors that can influence fraud prevention in management of mangrove ecotourism in Madura. The population in this study was all management of mangrove ecotourism in Madura. This research uses quantitative methods with several independent variables, namely integrity, organizational culture, accountability and internal control systems, while the dependent variable is fraud prevention. This study uses primary data by distributing questionnaires to pokdarwisAos members and managed to obtain 161 respondents. Multiple linear regression analysis is used for data analysis The result indicates that organizational culture and internal control systems have a positive effect on fraud prevention. It is caused by the implementation of transparency through using information boards in tourism management has not been maximized. Different results are obtained in which integrity and accountability have no effect on fraud prevention. PokdarwisAos members are always monitoring and formation of an organizational culture that is aware of fraud prevention actions are the reasons for its influence. Keywords: Integrity. Organizational Culture. Accountability. Internal Control System. Fraud Prevention. PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Fraud masih menjadi problematika global yang bertujuan untuk membohongi kelompok lain (ACFE, 2. Kasus yang meluas membuat fraud menjadi sebuah business crime (Skousen et al. , 2. Laporan ACFE . menunjukkan menjelaskan bahwa organisasi mengalami kerugian sejumlah 5% dari bruto karena terjadinya fraud. Total kerugian yang timbul karena fraud di Indonesia mencapai Rp 873. 430 miliar yang didominasi oleh corruption (ACFE Indonesia, 2. Kasus fraud tidak hanya merugikan sektor perbankan dan pemerintah, tetapi juga berdampak pada sektor pariwisata dengan presentase 1,3% (ACFE Indonesia, 2. Kasus fraud di sektor pariwisata, khususnya ekowisata mangrove terjadi tahun 2015 di Subang. Jawa Barat yang menjerat Mohamad Jueni sebagai pelaku kasus korupsi rehabilitasi hutan mangrove yang merugikan negara sebesar Rp 750 juta (Hafid, | 295 | Vol. No. Desember 2022 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Pendapatan devisa pada tahun 2015 di sektor pariwisata mencapai Rp 12,23 miliar sehingga hal ini menjadi sektor ekonomi paling penting di Indonesia (Kemenparekraf, 2. Perkembangan pariwisata di Indonesia membuat Provinsi Jawa Timur menjadi provinsi yang memiliki kearifan dan keunikan pariwisata salah satunya yaitu Madura. Banyak pariwisata yang berkembang di Madura, antara lain ekowisata mangrove yang berfungsi sebagai peredam gelombang laut dari abrasi dan erosi, juga sarana edukasi untuk memperkenalkan keindahan dan budaya masyarakat setempat yang nantinya akan mempengaruhi perkembangan perekonomian desa (Sutiarso, 2. Presiden Joko Widodo juga memberikan perhatian khusus terkait pentingnya restorasi mangrove untuk menghasilkan karbon kredit (Jelita, 2. Sehubungan dengan pentingnya ekowisata mangrove, maka diperlukan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan atau sustainable tourism (Noor & Pratiwi. Keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata mangrove berkelanjutan tercermin dengan didirikannya kelompok sadar wisata . (Rianti et al. , 2. Selama pandemi, ekowisata mangrove juga mengalami penurunan pengunjung. Hal ini mengakibatkan berkurangnya pendapatan yang diterima, sehingga membuat pengelola kesulitan dalam memperbaiki dan mengembangkan wisatanya. Namun, bantuan langsung tunai dan dana hibah sebagai suntikan dana dalam mengelola pariwisata malah dimanfaatkan oleh segelintir oknum. Kasus pungli . ungutan lia. terjadi di Pantai Lombang. Sumenep yang dilakukan oleh anggota pokdarwis. Namun pihak pengelola inti tidak bisa berbuat banyak, sehingga upaya yang dilakukan agar tidak terjadi pungli yaitu dengan membangun pagar setinggi 3 meter dan membuat satu jalur pintu masuk (Rosy, 2. Fenomena kecurangan . masih menjadi topik hangat yang diperbincangkan khalayak dunia. Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) mengartikan fraud sebagai penyalahgunaan wewenang yang dimanfaatkan oleh seseorang untuk memperkaya diri sendiri secara sengaja berupa penyalahgunaan aset serta sumber daya (ACFE Indonesia, 2. Pentingnya pariwisata bagi perekonomian Indonesia bertolak belakang dengan banyaknya kasus fraud di Indonesia, khususnya ekowisata mangrove. Hal yang memotivasi untuk melakukan fraud menurut fraud triangle theory antara lain, tekanan . , peluang . dan rasionalisasi . (Cressey, 1. Fraud adalah suatu permasalahan yang kompleks dan sulit untuk dihilangkan seutuhnya (Skousen et al. , 2. Sehingga penting untuk melaksanakan tindakan pencegahan (ACFE, 2. Pencegahan fraud memerlukan pemahaman yang menyeluruh tentang motif dan alasan dasar pelaku melakukan fraud, sehingga dapat dilakukan pencegahan yang tepat (Sow et al. , 2. Pencegahan fraud dapat diupayakan dengan cara meneliti faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya tindakan kecurangan (Skousen et al. , 2. Integritas adalah prinsip individu terhadap norma-norma etis yang dianut dan diimplementasikan melalui perilakunya (Huberts, 2018. Schlenker, 2. Penting bagi sebuah organisasi untuk memiliki integritas untuk