JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ Eksplorasi Peran Strategis Koder dalam Implementasi Sistem Indonesian Diagnosis Related Groups . DRG) di Rumah Sakit Andra Dwitama Hidayat1*. Nurhadi1. Syndia Puspitasari2. Adinda Dwi Putri Juniasari1 Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan. Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan. Intitut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri dwitama@iik. id, nurhadi@iik. id, adinda. juniasari20@gmail. Program Studi D4 Manajemen Informasi Kesehatan. Stikes Rumah Sakit Baptis Kediri syndiapuss96@gmail. Keywords: iDRG, clinical coding, coding accuracy. Kata Kunci iDRG, kodifikasi klinis, akurasi kode, sistem informasi ABSTRACT Indonesian Diagnosis Related Groups . DRG) is an evolution of the INA-CBG system designed to better reflect patient clinical complexity. The case grouping process in iDRG is highly dependent on the accuracy of diagnosis and procedure coding. Previous studies indicate that the accuracy of clinical coding in hospitals in Indonesia remains a significant This study aims to explore the strategic role of coders in the clinical coding process within the iDRG system in a hospital setting. A qualitative method with a descriptive phenomenological approach was employed, involving in-depth interviews with five informants . our coders and one head of medical record. Data were analyzed using thematic The results show that coders perceive their role not merely as administrative, but as guardians of clinical and financial data integrity, bridging clinical services and the reimbursement system. Coders demonstrate a good technical understanding of iDRG mechanisms, particularly the impact of clinical data completeness on case grouping. Strategies to maintain accuracy include comprehensive medical record verification, proactive communication with physicians, peer review, and internal audits. Key factors influencing accuracy are the quality of clinical documentation, coder competence, workload, and health information systems. Challenges include non-specific documentation, limited communication with physicians, case complexity, and evolving regulations. This study highlights the importance of a multidisciplinary approach to improve the quality of clinical coding in ABSTRAK Indonesian Diagnosis Related Groups . DRG) merupakan evolusi dari sistem INA-CBG yang dirancang untuk lebih mencerminkan kompleksitas klinis pasien. Proses pengelompokan kasus dalam iDRG sangat bergantung pada akurasi kode diagnosis dan tindakan medis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa akurasi kodifikasi klinis di rumah sakit di Indonesia masih menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran strategis koder dalam proses kodifikasi klinis pada sistem iDRG di rumah sakit. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif melalui wawancara mendalam terhadap 5 informan . mpat koder dan satu kepala rekam medi. Analisis data dilakukan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koder memaknai perannya tidak sekedar administratif, tetapi sebagai penjaga integritas data klinis dan finansial yang menjembatani pelayanan klinis dengan sistem pembiayaan. Koder memiliki pemahaman teknis yang baik terkait mekanisme iDRG, khususnya pengaruh kelengkapan data klinis terhadap pengelompokan kasus. Strategi menjaga akurasi dilakukan melalui verifikasi rekam medis, komunikasi proaktif dengan dokter, peer review, dan audit internal. Faktor utama yang mempengaruhi akurasi adalah kualitas dokumentasi klinis, kompetensi koder, beban kerja, dan sistem informasi kesehatan. Tantangan yang dihadapi meliputi dokumentasi yang tidak spesifik, keterbatasan komunikasi dengan dokter, kompleksitas kasus, dan perubahan Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam meningkatkan kualitas kodifikasi klinis di rumah sakit. 32585/jmiak. 8223 | 191 JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ Korespondensi Penulis: Andra Dwitama Hidayat. Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri. Jl. Wahid Hasyim No. 65 Mojoroto Kota Kediri Telepon : 6285258067697 Email: andra. dwitama@iik. Submitted : 07-05-2026. Accepted : 19-05-2026. Published : 03-06-2026 Copyright . 2024 The Author . This article is distributed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA PENDAHULUAN Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sejak tahun 2014 telah mengubah paradigma pembiayaan pelayanan kesehatan di Indonesia secara fundamental. Salah satu mekanisme kunci dalam sistem ini adalah penggunaan tarif berbasis diagnosis melalui Indonesian Case Base Groups (INA-CBG) yang kini telah berkembang menjadi Indonesian Diagnosis Related Groups . DRG). Sistem ini mengklasifikasikan pasien rawat inap ke dalam kelompok-kelompok diagnosis yang memiliki karakteristik klinis dan biaya perawatan yang relatif homogen . iDRG merupakan evolusi dari sistem INA-CBG yang dirancang untuk lebih mencerminkan kompleksitas klinis pasien sekaligus memberikan insentif terhadap efisiensi pelayanan. Dalam sistem ini, setiap kasus pasien dikelompokkan berdasarkan diagnosis utama, diagnosis sekunder . omplikasi dan komorbidita. , tindakan medis, serta karakteristik pasien lainnya. Pengelompokan ini secara langsung menentukan besaran tarif yang akan dibayarkan oleh BPJS Kesehatan kepada fasilitas kesehatan. Proses pengelompokan kasus dalam iDRG sangat bergantung pada akurasi kode diagnosis dan tindakan yang dimasukkan ke dalam sistem informasi rumah sakit. Kodifikasi klinis menggunakan International Classification of Diseases (ICD) revisi ke-10 (ICD-. untuk diagnosis dan ICD-9 Clinical Modification (ICD-9-CM) untuk tindakan/prosedur medis. Ketepatan kode ini menjadi fondasi utama yang menentukan apakah suatu kasus akan dikelompokkan ke dalam DRG yang tepat, sehingga tarif yang diterima rumah sakit sesuai dengan biaya perawatan yang sesungguhnya. Koder klinis atau petugas kodifikasi merupakan tenaga profesional rekam medis yang bertanggung jawab dalam proses pengkodean diagnosis dan tindakan berdasarkan rekam medis pasien. Peran koder sangat strategis karena mereka berfungsi sebagai jembatan antara informasi klinis yang didokumentasikan oleh dokter dengan sistem pengelompokan kasus yang menentukan pembiayaan. Sebuah kesalahan kode, baik berupa undercoding maupun upcoding, dapat mengakibatkan kerugian finansial bagi rumah sakit atau bahkan tuntutan hukum akibat klaim yang tidak sesuai . ,6,. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa akurasi kodifikasi klinis di rumah sakit Indonesia masih menjadi tantangan. Studi Hatta . menemukan tingkat ketidakakuratan kode diagnosis yang masih tinggi di berbagai rumah sakit di Indonesia, dengan faktor utama meliputi kualitas dokumentasi rekam medis, kompetensi koder, dan beban kerja. Penelitian Firdaus et al. di beberapa rumah sakit di Jawa menyimpulkan bahwa ketidakakuratan pengkodean berdampak signifikan terhadap nilai klaim BPJS, dengan estimasi potensi kerugian mencapai jutaan hingga miliaran rupiah per tahun. Rumah Sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melayani pasien JKN menghadapi tantangan serupa dalam menjaga akurasi kodifikasi dalam sistem iDRG. Akurasi kodifikasi menjadi isu kritis yang berdampak langsung pada keberlangsungan finansial institusi. Namun, hingga saat ini belum terdapat penelitian yang secara khusus mengeksplorasi peran strategis koder dan dinamika proses kodifikasi klinis dalam konteks iDRG di institusi ini. Pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dipilih dalam penelitian ini untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif dan kontekstual mengenai pengalaman, persepsi, dan strategi yang diterapkan oleh para koder. Pendekatan ini memungkinkan penggalian informasi yang kaya dan mendalam yang tidak dapat diperoleh melalui metode kuantitatif semata. 32585/jmiak. 