Jurnal Fides et Ratio Vol 7. Nomor 2. Desember 2022 https://doi. org/10. 47025/fer. PERSONALISME KAROL WOJTYAA Antonius Alex Lesomar The John Paul II Catholic University of Lublin. Poland alex_lesomar@yahoo. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mempresentasikan kekhususan personalisme Karol WojtyCa. Personalisme yang dikembangkan oleh WojtyCa adalah personalisme Dalam personalismenya, ia memadukan pendekatan metafisika dan Melalui kedua pendekatan ini ditemukan bahwa manusia adalah suppostium sekaligus sebagai personal being . engada persona. Kekhususan dari manusia sebagai personal being yaitu ia menjadi sumber atau subjek dari eksistensinya dan semua bentuk dinamisme . pa yang terjadi pada manusia dan tindakan sada. yang pantas bagi manusia. Person tidak hanya sebagai subjek dalam arti objektif, dalam ranah metafisika, tetapi juga subjek dalam arti subjektif atau subjek dari pengalaman, dalam ranah fenomenologi, dimana ia menyadari dan mengalami dirinya sebagai subjek dan objek. Dan secara khusus dalam dan melalui tindakan sadar, sebagai dinamisme khas person, ditampakkan nilai personalistik, dimana dalam dan melalui tindakan ia memenuhi dirinya dalam arti moral sebagai seorang yang baik atau jahat. Untuk mencapai maksud dari penulisan, penulis menggunakan metode analisa teks dan ekplanatif Kata Kunci: Personalisme. Person. Personal being. Dinamisme Manusia. Metafisika. Fenomenologi. Abstract This article aims to present the specificity of Karol WojtyCa's personalism. The personalism developed by WojtyCa is the substantial personalism. In his personalism, he synthesized the metaphysical and phenomenological approaches. Through these two approaches it is found that human being is a suppostium as well as a personal being. The specificity of human being as the personal being is that he/she becomes the source or subject of his/her existence and all forms of dynamism . omething happens in man and conscious action. that are appropriate for human being. Person is not only a subject in an objective sense, in the realm of metaphysics, but also subjective sense or as the subject of experience, in the realm of phenomenology, where he/she realizes and experiences him/herself as a subject and object. And specifically, in and through conscious action, as the person's unique dynamism, the personalistic value is revealed, in which he/she fulfills him/herself in the moral sense as a good or evil person. To achieve the purpose of this writing, the author uses the text analysis and explanative method. Key words: Personalism. Person. Personal being. Human Dinamism. Metaphysics. Phenomenology. Jurnal Fides et Ratio Vol 7. Nomor 2. Desember 2022 https://doi. org/10. 47025/fer. PENDAHULUAN pada pribadi manusia dan problemproblemnya. Ada juga yang memahami dan sistem berpikir yang mengkondisikan dan memastikan person sebagai titik berangkat untuk menginterpretasi dan memahami keseluruhan realitas. Dengan demikian, personalisme yang berkembang bukan hanya dalam arti kognitif, metodologis dan praxeologis tetapi juga sebagai prinsip Problem person memiliki sejarah yang panjang. Awalnya istilah ini dikenal dalam terminologi Yunani, prUsopon dan Latin, persona yang berarti topeng. Dalam teater-teater Yunani, topeng digunakan bukan hanya untuk menyembunyikan wajah seorang aktor tetapi juga menampilkan esensi dari suatu drama atau komedi. Istilah ini pertama kali digunakan secara metafisis dalam teologi kristiani terutama dalam diskusi Allah Tritunggal dan Kristologi1. Para Bapa Gereja, seperti St. Agustinus, menyadari bahwa istilah ini juga sangat tepat untuk mengekspresikan kekhususan dari manusia. Di masa modern, problem ini kemudian lebih dipertajam di luar diskusi teologi dan diperkuat lagi di abad dua puluh ketika