menunjukan bahwa dirinya adalah orang yang bertanggungjawab dan berdedikasi (Covey, 2004. Said, 2. Rasionalisasi . merupakan salah satu elemen dari fraud triangle theory yang dikaitkan dengan lemahnya integritas serta hubungan yang tidak baik antar anggota dalam organisasi (Lou & Wang, 2. Integritas mewajibkan individu untuk bersikap andal, terbuka dan bertanggungjawab (Barlaup et al. , 2009. Schlenker, 2. Organisasi yang gagal dalam menerapkan budaya kejujuran dapat menyebabkan perilaku curang (Murphy & Dacin, 2. Integritas diantara anggota organisasi mencegah adanya pemikiran untuk merasionalkan tindakan kecurangan sehingga dapat mencegah terjadinya fraud (Said, 2017. Sow et al. | 296 | Vol. No. Desember 2022 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Budaya organisasi yakni adat istiadat, keyakinan serta kebiasaan yang diciptakan dan disetujui menjadi sebuah pedoman atau petunjuk untuk anggota organisasi saat melakukan aktivitasnya (Arens et al. , 2012. Robbins & Judge, 2013. Schein, 2. Penerapan budaya etis dalam organisasi dapat memberikan contoh etis kepada anggotanya sehingga mampu mencegah terjadinya kecurangan (Murphy & Dacin, 2. Hal ini mencegah pemikiran untuk mewajarkan atau merasionalkan perbuatan curang (Suh et al. , 2. Akuntabilitas merupakan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan mengungkapkan hasil kegiatan secara terbuka (Almquist et al. , 2013. OAoDwyer & Unerman. Rutkowski & Steelman, 2. Akuntabilitas mewajibkan organisasi untuk mempertanggungjawabkan dan mengungkapkan hasil kegiatannya secara transparan sehingga organisasi tidak akan memanipulasi pelayanan publik demi keuntungan pribadi mereka (Almquist et al. , 2013. Christensen & Skyrbyk, 2. Apabila seseorang mempunyai akuntabilitas yang baik, maka tidak akan termotivasi untuk melakukan kecurangan meskipun terdapat tekanan/dorongan dalam pekerjaannya, yang secara otomatis bisa mencegah individu melakukan kecurangan (Graycar & Sidebottom, 2. Sistem pengendalian internal merupakan cara organisasi untuk menjaga aset, menyediakan informasi yang tepat serta memperbaiki efektifitas organisasi dan mendorong konsistensi kebijakan yang sudah ditentukan (AICPA, 2002. COSO, 2013. Romney & Steinbart, 2. Sistem pengendalian internal yang kuat dapat meminimalisir peluang untuk melakukan kecurangan, sehingga mampu mengurangi atau mencegah seseorang melakukan kecurangan yang bisa merugikan orang lain (Sow et al. , 2018. Tuanakotta, 2. Karena latar belakang yang telah dijelaskan di atas, rumusan masalah pada penelitian ini, yaitu : apakah integritas, budaya organisasi, akuntabilitas dan sistem pengendalian internal berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud? Penelitian ini menyatukan variabel integritas, budaya organisasi, akuntabilitas, sistem pengendalian internal dan pencegahan fraud dalam satu riset penelitian yang diproksikan dengan fraud triangle theory. Penelitian sebelumnya menggunakan objek-objek sektor pemerintah dan perbankan, sedangkan penelitian ini menggunakan objek sektor pariwisata khususnya ekowisata mangrove. Oleh sebab itu, peneliti ingin menguji kembali pengaruh integritas, budaya organisasi, akuntabilitas dan sistem pengendalian internal terhadap pencegahan fraud pada pengelolaan ekowisata mangrove di Madura. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh positif antara integritas, budaya organisasi, akuntabilitas dan sistem pengendalian internal terhadap pencegahan fraud. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data primer yang langsung diperoleh dari responden agar lebih akurat. 3 Telaah Literatur dan Hipotesis 1 Fraud Triangle Theory Menurut Cressey . dalam fraud triangle theory terdapat tiga faktor yang memicu tindakan fraud, yang terdiri dari: Tekanan (Pressur. Tekanan . mengacu pada keinginan seseorang untuk melangsungkan tindakan fraud karena terdapat tekanan atau dorongan dari pihak eksternal maupun internal, yang timbul karena adanya masalah keuangan, pekerjaan, gaya hidup dan sebagainya (Cressey, 1. Skousen et al. mengartikan pressure sebagai tekanan yang memotivasi individu untuk terlibat dalam perilaku kecurangan yang | 297 | Vol. No. Desember 2022 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 dapat terjadi pada semua anggota organisasi karena berbagai alasan. Menurut Skousen et al. , . , tekanan penyebab terjadinya fraud antara lain : Financial stability merupakan faktor yang sering menjadi penyebab individu melakukan kecurangan. Personal financial Need Motivasi merupakan faktor individu melakukan kecurangan karena kecanduan judi, obat-obatan terlarang, dan tingginya gaya Financial target merupakan faktor individu melakukan kecurangan karena merasa pekerjaan tidak dihargai, takut tidak naik pangkat, serta merasa di remehkan secara ekonomi. External pressure merupakan faktor individu melakukan kecurangan karena keinginan pasangan untuk menjadi kaya, keinginan menggembirakan keluarga, serta tekanan lain yang tidak disebut di atas. Peluang (Opportunit. Peluang dalam organisasi mempunyai dampak yang signifikan terhadap keputusan seseorang melakukan fraud (Rae & Subramaniam, 2. Kurangnya atau tidak efisiennya sistem pengendalian internal serta memiliki pengaruh dan