Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 127-140 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 TINJAUAN SISTEMATIS EFEKTIVITAS LAYANAN TELEFARMASI OLEH APOTEKER TERHADAP HASIL KLINIS DAN KEPUASAN PASIEN Abdur Rahman1. Adji Prayitno Setiadi2,3. Yosi Irawati Wibowo2,3* Program Magister Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Surabaya. Indonesia Pusat Informasi Obat dan Pelayanan Kefarmasian (PIOLK) Departemen Farmasi Klinik dan Komunitas. Fakultas Farmasi. Universitas Surabaya. Indonesia *Email: yosi_wibowo@staff. Artikel diterima: 2025-06-25. Disetujui: 2025-07-31 DOI: https://doi. org/10. 36387/jiis. ABSTRAK Telefarmasi merupakan layanan farmasi jarak jauh yang berkembang pesat, terutama sejak pandemi COVID-19, untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan Meskipun telah banyak diterapkan, efektivitas layanan ini masih menjadi perdebatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi jenis dan efektivitas layanan telefarmasi oleh apoteker melalui kajian sistematis. Penelitian ini menggunakan pendekatan systematic review berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Sumber data diperoleh dari database PubMed dan Oxford Journal dengan kata kunci terkait Aoeffectivity. AoeffectivenessAo dan AotelepharmacyAo melalui identifikasi, penyaringan, penilaian kualitas studi, dan ekstraksi data dengan 24 artikel memenuhi kriteria inklusi. Pelayanan telefarmasi yang diberikan dalam berbagai studi dapat dikategorikan ke dalam beberapa bentuk, yaitu . konsultasi apoteker jarak jauh . , . penyediaan informasi obat . , . pemantauan terapi pengobatan . , serta . pemberian obat secara elektronik . Evaluasi terhadap efektivitas layanan telefarmasi menunjukkan adanya perbaikan yang signifikan dalam berbagai aspek, seperti . hasil klinis . dari 9 studi. p = 0,019Ae 0,. , . kepuasan pasien . dari 4 studi. p = 0,018Ae0,. , . kepatuhan terhadap pengobatan . dari 15 studi. p = 0,002Ae0,. , dan . efisiensi biaya . eluruh 4 p = 0,021Ae0,. Hasil kajian sistematis menunjukkan bahwa layanan telefarmasi secara umum efektif dalam meningkatkan hasil klinis pasien, kepuasan pasien atas layanan, kepatuhan pasien dalam pengobatan dan efisiensi biaya Kata Kunci: Telefarmasi. Efektivitas. Systematic review. PRISMA 2020 ABSTRACT Telepharmacy is a rapidly expanding form of remote pharmaceutical care, especially since the COVID-19 pandemic, aimed at improving access to and the quality of pharmaceutical services. Despite its widespread implementation, the effectiveness of this service remains a topic of debate. Therefore, this study aims to evaluate the types and effectiveness of telepharmacy services provided by pharmacists through a systematic review. This study employed a systematic review approach following the PRISMA 2020 guidelines. Data sources were obtained from Abdur Rahman, dkk | 127 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 127-140 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 PubMed and Oxford Journal databases using relevant keywords such as Aoeffectivity,Ao Aoeffectiveness,Ao and Aotelepharmacy. Ao The process involved study identification, screening, quality assessment, and data extraction, resulting in 24 articles that met the inclusion criteria. Telepharmacy services identified across the studies were categorized into four main types: . remote pharmacist consultation . , . drug information provision . , . therapeutic drug monitoring . , and . electronic medication dispensing . Evaluation of telepharmacy effectiveness demonstrated significant improvements in several aspects, including: . clinical outcomes . out of 9 studies. p = 0. 