antropologi filsofis menjadi cabang filsafat serta munculnya tren filsafat yang disebut personalisme2. Arti dari tren inipun tidak seragam. Ada yang beranggapan bahwa personalisme adalah protes terhadap totalitarianisme yang merendahkan martabat Ada beranggapan bahwa personalisme adalah gerakan intelektual dan kultural yang fokus Personalisme sebagai suatu sistem pemikiran tidak lepas juga dari kesulitankesulitan, antara lain: Pertama, relativisasi konsep person terutama karena pengaruh perkembangan antropologi sosial dan budaya yang mengabaikan sisi transendental Kedua, penolakan universalisasi penggunaan istilah person keluar dari konteks teologi kekristenan4. Terlepas dari anggapan-anggapan dan kerumitan-kerumitan itu, saya berupaya personalisme WojtyCa dalam tulisan ini. Mungkinkah personalismenya hanyalah salah satu dari berbagai macam teori atau isme-isme lainnya, atau merupakan suatu interpretasi objektif atas fakta manusia? Tentunya, konsep person WojtyCa adalah suatu refleksi filosofis. Ia berupaya menjelaskan bahwa konsep personalismenya Aupengalaman fundamental manusiaAy dengan tidak mengabaikan asal penggunaan istilah Lih. Andrzej Maryniarczyk SDB. The Realistic Interpretation of Reality, trans. by Hugh McDonald (Krakyw: Poligrafia Inspektoratu Towarzystwa Salezjanskiego, 2. , 113-115. Lihat juga Stanley Rudman. Concept of Person and Christian Ethics (Cambridge: Cambridge University Press, 1. Bertens. Sekitar Bioetika (Yogyakarta: Kanisius, 2. Tomasz Duma. AuPersonalism in The Lublin School of Philosophy (Card. Karol WojtyCa. Fr. Mieczyslaw A. Krapie. ,Ay Studia Gilsoniana 5:2 (AprilAeJune 2. : 365-390. Lih. ,Ibid. Thomas Williams. AuPersonalism,Ay in Stanford Encyclopedia of Philosphy, https://plato. edu/entries/personalism/, diakses pada 15 Agustus 2021. Duma. AuPersonalism in The Lublin School of Philosophy (Card. Karol WojtyCa. Fr. Mieczyslaw Krapie. ,Ay 367. Ibid. Jurnal Fides et Ratio Vol 7. Nomor 2. Desember 2022 https://doi. org/10. 47025/fer. pemikiran ini tidak terlepas dari konteks latar belakang pemikirannya yang mencakup aspek sosial, politik, ekonomi serta pemikiran filsafat yang berkembang pada masanya yang mempengaruhi atmosfer akademis dalam lingkugan barat. tersebut dalam teologi. Sejajar dengan titik dikembangkannya bertujuan bukan hanya terbatas pada teori yang menggambarkan kekhususan manusia di dalam dunia, tetapi juga menyangkut kehidupan praktis yang terfokus pada perlakuan pada manusia sebagai makhluk tertinggi dan sangat berharga dalam tata dunia5. WojtyCa . hidup dalam masa perang dunia kedua dan paskah periode perang. Ia mengalami kehidupan dibawa tekanan dua rezim totalitarian yang sangat brutal yaitu rezim Nazi yang telah mengeksekusi mati banyak manusia di kamp-kamp konsentrasi, serta rezim Komunis yang begitu represif terhadap kebebasan individu. Pada masa-masa sulit ini, ia pun menghadapi kematian dari anggota keluarga terdekatnya. Ibu dan kakak laki-lakinya wafat di awal-awal perjalanan kehidupannya, dan kemudian disusul Tulisan ini menampilkan penjelasan tentang latar belakang dari personalisme WojtyCa, kemudian kerangka metafisika dan Setelah itu disusul penjelasan problem manusia sebagai personal being, posisinya sebagai subjek dari dinamisme yang pantas bagi person, dan ulasan penampakan diri person serta pencapaian pemenuhan diri dalam tindakan. Untuk menyajikan ulasan pemikiran personalisme WojtyCa dalam artikel ini, saya mencoba meramu perpaduan penggunan metode anilisa teks dan eksplanasi. Dengan metode analisa teks, penulis menyarikan gagasan WojtyCa tentang person dari karyakaryanya, terutama The Acting Person, serta sejumlah kajian karya WojtyCa oleh beberapa komentator. Sedangkan metode eksplanatif digunakan untuk menjelaskan personalisme WojtyCa, sebagai