kemampuan untuk memanfaatkan peluang merupakan penyebab terjadinya kecurangan (Skousen et al. , 2. Skousen et al. , . membagi peluang menjadi tiga kondisi, yaitu: Nature industry. Salah satu faktor munculnya risiko bagi organisasi yang melibatkan pertimbangan dan estimasi yang signifikan. Ineffective monitoring. Terjadinya fraud yang diakibatkan dari pengawasan yang Organization structure. Terjadinya fraud yang diakibatkan tidak stabilnya struktur Rasionalisasi (Rationalizatio. Rasionalisasi merupakan pemikiran yang membenarkan tindakan seseorang sebagai sikap yang benar dan dapat diterima masyarakat (Cressey, 1. Perlu diketahui bahwa pelaku fraud tidak menganggap tindakan mereka tidak etis, akan tetapi menganggap tindakan meraka sebagai perilaku etis (Lou & Wang, 2. Seseorang yang memiliki pemikiran rasionalisasi, bagaimanapun dapat mewajarkan atau membenarkan tindakan kecurangan dengan cara dan alasan yang berbeda melalui berbagai pembenaran (Cressey, 1. 2 Penelitian Terdahulu dan Hipotesis Penelitian 1 Integritas terhadap Pencegahan Fraud Huberts . menjelaskan bahwa integritas adalah nilai-nilai jujur, etika dan moral individu yang dapat diterima dan dipraktekkan oleh masyarakat. Individu yang berintegritas memiliki tanggungjawab dan dedikasi tinggi melalui tindakannya (Covey, 2. Perilaku dapat menjadi indikator integritas antar individu dalam organisasi, oleh sebab itu penting mempunyai integritas di antara para anggota organisasi (Said, 2. Fraud triangle theory menyebutkan bahwa terdapat tiga penyebab dasar individu melakukan tindakan fraud yaitu yang salah satunya adalah rasionalisasi . (Cressey, 1. Lou & Wang . memproksikan rasionalisasi dengan rendahnya integritas dan jalinan yang tidak baik antar anggota dalam organisasi. Integritas mewajibkan individu untuk memiliki sikap yang jujur, terbuka dan bertanggungjawab (Schlenker, 2. Membangun budaya kejujuran dalam organisasi memiliki kontribusi yang penting dalam | 298 | Vol. No. Desember 2022 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 mencegah terjadinya fraud (Barlaup et al. , 2. Organisasi yang gagal dalam menerapkan budaya kejujuran dapat menyebabkan perilaku curang diantara anggotanya, sebaliknya melalui organisasi yang menerapkan budaya kejujuran dapat memberikan contoh perilaku etis kepada anggotanya sehingga mencegah terjadinya kecurangan (Murphy & Dacin, 2. Berdasarkan pernyataan di atas, adanya integritas diantara anggota organisasi dapat menghilangkan adanya pemikiran untuk merasionalkan tindakan kecurangan sehingga dapat mencegah terjadinya fraud pada organisasi (Said, 2017. Sow et al. , 2. Penelitian Pradana et al. Wulandari & Nuryanto . dan Feny et al. membuktikan bahwa terdapat korelasi positif antara integritas dengan pencegahan fraud. Hasil berbeda oleh Eldayanti et al. yang menyatakan bahwa integritas tidak berpengaruh terhadap pencegahan fraud. Sehingga dapat disimpulkan hipotesis pertama dirumuskan sebagai H1: Integritas berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud 2 Budaya Organisasi terhadap Pencegahan Fraud Budaya organisasi menurut Schein . adalah peraturan dasar yang diperluas oleh sekelompok orang yang berfungsi memecahkan masalah, beradaptasi dan berintegritas dengan lingkungan eksternal maupun internal. Robbins & Judge . juga mengartikan budaya organisasi sebagai prosedur yang dipercaya dan menjadi ciri khas dari sebuah organisasi. Sehingga disimpulkan bahwa budaya organisasi adalah sebuat etika, adat atau kebiasaan yang dibentuk dan disetujui guna menjadi sebuah landasan dalam melaksanakan kegiatan yang digunakan oleh semua anggota organisasi (Arens et al. , 2. Fraud triangle theory oleh Cressey . menyatakan bahwa terdapat tiga pemicu timbulnya tindakan kecurangan, salah satunya adalah rationalization . Hal yang menyebabkan rasionalisasi dapat memotivasi seseorang untuk terlibat dalam kecurangan yakni budaya organiasi yang mewajarkan dan membenarkan sebuah tindakan kecurangan (Fitri & Nadirsyah, 2. Dari adanya rasionalisasi tersebut, maka dapat di garis bawahi pentingnya membangun budaya organisasi yang etis sehubungan dengan pencegahan fraud (Button & Brooks, 2. Kegagalan organisasi dalam menerapkan budaya etis dapat menyebabkan perilaku curang diantara anggotanya (Murphy & Dacin, 2. Berdasarkan pembahasan di atas kemungkinan besar akan diasumsikan bahwa ketika sebuah organisasi mempunyai budaya organisasi yang etis maka tidak akan muncuk pemikiran untuk mewajarkan atau merasionalkan perbuatan curang yang otomatis dapat mencegah terjadinya kecurangan (Suh et al. , 2. Penelitian terdahulu oleh Anandya & Werastuti . Suastawan et al. , dan Widiyarta et al. mengatakan bahwa budaya organisasi berkorelasi positif terhadap pencegahan fraud. Hasil berbeda oleh Priyanto & Aryati . yang mengatakan bahwa tidak adanya korelasi atau pengaruh antara budaya organisasi dengan pencegahan fraud. Berdasarkan penjelasan di atas, maka hipotesis kedua dirumuskan di bawah ini. H2: Budaya organisasi berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud 3 Akuntabilitas terhadap Pencegahan Fraud Akuntabilitas merupakan kepatuhan, tanggungjawab, dan kewajiban individu kepada individu lain (Rutkowski & Steelman, 2. Akuntabilitas merupakan