019Ae0. , . patient satisfaction . out of 4 p = 0. 018Ae0. , . medication adherence . out of 15 studies. 002Ae0. , and . cost efficiency . ll 4 studies. p = 0. 021Ae0. The findings of this systematic review indicate that telepharmacy services are generally effective in improving patient clinical outcomes, patient satisfaction with services, medication adherence, and treatment cost efficiency. Keywords: Telepharmacy. Effectiveness. Systematic review. PRISMA 2020 PENDAHULUAN Keberadaan layanan telefarmasi di era digital dan dalam konteks krisis kesehatan global, seperti pandemi COVID-19, semakin menunjukkan urgensinya sebagai bagian dari inovasi sistem pelayanan kesehatan modern. Sejumlah penelitian melaporkan bahwa penerapan telefarmasi oleh apoteker meningkatkan kepatuhan pengobatan, hasil klinis, kepuasan pasien, serta efisiensi biaya layanan kesehatanA,A,A. Meski menunjukkan potensi yang belum sepenuhnya terintegrasi dalam praktik kefarmasian secara rutin di berbagai sistem layanan kesehatan, dan model implementasinya masih sangat bervariasi antar negaraA,AA. Di negaranegara maju, variasi kebijakan, regulasi, serta kesiapan infrastruktur teknologi menjadi faktor penting yang turut memengaruhi keberhasilan adopsi dan efektivitas layanan iniA. Di Indonesia, pemanfaatan telefarmasi berkembang pesat sejak pandemi COVID-19 layanan kefarmasian di tengah keterbatasan interaksi tatap muka. Namun, menghadapi tantangan, antara lain keterbatasan regulasi nasional yang pedoman teknis yang seragam, serta kesiapan SDM dan infrastruktur yang tidak merataA,A. Di sisi lain, muncul berbagai inisiatif dari institusi farmasi, rumah sakit, dan apotek yang memanfaatkan media digital dan memberikan layanan konsultasi dan edukasi kepada pasien. Dengan memperhatikan konteks global dan lokal tersebut, penting dilakukan telefarmasi yang telah dikembangkan oleh apoteker serta mengevaluasi indikator klinis dan sistemik. Kajian ini juga dapat menjadi kontribusi bagi pengembangan kebijakan berbasis Abdur Rahman, dkk | 128 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 127-140 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 bukti dalam penguatan peran apoteker di era digital. memenuhi kriteria awal kemudian menyeluruh dalam bentuk teks lengkap12,13. METODE Penilaian terhadap kelayakan studi dilakukan secara independen oleh dua peninjau, dengan mengacu pada kriteria inklusi dan eksklusi yang telah Kriteria inklusi mencakup artikel penelitian asli yang secara eksplisit mengevaluasi efektivitas diselenggarakan oleh apoteker. Studi yang dimasukkan harus diterbitkan dalam bahasa Inggris, berada dalam rentang waktu 2015 hingga 2025, serta tersedia dalam teks lengkap. Selain itu, studi diwajibkan untuk melaporkan hasil terkait setidaknya satu dari indikator berikut, yakni efektivitas kepuasan pasien, atau efisiensi biaya. Desain studi Penelitian pendekatan systematic review dengan mengacu pada pedoman PRISMA Dengan mengikuti pedoman PRISMA, proses kajian sistematis dalam penelitian ini dilakukan secara transparan, dapat direproduksi, dan meminimalkan potensi bias12. Seluruh penilaian kualitas metodologis, dan ekstraksi data dilakukan secara . Apabila perbedaan pendapat antara kedua peninjau, penyelesaiannya dilakukan melalui diskusi hingga tercapai Pendekatan ini digunakan untuk menjamin objektivitas dan menghindari potensi bias seleksi Pencarian Studi Pencarian studi yang komprehensif dilakukan melalui dua basis data elektronik utama, yaitu PubMed dan Oxford Journal. Strategi pencarian menggunakan kata kunci Aueffectivity effectivenessAy AND AutelepharmacyAy. Untuk meningkatkan diterapkan filter yang membatasi pencarian pada studi yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir . 5Ae 2. serta artikel yang tersedia dalam format teks lengkap. Judul dan abstrak dari setiap hasil pencarian disaring untuk menilai relevansi, sementara duplikat dihapus. Artikel yang Ekstraksi Data Ekstraksi data dilakukan secara formulir ekstraksi data standar. Informasi mencakup lima kategori utama yaitu, karakteristik studi, rincian partisipan, jenis layanan telefarmasi yang diberikan, indikator efektivitas, dan hasil studi efektivitas. Setiap perbedaan dalam proses ekstraksi data diselesaikan melalui diskusi antara para peninjau untuk keakuratan informasi. Data yang telah diekstraksi inilah yang kemudian menjadi dasar bagi sintesis naratif dan penyajian dalam bentuk tabulasi pada bagian hasil. Penilaian Kualitas Studi Abdur Rahman, dkk | 129 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 127-140 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Penilaian terhadap studi yang disertakan dalam Critical Appraisal Skills Programme (CASP). Alat penilaian ini diadaptasi sesuai dengan desain masing-masing studi, seperti cross-sectional, cohort, maupun randomized controlled trial (RCT)14. Setiap studi diberikan skor berdasarkan daftar periksa yang relevan, kemudian dikategorikan ke dalam kualitas tinggi, sedang, atau rendah sesuai dengan kriteria penilaian yang telah ditetapkan Kategorisasi kualitas studi dan teknik penilaiannya dikembangkan oleh penulis dengan merujuk pada algoritma yang digunakan oleh Copnell et al. pengobatan, dan efisiensi biaya dalam pelayanan kesehatan. Sintesis Data Selanjutnya, 12 artikel dieliminasi karena abstraknya tidak relevan, menyisakan 31 artikel untuk tahap penelusuran teks lengkap. Dari jumlah tersebut, 7 artikel tidak dapat diakses dalam format lengkap, sehingga hanya 24 artikel yang tersedia dalam teks lengkap dan memenuhi kriteria inklusi. Semua artikel tersebut di-review secara menyeluruh dan dimasukkan dalam kajian sistematis ini. Rincian proses seleksi studi ditampilkan pada Gambar Data yang telah diekstraksi dari studistudi yang disertakan dianalisis secara Analisis ini bertujuan untuk menyajikan gambaran umum mengenai karakteristik studi, jenis layanan telefarmasi yang diberikan, serta berbagai indikator efektivitas yang Temuan kemudian disintesis secara naratif untuk merangkum dampak layanan telefarmasi terhadap peningkatan hasil klinis, kepuasan pasien, kepatuhan HASIL DAN PEMBAHASAN Seleksi Studi Sebanyak 205 artikel diidentifikasi dari dua basis data elektronik, yaitu PubMed . = . dan Oxford Journal . = . Setelah proses deduplikasi, 5 artikel dihapus karena merupakan duplikat, menyisakan 200 artikel untuk tahap screening judul. Dari jumlah tersebut, 121 artikel dieliminasi karena tidak relevan, dan 36 merupakan artikel ulasan . eview article. , sehingga hanya 43 artikel yang masuk ke tahap screening abstrak. Abdur Rahman, dkk | 130 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 127-140 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Gambar 1. Diagram Seleksi Studi Sebanyak 24 studi yang memenuhi kriteria inklusi dalam kajian ini diterbitkan dalam rentang waktu antara tahun 2015 hingga 2025. Studi-studi tersebut mengevaluasi berbagai bentuk layanan telefarmasi yang diberikan oleh apoteker di berbagai pengaturan pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit, apotek komunitas, dan fasilitas kesehatan di daerah pedesaan. Abdur Rahman, dkk | 131 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 