suatu bentuk khas antropologinya, berdasarkan gagasangagasan yang diperoleh dan direkonstruksi sebagai hasil dari pembedahan dan analisa teks-teks tersebut. Pada masanya pun pendidikan di Polandia sungguh terbatas karena banyak akademisi dibunuh secara masal di Siberia dan Kamp Konsentrasi Jerman. UniversitasUniversitas pada masanya pun dikuasai pemerintah komunis sehingga semua sistem pendidikannya berhaluan ideologi komunis, kecuali Universitas Katolik Lublin, tempat dimana Karol WojtyCa mengabdikan dirinya sebagai professor Etika. Dalam lingkungan ini. WojtyCa bersama rekan-rekan professor di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Lublin, yang adalah pendiri Sekolah Filsafat Lublin, mengembangkan filsafat realistik Latar Belakang Pemikiran Personalisme WojtyCa Pemikiran Filsafat terkonsentrasi pada manusia. Filsafat realistic adalah filsafat yang berdasar pada pemikiran filsafat Aristoteles dan yang telah direinterpretasikan St. Thomas Aquinas yang kemudian masuk ke dalam dialog dengan pemikiranpemikiran filsafat modern dan kontemporer. Lih. MieczysCaw A. Krapiec and Andrzej Maryniarczyk. WojtyCa Orientasi Ibid. , 368. Jurnal Fides et Ratio Vol 7. Nomor 2. Desember 2022 https://doi. org/10. 47025/fer. The antinomy of subjectivism vs. objectivism, along with the underlying antinomy of idealism vs. realism, created condition that discouraged dealing with human subjectivity-for fear that this would lead inevitably to subjectivism. [A] I am convinced that the line of demarcation between the subjectivistic . anthropology and ethics must break down and is in fact breaking down on the basis of the experience of the human being. Pengembangan filsafat ini sebagai respon perlawanan terhadap pengaruh Marxisme, dengan focus pada problem manusia dan eksplansi dimensi-dimensi berbeda dari kehidupan dan tindakan manusia7. Selain itu filsafatnya yang terfokus pada manusia adalah juga sebagai respon terhadap materialisme yang berkembangan di Barat. Masyarakat mengedepankan pengembangan dimensi kuantitatif dari kondisi manusia, daripada pribadi manusia itu sendiri8. Tidak hanya situasi-situasi tentang manusia tetapi juga pemikiranpemikiran dalam filsafat yang telah mereduksi konsep manusia terutama aliran subjektivisme yang menganggap kesadaran sebagai suatu subjek yang otonom yang tidak berpijak pada sesuatu yang lain, serta idealisme yang menganggap konten atau aktivitas dari kesadaran sebagai being atau Auto beAy Auis the same as to be constituted by consciousnessAy, sebagaimana terdapat dalam prinsip fundamentalnya yang populer esse equals percipi9. Tampak dalam filsafat terdapat garis demarkasi yang memisahkan dan mempertentangkan secara tajam antara subjektivisme versus objektivisme, serta WojtyCa Karena itu, antropologi dikembangkan oleh WojtyCa sebagai upaya penemuan dan pembenaran hakekat dan martabat manusia dengan tetap merangkul dimensi subjektif dan objektif manusia. Untuk thomistik dan fenomenologi sebagai jawaban atas ketidakpuasannya terhadap pandangan dan praktek-praktek yang telah mereduksi konsep dan makna martabat Personalisme WojtyCa: Sintesis Tradisi Thomistik dan Fenomenologi10 Pemikiran personalistik WojtyCa yang dikembangkanya adalah pemikiran filsafat realistic yang mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan fundamental seputar manusia dan dunianya. Ada beberapa kondisi filosofis yang mengkondisikan The Lublin Philosophical School, trans. Hugh McDonald (Lublin: PTTA, 2. , 24. Duma. AuPersonalism in The Lublin School of Philosophy (Card. Karol WojtyCa. Fr. Mieczyslaw Krapie. ,Ay 370. Aguas. AuKarol WojtyCa: On Person and Subjectivity,Ay Ad Veritatem 8, no. 2 (March 2. : 415. Karol WojtyCa. The Acting Person, trans. Andrzej Potocki (Dordrecht-Holand: D ReidelPublishing Company, 1. , 46. Ada mempertanyakan status WojtyCa sebagai seorang Thomis atau sebagai seorang fenomenolog. Saya lebih setuju dengan pandangan bahwa ia bukanlah seorang Thomis maupun fenomenolog, ataupun juga sebagai philosopher of being. Yang pasti ia menggunakan pendekatan filsafat Aristoteles dan Thomistik serta fenomenologi dalam membangun suatu filsafat realistik dari person yang menjadi kekhasan filsafatnya. Bdk. Piotr JaroszyEski. AuKarol Jurnal Fides et Ratio Vol 7. Nomor 2. Desember 2022 https://doi. org/10. 