8223 | 192 JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi deskriptif. Pendekatan fenomenologi dipilih karena penelitian bertujuan untuk memahami pengalaman hidup . ived experienc. para koder dalam menjalankan perannya, serta bagaimana mereka memaknai pengalaman tersebut dalam konteks sistem iDRG. Desain ini memungkinkan peneliti untuk mengungkap perspektif subjektif informan secara mendalam dan kontekstual, yang tidak dapat diperoleh melalui pendekatan Total informan berjumlah 5 orang yang terdiri dari 4 orang koder dan 1 orang kepala rekam Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling dengan kriteria inklusi sebagai berikut: Merupakan koder klinis aktif atau kepala rekam medis Memiliki pengalaman minimal 1 tahun dalam kodifikasi klinis Bersedia berpartisipasi dan memberikan informed consent. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam . n-depth intervie. semi-terstruktur menggunakan panduan wawancara yang telah disusun berdasarkan tinjauan literatur. Wawancara dilakukan secara tatap muka dengan durasi 45-90 menit per sesi. Setiap wawancara direkam menggunakan alat perekam digital dengan izin informan, kemudian ditranskripsikan secara verbatim. Observasi nonpartisipatif terhadap proses kerja koder juga dilakukan sebagai sumber data triangulasi. Analisis data menggunakan analisis tematik dengan model interaktif Miles. Huberman, dan Saldana . , yang mencakup tahapan: Kondensasi data melalui transkripsi dan pengkodean awal Penyajian data dalam bentuk matriks tema Penarikan kesimpulan. Proses pengkodean dimulai dari open coding untuk mengidentifikasi konsep-konsep awal, dilanjutkan dengan axial coding untuk mengidentifikasi hubungan antar kategori, dan selective coding untuk mengintegrasikan kategori ke dalam tema utama. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dengan membandingkan data dari koder dan kepala rekam medis dan member checking dengan mengembalikan hasil analisis kepada informan untuk verifikasi ulang . HASIL DAN ANALISIS 1 Karakteristik Informan Penelitian Penelitian ini melibatkan 5 informan yang terdiri dari 4 koder klinis dan 1 kepala rekam medis di Rumah Sakit. Rentang pengalaman kerja informan berkisar antara 2 hingga 12 tahun, dengan latar belakang pendidikan D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan. Seluruh informan telah memiliki pengalaman bekerja dalam era JKN dan memahami sistem iDRG dalam konteks operasional sehari-hari dengan rincian sebagai berikut: Tabel 1 Karakteristik Informan Penelitian Kode Informan Jabatan Pendidikan Pengalaman Koder Klinis D3 Rekam Medis 8 tahun Koder Klinis D3 Rekam Medis 5 tahun Koder Klinis D3 Rekam Medis 3 tahun Koder Klinis D3 Rekam Medis 2 tahun KRM Kepala Rekam Medis D3 Rekam Medis 12 tahun 2 Mindmap Hasil In-Depth Interview 32585/jmiak. JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ Berdasarkan in-depth interview yang dilakukan kepada 5 informan penelitian didapatkan hasil yang disajikan dalam mindmap berikut: Gambar 1 Mindmap Hasil In-Depth Interview 3 Pemaknaan Peran Koder sebagai Penjaga Integritas Data Klinis-Finansial Seluruh informan memaknai perannya secara lebih luas dari sekedar tugas administratif. Informan K1 mengungkapkan bahwa pekerjaan koder memiliki tanggung jawab yang besar karena kesalahan kode bisa berdampak pada kerugian rumah sakit maupun pada keakuratan data nasional. Pandangan serupa disampaikan oleh informan K3 yang menekankan bahwa koder adalah "jembatan" antara pelayanan klinis dan sistem pembiayaan. Kepala Rekam Medis (KRM) menegaskan bahwa dalam sistem iDRG, peran koder menjadi semakin penting karena satu kode yang salah bisa menggeser kelompok DRG dan mengubah nilai klaim secara signifikan. Koder bukan hanya pencatat, tetapi merupakan bagian penting dari sistem manajemen pendapatan rumah sakit. Kutipan representatif dari wawancara: "Kami ini seperti penerjemah. Dokter menulis dalam bahasa medis, kami yang mengubahnya jadi kode yang bisa dibaca sistem. Kalau terjemahannya salah, akibatnya