hubungan berdasarkan komitmen beberapa individu untuk menunjukan, meninjau dan mempertanggungjawabkan kinerjanya yang hasilnya sesuai dengan harapan dan kesepakatan (OAoDwyer & Unerman. Sehingga akuntabilitas merupakan kewajiban organisasi atau individu untuk | 299 | Vol. No. Desember 2022 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 mempertanggungjawabkan kegiatan mereka dan mengungkapkan hasilnya secara transparan (Almquist et al. , 2. Cressey . melalui teori fraud triangle menjelaskan bahwa salah satu penyebab munculnya fraud yaitu pressure. Hal yang menyebabkan pressure dapat memotivasi seseorang untuk terlibat dalam kecurangan yakni di karenakan kurangnya akuntabilitas seseorang (Dayanti et al. , 2. Akuntabilitas mengharuskan sebuah organisasi untuk mempertanggungjawabkan kegiatan mereka, dan mengungkapkan hasilnya secara transparan kepada publik (Almquist et al. , 2. Publik memiliki hak untuk mengetahui fakta yang akan membantu mereka untuk memutuskan mempercayai organisasi tersebut atau tidak, hal ini dianggap bahwa organisasi tidak akan memanipulasi pelayanan publik demi keuntungan pribadi mereka (Christensen & Skyrbyk, 2. Akuntabilitas yang baik tidak akan membuat seseorang termotivasi untuk melakukan kecurangan meskipun terdapat tekanan/dorongan dalam pekerjaannya sehingga mengoptimalkan pencegahan kecurangan (Graycar & Sidebottom, 2. Penelitian terdahulu oleh Sumadi & Sariwati . dan Saputra et al. membuktikan bahwa akuntabilitas berkorelasi positif terhadap pencegahan fraud. Penelitian oleh Rahmawati et al. menyatakan bahwa adanya pengaruh yang signifikan antara akuntabilitas dengan pencegahan fraud. Hasil berbeda oleh Eldayanti et al. yang mengatakan bahwa akuntabilitas berkorelasi negatif dengan pencegahan fraud. Berdasarkan penjelasan di atas, maka hipotesis ketiga dirumuskan sebagai berikut. H3: Akuntabilitas berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud 4 Sistem Pengendalian Internal terhadap Pencegahan Fraud Sistem pengendalian internal diartikan sebagai sebuah sistem yang melibatkan semua anggota organisasi untuk terlibat dalam pencapaian tujuan organisasi (COSO, 2. Sistem pengendalian internal melingkupi susunan organisasi, segala tindakan dan cara yang saling selaras yang bertujuan untuk menyelamatkan aset organisasi, memverifikasi ketelitian dan keabsahan, serta memaksimalkan efisiensi operasi dan kepatuhan terhadap peraturan yang ditetapkan oleh pimpinan (AICPA, 2. Sehingga, sistem pengendalian internal merupakan cara untuk melindungi aset, menyediakan informasi yang tepat serta membenahi efisiensi organisasi dan mendongkrak kesesuaian kebijakan yang sudah ditentukan (Romney & Steinbart, 2. Cressey . dalam fraud triangle theory mengatakan bahwa peluang . adalah sebab individu melakukan fraud. Hal yang menyebabkan peluang atau kesempatan untuk terlibat dalam terjadinya kecurangan yakni disebabkan oleh kurangnya atau tidak efisiennya sistem pengendalian internal (Skousen et al. , 2. Peluang yang ada di dalam organisasi berdampak besar terhadap keputusan seseorang dalam menjalankan kecurangan (Rae & Subramaniam, 2. Sistem pengendalian internal yang kuat menjadikan seseorang tidak mempunyai peluang untuk melaksanakan kecurangan, sehingga mampu mencegah terjadinya fraud (Sow et al. , 2018. Tuanakotta, 2. Penelitian terdahulu oleh Priyanto & Aryati . Rahmawati et al. dan Widiyarta et al. membuktkan bahwa sistem pengendalian internal mempunyai berkorelasi positif terhadap pencegahan fraud. Hasil berbeda oleh Eldayanti et al. yang membuktikan jika tidak ada pengaruh antara sistem pengendalian internal dan pencegahan Berdasarkan penjelasan di atas, maka hipotesis keempat dirumuskan di bawah ini. H4: Sistem pengendalian internal berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud | 300 | Vol. No. Desember 2022 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 METODOLOGI PENELITIAN 1 Populasi dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini merupakan seluruh pengelola wisata mangrove di Madura yang berjumlah 242 orang. Sampel penelitian ditentukan melalui metode purposive sampling, sehingga ditentukan kriteria : . Pengelola ekowisata mangrove di Madura, dan . Merupakan anggota kelompok sadar wisata . Hal ini dilakukan karena mayoritas pengelola wisata mangrove di Madura tergabung dalam pokdarwis dalam rangka mewujudkan desa wisata yang optimal. Penelitian kuantitatif digunakan dalam penelitian ini dengan cara mengumpulkan kuesioner sebagai data primer yang diisi oleh Kuesioner menggunakan skala likert dengan tipe data interval dengan rentang skor 1-5 dari sangat tidak setuju hinga sangat setuju. Kuesioner disebarkan kepada anggota pokdarwis mulai September 2021 hingga November 2021. Selanjutnya, data yang diperoleh diolah menggunakan SPSS 26. Penelitian ini menggunakan 4 variabel independen, yakni integritas, budaya organisasi, akuntabilitas, sistem pengendalian internal dan 1 variabel independen yakni pencegahan fraud. Definisi operasional variabel pada penelitian ini dibahas di bawah ini. Pencegahan Fraud Pencegahan fraud merupakan usaha yang dilakukan oleh organisasi demi mencapai tujuan bersama melalui penetapan kebijakan, sistem dan mekanisme yang mendukung