47025/fer. WojtyCa: A Thomist or a Phenomenologist?Ay. Studia Gilsoniana 10, no. 1 (JanuaryAeMarch 2. : 151. Jurnal Fides et Ratio Vol 7. Nomor 2. Desember 2022 https://doi. org/10. 47025/fer. sehingga personalisme WojtyCa dikatakan sebagai sintesis tradisi thomistik dan subjektif akan dirinya yang objektif dan aktivitas-aktivitasnya. Pertama. WojtyCa berbasis pada metafisika. Ia mengikuti interpretasi Thomistik atas metafisika Aristoteles. Di sini, realitas dilihat secara Realitas Dunia maupun manusia dilihat secara objektif dan bukan sebagai hasil konstruksi pikiran manusia. Berkat dasar metafisika ini. WojtyCa menerima eksistensi identitas permanen dari manusia yang adalah subjek substansial yang eksis dalam dan untuk dirinya sendiri. Selain itu, karena pengaruh metafisika juga, ia mengakui kodrat manusia yang menentukan ciri-ciri khusus manusia, tindakan sadar . ctus humanus/actus voluntariu. yang membedakannya dari mahkluk yang lain11. WojtyCa antropologi tradisional, seperti pandangan Aristoteles bahwa manusia adalah mahkluk rasional serta pandangan para Thomis yang diwariskan dari Boethius bahwa manusia adalah person, dan sebagai person ia adalah substansi individual dengan esensi atau kodrat rasional. Karena esensi atau kodrat rasionalnya, maka manusia disebut person. Itu berarti manusia sebagai person telah terkonstitusi dalam ranah metafisika. Esensi rasional dari manusia adalah spiritualitas substantif atau being substansial yang real yang disebut jiwa12. Jiwa memiliki dua fakultas spiritual yaitu akal budi/ intelek dan kehendak yang menjamin manusia sebagai person dan pengada . yang paling sempurna . erfectissimum en. dalam tatanan dunia ciptaan. Karena itu, hanyalah manusia yang menjadi pengada konkret yang selalu rasional dan bebas yang dapat aktivitas-aktivitas dimungkinkan semata-mata oleh akal budi dan kehendak13. Akal budi dan kehendak pula menjadikan person sebagai sui juris atau tuan . atas dirinya sendiri yang tidak dapat ditentukan dan didikte oleh kesan-kesan dari dunia eksternal14. Dengan demikian, di antara semua mahkluk hidup . anusia, hewan, tumbuha. Manusia sebagai Personal Being Kedua. WojtyCa memanfaatkan kontribusi fenomenologi. Maksudnya, dengan bantuan fenomenologi yang menekankan peran kesadaran, manusia menyadari dan mengalami dirinya sebagai subjek substansial yang eksis, yang menjadi penyebab dari tindakan-tindakannya serta objek dari tindakannya sendiri, sekaligus menyadari dan mengalami tindakantindakan tersebut sebagai kepunyaannya. Dengan pendekatan ini maka ada penekanan pengalaman subjektif akan Audiri sayaAy yang Dengan demikian, personalisme WojtyCa tidak hanya berkutat pada realitas objektif manusia tetapi juga realitas pengalaman subjektif manusia. Duma. AuPersonalism in The Lublin School of Philosophy (Card. Karol WojtyCa. Fr. Mieczyslaw Krapie. ,Ay371-372. Jurnal Fides et Ratio Vol 7. Nomor 2. Desember 2022 https://doi. org/10. 47025/fer. MaCgorzata JaCocho-Palicka. AuSpiritual Subtance. The Essence of Man-Person According to Karol WojtyCa,Ay Studia Gilsoniana 6, no. 1 (JanuaryAe March 2. : 106. Karol WojtyCa. AuThomistic Personalism,Ay Person and Community Selected Essay, trans. Theresa Sandok (New York: Peter Lang,1. , 167. Aguas. AuKarol WojtyCa: On Person and Subjectivity,Ay421. Jurnal Fides et Ratio Vol 7. Nomor 2. Desember 2022 https://doi. org/10. 