127-140 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Jenis Layanan Telefarmasi Jenis layanan telefarmasi yang diidentifikasi dari 24 studi yang disertakan dalam kajian ini dapat diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama. Pertama, konsultasi apoteker jarak jauh . , melibatkan komunikasi real-time atau asinkron antara apoteker dan pasien mengenai masalah pengobatan, yang dilakukan melalui berbagai platform seperti panggilan telepon, video konferensi, dan chatbot berbasis AI. Kedua, penyediaan informasi pengobatan . , mencakup edukasi terkait penggunaan obat, efek samping, serta interaksi obat, yang umumnya disampaikan melalui aplikasi seluler dan media sosial untuk meningkatkan literasi pengobatan masyarakat. Ketiga, pemantauan terapi pengobatan . , meliputi tindak lanjut terapi untuk menilai kepatuhan pasien, efektivitas, dan efek samping, menggunakan alat seperti pengingat dosis otomatis dan Keempat, pemberian . , memungkinkan apoteker meninjau dan menyetujui resep dari jarak jauh melalui sistem digital, termasuk pengiriman resep dan obat ke rumah Dari keempat kategori tersebut, merupakan layanan yang paling banyak dilaporkan, mencerminkan pentingnya peran klinis apoteker dalam mempertahankan layanan kepada pasien di tengah keterbatasan geografis dan logistik. Hal ini sejalan dengan temuan Unni et al. 15, yang menyatakan bahwa konsultasi jarak jauh menjadi bentuk inovasi utama dalam telehealth dan telefarmasi selama pandemi COVID-19, dengan apoteker memainkan peran penting dalam menyediakan konseling dan Perkembangan ini memperkuat posisi apoteker sebagai anggota kunci dalam tim telehealth dan menunjukkan fleksibilitas sistem layanan farmasi dalam menghadapi krisis kesehatan Rincian lebih lanjut mengenai jenis layanan ini disajikan dalam Tabel Tabel 1. Jenis Layanan Telefarmasi (N=. Jenis Layanan Telefarmasi Konsultasi Apoteker Jarak Jauh Jumlah Contoh Intervensi . Telepon, panggilan video, chatbot AI Penyediaan Informasi Obat Pemantauan Terapi Obat Pemberian Obat Elektronik Efektivitas Layanan Telefarmasi Dari 24 studi yang dianalisis dalam telefarmasi dievaluasi berdasarkan empat indikator utama: . kepatuhan pengobatan/kepatuhan pasien, . hasil Edukasi pasien melalui aplikasi dan media sosial Pengingat dosis obat, telemonitoring efek samping Layanan pengiriman resep digital dan layanan pengiriman ke rumah klinis, . kepuasan pasien terhadap layanan telefarmasi, dan . efisiensi biaya dalam implementasi layanan Penting untuk dicatat bahwa sebagian besar studi tidak terbatas pada satu indikator saja. Abdur Rahman, dkk | 132 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 127-140 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 melainkan mengevaluasi lebih dari satu mencerminkan dampak yang multifaset dari intervensi telefarmasi terhadap sistem pelayanan kesehatan. Sebagai contoh, sejumlah studi menilai efek layanan telefarmasi terhadap sekaligus memeriksa kepuasan mereka terhadap layanan serta perbaikan parameter klinis yang relevan. Keragaman memperkuat bukti bahwa telefarmasi berperan penting tidak hanya dalam mendukung pengelolaan pengobatan menunjang tujuan sistemik seperti pengurangan beban biaya. Rincian hasil efektivitas dari seluruh studi yang disertakan dalam kajian ini disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2. Efektivitas Layanan Telefarmasi Efektivitas Layanan Telefarmasi Indikator 1: Kepatuhan Pasien Berbeda secara signifikan . Berbeda secara signifikan . Tidak ada perbedaan yang signifikan Total Indikator 2: Hasil Klinis Berbeda secara signifikan . Berbeda secara signifikan . Tidak