JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/jp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. September 2025 Page 1357-1369 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN PROFETIK NABI MUHAMMAD: TINJAUAN LITERATUR TENTANG MODEL INSPIRATIF DALAM MEMBANGUN GENERASI BERAKHLAK DAN BERILMU Basri Asyibli1. Saad Al Faqih2. M Arie Firdaus Heriansyah3. Machdum Bachtiar4. Eneng Muslihah5 1,2,3,4,5 Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Indonesia Email: 242625103. basriasyibli@uinbanten. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 23 June 2025 Final Revised: 11 July 2025 Accepted: 16 August 2025 Published: 29 September 2025 Keywords: Educational Leadership Prophetic Leadership Prophet Muhammad SAW Moral Character ABSTRACT This research is motivated by the importance of education as the key to the progress of the nation and the formation of character based on Islamic values. However, many Islamic educational institutions experience ups and downs in leadership quality that have an impact on the character of students, which is due to the lack of prophetic leadership examples in the style of the Prophet Muhammad AA. The purpose of this research is to identify and analyze the prophetic leadership concept of the Prophet Muhammad A Aas well as his educational strategies in building a generation with noble The method used is literature review by reviewing various relevant journals, articles, and books in the last 10 years to obtain a strong theoretical foundation. The results of the study show that prophetic leadership based on four main valuesAisiddiq . , amanah . , fathonah . , and tabligh . Ai is an effective ideal leadership model in modern Islamic education. The educational strategy of the Prophet Muhammad A Awhich integrates spiritual, moral, and scientific aspects has proven to be able to produce superior generations and trustworthy leaders. The implications of this study affirm the importance of applying prophetic values in education management to improve the quality of institutions and job satisfaction of ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pendidikan sebagai kunci kemajuan bangsa dan pembentukan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Namun, banyak lembaga pendidikan Islam mengalami pasang surut kualitas kepemimpinan yang berdampak pada karakter peserta didik, yang disebabkan kurangnya keteladanan kepemimpinan profetik ala Nabi Muhammad AA. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis konsep kepemimpinan profetik Nabi Muhammad A Aserta strategi pendidikan beliau dalam membangun generasi berakhlak mulia. Metode yang digunakan adalah studi literatur . iterature revie. dengan mengkaji berbagai jurnal, artikel, dan buku relevan dalam 10 tahun terakhir untuk memperoleh landasan teori yang kuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan profetik yang berlandaskan empat nilai utamaAisiddiq . , amanah . apat dipercay. , fathonah . , dan tabligh . Aimerupakan model kepemimpinan ideal yang efektif dalam pendidikan Islam modern. Strategi pendidikan Nabi Muhammad AA yang mengintegrasikan aspek spiritual, akhlak, dan ilmu pengetahuan terbukti mampu mencetak generasi unggul dan pemimpin yang amanah. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan nilai-nilai profetik dalam manajemen pendidikan untuk meningkatkan kualitas lembaga dan kepuasan kerja tenaga pendidik. Kata kunci: Kepemimimpinan Pendidikan. Kepemimpinan Profetik. Nabi Muhammad SAW. Karakter Berakhlak. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kepemimpinan Pendidikan Profetik Nabi Muhammad: Tinjauan Literatur Tentang Model Inspiratif dalam Membangun Generasi Berakhlak dan Berilmu PENDAHULUAN Pendidikan sangat penting untuk kemajuan suatu bangsa dan peradaban manusia. Melalui pendidikan, manusia dapat memodifikasi budaya dan berkembang ke era kontemporer, menghasilkan teknologi yang meningkatkan lingkungan dan kehidupan sosial. Tujuan pendidikan adalah untuk menumbuhkan karakter dan perilaku individu maupun kelompok, memastikan mereka mewujudkan semangat yang selaras dengan norma-norma yang berlaku (Tomi et al. , 2. Pendidikan Islam berfungsi sebagai landasan karakter nasional, meningkatkan kesantunan masyarakat Indonesia. Lembaga pendidikan Islam secara inheren membutuhkan pemimpin yang bersifat kenabian yang dapat memberikan bimbingan, memberikan