47025/fer. Kesadaran adalah aspek dari person dan bukan fakultas seperti akal budi dan Ia terkandung dalam kodrat rasional, karena itu ia hadir dalam aktivitas dua fakultas manusia yaitu akal budi dan Melalui analisanya atas tindakan sadar16 (Actus humanus/actus voluntariu. yang hanya milik manusia, dan dihasilkan dari fakultas kehendak, ia membuktikan penemuan status manusia sebagai person sebagaimana yang didefinisikan Boethius. Moment tindakan sadar adalah moment yang pantas untuk menampilkan relasi dinamik dari tindakan dan person. Di sini, kita melihat cara baru yang ditunjukkan WojtyCa untuk memperlihatkan bahwa manusia itu adalah personal being dengan bertitik tolak dari pengalaman internal tindakan sadar Cara atau pendekatan ini yang tidak tampak dalam pendekatan murni metafisika. Ia memadukan metode induksi dan prosedur reduksi metafisika dan fenomenologi di sini. Dengan induksi dan reduksi metafisika, fakta-fakta atau realitas yang tersaji direduksi sampai pada penemuan sumber Dengan fenomenologi, fakta atau realitas manusia yang tersaji tersebut adalah Aupengalaman hanya manusia yang pantas disebut sebagai Selain itu, pandangan Thomistik juga menegaskan bahwa manusia sebagai person adalah alteri incommunicabilis. Artinya seorang person tidak dapat ditransfer atau digantikan oleh sesorang yang lain. Ia khas, unik dalam dirinya berbeda dari yang lain. WojtyCa menerima pandanganpandangan tradisonal ini dan menjadikannya basis untuk konstruksi personalismenya. Karena itu. WojtyCa sepakat bahwa manusia hanya sebagai suppositum atau individual being . engada individua. tetapi ia adalah personal being . engada persona. Lebih lanjut. WojtyCa berpandangan bahwa manusia bukan hanya sebagai salah satu spesies di antara spesies-spesies yang lain, atau suatu objek di antara objek yang lain dengan kekhususan kodrat rasionalnya. Atau terbatas pada pemahaman bahwa manusia sebagai person adalah substansi lengkap yang dikomposisikan oleh tubuh dan jiwa. Baginya, pandangan objektif saja tidak merangkum seluruh kekayaan manusia. Untuk mengkolaborasikan fenomenologi yang menekankan peran kesadaran, sebagai mengembangkan pemikirannya tentang Akan tetapi, ada catatan krusial yang diberikan WojtyCa. Menurutnya, kesadaran bukanlah subjek yang otonom seperti dalam anggapan subjektivisme. Auconsciousness itself does not exist as the Aususbstantive subject of the acts of it exists neither as an independent factor nor as facultyAy15. Istilah AuTindakan sadarAy . onscious actio. equivalen dengan AutindakanAy . yang merupakan aktualisasi dari kehendak person, dalam kesadaran, dan dalam kerjasama dengan intelek. Dengan begitu AutindakanAy itu diinginkan, diketahui, disadari dan dialami. Berbeda dengan AuactAy yang dapat dipahami sebagai aktualisasi potensi manusia secera general sehingga dapat mencakup AutindakanAy . maupun apa . yang terjadi dalam manusia yang independen dari kesdaran dan kehendak. Mengutip penjelasan WojtyCa. Auessensially, the human dynamism is interpreted by the concept of the AuactAy. In the sense the term AuactAy adequately denotes the dynamic content of both structures: Auman-actsAy and something happens in manAy. WojtyCa. The Acting Person, 65. WojtyCa. The Acting Person, 34. Jurnal Fides et Ratio Vol 7. Nomor 2. Desember 2022 https://doi. org/10. 