semua anggota (Sow et al. , 2. Indikator pengukuran yang digunakan adalah . membangun budaya etis dan budaya kejujuran, . mengevaluasi proses dan pengendalian anti-fraud, . mengembangkan proses pemantauan yang tepat (Sow et al. Integritas Integritas diartikan sebagai komitmen seseorang terhadap norma-norma etis yang dipercaya serta diimplementasikan melalui perilakunya (Schlenker, 2. Indikator pengukuran variabel ini antara lain . perilaku berprinsip, . komitmen teguh, . keengganan untuk merasionalkan perilaku berprinsip (Schlenker, 2. Budaya Organisasi Budaya organisasi merupakan prosedur bersama yang dipercaya dan dipakai untuk menjadi ciri khas atau pembeda dari sebuah organisasi (Robbins & Judge, 2. Indikator pengukuran yang digunakan, antara lain . model peran yang visible, . komunikasi harapan etis, . pelatihan etis, . hukum bagi tindakan etis, . mekanisme perlindungan etika (Robbins & Judge, 2. Akuntabilitas Akuntabilitas mempertanggungjawabkan kegiatan dan mengungkapkan hasilnya secara transparan (Almquist et al. , 2. indikator pengukurannya antara lain . kejujuran, . kepatuhan terhadap hukum, . prosedur dalam melaksanakan tugas sudah baik, . pencapaian tujuan, . pertanggungjawaban (Almquist et al. , 2. Sistem Pengendalian Internal Sistem pengendalian internal didefinisikan sebagai sebuah metode atau sistem yang berfungsi untuk meyakinkan tentang pencapaian tujuan organisasi yang melibatkan | 301 | Vol. No. Desember 2022 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 semua anggota organisasi (COSO, 2. Indikator pengukuran untuk variabel ini, yaitu . lingkungan pengendalian, . penilaian risiko, . aktivitas pengendalian, . informasi dan komunikasi, . monitoring (COSO, 2. 2 Teknik Analisis Data Sebelum dianalisis menggunakan linier berganda, data diuji validitasnya untuk menyakinkan tingkat kevalidan kuesioner yang digunakan (Sugiyono, 2. Selain itu, dilakukan uji reliabilitas agar data dapat dipercaya dan konsisten dalam mengungkapkan informasi yang ada di lapangan (Ghozali, 2. Selanjutnya, dilakukan uji asumsi klasik, antara lain uji normalitas, uji multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas. Analisis regresi linier berganda sebagai alat analisis datanya untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat (Ghozali, 2. Sehingga, rumus persamaan regresi yaitu: Y = a b1X1 b2X2 b3X3 b4X4 e. Keterangan: Y: Pencegahan Fraud. a: Konstanta. b1 b2 b3 b4: Koefisien regresi. X1: Integritas. X2: Budaya Organisasi. X3: Akuntabilitas. X4: Sistem Pengendalian Internal dan e: Error. HASIL PENELITIAN DAN DISKUSI 1 Statistik Deskriptif Statistik deskriptif dilakukan untuk menggambarkan tentang data variabel - variabel yang Hasil statistik deskriptif ditampilkan pada tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Statistik Deskriptif Variabel Integritas (X. Budaya Organisasi (X. Akuntabilitas (X. Sistem Pengendalian Internal (X. Pencegahan Fraud (Y) Min Max Sum Mean Sistem pengendalian internal (X) memiliki rata-rata tertinggi menurut tabel 1 di atas. Selain itu, variabel pencegahan fraud juga dalam kategori tinggi dengan rata-rata 40,86. Hal ini berarti tingkat pencegahan fraud cukup tinggi. 2 Kualitas Data Untuk mengetahui kualitas data, perlu dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas dilakukan untuk menguji tingkat validitas kuesioner yang digunakan (Sugiyono. Hasil uji validitas dan reliabilitas ditampilkan pada tabel 2 di bawah ini. Tabel 2. Uji Kualitas Data Variabel Integritas (X. Budaya Organisasi (X. Akuntabilitas (X. Sistem Pengendalian Internal (X. Pencegahan Fraud (Y) Hasil Validitas Corrected Item Ae Total Correlation 0,797 0,557 0,713 0,818 0,750 | 302 | Vol. No. Desember 2022 Hasil Reliabilitas CronbachAos alpha 0,780 0,829 0,888 0,923 0,839 0,1547 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Hasil uji validitas yang tertera pada tabel 2 di atas memperlihatkan bahwa variabel integritas, budaya organisasi, akuntabilitas, sistem pengendalian internal dan pencegahan fraud memiliki nilai rhitung > rtabel. Sehingga data dinyatakan valid. Uji reliabilitas merupakan sejauh mana pengukuran dalam penelitian dapat dipercaya dan konsisten dalam mengungkapkan informasi (Ghozali, 2. Uji reliabilitas menggunakan signifikansi 5% dengan nilai cronbach alpha > 0,6 maka dinyatakan reliabel (Ghozali, 2. Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai cronbach alpha melebihi 0,6, sehingga data dinyatakan 3 Asumsi Klasik Uji asumsi klasik terdiri dari beberapa uji data, antara lain uji normalitas, multikolinearitas dan heteroskedastisitas. Hasil uji asumsi klasik ditampilkan pada tabel 3 di bawah ini. Tabel 3. Uji Asumsi Klasik Uji Multikolinearitas Model Integritas (X. Budaya Organisasi (X. Akuntabilitas (X. Sistem Pengendalian Internal (X. Variabel Dependen : Y Asymp. Sig 2-tailed *Nilai Signifikansi 5% Tolerance 0,634 0,486 0,341 0,317 VIF 1,578 2,056 2,929 3,156 0,200 Tujuan dilakukan uji normalitas yakni untuk meyakinkan bahwa data penelitian telah terdistribusi normal (Ghozali, 2. Data dianggap normal jika nilai Asymp. Sig > 0,05 (Ghozali, 2. Berdasarkan tabel 3, hasil uji normalitas memperlihatkan bahwa besarnya nilai kolmogrov smirnov yakni 0,050 dan signifikansi 