figur, teladan, memberikan arahan, merumuskan strategi, dan menumbuhkan kreativitas, sehingga memfasilitasi peningkatan bagi lembaga dan siswa mereka. Fluktuasi dalam lembaga pendidikan Islam dan maraknya karakter yang buruk serta kenakalan remaja dapat dikaitkan dengan tidak adanya kepemimpinan kenabian yang luar biasa 'ala Rasulallah, yang akan menumbuhkan karakter religius yang unggul pada siswa (Aminuddin, 2. Kepemimpinan secara konsisten menjadi subjek yang menarik dan terus berubah untuk dipelajari, diselidiki, dan direnungkan oleh orang awam, cendekiawan, dan praktisi karena dinamis (Usman, 2019, p. Integritas, keandalan, dan akuntabilitas dalam kepemimpinan adalah atribut vital bagi institusi atau organisasi untuk maju dan berkembang. Kepemimpinan erat kaitannya dengan fungsi manajemen yang mencakup istilah power atau kekuasaan, leading dan atau directing (Usman, 2019, p. Permasalahan dalam pengembangan kepemimpinan di banyak organisasi, khususnya lembaga pendidikan Islam, adalah ketergantungan mereka pada teori kepemimpinan konvensional, mirip dengan organisasi lainnya, di mana fokusnya lebih pada keuntungan finansial. Hal ini membuat orang berpikir bahwa mereka masih memiliki kepemimpinan yang lemah karena banyak pemimpin yang masih berpartisipasi melakukan KKN (Korupsi. Kolusi dan Nepotism. untuk menjadi pemimpin yang berkualitas tinggi maka sebuah kepemimpinan semestinya mengarah dan mengikuti pada nilai-nilai profetik seperti model kepemimpinan Nabi Muhammad AA, tugas seorang pemimpin atau khalifah adalah mewakili masyarakat dalam banyak hal, dan mereka memiliki tanggung jawab yang besar di hadapan Allah (Utami, 2. Islam memiliki tokoh yang menjadi tauladan bagi pelaksanaan kepemimpinan yakni Nabiyullah Muhammad AA. Nabi Muhammad secara efektif muncul sebagai pemimpin yang patut diteladani dan menjadi paradigma di berbagai bidang. Keberhasilan kepemimpinannya patut dicontoh dan dapat diterapkan di semua era (Azizah, 2022. Azzahra et al. , 2. Pengangkatan Nabi Muhammad A Asebagai Rasul bertujuan untuk meningkatkan standar etika umat manusia, sebagaimana dinyatakan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, yang berbunyi: ACA a AuaIac aI a aea aEa a aI aI aIE aa aI eaE a eaEA AuSesungguhnya aku di utus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang muliaAy (Al Baihaq. Nabi Muhammad A Aadalah teladan yang patut diteladani dalam segala aspek, khususnya dalam kepemimpinan. Imam al-Qarafi menguraikan posisi-posisi tertentu Rasulullah A Adalam karyanya, al-Furuq beliau selain perannya sebagai pemimpin agama . uballigh dan muft. , beliau juga menjabat sebagai pemimpin negara . , dengan keunggulan dibandingkan pemimpin lain meskipun secara biologis dan sosial beliau adalah manusia (Wahidin et al. , 2. Nabi Muhammad merupakan sosok pemimpin yang Berjaya, manakala disandingkan dengan konteks pemimpin membawa perubahan. Nabi Muhammad Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kepemimpinan Pendidikan Profetik Nabi Muhammad: Tinjauan Literatur Tentang Model Inspiratif dalam Membangun Generasi Berakhlak dan Berilmu adalah pemimpin yang secara signifikan dapat mengubah kebiasaan dan pola pikir penduduk Arab pada masanya. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengingat dan meniru kepemimpinan Nabi Muhammad A Adalam memimpin umatnya. Model kepemimpinan kenabian berkaitan dengan konsep kepemimpinan kenabian yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad AA, yang dicirikan oleh empat nilai fundamental: siddiq . , amanah . , fathonah . , dan tabligh . enyampaian kebenara. (Dewantoro et , 2021. Imam Tabroni et al. , 2022. Ma`arif et al. , 2. Konsep kepemimpinan kenabian berasal dari peradaban sebelumnya dan mencakup kepemimpinan semua nabi atas pengikut mereka (Ahmad, 2. Kepemimpinan profetik adalah model kepemimpinan yang pokoknya berakar pada Al-Qur'an dan sifat-sifat teladan para nabi, terkhusus karakter kepemimpinan Nabi Muhammad A( ANingsih et al. , 2. Ini menunjukkan kapasitas untuk mengatur diri sendiri dan kemampuan untuk menginspirasi orang lain mencapai tujuan bersama, seperti yang dicontohkan oleh para nabi (Fitriana, 2020. Hadiyani et al. , 2. Allah menguraikan karakter Nabi Muhammad dalam Surah Ali-Imran, ayat 159: a A aE eOA cU aAcEEa aE eIa Ea aN eI o aOEa eO aE eIa AA a AA A a eA ea Ea aN eI aOa aO e aN eI AaO eaEa eI a Aa a a AeAA