47025/fer. tindakan sadarAy. Berkat peran aspek mengalami bahwa tindakan sadar tersebut adalah tindakannya, serta dirinya adalah sumber atau penyebab efisiennya. Artinya ia menyadari dan mengalami dirinya . sebagai person yang adalah subjek dari aktivitas-aktivitasnya, aktivitasaktivitasnya sebagai kepunyaannya sendiri, bukan milik seseorang yang lain. juga antinomy terhadap personalisme nonsubstantialis dari Emmanuel Kant dan Max Scheler. Kant, misalnya, menolak metafisika atau filsafat dari being yang konkret riil, dan mendorong substansi . hanya ke dalam kategori-kategori dari intelek. Sementara itu. Scheler menganggap person hanya sebagai kesatuan situasi aktual dari pengalaman-pengalaman sadar dari psychoemotive17. Dengan demikian, kekhasan dari personalisme WojtyCa, bila dibandingkan pemikir-pemikir lainnya, adalah sebagai suatu personalisme substantial yang menjadikan metafiska sebagai basisnya dan dilengkapi dengan fenomenologi yang menekankan peran kognitif dan pengalaman dari kesadaran, yang kemudian terbuka dalam kontak dengan tren-tren filsafat lain, ilmu pengetahuan secara khusus psikologi, dan Artinya, dalam teorinya tentang person yang berbasis metafisika, ia manusia-person substansi lengkap . ubuh dan jiw. , dengan kodrat rasional. Sementara itu, jiwa atau spiritualitas substantive, yang sesungguhnya sebagai substansi tak lengkap dan sebagai salah satu element komposisional dari Manusia-Person Dinamisme Sumber WojtyCa menerima dan mengikuti teori dinamisme being . ctus-potenti. Aristoteles. Teori dinamisme being secara umum. Sementara itu. WojtyCa menggunakan teori ini untuk menerangkan secara khusus dinamisme Dinamisme yang pantas untuk manusia berdasarkan jiwa rasionalnya, hadir dalam dua bentuk yaitu Autindakan sadarAy dan Ausesuatu yang terjadi pada manusiaAy . alam terminology Aquinas, actus humanus dan actus homini. Menurut WojtyCa, moment special dari pengalaman manusia sebagai person adalah Autindakan sadar yang diinginkan manusiaAy. Tindakan yang dipertunjukkan manusia-person, adalah prinsip atau penjamin dari status manusia sebagai Meski demikian jiwa bukanlah Singkatnya, substansial being dalam pandangan WojtyCa berarti ia eksis oleh dirinya dan untuk dirinya dalam arti objektif dan subjektif, spiritual dan material, rasional dan bebas, merealisasikan dirinya dalam dirinya dan dalam komunitas dengan sesama, serta memenuhi diri dalam tindakan. Gagasan personalisme substansial WojtyCa ini adalah Jurnal Fides et Ratio Vol 7. Nomor 2. Desember 2022 https://doi. org/10. 47025/fer. Lih. JaCocho-Palicka AuSpiritual Subtance. The Essence of Man-Person According to Karol WojtyCa. Ay 107. Mengenai Dinamisme yang pantas dari manusia diulas secara komprehensif oleh WojtyCa dalam Bab II The Acting Person yang diberi judul An analysis of Efficacy in the light of Human Dynamism. Referensi lain yang dapat memperkaya ulasan problem ini: Tomasz Duma. The Foundations of the Human PersonAos Dynamism in Karol WojtyCaAos Anthropology. A Study in Light of AuThe Acting PersonAy Verbum Vitae 38/2 . : 441Ae456. Grzegorz HoCub. AuThe Human Subject and Its Interiority. Karol WojtyCa and the Crisis in Philosophical Anthropology,Ay Quien 4 . : 47-66. Jurnal Fides et Ratio Vol 7. Nomor 2. Desember 2022 https://doi. org/10. 47025/fer. transendensi person dan integrasi person dalam tindakan menjadi syarat untuk person lebih memenuhi dirinya melalui partisipasi dalam komunitas bersama dengan person yang lain untuk mewujudkan kebaikan Jadi transendensi, integrasi dan partisipasi dalam tindakan adalah moment utama yang menampilkan dinamisme dari person sekaligus memperlihatkan keunikan personalisme Wojtyla yang kontra secara tegas terhadap individualisme dan antiindividualisme atau kolektivisme. adalah jalan masuk untuk mencapai struktur ontis dari person. Atau dengan kata lain, tindakan memperlihatkan struktur personal dari determinasi diri yaitu pengaturan diri . elf-governmen. dan pemilikan diri . Tentunya, tindakan bukanlah suatu agregat dinamisme, melainkan efek atau hasil dari person memerintah atau mengatur dirinya untuk bertindak mencapai nilai tertentu