bisa kemana-mana, mulai dari klaim ditolak sampai audit dari BPJS. " (K. "Saya selalu bilang ke staf saya, kalian itu bukan sekedar tukang ketik kode. Kalian adalah penjaga akurasi data yang menentukan berapa rumah sakit ini dibayar untuk setiap pasien. " (KRM) Hasil penelitian ini mengkonfirmasi dan memperkaya temuan dari literatur yang ada mengenai peran strategis koder dalam sistem pembiayaan berbasis DRG. Para informan secara konsisten memaknai peran mereka melampaui fungsi administratif murni, sejalan dengan konsep "clinical data stewardship" yang dikemukakan oleh Abdelhak et al. Dalam konteks spesifik iDRG di Indonesia, peran ini semakin signifikan mengingat sistem iDRG yang langsung menentukan besaran klaim BPJS untuk setiap episode perawatan. Temuan bahwa koder memandang diri mereka sebagai "jembatan" antara informasi klinis dan sistem pembiayaan mencerminkan kesadaran profesional yang tinggi. Ini sejalan dengan penelitian Kitto et al. di Australia yang menemukan bahwa koder dengan pemahaman mendalam tentang implikasi coding terhadap pembiayaan cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam hal akurasi dan ketepatan 32585/jmiak. 8223 | 194 JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ waktu. Hal ini menegaskan pentingnya orientasi profesional yang melampaui sekedar penyelesaian tugas teknis. Peran kepala rekam medis sebagai pemimpin yang memperkuat perspektif strategis seluruh tim koder juga teridentifikasi sebagai faktor penting. Dukungan manajerial dalam bentuk fasilitasi pelatihan, mekanisme audit, dan budaya komunikasi terbuka terbukti berkontribusi pada pembentukan tim koder yang secara kolektif memiliki orientasi strategis. 4 Pemahaman Mendalam tentang Mekanisme Hubungan Kodifikasi-iDRG Semua informan menunjukkan pemahaman yang baik tentang mekanisme teknis hubungan antara kodifikasi klinis dengan pengelompokan iDRG, meskipun terdapat gradasi pemahaman berdasarkan Koder (K1 dan K. memiliki pemahaman yang lebih komprehensif tentang logika pengelompokan DRG, termasuk pengaruh komplikasi/komorbiditas (CC) dan komplikasi/komorbiditas mayor (MCC) terhadap pergeseran DRG. Informan K2 menjelaskan bahwa kunci dalam iDRG adalah memahami hirarki antara diagnosis utama, diagnosis sekunder, dan prosedur. Kelengkapan pengkodean diagnosis sekunder, terutama komplikasi dan penyakit penyerta, sangat menentukan apakah kasus akan masuk ke DRG dengan tingkat keparahan lebih tinggi yang memiliki tarif lebih tinggi. Informan K4 mengakui bahwa pemahaman tentang mekanisme iDRG masih terus berkembang, dan banyak belajar dari pengalaman kasus per kasus serta bimbingan dari senior. Contoh kasus terkait pemahaman koder dengan mekanisme iDRG terjadi pada RME dengan diagnosis impaksi gigi 38 dan dilakukan tindakan odontectomy. Pada aplikasi INACBGs, koder bisa langsung melakukan entry kode ICD-10 K01. 1 dan kode ICD-9CM 23. berbeda dengan INACBGs, kodifikasi iDRG memberikan informasi lebih spesifik mengenai lokasi tindakan atau kondisi pada sisi lateral gigi yang berangkutan. Pada iDRG kodifikasi ICD-10 yang digunakan adalah K01. mpacted teeth, mandibular molar IM) dan KG38 . ower left third molar IM). Apabila kodifikasi ini tidak dilakukan secara lengkap maka akan gagal melakukan grouping. Pemahaman para koder tentang mekanisme teknis iDRG, khususnya pengaruh komplikasi dan komorbiditas (CC/MCC) terhadap pengelompokan, mencerminkan pemahaman yang relevan dan terkini. Studi dari berbagai negara secara konsisten menunjukkan bahwa pengkodean komplikasi dan komorbiditas yang lengkap merupakan salah satu determinan terpenting dalam kualitas grouping DRG . Penelitian ini menemukan bahwa koder dengan masa kerja lebih lama memiliki kemampuan lebih baik dalam mengidentifikasi dan mengkode kondisi komorbid yang relevan dibandingkan koder dengan masa kerja yang baru. Perbedaan ini mencerminkan peran penting pengalaman dan pembelajaran kontekstual dalam membangun kompetensi kodifikasi