ada perbedaan yang signifikan Total Indikator 3: Kepuasan Pasien Berbeda secara signifikan . Berbeda secara signifikan . Tidak ada perbedaan yang signifikan Total Indikator 4: Efisiensi Biaya Berbeda secara signifikan . Berbeda secara signifikan . Tidak ada perbedaan yang signifikan Total DISKUSI Kajian sistematis ini bertujuan mengevaluasi jenis dan efektivitas layanan telefarmasi yang diberikan oleh apoteker. Berdasarkan analisis terhadap 24 penelitian, telefarmasi menunjukkan manfaat substansial pengobatan, hasil klinis, kepuasan Jumlah penelitian ( rentang nilai p ) 11 ( p=0,002-0,. =0,11 - 0,. = 0,019-0,. =0,. =0,11, 0,. 3 ( p=0,018-0,. egatif secara kualitati. 4 ( p=0,021-0,0. pasien, dan efisiensi biaya pelayanan kesehatanA. Layanan telefarmasi yang dianalisis, termasuk konsultasi jarak jauh, penyediaan informasi obat, dan pemberian obat secara elektronik, secara umum telah diterapkan di Abdur Rahman, dkk | 133 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 127-140 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Inovasi ini memanfaatkan teknologi digital untuk menjaga kesinambungan pelayanan farmasi, membatasi interaksi langsung, seperti selama pandemi COVID-1930. Temuan mengungkapkan bahwa kepatuhan signifikan dalam sebagian besar studi yang disertakan. Interaksi berkala antara apoteker dan pasien melalui memberikan dukungan berkelanjutan, pengingat dosis, serta intervensi Temuan ini konsisten dengan bukti sebelumnya yang menyatakan bahwa keterlibatan pasien melalui komunikasi yang sering dan tindak lanjut aktif berdampak positif pada perilaku konsumsi obat dan hasil terapi secara Kepatuhan Pasien Pengobatan . Dari total 24 studi yang dianalisis, sebanyak 15 artikel secara khusus kepatuhan pengobatan pasien 20A35. Dari jumlah tersebut, 12 artikel . ,0%) melaporkan peningkatan signifikan dalam tingkat kepatuhan di intervensi telefarmasi . = 0,001Ae 0,. , terutama pada pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit kardiovaskular . = 0,002Ae0,. 21A31,34. Sementara itu, dua artikel . ,3%) menunjukkan hasil yang beragam atau tidak signifikan secara statistik . = 0,. AA. Satu studi bersifat kualitatif dan tidak melaporkan nilai p, namun menggambarkan temuan persepsi pasien yang bervariasi terhadap kepatuhan dalam terapi Menariknya, satu artikel . ,7%) justru menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan kelompok yang menerima layanan telefarmasi dibandingkan layanan farmasi konvensional. Dalam studi ini. TELE ACC menunjukkan kepatuhan yang lebih rendah dibandingkan kelompok F2F ACC, berdasarkan Time in Therapeutic Range (TTR) baik dengan metode Rosendaal . ,4% vs 58,3%) maupun metode tradisional . ,4% vs 53,2%), meskipun perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik . = 0,35 dan p = 0,. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa pengecualian, layanan telefarmasi meningkatkan kepatuhan pengobatan Hasil Klinis . Sebanyak sembilan artikel dalam kajian ini menggunakan hasil klinis sebagai indikator efektivitas layanan telefarmasi, dengan fokus pada parameter seperti penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi, kontrol HbA1c pada pasien diabetes, serta efektivitas terapi antikoagulan pada pasien dengan gangguan pembekuan darah19,22,24,36,38,30,31,35,37. Pada pasien dilaporkan lebih efektif dalam membantu mengendalikan tekanan darah dibandingkan layanan farmasi tatap muka konvensional. Rata-rata penurunan tekanan darah sistolik (SBP) adalah 11,8 mmHg dan diastolik (DBP) sebesar 6,5 mmHg dalam enam bulan pada kelompok telefarmasi, dibandingkan dengan penurunan 7,4 mmHg (SBP) dan 4,2 mmHg (DBP) Abdur Rahman, dkk | 134 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 127-140 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 pada kelompok non telefarmasi . ilai p SBP = 0,019. DBP = 0,. Pada pasien diabetes, intervensi telefarmasi juga menunjukkan hasil yang lebih baik dalam menurunkan kadar HbA1c. Setelah enam bulan, kadar HbA1c menurun dari 8,5% A 1,2 menjadi 7,3% A 1,1 pada kelompok telefarmasi, sementara pada kelompok kontrol penurunan hanya dari 8,4% A 1,3 menjadi 7,8% A 1,0 . ilai p = 0,. Namun, untuk pasien yang menjalani terapi antikoagulan . eperti warfari. , layanan farmasi tatap muka tampaknya memberikan kontrol INR yang lebih baik dibandingkan dengan Selama tiga bulan, rata-rata INR kelompok telefarmasi adalah 0,7 A 0,3, sedangkan pada kelompok tatap muka sebesar 1,1 A 0,5 . ilai p = 0,. Dalam hal Time in Therapeutic Range (TTR), kelompok telefarmasi mencapai 56,8% dibandingkan dengan 60,2% pada kelompok kontrol . ilai p = 0,. Secara memberikan dampak positif terhadap pengelolaan penyakit kronis, terutama dalam menurunkan tekanan darah dan meskipun efektivitasnya masih perlu ditingkatkan untuk terapi yang membutuhkan pemantauan parameter klinis yang sangat ketat, seperti terapi Kepuasan Pasien . Sebanyak empat artikel menggunakan kepuasan pasien sebagai indikator efektivitas layanan telefarmasi 21,25,33,34. Hasil kajian menunjukkan bahwa 86% pasien melaporkan kepuasan tinggi langsung di apotek. Selain itu, 75% pasien menyatakan bahwa telefarmasi lebih nyaman daripada kunjungan langsung ke apotek . ilai p = 0,. Dalam konteks geografis, satu studi melaporkan bahwa 82% pasien di daerah terpencil menyatakan kepuasan tinggi terhadap layanan ini karena mereka tidak perlu melakukan perjalanan jauh ke apotek. Selain itu, 69% pasien merasa lebih percaya diri dalam memahami penggunaan obat setelah mendapatkan edukasi dari apoteker melalui platform telefarmasi . ilai p = 0,. Namun, terdapat juga temuan bahwa kepuasan pasien yang lebih rendah ditemukan pada kelompok lansia, yang umumnya mengalami keterbatasan dalam literasi digital dan kesulitan layanan telefarmasi walaupun tidak ada nilai . yang dilaporkan dalam studi Secara mayoritas pasien menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi terhadap layanan Kepuasan ini terutama komunikasi yang efektif, menjadikan telefarmasi sebagai pendekatan yang semakin diterima oleh pasien dalam berbagai kondisi geografis dan Efisiensi Biaya . Sebanyak empat artikel mengevaluasi efektivitas layanan telefarmasi dalam hal efisiensi biaya dan waktu19,21,29,35. Dalam konteks manajemen hipertensi, satu studi melaporkan penghematan biaya sebesar $70 per pasien . etara dengan 28% lebih murah dibandingkan layanan konvensional. nilai p = 0,. , serta penghematan waktu rata-rata 3,5 jam per bulan karena tidak perlu melakukan kunjungan fisik ke fasilitas Sementara itu, studi lain yang dilakukan di daerah pedesaan Abdur Rahman, dkk | 135 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 127-140 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 melaporkan penghematan biaya pasca pelayanan sebesar $160 per pasien . ,5% lebih murah. nilai p = 0,. dan penghematan waktu tempuh ratarata 4-6 jam per kunjungan ke Untuk pasien yang menjalani terapi . , layanan tatap muka menghasilkan penghematan biaya sebesar $40 per bulan . ,7% lebih murah. nilai p = 0,. serta penghematan waktu ratarata 2 jam per sesi konsultasi35. Selain itu, dalam hal efisiensi waktu saat pengambilan riwayat pengobatan, satu studi mencatat pengurangan waktu sebesar 11,3 menit . ,3% lebih cepat. nilai