sebagai motivasi dari tindakan. Person memerintah dirinya mengkonfirmasi bahwa ia memiliki dirinya. Tidak mungkin seseorang memerintah dirinya kalau ia tidak Determinasi diri adalah aktualisasi tindakan kehendak yang tidak lain adalah aspek dan fakultas dari person. Jadi tindakan dari kehendak mengafirmasi tindakan dari person sendiri. Person adalah sumber dan penyebab dari tindakan. Tindakan memperlihatkan transendensi dari person, karena tindakannya tidak hanya tertuju kepada nilai sebagai motivasi ekterior tetapi juga pada saat bersamaan tertuju kepada pembentukan dan pemenuhan dirinya. Tindakan personalistik yaitu nilai dari seorang person yang mengeksekusi tindakan, entah sebagai seorang yang baik atau jahat. Tindakan person melalui kehendak yang tertuju pada nilai yang baik pada akhirnya mencapai pemenuhan diri menyertakan integrasi. Integrasi, pertama-tama, terjadi antara person dan tindakan, dimana person yang adalah sumber dan penyebab tindakan memerintah dirinya untuk bertindak dan pada saat yang sama ia tampak dalam tindakan tersebut. Integrasi kedua terjadi dalam ranah psiko-somatik, dimana aspekaspek ini ditundukkan pada tindakan dari Lebih lanjut, menurut WojtyCa. Pengalaman tindakan sadar sebagai jalan masuk untuk memiliki pengetahuan tentang person menjadi karakteristik dari personalisme substansialis WojtyCa. Dalam dinamisme tindakan sadar ini tampak Auperson yang sadarAy atau Ausaya yang sadarAy berdiri pada dasar substansi atau suppositum20. Pada tindakan sadar ini ada moment efikasi atau moment dimana Ausaya yang sadarAy adalah actor dari tindakan yang berpijak pada Lih. Duma. AuPersonalism in The Lublin School of Philosophy (Card. Karol WojtyCa. Fr. Mieczyslaw A. Krapie. ,Ay 380. Kata suppositum menunjuk pada individu . ndividua substantia seperti terdapat dalam defenisi Boethius tentang perso. WojtyCa dalam karyanya menggunakan istilah ini, sesungguhnya, merujuk langsung kepada manusia . uppositum humanu. karena perhatian studinya adalah manusia. Memang, untuk manusia dikenakan istilah yang sepatutnya, suppositum humanum atau suppositum rasionale untuk menunjukkan kekhususan manusia sebagai suppositum . isalnya dalam definisi person dari Boethius pula. Individua substantia Aurationale natureA. Manusia-person substansia, dan memang tidak semua individua substansia adalah person, hanya yang memiliki kodrat rasional. Dengan begitu, kata suppositum (Subjek individua. dapat memiliki arti yang luar yang dikenakan pula pada pengada natural lain. Akan tetapi, penggunaan kata suppositum, di sini, dimaksudkan langsung tertuju kepada manusiaperson, suppositum humanum. Jurnal Fides et Ratio Vol 7. Nomor 2. Desember 2022 https://doi. org/10. 47025/fer. terkait gagasan atau teori tetapi terkait aspek praksis, karena itu antropologi dan etika. Ia meyakini bahwa person harusnya terletak pada dasar pemahaman tentang etika, kebudayaan, hukum, politik, ekonomi, masyarakat, agama dan lain sebagainya. Dasar dan orientasi personalistik dalam pemahaman semua aspek kehidupan manusia dapat menangkal berbagai AuismeAy yang kemudian membahayakan eksistensi dan martabat saya/person sebagai suppositum . ubjek dari eksistensi dan aktivitas-aktivita. Selain itu, analisa dinamisme tindakan sadar juga memperlihatkan dinamisme dari Ausesuatu yang terjadi pada manusiaAy yang otonom dari kesadaran dan kehendak. Dan dinamisme ini berlangsung hanya dalam dan pada dasar suppositum atau istilah lain dari WojtyCa subjectiveness, tanpa pelibatan Ausaya yang sadarAy. Dengan begitu, dua jenis dinamisme ini bersumber dari person. Person, sebagai substansi individual dengan kodrat rasional, adalah fondasi untuk Autindakan sadarAy dalam momen efikasi maupun Ausesuatu yang terjadi pada manusiaAy pada ranah subjektiveness. Referensi