yang komprehensif. Hal ini memiliki implikasi penting bagi manajemen sumber daya manusia di unit rekam medis, yaitu pentingnya program mentoring yang terstruktur antara koder dengan pengalaman yang lebih lama dibidang koding kepada koder yang lebih Potensi financial loss akibat undercoding juga teridentifikasi melalui penelitian ini, konsisten dengan temuan Firdaus et al. di rumah sakit Indonesia. Meskipun penelitian ini tidak mengukur besaran finansial secara kuantitatif, narasi dari para informan mengindikasikan kesadaran tinggi terhadap risiko ini dan motivasi kuat untuk mencegahnya melalui kodifikasi yang lengkap dan akurat. Pemahaman para koder tentang mekanisme teknis iDRG, khususnya pengaruh komplikasi dan komorbiditas (CC/MCC) terhadap pengelompokan, mencerminkan pemahaman yang relevan dan terkini. Studi dari berbagai negara secara konsisten menunjukkan bahwa pengkodean komplikasi dan komorbiditas yang lengkap merupakan salah satu determinan terpenting dalam kualitas grouping DRG . 5 Strategi dalam Menjaga Akurasi Kodifikasi Informan penelitian mengidentifikasi berbagai strategi yang diterapkan untuk menjaga akurasi kode sebagai Verifikasi Rekam Medis Komprehensif, yaitu sebelum mengkode, koder memeriksa seluruh komponen rekam medis secara sistematis mulai dari resume medis, catatan perkembangan pasien, hasil 32585/jmiak. JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ laboratorium, hingga laporan operasi. Tujuannya adalah memastikan kode yang dipilih memiliki dukungan dokumentasi yang kuat. Komunikasi Proaktif dengan Dokter, ketika ditemukan ambiguitas atau ketidaklengkapan diagnosis, koder tidak mengasumsikan tetapi mengkonfirmasi langsung kepada dokter penanggung jawab pasien. Informan K1 menyebutkan bahwa ia memiliki jadwal rutin setiap pagi untuk melakukan klarifikasi diagnosis dengan dokter-dokter tertentu. Peer Review Antar Koder, untuk kasus-kasus kompleks atau kasus dengan nilai klaim tinggi, dilakukan review silang antar koder. Kasus yang masih diperdebatkan dieskalasi kepada kepala rekam medis. Penggunaan Referensi Standar, koder secara rutin merujuk pada ICD-10, pedoman koding, dan panduan internal RS yang dikembangkan berdasarkan kasus-kasus yang sering muncul. Audit Internal Berkala, kepala rekam medis melakukan audit koding secara sampel setiap bulan, dengan umpan balik yang didiskusikan dalam rapat bulanan. "Kalau ada diagnosis yang masih umum atau tidak spesifik, saya tidak langsung kode. Saya cari dulu di resume, di catatan dokter. Kalau tidak ketemu juga, saya tanya langsung ke dokternya. Lebih baik sedikit terlambat tapi benar daripada cepat tapi salah. " (K. Temuan tentang dominasi kualitas dokumentasi klinis sebagai faktor penentu akurasi koding sejalan dengan konsensus literatur internasional maupun nasional . Masalah spesifikasi diagnosis yang kurang dari dokter merupakan tantangan yang bersifat sistemik dan memerlukan pendekatan multidisiplin untuk Intervensi yang terbukti efektif di berbagai setting meliputi: program edukasi dokter tentang pentingnya dokumentasi spesifik, implementasi template dokumentasi terstandar, dan pengembangan kebijakan rumah sakit yang mendukung praktik dokumentasi yang baik. Faktor kompetensi koder yang teridentifikasi dalam penelitian ini mengkonfirmasi pentingnya investasi dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang rekam medis. Penelitian Eswi et al. menunjukkan bahwa program pelatihan berkelanjutan yang terstruktur mampu meningkatkan akurasi coding secara signifikan. Dalam konteks di rumah sakit, keberadaan koder dengan latar belakang D3 rekam medis dan informasi kesehatan memberikan fondasi akademis yang lebih kuat, meskipun pengalaman praktis tetap menjadi faktor diferensiasi utama. Beban kerja yang tinggi sebagai faktor risiko akurasi coding merupakan temuan yang konsisten dengan studi Solberg et al. Tekanan waktu, terutama di akhir bulan saat tenggat klaim BPJS mendekat, menciptakan kondisi