e A eI aN eI aOA a A aE eIAa eacO Ia eI eaO aEEa o a a A eECa eEA a aI ae aI aIIA aA eE aI a aO aE aE eOIA a A aa eIa Aa a aO acE eEA a AEaOA ca aAcEEa OaA caAcEE o aIA Artinya : AuMaka berkat rahmat Allah engkau (Muhamma. berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh. Allah mencintai orang yang bertawakal. Ay Kepemimpinan profetik adalah salah satu model kepemimpinan esensial yang dibutuhkan untuk mencapai posisi kepemimpinan di sekolah atau lembaga. Kepemimpinan profetik dapat menjadi dasar untuk menerapkan konsep-konsep administrasi dalam lembaga, khususnya dalam lingkungan pendidikan. Kepemimpinan profetik adalah gaya kepemimpinan yang dicirikan oleh sifat-sifat nabi dalam mengawasi organisasi atau lembaga, dengan tujuan menumbuhkan karakter positif dan etos spiritual (Septa, 2. Gaya kepemimpinan kenabian secara intrinsik terkait dengan kualitas kepemimpinan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad AA. Selain itu, kesuksesan kepemimpinan Nabi Muhammad berasal dari karakter beliau yang terpuji . khlaq karima. (Mulyono, 2. Meniru sifat-sifat ini akan menghasilkan kesuksesan dalam hidup. Dengan kata lain, ketika seseorang mengemban peran kepemimpinan dalam suatu lembaga atau organisasi, mereka hendaknya meneladani sifat-sifat Nabi dalam pendekatan kepemimpinan mereka untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan sesuai dengan tuntutan syariat. Dalam konteks ini, meneliti kepemimpinan Nabi Muhammad A Asebagai model teladan untuk menumbuhkan generasi yang berakhlak dan berilmu adalah langkah krusial dalam merumuskan paradigma kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam saat Prinsip-prinsip yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad, termasuk keadilan, integritas, dan ketekunan, dapat memengaruhi kerangka pendidikan yang bertujuan untuk mencapai pemenuhan moral dan spiritual sekaligus keunggulan intelektual. Penelitian ini relevan dan signifikan karena besarnya kebutuhan akan pemimpin pendidikan yang mampu menggabungkan konsep kepemimpinan Islam ke dalam sistem pendidikan modern. Dengan meneliti prinsip-prinsip kepemimpinan pendidikan kenabian dan metode pedagogis yang digunakan Nabi Muhammad dalam membentuk generasi berakhlak, diharapkan hal ini akan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kepemimpinan Pendidikan Profetik Nabi Muhammad: Tinjauan Literatur Tentang Model Inspiratif dalam Membangun Generasi Berakhlak dan Berilmu memberikan kontribusi dalam pengembangan model kepemimpinan pendidikan yang lebih efektif dan berkelanjutan, yang dapat diterapkan pada tingkat individu maupun institusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji konsep kepemimpinan dalam pendidikan Islam, khususnya dengan meneliti karakteristik kepemimpinan Nabi Muhammad A Adan strategi pendidikan beliau dalam menumbuhkan generasi yang berakhlak. Selain itu, penelitian ini menawarkan rekomendasi praktis bagi pendidik dan pemimpin pendidikan dalam implementasi nilai-nilai kepemimpinan Islam. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian literatur review, untuk menghasilkan temuan yang berasal dari data dan analisis temuan yang ada, sehingga memberikan contoh kerangka kerja untuk penyelidikan penelitian dalam merumuskan diskusi yang koheren tentang subjek penelitian (Andriani, 2. Literature review melibatkan evaluasi dan analisis kritis terhadap berbagai penelitian, teori, atau publikasi yang relevan dengan subjek tertentu. Dalam literature review, peneliti mengumpulkan, meninjau, dan menganalisa karya-karya sebelumnya yang relevan dengan topik penelitian (Kraus et al. , 2. Penulis mencari data atau literatur dari jurnal atau artikel, bersama dengan referensi dari buku, melalui Publish or Perish. Google Scholar, dan Scopus, dengan fokus pada penelitian yang diterbitkan dalam 10 tahun terakhir. Sehingga, dapat memberikan dasar yang kuat untuk isi atau pembahasan (Andriyan & Yoenanto, 2. Dalam penelitian ini, penulis mencari dan mengumpulkan beberapa jurnal yang berkaitan dengan kepemimpinan pendidikan kenabian Nabi Muhammad, menganalisisnya, dan selanjutnya merumuskan temuan secara komprehensif untuk mencapai hasil yang memuaskan dan sesuai dengan harapan. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Kepemimpinan Profetik Nabi Muhammad SAW Untuk membahas kepemimpinan profetik, kita harus terlebih dahulu memahami istilah profetik, yang berfungsi sebagai penyeimbang bagi kata kepemimpinan. Istilah "profetik" berasal dari kata bahasa Inggris prophetical, yang berarti "nubuat" atau sifat yang terkait dengan seorang nabi, yaitu sifat nabi yang mempunyai ciri sebagai manusia individu yang teladan baik secara spiritual maupun pribadi, sekaligus sebagai inisiator transformasi, mengarahkan masyarakat menuju kemajuan, dan tanpa henti menentang penindasan. Secara historis. Nabi Ibrahim menentang Raja Namrud. Nabi Musa menghadapi Firaun, dan Nabi Muhammad, yang membela kaum miskin dan budak, untuk membebaskan diri dari penindasan dan ketidakadilan (Sirojudin & Al Ghozali, 2. Konsep profetik di Indonesia awalnya diperkenalkan oleh Kontowijoyo melalui gagasannya tentang pentingnya ilmu sosial transformatif, yang ia sebut "ilmu sosial profetik. " Ilmu sosial profetik menjelaskan dan mengubah fenomena sosial dengan memeberikan arahan mengenai transformasi yang dilakukan, untuk apa, dan oleh siapa (Aminuddin, 2. Ilmu sosial profetik mengadvokasi transformasi yang berlandaskan prinsip-prinsip etika dan profetik tertentu . hususnya, etika Isla. , yang memerlukan konfigurasi ulang epistemologi, yaitu konfigurasi ulang terhadap made of tought dan made of inquiry bahwa sumber ilmu pengetahuan tidak hanya dari rasio dan empiris, tatapi juga dari wahyu (Alfiansyah Anwar et al. , 2. Berdasarkan penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan profetik adalah kemampuan individu untuk mengendalikan diri dan memengaruhi, menginspirasi, memobilisasi, serta mengarahkan orang lain menuju tujuan bersama, sebagaimana dicontohkan oleh para nabi, melalui penerapan kejujuran . , kepercayaan . Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kepemimpinan Pendidikan Profetik Nabi Muhammad: Tinjauan Literatur Tentang Model Inspiratif dalam Membangun Generasi Berakhlak dan Berilmu komunikasi . , dan kebijaksanaan . Karakteristik Kepemimpinan Profetik Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad A Amemiliki kualitas kepemimpinan yang luar biasa dan menjadi teladan bagi umat Islam sepanjang sejarah. Empat karakteristik utama yang sering disebut terkait kepemimpinannya adalah siddiq . , amanah . , fathonah . , dan tabligh . emampuan berkomunikas. Keempat karakteristik ini merupakan landasan utama kepemimpinan yang patut dicontoh dan berkesinambungan, khususnya dalam bidang pendidikan Islam (Alfi Alfarizhi Hidayat & Imamul Muttaqin, 2024. Faiqoh. Dalam Al-Qur'an. Allah SWT menggambarkan Nabi Muhammad A Asebagai uswah hasanah . eladan yang bai. eAcea aOEOaO aIA AyA eAcea aEaO UA a AEaCa e EaIae Ea aEIe AaOe aA eAeEa ae aOaE a AIae aE aIIe EaIae Oa aOA eAO aEA a AcEEae a aOe aA Artinya: AuSungguh, telah ada pada . Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap . Allah dan . hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah. Ay (QS. Al-Ahzab: . Berikut adalah pembahasan lebih mendalam mengenai masing-masing karakteristik Siddiq (Juju. Siddiq, yang berarti integritas atau kejujuran, adalah karakteristik penting dalam kepemimpinan Nabi Muhammad AA. Nabi Muhammad A Adiakui karena kejujurannya sebelum diangkat menjadi nabi, sehingga beliau mendapat julukan "AlAmin," yang berarti "dapat dipercaya," di kalangan penduduk Mekah. Sifat siddiq menunjukkan kejujuran dan kebenaran dalam perkataan, perilaku, dan niat. Dalam ranah kepemimpinan, siddiq tidak hanya mencakup penghindaran kebohongan tetapi juga konsistensi pada kebenaran dan prinsip-prinsip etika yang kuat (Kurniawan et al. Prinsip kejujuran dalam kepemimpinan sangat penting untuk menumbuhkan suasana yang sehat dan produktif di mana semua individu merasa dihormati dan diperlakukan secara adil (Endar Evta Yuda Prayogi et al. , 2. Dalam dunia pendidikan, seorang pemimpin yang memiliki sifat siddiq akan selalu bertindak dengan transparansi dan integritas. Pemimpin yang jujur akan menciptakan lingkungan pendidikan yang penuh dengan kepercayaan, baik di antara guru, staf, maupun siswa. Kejujuran ini juga menjadi landasan dalam mengambil keputusan yang adil dan tepat. Amanah (Dapat Dipercay. Amanah dapat diartikan dapat dipercaya dan bertanggung Salah satu bukti yang mendukung kepercayaan terhadap Nabi Muhammad eAA adalah menyebarluaskan risalah yang diamanahkan kepadanya oleh Allah Swt (Rahayuning Tyas, 2. Nabi Muhammad A Asecara konsisten menganggap amanah sebagai prinsip dasar dalam memimpin umat. Amanah juga mencakup kemampuan untuk menjaga kerahasiaan, melaksanakan tugas dengan baik, dan mengutamakan kesejahteraan orang lain di atas kepentingan pribadi (Juhji et al. , 2. Seorang manajer seharusnya memiliki karakter yang dapat dipercaya atau bertanggung jawab sebagaimana karakter yang dimiliki Nabi. Sebelum diangkat menjadi nabi, beliau sudah disebut sebagai al-Amin . ang terpercay. Sifat dapat dipercaya membedakan mengangkat Nabi di atas para pemimpin umat atau nabi-nabi sebelumnya. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang benar-benar menjunjung tinggi amanah, tanggung jawab, dan kepercayaan yang diberikan oleh Allah SWT (Yani, 2. Fathonah (Cerda. Fathonah adalah kecerdasan atau kebijaksanaan, adalah Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kepemimpinan Pendidikan Profetik Nabi Muhammad: Tinjauan Literatur Tentang Model Inspiratif dalam Membangun Generasi Berakhlak dan Berilmu kemampuan untuk memahami dan menyelesaikan masalah rumit dengan solusi yang Selain kecerdasan intelektualnya. Nabi muhammad A Ajuga bijaksana saat membuat pilihan sulit. Kecerdasan beliau terlihat dalam berbagai konteks, termasuk mengelola umatnya, melawan musuh, dan merumuskan strategi. Nabi Muhammad AA juga cukup cerdas untuk melihat masalah dari berbagai sudut dan menemukan solusi yang paling adil dan menguntungkan bagi semua orang (Alfi Alfarizhi Hidayat & Imamul Muttaqin, 2. Kecerdasan yang tertanam dalam jiwa nabi bukan hanya kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual juga merupakan bagian dari jiwa kepemimpinan nabi. Dengan kata lain, seseorang dengan karakter seperti itu akan mampu menggunakan kecerdasannya untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan yang bijaksana (Salim et al. , 2. Kecerdasan sangat penting bagi seorang pemimpin di bidang pendidikan. Seorang pemimpin pendidikan harus memahami secara menyeluruh tentang dinamika pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan tantangan-tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan. Pemimpin yang cerdas akan mampu merundingkan kompleksitas lanskap pendidikan yang terus berkembang dan menciptakan kebijakan yang kreatif dan berkelanjutan. Aspek lain dari kecerdasan adalah kemampuan untuk melihat masalah sebelum muncul dan mengambil tindakan untuk mengurangi efek negatifnya (Aidul Azhari Harahap & Hasibuan, 2. Tabligh (Menyampaikan/Komunikati. Kemampuan Nabi Muhammad A Auntuk menyampaikan wahyu dan pesan Allah SWT kepada umat manusia secara tepat dan jelas disebut tabligh. Ajaran Islam secara konsisten disampaikan oleh Nabi Muhammad A Adengan cara yang mudah dipahami, diterapkan, dan relevan bagi para Dalam hal ini, seorang pemimpin tidak hanya harus menyampaikan fakta dengan jelas, tetapi juga dengan bijak, penuh simpati, dan dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan audiens (Alfi Alfarizhi Hidayat & Imamul Muttaqin, 2. Pada konteks ini hal yang di sampaiakan adalah wahyu dan risalah dari Allah SWT. Ia akan lebih berhati-hati dalam perkataan maupun mengambil kebijakan. Dia akan memikirkan siapa yang dia ajak bicara dan terbuka terhadap apa pun. Oleh karena itu, tabligh juga menunjukkan kemampuan untuk bernegosiasi dan berkomunikasi (Salim et al. , 2. Dalam lingkungan pendidikan, kemampuan tabligh sangat penting. Seorang pemimpin pendidikan yang komunikatif akan mampu membuat visi, misi, dan tujuan lembaga dapat dipahami oleh semua pemangku kepentingan, termasuk orang tua, siswa, staf, dan guru. Selain itu, seorang pemimpin dengan keterampilan tabligh juga akan lebih mudah memotivasi siswa, menyelesaikan konflik, dan membangun hubungan harmionis di antara semua komponen lembaga Pendidikan (Kurniawan et , 2. Berdasarkan pembahasan di atas, jelas bahwa kepemimpinan profetik adalah upaya untuk meyakinkan seseorang agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dengan mencontoh empat sifat nabi sebagai pemimpin: kejujuran . , kepercayaan . , kebijaksanaan . , dan komunikasi . Pemimpin yang profetik juga memiliki moral humanistik, memperlakukan orang dengan kasih sayang, dan memimpin dari hati. Oleh karena itu, dengan memperhatikan proses kerja dan hasil kerja mereka, seorang pemimpin yang memiliki kepemimpinan profetik dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Sehingga, karyawan akan merasa lebih dihargai dan diperhatikan oleh