0,200 > 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh data pada penelitian ini terdistribusi normal. Uji multikolinearitas dilakukan untuk menguji ada tidaknya korelasi antar variabel bebas dari model regresi (Ghozali, 2. Data dinyatakan tidak terjadi gejala multikolinearitas apabila memiliki nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10 (Ghozali, 2. Berdasarkan tabel 3, hasil uji multikolinearitas membuktikan bahwa nilai tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10. Sehingga, tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas pada data. Gambar 1. Uji Heteroskedastisitas | 303 | Vol. No. Desember 2022 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk mengevaluasi ada atau tidaknya perbedaan varian untuk semua variabel bebas, dimana salah satu persyaratan tidak terjadi gejala heteroskedastisitas (Ghozali, 2. Apabila titik-titik data menyebar di atas, di bawah, di sekitar angka 0 dan tidak membentuk pola, maka dapat diartikan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedastisitas (Ghozali, 2. Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas pada gambar 1 dapat disimpulkan bahwa model regresi pada penelitian ini tidak terjadi heteroskedastisitas. 4 Uji Hipotesis Tabel 4. Uji Regresi Linier Berganda Model (Constan. Integritas (X. Budaya Organisasi (X. Akuntabilitas (X. Sistem Pengendalian Internal (X. Adjusted R Square (R. T tabel 6,933 0,198 0,275 0,122 0,276 2,810 1,693 2,369 1,112 5,025 Sig. 0,006 0,092 0,019 0,268 0,000 0,555 1,975 Uji koefisien determinasi mempunyai tujuan untuk mengukur pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dengan nilai berkisar antara nol sampai satu (Ghozali. Tabel 4 memperlihatkan nilai adjusted R2 sebesar 0,555 yang artinya 55,5% variabel pencegahan fraud bisa dijelaskan oleh variabel bebas pada penelitian ini. Sementara sisanya dijelaskan oleh variabel-variabel lain diluar model penelitian. 1 Pengaruh Integritas Terhadap Pencegahan Fraud Hasil penelitian menunjukkan thitung senilai 1,693 dan signifikansi 0,006. Hal ini berarti integritas tidak memiliki pengaruh terhadap pencegahan fraud. Integritas merupakan suatu etika, moral, serta komitmen teguh individu terhadap prinsip yang dianut dengan cara diterapkan melalui perilaku keseharian yang dapat diterima di dalam masyarakat (Huberts. Schlenker, 2. Integritas dapat menjadi indikator perilaku antar individu dalam organisasi, sehingga individu yang berintegritas akan membuktikan dirinya sebagai individu yang bertanggungjawab dan berdedikasi tinggi. Oleh sebab itu, penting bagi anggota organisasi untuk memiliki integritas (Covey, 2004. Said, 2. Individu yang mempunyai integritas cenderung mempunyai sikap jujur, terbuka, serta akuntabel (Barlaup et al. , 2009. Schlenker, 2. Ketika anggota organisasi memiliki integritas yang tinggi maka tidak akan timbul pemikiran untuk merasionalkan tindakan kecurangan, sehingga mampu mencegah kecurangan (Murphy & Dacin, 2011. Said, 2017. Sow et al. , 2. Hasil penelitian ini tidak selaras dengan fraud triangle theory yang menyebutkan bahwa rasionalisasi merupakan salah satu penyebab terjadinya kecurangan (Cressey, 1. Pemikiran untuk merasionalkan kecurangan timbul dikarenakan adanya kesenjangan integritas serta hubungan yang tidak baik antar anggota (Lou & Wang, 2. Penyebab integritas tidak berpengaruh terhadap pencegahan fraud dapat dilihat dari jawaban responden dalam menjawab item pertanyaan Aupengelola pariwisata berusaha untuk menerapkan transparansi dalam pengelolaan pariwisataAy memperoleh rata-rata sebesar 4,06 yang terdiri dari 83 responden atau 52% yang menjawab setuju dan 31 responden atau 19% yang menjawab netral. Melihat jawaban tersebut, maka dapat dipahami bahwa sikap integritas masih belum dilakukan secara maksimal dalam pengelolaan ekowisata mangrove di Madura. Hal tersebut dapat menjadi salah satu penyebab integritas tidak berpengaruh terhadap pencegahan fraud. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan transparansi perlu | 304 | Vol. No. Desember 2022 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 ditingkatkan lagi demi pencapaian pencegahan fraud melalui perilaku integritas yang menanamkan sikap jujur, transparan dan akuntabel. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbunya pemikiran dalam merasionalkan atau mewajarkan tindakan kecurangan sehingga pencegahan fraud bisa dilakukan. Penelitian ini mendukung Eldayanti et al. yang mengatakan bahwa integritas tidak berkorelasi terhadap pencegahan fraud. Tetapi hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian dari Pradana et al. Wulandari & Nuryanto . dan Feny et al. yang mengatakan bahwa adanya pengaruh positif antara integritas dengan pencegahan fraud. 