p = 0,. pada layanan Secara keseluruhan, temuan dari keempat studi tersebut menunjukkan bahwa telefarmasi merupakan solusi yang efektif dalam meningkatkan efisiensi aksesibilitas layanan farmasi tanpa mengorbankan kualitas pelayanan. Meskipun kajian ini menyajikan sintesis yang komprehensif mengenai efektivitas layanan telefarmasi oleh keterbatasan penting yang perlu diperhatikan dalam interpretasi hasil. Pertama, kajian ini hanya memasukkan studi yang tersedia dalam bentuk full text dan telah terpublikasi secara formal, sehingga berisiko mengalami publication bias, karena kemungkinan adanya hasil negatif atau tidak signifikan yang tidak dipublikasikan. Kedua, terdapat heterogenitas antar studi yang cukup tinggi, baik dari segi populasi pasien . isalnya usia, kondisi penyakit, lokasi geografi. maupun jenis dan durasi intervensi telefarmasi yang diberikan. Variasi ini menyulitkan efektivitas dengan generalisasi yang Ketiga, indikator efektivitas klinis yang digunakan juga tidak seragam, beberapa studi mengevaluasi parameter klinis spesifik seperti tekanan darah atau kadar glukosa darah, sementara studi lain hanya menilai kepuasan atau Perbedaan pendekatan pengukuran ini turut memengaruhi kekuatan kesimpulan yang dapat ditarik. Oleh karena itu, interpretasi terhadap temuan dalam kajian ini perlu dilakukan secara hatihati. Penelitian lanjutan dengan desain yang lebih homogen dan pelaporan diperlukan untuk memperkuat bukti dan validitas eksternal dari layanan telefarmasi oleh apoteker di berbagai konteks pelayanan kesehatan. KESIMPULAN Studi ini bertujuan mengevaluasi jenis dan efektivitas layanan kefarmasian diselenggarakan oleh apoteker dalam memenuhi kebutuhan pasien di era Hasil kajian sistematis menunjukkan bahwa, meskipun bukti masih terbatas, layanan telefarmasi meningkatkan hasil klinis pasien, kepuasan atas layanan, kepatuhan pasien dalam pengobatan dan efisiensi biaya pengobatan. Keberhasilan implementasi telefarmasi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan teknologi, pelatihan apoteker yang memadai, dan infrastruktur layanan yang mendukung. Di samping itu, diperlukan untuk menjamin keamanan. Abdur Rahman, dkk | 136 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 127-140 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 etika, standarisasi pelayanan, serta perlindungan data pasien. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dan populasi yang lebih beragam untuk mengonfirmasi efektivitas jangka panjang layanan ini. Terlepas dari tantangan seperti keterbatasan akses telefarmasi memiliki potensi besar dalam meningkatkan akses layanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat yang kurang terlayani. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi apoteker terkait telefarmasi melalui pelatihan penyusunan pedoman regulasi yang integrasi telefarmasi sebagai solusi alternatif yang andal dan efisien PERNYATAAN ETIKA Penelitian ini merupakan sebuah kajian sistematis yang tidak melibatkan partisipasi langsung subjek manusia, hewan, atau data pribadi individu. Oleh karena itu, persetujuan etik dari komite etik penelitian tidak diperlukan. Kajian ini menggunakan artikel ilmiah yang telah dipublikasikan dan tersedia secara publik melalui basis data daring sebagai objek kajian. Seluruh proses menghormati prinsip-prinsip integritas objektivitas, dan pengakuan yang tepat sumber-sumber DAFTAR PUSTAKA Temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi pembuat kebijakan dan asosiasi profesi farmasi di Indonesia dalam merumuskan regulasi serta berkelanjutan, dan berbasis bukti. UCAPAN TERIMA KASIH