pemimpin dan akan meningkatkan kepuasan kerja mereka. Strategi Pendidikan Nabi Muhammad SAW dalam Membangun Generasi Berakhlak Dalam penelitian Ahmad Zaeni. Muhammad Abdullah Al-Duwysy mengutip Surah AlJurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kepemimpinan Pendidikan Profetik Nabi Muhammad: Tinjauan Literatur Tentang Model Inspiratif dalam Membangun Generasi Berakhlak dan Berilmu Baqarah ayat 129. Surah Ali 'Imran ayat 164, dan Surah Al-Jumu'ah ayat 2 sebagai bukti bahwa Nabi diutus sebagai pendidik dengan empat tanggung jawab utama: menyebarkan Al-Qur'an . ablyg al-Qur'y. , mengajarkan kitab . a'lym al-kity. , mengajarkan hikmah . a'lym al-hikma. , dan menyucikan jiwa . Dalam Al-Qur'an, istilah "hikmah" muncul sembilan belas kali dan memiliki berbagai konotasi, seperti status kenabian. Al-Qur'an dan pemahamannya, pengetahuan dan penggunaannya, serta pengetahuan dan ketangkasan akal (Zaeni, 2. Mekah. Nabi Muhammad SAW menyebarkan ajaran-ajarannya untuk mendorong penduduk Arab agar meninggalkan kebodohan mereka terhadap hukum, etika, dan agama. Tujuannya adalah agar mereka menjadi umat yang mempercayai keabsahan ajaran Islam dan tujuan Nabi Muhammad SAW, kemudian menerapkan prinsip-prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari (Hidayah & Yusrianto, 2. Selain itu, pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang Rasul ditujukan sebagai perbaikan akhlak seluruh umat. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist dari Abu Hurairah R. Rasulullah SAW bersabda: ACA ea a aE ae EaEA a eAauIca aI ae aaEa aaI aIA AuSesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. Ay Akhlak Rasulullah tidak hanya ditunjukan dalam kehidupan pribadi, tetapi juga dalam kerangka pemerintahan dan pembuatan kebijakan. Bahkan terhadap non-Muslim. Nabi sangat menekankan keadilan. Dalam kasus hukum, beliau tidak pernah membedakan antara Muslim dan non-Muslim di pengadilan. Kepemimpinan beliau tidak dibangun di atas ketakutan atau dominasi kekuasaan, tetapi atas dasar kasih sayang dan keadilan. Misalnya, ketika menghadapi penghinaan dari masyarakat Thaif, beliau tidak membalas dengan kekerasan, tetapi memilih mendoakan mereka agar suatu saat mendapat hidayah. Ini adalah contoh nyata bahwa akhlak menjadi elemen fundamental dalam strategi dakwah dan kepemimpinan beliau (Nur Haflisma et al. , 2. Penanaman nilai-nilai profetik mempunyai tujuan pembentukan karakter yang humanis dalam perspektif kebangsaan (Fadhli, 2. Misalnya, ketika Rasulullah bersama pasukan Badar hendak mempersiapkan peperangan Badar. Ia memilih suatu tempat untuk menjadi markas pasukan sebagai start peperangan. Seorang sahabat bernama al-Hubab bin alMundzir mempertanyakan kepada Rasulullah mengenai alasan pilihan tersebut, apakah atas dasar wahyu atau hanya pendapat Rasul semata. Al-Hubab berkata: AyApakah ini tempat yang wahyu turun atasnya atau merupakan pendapat, siasat dan strategi perang?Ay Kemudian Rasulullah saw menjawab bahwa pilihan tersebut atas dasar pendapatnya. Al-Hubab lantas menyampaikan pendapatnya, apabila hanya sekedar atas ijtihad dan pertimbangan Rasul sebagai seorang pemimpin, maka sebaiknya memilih area yang terdepan yang terdapat sumur sebagai sumber air, sehingga semua sumber air di Badar dikuasai oleh pasukan Islam. Seandainya pasukan Islam terpaksa mundur, maka suplai air sudah disiapkan di area Badar yang lebih belakang. Pada akhirnya Rasul saw menerima pendapat tersebut sekaligus mengapresiasinya dengan mengajak seluruh pasukan melangkah maju ke area terdepan yang terdapat sumur sesuai saran al-Hubab (Wahidin et al. , 2. Selain itu. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa dalam perang Badar umat pasukan Islam telah menewaskan tujuh puluh kaum musyrikin dan menwan tujuh puluh diantara mereka. Selepas perang Badar. Rasulullah saw meminta pendapat pada sahabat Abu Bakar. Umar dan Ali mengenai tawanan perang. Abu Bakar berkata: AyWahai Rasulullah, mereka adalah anak-anak pamanmu dan saudarasaudaramu, menurutku sebaiknya engkau mengambil tebusan dari mereka, tebusan tersebut dapat kita gunakan sebagai modal kekuatan untuk mengalahkan orang-orang kafir, mudahJurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kepemimpinan Pendidikan Profetik Nabi Muhammad: Tinjauan Literatur Tentang Model Inspiratif dalam Membangun Generasi Berakhlak dan Berilmu mudahan Allah memberikan petunjuk