2 Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Pencegahan Fraud Hasil penelitian memberikan nilai thitung 2,369 dan signifikansi 0,019 yang berarti budaya organisasi memiliki pengaruh signifikan positif terhadap pencegahan fraud. Schein . menjelaskan bahwa budaya organisasi merupakan aturan dasar yang dikembangkan oleh beberapa orang untuk memecahkan masalah, beradaptasi dan berintegritas dengan lingkungan sekitar. Budaya organisasi juga disebut nilai atau norma yang berlaku dan diyakini untuk menjadi pedoman seluruh anggota dalam melakukan aktivitas di organisasi (Arens et al. , 2. Budaya organisasi bermakna sistem atau metode bersama yang diciptakan dan dianut oleh anggota organisasi untuk dipakai menjadi pedoman serta pembeda organisasi dengan organisasi lain (Robbins & Judge, 2. Penelitian ini selaras dengan fraud triangle theory yang mengatakan bahwa rasionalisasi merupakan penyebab seseorang melakukan kecurangan (Cressey, 1. Rasionalisasi menjadi pemicu seseorang melakukan kecurangan diakibatkan adanya budaya organisasi yang mewajarkan dan membenarkan sebuah tindakan kecurangan (Fitri & Nadirsyah, 2. Membangun budaya organisasi yang etis sangatlah penting (Button & Brooks, 2. Adanya budaya organisasi yang etis dapat memberikan contoh perilaku yang baik untuk mencegah timbulnya pemikiran untuk mewajarkan atau merasionalkan perbuatan curang sehingga dapat mencegah fraud di organisasi (Murphy & Dacin, 2011. Suh et al. , 2. Hal yang menyebabkan budaya organisasi memiliki efek positif dengan pencegahan fraud dapat dilihat dari jawaban responden dalam menjawab kuesioner penelitian. Penelitian ini memperoleh hasil bahwa anggota pokdarwis sudah menerapkan budaya organisasi yang beretika baik, adanya teladan etika positif dari para pemimpin, serta adanya rasa bangga menjadi bagian dari ekowisata mangrove Madura. Etika organisasi yang dibentuk mulai dari pemimpin dirasa cukup mampu mempengaruhi anggotanya untuk menciptakan budaya baik sehingga mampu mencegah kecurangan. Implementasi budaya organisasi pada pengelolaan ekowisata mangrove di Madura sudah memiliki nilai-nilai budaya etis. Adanya nilai-nilai budaya etis tersebut membuat terbentuknya budaya organisasi yang mencegah untuk mewajarkan atau membenarkan perilaku kecurangan. Sehingga, hal ini menyebabkan budaya organisasi dapat mendukung pencegahan kecurangan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian dari Anandya & Werastuti . Suastawan et al. dan Widiyarta et al. yang membuktikan adanya korelasi positif antara budaya organisasi terhadap pencegahan fraud. Namun, penelitian ini tidak dapat mendukung Priyanto & Aryati . yang membuktikan bahwa budaya organisasi tidak memiliki pengaruh terhadap pencegahan fraud. 3 Pengaruh Akuntabilitas Terhadap Pencegahan Fraud Hasil uji menunjukkan thitung senilai 1,112 dan signifikansi 0,268 yang membuktikan bahwa akuntabilitas tidak berkorelasi terhadap pencegahan fraud. Hal ini menjelaskan bahwa akuntabilitas tidak memberikan pengaruh terhadap pencegahan fraud. Akuntabilitas | 305 | Vol. No. Desember 2022 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 meupakan kewajiban, kepatuhan dan tanggungjawab individu kepada individu lain terkait amanah atau tugas yang telah diterima (Rutkowski & Steelman, 2. Akuntabilitas merupakan sebuah jalinan antara dua pihak dimana salah satunya memiliki kewajiban untuk menjelaskan dan membenarkan perilakunya kepada pihak lain (OAoDwyer & Unerman, 2. Akuntabilitas bisa disebut juga sebuah kewajiban individu atau organisasi untuk meninjau, menunjukan dan mempertanggungjawabkan kegiatan yang telah mereka lakukan serta mengungkapkan hasilnya secara transparan sesuai dengan kesepakatan dan harapan (Almquist et al. , 2. Akuntabilitas mengharuskan organisasi atau individu untuk mempertanggungjawabkan tugas mereka secara transparan kepada publik (Almquist et al. Hal ini dianggap bahwa organisasi atau individu tidak akan mempunyai motivasi melakukan kecurangan meskipun terdapat tekanan/dorongan dalam pekerjaannya, sehingga bisa mencegah terjadinya fraud pada sebuah organisasi (Christensen & Skyrbyk, 2007. Graycar & Sidebottom, 2. Penelitian ini tidak dapat mendukung fraud triangle theory oleh Cressey . yang mengatakan bahwa pressure merupakan salah satu alasan individu melakukan kecurangan. Pressure dapat memotivasi seseorang untuk melakukan kecurangan dikarenakan lemahnya akuntabilitas dalam diri seseorang (Dayanti et al. , 2. Hal yang mengakibatkan akuntabilitas tidak berpengaruh terhadap pencegahan fraud dapat dilihat dari jawaban responden dalam menjawab kuesioner. Pada item pertanyaan Auterdapat papan pengumuman mengenai kegiatan yang sedang dijalankan atau sedang ada pembangunan tempat wisataAy memperoleh rata-rata sebesar 3,94 yang terdiri dari 105 responden atau 65% yang menjawab setuju dan 30 responden atau 19% yang menjawab netral. Melihat jawaban tersebut, anggota pokdarwis belum memiliki rasa akuntabel yang tinggi terhadap pengelolaan ekowisata mangrove di Madura. Akuntabilitas merupakan bagian dari tanggungjawab anggota pokdarwis melalui sikap transparansi terhadap pengelolaan ekowisata mangrove di Madura. Sehingga, diperlukan keterbukaan dan konsistensi dalam hal penempatan papan pengumuman sebagai sarana komunikasi kepada pengunjung dan masyarakat terkait kegiatan atau perkembangan pembangunan tempat wisata. Hal ini dilakukan untuk mencapai pencegahan fraud dengan cara mewujudkan perilaku akuntabel yang menanamkan sikap amanah, transparan, serta patuh akan tanggungjawab yang telah diberikan. Sebaliknya, akuntabilitas dalam pokdarwis ini dirasa belum mampu mencegah timbulnya pemikiran untuk melakukan fraud akibat adanya tekanan atau dorongan dari pihak lain. Hasil penelitian mendukung Eldayanti et al. yang menyatakan bahwa akuntabilitas tidak mempunyai pengaruh terhadap pencegahan fraud. Akan tetapi, hasil penelitian ini tidak dapat mendukung penelitian oleh Sumadi & Sariwati . Saputra et al. dan Rahmawati et al. yang mengatakan bahwa akuntabilitas berpengaruh terhadap pencegahan fraud. 