yang rentan terhadap kesalahan. Strategi manajemen beban kerja seperti distribusi kasus yang lebih merata, identifikasi dini kasus kompleks, dan pengelolaan antrian yang lebih baik perlu mendapat perhatian serius dari manajemen. Keterbatasan sistem informasi yang diidentifikasi oleh informan mencerminkan kesenjangan antara kebutuhan fungsional koder dan kapabilitas teknologi yang tersedia. Sistem rekam medis elektronik yang komprehensif dengan fitur pencarian kode ICD yang canggih, clinical decision support, dan integrasi langsung dengan grouper iDRG telah terbukti meningkatkan efisiensi dan akurasi koding di berbagai rumah sakit . 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Akurasi Kode Diagnosis dan Tindakan Medis Informan penelitian mengidentifikasi empat faktor utama yang secara langsung mempengaruhi akurasi Kualitas Dokumentasi Klinis Kualitas dokumentasi klinis secara konsisten disebut sebagai faktor paling dominan oleh seluruh Kualitas dokumentasi klinis yang dimaksud mencakup kelengkapan . emua kondisi yang relevan tercata. , kejelasan . iagnosis dirumuskan spesifi. , konsistensi . idak ada kontradiksi antara berbagai bagian rekam medi. , dan ketepatan waktu . okumentasi tersedia sebelum proses koding harus "Masalah terbesar kami adalah dokumentasi yang tidak lengkap atau tidak jelas. Dokter menulis AuDMAy saja misalnya, tanpa tipe, tanpa komplikasi. Kami harus tanya lagi, dan itu memakan waktu. " (K. 32585/jmiak. 8223 | 196 JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ Kompetensi dan Pengembangan Koder Kompetensi koder dalam memahami terminologi medis, anatomi, patologi, dan aturan ICD diakui sebagai faktor determinan. Informan menggambarkan bahwa profesi koder membutuhkan pembelajaran berkelanjutan karena pedoman pengodean terus diperbarui dan kompleksitas kasus klinis terus Beberapa informan juga telah mengikuti pelatihan koding dari PORMIKI dan workshop internal RS. Sistem Informasi Kesehatan Rumah sakit menggunakan sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) yang terintegrasi dengan modul rekam medis elektronik. Meskipun sistem ini membantu dalam hal efisiensi input, beberapa koder mengidentifikasi keterbatasan fitur pencarian kode ICD dan tidak adanya sistem alerts untuk kode yang berpotensi bermasalah sebagai hambatan. Informan K3 dan K4 menyebutkan perlunya upgrade sistem agar lebih mendukung proses kodifikasi. Beban Kerja Volume kasus yang tinggi, terutama di akhir bulan menjelang tenggat klaim BPJS, diakui sebagai faktor yang berpotensi menurunkan kualitas coding. Dengan rata-rata 25-35 berkas per hari per koder, tekanan waktu menjadi nyata. Kepala rekam medis mengakui tantangan ini dan menyebutkan upaya penjadwalan yang lebih baik sebagai salah satu langkah mitigasi. Strategi yang diterapkan oleh koder rumah sakit mencerminkan pendekatan yang komprehensif dan sejalan dengan praktik terbaik yang direkomendasikan oleh organisasi profesi internasional. Khususnya, praktik komunikasi proaktif dengan dokter untuk klarifikasi diagnosis mencerminkan pemahaman tentang interdependensi antara kualitas dokumentasi klinis dan akurasi coding. Mekanisme audit internal yang telah ada, meskipun masih bersifat sampel dan bulanan, merupakan langkah positif yang perlu diperkuat. Penelitian Mears et al. merekomendasikan audit coding berkelanjutan dengan umpan balik yang cepat . eal-time atau minggua. sebagai mekanisme yang paling efektif untuk peningkatan kualitas coding yang berkelanjutan. Integrasi audit dengan program pengembangan kompetensi akan lebih mengoptimalkan manfaatnya. Keterlibatan koder dalam kegiatan pengembangan profesional seperti seminar dan pelatihan IDRG sangat penting untuk menjaga kualitas kodifikasi klinis. Hal ini karena pedoman IDRG terus mengalami pembaruan, baik berupa penambahan maupun revisi kode, yang dapat memengaruhi ketepatan pengelompokan kasus dan klaim layanan kesehatan. Oleh karena itu, koder perlu secara aktif