sehingga mereka akan menjadi pendukung kita. Lalu Rasul bertanya kepada Umar bin Khattab. Umar menjawab: aku tidak berpendapat seperti pendapat Abu Bakar, tapi saya berpandangan bahwa hendaknya engkau berikan serahkan kerabatku padaku maka aku akan memenggalnya, maka AoUqail harus dipenggal oleh Ali, begitu juga Hamzah harus memenggal tawanan yang juga saudara terdekatnya. Semua itu agar Allah mengetahui bahwa di dalam hati kita tidak ada toleransi ampunan bagi orangorang musyrik. Para tawanan itu adalah para pemimpin musyrikin. Lalu Nabi menyukai pada pendapat Abu Bakar dan tidak menyukai pendapat Umar, sehingga Nabi saw mengambil Turunlah ayat ini sambil menegur Nabi saw dan pasukan mukmin dengan kekalahan pada perang Uhud (Wahidin et al. , 2. Implementasi Kepemimpinan Profetik Nabi Muhammad SAW dalam Pendidikan Modern Dalam konteks pendidikan modern, model tarbiyah nabawiyah dapat diadaptasi sebagai pendekatan holistik dalam membentuk calon pemimpin umat. Lembaga pendidikan Islam seharusnya tidak hanya mengajarkan teori kepemimpinan, tetapi juga menanamkan prinsip-prinsip Islam melalui pengajaran akhlak, pelatihan keterampilan sosial, dan nasihat Kurikulum harus memprioritaskan kombinasi ilmu-ilmu Islam, ilmu sosial, dan pengembangan karakter untuk menghasilkan pemimpin yang mampu mengatasi kesulitan kontemporer dengan integritas dan kerendahan hati. Dengan demikian, pendidikan yang berbasis nilai-nilai Islam adalah jalan utama dalam mengembangkan kepemimpinan yang visioner, transformatif, dan berorientasi pada keberkahan hidup dunia akhirat. Sebagaimana ditunjukkan oleh kepemimpinan Nabi Muhammad dan para pengikutnya, pemimpin yang mendapatkan pendidikan yang baik tidak hanya akan berpengetahuan tetapi juga dapat dipercaya dan rahmatan lil Aoalamin (Nur Haflisma et al. , 2. Kepemimpinan Nabi Muhammad AA e juga terlihat dalam cara beliau mendidik para sahabat dan umatnya. Pendidikan yang beliau terapkan tidak hanya bersifat formal, tetapi juga spiritual dan praktis (Faishol, 2. Nabi Muhammad A Amenegakkan tauhid, adab, dan ilmu sebagai landasan utama pengembangan karakter. Metode pendidikan beliau meliputi: Nabi sering menyampaikan kepada para sahabat manfaat yang dijanjikan bagi mereka yang menunjukkan kesabaran dan ketaatan. Beliau menyampaikan ajaran-ajaran Islam secara bertahap, dimulai dengan konsep-konsep dasar dan berlanjut ke yang lebih kompleks. Nabi Muhammad A Adikenal karena kedekatannya dengan para sahabat, memastikan mereka merasa dihargai dan diakui (Putri Wulandari et al. , 2. Dalam penerapannya, aspek profetik harus menekankan etika melalui implementasi aktif pada setiap individu Kerangka etika ini didasarkan pada tiga konsep, antara lain. Humanisasi . mar maAoru. berarti memanusiakan manusia, hal ini didasarkan pada realitas keadaan saat ini, dimana kehidupan sosial tradisional bergeser ke kehidupan industri, sehingga mengubah model industrialisme. Pencarian keuntungan, yang terwujud melalui sarana produksi, memengaruhi mentalitas konsumen masyarakat, pada akhirnya membentuk masyarakat konsumen. Kedua, liberasi . ahi munka. berarti pembebasan menandakan upaya untuk mengurangi semua manifestasi perilaku tidak manusiawi atau anti-kemanusiaan. Upaya ini signifikan karena, dalam setiap kerangka sosial, terutama dalam masyarakat kapitalis industri, tidak hanya ada pemilik modal dan pekerja, tetapi juga mekanisme dominasi, hegemoni, dan eksploitasi. Ketiga, transendensi . uAominua billa. menghubungkan semua tantangan hidup dengan ilahi. Prinsip ini bertujuan untuk meningkatkan spiritualitas manusia sebagai hamba. Selain itu, transendensi harus ditetapkan sebagai nilai dalam kesadaran sosial kolektif masyarakat (Anggraini & Bahri, 2. Konsep kepemimpinan Nabi Muhammad A Aberfungsi sebagai model teladan dalam pendidikan Islam. Melalui visinya, akhlak mulia, dan metode yang bijaksana, beliau berhasil Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kepemimpinan Pendidikan Profetik Nabi Muhammad: Tinjauan Literatur Tentang Model Inspiratif dalam Membangun Generasi Berakhlak dan Berilmu membina generasi luar biasa yang memahami ajaran Islam dan menerapkannya secara efektif dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini sangat sesuai dalam menumbuhkan generasi yang berakhlak mulia dan kepemimpinan yang kuat. Selanjutnya. Blair menyatakan bahwa kepemimpinan profetik dapat