4 Pengaruh Sistem Pengendalian Internal Terhadap Pencegahan Fraud Hasil menunjukkan thitung senilai 5,025 dan signifikansi 0,000. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem pengendalian internal berkorelasi positif terhadap pencegahan Sistem pengendalian internal adalah sistem yang dirancang untuk memberikan keyakinan terkait capaian tujuan bersama dengan melibatkan semua anggota (COSO, 2. Sistem pengendalian internal meliputi struktur organisasi, cara dan perbuatan yang terkoordinir, ketelitian dan keandalan, menaikkan efisiensi operasi dan ketaatan terhadap peraturan yang telah ditetapkan (AICPA, 2002. Romney & Steinbart, 2. Hasil penelitian ini mengonfirmasi teori yang diutarakan oleh Cressey . , yaitu fraud triangle theory, yakni mengenai faktor seseorang melakukan fraud yang salah satunya | 306 | Vol. No. Desember 2022 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 disebabkan karena adanya peluang . Kurangnya atau tidak efisiennya sistem pengendalian internal dapat membuka peluang untuk seseorang melakukan fraud (Skousen et , 2. Peluang yang ada berdampak besar dalam melakukan kecurangan (Rae & Subramaniam, 2. Sehingga melalui operasi sistem pengendalian yang baik dapat mengurangi peluang munculnya kecurangan (Sow et al. , 2018. Tuanakotta, 2. Hasil penelitian menunjukan bahwa sistem pengendalian internal memiliki pengaruh terhadap pencegahan fraud pada pengelolaan ekowisata mangrove Madura. Faktor yang menyebabkan sistem pengendalian internal berpengaruh terhadap pencegahan fraud dapat dilihat dari jawaban responden dalam menjawab kuesioner. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa anggota pokdarwis sudah menerapkan sistem pengendalian internal dalam pengelolaan ekowisata mangrove di Madura yakni dengan dilakukannya pemantauan secara berkala untuk meminimalisir hal yang tidak diinginkan, serta ekowisata mangrove Madura sudah mempunyai tujuan organisasi yang jelas untuk mengidentifikasi terjadinya risiko. Penerapan sistem pengendalian internal tersebut mengurangi peluang terjadinya fraud pada anggota Oleh karena itu, penerapan sistem pengendalian internal pada ekowisata mangrove Madura terbilang cukup kuat dan konsisten. Hal tersebut yang menyebabkan sistem pengendalian internal dapat membantu proses pencegahan kecurangan pada pengelolaan ekowisata mangrove Madura. Penelitian ini mendukung Priyanto & Aryati . Widiyarta et al. dan Rahmawati et al. yang mengatakan bahwa adanya pengaruh antara sistem pengendalian internal dengan pencegahan fraud. Namun, penelitian ini tidak dapat mendukung penelitian Eldayanti et al. yang mengatakan bahwa sistem pengendalian internal tidak berpengaruh terhadap pencegahan fraud. KESIMPULAN DAN SARAN 1 Kesimpulan Kesimpulan pada penelitian ini, yaitu integritas dan akuntabilitas tidak berpengaruh terhadap pencegahan fraud. Hal ini terjadi karena belum maksimalnya penerapan transparansi melalui pemanfaatan papan informasi dalam pengelolaan pariwisata sehingga penerapan transparansi perlu ditingkatkan lagi demi mencegah fraud. Sebaliknya, budaya organisasi dan sistem pengendalian internal berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud. Tujuan organisasi yang jelas dan terbentuknya budaya organisasi yang sadar akan tindakan pencegahan kecurangan menjadi faktor yang signifikan untuk mencegah kecurangan. 2 Keterbatasan Penelitian Keterbatasan penelitian ini yaitu . ruang lingkup yang sempit karena hanya dilakukan pada anggota pokdarwis di ekowisata mangrove Madura, dan . hasil penelitian yang menunjukkan integritas dan akuntabilitas tidak memiliki pengaruh terhadap pencegahan kecurangan sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap fraud. 3 Saran Saran bagi peneliti selanjutnya antara lain . menambah variabel X yang mampu mempengaruhi pencegahan fraud, misalnya variabel peraturan, komitmen, norma sosial dan partisipasi masyarakat. memperluas jangkauan populasi dan sampel penelitian bukan hanya di ekowisata mangrove, seperti pantai, taman kota dan air terjun. mengoptimalkan rincian tugas dan tanggung jawab semua anggota dengan cara | 307 | Vol. No. Desember 2022 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 diadakanya sosialisasi mengenai pentingnya sebuah akuntabilitas dalam organisasi. menerapkan integritas yang tinggi agar dapat mencegah terjadinya kecurangan dalam pengelolaan ekowisata mangrove. IMPLIKASI PENELITIAN Implikasi penelitian bagi anggota pokdarwis, antara lain: . merencanakan dan meningkatkan keamanan operasional organisasi terhadap fraud melalui pemantauan dan pembaruan sistem pengendalian internal secara berkelanjutan. Selain itu, diharapkan pemimpin dapat tetap menjaga sikap yang patut dicontoh oleh masyarakat dan . menanamkan integritas dan akuntabilitas yang baik untuk seluruh anggota pokdarwis melalui workshop atau sosialisasi terkait peningkatan integritas dan akuntabilitas. REFERENSI