memperbarui pengetahuan dengan mengikuti forum ilmiah serta rutin membaca pedoman iDRG terbaru. Upaya ini tidak hanya membantu meningkatkan kompetensi koder, tetapi juga mendukung keakuratan data klinis, ketepatan proses grouping, dan optimalisasi sistem pembiayaan berbasis kasus. Temuan adanya budaya peer review untuk kasus kompleks merupakan praktik yang sangat baik dan perlu diinstitusionalisasikan lebih formal. Penelitian menunjukkan bahwa budaya kolegial di antara koder, di mana berbagi pengetahuan dan diskusi kasus didorong, berkorelasi positif dengan akurasi coding tim secara keseluruhan. 7 Tantangan dan Hambatan dalam Praktik Kodifikasi Informan penelitian menyatakan bahwa terdapat beberapa tantangan utama yang dihadapi koder dalam praktik sehari-hari antara lain: Diagnosis tidak spesifik dari dokter dimana penulisan diagnosis yang masih umum atau menggunakan singkatan yang tidak standar menjadi sumber utama hambatan. Diperlukan proses klarifikasi yang memakan waktu tambahan. Komunikasi dengan tenaga medis dimana tidak semua dokter mudah dihubungi untuk konfirmasi, terutama dokter spesialis yang praktik tidak setiap hari. Kesenjangan pemahaman tentang pentingnya spesifikasi diagnosis juga masih ada. 32585/jmiak. JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ Kompleksitas kasus multidiagnosis, kasus dengan banyak diagnosis penyerta memerlukan pertimbangan yang hati-hati dalam menentukan kode utama dan urutan kode sekunder yang sesuai dengan aturan iDRG. "Tantangan terbesar bagi saya adalah ketika ada kasus komorbid yang banyak dan dokter tidak menuliskan dengan jelas mana diagnosis utama. Kami harus benar-benar analisis rekam medis secara keseluruhan dan kadang tetap tidak bisa yakin 100%. " (K. KESIMPULAN Koder di rumah sakit memaknai perannya secara strategis sebagai penjaga integritas data klinis dan finansial yang menjembatani pelayanan klinis dengan sistem pembiayaan iDRG, melampaui fungsi administratif konvensional. Mereka memiliki pemahaman teknis yang memadai terkait mekanisme iDRG, khususnya keterkaitan antara kelengkapan pengkodean diagnosis dan tindakan dengan hasil pengelompokan kasus, yang menjadi kompetensi kunci dalam menjamin kualitas koding. Dalam menjaga akurasi, koder menerapkan strategi berlapis berupa verifikasi rekam medis secara komprehensif, komunikasi proaktif dengan dokter, peer review pada kasus kompleks, serta audit internal berkala yang selaras dengan praktik terbaik. Kualitas dokumentasi klinis oleh dokter menjadi faktor penting dalam menentukan akurasi kodifikasi, diikuti oleh kompetensi koder, beban kerja, dan kualitas sistem informasi, sehingga perbaikannya memerlukan pendekatan multidisiplin. Namun, koder masih menghadapi tantangan berupa inkonsistensi dan ketidakspesifikan dokumentasi, keterbatasan akses klarifikasi diagnosis, kompleksitas kasus multidiagnosis, serta tuntutan adaptasi terhadap regulasi pengkodean yang terus Saran yang dapat diambil dari penelitian ini adalah menekankan pentingnya penguatan sistem dan kolaborasi lintas peran. Bagi rumah sakit diperlukan pengembangan edukasi bagi dokter terkait spesifikasi diagnosis dalam dokumentasi klinis dan implikasinya terhadap iDRG, penguatan mekanisme audit koding secara lebih rutin dan terintegrasi dengan pengembangan kompetensi koder, peningkatan kapabilitas SIMRS untuk mendukung efisiensi kodifikasi, dan pengelolaan beban kerja koder yang lebih terstruktur. Bagi koder, disarankan untuk aktif mengikuti pelatihan, membangun komunikasi interprofesional yang konstruktif dengan dokter, serta berpartisipasi dalam forum komunitas praktik untuk meningkatkan Sementara itu, bagi peneliti selanjutnya, perlu dilakukan studi komparatif lintas rumah sakit, integrasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif dalam analisis akurasi koding, serta eksplorasi perspektif dokter dan manajemen guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif terkait dinamika kodifikasi REFERENSI