meningkatkan dinamika organisasi dan menumbuhkan lingkungan kerja yang positif, sehingga berkontribusi langsung pada peningkatan kepuasan kerja individu (Blair et al. , 2. Britt menegaskan bahwa dampak kepemimpinan profetik memiliki aspek spiritual dan material, sehingga meningkatkan signifikansi dalam manajemen sumber daya manusia (Britt, 2. Prinsip-prinsip kenabian, termasuk bimbingan, inspirasi, dan penggunaan pedagogi transformatif, telah menunjukkan peningkatan motivasi dan rasa tanggung jawab dalam bekerja (Abidin & Sirojuddin, 2024. Sari et al. , 2. Lebih lanjut, kepemimpinan profetik merupakan faktor kunci dalam meningkatkan kesejahteraan guru melalui penerapan prinsip-prinsip kepemimpinan profetik dalam kebijakan dan praktik manajemen untuk meningkatkan kualitas administrasi pendidikan Islam (Adeoye et al. , 2025. Ibrahim et al. , 2023. Murni & Adiyono, 2. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Tang dkk. , ditekankan pengaruh analogis dari idealisme kepemimpinan spiritual dalam meningkatkan kesejahteraan pendidik dalam kerangka multicultural dapat meningkatkan nilai-nilai profetik, termasuk keadilan, integritas, dan kasih sayang, dalam menumbuhkan suasana kerja yang kondusif (Tang et al. , 2. Sebagaimana diuraikan oleh Nafi'a dan Gumiandari. Lingkungan kerja yang menggabungkan prinsipprinsip spiritual dapat meningkatkan kesejahteraan guru dan memengaruhi kinerja mereka serta kualitas pendidikan secara keseluruhan secara positif. Dalam konteks ini, kepemimpinan profetik memiliki potensi strategis dalam manajemen pendidikan (NafiAoa & Gumiandari. Setiap perubahan pada akhirnya akan menghadapi hambatan dan masalah, dan ini juga berlaku untuk penguatan kepemimpinan profetik. Di antara tantangan yang muncul adalah kurangnya pemahaman tentang bagaimana kepemimpinan tidak dapat berkembang secara kolektif di lingkungan pendidikan. Kedua, banyak pemimpin sudah merasa nyaman di lingkungan mereka sendiri. Tantangan lebih lanjut dalam meningkatkan kepemimpinan profesional adalah perlunya sinergitas di antara semua unit kerja dalam lembaga pendidikan. Komponen pemangku kepentingan lembaga harus bersinergi dan saling mendorong, serta mengingatkan satu sama lain (Atiqullah, 2. KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan profetik yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad A Amerupakan model kepemimpinan ideal yang sangat relevan untuk diterapkan dalam konteks pendidikan Islam modern. Empat karakteristik utama kepemimpinan beliau, yaitu siddiq . , amanah . apat dipercay. , fathonah . , dan tabligh . , menjadi landasan penting dalam membangun sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada keberhasilan akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan jiwa religius peserta didik. Strategi pendidikan Nabi Muhammad A Ayang mengintegrasikan aspek spiritual, akhlak, dan ilmu pengetahuan membuktikan efektivitas tarbiyah nabawiyah dalam mencetak generasi berakhlak mulia dan pemimpin yang Implementasi nilai-nilai profetik dalam manajemen pendidikan dapat meningkatkan kepuasan kerja tenaga pendidik, memperkuat kualitas manajemen, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif dan berkelanjutan. Secara ilmiah, temuan ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan teori kepemimpinan pendidikan Islam yang berakar pada nilai-nilai kenabian, sekaligus Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kepemimpinan Pendidikan Profetik Nabi Muhammad: Tinjauan Literatur Tentang Model Inspiratif dalam Membangun Generasi Berakhlak dan Berilmu menegaskan urgensi integrasi nilai spiritual dalam praktik manajerial lembaga pendidikan. Implikasi praktisnya, para pemimpin dan pendidik di lembaga pendidikan Islam dianjurkan untuk meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad AA e dalam kepemimpinan mereka guna mencapai tujuan pendidikan yang holistik dan transformatif. Untuk riset lanjutan, disarankan dilakukan studi empiris yang menguji efektivitas penerapan kepemimpinan profetik dalam berbagai konteks lembaga pendidikan Islam, serta mengkaji hambatan dan strategi optimal dalam menginternalisasi nilai-nilai profetik secara kolektif di lingkungan pendidikan. Pendekatan multidisipliner yang menggabungkan aspek psikologi pendidikan, manajemen, dan teologi Islam juga dapat memperkaya pemahaman dan implementasi model kepemimpinan ini. REFERENSI